[Song For New Year] Dear You…


photo

Dear You,..
Author: leehyunmi (trishaanindya98)
Cast: [OC] Lee Sungyeon, [Infinite] Kim Myungsoo, [Seventeen] Jeon Wonwoo, [Infinite] Lee Sungjong, [Infinite] Lee Sungyeol
Genre: Romance | Length: Oneshot | Rating: 15+
Disclaimer:
THE PLOT AND OC BELONG TO ME, BUT OTHER CASTS BELONG TO THEIR FAMILY AND THEIR AGENCY.

A\N:
Annyeong yeorobun~ ini ff pertama author yang diikutkan ke challenge! ^^ yeay~ ff ini 100% murni dari imajinasi author, kalo ada kesamaan, mohon dimaklumi karena itu tidak disengaja. typo everywhere. cerita gak jelas, masih amatir, tapi semoga kalian suka 😀 happy reading~

*****
“Tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Hati ini masih menyimpan semua rasaku untukmu.”

Autumn, 2003
Seorang gadis berumur enam tahun tengah berjalan menuju ke rumah yang berseberangan dengan tempat tinggalnya. Angin musim gugur yang menusuk kulit sempat membuatnya menggigil beberapa saat, namun tidak meredupkan tekadnya untuk pergi ke rumah bercat coklat susu itu. Ia makin merapatkan mantel merah jambu yang ia kenakan, kemudian terus berjalan sampai akhirnya ia sampai di depan pagar rumah tersebut.

 

Tanpa membunyikan bel listrik terlebih dahulu, gadis itu malah membuka pintu pagar dengan memasukkan tangannya ke celah-celah pagar. Begitu ia berhasil membuka pengait pintu pagar, ia masuk ke rumah itu dengan polosnya. Si gadis langsung berlari ke halaman belakang, bertingkah seolah ia sudah tahu seluk-beluk rumah tersebut. Kedua manik mata indahnya lalu menangkap sesosok laki-laki saat ia sampai di halaman belakang. Tinggi badan laki-laki itu mencapai satu setengah meter. Ia tampak asyik dengan dunianya sendiri, memotret beberapa daun yang berguguran, dan sesekali memotret langit sore yang berwarna oranye. Si gadis segera berlari ke arah laki-laki itu dan memeluknya.

 

Oppa!!”
Laki-laki itu terkejut, lalu menoleh ke belakang. Ia langsung menghela napas lega begitu tahu siapa yang memeluknya dari belakang. “Sungyeon, kau membuatku kaget!” katanya sembari terkekeh pelan.
Gadis yang dipanggil Sungyeon itu ikut tertawa, lalu ia melepaskan pelukannya. “Habisnya, oppa sibuk sendiri sampai tidak tahu aku datang!”
Laki-laki itu kembali tertawa, sebelah tangannya mengamit tangan Sungyeon. “Kau ke sini sendirian?”

 

“Iya,” gadis itu mengangguk mantap. Tangan mungilnya menggenggam tangan laki-laki itu dengan erat, seolah takut terlepas.

 

“Sungyeol dan Sungjong-oppa main bola di lapangan, mereka tidak mau diajak main masak-masakan denganku, jadi aku ke sini.” tutur Sungyeon sambil mengerucutkan bibirnya.
Laki-laki itu mencubit pipi Sungyeon dengan gemas. “Tentu saja mereka tidak mau, mereka kan laki-laki! Dasar kau ini!”
Sungyeon sangat suka diperlakukan demikian. Ia lalu menengadahkan kepalanya untuk memandang wajah laki-laki itu, berhubung tinggi badannya hanya setara dengan pinggang si laki-laki. “Oppa sedang apa sendirian di sini?” tanya Sungyeon kemudian.
“Oh, ini, aku sedang mengambil foto pemandangan musim gugur,” jawab laki-laki itu seraya menunjukkan kamera kecil yang dibawanya. Ia memperlihatkan foto-foto hasil jepretannya tadi kepada Sungyeon melalui display kamera tersebut.
Sungyeon memandang foto-foto itu dengan mata berbinar-binar. “Whoaaa, bagus sekali, oppa! Bagaimana caramu memotret sebagus itu?!”
Laki-laki itu kemudian mengajarkan Sungyeon cara memotret dengan kamera miliknya. Sungyeon tampak begitu antusias mempelajarinya, dan ia lumayan cepat menguasai teknik yang diajarkan oleh laki-laki itu. Dalam waktu singkat, Sungyeon sudah bisa mengambil beberapa foto dengan hasil yang cukup bagus. Gadis itu senang sekali begitu melihat hasil bidikannya, dan ia terus memotret obyek-obyek di halaman belakang itu yang menarik hatinya.
“Hei, Sungyeon! Sekarang giliranku!”
“Tidak mau, ah! Hahahaha..”
“Eh, woi! Jangan lari!”
Mereka saling berkejaran memperebutkan kamera kecil itu, tapi akhirnya Sungyeon menyerah karena kelelahan. “Baiklah, oppa! Aku menyerah..” ujar Sungyeon seraya duduk di rerumputan halaman belakang itu.
Ia menyerahkan kamera yang dipegangnya ke pemilik aslinya. Laki-laki itu tertawa melihat wajah Sungyeon yang kemerahan karena terlalu banyak berlari. “Tuh, kan! Sudah kubilang jangan lari!” cibirnya sambil ikut duduk di samping Sungyeon. Ia lantas mengecek kameranya.
Laki-laki itu melihat-lihat beberapa hasil foto jepretan Sungyeon, dan ia cukup terkesan. “Wah! Kau hebat juga, Sung—”
Kata-katanya terputus ketika kepala Sungyeon jatuh ke bahunya. Gadis itu tampak sangat kelelahan sampai-sampai ia jatuh tertidur. Sebuah senyuman muncul di bibir laki-laki itu, kemudian sebelah tangannya merangkul bahu Sungyeon. Ia merapatkan tubuh gadis itu dengannya agar tidak kedinginan. Sungyeon, yang ternyata masih setengah sadar, mengetahui hal itu. Ia tersipu malu sembari berusaha membuat dirinya tertidur sungguhan.
Oppa..” bisik Sungyeon.
Laki-laki itu sempat terkejut mendengar bisikan Sungyeon barusan, tapi kemudian ia tersenyum. Ia mengira gadis itu sedang mengigau. “Hmm?”
“Kalau kita sudah besar nanti, bolehkah aku jadi istrimu?”
Laki-laki itu terdiam sejenak. Ia seperti berpikir keras untuk menjawabnya. Beberapa saat kemudian, ia terkekeh pelan. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala Sungyeon. Bibirnya mendekat ke telinga gadis itu, lalu berbisik,
“Tentu saja, Lee Sungyeon.”
Mendengar hal itu, Sungyeon senangnya bukan main.

~oo0oo~

Summer, 2012
Sungyeon menuruni tangga rumahnya dengan cepat. Ia mengenakan t-shirt putih polos, dipadukan oleh overall pendek berbahan jeans dan sepatu kets putih. Sungyeon juga membawa perlengkapan ‘jalan-jalan’-nya di dalam tas selempang putih, ia mempersiapkan semuanya dengan baik khusus untuk hari penting ini. Tiga pemuda yang sedang asyik bercengkrama di ruang tamu, dibuat tercengang karena melihat sosoknya.
Oppa! Aku sudah siap!” sahut Sungyeon dengan senyum yang lebar.
Kedua kakak laki-lakinya, Sungyeol dan Sungjong, terperangah melihat adik bungsu mereka tampak cantik dengan pakaian musim panas tersebut. Sesaat, mereka baru sadar kalau Sungyeon sudah bukan anak kecil lagi, ia telah tumbuh menjadi gadis remaja yang menawan.
“Kau mau kemana?” tanya Sungyeol dan Sungjong bersamaan. Mereka terpukau oleh penampilan Sungyeon hari ini.
Laki-laki yang satunya lagi masih tetap diam. Ia lalu bangkit dari sofa yang didudukinya sedari tadi, senyum puasnya ia lemparkan ke arah Sungyeon. Sungyeon memandang laki-laki itu dengan penuh minat. Di matanya, laki-laki itu terlihat keren dengan topi biru dan jersey baseball yang dipakainya.
“Sungyeon akan pergi denganku.” celetuk laki-laki itu.
Baik Sungyeol maupun Sungjong, pandangan mereka langsung tertuju pada laki-laki itu setelah mendengar celetukannya. Mereka memasang ekspressi tidak percaya. “Apa!?! Kalian akan pergi berdua!?” tanya Sungyeol dengan nada yang sedikit melengking.
“Kukira hyung ke sini karena mau main playstation denganku!” timpal Sungjong kecewa.
“Maaf sekali, Lee Sungyeol dan Lee Sungjong, oppa ke sini untuk menjemputku!” sahut Sungyeon penuh kemenangan.
Ia lalu berjalan ke samping laki-laki itu. Kedua tangan Sungyeon menggelut lengan laki-laki itu dengan erat. “Kami ada janji ke Olympic Park!”
“Ya, sampai jumpa nanti, Sungyeol, Sungjong!” Laki-laki itu langsung berpamitan dan pergi bersama Sungyeon, sebelum kakak-kakak gadis itu menginterogasi mereka lagi.
Setelah mereka berdua hengkang dari rumah keluarga Lee, suasana hening memenuhi ruang tamu sejenak. Sungyeol dan Sungjong kemudian bertukar pandang, dengan alis yang sama-sama ditautkan. “Hyung, tidakkah menurutmu mereka terlihat mencurigakan?” tanya Sungjong penuh selidik.
“Aku juga berpikir begitu,” ujar Sungyeol sembari menggaruk kepala bagian belakangnya. “Mungkinkah mereka berdua.. pacaran?”
“Mana mungkin!” bantah Sungjong cepat. “Kau tahu sendiri, kan? Sahabatmu itu tidak tertarik dengan gadis yang terlalu muda untuknya?”

