[Song For New Year] One-Sided Memories


one-sided-memories (1)

One-Sided Memories

Laraseu present

.

Main Cast : Mark Tuan [GOT7] & Song Jichan [OC] // Genre : Hurt/Comfort, Romance // Rating : PG-13 // Length : Oneshot // Disclaimer : I own nothing except the art and storyline ^-^

.

Tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Hati ini masih menyimpan semua rasaku untukmu. – by neys

.

Usiaku belum genap tujuh tahun kala pertama kali aku mengenalmu. Kendati otak di kepalaku tidak cukup genius untuk menghafal seluruh rumus fisika dalam satu malam, namun aku dapat memastikan semua memori tentang kita, sekecil dan sesederhana apapun itu, aku masih mengingatnya dengan jelas.

Kau perempuan, tapi saat itu kau lebih tinggi lima sentimeter dariku. Aku masih ingat betul pita merah yang kau kenakan untuk mengikat suraimu; yang membuatmu tampak sangat manis meski sebenarnya kau tidak cantik cantik amat. Kau bercerita padaku soal pita itu, yang mana kau beli menggunakan uang hasil tabunganmu sendiri, dan kau memilih pita itu karena merah adalah warna favoritmu. Kau mengeluh karena orangtuamu jarang membelikan aksesoris-aksesoris lucu untukmu, padahal kau sangat ingin.

Oleh karena itu, pada perjumpaan kedua kita, aku memutuskan untuk memberimu sebuah hadiah berupa jepit rambut bermotif hati. Aku tidak memperhatikan motif itu saat membelinya, karena aku hanya asal memilih yang berwarna merah dan harganya murah. Namun aku benar-benar tidak menyangka gadis kecil sepertimu bisa terbawa perasaan hanya karena hal seperti itu.

“Mark,” panggilmu sembari mengamati jepit rambut itu.

“Hm?” sahutku.

“Kau … menyukaiku, ya?” tanyamu dengan polosnya.

Aku membulatkan mata. Hendak menggeleng, namun melihat wajah polosmu yang sangat menggemaskan itu, aku jadi tidak tega melakukannya. Maka, aku menganggukkan kepalaku, tanpa menyangka akan membuat sudut bibirmu terangkat tinggi sekali. “Benarkah?!” tanyamu bersemangat.

Manis sekali. Aku jadi tidak bisa melakukan apapun selain kembali mengangguk dan membalas senyum manismu.

“Kalau begitu, apakah mulai sekarang kita adalah couple?” tanyamu.

Aku tidak tahu dari mana kau tahu istilah Bahasa Inggris itu, namun lagi-lagi, yang kulakukan adalah mengangguk. Entah mengapa, kurasa akan menyenangkan bisa dekat dengan gadis sepertimu.

Begitulah. Di hari pertama kau pindah ke kompleks rumahku dan kita bertemu serta berkenalan di taman bermain, aku jatuh hati padamu. Konyol memang, apalagi saat itu merapikan kamar tidur sendiri saja aku masih kewalahan, dan kita sudah membuat janji akan menikah dua dekade lagi.

.

Awal dari ‘hubungan’ kita, aku sempat membenci dirimu karena kufikir kau adalah gadis yang sangat aneh. Bagaimana mungkin kau yang selalu mengantar-jemputku ke dan dari sekolah? Menaiki sepeda perempuan dengan keranjang berhiaskan rangkaian bunga di depannya?

Aku, sih, tidak masalah jika aku yang duduk di depan dan mengayuh sepedanya. Tapi kau bersikeras membuatku duduk di bangku belakang, dan oleh karena itu teman-temanku menertawaiku.

Aku benar-benar kesal denganmu, sampai-sampai pada suatu hari aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Konyol, memang, jika harus mengakhiri hubungan dengan alasan ‘karena kau yang selalu menjemputku dan duduk di sadel depan ketika naik sepeda’. Namun mau bagaimana lagi? Aku benar-benar sudah tidak tahan.

Sialnya, ketika aku dengan raut wajah serius hendak mengajakmu bicara empat mata, kau sudah terlebih dahulu menangis. Tiba-tiba saja berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu lagi, lantas memelukku dengan sangat erat.

