[Song For New Year] 01-16-01


01-16-01

01-16-01

Noviara Park

Starring [EXO] Baekhyun, [GOT7] Youngjae, and [Seventeen] Hoshi with OC

Genre School-Life, slight!Romance, Childhood!AU, Sad, Family Rating Teen Duration Ficlet-Mix

Tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Hati ini masih menyimpan semua rasaku untukmu. – By Neys

January 2016, the 1st

***

#1

Firework

 

“Hoshi, aku mau lihat kembang api!”

Hoshi masih sibuk menenggak susu dari botol minuman kesayangannya, namun telinganya terbuka lebar demi mendengarkan ocehan gadis berambut sebahu yang duduk di sebelah.

Gadis kecil itu memberengut tatkala mengira Hoshi tidak mendengar kalimatnya. Jadi, tangannya terulur dan—

“UHUKK! UHUKK!” Yuki tertawa melihat Hoshi terbatuk-batuk. Usahanya untuk mendapat atensi Hoshi berhasil. Ia baru saja akan berujar ‘tuh, kan, Hoshi lucu kalau mulutnya belepotan susu’ dalam hati kala bocah laki-laki itu mendelik.

“Yuki, aku tadi dengar apa yang kamu bilang. Tidak perlu menjahiliku segala,” ucap Hoshi sembari mengelap tetesan putih di wajahnya dengan lengan baju. Uh, biarlah nanti dimarahi oleh Ibu karena melakukan larangannya; menggunakan lengan sebagai lap.

“Tapi aku mau lihat kembang api,” gadis itu mengulangi keinginannya. Muka memelas adalah jurus andalan Yuki, jadi Yuki lekas memasang ekspresi itu, berharap Hoshi mau mengabulkan permintaannya.

Duh, memangnya Hoshi itu jin yang bisa mengabulkan permintaan?

Namun senyum tipis laki-laki itu menimbulkan secercah harapan bagi Yuki.

.

.

Yuki seharusnya senang karena Hoshi mengajaknya menonton kembang api di malam tahun baru. Namun masalahnya bukan itu.

Ia tahu Hoshi berteman dengan geng anak nakal di sekolah, tapi ia tidak menyangka mereka akan datang bersama Hoshi. Plus seplastik penuh kembang api dan petasan di tangan masing-masing anak.

“Malam ini semua orang pasti menonton kembang api raksasa di kota, jadi kompleks akan sepi.”

Hoshi tertawa sebelum akhirnya menimpali, “Tentu. Kita buat sendiri saja sekarang.”

Yuki ingin menangis rasanya saat anak bertubuh paling besar mulai menyulut api. Diarahkannya api ke sumbu dan—oh, ia tidak akan melihatnya karena sudah keburu menutup mata. Sebaiknya Yuki pulang diam-diam sebelum…

DOR! DOR! DOR!

“ANAK NAKAL! SIAPA SURUH MENYALAKAN PETASAN TENGAH MALAM BEGINI?!”

Orang-orang yang tadinya terlelap dalam rumah keluar. Beberapa dengan wajah yang galak siap mengomel, yang lainnya dengan muka mengantuk. Namun tidak ada yang lebih ditakutkan Yuki daripada wanita dengan piama kuning yang mukanya jauh lebih garang daripada siapa pun.

Ah, sial, anak-anak nakal itu sudah kabur semua. Bahkan Hoshi juga sudah meninggalkannya.

“Yuki, masuk cepat!” titah Mamanya. “Besok pindah rumah, tapi kenapa sekarang masih keluyuran dengan anak-anak nakal itu?”

.

.

Angin dingin menerpa, membuat Yuki merapatkan jaketnya. Waktu telah merambat sepuluh tahun, namun kejadian di masa kecilnya seakan baru terjadi kemarin. Rasanya berat sekali meninggalkan Tokyo yang ramai dan kembali ke tempat ia dilahirkan—di Kyoto. Ada banyak alasan, namun ada satu yang paling utama.

Tiga menit menuju tahun baru, tiga menit terakhir di penghujung tahun. Bagi Yuki, tahun-tahun yang ia lewati sama saja; melihat kembang api di kota yang semarak. Jadi, ia mencari suasana baru dengan menghabiskan liburan tahun baru di Tokyo.