~oo0oo~

Sementara itu, Sungyeon terlihat bersemangat sekali setelah mereka berdua sampai di Olympic Park. “Waaahh! Udara di sini segar sekali! Padahal sedang musim panas!” pekik Sungyeon sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.

Sungyeon lalu menoleh ke arah laki-laki yang di sampingnya. Ia tengah menatap Sungyeon dengan tatapan geli. “Bagaimana, oppa? Tempat ini sangat cocok untuk perayaan nilai ujian akhirku yang sempurna, kan?” sahut Sungyeon percaya diri.

Laki-laki itu tertawa kecil. “Aku masih tidak percaya kau memilih tempat seperti ini. Biasanya gadis seumuranmu lebih suka ke Lotte World atau sejenisnya.” ujarnya memberikan tanggapan. “Kenapa kau memilih Olympic Park?”

“Entahlah,” kata Sungyeon sambil tersenyum kikuk.

Ia mulai berjalan ke arah barat, dan laki-laki itu segera menyusulnya seraya mensejajarkan langkah mereka. “Kau akan memberitahuku, kan?” ujar laki-laki itu lagi.

“Aku tidak yakin, oppa. Entah sejak kapan, aku jadi tergila-gila dengan tempat ini. Perasaan senangku selalu bertambah kalau ke sini, jadi yah.. bisa dibilang tempat ini adalah tempat favoritku.. hehehe..” jawab Sungyeon ragu-ragu.

Laki-laki itu tersenyum setelah mendengar jawaban Sungyeon yang begitu lugu. “Oh’ya, bagaimana kabar ayah dan ibumu? Mereka sehat-sehat saja, kan? Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka.” tanya laki-laki itu mengganti topik pembicaraan.

“Sepertinya oppa tidak tahu sifat buruk orang tuaku,” sahut Sungyeon seraya memelankan suaranya. “Oppa tahu? Mereka selalu berdalih pergi keluar kota untuk mengurus mitra bisnis perusahaan selama berbulan-bulan. Tapi ketahuilah, dua dari sekian bulan lamanya mereka keluar kota, mereka gunakan untuk berbulan madu! Mereka selalu tidak sadar umur, bertingkah seperti orang yang baru menikah saja!” Sungyeon menceritakan hal itu dengan wajah serius.

“Apa oppa tidak berpikir kalau sepertinya mereka berencana ingin ‘membuat’ anak keempat lagi?” tanyanya setelah mengakhiri cerita itu, dengan tampang polos.

Mendengar hal tersebut, laki-laki itu tergelak. Ia mengacak-acak rambut Sungyeon dengan gemas. “Hei, jangan berpikir yang tidak-tidak tentang orang tuamu!”

“Aw! Hentikan, oppa! Rambutku berantakan, nih!” protes Sungyeon.

Laki-laki itu baru melepaskannya setelah puas membuat rambut coklat Sungyeon sembrautan. “Ya ampun, ternyata rambutnya Lee Sungyeon yang sekarang sudah sangat panjang, ya!” pujinya kemudian, mengganti topik pembicaraan lagi.

Sungyeon menatap laki-laki itu dengan kesal. Sambil memanyunkan bibirnya, ia merapikan rambutnya lagi dengan jari-jari lentiknya. “Oppa nakal!” rutuk Sungyeon.

Matahari yang berada di atas mereka semakin menyilaukan, bahkan terlalu silau untuk mata Sungyeon. Ia jadi tidak bisa melihat lawan bicaranya dengan baik. “Silau sekali..” gumam Sungyeon seraya menghalangi sinar matahari dari matanya.

Laki-laki itu peka dengan masalah yang menimpa Sungyeon. Ia lantas melepas topi biru yang ia kenakan dan memakaikan topi itu ke kepala Sungyeon. “Pakai ini, biar matamu tidak silau.”

Mata Sungyeon membulat. Kedua pipinya berubah warna menjadi merah merona. Jantungnya jadi berdebar-debar akibat perlakuan laki-laki itu terhadapnya. “Ehm… terima kasih, oppa..” ucapnya malu-malu.

Laki-laki itu kembali tertawa melihat tingkah lucu Sungyeon. Ia kemudian mengamit tangan gadis itu. “Karena sudah di sini, kenapa kita tidak menyewa sepeda saja?” usul laki-laki itu sambil tetap tersenyum ke arah Sungyeon.

“Aku setuju!” Sungyeon terdengar antusias dengan usulan tersebut, kemudian Sungyeon dan laki-laki itu pergi ke tempat penyewaan sepeda. Mereka akhirnya menyewa sepeda pasangan yang bisa dikayuh oleh dua orang.

“Oppa, tunggu sebentar!”

Sungyeon mengaduk-aduk isi tas selempang putihnya, membuat laki-laki itu harus menunggu beberapa saat sebelum mereka naik sepeda. “Ada apa, Sungyeon?” tanyanya.

Gadis itu akhirnya mendapat benda yang ia cari-cari di tasnya, sunblock spray-lotion. Ia menghampiri laki-laki itu, lalu menyemprotkan sunblocknya di kedua tangan dan leher si laki-laki. “Kita pakai ini dulu, biar tidak belang. Mataharinya terang sekali hari ini.” kata Sungyeon.

Laki-laki itu tertawa kecil melihat aksi Sungyeon tersebut, namun Sungyeon tidak mengetahuinya. Setelah memakaikan sunblock pada laki-laki itu, juga pada dirinya sendiri, barulah Sungyeon naik ke sepeda.

Mereka pertama-tama melajukan sepedanya dengan kecepatan konstan. Dalam hatinya, Sungyeon berulang kali memekik kegirangan. Ia senang sekali bisa naik sepeda pasangan dengan laki-laki itu. Berkat sepeda tersebut, Sungyeon jadi bisa mencium wangi segar tubuh laki-laki itu. Sepeda tersebut juga membuatnya mendapat pemandangan yang indah, yaitu tubuh tegap seorang laki-laki yang sempurna. Punggung seseorang yang ia cintai selama ini.

Oppa!” seru Sungyeon, sengaja meninggikan suaranya agar bisa didengar oleh laki-laki itu.

“Ada apa?!” balas laki-laki itu, dengan suara yang ditinggikan juga.

“Kepala sekolah memanggilku hari ini, katanya aku dapat rekomendasi ke SMA unggulan karena nilaiku sempurna!”

“Benarkah?! Bagus kalau begitu, masuk SMA unggulan akan lebih mudah mendapat universitas yang akreditasinya tinggi!”

Laki-laki itu kemudian menoleh sedikit ke belakang. Ia memandang Sungyeon sambil tersenyum. “Semoga kau berhasil, Sungyeon!” sahutnya.

Selesai mengucapkan kalimat tadi, ia kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Kedua kakinya yang mengkayuh sepeda dipercepat. Sementara Sungyeon, pipi gadis itu semakin berwarna merah merona. Kaki-kaki mungilnya juga ikut mengkayuh sepeda semakin cepat. Ia berharap, waktu terhenti saat ini juga.

~oo0oo~

Winter, 2020

Salju turun dengan derasnya di kota Seoul, membuat malam hari ini terasa lebih dingin daripada malam-malam sebelumnya. Sungyeon memperhatikan fenomena tersebut dari jendela kedai kopi langganannya, sambil sesekali menyeruput black tea yang ia pesan. Ia menggunakan tatapan tak bersemangatnya ketika melihat ke luar jendela. Musim dingin tahun ini lagi-lagi tidak dapat menghibur hati gadis itu.