Nah. Jika sudah begitu, aku bisa apa selain membalas pelukanmu?

.

Kita hanya dapat bersama dalam waktu yang relatif singkat, karena di hari ulang tahunku yang ke-sepuluh, kau harus pindah ke Jepang untuk mengikuti ayahmu yang dipindahtugaskan ke negeri sakura itu.

Kau mengatakan akan menemuiku sebelum berangkat ke bandara untuk merayakan ulang tahunku meski hanya secara sederhana, tapi kenyataannya kita tidak bisa bertemu. Bukan karena kau sengaja melanggar janjimu padaku, namun karena jadwal penerbanganmu entah mengapa harus berubah menjadi pukul empat pagi, bahkan ketika aku masih hanyut dalam mimpi indahku tentang dirimu.

Setelah aku bangun dan segera berlari ke rumahmu, aku tidak menemukan siapapun di sana. Aku menghela nafas panjang, menyesal karena lebih memilih tidur ketimbang terjaga agar tidak kehilangan kesempatan bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya.

Aku sudah hendak berbalik pulang ketika netraku menangkap sebuah amplop merah tergeletak di beranda rumahmu. Semacam kartu imlek, namun ini masih bulan September, dan aku tahu kau tidak mempertimbangkan apapun saat memilih amplop ini selain warnanya. Perlahan, kuambil amplop itu dan kubuka isinya. Tepat seperti dugaanku, ini darimu.

 

“Halo, Mark! Maaf karena tidak bisa menepati janjiku. Ternyata jadwal penerbangan kami berubah menjadi pagi sekali. Bahkan aku menulis surat ini dengan mata masih setengah terpejam, hahaha.

Selamat ulang tahun yang ke-sepuluh! Dan selamat ulang tahun untukku yang ke-sepuluh-tahun-kurang-dua-bulan!

Meskipun kemungkinan besar kita tidak bisa bermain bersama lagi untuk beberapa tahun ke depan, aku harap kau tetap mengingatku. Aku juga akan selalu mengingatmu, Mark. Aku janji.

Baiklah, aku tidak bisa menulis lebih panjang lagi karena kami harus segera berangkat. Sampai jumpa lain waktu, Mark! Jangan lupa bahagia!

 

PS : Ambil hadiahmu di dalam kamarku. Jangan beritahu siapapun tentang ini; kunci rumahku ada di bawah pot si bandel. Kau harus mencarinya sendiri, oke?! ^^

 

Dari kekasih sepanjang masamu,

 

Song Jichan”

 

Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku langsung mencari tanaman kaktus yang ada di pekarangan rumahmu. Aku ingat kau pernah bercerita perkara betapa sulitnya ibumu memelihara tanaman kaktus. Namun ketika ibumu hendak membuang semua tanaman kaktus yang sudah mati, ada satu kaktus kecil yang masih bertahan hidup, bahkan hingga saat ini. Oleh karena itu kau menamainya ‘si bandel’.

“Ah! Rupanya di sini kau, dasar bandel!” pekikku senang ketika akhirnya aku menemukan pot si bandel di beranda belakang rumahmu. Aku mengangkat pot itu dan langsung mengambil kunci rumahmu. Ternyata ada dua kunci; yang satu dengan gantungan miniatur menara Eiffel, sedangkan yang satunya lagi dengan gantungan berbentuk stroberi.

Dari situ, aku langsung tahu apa maksudnya. Tentu saja kunci dengan gantungan stroberi itu adalah kunci kamarmu. Memangnya siapa, sih, orang di dunia ini yang tidak tahu kalau gadis kecil bernama Song Jichan adalah penggemar nomor satu buah stroberi? Bukan soal rasanya, namun –aku mulai bosan mengatakan ini- karena warnanya merah.

Dengan sudut bibir terangkat sangat tinggi, aku berlari menuju bagian samping rumahmu, lantas menemukan sebuah pintu dengan kusen dipenuhi rangkaian bunga mawar merah. Aku menggelengkan kepalaku sambil berdecak pelan, berusaha memaklumi sifat fanatikmu akan segala hal berwarna merah.

Aku mulai membuka pintu itu dengan kunci kamarmu. Terbuka.

