[ONESHOOT] Oh Boy!


17. oh-boy.jpg

Oh B0y!

Songwriter by L.Kyo

Shin Gaeun (YOU/OC) x Park Chanyeol (EXO)

Oneshoot | Romance x Comedy | PG-17

[ https://agathairene.wordpress.com/ ]

Nafas memburu begitu menggema saat dua insan saling mencumbu dibalik rak perpustakan yang sudah sepi pengunjung beberapa menit yang lalu. Pria berperawakan tinggi itu pun tak membiarkan gadisnya mengambil nafas sedikit pun. Park Chanyeol, seorang pria yang sangat menginginkan Gaeun lebih dari siapapun.

 

“Chanyeol-ah”. Lumatan yang awalnya liar kini tak lagi. Chanyeol memundurkan kepalanya dan menatap Gaeun dengan perasaan kesal karena gadis itu berulang kali menganggu kesenangannya. Ya, Chanyeol seperti pria yang tak ingin bibir Gaeun disentuh oleh pria manapun. Kecupan hangat singkat dari Chanyeol menimbulkan sensasi rasa strawberry yang terasa manis dibibirnya.

 

“Ada apa?”. Gaeun menggerutu dan menutup bibirnya karena Chanyeol lagi-lagi akan mencumbunya lagi. Bukannya menolak, karena gadis itu kewalahan karena kekasihnya ini menciumnya begitu liar. Sungguh, sebenarnya ia menyukainya saat Chanyeol menyapu lembut bibir tipisnya, tapi ini adalah tempat umum yang seharusnya tidak mereka gunakan untuk mencumbu.

 

“Bukan seperti itu, lagipula ini adalah tempat umum. Hentikan! Kita harus belajar. Ingat, besok kita mengikuti kuis. Jadi fokuslah”. Gaeun mendorong lembut dada Chanyeol. Terdengar gerutuan lirih Chanyeol yang membuat Gaeun menahan senyumnya. Suara bangku terdengar bergeser seiring Chanyeol pun mengikutinya disisinya.

 

Sudah beberapa menit yang lalu. Ekor mata Gaeun tahu bahwa Chanyeol memang tidak suka membaca buku. Faktanya, seorang Park Chanyeol adalah seorang yang cerdas. Ia terbiasa belajar hanya mendengarkan materi lisan yang diberikan oleh dosen. Dalam hal membaca, ia memang payah.

 

Berbeda dengan Shin Gaeun. Ia tak sepintar Chanyeol. Karena itu lah, ia tidak ingin gagal tes dan harus belajar keras untuk mendapatkan nilai sempurna. Sebelumnya ia tak berniat mengajak Chanyeol, karena ia tahu bahwa jika mereka kedapatan sedang berdua saja didalam ruangan, bisa ditebak bagaimana yang dilakukan Chanyeol. Ia tak akan membiarkan bibir Gaeun istirahat satu hari saja.

 

“Gaeun-ah, aku akan membantumu mengerjakan tes. Percayalah padaku. Bisakah kau berhenti membaca buku tebal itu?” Chanyeol menggeserkan kursinya dan kepalanya ia letakkan diatas bahu Gaeun dengan manja. Gadis itu tersenyum dan hanya menggeleng kepala singkat. Ia sengaja tak menggubris apa yang dikatakan Chanyeol baru saja. Ia tidak boleh menyingkirkan prinsip yang ia tanam sejak muda bahwa apapun tujuan yang ia raih harus dengan usaha sendiri walaupun ada yang menawarkan bantuan.

 

Seperti Park Chanyeol. Semenjak mereka menjadi kekasih, memang Chanyeol sering memberikan tugas padanya. Pria itu berniat tak membuat Gaeun kewalahan mengerjakan tugas, mencari buku berbagai sumber dan mencari materi di internet. Chanyeol benci itu. Tapi tetap saja, sifat keras kepala Shin Gaeun tak berkutik dan mengabaikan tawaran brilian sang mahasiswa predikat teladan, Park Chanyeol.

 

“Ya! Shin Gaeun! Kau tidak perlu belajar keras. Jika kita menikah, aku tidak ingin kau bekerja. Cukup aku saja. Jadi tutup bukumu”. Chanyeol mengambil buku tebal itu paksa dan menutupnya. Meninggalkan kerutan kebingungan yang tampak diwajah mungil Gaeun. Hanya tawa lirih yang keluar dari mulut Gaeun. “Chanyeol-ah, apa yang kau katakan? Menikah? Kita masih terlalu muda untuk memikirkan itu”. Pada akhirnya Gaeun menyerah dan menumpu kepalanya dengan kedua tangannya, menatap mata hidup Chanyeol yang ia anggap paling seksi diantara bagian tubuh lainnya.