“Sungyeon?”

“Sungyeon!?”

“Hei, Lee Sungyeon!”

Sungyeon terkejut ketika ia mendengar seruan seseorang tadi. Ia segera mengalihkan pandangannya ke sosok pria berambut hitam yang daritadi duduk di depannya. Gadis itu buru-buru membungkukkan badannya beberapa kali. “Ah!.. Eh, maafkan aku, Wonwoo-sunbae..” ucapnya meminta maaf.

Pria yang barusan dipanggil ‘Wonwoo-sunbae’ itu mendengus pelan. “Lagi-lagi kau memanggilku seperti itu!” protesnya. “Kita ini kan teman satu angkatan di fakultas, jadi tidak usah memanggilku dengan embel-embel ‘sunbae’!”

Sungyeon membungkukkan badannya sekali lagi. Benar, Jeon Wonwoo—nama laki-laki di depannya saat ini— memang teman satu angkatannya di fakultas kedokteran Universitas Nasional Seoul. Akan tetapi, umur Wonwoo dua tahun lebih tua daripada Sungyeon. Wonwoo bisa menjadi seangkatan dengan Sungyeon karena ia sempat mengalami kecelakaan parah di hari ujian perguruan tinggi tahun ajarannya. Wonwoo menjalani pengobatan yang cukup lama, sehingga ia baru bisa mengikuti ujian perguruan tinggi pada saat tahun ajaran Sungyeon.

“Maaf, Wonwoo.. aku masih belum terbiasa..” ujar Sungyeon lagi.

Karena tidak bisa lama-lama marah dengan gadis itu, akhirnya Wonwoo menyerah. “Baik, baik, kau kumaafkan kali ini.” sahut Wonwoo.

Ia lalu menatap Sungyeon dengan tatapan penasaran, sekaligus juga khawatir. “Kalau boleh tahu, kenapa daritadi kau murung terus? Aku sudah memanggilmu tiga kali, tapi kau baru menyahut pada panggilan ketiga.” tanya Wonwoo terus terang. “Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

Sungyeon hening sebentar, kemudian memaksakan diri untuk tertawa. “Ehm.. sepertinya aku agak lelah karena persiapan ujian selanjutnya..” dusta Sungyeon.

Wajah Wonwoo menegang. Ini bukan pertama kalinya pria itu melihat Sungyeon murung begini. Bahkan semenjak ia mengenalnya, Sungyeon selalu tampak tidak bahagia. “Kau yakin?” tanya Wonwoo masih ragu.

Sungyeon menghindari tatapan pria itu. Wonwoo pasti akan tahu kalau ia sedang berbohong. “Ya.. aku sudah tidak bisa konsentrasi belajar lagi di sini..” dalih Sungyeon sembari membereskan buku-buku kedokterannya di atas meja. “Aku pulang duluan, Wonwoo..”

Sebelum gadis itu bangkit dari kursinya, Wonwoo lebih dulu menahan tangannya. Mata sipit pemuda itu menatap mata Sungyeon begitu tajam, wajahnya terlihat semakin tegang. Rasa kesal menguasai diri Wonwoo saat ini.

“Kau selalu begini karena masih memikirkan cinta pertamamu itu!?” semburnya.

Jantung Sungyeon seakan berhenti berdetak begitu mendengar nama itu. Ia membuang muka, menghindari tatapan Wonwoo yang semakin mengintimidasinya. “Tidak.. kau salah, Wonwoo..” dalih Sungyeon, ia kembali berbohong.

Wonwoo terdiam sejenak, kemudian ia menghela napas seraya mengangguk paham. “Oke, biar aku yang mengantarmu pulang. Hari ini salju turun sangat lebat.”

~oo0oo~

Mobil pribadi Wonwoo berhenti tepat di depan pagar rumah Sungyeon. Gadis itu langsung melepas sabuk pengamannya dan mengucapkan terima kasih. “Terima kasih untuk tumpangan yang ke sekian kalinya, Wonwoo.” ucap Sungyeon seraya membungkuk sopan.

“Astaga, Sungyeon! Kau ini kaku sekali! Kita sudah lama berteman, tidak usah terlalu sopan begitu!” hardik Wonwoo.

“Ehm.. maaf.. aku masih belum terbiasa..”

Wonwoo berdecak. Ia tidak habis pikir, memahami sikap Sungyeon sama susahnya dengan menghafalkan jaringan-jaringan dalam otak. Padahal mereka berteman baik, sering curhat, sering pergi bersama, tapi gadis itu tetap saja tidak bisa bersikap akrab dengannya.

“Ya sudah, cepat masuk! Udara di luar dingin!” perintah Wonwoo.

“Oke, kau tidak mau mampir dulu?”

“Tidak,”

Begitu Sungyeon hendak keluar dari mobil, Wonwoo kembali menahan tangannya. “Oh’ya, Sungyeon, malam tahun baru nanti kau ada acara?” tanya Wonwoo cepat.

Sungyeon memandang pria itu dengan penuh tanda tanya. “Hngg? Aku.. rencananya mau merayakan tahun baru di rumah..”
Wonwoo tampak begitu kecewa. “Ternyata kau tidak bisa ikut denganku,”

“Ikut kemana?” Sungyeon tampak bingung melihat ekspressi Wonwoo yang berubah.

“Rencananya aku akan merayakan tahun baru di pesta grand opening bar milik teman SMA-ku. Aku ingin mengajakmu ke sana, tapi—”

Karena merasa tidak enak, buru-buru Sungyeon menyela ucapan Wonwoo. “Kalau begitu.. aku akan pikirkan dulu..”

Ekspressi wajah Wonwoo langsung berubah. Ada sedikit rasa senang terpancar di wajahnya, meskipun sedikit tapi kelihatan jelas. “Benarkah? Terima kasih, Sungyeon!” sahut Wonwoo sambil tersenyum.

Sungyeon juga ikut senang melihat senyuman Wonwoo. Setelah pamit, Wonwoo langsung menancap gas dan pulang. Sementara Sungyeon, ia langsung masuk ke rumah. Situasi rumah tampak hening, begitu Sungyeon cek, ternyata di rumah hanya ada ibunya. Ibu Sungyeon tertidur pulas di kamarnya, pasti beliau kelelahan karena mempersiapkan perayaan tahun baru keluarga Lee. Ayah Sungyeon masih dalam perjalanan pulang dari kantor, tampaknya hujan salju menghambat lalu lintas lagi.

“Coba saja masih ada Sungyeol-oppa dan Sungjong-oppa, rumah pasti lebih ramai..” keluh Sungyeon sembari menyeduh coklat panas di dapur.

Begitu selesai membuat coklat panas, Sungyeon pergi ke teras rumahnya. Ia meletakkan coklat panas buatannya di meja, lalu duduk di kursi teras. Sambil sibuk menonton salju yang turun semakin deras, ia memutuskan untuk menunggu ayahnya pulang. Dalam lubuk hati terdalamnya, Sungyeon merasa kesepian. Kakak tertuanya, Lee Sungyeol, sudah berkeluarga dan tinggal di rumah pribadinya. Sementara kakak keduanya, Lee Sungjong, sekarang sudah tinggal di apartemen dekat kantor tempatnya bekerja. Hanya Sungyeon yang tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya.

Sungyeon mulai menyesap coklat panas yang ia buat seraya merapatkan mantel yang dipakainya. Wajahnya kembali murung, saraf pada kulitnya seperti tidak peka oleh dingin yang menusuk sampai ke tulang.

“Aneh, biasanya setelah minum manis-manis begini, aku langsung merasa senang. Kenapa sekarang tidak bisa?” gumam Sungyeon sembari tersenyum getir.

Kalau diingat-ingat lagi, Sungyeon memang telah banyak berubah. Senyum bahagianya sudah lama pudar. Sikapnya yang selalu bersemangat sudah tidak pernah ia tunjukan lagi. Ia tidak bisa merasakan jantungnya berdebar-debar lagi. Coklat panas yang terasa manis sudah bukan minuman kesukaannya, digantikan oleh black tea yang terasa hambar. Sungyeon yang dulunya selalu ceria dan lugu, kini berubah menjadi Sungyeon yang selalu murung. Apa yang dikatakan Wonwoo di kedai kopi tadi ada benarnya. Sungyeon menjadi pemurung karena cinta pertamanya.

Orang itu adalah Kim Myungsoo, teman masa kecil Sungyeon yang dulu tinggal di seberang rumahnya. Pemuda tampan dan baik hati yang umurnya enam tahun lebih tua dari Sungyeon. Pemuda yang juga merupakan sahabat kakaknya, Lee Sungyeol. Dialah yang berhasil membuat hati Sungyeon terluka karena kejadian di musim semi lima tahun yang lalu.

