[Song For New Year] Without You


WITHOUT YOU - COVER

WITHOUT YOU
A Story By Fanol Wu
Cast(s): Oh Sehun, Minyoung (OC) and Park Chanyeol
Genre(s): Sad and Romance
Length: 1.896 Words (Vignatte)
Rating: PG-15
***

Tahun baru tiba dan aku hanya dapat menyimpan duka. – Juneeumi

Decitan kecil dari pintu kamar yang dibukanya adalah satu-satunya suara yang terdengar sekarang. Sehun berjalan gontai ke arah dapur kecil yang berada di apartemennya, melirik sekilas kalender yang tercogok di atas kulkas, lalu mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah. Kalender itu sudah tidak berguna. Mengingat semalam adalah pergantian tahun yang selalu tampak meriah dengan gemerlap serta bunyi nyaring dari kembang api dan terompet yang ditiup. Namun bagi Sehun, sesuatu yang meriah bukan lagi satu hal yang ingin ia rasakan saat ini.

 
Tangannya terulur membuka pintu kulkas, mencari sesuatu untuk pagi harinya di tahun baru kali ini. Kulkas itu tampak kosong, hanya berisi sebungkus sponge crunch rasa stroberi dan keripik kentang serta dua buah kaleng bir. Sehun mengambil semuanya dan membawanya ke depan televisi, lalu mendudukkan tubuhnya di atas satu-satunya sofa yang ada di sana.

 
Kini pria itu sedang menatap layar televisi, menampilkan film kartun yang bertemakan tentang kehidupan bawah laut dengan sebuah sponge yang menjadi pemeran utama. Ya, spongebob dengan nanas sebagai rumahnya adalah film yang sedang ditonton oleh Sehun. Tangannya mulai mencomot satu per satu sponge crunch rasa stroberi yang entah kenapa menjadi kesukaannya sekarang. Padahal, dulu ia tidak begitu menyukai hal-hal yang berbau stroberi. Dan semuanya berubah ketika sorang gadis dengan senyum kelewat indah itu membawa Sehun untuk memasuki dunianya, lalu meninggalkan pria itu sendirian di sana, hingga sekarang.

 
Dibukanya kaleng bir dingin di atas meja sembari matanya yang masih menatap lurus ke arah layar datar di depannya itu. Biasanya, ia akan menonton film ini dengan Minyoung di sampingnya. Membawa tubuh dan kepala gadis itu untuk menyandar di bahunya. Sungguh, Sehun selalu merasakan kenyamanan yang membuatnya enggan untuk mengakhiri momen itu.

 
Sehun meletakkan kaleng birnya, lalu kembali memandangi layar di depannya dalam diam. Ia tidak lagi memakan sponge-nya. Bungkusan berwarna pink itu telah tergeletak berantakan di atas meja kaca di depannya bersama dua kaleng bir dan sebungkus keripik kentang yang belum disentuhnya.

 
Tidak ada yang aneh dari seorang Sehun saat ini.

 
Hanya saja, tatapan matanya saja yang kini tampak menerawang. Ia merasakan tubuhnya seperti terowongan yang gelap, terasa begitu kosong. Di luar tidak sedang hujan, namun butiran bening dari kedua matanya itu malah turun dengan sangat kurang ajar. Sehun tidak berniat untuk menghapusnya, biarkan saja. Toh, air itu akan mengering dengan sendirinya.

 
Sehun mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan. Tempat yang begitu banyak menyimpan kenangannya bersama Minyoung. Udara di ruangan itu begitu dingin, seperti biasa, Sehun lupa menyalakan penghangat ruangan. Dan, jika cuaca sedang sedingin ini, biasanya, Minyoung akan membuat dua cangkir coklat panas untuk diminum bersamanya.

 
#

 
“Kau suka coklat panas?” Minyoung berteriak dari arah dapur, yang akhirnya membawa Sehun berjalan menghampirinya. Lalu melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu dari belakang.