Dua menit lagi. Yuki menyapukan pandangan ke sekeliling dan menemukan sesuatu. Lelaki berambut pendek dengan balutan jaket hitam membangkitkan kuriositasnya lantaran relief mukanya begitu familiar. Ia berdiri tidak jauh di samping Yuki.

Ragu, ia berderap mendekat. Sudut-sudut bibirnya naik dan menciptakan senyum yang mengingatkannya pada…

“Hoshi?”

Leher lelaki itu berputar. Keningnya bertaut samar, lantas menggumam, “Yuki?”

Yuki menyunggingkan seulas senyum lebar. “Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu.” Hoshi masih mengenalinya ternyata. Dan itu hal yang bagus.

“Ah, kau tiba-tiba pindah tanpa memberitahuku waktu itu. Membuatku cemas saja.” Hoshi tertawa pelan sembari menyelusupkan kedua tangan ke saku jaket.

“Kau masih marah?” tanya Yuki.

“Tentu.” Jawaban Hoshi terdengar ringan, namun mengundang tawa Yuki keluar.

“Kalau begitu, besok aku akan mentraktirmu susu lagi.”

“Memangnya aku masih anak kecil?” gerutu Hoshi usai melempar delikan garang pada Yuki.

Ya, ini alasan kenapa ia tidak ingin meninggalkan Tokyo. Karena ia masih memiliki perasaan pada Hoshi, bahkan saat kembang api yang menandakan 2016 telah datang meledak di langit Tokyo.

 

#2

Angel Called Mom

 

Youngjae nyaris melonjak girang tatkala matanya menangkap jejak yang ditorehkan pena di sudut kanan kertas gambarnya. Sembilan puluh, nilai tertinggi sepanjang sejarah yang ia dapatkan untuk pelajaran seni budaya. Apalagi ini gambarnya saat ulangan praktek. Ia pun berjalan ke tempat duduknya—masih dengan mata yang memelototi nilainya.

“Bu, lihat! Aku menggambar Ibu dan aku sedang membuat kue bersama!”

Segera saja Youngjae mendongak. Dilihatnya teman sekelasnya menunjukkan hasil gambarnya pada wanita yang pandangannya tertuju pada rapor. Wanita itu akhirnya menoleh dan tersenyum sembari mengelus puncak kepala anak itu.

“Bu, nilaiku bagus-bagus. Liburan nanti ke pantai, ya, Bu!”

Di dekatnya, anak lain merajuk supaya keinginannya dikabulkan. Ibu anak itu malah menggoda anaknya dan tertawa. Gelengannya membuat sang anak melonjak-lonjak hampir menangis.

“Bagus, Nak! Semester dua nanti tingkatkan lagi nilainya.” Di belakang Youngjae, seorang ibu memeluk putrinya. Anak perempuan itu juga tersenyum lebar dengan rapor di tangannya.

Usai dijejali pemandangan seperti itu, Youngjae menatap gambar miliknya. Di sana ada dirinya sendiri menggandeng wanita cantik. Bibirnya dan wanita itu bersepuh senyum lebar, seperti yang seharusnya terjadi saat ini.

Entah sejak kapan dada Youngjae terasa sesak. Dan entah sejak kapan—ia sendiri tidak tahu—air matanya bergulir menuruni pipinya. Youngjae terisak, lantas menutupi wajah dengan kertas di tangan. Ia tidak ingin orang lain melihatnya sedang menangis.

“Youngjae, ayo pulang.” Tepukan pelan yang diarahkan pada Youngjae tidak juga menghentikannya. Beberapa detik kemudian, Youngjae sudah ada di gendongan orang dan membasahi bahu orang itu dengan air matanya.

.

.

Hening. Namun Youngjae tidak peduli kendati keheningan adalah hal yang ia benci. Berbekal buket bunga, Youngjae berlutut di sisi sebuah pusara. Lantas diletakkannya buket itu di atas pusara.

“Halo, Bu!” gumam Youngjae dengan suara rendah.

Tidak ada sahutan. Dan ia tidak mengharapkan jawaban apapun.