~oo0oo~

Spring, 2015

Oppa? Apa kita sudah sampai?” tanya Sungyeon tak sabaran.

“Tidak, belum.” jawab Myungsoo penuh arti.

Pria itu tengah membawa Sungyeon ke suatu tempat dengan mobil Chevrolet miliknya—hadiah kelulusan Myungsoo di bangku SMA enam tahun yang lalu—. Mereka berangkat pagi-pagi sekali, dan tentu saja orang tua kedua belah pihak sudah mengizinkan mereka. Tapi sayangnya, Myungsoo malah tidak memberitahu Sungyeon kemana mereka akan pergi. Ia malah menutup mata gadis itu dengan kain berwarna hitam—membuat Sungyeon tak bisa melihat apa-apa— dan baru akan membukanya setelah mereka sampai di tempat tujuan.

“Huh! Apa oppa berniat menculikku, eoh!?” seru Sungyeon pura-pura marah.

Terdengar tawa pelan Myungsoo dari kursi kemudi mobil. “Mana mungkin seorang penculik meminta izin dulu pada orang tua korban yang diculiknya!?” sahut pria itu.

Bibir tipis Sungyeon mencibir, kemudian terkekeh. “Oke, oke. Aku akan menunggu dengan sabar sampai oppa melepaskan penutup mata menyebalkan ini!” sahutnya menyerah.

Myungsoo kemudian melontarkan beberapa cerita lucu yang membuat Sungyeon terhibur di saat kedua matanya tertutup. Gadis itu tidak merasa bosan selama perjalanan yang tersisa dan betah menunggu Myungsoo untuk membuka penutup matanya. Sekitar satu jam kemudian, mobil yang dibawa Myungsoo berhenti.

“Kenapa kita berhenti? Apa kita sudah sampai, oppa?” tanya Sungyeon panik, takut-takut mobil milik Myungsoo berhenti karena mogok.

“Tunggu sebentar, Sungyeon,”

Myungsoo terdengar seperti buru-buru melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, disusul dengan suara pintu bagasi terbuka. Terdengar pula suara berisik seperti seseorang sedang mengambil barang-barang yang ada di dalam sana. Pintu bagasi kemudian ditutup, setelah itu tidak ada lagi suara apa-apa. Sungyeon frustasi sendiri karena khawatir, apa yang sebenarnya terjadi? Ingin sekali dirinya melepas penutup mata konyol yang menghalangi pandangannya itu.

“Yap, waktunya kau keluar!”

Tiba-tiba pintu di samping Sungyeon dibuka, bersamaan dengan munculnya suara Myungsoo lagi. Tangan pria itu membantu Sungyeon melepas sabuk pengamannya, kemudian menuntun Sungyeon untuk keluar dari mobil. Gadis itu masih merasa panik.

“A-apa yang terjadi, oppa??”

“Tenang, tenang. Pegang saja tanganku dan ikuti petunjukku.” sahut Myungsoo.

Mau tidak mau, Sungyeon menuruti semua perintah Myungsoo. Myungsoo menyuruhnya berjalan beberapa langkah ke depan. Ia terlihat sedikit kesusahan karena kakinya hampir tergelincir, namun tak sampai jatuh. Ia merasakan sesuatu yang basah menyentuh kulit kakinya, seperti.. rumput. Petunjuk itu semakin membuat rasa penasaran Sungyeon meningkat.

“Sekarang, pelan-pelan, duduklah dengan manis.” kata Myungsoo menginstruksi.

Dengan perlahan-lahan, Sungyeon merendahkan badannya dan akhirnya duduk bersimpuh. Tangannya meraba-raba sebuah kain yang tergelar di bawah tubuhnya, dan teksturnya seperti.. tikar. Ya, tikar yang biasa dipakai orang-orang untuk piknik. Sunyeon tambah penasaran.

“Aku akan membuka penutup matamu sekarang, bersiaplah. Satu, dua, tiga!”

Selesai hitungan ketiga, penutup mata yang sedari tadi menghalangi penglihatan Sungyeon akhirnya dibuka oleh Myungsoo. Gadis itu mengirjap-irjap beberapa kali, kemudian kedua matanya membulat. Ia terperangah, kaget, sekaligus terpukau. Semua perasaannya bercampur aduk.

Bibirnya terbuka lebar begitu kedua penglihatannya menangkap obyek apa saja yang ada di hadapannya saat ini. Myungsoo telah membawanya ke padang rumput indah yang terletak di bawah bukit hijau daerah Damyang, tempat yang sangat ingin dikunjunginya. Di depan Sungyeon, tersaji pemandangan danau kecil dengan air jernih, sekaligus lembah yang masih rindang.

“Selamat ulang tahun yang ke-18, Lee Sungyeon.” ucap Myungsoo di sampingnya. Kedua tangan pria itu tengah membawa kue dengan lilin berbentuk angka 18 yang menyala. “Maaf aku baru bisa memberimu hadiah sehari setelah hari ulang tahunmu, kemarin jadwal kuliahku sangat padat.” tambah Myungsoo dengan nada menyesal.

Dengan cepat, Sungyeon menggeleng. “Tidak apa-apa, oppa. Lagipula, ini hadiah terbaik yang pernah aku punya!” sahut Sungyeon hampir menjerit, sakit senangnya.

Myungsoo tersenyum lembut. “Aku senang mendengar hal itu. Ayo, buat permohonan!”

Sungyeon buru-buru menutup mata dan menjalin jari-jarinya untuk membuat permohonan. Setelah itu ia meniup lilin kuenya dengan semangat. “Oppa, kau yang terbaik!” seru Sungyeon sambil menaruh kue yang dibawa Myungsoo ke sisi lain, lalu memeluk laki-laki itu.

Myungsoo juga membalas pelukannya dengan erat. “Syukurlah kau menyukai kejutanku.”

“Tapi, darimana kau tahu aku sangat ingin kesini, oppa?”

“Kau selalu membicarakan tempat ini pada orang-orang, jadi aku beranggapan kalau kau sangat ingin mengunjungi tempat ini.” jawab Myungsoo polos.

“Astaga! Oppa sangat ahli menebak!”

“Ah’ya! Sebaiknya kita makan dulu, kau belum sarapan, kan?”

Akhirnya mereka melepas pelukan masing-masing untuk sarapan. Myungsoo sudah menyiapkan semuanya dengan sangat sempurna. Ia membawa masakan kebanggaan ibunya untuk bekal piknik hari ini, semuanya adalah makanan kesukaan Sungyeon. Kue yang Myungsoo buat seharian dengan adiknya, Moonsoo, juga berupa kue vanilla, yang notabene merupakan kue favorit Sungyeon. Bagaimana mungkin Sungyeon tidak ingin menjerit kegirangan setelah mendapat hadiah seistimewa ini?

Seusai menikmati makanan istimewa tersebut, Sungyeon mengajak Myungsoo bermain di padang rumput itu. Mereka asyik berlarian, menikmati udara segar di sana, dan bertukar cerita sambil bermain lempar batu di danau kecil dekat lembah. Hari itu adalah hari terindah sepanjang hidup Sungyeon.

Tapi tetap saja, yang namanya hari terindah pasti akan terasa singkat. Sungyeon terpaksa harus meninggalkan tempat impiannya itu saat matahari mulai berarak ke barat. Myungsoo mengantarkan Sungyeon pulang, dan di sepanjang perjalanan mereka tetap asyik mengobrol. Sungyeon juga tak bosan menunjukkan rasa terima kasihnya pada Myungsoo dan kegembiraannya terhadap hadiah yang diberikan oleh pria itu.

”Myungsoo-oppa, sekali lagi, terima kasih untuk hari ini.”

Untuk yang kesekian kalinya, Sungyeon memeluk erat Myungsoo ketika mereka sampai di depan rumah keluarga Lee. Myungsoo melepas pelukannya, lalu menatap mata Sungyeon cukup lama. “Sebenarnya, masih ada lagi satu hadiah.” kata pria itu sambil mengulum senyum.

Kedua mata Sungyeon membulat. “Ada lagi!?”

Myungsoo masih mengulum senyum. Ia lantas keluar dari mobil dan membuka pintu bagasi lagi dengan cepat. Lalu ia kembali sambil membawa sebuah buket bunga lily yang super besar. “Ini dia, kadomu yang kedua!” ujar Myungsoo begitu antusias.

Sungyeon tak mampu berkata-kata ketika Myungsoo menyerahkan buket bunga lily super besar itu padanya. Bunga lily putih, dengan tisu pembungkusnya yang berwarna hijau susu, perpaduan bunga favorit dan warna favoritnya menjadikan hadiah kedua dari Myungsoo sangat istimewa bagi Sungyeon. “Oppa.. ya ampun, ini kejutan yang paling hebat seumur hidupku!!” jerit Sungyeon seraya berlinang air mata, saking terharunya.

