Of Christmas Eve, Blizzard, and You


Special Winter

Songwriter: twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Artist: Park Chanyeol feat Olivia Kim (OC) | Duration: 2179 wc | Genre: Romance | PG 13

Liv memang tidak bisa didekati saat di kantor, namun bukan berarti ia tak akan meleleh dengan pesona Park Chanyeol. Hanya butuh badai salju dan sedikit ‘kebetulan’.

10.35 P.M

Olivia Kim atau lebih suka dipanggil Liv, tidak memiliki pilihan lain selain menunggu badai salju berhenti. Jari-jarinya menelusuri cangkir yang berisi coffee latte favoritnya sembari sesekali menggelontorkan isinya ke bibir. Kegiatan yang ia lakukan saat ini bukanlah kebiasaan, jika pada hari normal Liv bakal menolak mentah-mentah nongkrong di gerai kopi apalagi salju sedang menyelimuti seantero kota―plus ia amat lelah karena  baru saja selesai rapat seharian penuh. Parahnya sekarang malam Natal, kantornya malah ngotot mengadakan pertemuan mendadak, dan (sekali lagi) dirinya terjebak badai salju. ‘Yeah, andai saja derai salju tidak begitu lebat, pasti aku sudah sampai apartemen dan bergelung di selimutku yang hangat’―batin milik wanita berusia 23 tahun itu sedang mengomel. ‘Oh ya, ini ‘kan malam Natal! Seharusnya Tuhan memberikan kemurahannya padaku, barang sedikit saja’―lanjut, Liv saat memindai pohon Natal besar yang tertutup salju di tengah Alun-alun. Walaupun demikian, dalam hatinya masih tersirat rasa syukur, paling tidak ia masih mendapatkan tempat duduk di gerai kopi dekat kantor yang lumayan sesak. Tempat duduk di sudut ruangan―bersebelahan dengan kaca tembus pandang―menyuguhkan  pusat kota yang terselimuti salju. Apa jadinya jika tadi pegawai gerai kopi mengatakan, kalau tempat duduk sudah penuh dan mereka tidak bisa menerima tamu lagi?

Liv mungkin sudah luntang-lantung di halte bus, kedinginan, dan menunggu datangnya kotak besi―yang punya roda―bisa berjalan, merayap di hantam badai salju―sendirian. Andai saja, ia punya mobil mungkin dirinya bisa mengumpulkan nyali dan menembus badai. Kenyataannya, Liv cuma bisa gigit jari. Ia hanya manusia rantau yang datang ke Seoul, mengais serta berusaha menghemat uang itu yang perlu ia lakukan, bukannya berlagak sok kaya―menyetir mobil kemana-mana―ugh, Liv pun menghembuskan napas jengah ketika menyadari dirinya tidak bisa mengemudi. Aku memang tak butuh mobil, bukan untuk menunjukan betapa sederhana diriku, tetapi karena aku memang tolol―sepuluh kali tidak lulus ujian mengemudi. Benaknya saling tumpuk-menumpuk dan menyindiri. Rasanya Liv ingin berteriak keras, menyuruh mereka diam.

Olivia memencet hidungnya yang memerah untuk meredakan nyeri di kepala. Perilaku konyol, sih. Namun, sudahlah, toh di sini tidak ada satu orang pun yang ia kenal. Liv bergerak-gerak gelisah di tempat duduk yang seharusnya ditempati dua orang, gerai kopi sedang penuh―pastinya Liv akan berbagi meja dengan orang asing, kalau ada satu pengunjung lagi yang datang―yeah apabila mereka punya nyali menghadapi paras cemberut Liv.

“Olivia Kim,” suara bariton yang tidak asing  menyebutkan nama Liv beserta marganya tepat dari arah samping.

Liv segera menelengkan kepala, menanggalkan kegiatan awalnya, memandangi jendela berembun. Si wanita berkemeja hitam dan bercelana bahan itu mendapati seorang pria jangkung berdiri tepat di hadapannya. Park Chanyeol, teman kantor Liv―pemiliki kubikel yang terletak beberapa meter dari miliknya.

“Hai,” Chanyeol kembali menyapa kali ini semakin keras dan cengirannya lebih lebar.

