[Song For New Year] Sepenggal Kisah Tentang Jine


Sepenggal Kisah Tentang Jine

Sepenggal Kisah Tentang Jine

A ficlet by nokaav3896

Starring [iKON’s] Kim Jinhwan and [OC]

It’s a sad romance and every one can read because it’s labeled as General

OCs and plot are mine. Members belong to you, iKONIC!

©nokaav3896 – 2015

Prompt:

“Tahun baru tiba dan aku hanya dapat menyimpan duka.” – Juneeumi 

Note: Jine adalah panggilan sayang tokoh ‘aku’ untuk Kim Jinhwan.

.

31 Desember 2010 adalah pertama kalinya kita bertemu, Jine. Tinggimu yang nggak seberapa menyulitkanmu untuk bergerak diantara ratusan orang yang berkumpul untuk menyaksikan pesta kembang api. Terpisah dari Kim Cheonsa –adik perempuanmu yang sepuluh sentimeter lebih tinggi–  kamu tersesat. Lucu. Bukannya mengambil handphone dan mengirim pesan kepada gadis manis itu, kamu malah menghampiri penjual potato twister, membeli satu yang diberi bumbu sapi panggang, dan memakannya dalam diam di belakang keramaian sembari menikmati warna-warni kembang api yang bertaburan di langit Seoul.

Saat itulah aku datang dengan Chanwoo yang merengek minta dibelikan potato twister sepertimu. Sambil menunggu dia mendapatkannya, aku memilih duduk sekitar dua meter di kananmu. Satu menit kemudian kita berkenalan dan larut dalam obrolan tentang adik-adik nakal yang menyulitkan sampai pesta kembang api berakhir. Pukul satu lewat dua puluh menit, Kim Cheonsa datang dan Chanwoo adalah orang pertama yang mengenalinya. Mereka teman sekelas di SMA Seungri yang membuat kita semakin mudah bertemu.

.

31 Desember 2011 kita menghabiskan malam tahun baru di tempat yang sama seperti tahun lalu. Tanpa Cheonsa dan Chanwoo –tentu saja, karena kita sedang berkencan. Itu adalah bulan ketiga setelah resmi menjadi sepasang kekasih. Malam itu aku mendapatkan ciuman pertamaku, di bawah taburan kembang api, tepat saat pergantian tahun. Manis sekali, Jine. Terima kasih karena kamu benar-benar romantis. Harus kuakui, aku sayang padamu.

.

31 Desember 2012 dan aku masih berstatus sebagai kekasihmu. Sebuah pencapaian baru, jujur saja. Dengan yang sebelumnya, aku hanya bertahan enam bulan paling lama. Nggak ada satupun dari mereka yang mau bersabar dan memahamiku. Kamu yang terbaik, Jine. Terima kasih.

Sayangnya, tahun baru kali ini kita nggak merayakannya bersama-sama. Kamu hanya meneleponku lewat aplikasi video call dengan latar belakang kemegahan London Eye. Asik ya, Jine, bisa merayakan tahun baru disana? Kamu melempar sebuah janji malam itu. Sebuah janji untuk merayakan tahun baru bersama di Inggris suatu hari nanti setelah kita menikah. Ha! Kamu sudah memikirkan soal itu? Menikah denganku? Kedengarannya indah…

Oh ya, Jine. Ada yang lucu. Kamu tahu ‘kan kalau Korea Selatan itu zona waktunya GMT+9? Kamu sadar ‘kan waktu meneleponku kalau disini sudah nyaris siang? Atau jangan-jangan kamu nggak tahu? Ah, kamu pasti tahu. Kamu ‘kan nggak bodoh, Jine. Hehehe.

.

31 Desember 2013, Jine. Lagi-lagi kita menghabiskan malam tahun baru di tempat terpisah. Meski sama-sama di Seoul, aku harus menjaga Chanwoo yang tiba-tiba jatuh sakit sementara Ayah dan Ibu berada di Belgia untuk perjalanan bisnis. Kamu nggak bisa ikut menemani Chanwoo karena harus mengawasi kencan tahun baru Kim Cheonsa ‘kan? Hahaha. Rasanya aku ingin tertawa saat mendengar itu, Jine. Cheonsa sudah besar. 19 tahun, lho. Kenapa kamu mau repot-repot mengawasinya? Dia sudah tahu mana yang boleh dan mana yang nggak boleh dilakukan. Ah, tapi aku bangga sama kamu, Jine. Kamu nggak melepas begitu saja tanggung jawab sebagai seorang kakak. Cheonsa beruntung punya kakak sepertimu, dan aku beruntung punya kekasih sepertimu.