“Hei, tidak usah sampai menangis segala, dong!” cibir Myungsoo sambil tertawa. Sebelah tangannya menghapus air mata Sungyeon.
Sungyeon menghentikan tangisnya, lalu memandang wajah Myungsoo cukup lama. Bibirnya perlahan tersenyum, bersamaan dengan gemuruh jantungnya yang menderu. “Myungsoo-oppa..” panggil gadis itu sedikit gemetaran.

Laki-laki itu meredakan tawanya. “Ya?”

“Aku.. aku ingin menanyakan satu pertanyaan penting padamu, pertanyaan yang sudah lama aku pendam..”

Myungsoo berhenti tertawa. Kini ia menautkan alisnya setelah mendengar pernyataan Sungyeon barusan. “Apa itu?”

Sungyeon terdiam sejenak. Berulang kali ia berkedip, menenangkan debaran jantungnya yang semakin menjadi-jadi, dan mengusir rasa gugupnya sejauh mungkin. Lidahnya tampak kelu untuk berbicara, tapi hatinya terus mendesak. “Se.. selama ini kau selalu memanjakanku, melindungiku, dan berbuat baik terhadapku..”

Myungsoo mengangguk, masih menanti kelanjutan pembicaraan Sungyeon. “Ya, lalu?”

“Aku juga dengar dari Moonsoo.. kalau kau tidak pernah punya pacar.. bahkan teman kencan sekalipun..” Sungyeon terbata-bata menyelesaikan kalimatnya.

Myungsoo semakin mengerutkan keningnya, sedikit bingung dengan arah pembicaraan Sungyeon. “Ya, terus?”

“Karena itu… bolehkah… aku jadi pacarmu?..”

Kalimat itu sukses dari bibir tipis Sungyeon. Gadis itu membuka matanya–yang sedari tadi ia pejamkan—, muncul sedikit kelegaan karena ia sudah mengatakan kalimat yang selama ini mengganjal di hatinya.

“Aku.. aku menyukai Myungsoo-oppa.. kau adalah cinta pertamaku, oppa..” timpal Sungyeon malu-malu.

Myungsoo terpaku. Ekspressi pria itu sulit dibaca, yang bisa dipastikan, ia sangat kaget mendengar pernyataan Sungyeon tadi. Itu bisa dilihat dari matanya yang membelalak saat ini. “Sungyeon..”

Oppa tidak perlu menjawabnya sekarang, hehe..” cegah Sungyeon. “Berikan saja jawabanmu tanggal 31 Desember tahun ini, biar bersamaan dengan tahun baru..”

Wajah Myungsoo tampak tegang. Ia masih terpaku, membuat Sungyeon merasa gelisah. “Kalau begitu, aku akan masuk ke rumah—”

“Tunggu!”

Myungsoo menarik tangan Sungyeon sebelum gadis itu keluar dari mobilnya. Wajah pria itu masih tegang, dan matanya menatap lurus ke mata Sungyeon. “Aku tidak bisa memberikan jawaban di hari itu, sebaiknya aku memberikan jawabanku sekarang.” kata Myungsoo tegas.

Jantung Sungyeon berdebar-debar menantikan jawaban dari Myungsoo. Tangannya mendadak berkeringat, dan matanya menatap pria itu dengan penuh harap. “Jadi.. apa jawaban oppa..?” tanya Sungyeon gugup.

Myungsoo menghela napas panjang, lalu menundukkan kepalanya. “Maaf Sungyeon, kau tidak bisa menjadi pacarku.”

Sesuatu seperti menusuk dada Sungyeon dari belakang. Perasaan Sungyeon menjadi hancur berantakkan. Pandangannya kini kabur karena air mata yang mulai menggenang. Melihat raut wajah Sungyeon yang berubah total, Myungsoo tampak merasa bersalah.

“Maafkan aku, aku tidak bisa pacaran denganmu. Aku—”

“Tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf! Aku telah mengatakan hal yang konyol! Hahaha..” sela Sungyeon dengan suara yang ditinggikan. Ia berusaha keras untuk tidak menangis di depan Myungsoo.

“Harusnya aku sadar diri, meskipun aku berusaha dari dulu, aku tetap tidak bisa menjadi gadis cocok bersanding dengan oppa! Hahaha..”

“Sungyeon, aku—”

“Maafkan aku, oppa! Aku terlalu manja dan selalu menyita waktumu!”

“Tunggu, Sungyeon—”

“Aku pulang dulu, terima kasih untuk hari ini. Jaga diri oppa.”

Tanpa mendengar penjelasan Myungsoo lagi, Sungyeon langsung keluar dari mobilnya dan berlari memasuki rumah. Ia langsung naik ke lantai dua, menuju ke kamarnya. Setelah berhasil mengunci pintu kamar, barulah air mata Sungyeon tumpah ruah. Ia menangis sejadi-jadinya, ia mengeluarkan semua perasaan kecewanya lewat air mata. Sulit ia terima, kalau penantiannya selama ini ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Myungsoo tidak bisa membalas perasaannya.

“Kenapa aku bodoh sekali!? Kenapa!?!” rutuk Sungyeon di sela-sela tangisnya. Buket bunga pemberian Myungsoo yang ia bawa terlepas dari genggamannya, lalu jatuh ke lantai. Kedua tangannya gemetar hebat.

“Sungyeon, ada apa!?!”

Terdengar suara Sungjong dari balik pintu, disusul dengan suara derap langkah dari jauh yang semakin mendekat. Sungyeon membuka pintu kamarnya, mengizinkan Sungjong masuk ke kamarnya, lalu kembali mengunci pintu kamar. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu lagi dari Sungyeol dan kedua orang tuanya.

“Apa yang terjadi di dalam!?” teriak Sungyeol dari luar.

“Sungyeon, ada apa?!” ujar ayah Sungyeon.

“Sungyeon sayang, apa yang terjadi, nak!?” tanya ibu Sungyeon.

Sungyeon tidak menyahuti mereka. Ia masih tetap menangis, sembari memandang Sungjong yang kini memandangnya dengan khawatir. “Apa yang terjadi, Sungyeon!? Kenapa kau menangis?!” tanyanya.

Sungyeon terisak, ia kemudian memeluk Sungjong dengan erat dan menangis dengan keras di bahu pria itu. “Kau benar, oppa.. Myungsoo-oppa tidak menyukaiku.. ia, menolakku..” ujar Sungyeon tercekat.

Sungjong sempat terkejut, namun ia langsung memeluk Sungyeon dengan erat. Sungjong memejamkan matanya, ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Sungyeon. Kakak keduanya itu tahu betul seberapa besar cinta Sungyeon terhadap Myungsoo, karena selama ini ia menjadi teman curhat Sungyeon. Tapi Sungjong tidak menyangka kalau Sungyeon bisa terpuruk seperti ini.

“Kau lihat, kan? Myungsoo-hyung tidak bisa menyukai gadis yang terlalu muda darinya.” ujar Sungjong seraya mengelus-elus rambut Sungyeon.

“Tapi aku sangat menyukainya, oppa.. aku selalu menyukainya, oppa.. Kenapa ia tidak menyukaiku juga?…”

“Ssst! Tenang, tenanglah. Tenangkan dirimu, Sungyeon.”

Sungjong berusaha menenangkan Sungyeon yang terus-terusan menangis di pelukannya. Gadis itu menangis semalaman, dan kedua orang tuanya beserta Sungyeol hanya bisa mendengar tangisan menyedihkan Sungyeon dari balik pintu kamarnya yang dikunci. Sungyeon terus menangis sampai akhirnya tertidur di dalam dekapan Sungjong.

Esok harinya, Sungyeon mendapati rumah yang ada di seberang rumahnya kosong. Menurut kabar dari tetangga sebelah, keluarga Myungsoo telah pindah ke Jepang. Mereka berangkat ke bandara kemarin malam, setelah Myungsoo mengantarnya pulang.
Sungyeon tak bisa berkomentar apa-apa. Cinta pertamanya telah hilang dari hidupnya, untuk selama-lamanya.

~oo0oo~

Winter, 2020

Sungyeon tersadar dari tidurnya begitu lampu sorot mobil menyinari kedua matanya. Ia memicingkan mata, berusaha mengembalikan fokus matanya dan mengembalikan seluruh arwahnya dari mimpi. Sulit dipercaya, gadis itu tertidur di kursi teras rumahnya setelah mengenang kenangan pahit lima tahun yang lalu.

