[Song For New Year] Reloaded


reloaded

 

“Hyung, Eomma dan… Appa terlihat tapi tak terasa ada”

“Kau tak pantas merasa kesepian.”

RELOADED

bubblecoffee97 present

An awesome poster by Puppyyeol Art

Oh Sehun, Oh Luhan and Choi Jiwoo’s characterization

|| FamilyGeneralVignette ||

|| Disclaimer ||

All of casts belong to God. Storyline is created by my absurd imagination that inspired by ettaeminho sunbae’s prompt and little bit theory of SFY music video.

For Plagiarist, just go away and be proud of yours.

Tahun baru, hari baru, semua baru, tapi aku tak ingin cintaku diperbaharui

“Kau di sini? Ku kira kau pergi bersama sekutumu.”

Tak perlu repot menoleh untuk sekedar melihat pelaku yang bertanya, Sehun sudah hapal betul si pemilik suara yang dikenalnya sepanjang hidup. Ia lebih suka memandang kerlap-kerlip cahaya gedung-gedung kota kelahirannya, Seoul, yang kini mengalahkan pancaran sinar penghias langit.

“Jongin ada di Jepang, Hyung.”

Luhan, ‘hyung’ yang Sehun maksud, turut serta duduk di sisi kanan adiknya dan ikut memandang luas tampilan Seoul di malam penuh binar cahaya buatan. Kalimat yang diajukannya tadi sebenarnya hanya sekedar pembuka, ia pun tahu soulmate adiknya itu selalu pergi berlibur bersama keluarganya terlebih saat libur akhir tahun seperti ini.

“Jadi, karena itu kau melamun di sini?”

“Memang apa lagi yang bisa dilakukan anak yang sedang sendirian?” sindir Sehun.

Yang lebih tua mengernyit, tak paham mengapa si bungsu berpikir dirinya sendirian ketika dengan jelas ada kakaknya di rumah, “Lalu kau pikir aku ini apa? Hantu?”

“Hantu meskipun tak terlihat, dia ada. Tapi Hyung, Eomma dan… Appa, kalian terlihat tapi tak terasa ada.”

Arah pandang Sehun masih tetap namun kosong seolah jiwanya tak berada di sana. Dan Luhan yang melihat hal itu tentu mengerti apa yang tengah Sehun pikirkan sekarang. Diperjelas dengan kalimat adiknya tadi, ia semakin yakin ke mana maksud ucapan sang adik.

Jika bukan karena kejadian setahun lalu Luhan tak tahu lagi. Sebab sejak saat itulah perlahan Sehun yang dikenal tak pernah bisa diam dan selalu membuat masalah berbalik arah menjadi Sehun yang pendiam. Bahkan beberapa bulan setelahnya, nilai si bungsu meningkat drastis. Luhan bangga, tentu saja, namun jauh dari itu ia sedih. Sedih karena tak sekali pun senyum terukir lagi di bibir adiknya.

“Tidak begitu, Sehun. Kau seharusnya mengerti, pekerjaan Eomma tidak seperti orang lain. Eomma tak bisa hanya memikirkan kita bahkan dirinya sendiri. Dan Appa… kau sendiri tahu kalau—” ucapan Luhan terhenti. Lidahnya seakan tercekat untuk melanjutkan kata-katanya sendiri yang tertelan ke dalam denyut menyakitkan itu lagi.

Sehun menoleh, “Kalau apa, Hyung? Kalau dia lebih bahagia dengan keluarga barunya?”

Usia Sehun baru empat belas tahun April lalu sedangkan Luhan empat tahun di atasnya. Tapi terkadang Luhan merasa adiknya mampu bersikap lebih tegar. Ketika keduanya harus menerima keputusan kedua orang tua mereka untuk tak lagi saling mengikat janji pernikahan, Luhan hanya bisa menangis sedangkan Sehun… Sehun sama sekali tak menangis, ia hanya diam tanpa ekspresi.

Hingga kemudian Luhan menyadari bahwa Sehun tak setegar yang ia kira. Oh Sehun tetaplah adik kecilnya dengan perasaan yang jauh lebih sensitif yang mampu ditutupinya dengan amat baik. Karena itu Luhan berusaha lebih kuat menerima keadaan demi sang adik. Disaat yang lain terluka, harus ada yang menyembuhkan luka.

“Istrinya akan melahirkan dua bulan lagi, dia lebih membutuhkan Appa.”

Bungsu keluarga Oh menghela nafas lalu kembali larut dalam pemikirannya, “Itulah kenapa aku kesepian. Orang dewasa selalu punya hal yang lebih penting.” Ia terkekeh setelahnya, menertawakan dirinya yang secara tidak langsung telah mengutarakan apa yang ia sembunyikan. Sementara selama ini ia selalu memilih diam dengan hati yang geram pada apa yang ia lihat.