 

“Kau tahu, aku sangat menyukaimu”. Entah pernyataan itu yang terdengar manja membuat Gaeun tak berhenti tersenyum. Park Chanyeol, pria yang merupakan mahasiswa populer di Seoul University. Adik dari seorang reporter cerdas Park Yura yang sering berkeliaran di televisi. Pria yang selama 3 tahun berturut-turut mendapatkan IPK tertinggi. Pria yang dengan lantang meneriakinya bahwa ia mencintai Shin Gaeun dari lantai 2. Ya, Gaeun merupakan gadis yang paling beruntung, yang berhasil mematahkan hati para wanita yang tergila-gila dengan Park Chanyeol.

 

“Aku tahu. Kau sudah mengatakan itu, be…..ribu-ribu kali”. Gaeun menaikkan nadanya di akhir kalimat. Memang, setiap hari dalam satu waktu, sudah puluhan kali Chanyeol mengatakan itu. Ia tahu bahwa Chanyeol sangat terobsesi padanya. “Gaeun-ah, kau tahu bahwa aku sangat cemburu saat kau satu kelompok dengan Kim Jongdae?”

 

Gaeun mulai mencerna maksud dari pria dihadapannya. Kim Jongdae merupakan sahabat Gaeun. Sudah sejak mereka berumur 10 tahun sampai saat ini menjalani persahabatan dengan baik. Sisi lembut dan baik dari Kim Jongdae membuat Chanyeol takut jika saja Gaeun meninggalkan seorang Park Chanyeol yang suka menggerutu, keras kepala dan ingin berada di sisi Gaeun. Tak seperti Jongdae, yang dianggap Chanyeol merupakan pria yang membuat wanita nyaman jika berada disampingnya.

 

“Kau membahas itu lagi? Sudah kukatakan jika aku dan Jongdae hanya bersahabat. Lagipula jika aku mengerjakan tugas dirumahnya, aku selalu mengajakmu”. Gadis itu kesal. Sejujurnya ia tak suka jika Chanyeol selalu mengungkit-ungkit Jongdae seperti itu. Gaeun beranjak dari kursinya dan berjalan menuju rak lain, meninggalkan Chanyeol yang menatapnya kesal.

 

Baiklah, satu hal lagi. Chanyeol adalah pria pencemburu. Ia tak bisa melihat Gaeun berdekatan dengan pria lain, termasuk Jongdae. Ia tidak membiarkan pria lain duduk disamping Gaeun, tidak membiarkan pria lain mengantarnya pulang dan tidak membiarkan pria lain menawarkan Gaeun untuk berdiskusi bersama. Chanyeol beranjak dan menyusul Gaeun yang mulai menggapai buku di rak teratas. “Tck, Gaeun-ah. Kau memang benar-benar pendek, tetapi kenapa kau bisa membuatku takut kehilanganmu?” Sambil berkata seperti itu, Chanyeol menggapai buku yang dicari Gaeun.

 

Dengusan kasar keluar dari bibir Gaeun. Sudah sering Chanyeol mengatakan pendek dihadapannya. “Itu pujian atau ejekan?” Gaeun mengambil paksa buku dari tangan Chanyeol dan melewatinya begitu saja. Tapi lengan Gaeun tertahan karena Chanyeol menariknya hingga punggung Gaeun bertemu dengan rak disisinya. Chanyeol tak membiarkan jarak sesenti pun menghalangi mereka. Membiarkan Gaeun terdiam gugup dengan perlakuan Chanyeol.

 

“Itu pujian. Lihat! Kau terlihat sangat cantik jika gugup seperti itu. Rasanya aku tidak tahan untuk tidak menciummu!” Walaupun Gaeun sebenarnya suka dengan moment seperti ini, tapi setengah mati ia tidak membalas perlakuan Chanyeol. Ya, ia berusaha. Tangannya tak henti menahan dada bidang Chanyeol untuk tidak mendekatkan wajahnya. “Ya! Siapa yang gugup? Kau terlalu percaya diri. Menjauh dariku! Aku harus benar-benar belajar”.

 

Chanyeol memundurkan 2 langkah dan membiarkan Gaeun lewat untuk kembali ke meja. Bukan Park Chanyeol jika ia tak menyerah semudah itu. Ia mengambil paksa buku itu dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. Sengaja membuat Gaeun kesal. Tentu saja, Gaeun kesal. Gadis itu bergegas mengambil buku dibalik tubuh Chanyeol. Tak sadar jika posisi Gaeun seperti memeluk Chanyeol. “Gaeun-ah, aku suka dengan pelukanmu”.