Ia segera bangkit dari kursi yang didudukinya dan menghampiri mobil sedan putih yang baru saja memasuki pekarangan rumah keluarga Lee. Si pengemudi mobil tersebut keluar tak lama kemudian, menampilkan sesosok pria dewasa dengan jas kantoran yang masih rapi dan wangi. Pengemudi itu adalah Sungjong.

Oppa!” seru Sungyeon.

Gadis itu langsung menerjang Sungjong dan memeluknya sangat erat. Sungyeon sudah lama tidak berjumpa dengan kakak keduanya ini. “Kenapa tidak mengabariku selama ini?! Kenapa kau tidak bilang akan datang ke rumah!? Aku sangat merindukan oppa!” ujar Sungyeon nyaris berlinang air mata.

Sungjong membalas pelukannya tak kalah erat. “Kejutan!” sahutnya.

“Maaf ya, Sungyeon. Menjadi direktur pemasaran di tempatku bekerja tidak segampang yang kukira. Aku sulit mendapat waktu senggang, bahkan masih ada kerjaan yang kubawa pulang. Padahal mau tahun baru begini.”

Sungyeon menghentikan pelukannya, ia tersenyum sembari menghapus air mata yang ada di pipinya. “Apa oppa sehat-sehat saja?”

“Tentu, aku selalu makan tiga kali sehari!” sahut Sungjong seraya mengeluarkan tas pakaiannya dari dalam bagasi mobil. Sungyeon langsung gembira melihat hal itu.

Oppa akan menginap di rumah!?”

“Ya, untuk merayakan malam tahun baru!” sahut Sungjong semangat. “Ada siapa saja di rumah?”

“Aku dan ibu saja. Ibu sudah tidur, dan ayah masih dalam perjalanan pulang.”

Karena cuaca di luar semakin dingin, mereka berdua akhirnya buru-buru masuk ke dalam rumah. Sungyeon tak lupa membawa masuk coklat panasnya yang ada di teras juga. Tangan gadis itu terus bergelayut di lengan kakaknya.

“Bagaimana kabar Heekyung-eonnie, oppa? Kalian masih pacaran, kan?” tanya Sungyeon jahil.

“Tentu saja masih! Dia adalah calon istriku!” jawab Sungjong mantap.

“Whoaaa, oppa memang hebat! Semoga langgeng terus!”

“Oh’ya, Sungyeol-hyung dan Eunjoo-noona tidak ke rumah? Apa mereka ikut ke acara tahun baru keluarga?” tanya Sungjong begitu mereka duduk di sofa ruang tamu.

“Sungyeol-oppa belum memutuskan. Ia tampaknya sibuk karena sebentar lagi akan menjadi penerus perusahaan ayah, sementara Eunjoo-eonnie masih sulit bepergian karena usia kandungnya sudah delapan bulan.” jawab Sungyeon.

Sungjong mengangguk-angguk. Ia kemudian menatap Sungyeon beberapa saat. “Hei, kenapa kau kurus sekali sekarang?” tanyanya kaget setelah menyadari pipi adiknya semakin tirus.

“Ehm.. mungkin karena belakangan ini aku sibuk mempersiapkan ujian, sebentar lagi aku akan lulus..” ungkap Sungyeon sembari terkekeh.

“Wah! Selamat adik kesayanganku! Sebentar lagi kau akan menjadi dokter muda yang cantik!”

“Aissh! Oppa berlebihan!”

Sungjong kembali memeluk Sungyeon dengan erat. Mereka sibuk melepas kerinduan mereka karena sudah tidak tinggal di atap yang sama selama empat tahun lebih. “Sungyeon, kau tidak ada acara tahun baru dengan temanmu?” tanya Sungjong seraya melepas pelukan mereka.

“Eh?”

“Ayolah, kau ini masih berumur 20-an, masa tidak ada pesta menyambut tahun baru dengan teman-temanmu?”

Sungyeon berpikir sejenak, lalu ia teringat lagi dengan ajakan Wonwoo tadi. “Oh, sebenarnya aku diajak Wonwoo merayakan tahun baru bersama!”

Mata Sungjong langsung membelalak. “Wonwoo?!? Maksudmu Jeon Wonwoo!?” pekik Sungjong kaget.

Sungyeon juga tak kalah kagetnya mendengar hal itu. “Ke-kenapa oppa bisa tahu?!” tanya Sungyeon.

Sungjong merespon pertanyaan adiknya sambil tertawa renyah. “Wonwoo itu adik kelasku waktu SMA. Kami sama-sama ikut klub sepak bola, jadi aku cukup akrab dengannya!” jelas Sungjong. “Dia mengajakmu? Wah, ternyata dia tidak homo! hahaha..”

Sungyeon mengernyit begitu mendengar omongan kakaknya barusan. “Homo?”

“Yah, selama hidupnya Wonwoo tidak pernah berinteraksi dengan perempuan, ia tidak pernah berkencan, bahkan tidak pernah mengajak perempuan merayakan tahun baru bersama!” sahut Sungjong. “Sepertinya Wonwoo tertarik padamu, Sungyeon!”

“Tapi..” Sungyeon tampak ragu dengan tanggapan Sungjong itu. “Kami berdua hanya berteman, oppa..”

Sungyeon kembali mengingat-ingat sosok Wonwoo dalam pikirannya. Wonwoo memang selalu perhatian padanya sejak mereka pertama kali bertemu. Pria itu sangat baik, walaupun dari luar ia terlihat begitu dingin. Wonwoo tidak pernah protes kalau Sungyeon menyita waktunya untuk sekedar curhat tentang cinta bertepuk sebelah tangannya dengan Myungsoo, ia selalu mendengarkan semua curhatan Sungyeon dengan sabar. Tapi Sungyeon tidak pernah berpikir kalau selama ini Wonwoo tertarik padanya.

Sungjong menghela napas, seperti tidak menyukai perkataan Sungyeon tadi. “Aku dengar dari Sungyeol-hyung, kalau Myungsoo-hyung menjadi arsitek terkenal di Tokyo sekarang.”

Sungyeon langsung menoleh ke arah Sungjong, begitu kakaknya meluncurkan ucapan tersebut. Ia diam terpaku, serta jantunngnya berdegup kencang. Gadis itu selalu bereaksi demikian kalau ada topik pembicaraan yang menyinggung nama Myungsoo. “Be.. benarkah?..”

Sungjong menatap menerawang ke langit-langit rumah. “Ya, dan rumornya dia akan segera melamar seorang gadis tahun ini.” kata Sungjong singkat.

Jantung Sungyeon seakan berhenti berdetak. Timbul kembali rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Seluruh anggota geraknya mati rasa, dan tiba-tiba air mata mendesak keluar dari kedua manik mata Sungyeon.

Sungjong menoleh ke arah Sungyeon, merasa iba dan bersalah setelah memberitahu berita itu pada adiknya. Ia langsung memegang wajah Sungyeon. “Maaf aku memberimu kabar buruk ini. Aku tahu kau masih mencintai Myungsoo-hyung, Sungyeon. Tapi, kau harus segera melupakannya! Dia sebentar lagi akan menikah dengan orang lain! Aku tidak mau melihatmu menjadi wanita yang menyedihkan, yang masih mengharapkan cinta pria yang sudah menolakmu!” tukas Sungjong, kali ini meninggikan suaranya.

Sungyeon hanya bisa menundukkan kepala. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak tumpah, ia juga menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan satu isakan sekalipun. Ia memilih untuk tetap bungkam.

“Tak ada salahnya mempertimbangkan Wonwoo, Sungyeon. Yang terpenting sekarang, lupakanlah Myungsoo-hyung.”
Setelah meluncurkan kata-kata tersebut dari mulutnya, Sungjong melepas wajah Sungyeon. Ia lalu pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas sembari membawa tas pakaiannya. Begitu Sungjong pergi, air mata yang sedari tadi ditahan Sungyeon akhirnya keluar.

Buru-buru ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian mengetik beberapa nomor untuk menelpon seseorang. Sungyeon tetap tidak terisak, meskipun kini wajahnya sudah basah karena air mata.

“Wonwoo, ini aku.. Mengenai tawaranmu tadi, sepertinya aku akan merayakan tahun baru denganmu..”

~oo0oo~

Malam 31 Desember 2020, yang merupakan malam terakhir pada tahun tersebut, salju turun tidak begitu deras seperti malam-malam sebelumnya. Langit malam justru berhiaskan bintang-bintang gemerlapan, membuat malam tahun baru kali ini semakin indah. Sungyeon menyaksikan pemandangan menakjubkan itu dari balkon rooftop bar baru yang dibangun tak jauh dari Olympic Park. Walaupun tubuhnya hanya dibalut mini dress hitam dengan lengan terbuka, namun Sungyeon tidak merasa dingin sama sekali.