Liv menggelengkan kepala untuk menjernihkan akal sehat membuat surai kelabunya bergoyang ke kanan dan ke kiri. “Hai,” gumamnya, canggung. Liv memang berada satu divisi dengan si pria berparas rupawan, namun tak lantas menjadikan mereka akrab. Maksudnya, Chanyeol berada di posisi tinggi yang tidak masuk dalam ‘tim karyawan magang’ yang sesekali mendapatkan omelan tidak kompeten.

“Apa boleh aku duduk di sini? Tempat lain sudah penuh.” Permintaan Chanyeol, terdengar lembut di telinga Liv yang kedinginan.

Liv mengangguk singkat sebagai respons. Agaknya wanita itu terlalu pengecut untuk menggelontorkan cicitan lagi―suara Liv bergetar di akhir kalimatnya. Memalukan.

Tunggu! bukan tanpa alasan, kinerja tubuh Liv gugup setengah mati berhadapan dengan pria itu, sungguh. Soalnya, di kalangan para pegawai magang―Chanyeol paling sering menjadi topik perbincangan. Kata Sue―rekan Liv yang punya tubuh mungil dan suka melompat-lompat, Chanyeol itu serupa model sabun mandi, baunya harum, kendati Chanyeol berpakaian lengkap pria memikat itu seperti telanjang. ‘Dasar Sue saja, otaknya mesum. Chanyeol tidak kelihatan telanjang, tindak-tanduknya bahkan sangat sopan’―batin Liv mendengus.

Argumen Jisoo beda lagi, teman yang sering berkunjung ke meja Liv itu menyatakan bahwa Chanyeol salah memilh pekerjaan―paras rupawan dan tubuh atletisnya pas sekali untuk jadi model iklan, bukannya terpuruk menjadi tim promosi produk elektronik.

‘Chanyeol memang memikat, apalagi jika dilihat dari jarak sedekat ini.’ Giliran benak Liv yang mengutarakan pendapat.

“Apa ada yang salah dengan pakaianku?” tanya pria itu seketika membebaskan dirinya dari tatapan tajam dan menilai yang digencarkan Liv.

Liv mengerjapkan mata cepat, ganjil. Orang awam pun tahu, jika wanita itu seperti penguntit yang ketahuan. “Oh tidak, pakaianmu baik-baik saja. Sweter putih itu menyempurnakanmu. Kau terlihat, tampan―sangat tampan.” Oceh Liv, tanpa rambu-rambu. Seakan baru menyadari perkataannya wanita itu segera membekap mulut yang sudah terlanjur kelepasan.

“Terima kasih, Liv. Kau juga terlihat cantik, tapi agak tertutupi karena―cemberut.” Chanyeol menimpali, ia tertawa renyah―jantung Liv mendadak berlari kencang.

Liv pun hanya menatap Chanyeol sekilas kemudian mengecap kembali minumannya. Menyembunyikan rapat-rapat kegugupannya.

“Seharusnya, wajahmu tidak kusut seperti itu. Ini malam Natal―”

Helaan napas panjang Liv memotong perkataan si pria.

“Apa ada yang salah soal ucapanku barusan?” tanya Chanyeol, ia memainkan cangkir dengan telunjuk, mengikuti gerakan lawan bicaranya.

Sejenak Liv menatap paras Chanyeol yang entah bagaimana terlihat lucu, apalagi surainya agak basah―mungkin terkena buliran salju, lalu ia mulai menjawab. “Sebenarnya, malam ini tidak ada bedanya seperti malam yang lain. Kecuali kenyataan bahwa, aku harus rapat berjam-jam dan terjebak badai.” Kejujuran Liv dapat diacungi jempol.

“Maaf soal itu,” Chanyeol menguarkan penyesalannya. “Aku yang mengusulkan rapat karyawan magang agar kalian tidak kena marah lagi oleh Bos Besar.” Lanjut Chanyeol.

“Aku tidak keberatan mengenain gagasanmu itu. Aku keberatan soal terjebak di sini. Aku ingin pulang.” Liv berkata pilu, tidak biasanya wanita itu melakukan sesi curahan hati kepada orang yang belum ia kenal dekat.