 

Gaeun berhenti, membiarkan tubuhnya tanpa sadar melekat didada Chanyeol dan kedua tangannya melingkar sempurna di tubuh pria itu. Tanpa banyak waktu, Chanyeol meletakkan asal buku itu dalam rak sisinya dan memeluk Gaeun erat. Tak membiarkan gadis itu menolaknya lagi. “Shin Gaeun. Bagaimana caranya aku bisa terlepas darimu? Aku benar-benar tidak bisa”. Chanyeol mengecup singkat kening Gaeun lembut.

 

Tak ayal, Gaeun hanya terdiam. Membiarkan tubuh mungilnya mendekap ditubuh tinggi kekasihnya. Ia menyerah. Menyerah karena sulit melawan rasa cintanya dan pesona dari Park Chanyeol. Gadis itu terdiam, membiarkan Chanyeol memeluknya erat. ‘”Berikan aku ciuman!” Mata Gaeun membelalak. Tatapan nakal Chanyeol membuatnya sedikit memundurkan langkah.

 

“Apa?” Dalam posisi yang sama, Chanyeol meletakkan dagunya dipuncak Gaeun. “Kenapa? Tidak mau? Baiklah, aku akan menciummu. Sekali saja untuk hari ini”. Tanpa meminta persetujuan dari Gaeun, Chanyeol segera memiringkan kepalanya mendekatkan wajahnya ke bibir mungil Gaeun. Tanpa penolakan, Gaeun memejamkan matanya. Menunggu bibir Chanyeol menyapu bibirnya.

 

“Ya! Chanyeol-ah. Kau dima..? Da.. Daebak, apa yang kalian dilakukan ditempat ini?”. Suara Baekhyun menghancurkan konsentrasi Chanyeol yang bersiap untuk melumat habis bibir Gaeun. Tentu saja, Chanyeol hanya mengerjap dan memundurkan langkah. Meninggalkan Gaeun yang tersenyum kaku pada Baekhyun. Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun dengan tatapan kesal. “Ya! Kemari kau Byun Baekhyun!” Baekhyun segera berlari menuju pintu keluar disusul Chanyeol yang merasa tidak terima sudah menganggu kesempatan emasnya.

 

Gaeun menahan tawanya. Berjalan mendekati jendela melihat sosok kedua manusia itu saling mengejar. Baekhyun, orang pertama yang memergoki mereka saat ciuman pertama. Tak heran, jika Chanyeol geram dan berhati-hati jika Baekhyun sudah berada disekitarnya. Karena jika ada Baekhyun, kesempatan yang dinantikan Chanyeol akan menghilang seperti tertimpa angin. Gaeun mengambil buku yang sempat dikembalikan Chanyeol dan mengambilnya.

 

Ia bergegas menuju meja sebelum Chanyeol mengganggu konsentrasi. Karena ia memang tak tahan merasakan hembusan nafas dan sentuhan lembut dari Park Chanyeol. Beberapa menit berlalu, Gaeun duduk sendiri di Perpustakan yang memang terbilang sepi. Karena jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Cahaya keemasan terbias mengenai mejanya.

 

Hanya suara ketukan yang berasal dari pena milik Gaeun. Terkadang ia memijat keningnya dan mengacak rambut panjangnya. Gadis itu sedikit frustasi karena ia memang payah dalam memahami mata kuliahnya yang satu ini. Suara sepatu semakin lama semakin terdengar jelas. Ia yakin bahwa sang empunya sepatu itu adalah Park Chanyeol.

 

Suara sepatu itu berhenti. “Chanyeol-ah, kau sudah kembali?” Tanpa membalikkan kursinya dan tetap berkonsentrasi membaca bukunya. Tempat tumpuan Gaeun bergeser kebelakang, menjatuhkan buku Gaeun yang ia pangku di pahanya. “Chanyeol-ah, apa yang kau…”. Gaeun terdiam, membiarkan kursinya bergeser dan memutar dan sekarang didepan matanya sudah ada Chanyeol dihadapannya.

 

Dalam waktu singkat, Chanyeol sudah membungkam bibirnya penuh dengan lumatannya. Kejutan yang sempurna membuat detak jantung Gaeun berdetak hebat. Tangan kanan Chanyeol mendekap pinggul Gaeun dan tangan lainnya menarik belakang leher Gaeun. Ia tak membiarkan Gaeun mengambil oksigen sedikit pun. Tapi Gaeun tak menolak. Ia memeluk leher Chanyeol erat, membalas lumatan Chanyeol.

