[Oneshot] Sketch of Ate


Sketch of Ate.jpg

by Noviara Park

Starring Kim Seokjin (BTS) and Kang Seulgi (Red Velvet) feat. minor of Mark Tuan (GOT7) | Rating Teen | Genre Romance, Psychology, Sad | Length Oneshot (3,5k+ w)

 .

Kesempurnaannya terangkum dalam coretan lukisan

Lebih elegan dari zaman Renaisans dan Abad Pertengahan

Irasional, namun juga seperti anggur merah yang memabukkan

Sempurna, menunggu seseorang yang bisa mereguknya pada satu kesempatan

Sesekali tidak jauh berbeda dengan daun karotenoid di taman yang berguguran

Begitu mengundang untuk dimiliki perempuan

Kisah tentang dia yang begitu kuinginkan

.

.

.

.

‘Sketch of Ate’

 .

***

 

“Seulgi, kau masih di sini?”

“Tentu saja.” Seulgi menghentikan kegiatannya dalam sejemang demi melihat orang yang baru ‘menyapa’ dirinya. Kim Seokjin menghentikan kedua tungkainya di samping Seulgi, lantas menilik hasil setengah jadi lukisan gadis itu. “Bagaimana menurutmu?”

Seokjin tertawa. “Aku belum bisa melihat seperti apa lukisanmu kalau sudah jadi.”

Seulgi memberengut. Ia berkacak pinggang dan membuka mulutnya, siap melancarkan ocehan penuh omelannya. Namun tidak ada suara yang keluar. Seulgi hanya mendesah lalu kembali menarikan kuas di permukaan kanvas.

“Bagaimana pusingmu? Sudah reda?”

Gadis itu mengangguk. “Jangan khawatir, aku sudah minum obatnya dan aku merasa sangat sehat sekarang—Seokjin, warna apa yang cocok? Ah, sebaiknya merah saja.”

“Bagus kalau begitu. Hei, menurutku lebih bagus warna jingga.” Seokjin menunjuk warna yang baru saja disapukan oleh Seulgi, lalu menunjuk langit jingga yang menaungi danau. Riak air merefleksikan matahari yang mulai tertelan cakrawala. “Jingga itu warnamu, kalau boleh kubilang.”

Di angkasa kapas lembut berarakan tenang. Diantarkan angin kala malam menjelang. Waktu di mana siang menghilang, bersama dengan air sejauh ke barat mata memandang.

Agaknya dingin mulai merambat—Seulgi menggigil dan menyesal tidak bisa menyelesaikan lukisannya.

“Tidak selesai lagi? Kupikir kau harus memulainya lebih awal besok.”

Seulgi benci saat Seokjin mengusap puncak kepalanya, karena pada saat itulah hormon-hormon yang mengaktifkan rasa nyaman mengendalikannya. Dopamin barangkali? Entahlah, ia tidak pernah menaruh minat pada istilah yang terlalu sukar dieja.

“Ayo pulang.”

Kekehan lolos dari kerongkongan Seulgi tatkala ia membereskan peralatan lukisnya. Sementara Seokjin mengambil alih lukisan setengah jadinya, ia menggerutu setengah geli. “Pulang apanya? Sepuluh langkah di belakang ada rumahku.”

Benar. Rumah kecil sederhana di dekat danau itu milik Kang Seulgi. Tidak ada orang lain yang berkunjung ke rumahnya selain Seokjin. Lelaki itu kerap kali datang—terlampau sering malah—bahkan tanpa sungkan ia menginap di rumahnya.

Bukan apa-apa, Seokjin hanya seorang miskin yang hidup dengan kakeknya yang renta. Hidupnya ditopang oleh hasil penjualan susu sapi yang diperah kakeknya tiap pagi dan pancingan ikan dari danau oleh Seokjin—yang terakhir tidak selalu mencukupi. Kang Seulgi berkali-kali ingin membantu sahabatnya itu, namun ia selalu mendapat tolakan dari Seokjin.

Entahlah, ia tidak tahu apa alasannya.