“Maaf aku baru datang di tahun baru. Seharusnya aku ke sini tanggal 22 Desember, bukankah di Indonesia seperti itu? —dan semua temanku merayakannya pada tanggal itu.” Ia mendesah sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi yang terpenting aku datang. Lagipula Hari Ibu itu setiap hari menurutku.”

Tangannya merogoh saku, menemukan lipatan kertas kusam, dan membukanya. Itu gambarnya saat SD dulu. Bagaimana bisa ada di sana? Gambar dirinya dan ibunya menghilang seiring kertas itu kembali terlipat rapi dan kembali ke tempat semula.

“Ibu, aku menyayangimu.”

Ibu mungkin tidak memeluknya lagi setiap pagi, menyiapkan sarapan, menemaninya belajar, atau hal-hal lain, namun presensinya tidak akan pernah lekang dari hatinya.

 

#3

Eh?

 

Manik Baekhyun berkali-kali melirik nomor di sobekan kertas dan yang tertera di ponsel bergantian. Sama persis, ia hanya perlu menekan tombol ‘panggil’ lalu menempelkan ponsel ke telinga.

Apa dia masih sama?

Usai berkontemplasi dalam skeptis, ia menekan tombol dan menunggu jawaban dari seberang.

“Halo?”

Suara itu memanggil seluruh kenangan Baekhyun bersama seorang gadis di masa lalu. Anehnya, bukannya menutup panggilan secara dramatis, Baekhyun tersenyum lebar dan menanyakan. “Kau masih ingat aku?”

Hening di seberang sana. Lalu—

“Baekhyun? Dari mana kau tahu nomorku yang baru?”

“Aku tidak bisa mengatakannya,” ujar Baekhyun sembari memainkan bolpoin dengan sebelah tangan. “Selamat tahun baru, omong-omong. Bagaimana kabarmu?”

“Baik. Kau tidak menanyakan anakku?”

Baekhyun tersenyum tipis. Inilah alasan kenapa ia agak ragu untuk menghubungi orang ini. “Baiklah, bagaimana dengan anakmu?”

Wanita di seberang terkekeh. “Sangat sehat. Kenapa kau meneleponku? Ada yang ingin kaukatakan?”

“Aku merindukanmu,” kata Baekhyun ringan, lantas cepat-cepat menambahkan sebelum wanita itu salah menangkap maksudnya, “Aku hanya belum bisa melupakanmu.”

Bolpoin di jemari Baekhyun berhenti bergerak. Ia kira wanita itu memutuskan telepon, namun saat ia sedikit menjauhkan ponsel, ia yakin wanita itu masih bisa mendengarnya. “Ha—”

“Kalau begitu lupakan saja aku dan cari pacar baru.”

Baekhyun tahu tidak semudah itu, bahkan usahanya bertahun-tahun menghapusnya seakan tidak berarti apa-apa.

“Tentu.” Dan sambungan berakhir.

Fin.

.

a/n:
Maap, ini tidak layak post sebenarnya. Kata-kataku menghilang entah kemana—dan mungkin ini berbeda dari yang kutulis biasanya. Aku sempet mikir buat nggak ikut event ini. Tapi akhirnya aku kirim juga (dengan putus asa). Mohon reviewnya jika tidak keberatan *ngarep XD

And Happy New Year 2016! 😀

-Novi

Advertisements

2 thoughts on “[Song For New Year] 01-16-01

  1. jangan merendaaaahhh
    aku suka tiap-tiap katanya, kok!
    lagi, aku suka sekali kata-katamu yg kamu bilang gak seberapa ini;-;
    btw aku paling suka bagian youngjae! #gaknanya

    keep writing yaaa^^

  2. hai noviiii
    aku suka format drabble mixnya btw, walaupun bittersweet semua huhuhu. utng bacanya ga waktu tepat tahun baruan takut baper soalnya.
    kata2mu seperti biasa keren, sesungguhnya, cuman storylinenya agak terlalu mainstream…. *kecuali yg pertama krn hoshi main petasan itu hilarious XD* feel tetep nyampe kok tenang saja XD cuman… bagian youngjae yg ada indonesia2nya itu agak ganjil aja hehe.
    keep writing! sorry komennya pendek :p

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s