[Song For New Year] New Pink


newpink

New Pink
songwriter Liana D. S. // artists EXO Chen x OC Luna // genre Surrealistic Romance, slight!Adventure // duration Oneshot (2,4K+ words, take your time ^^) // rating Teen //

prompt :

 Tahun baru, hari baru, semua baru, tapi aku tak ingin cintaku diperbaharui. –by ettaeminho

[Disclaimer and Warning] Ide sebagian besar terinspirasi dari MV f(x) – 4 Walls yang bukan milik saya. Cast bukan milik saya juga (kecuali OC) dan saya tidak mengambil kepentingan komersial apapun dari penulisan fiksi ini. Ini surrealisme yang penuh simbolisme, maka jangan berpikir realistik.
.
.
Ini takdir, kau tidak dapat menghindarinya.

1 Januari.

 
Tahun baru, hari baru, semua baru, tetapi Luna masih di sini, terkurung dalam empat dinding bersama Chen. Ia menyisir rambut, mengenakan crop top merah jambu, berusaha tampil semenarik mungkin untuk orang yang tak menyadari. Ia menyeduh teh, menyiapkan cangkir, menuangkan minuman hangat untuk pria yang tidak repot-repot peduli. Ia tersenyum, mendekat, merayu, tetapi Chen tak menggubris.

 
Ah, memang begitulah kekasihnya beberapa hari belakangan.

 
Meski sakit diabaikan, Luna belum boleh menyerah. Ia kembali menghadap island, mengambil sesendok cinta, dan melarutkannya ke dalam teh, berharap harumnya dapat menahan Chen sedikit lebih lama di dapur.

 
“Chen, ini mi—“

 
“Nanti. Aku harus pergi sebentar.”

 
Dengan dingin, Chen bangkit dari kursinya, berjalan menuju pintu. Langkahnya saat meninggalkan rumah tak pernah setergesa itu, seolah dia memang tak berniat kembali, dan Luna jadi sangat ketakutan. Tanpa mengacuhkan cangkir teh yang meluncur ke lantai hingga pecah berserakan, Luna berusaha mencegah Chen pergi.

 
“Tunggu dulu!”

 
Tapi pintu depan terlanjur ditutup. Dari luar.

 

***

 
Tahun baru, hari baru, semua baru… kecuali teman hidup Chen. Si pria muda baru sadar bahwa pilihannya untuk mengikatkan jiwa dengan satu perempuan sangatlah salah. Bukankah ia gampang bosan? Lagipula, di luar empat dindingnya, masih banyak cinta yang belum ia cicipi! Maka ketika membuka mata pagi itu dan mencium wangi racikan cinta Luna—yang itu-itu juga—Chen memutuskan bahwa ia akan angkat kaki dari ‘penjara’ ini. Tidak ada yang bisa menghentikannya, termasuk senyum manis Luna, ucapan selamat pagi Luna yang ceria, dan crop top merah jambu Luna yang… lumayan menarik perhatian.

 
“Nanti. Aku harus pergi sebentar.”

 
Bohong kalau Chen bilang ‘sebentar’. Luna cukup peka untuk menangkap sinyal bahaya itu.

 
“Tunggu dulu!”

 
Prang! Cangkir yang begitu saja terhempas ke lantai memahamkan Chen bahwa gadis itu sungguh tidak mau melepasnya, sampai-sampai hal-hal kecil yang biasa diperhatikan jadi tak penting lagi sekarang. Akan tetapi, kejemuan Chen sudah mencapai batas. Ia mesti keluar dari kungkungan dinding ini, kalau perlu lepas dari Luna sekalian, sehingga setelah menutup pintu, yang Chen rasakan betul-betul murni udara kebebasan.

 
Chen mengganjur langkah pertama.

 

***

Serpih-serpih porselen dan tumpahan teh di bawah meja makan belum Luna bersihkan. Untuk apa membersihkan itu jika serpih jantungnya saja masih perlu disusun supaya utuh lagi?