Luhan tahu itu, ia dapat melihatnya dengan jelas. Namun Luhan juga tahu, ada hal lain yang Sehun lewatkan. Samar namun ada. Dan Sehun tak melihat itu dari perspektifnya. Bukan sengaja, hanya saja rasa kecewa yang begitu dalam terlalu melingkupinya. Menutupi arah pandangnya dari rasa lain yang semestinya terlihat.

“Sehun, apa kau tahu kisah tentang seekor paus yang kesepian?”

Hyung, jika kau ingin mendongeng, ini bukan saatnya dan aku sudah empat belas tahun.”

“Sayangnya ini bukan dongeng, Hun.” Luhan tetap bercerita meski Sehun tampak tak berniat mendengar, “Paus itu namanya Vincent, frekuensi suara yang ia punya berbeda dibanding paus lain pada umumnya. Karena itu ia tak ada satupun paus yang berteman dengannya lalu pada akhirnya dia kesepian. So, kau tak pantas merasa kesepian juga.”

“Kalau begitu aku dan paus itu bernasib sama, lalu kenapa aku tak pantas?”

Si sulung tersenyum sebelum berkata, “Hanya yang tak pernah bersyukur yang merasa kesepian saat disekitarnya ada banyak orang yang menyayangi dirinya. Kau jauh lebih beruntung daripada si paus.”

Tak sedikit pun rasa benci terlintas di hati Sehun meski kecewa menguasainya. Tentu tak satupun anak di dunia ini yang ingin melihat keluarganya terbagi dua entah apapun alasannya. Selama ini Sehun berpikir semua orang dewasa sama saja, mereka egois. Hanya memikirkan apa yang menurut mereka terbaik tanpa menyadari ada hati lain yang juga perlu mereka pikirkan. Orang dewasa hidup di dunia mereka sendiri. Itulah mengapa ia menganggap dirinya kesepian tanpa kasih sayang yang seharusnya ia dapat.

“Bagaimanapun aku, Appa sangat menyayangimu. Terlebih Eomma, dia menyayangimu lebih dari yang kau tahu, lebih dari siapapun di dunia ini.”

Eomma… menyayangiku.”

Sehun menerawang memori sewaktu dirinya baru delapan tahun, ia pernah menangis karena tak sengaja memecahkan guci kesayangan milik eomma yang belakangan Sehun ketahui hadiah terakhir dari harabeoji sebelum menyusul halmeoni di dunia sana. Tapi eomma hanya tersenyum maklum dan justru membuatkannya segelas cokelat hangat. Lalu ketika Sehun sepuluh tahun, ia pernah membuat semua orang marah karena menghilangkan kunci mobil appa padahal mereka akan pergi berlibur. Dan saat itu hanya sang ibu yang membelanya dan hanya menjewer telinganya sebagai hukuman.

Ketika ia memutuskan untuk tak berbicara lagi pada kedua orang tuanya setelah mereka berpisah pun ibunya tetap berusaha mengajaknya bicara meski sering kali gagal karena ia abaikan.

“Kau belum pernah mengunjungi Eomma di rumah sakit, kan? Bagaimana kalau kita ke sana?”

Mendengar ajakan Luhan, Sehun sedikit ragu untuk mengiyakannya, “Tapi sekarang hampir jam sebelas.”

“Bukan masalah, kajja!” Namun Sehun tahu sang hyung selalu punya cara meyakinkannya.

***

“Dia tidak mau tidur juga minum obat.”

“Benarkah? Kau tidak boleh seperti itu, Mina.”

Choi Jiwoo, wanita berseragam nyaris serba putih, mensejajari tingginya dengan gadis kecil yang duduk di kursi roda. Gadis itu terus memandangi pemandangan di luar melalui dinding kaca salah satu ujung lorong lantai tiga rumah sakit tempatnya dirawat. Bibirnya mengerucut, tanda suasana hatinya sedang tidak baik.

“Aku tidak mau tidul! Aku mau lihat kembang api!” jarinya mengetuk-ngetuk kaca yang membatasinya dengan dunia luar.

Jiwoo tersenyum, suara cadel anak dihadapannya ini selalu mengingatkannya pada seorang anak yang lain. Yang juga sangat senang bermain dan berlari kesana kemari sesuka hatinya, bukan terkurung di antara tembok putih dengan selang infus yang membatasi pergerakan.

“Mina, apa kau tahu? Imo punya seorang anak yang sifatnya sangat mirip denganmu.”