 

Gadis itu tahu, semaniak dan terobsesinya Chanyeol padanya. Ia tak sekalipun membiarkan Gaeun memberikan segala hal dirinya kepada Chanyeol. Karena pria itu melindunginya. Melindungi tubuhnya hingga waktu tepat untuk bisa menjadi milik seutuhnya. Park Chanyeol, sosok ceria dan tak kenal putus asa membuat Gaeun tidak bisa menolaknya. Walaupun gadis itu berpikir untuk memberikan segala hal untuk Chanyeol, tapi pria itu tidak melakukannya. Berat sebagai seorang pria untuk menahannya. Karena itulah, ia menyukai sosok Chanyeol. Ya, ia menyukainya.

 

Waktu berlalu, tautan bibir Chanyeol terlepas. Pandangannya bertemu menangkap secuil cahaya mata Chanyeol yang terlihat tajam. “Shin Gaeun, aku tidak akan memberikan kesempatan untuk meninggalkanku. Tidak akan pernah! Kau harus mengerti itu?” Senyum Chanyeol mengembang, meninggalkan cubitan lembut dipipi Gaeun. “Kau tidak ingin pulang? Kau yakin akan terus belajar? Lanjutkan dirumah. Sekarang, aku sangat lapar. Bagaimana dengan jjajangmyeon?”

 

Gaeun mengangguk. Membiarkan Chanyeol mengambil buku tebal yang sempat terjatuh dan mengembalikan dalam rak. Kemudian pria itu mengambil ransel Gaeun dan memakai asal disalah satu lengannya. Genggaman hangat terasa begitu menyenangkan dan nyaman saat mereka menuju pintu keluar. Sebagai seorang wanita, tentu saja ia bahagia mempunyai pria seperti Park Chanyeol.

 

Gaeun melepaskan genggamannya kemudian memeluk lengan Chanyeol manja. Kepalanya ia senderkan ke bahu lebar Chanyeol, meninggalkan senyuman lebar dari Chanyeol. “Chanyeol-ah!” Chanyeol berdehem, menatap sisi wajah Gaeun. “Kau tahu, aku lebih menyukaimu lebih kau menyukaiku. Kau juga harus tahu itu”. Mereka terdiam cukup lama. Karena tanpa balasan apapun, Gaeun mendongak. Tapi, satu kecupan lembut lagi-lagi mendarat dibibir Gaeun. Siapa lagi jika bukan ulah Chanyeol. “Aku tahu, karena aku sangat tampan bukan?” Gaeun memukul lengan Chanyeol. Ia tersenyum dan menyenderkan kepalanya ke bahu Chanyeol.

 

“Satu hal lagi”. Chanyeol kembali memandang Gaeun. “Aku juga tidak suka kau berdekatan dengan Hani”. Lalu Chanyeol menghentikan langkahnya, memandang sisi wajah gadisnya penuh tanya. Kemudian secercah senyuman tersungging lembut dibibirnya. “Ahn Hani? Hani?” Gaeun mendengus dan menatap bola mata Chanyeol, seolah bersiap menusuk mata Chanyeol dengan kesal.

 

“Iya. Hani. Bukankah dia pernah menyatakan perasaan padamu?” Wajah Gaeun merengut, ia cemburu. Untuk pertama kalinya bagi Chanyeol mendengar hal itu. Tentu saja, kekasihnya yang biasanya tak mempedulikan hal-hal semacam itu terlihat sangat lucu didepannya. “Gaeun-ah, apa kau salah makan?” Kikikan Chanyeol bersamaan dengan sentuhan punggung tangan Chanyeol pada kening Gaeun membuat gadis itu kembali mendengus.

 

“Kau tidak biasanya mengeluh seperti ini? Ahh, aku tahu. Kenyataannya memang kau sangat sangat menyukaiku”. Gaeun mendelik. “Kau.. Kau terlalu percaya diri. Memangnya aku begitu?” Chanyeol mencengkeram bahu Gaeun dan menuntun untuk menatapnya. Mata yang disukai Gaeun, tatapan itu berhasil membuat degupan jantungnya semakin tidak bisa terkontrol.