“Kau mau pulang?” tanya Seulgi yang dijawab anggukan Kim Seokjin. “Tidak menginap lagi?”

“Tidak. Nanti kakekku kesepian tanpa cucunya yang tampan.”

Pura-pura berlagak ingin muntah, Seulgi merebut kanvas dari Seokjin. “Kalau begitu selamat malam, Jin.”

Kang Seulgi masuk tanpa menunggu balasan dari lelaki itu. Namun nyatanya ia menghambur ke jendela dan menangkap sosok Seokjin melangkah di jalan sempit hingga tumit sepatu rusaknya menghilang di belokan.

***

Penunjuk jam tepat di angka yang sama kala ketukan repetitif menyambangi pintu rumah. Seulgi yang baru saja terbangun tidak lantas mendekat ke pintu. Ia sudah tahu siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini.

“Selamat pagi, Nona Kang Seulgi. Saya membawakan dua botol susu untuk menemani sarapan Anda.”

Cengiran lebar sudah nangkring di wajah tengil Seokjin. Dua botol susu diberikan pada Seulgi, lalu tanpa permisi, ia melangkah masuk ke rumah gadis itu.

Mendesah berlebihan, Seulgi mengekor Seokjin yang kini sudah duduk di meja kursi depan televisi. Oh, Seulgi harus mengingatkan sesuatu pada Seokjin—barangkali lelaki itu lupa.

“Jin, ini masih jam setengah tujuh lebih dan kau sudah duduk manis di rumahku. Kau—”

“Memangnya kenapa? Orang tuamu sudah pulang?” Air muka Kim Seokjin berubah dalam sekejap, lantas bangkit seolah baru tersengat. “Mereka di sini?”

Seulgi menggeleng. Usai meletakkan botol susunya, ia meraih selembar roti dan memasukkan satu gigitan ke mulutnya. “Orang tuaku tidak akan pernah pulang, tentu saja. Jangan cemas, duduklah dan ikut sarapan denganku.”

“Langit dan bumi,” nada ucapan Seokjin yang menggantung membuat Seulgi menoleh padanya, lalu setelah melempar senyum tipis, ia melanjutkan, “mana yang kaupilih?”

“Seokjin,” gadis itu melipat tangannya di depan dada, menautkan alisnya, dan bergumam, “berhenti membuatku pusing dengan metaforamu.”

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara jarum jam bergerak yang mengapung di udara. Lama kemudian ia baru menjawab.

“Langit, karena aku ingin terbang di atas sana.”

Hal yang terjadi selanjutnya di luar dugaan karena Seokjin melangkah cepat keluar dan membanting pintu.

***

Seokjin menyukai Seulgi.

Itu benar, dan Seokjin tidak akan menyangkalnya. Ia memang tidak pernah mengatakan apa yang dirasakannya pada gadis itu. Dan ia pikir tidak perlu karena Seulgi hanya melihatnya, hanya dirinya.

Ia kerap kali melihat lelaki tampan di desa—ugh, boleh ia muntah sekarang?—merayu atau melontarkan kalimat gombalan pada Kang Seulgi. Berikutnya ia merasa di atas angin karena Seulginya sama sekali tidak melirik lelaki itu.

Namun kali ini Seokjin harus menelan rasa dongkolnya lantaran—

“Mark, danaunya bagus, ya?”

Kim Seokjin mendengus keras, lantas melipat lengannya dan bersandar pada dinding di belakangnya. Bagus, ia baru saja datang dan langsung diabaikan. Ia seolah sedang menjadi pengganggu bagi orang yang baru dimabuk cinta.

“Ya. Kau pernah berenang di sana?”

Dan mengalirlah konversasi itu bagai air terjun yang tiada putusnya. Waktu seolah hanya mampir sebentar, sampai ketika Seulgi teringat pemuda lain di belakang.

“Mark, aku ingin kau berkenalan dengan temanku. Dia—”

Nihil, tidak ada siapa pun di tempat Seokjin tadi bersandar.

“Dengan siapa?” tanya Mark.

“Lain kali saja. Sepertinya dia sudah pulang.”