Gadis berusia enam tahun tersebut mulai tertarik, “Apa dia juga pelempuan? Apa dia cantik thepelti-ku?”

Sang perawat tertawa atas pertanyaan polos itu, “Dia anak laki-laki dan dia sangat tampan seperti Appa-nya,” yang kemudian berganti senyum sedih.

Manik Mina berbinar, semakin antusias untuk bertanya lebih banyak tentang anak yang mirip dengannya, “Imo, thiapa namanya? Celitakan apa thaja tentangnya.”

“Tentu, Imo akan menceritakannya untukmu.”

Sementara tak jauh dari ujung lorong itu, berdiri dua sosok yang tengah memperhatikan interaksi si perawat dan pasiennya dalam diam.

“Nama anak Imo, Sehun. Sekarang dia empat belas tahun tapi tingginya sudah menyamai hyung-nya. Dia paling tidak bisa diam dan sangat suka bermain bersama hyung dan sahabatnya, Jongin, tapi percayalah dia mudah menangis apalagi jika kalah dari hyung-nya.”

Meski jarak yang agak jauh, Sehun masih bisa mendengarnya dengan jelas. Entah mengapa ia tersenyum, mungkin mengingat bagaimana dirinya di masa lalu cukup menghangatkan hatinya.

“Hatinya sangat mudah tersentuh. Jadi, sebenarnya dia mudah menangis bukan karena cengeng.”

Bahkan aku seperti tak merasakan lagi hatiku.

“Meskipun ia terlihat seperti anak yang nakal karena selalu membuat masalah, Imo selalu yakin bahwa dia adalah anak baik. Dia hanya tidak tahu bagaimana mengekspresikan dirinya dengan benar.”

Tidak, Eomma. Aku bukan anak baik, aku jauh lebih buruk dari yang orang lain pikir.

“Itu sebabnya Imo sangat menyayanginya.”

Aku bahkan terlalu buta untuk melihat itu.

Mulut Mina terbuka seolah tengah mengatakan ‘whoaa’, kagum atas penuturan sederhana yang berkesan bagi gadis kecil sepertinya. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan seseorang yang bernama ‘Sehun’, Mina yakin ia akan menyukainya jika bertemu nanti. Ia jadi tidak sabar menanti saat itu.

Imo, apa aku boleh bertemu dengan Thehun Oppa?”

Jiwoo bertingkah seolah tengah berpikir lalu menjawab, “Boleh, asalkan Mina mau minum obat dan pergi tidur.”

Lantas sang pasien anak tersebut mengangguk semangat, juga berkata akan melakukan yang suster imo pinta dan berjanji untuk segera sembuh agar dapat bertemu dengan oppa yang dikaguminya dengan kondisi lebih baik.

Perawat yang usianya hampir menginjak angka empat puluh berniat ikut mengantar Mina serta eomma-nya kembali ke kamar rawat jika saja ia tak melihat Luhan yang mungkin sudah memperhatikannya sedari tadi. Langkahnya ia bawa mendekat sebelum tubuhnya terasa kaku begitu melihat sosok lain di belakang anak sulungnya lengkap dengan seulas senyum.

Ia tertegun, terlalu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebab ia sendiri lupa kapan terakhir kali melihat senyum si putra bungsu. Terlebih senyum itu ditujukan langsung padanya.

Eomma…”

Suara itu, suara yang amat dirindukannya setahun ini kembali terdengar. Dan setelah setahun diliputi rasa bersalah yang mendalam, ia merasakan lagi pelukan hangat sang anak. Andai ini sebuah mimpi, maka ini akan menjadi mimpi terindah bagi seorang Choi Jiwoo.

Eomma, aku minta maaf—”

“Kau tak perlu meminta maaf, Sehun. Semestinya Eomma yang meminta maaf karena tak bisa memberikan kebahagian seperti yang kau inginkan,” sela Jiwoo tanpa melepas rengkuhannya.

Sebelum Luhan membantunya untuk membuka mata dan melihat dari sisi yang berbeda, Sehun memang berpikir seperti yang eomma katakan. Namun sekarang ia sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang bersedih dan terluka.

Yang ia lakukan selama ini hanya menyalahkan keadaan serta kedua orang tuanya tanpa tahu jika sesungguhnya mereka pun terluka. Bahkan mungkin eomma-lah yang paling terluka di sini mengingat bagaimana sikapnya yang terus mengabaikan sang ibu dalam kurun waktu yang tak sebentar.

Eomma tidak salah, aku-nya saja yang terlalu egois. Tidak seharusnya aku menyalahkan Eomma atas apa yang terjadi. Aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi.”