 
“Walaupun aku bilang tidak menyukainya, kau akan tetap membuatkannya, kan?” tanya Sehun sambil menaruh dagunya di bahu kanan Minyoung.

 

 

Minyoung terkekeh. “Apa aku terlihat terlalu memaksa?”

 
Pria itu menggeleng pelan.

 
“Tidak,” ujar Sehun sambil mengeratkan pelukan. “Justru aku yang merasa selalu memaksamu untuk menemaniku di sini.”

 
Minyoung memutar tubuhnya, lalu melingkarkan tangannya ke leher Sehun. “Aku melakukannya dengan senang hati, Hun.”

 
Alis Sehun terangkat sebelah, “Benarkah?”

 
“Apa aku harus mengulang jawabanku?”

 
Sehun terkekah sambil menggeleng. Dan entah sejak kapan, kini matanya telah terfokus ke arah bibir gadis itu. Tidak ada yang dapat menghentikannya. Dengan perlahan, Sehun mendekatkan wajahnya untuk satu tujuan yang Minyoung pun tahu artinya. Gadis itu memejamkan matanya, ia dapat merasakan bahwa hidungnya dan hidung Sehun telah bersentuhan. Selanjutnya, Minyoung hanya dapat merasakan lumatan manis yang selalu membuatnya melayang bersama pria itu.

 

***

Bungkus sponge crunch rasa stroberi itu telah tergeletak sembarangan di meja, Sehun telah menghabiskannya. Kepalanya sedikit pusing sehingga ia butuh pengalihan, dan mengunyah makanan adalah pilihan yang tidak terlalu buruk.

 
Sehun sedang merindukan Minyoung, terlihat sangat jelas sekali. Dan perasaan rindu itu selalu dicemooh oleh hati kecilnya, ini terasa begitu menyiksa baginya. Gadis itu memilih pergi meninggalkannya dengan alasan hanya ingin membuat Sehun bahagia. Shit, apakah Minyoung mempermainkannya? Apakah gadis itu pura-pura tidak tahu? Jadi, apa semua kenangan ini terlihat tak nyata untuknya?

 
Setiap hari, setelah satu bulan lebih tiga hari dari hari dimana Minyoung meninggalkannya, Sehun tampak seperti manusia boneka yang menjadikan tubuhnya sendiri sebuah permainannya. Tersenyum, tertawa, dan berbicara adalah rancangan otaknya untuk membuktikan bahwa keterpurukannya atas Minyoung tidak membuatnya berhenti berjalan ke depan. Namun, jika seperti sekarang, jika ia sendiri, bayangan akan sosok gadis itu selalu sukses menggelayuti pikirannya, memenuhi setiap ruang dalam otaknya. Tidak perduli tentang apapun, setiap kenangan yang gadis itu tinggalkan untuknya telah tergenggam erat di kedua tangannya.

 
Pertengkaran waktu itu adalah pertengkaran kesekian bagi mereka, dan menjadi pertengkaran final. Membuat Minyoung menyerah dan pergi meninggalkan Sehun yang terpaku di tempatnya. Ia ingin mengejar, namun, kakinya terlalu angkuh untuk itu, dan tangannya cukup sombong hanya untuk sekedar menarik tangan gadis itu.

 
Rasanya sungguh menyakitkan, karena meninggalkan dan membiarkan pergi jelas bukan hal yang sama. Sehun merasakan itu. Sehun merasakan sakit yang luar biasa hingga terkadang ia tertawa di tengah tangisnya ketika merindukan gadis itu

 

***

 
Ajakan minum kopi dari salah satu teman membuatnya berakhir di café ini. Tempat yang begitu klasik dengan konsep vintage itu membuat suasana café terasa lebih santai dan menyamankan pengunjungnya. Sehun telah tiba di café itu sejak sepuluh menit yang lalu, ia memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan dinding kaca tebal yang memberi pemandangan pendestrian di sana.