“Kau kelihatan sedih. Apa ada janji makan malam atau semacamnya yang harus digagalkan karena badai ini?” tanya Chanyeol penasaran.

Liv melihat paras pria itu mengekspresikan raut menyelidik, namun juga jenaka. Lantas ia mengedikkan bahu. “Tidak, keluargaku di Busan dan―”

“Kekasihmu?” potong Chanyeol.

Liv tertegun sekilas mendengar kelakar pria itu. “Sayangnya, aku tidak punya pacar, tetapi ada yang menungguku di rumah.” Jawab Olivia.

Kini air muka Chanyeol kelihatan pucat atau itu cuma halusinasi Liv. Eum, efek cahaya, mungkin?

“Suami?” Chanyeol bersuara lagi.

Liv berlagak serius, ia mengamati lawan bicaranya lamat lalu berujar penuh teka-teki, “Hubungan kami tidak serius, hanya sekedar teman tidur. Dia sering menghangatkanku yang satunya suka sekali kupeluk―”

Chanyeol melotot, kaget. “―Ada berapa pria di hidupmu, Olivia?” Pria itu kembali menyambar, nadanya defensif kali ini.

Liv tertawa, kentara sekali sifat asli Olivia Kim yang sesungguhnya muncul. Sifat periang yang sengaja ditunjukkan Liv hanya kepada orang-orang terdekatnya. “Bukan pria,” kelakar Liv, menggantung kalimatnya.

Chanyeol mengetuk meja menggunakan jari-jarinya. “Lalu?” Ia kembali bersuara, tidak sabaran.

“Selimut dan gulingku, mereka temanku di ranjang. Aku menginginkan mereka berdua sekarang.” Jawab Liv, wanita itu menyaksikan mulut Chanyeol terbuka sangking terperangahnya―lucu, manis, tampan―membuat jantung Liv berdebar kencang.

“Demi Santa!” Seru Chanyeol keras. Sontak membuat beberapa pasang mata melirik ke arah mereka.

“Ssst, pelankan sedikit suaramu.”

“Oke, baiklah maaf. Aku sering kelepasan, apalagi jika lawan bicaraku sangat menarik.” Chanyeol berbisik, kepalanya condong ke arah Liv. Ia seperti memastikan bahwa Liv benar-benar mendengar suaranya.

Berkebalikkan dengan sikap Chanyeol, Liv justru membuang paras meronanya. Sekali lagi bukan tanpa alasan Liv salah tingkah terhadap pujian Chanyeol yang beberapa kali diungkapkan secara tersurat. Liv masih ingat betul celotehan kedua teman kantornya (Jisoo dan Sue) yang diutarakan ratusan kali. Mereka kompak menyatakan, ‘Senior kita, Park Chanyeol sering menatapmu diam-diam, Liv. Kami rasa dia menyukaimu.’ Refleks Liv memutar bola mata sebab sempat-sempatnya si benak mengingat ucapan konyol sahabat sekaligus rekannya itu. ‘Sudahlah, jika aku terus kegenitan seperti ini suasana justru akan semakin canggung’. Pikiran Liv mencoba untuk berpikir realistis membuat si wanita berlesung pipi itu menarik napas dalam-dalam.

“Seperti katamu ini malam Natal, kenapa kau berada di sini? Tidak merayakan bersama keluarga?” Liv bertanya basa-basi sekaligus benar-benar ingin tahu.

“Natalku ada di sini,” ujar Chanyeol kemudian tersenyum simpul dan meralat ucapannya. “Kami merayakan, tetapi keluargaku di London jadi aku sendirian sama sepertimu.” Lanjut pria itu.

Liv bergumam soal tanda ia mengerti perasaan Chanyeol. “Pasti gerai kopi ini tempat kesukaanmu, kau menerjang badai untuk ke mari.”

Chanyeol menggeleng, “Tidak juga.”

“Lalu?”

“Apa kita benar-benar akan mengangkat topik ini?”