.

Baru kali ini aku menginjakkan kaki ke dalam rumahmu; dan aku benar-benar tidak percaya harus memulainya dengan kamarmu. Sebelum ini, kau yang selalu berkunjung ke rumahku dan selalu melarangku untuk masuk ke dalam rumahmu. Entah apa alasannya, tapi aku menurut saja. Toh, bangunan rumah kita tidak jauh berbeda karena kita tinggal di perumahan yang sama. Jadi tidak terlalu banyak yang ingin kuketahui dari rumahmu.

Detik pertama menginjakkan kaki di kamarmu, aku langsung menyesal telah beranggapan seperti itu dulu. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Rak-rak buku hampir memenuhi seluruh dinding kamarmu. Kupikir aku akan melihat kamarmu didominasi warna merah sehingga akan terlihat mencolok, namun ternyata aku salah. Aku tidak menemukan apapun selain kesan vintage dari kamarmu.

Sejenak, aku berfikir mungkin aku salah masuk ruangan dan ini adalah kamar orangtuamu. Pasalnya, aku belum pernah tahu kalau kau gemar membaca buku dan membereskan tempat tidur. Namun ketika kudapati sebuah poster Shinhwa, boygroup favoritmu, yang dulu pernah kuberikan padamu sebagai hadiah ulang tahun yang ke-sembilan tertempel di sudut ruangan, di sebelah tempat tidurmu, aku kembali yakin bahwa ini adalah kamarmu. Tapi, masalahnya sekarang, di mana hadiahku?

Aku berputar-putar, netraku menelisik seluruh isi ruangan dengan teliti, berusaha untuk tidak melewatkan satu pun benda yang bisa jadi adalah hadiah darimu untukku.

Ah! Itu dia!

Kau memang gadis yang cukup aneh. Jadi, tidak heran jika aku menemukan hadiahku di bawah tempat tidurmu. Kuraih sebuah buku serupa diary itu, lantas kubuka isinya. Senyumku mengembang. Ini adalah kali pertama aku mendapati buku yang isinya penuh dengan diriku. Ternyata ini bukan diary, melainkan sebuah scrapbook.

Sejak kapan kau gemar mengambil fotoku?

Sejak kapan kau mengamati diriku bahkan hingga detail terkecil sekalipun?

Sejak kapan kau mulai menulis puisi tentang diriku?

Astaga, Song Jichan. Kau pasti menyukaiku setengah mati, ya?

.

Hampir setiap hari, aku berkunjung ke rumahmu melalui pintu kamarmu. Kau tahu? Seiring berjalannya waktu, perumahan kita berkembang dengan pesat dan kini sudah cukup ramai. Aku jadi tidak bisa masuk ke rumahmu lewat pintu depan karena khawatir akan ada tetangga yang mencurigaiku sebagai pencuri.

Hmm … sebenarnya aku tidak dapat sepenuhnya menyalahkan mereka, karena bisa dikatakan aku memang ‘mencuri suasana’ rumahmu. Membaca buku-bukumu tanpa izin sampai lupa waktu, memakai alat tulismu untuk mengerjakan tugas, memainkan bonekamu saat aku benar-benar merasa bosan. Selain itu, aku juga sering mengamat-amati bagian lain dari rumahmu dan tanpa izin memasuki ruang lukis ayahmu, melihat-lihat lukisan indah yang beliau hasilkan, lantas tanpa izin meniru lukisan itu di buku gambarku.

Tahun demi tahun berlalu dan aku sudah duduk di bangku SMA ketika aku mengurung diri di dalam rumahmu seharian penuh. Duduk di sudut kamarmu sembari melipat kaki, membiarkan air mataku yang bahkan belum pernah sekalipun kaulihat menetes tanpa berusaha menghapusnya.

Maaf, rumahmu kujadikan tempat untuk melarikan diri dari masalahku. Tidak masalah, bukan? Aku hanya mencari tempat untuk berdiam diri dan menjernihkan pikiranku. Dan setelah hatiku lebih tenang, aku akan melangkah keluar dari rumahmu dengan sebuah senyum di wajah; seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi.