 
“Sudah lama menunggu?”

 
Sehun mendongak, mendapati pria dengan telinga sedikit aneh tengah menggeser kursi di depannya. “Tidak,” ujar Sehun. “Ada perlu apa kau mengajakku minum kopi, Chan? Kau tidak berkencan dengan pacar-pacarmu, eh?”

 

 
Chanyeol terkekeh ringan. “Sialan! Aku lebih memilih mengajak sahabatku yang sedang dilanda rindu akan mantan kekasihnya ini minum kopi daripada ritual kencan yang terkadang membuatku bosan. Lagipula, aku bingung harus mengajak siapa, hm.”

 
Sindirian frontal yang dilontarkan Chanyol membuat Sehun tersenyum masam. Chanyeol tidak salah, apa yang diucapkan oleh pria itu jelas benar adanya.

 
“Jadi, kau memilih mengajakku minum kopi di hari libur tahun baru ketimbang mengajak kencan salah satu dari pacarmu?” Sehun menatap serius ke arah Chanyeol, lalu melanjutkan ucapannya. “Aku buka seorang gay, lho, Chan.”

 
Shit!” Chanyeol mengumpat di sela-sela tawanya. “Kau kira aku gay?”

 
Tak ada jawaban, hanya terdengar kekehan bersahutan dari keduanya.

 
Obrolan ringan dari kedua sahabat itu terus mengalir, sampai akhirnya dua cangkir dengan jenis yang sangat berbeda itu tiba di hadapan mereka.

 
“Aku masih tidak mengerti, kenapa kau masih saja meminum kopi pahit seperti itu?” Chanyeol melirik sekilas espresso yang ada di depan Sehun.

 
Sehun tersenyum simpul, “Karena aku menyukainya.”

 
Chanyeol menggedikkan bahu, lalu menyesap cappuccino-nya. “Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu.” ujar Chanyeol setelah menaruh kembali cangkirnya ke meja.

 
“Katakanlah,”

 
Chanyeol menatap prihatin ke arah Sehun, jelas sekali bahwa pria yang sedang duduk dengan espresso pahit di depannya ini sedang tidak baik-baik saja. Setelah Minyoung pergi, Sehun tampak mengenaskan. Jangankan untuk tertawa, bahkan untuk berbicara pun ia terlihat sangat enggan untuk melakukannya

 
“Ini tentang Minyoung,” balas Chanyeol sambil menatap ke arah orang-orang yang sedang berlalu-lalang, ia tidak berani menatap langsung sosok Sehun yang kini sedikit menegang.

 
Sehun menghela napas dalam, lalu menyesap espresso-nya perlahan. Kepahitan dari kopi pekat itu terasa lebih baik ketimbang mendengar kabar tentang mantan kekasihnya yang pergi dengan segala kenangan yang masih bercokol rapi di benaknya.

 
“Apa yang ingin kau sampaikan tentang Minyoung kepadaku?” tanya Sehun setelah menaruh cangkir kopinya.

 
Chanyeol berdeham, nampak berpikir keras. Bagaimana caranya ia mengungkapkan kepada Sehun? Ini benar-benar membuatnya gugup, biar bagaimana pun juga mengatakan ini sama saja dengan menyakiti Sehun lebih dalam lagi. Tapi, ia akan jauh lebih berdosa kepada Sehun jika tidak menyampaikan sesuatu yang telah mengganjalnya sejak lama.

 
“Sebenarnya, aku melihat Minyoung bermesraan dengan seorang pria seminggu sebelum memutuskanmu. Tidak hanya sekali, tapi tiga kali dengan pria yang sama. Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Namun itu memang Minyoung. Aku telah menyelidikinya. Dan dugaanku memang benar adanya. Minyoung… dia telah berselingkuh di belakangmu.” tutur Chanyeol hati-hati.