“Hei, kau melupakan mantelmu!”

Suara rendah milik Wonwoo itu menginterupsi kegiatan Sungyeon memandangi langit. Sungyeon menoleh ke arah pria itu, lalu melontarkan senyuman andalannya. Selamat malam, Wonwoo!” sapanya ramah.

Wonwoo membalas sapaan gadis itu dengan tawa kecil, ia lalu sibuk memakaikan mantel putih tersebut ke tubuh Sungyeon. “Setidaknya pakai mantelmu kalau mau diam di balkon! Disini anginnya kencang!” kata Wonwoo menasehati.

Sungyeon terkekeh pelan. Ia terkesan dengan cara Wonwoo menasehatinya yang hampir sama dengan Sungjong. “Terima kasih banyak, Jeon Wonwoo.”

Pria itu tampak murung begitu ia selesai memasangkan mantel Sungyeon. “Maafkan aku, Sungyeon. Aku malah mengajakmu merayakan tahun baru di pesta ini. Kau pasti merasa tidak nyaman karena bar ini tidak ada satupun yang kau kenal.” ungkap Wonwoo menyesal.

Sungyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, tidak sama sekali! Justru aku berterima kasih padamu karena mengajakku ke tempat semewah ini!” kilahnya.

Satu tangan Sungyeon menunjuk ke arah langit yang bertabur bintang. “Lihat, dari balkon ini aku bisa melihat langit malam yang indah! Sangat jarang ada tempat yang memiliki pemandangan sebagus ini!”

Wonwoo kembali tertawa kecil, ia tidak jadi murung setelah mendengar pernyataan Sungyeon barusan. “Benarkah begitu?” tanyanya sembari bersender di pagar balkon.

Sungyeon memandang Wonwoo yang kini berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap langit. “Benar..” jawab Sungyeon yakin.
Mereka tidak saling bicara cukup lama. Sungyeon sibuk menatap langit malam yang indah, sementara Wonwoo sibuk memperhatikan gadis itu. Keheningan itu pecah ketika Sungyeon menoleh lagi ke arah Wonwoo, memergokinya sedang menatap Sungyeon dan sukses membuat pria itu salah tingkah.

“Oh’ya, kau tidak ke dalam? Teman-teman SMA-mu pasti ingin melepas rindu denganmu, sebaiknya kau ke sana.” ujar Sungyeon polos, seperti tidak tahu kalau dari tadi Wonwoo menatapnya.

“Ehm.. kami sudah melakukannya tadi..” dalih Wonwoo sembari mengusap tengkuknya dengan malu. “Sekarang aku ingin menemanimu di sini..”

Sungyeon tersenyum, kemudian ia kembali memandang langit. Entah apa yang dipikirkan gadis itu sampai-sampai dari tadi ia betah menengadahkan kepalanya terus, hanya untuk melihat bintang. Tetapi, sepertinya ada perang dalam hati Sungyeon. Ia sedang dilanda kebingungan.

“Sungyeon,”

Gadis itu menoleh ke arah Wonwoo lagi, kali ini karena Wonwoo sendiri yang memanggilnya. “Ya?” sahut Sungyeon.

Wonwoo tak berbicara lagi. Ia hanya diam, dan kedua matanya menatap Sungyeon lekat-lekat. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, tapi maaf sebelumnya karena mungkin kedengarannya sedikit lancang,”

Sungyeon tak bisa mengalihkan pandangannya lagi. Matanya sudah terkunci oleh mata Wonwoo. “Apa itu?”

Wonwoo berjalan mendekati Sungyeon, hingga wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajah Sungyeon. Deru napas pria itu menyapu lembut wajah Sungyeon. “Sungyeon, aku minta kau lupakan saja Kim Myungsoo itu.” ucap Wonwoo tegas.

Sungyeon terkesiap, namun tenggorokannya tercekat sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa. Tangan kanan Wonwoo bergerak menyentuh wajah Sungyeon, sementara tangan kiri Wonwoo kini mendekam di pinggang gadis itu. Ekspressi Wonwoo tidak bisa dibaca. Ada kilatan sedih, marah, gugup, dan perasaan lainnya dalam mata sipit pria itu.

“Aku tahu kau pasti berpikir ucapanku itu egois, tapi,”

Kedua tangan Wonwoo semakin erat memegang wajah dan pinggang Sungyeon. “Aku tidak tahan lagi melihatmu murung karena pria itu. Aku tidak ingin melihatmu terpuruk dalam bayang-bayangnya lagi. Dan aku.. tidak bisa memendam perasaanku terus, Sungyeon..”

Sungyeon merasa semakin sesak di dadanya. Deru napas Wonwoo juga menjadi semakin cepat. “Sebenarnya, aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu. Kau adalah gadis pertama yang berhasil menarik perhatianku, yang berhasil membuat hobi belajarku terasa membosankan, dan.. berhasil membuatku segila ini.”

Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sungyeon, membuat hidung mereka bersentuhan. “Kumohon, Sungyeon. Lupakan dia, dan jadilah kekasihku.” bisik Wonwoo.

Bibir pria itu semakin mendekat ke bibir Sungyeon. Sungyeon tak mampu bergerak. Perang dalam hatinya masih belum usai. Ia bingung harus bagaimana. Apakah ia harus menyambut perasaan Wonwoo seperti yang dikatakan Sungjong? Atau menghindar darinya sekarang? Sungyeon tidak bisa berpikir lagi, bibir Wonwoo sudah semakin dekat dengan bibirnya dan..

Mereka tidak jadi berciuman.

Seseorang menarik tubuh Sungyeon dari dekapan Wonwoo, membuat keduanya terkejut setengah mati. Mereka tak menyangka ada orang lain yang menginterupsi mereka di balkon bar ini. “Maafkan aku, anak muda. Aku harus membawa gadis ini sebentar,” sahut sesosok pria yang kini menggenggam erat tangan Sungyeon.

Sebelum Wonwoo bereaksi, pria itu lantas menarik Sungyeon dan mengajaknya berlari keluar bar. Sungyeon dengan terpaksa berlari mengikuti pria itu. Ia memperhatikan punggung tegap si pria, kemudian rambut hitam kecokelatannya, lalu setelan jas yang dipakainya, dan terakhir, cara ia berlari. Sungyeon membelalakkan matanya ketika baru menyadari siapa pria itu sebenarnya.

“M.. Myungsoo-oppa!?”

~oo0oo~

Sungyeon berhenti berlari ketika ia sudah sampai di Olympic Park. Napasnya tidak beraturan, ia tampak lelah karena berlari cukup jauh. Pria yang ada di sampingnya, yaitu Myungsoo, juga tertatih-tatih sehabis berlari. Ia kemudian memandang Sungyeon sambil tersenyum.

“Lama tidak berjumpa, Lee Sungyeon.” ujar Myungsoo.

Gadis itu menegakkan tubuhnya, raut wajahnya terlihat seperti tidak suka dengan ucapan Myungsoo tadi. “Kenapa kau membawaku kemari?!” tanya Sungyeon dengan nada marah.

Myungsoo berhenti tersenyum, lalu menegakkan tubuhnya. “Aku membawamu ke sini karena ini adalah tempat yang bisa membuatmu senang.” jawab pria itu datar. Matanya memandang tepat di mata Sungyeon.

Sungyeon tak bisa memandang kedua mata pria itu, ia lebih memilih untuk membuang muka. “Kenapa kau ada di Seoul!? Kenapa kau kembali?!”

“Aku ke Seoul karena ingin menjelaskan sesuatu padamu, aku—”

“TIDAK ADA YANG PERLU DIJELASKAN!!” teriak Sungyeon.

Gadis itu tidak bisa menahan diri lagi, ia jatuh tersungkur sambil menangis. Wajah gadis itu menjadi basah, maskara yang dipakainya luntur akibat air matanya yang berlinang. Myungsoo terpaku melihat penampilan menyedihkan gadis itu. “Untuk apa kau muncul lagi di hadapanku, eoh!?! Kau belum puas membuatku menderita!?! Kau belum puas membuatku terpuruk selama lima tahun ini!?! Sampai kapan kau mau menghancurkanku, Kim Myungsoo!?!”

Sungyeon memegang dadanya yang terasa sesak. Isakan tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia menatap tajam Myungsoo, dengan mata yang dihiasi maskara luntur. “Aku sangat membencimu!” tukas Sungyeon.

Myungsoo tak bisa diam saja, pria itu langsung berlari ke arah Sungyeon, kemudian memeluknya dengan erat. Sungyeon sempat memukul-mukul dadanya, memberontak, dan berusaha sekuat mungkin untuk melepas pelukannya. Namun Myungsoo lebih kuat dari gadis itu.

