[Song For New Year] Warmest Snow


warmest snow

Warmest Snow

A story from @exolcai

Cast(s) Choi Minho of SHINee and OC’s Jung Inha Genre(s) Romance, Fluff Rating PG-13 Duration 1,991w Disclaimer Dedicated for our Fiction Jukebox. I only have the story, thanks to god for everything

2015 telah terlangkaui, tapi resolusi 2016-ku tak juga berganti. – by authumnder

.

Theme song Ed Sheeran – Tenerife Sea

.

p.s. maafkan saya soal latar; saya menggunakan latar Seoul pada tahun 1988, bukan 2015

Semuanya berawal dari derum mesin truk pengangkut barang pada pagi hari tanggal tiga Desember dua tahun lalu. Aroma tepung, telur, dan mentega yang luluh lantak oleh mesin pemanggang tak pernah absen dari indera penciumannya. Setiap harinya selalu bertambah sebuah aroma pekat baru, membuat Minho tak lagi bisa menahan dirinya untuk tidak memacu langkahnya menyeberangi jalan menuju toko paling indah yang pernah ia lihat.

Saat itu langit berwarna cokelat terang, seperti karamel penghias kukis-kukis kacang penghuni toples kesayangan seorang gadis bersurai cokelat seterang langit yang menyapanya dengan senyum lebar mencoba menarik perhatiannya dari susunan toples penuh kalori. Sebenarnya, gadis itu tak perlu repot-repot; gadis itu manis.

“Kami tinggal di Skotlandia sebelumnya. Shortbread terlalu menawan untuk dilupakan,” gadis itu punya suara agak berat yang menenangkan, membuat usaha Minho untuk berpura-pura tertarik pada salah satu toples sedikit berantakan, “cobalah satu.”

Kedua potongan bibir lembab sang gadis menyembunyikan susunan gigi yang rapi sehingga tanpa sadar Minho menerbitkan sebuah cengiran, “Aku akan, nona?”

Gadis itu terkikik sebentar, “Jung Inha. Inha.” Jari-jari itu sangat lentik membelai telapak tangannya yang terlalu lembab di hari bersalju. Suhu di sekitar memang tak terlalu dingin, namun Minho tetap merasa malu untuk alasan yang sebenarnya tak terlalu memalukan, seperti sesuatu yang mirip dengan gugup misalnya. Sadar atau tidak, yang jelas gadis yang baru ia ketahui namanya itu terlihat sedikit mengernyit.

Setelah termakan rayuan kecil dari Inha, ia memasukkan sepotong kue berbentuk nyaris kubus ke dalam mulutnya. Dapat ia rasakan bibirnya bergetar sementara lidahnya mencoba mencari cara untuk menggambarkan rasa sepotong kue kecil itu. Minho memilih untuk melempar sebuah senyum tipis untuk membalas tarikan sekilas bibir gadis kue Skotlandia di hadapannya yang seakan memang selalu berbentuk seperti itu.

“Enak sekali!” ujar Minho menahan nada suaranya agar tidak terlalu bersemangat. Sungguhan,  kue asing yang tadi masuk ke mulutnya itu terasa seperti potongan kecil kebahagiaan dari tepung, mentega, dan gula halus yang berlapis karamel. Pemuda itu mengacungkan jempol kanannya sebagai wujud apresiasi lebih, “aku ingin menikahi setiap remahannya.”

Tawa geli terdengar setelahnya, “Aku akan memberimu calon pengantin lainnya asalkan,”

“Asalkan?” dapat dilihatnya Inha tampak puas dengan ekspresi penasarannya.

“Asalkan temani aku minum teh,” lanjut Inha, kedua alis tebal itu naik-turun menunjukkan bahwa ia sedang bersemangat. Mendengar itu, Minho tentu saja menganggukkan kepalanya tanpa ragu.

Sebagaimana dengan alur seharusnya, keduanya menjadi dekat seperti simpul gelang yang mengikat pergelangan mereka setelah genap setahun mengenal.

|||

Hari itu Minho mandi lebih lama dari biasanya sampai Nyonya Choi merasa tangannya sakit karena terlalu keras mengetuk pintu kamar mandi. Suara mirip zombie pemuda itu menyahut setelah delapan menit hanya untuk mengatakan: “Aku sedang dalam proses menjadi tampan, ibu!”