 
Sehun menatap lurus ke arah Chanyeol. Pupil matanya melebar, hatinya mencelos mendengar fakta tentang Minyoung yang ternyata mengkhianatinya. Seseorang yang telah Sehun sayangi sejak lama, dan masih akan ia sayangi hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan olehnya. Namun, kemudian sebuah senyum getir terbit dari bibir Sehun. Membuat Chanyeol memberikan tatapan kaget yang ia kira pria itu akan marah dengan emosi yang meluap-luap. Tapi kali ini Sehun tampak tenang, namun sangat rapuh.

 
“Jadi, ternyata ini alasannya.” Sehun bergumam pelan sambil terkekeh. Pahit. Selain pahit, Sehun juga merasakan kepedihan yang mengoyak lukanya lebih lebar. Kata-kata Chanyeol barusan adalah garam untuk lukanya yang masih berdarah.

 
Chanyeol tidak bisa berkata-kata, tapi diam-diam ia salut sekaligus prihatin dengan apa yang ditunjukkan Sehun saat ini. Pria itu jelas menyimpan duka yang mendalam, jauh lebih sakit seperti itu, kan? Menyimpan segala sesuatunya tanpa menginginkan orang lain untuk mendengarnya.

 
Sehun tersenyum setulus mungkin. “Tidak apa-apa. Aku sudah mengikhlaskannya pergi. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa aku akan mengetahui ini.”

 
“Aku ingin kau bangkit, Hun! Aku tidak ingin kau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk meratapi kepergian gadis brengsek itu! Kau harus marah! Dan kau pantas untuk marah!” seru Chanyeol menggebu-gebu, matanya melebar dengan ekspresi marah yang agak berlebihan, kontras dengan ekspresi Sehun yang sedang menampilkan wajah dinginnya.

 
“Buat apa?” Sehun tampak tenang. “Aku akan terlihat jauh lebih menyedihkan jika aku marah dengan semua ini. Kau benar, aku memang harus marah dan aku sedang marah. Aku marah dengan diriku sendiri yang membuatnya mengkhianatiku. Aku gagal membahagiakannya. Aku menyesal.”

 
“Kau bodoh!” Chanyeol mengejek dengan seringainya. Entah kenapa ia tidak suka dengan reaksi Sehun yang kelewat tenang. Chanyeol ingin Sehun membebaskan semuanya, termasuk tentang semua rasa atas kenangannya bersama Minyoung yang masih dibawanya kemana-mana.

 
Sehun kembali terkekeh. “Bukankah cinta memang membuat manusia yang pintar menjadi bodoh dan manusia bodoh akan terlihat lebih bodoh, ya?”

 
“Itulah kenapa aku tidak pernah memilih cinta untuk mewarnai konsep hidupku. Selama dunia ini masih memproduksi wanita dengan segala kemolekannya, aku tidak membutuhkan segala hal yang berhubungan dengan cinta. Aku belajar banyak atas kebodohanmu saat ini, Hun.”

 
Sehun kembali menatap ke arah pendestrian yang terpampang jelas dari dinding kaca di sampingnya itu. Ia lelah berbicara, ia hanya ingin berdiam diri saja. Chanyeol benar. Ia adalah manusia paling bodoh di sini.

 
Tatapannya kembali menerawang, tampak ada sebuah kesakitan yang sengaja ditahannya dalam-dalam. Tidak mungkin, kan, jika ia menangis di hadapan Chanyeol sekarang? Sehun cukup punya malu dengan tidak terlihat lemah di depan siapapun. Termasuk di depan sahabatnya ini.

 
Berhenti menyakitiku dengan semua kebohongan dan rasa nyaman yang kau berikan, Min. Sehun mencoba mengusir rasa sakit yang menjalar di seluruh bagian hatinya.