***

Seulgi memiliki sepasang iris bersepuh kecokelatan; tentu ia bisa melihat. Seulgi memiliki saraf perasa, terkubur dalam lapisan epidermis kulitnya; tentu ia bisa menangkap suhu, merasakan tekstur, pun meraba sakit.

Ia tahu mata dan kulitnya tidak akan berbohong. Namun kali ini ia meragukan kesetiaan mereka.

Apa ini mimpi? Seulgi terbangun tatkala dingin menusuk hingga ke tulang. Ia mengerjap sekali, dua kali, sampai akhirnya ia mengambil konklusi; seluruh sarafnya tidak menipunya. Ia—Kang Seulgi—baru saja terbaring di tempat yang terasa akrab.

Pening langsung membanjirinya. Di bawahnya, lantai licin menggantikan ranjang kesayangannya. Oh, bukan hanya itu! Permukaan danau beku terbungkus oleh kabut tebal yang memedihkan mata. Dingin kembali merambati tubuh Seulgi sampai nyaris membuat ujung jarinya mati rasa.

Sejemang Seulgi terpekur, lantas didera ketakutan yang sebelumnya tidak pernah menghampiri. Kesepian yang sudah lama mengekangnya muncul di udara, menciptakan pusaran bersama dengan kabut pekat yang menyesakkan dada.

Seulgi berusaha meraih kesadarannya. Visinya mengabur karena sesuatu tertahan di pelupuk mata. Pada akhirnya ia goyah, bahkan sebelum ia mencoba bangkit.

Angin berkibas, menampar wajahnya yang makin pias. Beku menerjang ganas. Begitu kontradiktif dengan maniknya yang mulai panas. Waktu kian merambat, namun bagaimana ia bisa menghangatkan diri jika kakinya sulit untuk merasakan sensitivitas? Seulgi pun mencoba menenangkan diri dengan satu tarikan napas.

Gadis itu merapalkan selarik kalimat klise yang pernah diucapkan Seokjin. Kau akan baik-baik saja. Berulang kali, menjadikannya konsistensi demi mendapatkan secuil ketenangan yang ia cari.

Kau akan baik-baik saja.

Kau akan

“Seulgi?”

Perlahan kepala Seulgi terangkat, lalu mendapati seseorang berdiri di hadapannya. Vokal yang mengalun meyakinkannya bahwa dia adalah orang yang sama dengan yang sedang ada dalam benaknya. “Jin….”

“Sedang apa kau di sini?” Lelaki itu menyampirkan mantelnya pada Seulgi usai membantunya berdiri. Sekeping dari dirinya hancur kala ia melihat manik gadis itu yang sarat ketakutan. Ini pertama kalinya Seulgi menyingkap sisi rapuh dari dirinya.

“Kau keluar rumah dengan pakaian seperti ini? Yang benar saja.” Seokjin menilik apa yang dipakai Seulgi. Gaun pendek selutut. Lengannya sedikit robek—mungkin tersangkut ranting. Putih bersihnya berkamuflase dengan keadaan sekitar.

“Entahlah. Aku juga tidak ingat pernah pakai baju ini.”

Gadis itu menggigil. Mantel Seokjin tak cukup untuk menghangatkannya rupanya. Ia pun melepas syalnya dan memakaikannya ke leher Seulgi. “Ayo, kuantar pulang.”

Seulgi menurut. Ia membiarkan Seokjin menarik tangannya dan melingkarkannya ke leher lelaki itu; dan Seokjin menyampirkan lengannya ke pinggang Seulgi.

“Dari mana kau tahu aku ada di sana?” tanya Seulgi saat ia dan Seokjin duduk di depan perapian rumahnya untuk menghangatkan diri.

Jari-jari Seokjin yang menangkup cangkir teh bergerak-gerak gelisah. Ia menjawab usai melempar senyum tipis. “Aku sedang ada di pinggir danau saat aku melihat sesuatu di tengah sana. Tidak terlalu jelas, jadi aku mendekat dan ternyata itu kau.”