Jine, apa boleh kalau kukatakan lagi aku mencintaimu? Ya? Selamat tahun baru, Kim Jinhwan. Aku mencintaimu.

.

31 Desember 2014. Akhirnya, Jine. Setelah dua tahun berturut-turut melewatkan malam tahun baru secara terpisah, kita kencan tahun baru di Taman Hangang. Dingin, sih. Tapi aku bisa menggunakannya sebagai kesempatan untuk merapatkan diri padamu. Kamu selalu hangat, Jine, dan aku suka.

Berbeda dengan 31 Desember 2011 dimana aku mendapatkan ciuman pertama, kali ini aku mendapatkan cincin pertamaku. Percayalah, tangisanku malam itu adalah sebuah tangisan bahagia. Aku nggak pernah membayangkan kamu akan berlutut sembari memasangkan cincin emas itu di jari manisku secepat ini. Lamaranmu manis, Jine. Aku akan selalu mengingat hari itu. Janji, deh.

.

24 Desember 2015. Itu seminggu yang lalu ya?

Aku senang melihat senyum manis itu mengembang bersamaan dengan matamu yang semakin indah dikala menyipit. Kamu tampan, Jine. Sudahkah kubilang itu? Oh ya, sebenarnya, waktu kita mengepas pakaian pengantin hari itu, aku nyaris pingsan. Lututku lemas karena kamu begitu tampan. Hahaha. Jangan bilang aku terlalu cheesy. Aku sudah tahu, kok.

Dua jam kemudian, aku benar-benar pingsan. Kamu nggak tahu itu ‘kan? Aku pingsan begitu suara benturan dua bumper mobil menyapa telingaku. Serpihan kaca bertebaran dimana-mana. Beberapa diantaranya menggores bagian tubuhku, Jine. Mulai dari jidat, pipi, lengan, sampai kaki. Sakit adalah hal terakhir yang bisa kurasakan sebelum benar-benar pingsan.

Aku sadar keesokan harinya, dan kembali pingsan saat Chanwoo bilang padaku: jasadmu sudah dimakamkan.

.

31 Desember 2015.

Five minutes left before 2016. Kamu sedang apa disana, Jine? 13 jam yang lalu adalah upacara pernikahan kita. Aku masih mengenakan gaunnya, lho. Cantik, Jine. Saat aku mematut diri di depan kaca, aku bisa mendengar suaramu beberapa hari yang lalu –saat kamu bilang aku cantik. Uh, lihat. Pipiku saja masih merona meski suaramu hanya ada dalam ingatanku, lho.

Aku selalu suka pada semua barang yang kamu pilih untukku. Gaun selutut berlengan panjang dengan warna dark grey ini adalah yang terbaik sejauh ini. Aku enggan melepasnya. Bolehkah kupakai sampai pagi menjelang, Jine? Boleh ya? Setidaknya–

Nuna, sebentar lagi kembang api dari pusat kota akan terlihat dari balkon kamarmu. Kamu nggak mau melihatnya?”

Suara lirih Chanwoo membuatku berhenti mengingat segala macam perayaan tahun baru denganmu. Chanwoo benar. Sebentar lagi kembang api dari pusat kota akan terlihat dari balkon kamar. Tapi aku nggak lagi menyukai kembang api. Aku nggak lagi menyukai tahun baru. Aku hanya menyukaimu, Jine.

Nuna…

“Ayo, Chan. Kita nonton kembang api dari balkon.” Ujarku sembari bangkit dari kursi rias dan menghampiri Chanwoo yang juga mengenakan jas pilihanmu. Jine, dia tampan! Astaga, aku nyaris mengenalinya sebagai dirimu kalau saja aku nggak ingat kamu lebih pendek darinya.

BOOM!

Kembang api itu menghiasi langit tepat saat aku menyentuh pagar balkon. Akhirnya, Jine. 2016 sudah datang menggantikan 2015 yang beberapa hari terakhir ini terasa cukup lama. Tahun baru tiba, Jine, sayangnya aku hanya dapat menyimpan duka. Karena apa? Karena tahun baru nggak akan pernah sama tanpamu.

Selamat tahun baru, Kim Jinhwan, sampai bertemu di kehidupan selanjutnya.

End.

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s