 

Pria itu seakan menusuk bola matanya. Tajam namun tak meninggalkan kesan cute dalam batinnya. Chanyeol tersenyum lalu menepuk puncak kepala Gaeun. “Aku tidak akan melihat gadis manapun. Kau yang paling cantik diantara gadis lain”. Merasa penjelasannya masih kurang, Gaeun menarik jaket Chanyeol. Kali ini, untuk pertama kalinya ia menampakkan wajah penuh aegyo nya. “Itu saja? Aku tidak mau mendengarnya sederet kalimat itu saja”. Alhasil, Chanyeol tertawa puas.

 

“Ya! Ada ada denganmu?” Chanyeol menarik tubuh Gaeun dan memeluknya erat. Mencium aroma rose rambut Gaeun sepuasnya. Tentu saja, ia senang kali ini. Sosok Gaeun yang terkadang kaku dan tak peduli kini sudah terpecahkan. Tak disangka jika Gaeun mempunyai sifat selucu ini. Baginya, semakin ia mendengar Gaeun cemburu padanya, semakin ia tidak ingin melepaskannya.

 

Sebelumnya selalu Chanyeol yang overprotektif pada Gaeun. Karena gadis itulah merupakan cinta pertamanya, ciuman pertamanya. Dan tentu saja, ia tidak akan melepaskan semudah itu. Dia memang sangat menyukai bibir mungil Gaeun, tak membiarkan satu hari pun untuk tak menciumnya. Walaupun ia sangat menginginkan Gaeun menjadi milik seutuhnya, tapi tidak pernah terbersit dikepalanya melakukan hal sejauh itu.

 

Chu~ Chanyeol terdiam. Badannya serasa kaku detik itu juga. Matanya memandang Gaeun yang kali ini sudah memunggunginya. Untuk pertama kalinya juga, Shin Gaeun, gadisnya itu menciumnya terlebih dahulu. Tangan Chanyeol menyentuh bibirnya, merasakan rasa lipblam strawberry Gaeun yang berhasil membuatnya candu untuk tak melakukannya.

 

Tanpa disadari, telinganya memerah. Karena tak ada respon apapun, Gaeun membalikkan badannya ragu. Seakan takut jika perbuatannya menjadikannya gadis tidak tahu malu. Gaeun menatap kebawah, menyembunyikan pipi merahnya pada Chanyeol yang masih diam memandangnya. “Y.. Ya! Kenapa kau terdiam? Bukankah sebelumnya kau memintaku untuk menciummu terlebih dahulu? A.. Aku tidak akan melakukannya jika kau memintanya, jadi….” Kata-kata Gaeun mengambang tatkala senyuman tampan dari Chanyeol membuatnya rela menghentikan protesnya.

 

Kembali Chanyeol mengecup bibir Gaeun singkat. “Aku menyukainya. Aku menyukai sosok Shin Gaeun yang… Ehm, agresif? Terdengar seksi”. Gaeun mendelik, mendengar seksi pun ia seraya bergidik. “Apa yang kau katakan?” Kata Gaeun sembari berlalu, meninggalkan Chanyeol yang masih menyembunyikan tawanya. “Gaeun-ah, katakan dengan jujur jika kau tidak tahan melakukannya karena aku tampan!” Teriak Chanyeol. Namun gadis itu semakin mempercepat langkahnya. “Diam kau!!” Gerutu Gaeun lebih keras lagi.

 

“Ya! Tunggu aku! Kau akan menyesal jika tidak memandang wajah tampanku hari ini. Ya! Gaeun-ah!!” Gaeun menahan tawanya. Pria itu, Park Chanyeol, kekasihnya, pendamping hidupnya. Mungkin ia tidak bisa mendeskripsikan dengan benar. Tapi yang ia tahu, Chanyeol adalah miliknya. Mungkin ia tak se overprotektif Chanyeol, tapi ia juga tak ingin gadis lain mendekatinya. Selama ini, ia sudah menyembunyikan rasa cemburu itu sudah lama. Apalagi jika mengingat kejadian sebulan lalu, dimana Hani menyatakan perasaan pada Chanyeol.

 

Tapi bagi Gaeun, ia tidak perlu khawatir. Pria itu dengan lantang mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkannya. Gaeun menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, menunggu Chanyeol yang berlari kecil mengejarnya. “Chanyeol-ah, cepat! Aku lapar!”. Setelah pria itu sudah sejajarnya dengannya, Gaeun memeluk lengan Chanyeol sembari menyusuri koridor yang sudah semakin sepi dari lalu lalang. Prianya, — Park Chanyeol. Tak akan ia biarkan untuk melepaskannya. Tidak akan pernah!

 

‘Chanyeol-ah, you know? Yeah! Park Chanyeol is mine. I’m your girl, now until forever, because ‘Your is my boy’. – Shin Gaeun

.

-FIN-

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s