Seulgi teringat lubang yang biasa digunakan orang untuk memancing yang ada tidak jauh darinya tadi. “Kau akan memancing?”

“Hm?” Kepalanya berputar cepat saat mendengar pertanyaan Seulgi. “Tidak. Alat pancingku sedang rusak.”

Lelatu di depan mereka menjilati kayu. Menimbulkan suara berderak kala kayu hangus ditelan api. Hanya itu yang mengapung di ruangan sementara ia dan Seokjin tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Sampai akhirnya alunan vokal Kim Seokjin menginterupsi rungunya. “Karena kau sudah di sini, sebaiknya aku pulang.” Lalu ia berdiri dan meraih mantel usangnya yang tergantung di pintu. “Sampai jumpa, Seul.”

***

Papan penunjuk jalan. Pepohonan yang kehilangan dedaunan. Di sinilah Seulgi berdiri, menyatukan serpihan kisah tentang dirinya. Mengejar bayangan Seokjin di jalan tak berujung. Larinya kian lama kian menunjukkan bahwa ia semakin putus asa.

Langkahnya terhenti lantaran lelah mulai menggerogoti. Jauh di sana lelaki itu melambai padanya, bernaung di bawah layung nan luas. Bibirnya yang mengukir sebuah senyuman mengingatkan Seulgi betapa ia langut untuk mereguknya kembali. Juga dengan manik sewarna marunnya yang begitu luas dan teduh.

Tungkai Seulgi meniti langkah perlahan. Takut jika Seokjin kembali pergi darinya.

Namun Kim Seokjin tidak pernah lari; hal yang membuatnya seolah dibanjiri kelegaan. Lelaki itu seakan sedang menunggunya kembali ke dalam rengkuhannya. Spasi makin terkikis, mengundang tangan Seokjin terangkat untuk bisa meraih Seulgi secepatnya.

Ganjilnya, Seulgi merasa ada beban yang menggelayuti hati. Berat dan semakin berat seiring kakinya menapaki jalan berkerikil kasar ini. Namun, Seokjin adalah pengalihan bagi beban itu. Dan Seulgi yakin ia akan aman selagi Seokjin ada di sisinya.

Jantungnya berpacu keras sementara ia memanggil nama lelaki itu lewat bisikan. Pemandangan ini begitu ilusif—mungkin bisa ia jadikan sebagai objek lukisan nanti.

“Seul, kau percaya padaku?”

Tidak ada jawaban. Gadis itu masih sibuk meredakan akselerasi detak jantungnya. Mendesah pelan, sebelah tangan Seokjin menaikkan dagu Kang Seulgi. Memancangkan fokus dalam manik Seulgi yang implisit menyerukan rindu.

“Aku mencintaimu, sayangnya aku tidak bisa memilikimu.”

“Kenapa?”

Seulgi diam, menunggu jawaban yang akan disampaikan Seokjin. Namun jawaban itu tidak pernah ia dengar.

Karena Kim Seokjin berbalik dan lekas berlari tanpa menoleh ke belakang.

Dan Seulgi hanya bisa terduduk memeluk kedua lutut sembari menyembunyikan tangisnya.

***

Malam masih panjang, namun mata Seokjin belum bisa terpejam. Di penghujung menit pertama awal hari, ketukan pelan menghampiri kemudian pintu terbuka. Mengantarkan figur Seulgi masuk bersama dengan bantal siannya.

“Aku tidak bisa tidur sendiri. Temani aku tidur, Jin!”

“Kau yakin?”

Seulgi mengangkat bahu sekilas, lantas berbaring di samping Seokjin. Tangannya menarik selimut sampai perut, mengubah posisi menjadi menghadap Kim Seokjin, dan menepuk pelan pipi lelaki itu sambil berujar, “Selamat tidur, Seokjin.”

“Hei, Kang Seulgi, kau tidak takut aku berbuat macam-macam?” Bibir Seokjin berjungkit sebelah, menyiratkan maksud tertentu dari setiap kata yang ia lontarkan. “Aku laki-laki,” jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri lalu ganti ke arah Seulgi, “dan kau perempuan. Jadi cepatlah minggir sebelum kau mendapat ‘serangan mendadak’.”