Liv melejitkan bahu, “Entahlah, lebih baik terus mengobrol daripada diam. Waktu akan bergerak lebih cepat jika kita bercakap-cakap. Tapi, kalau kau tidak berkenan―”

“Sehun menghubungiku dua jam lalu. Ia mengabariku jika dirinya baru pulang kantor dan terjebak salju.” Chanyeol memutus perkataan Liv dan mulai bercerita.

“Sehun? Yang satu tim denganku? Kalian dekat, ternyata.” Ucap Liv cepat-cepat, ia tidak menyembunyikan keterkejutannya.

Chanyeol tersenyum simpul, pria itu menyugar surai sekilas, kemudian kembali fokus pada jawabannya. “Kami bersaudara, dia sepupuku.”

“Jadi, kau menjemputnya.” Liv menyimpulkan.

Pria itu tak lantas mengiyakan, ia menggaruk tengkuk pelan. Setelahnya, menyeruput kopi, selang tiga menit ia baru berucap. Mengulur waktu agar ia bisa menemukan tanggapan yang tepat atas pernyataan si gadis penyuka pai apel itu. “Tidak, aku jarang sekali membantunya, tetapi kali ini berbeda. Dia jika ka…” Chanyeol berdeham, menjernihkan suara. “Ini malam Natal, jadi aku harus bersikap baik.” Chanyeol melanjutkan perkataannya dengan kikuk.

Liv menggosokkan jari-jarinya sambil mengangguk paham. “Kau baik sekali, aku pernah membaca sebuah artikel seorang pria hanya akan menembus badai salju apabila tujuannya berkaitan dengan kekasih atau perempuan yang dicintai. Aku kira―”

“―Liv, badainya sudah selesai.” Potong Chanyeol, parasnya sengaja ia alihkan ke jendela kaca yang benar-benar menunjukkan berhentinya salju turun.

Liv mengikuti pandangan Chanyeol sekaligus mendapati pipi pria itu bersemburat merah muda. ‘Mungkin dia kedinginan’, benak Liv mengkonfirmasi―‘atau sedang malu-malu kucing? Entahlah, jangan berharap terlalu banyak Olivia Kim’.

“Sudah jam sebelas malam. Syukurlah, aku bisa pulang.” Liv menanggapi berusaha menelan bulat-bulat benaknya yang meributkan arti tindak-tanduk Chanyeol Suaranya dibuat seceria mungkin, namun ada perasaan tak rela terselip di sana. Opini Liv soal betapa menyebalkannya badai salju berubah karena kehadiran Chanyeol. Pria itu membuatnya hangat melalui eksistensinya. Liv pun menyatakan bahwa kini ia berharap terjebak derai salju semalaman, asal bersama Chanyeol. ‘Andai saja ia bisa membaca pikiranku’, Liv berharap dalam hati.

Pria itu menyelaraskan wajah mereka. Serta-merta salah tingkah saat tatapannya bertemu dengan manik kecoklatan Liv. Keteduhan yang membuatnya jatuh sejak pertama ia bertemu dengannya. Menutupi ketegangan batin, Chanyeol berdiri dari tempat duduk. Ia mengenakan mantel yang tadinya disampirkan di kursi. “Aku antar kau pulang. Tapi, aku tidak membawa mobil, jadi kuharap kau tak keberatan jika  kita naik bus. Err, mobilku dibawa kabur Sehun tadi.” Kata pria itu, berusaha mencari alasan yang tepat.

“Tidak, aku bisa pulang sendiri. Apartemenku letaknya terlalu jauh dan aku yakin kita tidak searah.” Liv menolak, alasan sopan santun sebenarnya.

Paras Chanyeol berubah lembut. “Tidak masalah, Liv. Aku lebih memilih berputar jalan daripada membiarkan wanita muda pulang sendirian tengah malam.”

“Tetapi dingin―”

“―Di kantor kau mengacuhkan aku, tolonglah Liv, ini malam Natal. Kuharap kau mau―”

“Baiklah.” Cicit Liv yang langsung mendapatkan uluran tangan Chanyeol.

Liv menyambut jari-jari Chanyeol yang terlapisi sarung tangan bewarna hitam. Wanita itu hanya bisa bergeming, meleleh ketika Chanyeol melepaskan syal birunya kemudian melilitkan ke leher Liv.