 
Ini lumayan bagi Sehun, ia bisa menahan semuanya. Mengatasi seluruh emosinya dengan sebuah ketulusan yang ia tujukan untuk gadis itu. Mungkin, Minyoung memang telah mencuranginya. Tapi bagi Sehun, gadis itu tetap memberikan kenangan manis untuknya. Membuat Sehun tersenyum bahagia di sela-sela ingatannya atas semua hal yang membawanya menuju satu poros; Minyoung.

 
Mencoba berpura-pura baik-baik saja adalah hal yang menyakitkan. Bahkan setelah Sehun mencoba mengalihkan semuanya, tetap saja napasnya tidak pernah benar-benar lega.

 
Serapuh apapun kondisi batinnya, sesakit apapun luka yang ditorehkan oleh Minyoung untuknya. Sehun akan tetap menerimanya. Namun, jika suatu hari nanti Sehun kehilangan cinta lagi. Ia bersumpah untuk tidak akan pernah seperti ini lagi. Memang, Sehun bisa menyakiti sebanyak yang ia mau dan menangis kencang setelahnya. Tapi buat apa? Sehun tidak akan bertindak semakin bodoh untuk masa depannya.

 
Minyoung, semoga kau bahagia.

 
Sehun tetap akan baik-baik saja. Ia akan tmenjalani hidupnya di tahun baru dengan duka yang tetap disimpannya. Karena hal terbodoh bagi Sehun adalah, ia masih menyayangi Minyoung hingga detik ini. Terlepas dari segala kecurangan dan sakit hati yang diberikan gadis itu untuknya.

 

END

Author’s Note: Special for you, (my) Shine Sun.

Advertisements

11 thoughts on “[Song For New Year] Without You

  1. versi full-nya ternyata memang feminim! cocok ah buat kaum sebelah yang lagi galau wkwk
    btw ffnya full of personal sekali, kah? emosinya ada di tiap kata, jadi buat aku ikutan galau juga…
    ada sedikit hal-hal yg kurang konsisten, tapi ini bagus 🙂

    1. anggap aja gue lg curhat/? well.. kayanya gue harus bangun dan balik ke konsep tulisan gue yg dark kaya biasa. Krn sebenernya gue jg malu baca cerita gue yg kaya gini wkwk cengeng bgt anjir xD

  2. Hualah ini mah enaknya buat galau wkwk. Minyoung oh minyoung kenapa dirimu nyelingkuhin mas sehun yang gantengnya beuhhh-__-

    Nice fic. Dan aku suka sm kata2 yg ada di ff ini:)

    1. usaha gue dlm nulis ff ini adalah ngebangun feel galau biar kerasa di tulisannya. Gak ada maksud apa2 sih. Lagi musim ujan begini emang paling enak galau2an sambil minum kopi /apaansih

      thank you komentarnya, gue dpt energi lebih buat nulis krn ini! hehe

        1. lo tau rp gue? yaudah ayok temenan di rp kalo gt wkwk

          anggap aja ini salah satu bentuk penyetaraan antara cowok dan cewek/? Krn gak slalu cewek yg disakiti dan gak selalu cewek yg menderita /apaansih

          siap.. meluncur!

          1. Tau kok wkwk org lu pemes😂 gue tau dr tmn rl yg main rp ttg cerita lu sm rp yoona itu. Waduhhh okelah tar kita saling sharing di rp aja gt yaa. Tar tak minta follback gue blg gue queen elsa😂/udh ketauan duluan kan nama gue😂/

            Setuju lah setuju cewek bukan makhluk lemah/? Cowok jg bs lemah/?

            Sipp😂😂

  3. Ini cerita bikin galau abis 😭😭😭
    Sehun pukpuk jangan galau /?

    Bagus bang! Keren banget! Dan untuk pertama kalinya aku baca ff dg cast selain kris dan taemin 😂😂

    And I love it!

  4. Bagus lah feelnya dapet yaa hahah but i think sehun keknya ga cocok jadi cowo galau (?) 😂 but i suka lah sama gramm.a hehe ♡♡

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s