Aku tidak menyangka masa remaja akan sekejam ini, Jichan-a. Musuh ada di mana-mana, bahkan sahabatmu sendiri bisa jadi salah satu di antaranya. Tidak ada yang bisa kaupercaya selain Tuhan. Dan jika aku harus menaruh kepercayaan pada seseorang, bolehkah aku percaya … padamu? Pada janjimu untuk tidak melupakanku? Cukup satu kali saja kau mengingkari janjimu ketika kau tidak menemuiku saat itu. Aku benar-benar akan membencimu jika kau tidak mengingatku.

Ah, aku tidak serius. Bagaimana mungkin aku bisa membencimu?

Sejujurnya, aku sangat merindukanmu, Song Jichan.

.

.

.

-17 years later-

“Orang Korea Selatan?”

Aku sontak menoleh ke kananku, lantas mendapati seorang pemuda yang usianya mungkin beberapa tahun di bawahku tengah tersenyum padaku. “Oh? Bukan,” jawabku singkat. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, masih sedikit bingung tentang di mana posisiku sekarang, karena ini jelas-jelas bukan di kamarku, di kelas, maupun di rumahmu. Dan tidak mungkin ada orang asing yang sudi duduk manis di sampingku sembari menungguku bangun tidur hanya untuk bertanya apakah aku warga Korea Selatan, jika saat ini aku sedang berada di rumah.

“Kau tidur hampir empat jam. Perjalanan kita masih cukup jauh untuk tiba di Seoul,” kata pemuda itu lagi.

Oh, iya. Aku ada di dalam pesawat. Menuju Seoul, untuk menemuimu. Tanpa kusadari, bibirku melengkung ke atas. Membayangkanku bertemu denganmu setelah tujuh belas tahun kita terpisah, mengira-ngira bagaimana parasmu setelah beranjak dewasa, mempersiapkan bahan obrolan –apapun yang setahuku kausuka— agar kita tidak merasa canggung.

“Wah, lihat! Kau cengar-cengir sendiri. Mau liburan selama tiga bulan, ya?” celetuk –lagi-lagi— sang pemuda. Aku kembali menatapnya, diam-diam mengamati wajahnya yang sama sekali tidak mencerminkan ras orang Amerika. Aku yakin ia orang Asia, kendati Bahasa Inggrisnya patut diacungi jempol.

Aku menggeleng sekilas. “Bukan,” jawabku singkat. Ada sedikit rasa bersalah ketika kulihat wajah kecewa si pemuda; mungkin ia mengharapkan konversasi yang lebih menarik untuk menghilangkan rasa bosan selama di pesawat.

Namun, sejurus kemudian ia kembali tersenyum cerah. “Mau bercerita sedikit soal hidupmu? Namaku Kunpimook Bhuwakul, omong-omong. Tapi kau cukup memanggilku Bambam,” ucapnya seraya mengulurkan tangan kurusnya padaku.

Aku menyalaminya. “Mark Tuan. Dari California,” ucapku.

“Ah, kalau aku orang Thailand. Dan aku hampir menyelesaikan libur panjangku yang menyenangkan. Setelah ini, aku akan menghabiskan seminggu terakhir masa liburanku di Korea. Doakan aku sukses, ya! Kau tahu? Ibuku tidak akan menerimaku kembali ke rumah sebelum aku mendapatkan tanda tangan dari Rain.” Bambam mengeluarkan kertas kecil dari saku mantelnya yang menurutku adalah sebuah tiket fanmeeting. Aku pun tertawa kecil menanggapinya.

Omong-omong, tadi Bambam menyuruhku untuk bercerita sedikit soal hidupku, bukan?

“Kalau aku,” ucapku pelan. Membuat Bambam tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya; dalam hati pasti ia puas berhasil membuatku bicara. “Aku kembali ke Seoul untuk menemui seseorang,” lanjutku.

“Kekasihmu? Cinta pertama?” tebak Bambam. Masih jauh dari kata ‘dekat’ atau ‘akrab’ untuk menggambarkan hubungan kami berdua, namun aku punya firasat kuat jika ia gemar menonton drama atau sinetron; mungkin yang dibintangi oleh Rain.

Aku mengangguk. “Kira-kira sudah tujuh belas tahun kami berpisah.”