Sebenarnya Minho bisa saja keluar lebih cepat dari dalam kamar mandi. Toh, hasilnya sama saja. Choi Minho masih seorang pemuda sembilan belas tahun yang sehat dengan tingginya yang sebentar lagi mencapai seratus sembilan puluh senti dan tatanan rambutnya yang dipotong agak panjang nyaris membingkai wajah.

Pantulan raganya di cermin turut menunjukkan segalanya, bahkan dengan celana kainnya yang belum terpasang dengan benar. Cicitan burung timbul tenggelam bersama sapuan angin pada tumpukan salju yang menutupi permukaan trotoar pun seakan mendukung penampilan ‘pangeran negeri dongeng’-nya. Ah, suasananya memang cocok untuk dijadikan prolog cerita yang bermuara pada hidup-bahagia-selamanya.

Setelah berpamitan pada sang ibu, Minho lekas menuju garasi untuk menghampiri sepeda andalannya. Langit sedang mendukungnya, mengusir semu-semu kemerahan langit malam tanda turun salju. Ia sedikit bersenandung untuk melipat lengan mantel terbagusnya saat matanya menangkap beberapa bunga tulip yang masih tumbuh di sekitar pekarangannya.

“Tunggu saat kau pulang, Choi Minho!” teriak ibunya ketika Minho berlari melupakan eksistensi sepeda  yang malah diseretnya menuju tempat jemput penumpangnya. Pemuda itu masih terengah, merasa bersyukur lebih daripada lelah. Biar saja ia dipukuli sampai jadi adonan kue saat pulang nanti hanya karena setangkai bunga.

Sebelah tangan Minho berhasil menggenggam dinginnya batang bunga tulip dengan gagah bersama sepedanya di tangan lain. Ia menyiapkan sebuah senyum yang lebih cerah dibanding hari-hari di musim panas sebelum membunyikan bel sepedanya sekali. Sapaan bel sepedanya berhasil, seorang gadis berbalut sweter hijau dan rok merah padam  dengan cepat tiba di hadapannya meski dengan sedikit suara kehebohan di belakang sana.

Jung Inha yang menawan. Gadis itu memakai sebuah jepit hitam di atas rambutnya untuk mempermanis penampilan, tak lupa dengan sepatu kulit sintetisnya yang dipoles mengilap. Minho sampai dibuat terdiam karenanya, pemuda tersebut mencoba memulai sesuatu untuk dikatakan. Namun ia berakhir terdiam seperti patung Park Chunghee, melupakan segala upayanya untuk bertindak seperti pria idaman.

Aroma glukosa hangus dan mentega menyadarkannya kembali pada objek-objek di hadapannya. Minho bergegas mengulas senyum miring, menyatakan bahwa dirinya tengah menilai Inha secara tidak langsung. Tapi kenyataannya, tatapan Minho terlihat seperti seseorang yang tengah menelanjangi seorang gadis perawan.

“Hei, chingu-ya! What’s up?” sapa si gadis Jung pada pemuda di hadapannya. Sejujurnya, gadis itu terlihat sekali tengah berpura-pura bersikap biasa. Gadis itu gugup. Cengiran lebarnya yang biasa kini lebih terlihat seperti seringai setengah antagonis-protagonis.

“Langit,” sahut Minho masih dengan tampang bodohnya. Keduanya kemudian tertawa setelah setengah menit untuk alasan yang sama; mereka seharusnya tidak gugup, “festival?”

Inha mengangguk terlalu bersemangat, “Festival!” tangan sang gadis yang tadinya mengibas pelan bersama keranjang piknik menerima setangkai bunga tulip jingga dari tangan pemuda itu lalu tersenyum mengucap terima kasih.

Minho sudah menaiki sepedanya, menoleh ke belakang memastikan partner perginya telah menaiki tunggangannya tanpa kesulitan. Dapat dilihatnya Inha duduk dengan mudah bersama keranjang piknik di pangkuannya, memeluk keranjang rotan itu dengan erat seakan dapat lari dari sana. Diam-diam Minho terkekeh lalu kembali melihat ke depan, “Sudah?”