Tersedu sendiri di dalam kamar mandi, Luna mencoba merekatkan potongan-potongan jantungnya menggunakan sebotol kecil kenangan. Oh, lihat, dalam jernihnya kenangan itu, ia dapat melihat Chen menyematkan cincin ke jari manisnya, menjanjikan kebahagiaan, membisikkan kata-kata sayang, menenggelamkan Luna lagi dan lagi dalam kasihnya. Bahkan saat Chen diam, hati pria itu enggan berhenti meneriakkan sejuta rasa yang disimpan untuk Luna, antara lain rindu dan cemburu. Ya Tuhan, betapa berwarnanya mereka semua, berbagai perasaan Chen yang tidak lagi ditujukan buatnya itu…

Luna serasa ingin mati saja.

Keran bathtub diputar maksimal, mengucurkan air deras-deras ke atas jantung yang baru diperbaiki lem kenangan. Raut Luna hampa menyaksikan ingatannya tentang Chen luruh, mengalir ke saluran pembuangan. Sebagai akibatnya, serpihan jantung yang sebelumnya sudah menyatu kembali lepas, tercecer dalam genangan air karena tidak ada yang melekatkan.

Luna duduk memeluk lutut di sudut kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya.

“Lenyaplah… Pergi dari benakku, Chen!”

***

Pepohonan menjulang, bayang-bayang mendampingi cerah mentari, kupu-kupu terbang melintasi. Awalnya, pemandangan penuh warna ini memanjakan Chen yang biasanya terliputi dinding putih, tetapi entahlah, semakin jauh Chen berjalan, pemandangan ini mulai kehilangan daya pikat. Kesempurnaan kebebasan seakan punya cacat yang Chen tak yakin apa, pokoknya sesuatu jelas hilang.
Atau mungkin Chen sendirilah yang tidak lengkap?

Tangan Chen bergerak naik, menyentuh dadanya yang terasa terlalu ringan. Ganjil. Tadi saat pertama menjelajah, dadanya masih penuh terisi antisipasi, kekaguman, dan rasa ingin tahu.

Kenapa sekarang kosong?

“…lenyaplah… pergi… Chen!”

Suara itu dikaburkan hembusan angin, tetapi getarnya yang familiar dapat ditangkap rungu Chen. Seketika si pria berpaling ke belakang—tidak ada Luna di sana. Tidak ada siapa-siapa. Namun, Chen bisa merasakan presensi makhluk selain dirinya. Tanpa satu alasan pasti, ia mempercepat langkah, sesekali menengok ke balik punggung. Masih tak ada penguntit atau apapun, tetapi perasaan dibuntuti itu malah menguat seiring waktu.

Mendekat. Makhluk itu mendekat.

Dan Chen berlari. Sekencang yang ia bisa. Menoleh lagi. Makhluk itu ikut berlari, Chen tahu, walaupun tidak bisa melihatnya. “Ah!”
Karena kurang hati-hati, Chen tersandung akar pohon yang melintangi jalan. Sebelah sepatunya lepas; masalahnya, makhluk itu telah memangkas jarak dengan cukup signifikan, tidak memberi si empunya sepatu banyak waktu. Bertelanjang kaki, Chen meneruskan larinya, mengedarkan pandang ke sekeliling, dan akhirnya menemukan satu tempat untuk sembunyi.

Makhluk itu melesat ke utara, tidak tahu bahwa Chen tengah berlindung di balik semak.

Merasa aman, Chen berdiri, hendak kembali ke jalur penelusuran semula ketika tanpa sengaja, ia menginjak…
…serpihan cangkir.

Serpihan itu melukai kaki Chen, memang, tetapi ia tidak merasa sakit di sana. Apa yang lebih menyakitinya adalah genangan ingatan yang merendam serpihan itu. Tentang janji yang diucapkannya saat menyematkan cincin ke jari Luna. Tentang segala bentuk ungkapan sayangnya pada Luna. Tentang keheningan malamnya yang dipekatkan mimpi-mimpi mengenai Luna.

Ngilu menggeser kekosongan, tanpa ampun memenuhi rongga dada Chen.

“Luna,” –Darah dari telapak Chen menyebar dalam kolam kecil kenangan—“ternyata aku masih mencintaimu… ya?”