“Siap Nona Kim?” kelakar Chanyeol.

Liv tertawa akan sikap Chanyeol, lalu berseru pelan. “Siap Tuan Park, kita menembus jalanan bekas badai salju.”

“Semoga tidak terlalu tebal,” harap Chanyeol.

Yang langsung disetujui Liv, “Semoga.”

Aku tidak peduli sedalam apa sepatu botku ditelan lapisan salju, asal ada Olivia Kim yang berjalan di sampingku.

Dan malam Natalku tidak terlalu buruk. Kebetulan yang indah saat Park Chanyeol memilih duduk satu meja denganku.

Apa kau yakin ini kebetulan, Liv?

09.00 P.M

“Aku sedang menikmati tidurku, Oh Sehun. Asal kau tahu, kau sudah merusaknya!” Chanyeol mendengus kesal pada sepupunya yang berada di seberang telepon.

Sehun tidak mengindahkan keluhan Chanyeol, ia langsung menyambar dengan nada tak sopan. “Sama sekali tidak ada kendaraan, Hyung. Kau harus menjemputku. Aku bisa mati kedinginan”

“Aku sama sekali tidak peduli, syukurlah kau bisa mati dengan cara elegan―”

“―Olivia Kim!” Sehun memekik kegirangan, ia memotong perkataan Chanyeol.

Chanyeol pun langsung terbangun dari posisi tidurnya. “Dimana? Kemana? Liv?” tanyanya serantanan.

“Dia baru saja melewatiku. Sepertinya gadis itu juga terjebak badai, dia berusaha berjalan ke gerai kopi di samping kantor.” Sehun melaporkan apa yang ia lihat, suaranya agak kacau akibat angin yang menerpa paras. Tangannya pun gemetaran memegang ponsel yang menghubungkannya dengan Chanyeol―pria yang secara gila-gialaan jatuh cinta pada gadis cuek itu.

“Aku ke sana. Tunggu di sana.” Chanyeol pun menutup sambungan secara sepihak. Ia segera berjungkir-balik serampangan meraih pakaian―berusaha menyeimbangkan ketergesaan dan tuntutan untuk tetap menjaga ketampanannya.

10.30 P.M

“Itu Olivia,” telunjuk Sehun mengarah pada jendela gerai kopi.

Chanyeol menghentikan kendaraan mereka. Ia menolehkan kepala, kemudian nyengir lebar. “Bagus!” Serunya. Chanyeol pun segera keluar dari mobil, diikuti Sehun yang membuka pintu penumpang dengan wajah bingung.

“Hyung, kau akan pergi kemana?” tanya Sehun terkejut.

Chanyeol yang baru setengah jalan, membalikkan tubuh, “Mengejar hadiah Natalku. Bawa mobil itu pulang. Aku akan menginap di luar malam ini.”

Sehun menggeleng ada heran di rautnya. “Kau gila, mengajak gadis menembus badai salju.” Seloroh Sehun.

Chanyeol tersenyum simpul, “Itu lebih romantis, apalagi jika aku bisa mengantarnya pulang.” Ia menepuk bahu Sehun beberapa kali. “Selamat Natal, Sepupu.” Chanyeol menutup obrolan singkat mereka dengan ucapan Natal yang terlalu cepat.

Semuanya harus berjalan lebih cepat, bukan? Begitu pun langkahnya harus lebih maju. Liv memang tidak bisa didekati saat di kantor, namun bukan berarti ia tak akan meleleh dengan pesona Park Chanyeol. Selalu ada pengecualian di malam Natal. Selamat Natal!

Selesai.

Advertisements

One thought on “Of Christmas Eve, Blizzard, and You

  1. haiii Titis~~
    aku baru baca dan ini baguuussss~~~ ❤❤
    ohya aku mau tanya nih, itu kata “ngotot” sama “nongkrong” ga baku bukan? .-. kalo misal ga baku biasanya dicetak miring ehehe

    maaf aing sotoy banget soalnya ga pernah buka kamus jadi ga paham itu baku apa kagak hehe, maap yaaaa :”””
    tapi selebihnya okeee, alurnya mantap xD aku sukaaa ❤❤❤

    keep writing ya Titis :* ❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s