Aku menghela nafas sejenak, menimang-nimang apakah aku harus menceritakan semua tentang dirimu pada pemuda norak berlabel Bambam yang tengah menatapku dengan mata berbinar ini?

“Lanjutkan, Mark. Lalu bagaimana kau bisa menemukannya lagi? Tujuh belas tahun tidak bisa dikatakan waktu yang singkat.”

Aku tersenyum kecil. “Aku … menemukan website café miliknya.”

Woah, keren! Sepertinya kau benar-benar mencarinya selama ini. Pasti kau sangat merindukannya selama kalian berpisah.”

“Aku terlalu merindukannya hingga rasanya seperti mau mati.”

.

Ingat soal janji dalam suratmu tujuh belas tahun lalu? Bahwa kau akan selalu mengingatku? Bahkan kau juga menyuruhku untuk selalu mengingatmu.

Kau pernah melanggar janjimu sekali, ketika kau berkata akan menemuiku untuk merayakan ulang tahunku sebelum benar-benar pergi ke Jepang. Aku tidak masalah dengan hal itu, karena aku bukan tipikal lelaki yang suka menuntut. Itu tidak ada gunanya, sungguh, karena aku tidak ingin merusak hubungan kita hanya karena masalah sepele. Lagipula itu bukan salahmu sepenuhnya, karena kondisi lah yang mengharuskanmu untuk melanggar janji.

Namun aku benar-benar tidak menyangka kau akan melakukannya kembali; melanggar janji. Dan lagi-lagi, aku tidak bisa menyalahkanmu, karena kondisi lah yang menyebabkan semua ini harus terjadi. Mungkin juga bukan kondisi, melainkan –aku tidak percaya akan mengatakan ini— takdir.

Selama ini, ada satu pertanyaan dalam benakku yang hingga sekarang belum mampu kujawab; “Mengapa kita harus dipertemukan dalam waktu singkat, kemudian dipisahkan dalam waktu yang sangat lama oleh Tuhan?”

Bisakah kau menjawabnya untukku?

Ah, aku tidak akan memaksamu. Jangan berfikir terlalu keras, Jichan-a.

Sebenarnya, setelah aku melihatmu kembali hari ini, ada dua pertanyaan baru yang muncul di benakku; “Mengapa keadaan selalu memaksamu untuk mengingkari janji yang terlanjur kau buat?” dan “Mengapa penantianku selama belasan tahun tidak berbuah manis?”

Tidak. Itu semua bukan pertanyaan untukmu, jadi bukan kau yang harus menjawab.

“Mark Tuan-ssi?” Suara nyaringmu seketika menyadarkanku dari lamunan.

Aku mendongak, menatap lurus-lurus ke manikmu sembari berusaha keras untuk tersenyum. “Ne,” sahutku. Demi apapun, mendengarmu berbicara formal padaku terasa lebih menyakitkan daripada mendengar umpatan para gangster di gang belakang sekolah tiap kali aku lewat di sana; dulu sekali, mungkin saat SMP.

“Anda ingin bertemu dengan saya? Ada perlu apa?” tanyamu sembari tersenyum ramah, seakan-akan aku ini partner bisnismu atau apa. Well, melihatmu dengan setelan stylish dan mengingat kita bertemu di tempat kerjamu … pasti kau benar-benar berfikir seperti itu.

Seorang pelayan datang sebelum aku sempat menjawab pertanyaanmu, meletakkan dua cangkir latte di meja. Lantas dengan senyum di wajahnya, pelayan wanita itu berujar dengan pelan kepadamu; yang sayangnya masih sangat mampu untuk kudengar. “Tunangan Anda baru saja menelepon, katanya ia akan memberi Anda sebuah kejutan.” Si pelayan terkikik, begitu pula kau.

“Terimakasih sudah membocorkannya padaku, Hyejin-ssi,” ucapmu masih dengan senyum yang mengembang.

Sedangkan aku? Hanya terdiam di tempat setelah menyadari ada sebuah cincin melingkar dengan indah di jari manismu.

Bukan. Itu bukan cincin yang kau buat dari ranting pohon dua dekade silam, ketika kita tengah bermain drama yang mengisahkan prosesi pernikahan; di mana aku yang jadi mempelai pria dan kau yang jadi mempelai wanita.