***

Luna sangat yakin bahwa ia tadi sedang berendam dalam bathtub, membasuh jejak-jejak yang pernah Chen tinggalkan pada tubuh dan benaknya, lalu mengapa mendadak ia berada di tengah-tengah pepohonan tinggi besar? Ragu-ragu, ia berjalan lebih jauh ke dalam hutan, mengekor di belakang kupu-kupu ungu yang sedari tadi mengitarinya seolah ingin menyampaikan pesan. Kupu-kupu itu kemudian hinggap pada gagang benda yang Luna pegang pagi ini.

Teko.

Benda itu melayang, tutupnya yang terlempar berhenti bergerak di udara, cairan keemasan di dalamnya bermuncrat keluar, juga berhenti di udara. Aroma cinta dari cairan itu mengingatkan Luna pada teh yang ia seduh sebelum ini, teh istimewa yang ia sajikan hanya untuk Chen.

Ironisnya, Chen tidak mau menerima itu lagi semata karena jenuh.

Chen tidak mau menikmati cinta Luna lagi.

Keputusasaan Luna yang tak terungkap menyebabkan si teko akhirnya ‘jatuh sempurna’, berhamburan di atas tanah.

Kupu-kupu ungu, seperti memahami Luna yang berjuang menghapus perasaannya, mengepakkan sayap, mengajak Luna pergi ke lain tempat. Sepanjang jalur terbang si kupu-kupu, Luna menemukan jejak basah cetakan kaki manusia. Diamati lebih teliti lagi, jejak itu basah oleh luruhan memori bercampur darah—dan Luna mulai cemas. Jika jejak itu milik Chen, maka darah itu juga pasti milik Chen. Pertanyaannya adalah: apa sebabnya Chen terluka hingga meneteskan darah sepanjang jalan yang ia lalui?

Kupu-kupu ungu terbang menuruni sebuah lereng bukit yang kelewat curam untuk Luna turuni. Alhasil, Luna cuma bisa melongok ke bawah—

—dan memekik terkejut.

“Chen!”

Seperti teko teh tadi, kekasih Luna itu melayang beberapa kaki dari dasar lereng. Melihat gestur dan posisi tubuhnya, Chen pasti sedang terjatuh sebelum pergerakannya terhenti. Telapak kakinya yang telanjang berdarah; positif, dari sanalah darah bercampur kenangan itu berasal. Biarpun benci mengakuinya, Luna sebetulnya bersyukur karena Chen tidak benar-benar jatuh. Ketinggian dan kecuraman lereng itu dapat membunuh Chen seketika dan Luna tidak ingin itu terjadi.

Kupu-kupu ungu hinggap di bahu Chen, menanti apa yang akan Luna lakukan terhadap pria ini. Akankah si wanita pergi dengan abainya, ataukah ia akan menyerah pada kehendak cinta?

Pertanyaan yang sama berputar-putar di kepala Luna. Dengan terang, ia ingat bagaimana Chen menatap tanpa minat secangkir minuman yang ditawarkannya sebelum berjalan pergi untuk mencari penghiburan lain. Itu saja lebih dari cukup untuk membuat Luna membenci Chen selamanya, sayangnya mata Chen yang tengah terjatuh itu menunjukkan emosi berbeda. Luna tak tahu apa namanya. Ada sedikit sesal di sana, ditambah dua-tiga percik warna rindu, plus permintaan maaf yang disamarkan air mata.

Air mata?

Chen… menangis?

Walaupun tidak mengalir keluar, danau kecil di kelopak mata Chen itu tetap sebuah tangisan!

Baiklah, sudah cukup gengsi-gengsiannya.

Luna meraih pohon terdekat, perlahan tapi pasti menuruni lereng curam itu. Ia sudah lupa rasanya dicampakkan Chen pagi tadi; tidak penting juga! Yang penting sekarang, Chen harus diselamatkan, lalu dipulangkan ke rumah, ke balik empat dinding menjemukan sekaligus paling aman di dunia. Selain itu, alasan Chen wajib dipulangkan segera adalah karena Luna ingin menjaga keutuhan cinta yang dikandung tatapan mata si pria.