Gadis itu tergelak melihat tanda kutip yang diciptakan oleh jemari Seokjin. Ia malah semakin mendekat pada lelaki itu. “Aku tidak takut. Lagipula kita pernah seperti ini sekali.”

Deru napas Seokjin yang membelai wajahnya kian terasa tatkala lelaki itu juga mendekat. Mendekapnya dari senyap malam yang mencekam. Seharusnya ia menepis dan keluar dari sini, namun percayalah, inilah satu-satunya cara supaya ia dan Seokjin bisa tidur dengan tenang.

“Tidurlah, aku akan tetap di sini sampai besok.” Surai Seulgi terasa lembut di bawah telapak tangannya. Ia nyaris terlelap jika suara lirih Seulgi tidak menginterupsi telinga.

“Apa kau kemarin menemukanku di danau?”

“Hm?”

“Kau ke danau kemarin?” Seulgi mengulangi ucapannya.

“Tidak,” jawab Seokjin.

Berarti saat ia terbaring di danau dan lelaki itu yang mengantarnya pulang hanya mimpi; Seulgi mengambil konklusi demikian. Ia tidak pernah terjebak di sana dan tidak pernah merasakan ketakutan itu. Kejadian itu tidak lain hanyalah mimpi buruk.

Jadi Seulgi menutup matanya dan berharap esok tidak pernah menjelang.

Agaknya harapannya terlalu tinggi. Ketika cahaya matahari menyusup di antara celah tirai, hanya nihil yang ia dapatkan. Bersamaan dengan pagi yang menghanguskan kelamnya malam, Seulgi menahan tangis kesepiannya seperti sebelum-sebelumnya.

***

Kaca.

Siapa pun yang berdiri di hadapannya bisa melihat sesuatu yang ada di baliknya. Rapuh, bersepuh kilau, sempurna tanpa cela.

Dan bagi Seokjin, gadis itu laksana kaca yang bisa pecah hanya dengan disentuh. Tersusun dari sesuatu yang rapuh, namun kontradiktif dengan apa yang terlihat dari luar.

Kim Seokjin mendaratkan ujung jari ke permukaan, sementara tungkainya meniti langkah pelan. Menyilaukan, ruang penuh kaca ini nyaris membutakannya. Menyita atensi, sampai ketika sesuatu yang ilusif mengejutkannya.

“Jin, apa yang kaulakukan di sana?”

Seulgi ada di balik sana, merepetisi ketukan keras pada sang perintang. Sekelumit bagian lain dirinya hancur kembali saat gadis itu meracaukan hal yang tidak dapat ia dengar, lalu terjerembab ke tanah.

Entah apa yang sejatinya terjadi, yang Seokjin tahu, ia dan Seulgi terkurung di ruang kaca yang berbeda. Dan Seokjin benci mengingat benda sialan itu tidak dalam mode mudah-pecah-seperti-layaknya.

“Seul, kau tak apa?”

Menggeleng tak yakin. Seulgi terlampau pening dengan segala hal yang mampir, mulai dari masalah menjengkelkan seperti orang tuanya yang tidak pernah kembali, sampai yang pelik seperti tersandung perasaan pada Seokjin yang diam-diam selalu membuat Seulgi tersiksa.

Menyedihkan. Seulgi merasa hidupnya tidak pernah adil. Tidak ada yang bisa menghentikan isakannya kecuali Kim Seokjin. Namun ia naif jika ia berpikir Seokjin akan selalu ada di sisinya, sampai kapan pun.

Seulgi merentangkan tangan ke depan, telapak tangannya bersua dengan milik Seokjin—di balik sana lelaki itu berlutut tepat di depannya. Hanya dipisahkan oleh segaris tipis kaca yang anehnya seakan menghilang perlahan.

Seokjin memang terkadang menyebalkan, namun ia nyaris tidak pernah mengucapkan bualan tanpa esensi. Tipikal orang yang suka membingungkan orang dengan kata-katanya yang sulit dicerna.