Gadis di belakangnya hanya bergumam kecil sebagai jawaban, membuat Minho tertawa keras sehingga mendapat pukulan di punggung. Meski begitu, si pemuda membiarkan tawanya berlarut-larut. Kayuhan sepedanya mulai bergerak membawa keduanya melintasi jalanan licin untuk menuju taman kota terdekat. Beberapa kali roda-roda sepeda Minho nyaris tergelincir—kata Inha—hingga sebelah tangan sang gadis reflek melingkar di sekitar pinggangnya.

Kepada Yang Mahakuasa, Minho berterima kasih karena telah menciptakan sebuah keajaiban bernama salju. Pemuda itu mendendangkan salah satu lagu populer dengan tempo menyenangkan. Mendengar itu, Inha memilih untuk ikut serta sebagai penyanyi latar.

“Suaramu mengerikan!” serunya tepat pada tikungan terakhir. Lautan orang telah terlihat memenuhi pinggiran jalan. Jeritan kecil Inha tertangkap karnanya, membuat jerit sahutan tercipta dari bibirnya. Roda-roda sepeda Minho terhenti di sebuah taman kota di dekat lokasi festival. Tempat itu ditutupi salju. Kaki-kaki jenjangnya menyangga kedua sisi  sepeda agar tak terjatuh, menunggu respon partner perginya.

Sepedanya bergoyang sedikit karena Inha turun dari wahananya, “Piknik tahun baru itu ide buruk, ya?”

“Tidak juga,” sahut Minho yang seakan berteleportasi ke tengah-tengah taman. Ia menggelar tikar cukup tebal di sana seakan mereka ada di musim semi, “ah, hangat sekali!”

Choi Minho yang menjerit memang terlihat sinting, namun Inha sama sekali tidak terlihat keberatan. Gadis itu membawa langkahnya mendekat ke arah si pemuda Choi dengan senyum lebar andalannya. Gerakannya seperti penguin, peran yang benar-benar pas di tengah hamparan salju. Pemuda yang ditujunya telah terduduk di atas karpet lalu membuka mantelnya, menggelar benda itu seperti tikar.

“Apalagi yang kau tunggu? Duduklah,” Minho menepuk-nepuk mantelnya, mengisyaratkan sang gadis untuk duduk di atasnya. Namun gadis itu bergeming, “kemari,” sebelah tangannya menarik lengan Inha sehingga gadis itu jatuh terduduk di atas mantel. Ia gunakan tangan lainnya untuk meraih keranjang piknik yang sedari tadi beraroma luar biasa seksi.

“Minho,” panggil Inha, “kau yang kemari.”

Meski ekspresi bingung terpancar di rautnya, Minho tetap menurut mendekati temannya dengan perlahan. Berbeda dengan Minho, Inha malah menyambar kedua tangannya dengan tergesa lalu menarik napas dalam-dalam. Saat si gadis memasukkan kedua tangannya pada saku sweter, Minho baru mengerti apa yang ingin dilakukan sosok manis itu.

Kulit tangan Inha sedikit memerah, Minho memerhatikannya saat mengambil bungkusan berwarna merah yang kentara sekali berisi beberapa croissant. Rotan yang terajut membentuk keranjang piknik mereka terlihat tidak terlalu halus dan gadis itu tadi memeluknya kuat sekali. Tapi Minho berusaha tersenyum saja hingga musik-musik heboh dari pawai festival mulai terdengar kencang mengusik pendengaran.

Croissant atau pawai?” Minho tahu jelas kalau Jung Inha adalah seorang penggila roti, yang berarti jawaban gadis itu dapat terbaca dengan baik. Tatapan menggoda diluncurkan Minho, berharap si gadis merajuk.

Si objek pertanyaan menoleh, menghela napasnya dalam-dalam berusaha menunjukkan ekspresi paling kesal, “Pawainya sama saja seperti tahun lalu, Minho. Setiap tahun baru!” Inha bersungut-sungut tanpa menoleh ke arah Minho, “kau lihat aku sedang apa. Seharusnya itu tidak lucu.”

Minho terkekeh jelek sekali karena hidungnya berair, “Aku tidak sedang melucu.” Mata lebarnya beralih menatap arloji yang melingkar berdampingan dengan gelang benang warna-warni di pergelangannya, “lima menit lagi. Tahun 1989, aku datang!”

“Apa doamu untuk tahun besok?” celetuk Inha sementara tangannya tengah menyodorkan sebuah piring plastik yang di atasnya berbaring sepotong croissant dan selai bluberi kesukaan Minho.