Luna kian dekat dengan Chen, membuatnya tambah semangat, tetapi ranting yang ia gunakan sebagai pegangan tidak mau bekerja sama.

Krak!

“Kyaaa!!!”

Kehilangan kendali atas tubuhnya, Luna terperosok ke lereng. Tubuhnya sempat menumbuk tubuh Chen—dan tubuh itu, ternyata, lebur menjadi ratusan kupu-kupu ungu.

“Ilusi?”

Luna sendiri kemudian tercebur ke sejumlah besar massa air.

***

Chen jatuh terlentang di dasar lereng. Sendiri. Tersengal-sengal. Butir peluhnya turun bercampur air mata. Nyeri menusuk-nusuk setiap persendiannya. Eksistensi makhluk pengejarnya yang tak kasatmata tapi sangat mengerikan makin terasa mengancam.

Makhluk itu melihatnya dari puncak bukit dan bersiap menyusul targetnya di bawah, jadi Chen mengesampingkan dulu perih lukanya dan kembali lari.

Ia tahu kenapa makhluk itu terus membuntutinya.

Makhluk itu adalah Rasa Bersalah, baru bisa dimusnahkan jika Chen meminta maaf kepada Luna—tetapi Chen kadung tersesat di hutan bernama Kebebasan ini. Palsu. Palsu. Pepohonan menjulang, bayang-bayang mendampingi cerah mentari, kupu-kupu terbang melintasi… semua itu tidak indah sama sekali bila tidak ada Luna! Chen butuh Luna untuk menolongnya, tetapi Rasa Bersalah tidak mengizinkannya bertemu lagi dengan wanita muda itu. Ya, pantaskah Chen meminta bantuan kepada orang yang telah dilukainya dengan sembarangan?

Lambat. Terus melambat. Paru-paru Chen serasa terbakar dan pandangannya mengabur; ia tidak sanggup lagi melarikan diri. Tenggorokannya terlalu kering untuk meneriakkan nama Luna, maka ia terpaksa memanggil Luna dengan sisa-sisa perasaannya.
Luna! Maaf, maaf, maaf! Aku tidak ingin lepas dari empat dindingmu, pun tidak hendak menggeser dirimu dengan yang baru—aku terlalu mencintaimu!

Tepat setelah itu, Chen—yang sedang kurang awas—tenggelam dalam sejumlah besar massa air. Sempat panik karena tak dapat bernapas, Chen akhirnya mampu menguasai diri. Matanya terbuka perlahan, mencoba mengenali di mana ia berada sebetulnya sebab ‘di air’ ia rasa bukan jawaban yang tepat. Deja vukah ini? Mengapa ia merasa akrab dengan kehangatan, kejernihan, dan keharuman yang menyelimutinya? Padahal Chen sebelumnya tidak pernah tenggelam dalam danau ‘berhias’ ribuan bunga putih kecil seperti sekarang.

Ribuan bunga itu… benar, wanginya sangat tak asing… mirip aroma teh seduhan Luna.

Ah.

Tentu saja tempat ini sehangat, sejernih, dan seharum suguhan pagi Luna. Chen ‘kan tenggelam dalam cintanya sendiri kepada perempuan itu?

Kasih sayangnya untuk Luna, baru Chen sadari, telah bertumbuh begitu lama selama beberapa tahun belakangan, sehingga jadi sedemikian dalam dan mampu membenamkan satu pria dewasa. Segala usahanya menghapus cinta itu akan sia-sia; mana ada yang sanggup memusnahkan perasaan suci seluas ini? Ya, perasaan ini masih demikian bersih dan terjaga, membuat Chen yang sedang terbenam mampu merasakan hidup kembali. Merasakan Luna lagi. Dan ia mendadak kangen pada setiap sendok cinta yang dilarutkan Luna dalam tehnya.

Aku harus pulang, putus Chen. Dengan mata terpejam, seraya meresapi setiap tetes cinta di permukaan kulitnya, ia berenang naik.

***

“Chen!”