“Lepaskan!.. Aku mau pulang!..” rutuk Sungyeon di sela-sela tangisnya.

Tubuh Myungsoo bergetar. Ia bisa merasakan betapa rapuhnya gadis itu akibat perbuatannya. Kedua mata Myungsoo berkaca-kaca, dan ia semakin mengeratkan pelukannya pada Sungyeon. “Maafkan aku, Sungyeon. Seharusnya pada malam itu aku menghentikanmu, seharusnya aku menjelaskan semuanya padamu hari itu juga, bukannya meninggalkanmu selama ini.” ungkap Myungsoo dengan nada tergetar.

Sungyeon menghentikan aksi memberontaknya sejenak. Ia juga meredakan tangisnya.

“Sebelum memberikanmu kejutan lima tahun yang lalu, ayahku memberitahuku kalau kami sekeluarga akan pindah ke Jepang malam itu juga. Aku terkejut setengah mati menengar hal itu, dan orang yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah kau. Aku membayangkan betapa menyedihkannya bila aku harus hidup jauh darimu, Sungyeon.”

Sungyeon sangat terkejut dengan pernyataan Myungsoo barusan, namun ia tidak ingin menyela dan lebih memilih untuk diam. Myungsoo kembali melanjutkan penjelasannya.

“Karena itulah aku bertekad memberikanmu kejutan terbaik yang bisa aku lakukan. Aku berjuang untuk membuatmu bahagia hari itu, agar malam harinya aku bisa mengucapkan perpisahan manis padamu,”

Kata-kata Myungsoo sempat terhenti karena ia mengatur napas, namun ia tetap berusaha melanjutkan kalimatnya. “Tapi ternyata kau menyatakan perasaanmu pada hari itu. Jujur saja, waktu itu aku sangat bingung untuk menjawabnya. Aku tidak bisa berpikir jernih, dan sialnya malah kalimat-kalimat itu yang spontan keluar dari mulutku.” terangnya. “Rencanaku hancur, aku tidak bisa mengucapkan perpisahan manis padamu, kau menjadi benci padaku, dan aku selalu gagal mendapat tiket pesawat ke Seoul selama aku tinggal di Jepang. Aku mengalami masa-masa sulit saat itu.”

Sungyeon kembali terisak. “Kenapa baru bilang sekarang?.. Kenapa kau baru memberitahuku saat kau akan menikah dengan gadis lain?..” tanya Sungyeon lirih.

Myungsoo merenggangkan pelukannya. Matanya yang berkaca-kaca itu kini membulat. Namun dengan cepat ia memberikan penjelasan lagi pada Sungyeon. “Dengar Sungyeon, aku bukan tipe orang yang bisa pacaran. Jika aku sangat mencintai seseorang, aku akan berusaha untuk langsung melamarnya.” ujar Myungsoo serius.

“Karena itu, selama berada di Tokyo, aku fokus pada kuliahku. Aku berusaha dengan giat sampai aku lulus dengan nilai cumlaud di universitasku. Begitu aku mendapatkan pekerjaan, aku bekerja keras tanpa mengenal waktu. Aku mengumpulkan uang yang banyak untuk mempersiapkan pernikahan, dan untuk.. melamarmu.”

Seusai mengatakannya, Myungsoo mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna putih. Ia membuka kotaknya, mengambil sebuah cincin pernikahan yang terbuat dari berlian, lalu menyematkan cincin tersebut di jari manis Sungyeon. Gadis itu terkejut setengah mati.

“Aku mencintaimu, Sungyeon. Waktu itu aku menolakmu bukan karena aku tidak menyukaimu, tapi karena aku belum siap untuk melamarmu.”

Myungsoo membantu Sungyeon untuk berdiri lagi, lalu ia menekuk satu lututnya sambil memegang kedua tangan Sungyeon. Ia tersenyum lembut. “Aku sengaja melamarmu di Olympic Park, karena tempat ini bisa membuatmu senang. Aku sengaja melamarmu di malam tahun baru, karena waktu kau menyatakan perasaanmu, kau menyuruhku untuk menjawabnya tanggal 31 Desember. Aku sengaja membohongi kakak-kakakmu mengenai tipe idealku, agar mereka tidak tahu bahwa sebetulnya aku punya perasaan pada adik mereka. Semua itu kulakukan karena aku sangat mencintaimu.” terang Myungsoo seraya mengakhiri penjelasannya.

Sungyeon tak bisa berkata apa-apa. Hatinya terlalu berantakan karena menerima kejutan yang terlalu tiba-tiba ini. Air matanya kembali mengalir, membuat maskaranya luntur sekali lagi. Myungsoo masih menatapnya dengan lurus, kali ini pria itu menggunakan tatapan teduhnya.

“Lee Sungyeon, maukah kau menikah denganku?” ucap Myungsoo dengan yakin.

Sungyeon terdiam. Ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Myungsoo, lalu memasang wajah tidak terkesan dengan ucapan Myungsoo barusan. “Berdirilah, kau mengotori celanamu.” sahut Sungyeon dingin.

Myungsoo terkejut. Ia rasa semua penjelasannya sudah jelas, dan cara melamarnya sudah sangat romantis, tapi.. Sungyeon menolaknya? Pemikiran itu sukses membuat semangat hidup Myungsoo menguap. Wajahnya berubah menjadi murung, dan senyumnya perlahan memudar. Sungyeon berjalan menghampirinya. Gadis itu membantu membersihkan rambut dan jas hitamnya dari tumpukan salju. Senyum kecil terbingkai di bibir tipis Sungyeon.

“Tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Hati ini masih menyimpan semua rasaku untukmu.”

Kedua mata Myungsoo membulat ketika kalimat itu meluncur dari mulut Sungyeon. Gadis itu kini tersenyum sumringah di hadapannya. “Tentu saja aku menerimamu, Kim Myungsoo. Kau adalah cinta pertamaku, dan akan menjadi suamiku kelak.” tutur Sungyeon lembut.

Myungsoo sangat gembira mendengar hal itu. Ia langsung memeluk gadis itu dengan erat, sangat erat saking gembiranya. “Terima kasih sudah menerimaku, Sungyeon!” serunya begitu gembira.

Sungyeon masih tersenyum sumringah. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan segera menikah dengan cinta pertamanya, yang dulu sempat ia kira cinta yang bertepuk sebelah tangan. Myungsoo telah berhasil membuat semua kenangan indah untuk Sungyeon di setiap musim. Mulai dari musim gugur, panas, semi, dan yang terakhir, musim dingin. Ia sangat bahagia hari ini karena ketangguhan hatinya ternyata membuahkan hasil.

Myungsoo kembali merenggangkan pelukan mereka. Ia menyentuh wajah Sungyeon lagi dengan kedua tangan, mengelus pipi gadis itu dengan ibu jarinya. “Kau sudah pernah berciuman?” bisik Myungsoo.

“Kau sudah menggagalkannya tadi,” ujar Sungyeon menyindir.

“Bagus, aku bisa jadi yang pertama kalau begitu.”

Myungsoo mengarahkan bibirnya ke bibir Sungyeon, lalu mencium gadis itu dengan penuh cinta. Bersamaan dengan itu, langit malam dihujani oleh kembang api aneka warna. Teriakan heboh orang-orang membuat malam semakin ramai. Kebisingan tersebut membuat mereka harus menyingkatkan adegan ciuman mereka. Keduanya sama-sama tersenyum

“Selamat tahun baru, Sungyeon.” ucap Myungsoo sambil memeluk pinggang Sungyeon.

“Selamat tahun baru juga, Myungsoo-oppa.” ucap Sungyeon sambil melingkarkan tangannya di leher Myungsoo.

“Oh’ya, oppa, bagaimana kau bisa tahu aku ada di bar itu?”

“Sungyeol yang memberitahuku. Ia bilang kau tidak ikut acara tahun baru keluarga dan memilih untuk merayakannya dengan temanmu Wonwoo.”

Mendengar nama Wonwoo, Sungyeon baru ingat kalau ia masih berhutang penjelasan dengan pria itu. “Astaga, sebaiknya aku harus kembali ke bar itu dan menjelaskan semuanya pada Wonwoo.”

“Jangan! Nanti saja, biarkan kita begini sebentar!”

Sungyeon tersenyum sumringah, ia tidak menolak perintah Myungsoo itu. “Oppa, aku ingin mengoreksi kata-katamu tadi.”

“Yang mana?” tanya Myungsoo sambil mengerutkan kening.

Sungyeon mengecup bibir Myungsoo sekilas, lalu berbisik, “Kau tidak hanya menjadi orang pertama yang menciumku, tapi juga menjadi satu-satunya orang yang akan menciumku.”

~oo the end oo~

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s