“Aku sebenarnya masih lebih penasaran dengan resolusi tahun lalumu,” Minho teringat kejadian tahun lalu dimana Inha yang terpeleset karena berlari menghindarinya. Waktu itu ia menanyakan resolusi gadis itu namun Inha menolak memberitahu.

Inha terdiam sebentar, “Aku ingin pacar,” gadis itu kembali merajuk saat mendapati tawa keras Minho, “tidak lucu!”

“Oke, oke aku tidak akan tertawa.” Minho berbohong, tentu saja, dan memang begitu seterusnya. Mendengar keinginan seorang Jung Inha memang menjadi sebuah hiburan pribadinya.

“Sekarang giliranmu!”

Piring Minho tahu-tahu sudah nyaris kosong bersisa lapisan tipis selai saat ia akhirnya menoleh. Choi Minho yang tampan tengah tersenyum tipis setelah menjilati ibu jari dan telunjuknya, “Aku ingin kita bahagia.”

“Kau selalu ingin itu tiap tahun baru,” sungut si gadis. Raut wajah Inha berubah kecewa.

“Aku tahu,” kekeh Minho, lama-kelamaan kekehan itu berubah menjadi tawa kecil, “aku selalu menyukai sebuah konversasi ringan dengan bahasan kue Skotlandia, teh, atau keranjang rotan.”

“Pantas saja ibuku bersikeras bahwa kau adalah tipenya!” Inha tertawa-tawa kecil sembari mengangguk pelan. Sebelah tangannya mengambil sepotong kukis kismis lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Tawa Inha adalah sesuatu yang indah. Hal itu bahkan bisa membuat seorang Minho melupakan kulitnya yang mulai membeku seperti karang es dalam kulkas. Minho selalu ingin melihat tawa itu seumur hidupnya, entah besok, tahun depan, bahkan di hari ia tutup usia. Namun sekilas pemikirannya tentang sebuah fakta bahwa tertawa dapat menurunkan berat badan membuat Minho diam-diam ingin membatasi tawa itu. Jung Inha sudah cukup kurus, tidak perlu membuatnya sekurus penderita anoreksia.

“Tapi yang tipeku adalah anaknya,” jemari Minho yang panjang telah siap menyatukan harmonika yang sedari tadi dikantonginya menyentuh bibir. Reaksi gadis di sebelahnya sama sekali tidak ada, jadi Minho memilih untuk meniup lubang-lubang harmonika itu sampai menjadi nada salah lagu Beethoven.

Minho ingat ia pernah menulis dua buah lagu saat ia masih bercita-cita menjadi seorang komposer. Ia cukup mahir memainkan piano dan harmonika, hasil kerja keras sang ibu yang mengajarinya instrument musik klasik tersebut dengan luar biasa sabar. Jadi ia memutuskan untuk meniupkan nada salah satu lagu ciptaannya setelah memastikan bibirnya belum pegal. Pemuda itu melirik gadis di sebelahnya yang tengah sibuk menutup mata menikmati alunan bunyi yang dihasilkan alat musik dalam genggamnya.

Tiupan terakhirnya terdengar sangat mengharukan, bahkan untuk dirinya sendiri. Sebuah tarikan napas dalam mengisi oksigen dalam paru-parunya yang tengah kesulitan menghadapi dinginnya suhu. Matanya tertutup, menikmati bagaimana dadanya menghangat kemudian saat elusan pelan terasa di lengannya. Mantel tebal Minho membungkus tubuh si pemilik kembali. Jejak-jejak suhu tubuh Inha yang hangat kini terasa melingkupinya, seperti dipeluk erat oleh gadis itu.

“Hei,” panggil Inha, membuat Minho perlahan membuka matanya untuk menatap si gadis. Pemuda itu terlihat menunggu kelanjutkan untaian kata, jadi gadis itu melanjutkan, “aku mencoba membuat lirik intro lagu itu.”

Minho mengernyit namun tidak protes saat gadis itu malah menarikan jarinya pada lapisan salju di sekitar tikar mereka. Inha tersenyum kecil, menoleh ke arah Minho seakan menyuruhnya untuk melihat lapisan salju yang tadi membuat gadis itu sibuk. Senyum Inha masih bertahan sehingga kawannya itu merasa akan meleleh di tengah hamparan salju.