Luna gelagapan, kepalanya menyembul dari bathtub yang setengah penuh. Sial. Kucuran air dari keran memang melunturkan cinta Luna pada Chen… sekaligus menenggelamkan Luna di dalamnya. Duh, salahnya juga kenapa sampai ketiduran saat sedang berendam (dan luruhan cinta itu juga salah karena tidak membuat sesak seperti seharusnya air). Serangkaian mimpi yang tampak nyata tadi jadi mendatanginya, ‘kan.

Tunggu.

Anak mata Luna bergerak ke jendela kamar mandinya. Kenapa langit gelap sekali… malamkah? Apa ia memang tertidur selama itu dalam bathtub? Penasaran, Luna meletakkan jantungnya—yang baru kembali utuh—dalam dada, lalu melangkah keluar bathtub menuju kamarnya.

Didapatinya Chen terlelap di atas ranjang, begitu damai, mungkin sedang mimpi indah. Senyum Luna terulas lega. Astaga, melihat pria itu tertidur dengan sangat nyenyak saja membahagiakan Luna; ia harap besok pagi ia diberi kesempatan menyaksikan pria itu bangun. Lebih bagus lagi kalau Chen bangun bersama cintanya yang belakangan memudar.

Usai berganti pakaian kering, Luna naik ke tempat tidur dan mengecup pipi Chen sayang. Meskipun Chen mungkin tidak mencintainya sebesar dahulu, Luna tetap akan menjaga cintanya agar si pria selalu punya tempat untuk pulang.

“Selamat malam, Sayang.”

***

Sinar matahari pucat berhati-hati membangunkan Chen dari mimpi panjangnya, alarm alami yang efektif jika bekerja berdua dengan aroma menyegarkan dari dapur. Luna pasti sedang menjerang air untuk menyiapkan teh.

Luna.

Oh, Luna memang luar biasa. Bahkan ciuman yang ditanamkannya ketika Chen tidur bisa masuk ke alam bawah sadar. Setelah semalam berpetualang dalam Kebebasan maya yang gila, Chen jadi mengerti bahwa kebebasan sejatinya ada dalam empat dinding yang seakan mengekang ini. Ingat, hanya seakan-akan. Wujud cinta kadang menipu, tetapi ia tak pernah menyakiti.

Selepas mencuci muka, Chen hendak turun ke ruang makan, namun sejenak, angka di kalender menghentikannya.

1 Januari.

Perasaan Chen saja atau ia menjalani tanggal 1 Januari untuk kali kedua?

“Masa bodoh, ah.”

Chen yang semula agak terkantuk-kantuk menuruni tangga langsung membelalak tatkala retinanya menangkap sosok Luna di dapur. Jangan-jangan ini deja vu? Kemarin ia rasa ia juga melihat Luna mengenakan crop top merah jambu itu saat memasak.

Tapi kenapa ia baru menganggap Luna sangat cantik dan menggoda sekarang?

“Astaga.” Luna terkesiap saat hangat kulit Chen tiba-tiba melingkari perutnya yang sedikit terekspos. Sebelum sempat merespon lebih lanjut, Luna telah dibungkam oleh kecupan singkat di puncak kepala.

“Pagi, Cantik.”

Satu tawa malu lolos kemudian. “Jangan merayuku, Tuan.”

“Tapi kau kelihatannya menginginkan itu. Siapa yang cukup berani memakai crop top di bulan sedingin Januari kalau bukan seorang istri yang berencana ‘mengerjai’ suaminya, hm?” –Kena kau, batin Chen, menikmati semu tipis di pipi Luna—“Kau masak apa?”

“Sup. Maaf sajian tahun barunya sederhana begini. Kau tidak ada rencana makan di luar, ‘kan?”

“Tidak ada, seingatku, dan soal supnya… santai saja. Selama kau yang masak, aku tidak akan cerewet, kok,” –Gombal, Luna cemberut dan Chen tersenyum geli—“Omong-omong, kau sudah membuat teh?”

“Belum—oh. Oh, iya,” Luna menoleh ke island, mencari sebotol pemanis teh yang biasa ia gunakan dan mengerang kecewa setelahnya, “Botol cintanya belum kuisi ulang, Chen, aduh…”

“Serahkan saja padaku.”