Sehun mengeratkan pelukannya, menyebabkan setitik cairan bening mulai turun dari netra Jiwoo. Dalam tiap doanya, ia selalu berharap agar kedua anaknya selalu bahagia. Tak pernah sekalipun ia meminta agar putranya, terkhusus Sehun, membalas apa yang ia berikan. Tak mengapa Sehun membencinya karena tidak peduli apa yang telah ataupun akan terjadi, ia akan tetap selalu menyayangi dua buah hatinya.

Dan Sehun yang kembali seperti dulu adalah hal paling tak terduga yang pernah ia dapatkan dalam tiga puluh sembilan tahun hidupnya.

“Kalian melupakanku?”

Intrupsi Luhan tak elak menciptakan tawa renyah kedua insan yang sedang dalam suasana haru.

Hyung, mau ku peluk juga?”

Ekspresi Luhan berubah menjadi datar mendengar tawaran adiknya, “Tidak, aku ingin memeluk Eomma bukan kau.”

“Sudah, sudah. Eomma bisa memeluk kalian berdua.”

Wanita bermarga Choi itu pun membawa serta Luhan dalam pelukannya. Ia memeluk keduanya begitu erat, seolah takut kehilangan hadiah terbaik yang Tuhan berikan.

“Whoaa~ Eomma, Hyung, coba lihat itu!”

Luhan dan Jiwoo hampir kehilangan keseimbangan ketika Sehun secara tiba-tiba melepaskan pelukan mereka dan berlari ke ujung lorong. Sehun menempelkan wajahnya pada dinding kaca, menatap kagum pada kembang api warna-warni yang melukis langit malam.

“Kau yakin usiamu sudah empat belas? Mana ada anak umur empat belas tahun yang masih suka kembang api.”

Sehun mendelik atas sindiran sang kakak yang tiba-tiba saja ada disampingnya, “Memang apa salahnya? Lagi pula tidak setiap hari kita bisa melihatnya, kan? Huaa~ yang itu keren sekali! Ah, SELAMAT TAHUN BARU!”

“Hei, hei, kecilkan suaramu! Ini di rumah sakit tahu!”

“Aw! Hyung, jangan menjewer telingaku! Sakit!”

Sementara kakak beradik itu terus bertengkar, Choi Jiwoo hanya tertawa melihat kelakuan anak-anaknya, tidak berniat melerai mereka. Well, tiap kamar di lantai ini dirancang kedap suara agar para pasien dapat beristirahat dengan baik dan tak merasa terganggu dengan suara yang berasal dari luar kamar.

***

Jumlah tahun yang terlewati bertambah satu dan mereka menutup tahun ini dengan manis walau tanpa perayaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi toh bagi ketiganya, berkumpul bersama dalam balutan kasih sayang setelah sekian lama jauh lebih berarti daripada pesta yang jika dipikir kembali sebenarnya tak begitu istimewa dibanding kebersamaan keluarga.

Meski mungkin di masa yang akan datang akan banyak ujian yang menerpa, baik Luhan, Sehun maupun Jiwoo berjanji dalam hati masing-masing untuk memulai lagi semuanya dari awal di hari baru yang menanti untuk diukir kisah baru pula. Dan meski kini keluarga mereka tak seutuh dahulu, rasa cinta serta kasih sayang yang tertanam di lubuk masing-masing pada tiap anggota keluarga tetap utuh, bahkan semakin menguat seiring waktu yang terus berjalan.

Karena mereka telah belajar untuk mensyukuri segala yang mereka miliki selagi masih di sisi.

Tahun baru, hari baru, semua baru, tapi aku tak ingin cintaku diperbaharui

.
.
.
.
END

Love is universe

Lots of thanks for everyone who have been read my fanfic ♥♥♥

And special thanks pada Kak Liyya  yang telah memberi beberapa saran untuk ff ini ♥♥♥

Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan pada ‘Reloaded’, saran dan kritik lainnya sangat dinanti. 😉

But I wish you enjoy this new year present 😀

Happy new year 2016 and always be grateful! ^^

Advertisements

One thought on “[Song For New Year] Reloaded

  1. Ow ow ow ini mengharukannn. Aku sampe nangissss ini nice ficc pokoknya. Aku udh suka kalo HunHan disatuin jadi adek-kakakkk ah kangenn HunHan momentt T.T dan disini ada tante Choi Jiwooo tambah seneng aja ahahah 😀 aku suka ffnya. Derita anak broken home ya gini ya sabar. Tapi akhirannya lucu liat interaksii hunhan><

    Keep writing kak. Jangan lupa mampir ke ff ku https://fanfictionloverz.wordpress.com/2016/01/03/song-for-new-year-never-change/

    Kalo mampir jangan lupa komen^^

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s