Lengan-lengan Minho kini berpindah merangkul gadis di sebelahnya dengan erat seakan gadis itu akan lari dari sana. Keduanya tersenyum kecil tanpa saling menoleh. Minho yang lebih bersemangat mulai menyanyikan susunan kata yang tertulis di atas lapisan salju dengan suara yang tidak terlalu merdu, namun suara itu mampu membuat Inha kembali menjalankan tugasnya sebagai penyanyi latar pribadi seorang Choi Minho.

“Kau seperti menarikku

Menarikku ke dalam suatu kehidupan baru

Dimana aku selamanya menjadi seorang bayi,

Suatu siklus

Dimana kau merasa

Paling dicintai tanpa melakukan apapun…”

END

8 thoughts on “[Song For New Year] Warmest Snow

  1. maaf sebelumnya,
    apa saya bisa memperbaiki tulisannya? tulisan tulisan yg bold dan paragrafnya tidak terlihat. saya kira itu akan berpengaruh banyak, jadi.. bolehkah?
    terima kasih 🙂

      1. ah, terima kasih sekali atas waktunya! 🙂
        i’ll so upset if you let ‘keamburadulannya’ hehehe
        btw, terima kasih sekali soal eventnya, saya sangat bersemangat wkwk
        tetap berjaya, ya^^

  2. AKU GAK TAHU KOK BISA YA PROMPT-KU JADI SEBAGUS INI!!!! Beneran author-nim, ini maniis banget! Bahasa yang kamu gunakan juga oke sangat, gak ringan-ringan banget tapi masih mudah dipahami dan komunikatif. Terus-terus, deskripsi kue Skotlandia beserta bahan-bahannya entah kenapa menurutku menarik banget. Gak tau pokoknya cara kamu deskripsiin keadaan itu bagus banget, manis dan gak biasa (e.g, langit sewarna karamel) fix deh aku iri!!! x’D DAN KAMU PAKE GUYONAN WHAT’S UP YA ALLAH AKU TUH SUKA KESEL BANGET KALO CHAT WHAT’S UP TERUS DIBALES LANGIT tapi di sini tuh malah terkesan imut HUHUHUHU mau juga punya temen kayak minho 😦
    Oke maafkan rantsku yang sangat tidak berfaedah tapi terima kasih banyak author-nim udah bikin promptku dengat sangat sangat menarik!! x3 keep writing! x)

  3. minho 😍 kapan terakhir baca ff minho, thanks for bring him back! 😍
    aku baru ngerti guyonan ‘whats up’ ‘langit’ dr komen diatas dan seketika cengo 😂 dan ini 88 jd minho kelairan 69? lebih tua dari papa aku *yah terus kenapa*
    suka kok latarnya, yampun bayangin minho pas debut jadinya pake celana kain rambut panjang gitu. Good job author-nim!

  4. benarkah? wkwk aku senang sekali sang pembuat prompt/? senang sama ff ‘mepet’-ku ini wkwk
    ahhh, googling segala hal tentang kekuean ini jadi terbayar wkwk. serius, aku baru pertama kali berani angkat soal kue klasik eropa. kamu pasti tau rasanya baca segunung info yang cuma dipakai sedikit ;-;

    iya, aku pakai guyonan itu krn kedengarannya klasik sekali hehehe
    terima kasih buat prompt-nya! meskipun aku gagal nyisipin prompt-mu dalam ff, aku entah kenapa dari awal memang pengen ambil prompt-mu. menurutku prompt buatanmu itu dalem aja gitu, dan maknanya cenderung luas, bukan hanya tentang seseorang hehe #soktau

    terima kasih komennya, ya! maaf aku juga balesnya panjang banget ;-;

  5. wkwk udah ketimbun ff rookie ya?
    aku gak yakin ff ini banyak dibaca krn cast-nya sebenarnya ;-;
    itu leluconnya sering kokkk. iya,minho-nya tua banget :’) papamu kalah tuhh

    makasih udah komen yaaa 🙂

  6. As always. Yours is better than mine hehe

    gue gak punya komentar buat pengemasan cerita atau segala macemnya, krn lo pasti lebih tau dr gue. Tapi yg jelas gue suka tanggal 03 desembernya.

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s