Dengan cekatan, Chen mengeluarkan tea set dari rak atas, mengisi ulang botol bubuk pemanis teh menggunakan cintanya sendiri, kemudian mulai menyeduh. Ini bukan kali pertama Chen berada di dapur, tetapi karena sudah cukup lama tidak menyentuh peralatannya, semula Chen sedikit khawatir tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.

Nyatanya, Luna tanpa ragu-ragu memuji hasil seduhannya.

“Kau tidak pernah menuangkan cintamu ke dalam teh kita, jadi aku tak tahu kalau rasanya bisa begini menenangkan,” katanya, “Aku suka.”

“Fiuh, untunglah. Aku kadang ragu variasi bisa membawa hasil yang bagus, tetapi setelah melihatmu mengenakan crop top berwarna semanis itu cuma untuk membuatku jatuh cinta lagi, aku jadi berani coba-coba.”

“Hei! J-jangan harap aku akan pakai ini lagi!” Setelahnya Luna menunduk, “Ini hanya… anggaplah ini… istimewa untuk 1 Januari saja…”

“Variasi tahun baru, kalau begitu. Tidak usah malu, sekali-sekali perlu juga kita melakukan ini supaya tidak bosan, benar? Hati-hati saja biar tidak masuk angin,” canda Chen, yang buru-buru mencuri celah untuk mencium Luna lagi ketika wanita muda itu tertawa, “Sebelum lupa, selamat tahun baru, Luna.”

***

Luna menyukai stabilitas, sementara Chen lebih mudah jenuh. Namun, empat dinding terlanjur menautkan rantai takdir mereka, maka mereka harus membuat satu prinsip hidup baru yang disepakati bersama. Mematuhi prinsip itu melindungi cinta yang berkembang dalam empat dinding, membiarkannya meluas tanpa menghancurkan kekokohan janji.

Tahun boleh baru, hari boleh terus berganti, tetapi baik Chen maupun Luna tidak menghendaki cinta mereka diperbaharui.

***

TAMAT

wow. word vomit yg parah bgt. chenluna is something, walaupun ya aku bilangnya Luna-nya OC sih tapi ya tetep aja yg ada di benakku cuma f(Luna) hahai maafkan. apalagi ini terinspirasi dari 4 Walls MV. dan ini dibikin dalam satu hari sebelum deadline ya Tuhan aku ga nyadar kalo deadlinenya tgl 28 TT
kuharap kalian ga bingung baca ini hehe. baru kali ini ada surrealisme bizar semacam ini di FJ, kurasa. atau nggak? Kalo nggak, aku malah bersyukur sekali krn itu berarti kalian sudah terbiasa baca beginian :p yg belum terbiasa, sekali lagi maafkan aku klo membuat kalian bingung.

Advertisements

7 thoughts on “[Song For New Year] New Pink

  1. DUH KAKLI. INI SERU BGT, BACANYA JUGA ENAK X)) DAN KUJUGA BAYANGIN INI CHENLUNA. ASIK BGT LAH POKOKNYA💕💕💕 (sedih bgt kugabisa ikut event ini/???)

  2. AKU NANGKEP CERITANYA DENGAN APIK KAK! AH KAKLIANA MAH SENPAYNYA SURREALISM! JJANG! /ngomong opo to fey/
    Oh ya aku suka banget sama kalimat ini >>
    “Wujud cinta kadang menipu, tetapi ia tak pernah menyakiti.”
    Quotes di awal tahun/? Ah pokoknya sukaaa /throws a bunch of love/

  3. Aku bacanya juga sambil bayangin chenluna. Ini surealis banget, kayaknya surealis emang udah ciri khasnya kak Liana. Aku malah bingung gimana bikin ff surealis *curcol *abaikan
    –> ‘Eksistensi makhluk pengejarnya yang tak kasatmata…’ kasat mata aku lihat di kbbi dipisah. Yang benar itu dipisah atau digabung? Atau jangan-jangan punyaku yang belum diupdate kbbinya (punyaku yang tahun 2008).
    Duh, maaf malah nyampah di sini. Yang jelas ffnya enak banget, berasa lagi minum milkshake cookies/? (yes, ini rasa kaporitku)
    Keep writing kak! 😀

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s