Itu cincin lain, yang mungkin saja kau dapatkan dari lelaki lain yang kini menyandang status sebagai tunanganmu.

Aku tersenyum kecil, menyadari kesalahanku. Seharusnya, dulu aku lah yang memberimu cincin, lantas berkata bahwa suatu hari nanti kau harus menikah denganku dan bukan dengan lelaki lain. Sayangnya, aku terlalu kaku saat itu.

“Oh, sampai di mana kita tadi?” Kau menepuk dahimu seraya tertawa kecil; mungkin masih terlalu bahagia lantaran tahu bahwa sebentar lagi kau akan mendapat kejutan.

“Kau … tidak ingat aku?”

Dapat kulihat ekspresimu berubah. Alismu bertautan; mungkin berusaha mengingat-ingat.

Aku menghela nafas panjang, tahu bahwa ini tidak ada gunanya. Seharusnya, jika kau menepati janjimu, maka sejak awal kau melihatku pun kau dapat langsung mengenaliku dengan mudah. Apalagi setelah mengetahui namaku.

Ng, Mark Tuan-ssi … Maaf, apakah kita pernah saling mengenal di masa lalu? Masalahnya, aku mengalami kecelakaan beberapa tahun silam dan kehilangan ingatan.”

Hening sejenak sebelum akhirnya aku tertawa sarkastis, membuatmu semakin menatapku dengan heran. Aku merogoh saku mantelku, lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi sepasang cincin.

“’Dua puluh tahun lagi, berjanjilah untuk melamarku!’”

“A-apa maksudmu, Mark Tuan-ssi?” tanyamu yang semakin bingung setelah melihat isi dari kotak tersebut.

Derap langkah seseorang menyapa indra pendengaranku. Aku menoleh, lantas mendapati seorang lelaki tengah berjalan ke arah kita dengan sebuket bunga di genggamannya. “Woah, lihat betapa romantisnya tunanganmu! Aku benar-benar bersyukur ia bukan lelaki yang kaku sepertiku,” ucapku bersemangat.

Tetapi kau seakan tidak peduli. Aku bangkit berdiri, namun tanganmu menahanku. “Jelaskan padaku, Mark-ssi! Apa maksud dari kalimatmu barusan? Dan apa maksudnya cincin ini?”

Aku tersenyum kecil. “Yang kukatakan tadi adalah yang kaukatakan dua puluh tahun lalu padaku. Dan cincin itu … kau yang memintanya. Jadi itu milikmu sekarang.”

Kulepaskan tanganmu, lantas melangkah keluar dari café. Aku tidak peduli kau akan menganggapku sebagai orang gila yang salah masuk café atau apa. Menceritakan segalanya padamu pun tidak ada gunanya, yang ada hanya akan merusak masa depanmu yang sudah tertata dengan begitu manis dengan lelaki tadi.

Baiklah. Aku akui aku yang kalah.

Aku terlalu bodoh, percaya dengan kata-kata seorang gadis kecil yang bahkan belum genap berusia sepuluh tahun kala itu. Bertahun-tahun memikirkan dirimu yang bahkan tidak mengingatku sama sekali.

Kau … yang bahkan tidak ingat pernah memiliki sebuah janji.

.

.

Tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Hati ini masih menyimpan semua rasaku untukmu. 

.

Jangan lupa bahagia, Song Jichan.

.

.

-The End-

 

A/N :

[Fyi aja, Song Jichan nama Korea saya. Habisnya bingung ngasih nama siapa T~T]

Oke, ini jadi kayak ceritanya ‘My Love Eundong’. Ada quote yang aku ambil dari drama itu juga, sih, hehe.

Sorry for bad story ;AAA; aku emang gak pinter bikin oneshot dan ceritanya pasti jadi aneh. Maaf juga kalo ada yg bingung bacanya. Dan makasih banyak buat Kak Neys atas prompt-nya ^^ maaf bgt hasilnya jadi jelek gini hwhw ><

Makasih buat semua yg udh baca sampe akhir! Jangan lupa tinggalin jejak, ya

~Laraseu~

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s