Kini Seokjin menyunggingkan seulas senyum. Menempelkan dahi pada sang pembatas—dan Seulgi terhipnotis untuk melakukan hal yang sama. Berpolah seakan ia bisa menyentuh pipi bersemu merah Seulgi. Dan menabuh jantungnya dengan kurang ajarnya. Namun ia betah menatap iris marun Seokjin sampai kapan pun.

Karena ia tahu, rasa memiliki Seulgi seutuhnya bersemayam dalam kedua manik itu.

***

Pintu terbanting membuka dan Seulgi menghambur ke lemarinya.

Seokjin mengajaknya jalan-jalan, jadi Seulgi harus terlihat bagus kali ini. Tidak jauh, sih, hanya keliling sekitar saja. Namun ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Kemeja dengan berbagai warna. Jaket yang hampir tidak pernah ia pakai. Gaun putih yang lengannya sedikit robek. Mantel. Syal yang entah kenapa bisa ada di dalam. Tas yang pernah diberikan seseorang padanya.

“Mana yang harus kupakai?”

Saat itu titik-titik air jatuh dari angkasa. Alih-alih pulang ke rumah masing-masing, Seulgi dan Seokjin berteduh di pelataran toko yang baru saja tutup. Hujan yang merusak acara keduanya sejatinya, namun Seulgi tidak keberatan jika ada Kim Seokjin di sebelahnya.

Merasa harus mengusir atmosfer canggung sebelum hal itu mengambil alih udara di sekeliling mereka, Seulgi berdeham dan mencari topik berbincang. “Kenapa waktu itu kau marah saat aku menjawab ‘langit’?”

Seokjin diam seribu bahasa, namun gendang telinganya terbuka lebar demi mendengarkan ucapan gadis itu. Selagi benaknya menyusun satu-dua baris kalimat, lengannya terulur. Air yang menghantam telapaknya menciptakan tempias yang membasahi pakaiannya.

Ada kalanya Seokjin merasa dirinya telah mengalami disfungsi. Ia bukanlah robot, namun seakan ada kabel dalam tubuhnya yang korsleting saat sentuhan tak disengaja dari jemari ringkih Seulgi menyapa kulitnya. Seokjin tidak mungkin tercipta dari porselen, tapi ia sudah tidak utuh lagi. Pecahannya mungkin banyak, namun kalah jauh jika dibandingkan dengan Seulgi yang tidak berwujud lagi.

“Jika bumi adalah tempat kau tinggal, maka langit adalah sesuatu yang sulit kauraih. Bumi takkan membiarkanmu terbang karena gravitasinya selalu menarikmu turun,” Seokjin mengatakannya dengan datar.

Kang Seulgi mendesah tertawa. “Lagi-lagi metafora membingungkan.”

Lelaki itu menelengkan sedikit kepalanya, lantas menoyor pelan dahi Seulgi—oh, dia protes karena berasumsi Seokjin melakukannya dengan tanpa alasan.

Apanya yang membingungkan? Ia tersenyum tipis, lantas menggumamkan maaf tanpa niat.

Sederhana saja, Seokjin adalah bumi itu sendiri.

***

“Kenapa kau sering membuat lukisan tentang orang ini?”

Seulgi tersenyum sebelum akhirnya berujar, “Karena dia tampan. Kau melihatnya?”

Mark juga tersenyum, namun kali ini menyiratkan kecanggungan. “Mungkin,” gumamnya sebelum akhirnya sudut matanya menangkap lukisan yang menyembul dari tirai. “Hei, kenapa kau menutupinya?”

Oh, ternyata lukisan ini belum selesai. Pemandangan danau senja hari, dari depan rumah Seulgi-kah?

“Oh, yang itu belum kuselesaikan.”

Mark Tuan menyukai lukisan Seulgi. Surealis, namun terlihat nyata dan penuh ilusi. Sayangnya gadis itu terlalu sering melukis lelaki yang menurutnya tampan itu. Apa itu kekasih Seulgi?

“Ini teman yang mau kaukenalkan padaku waktu itu?”

“Ya, namanya Seokjin. Tapi waktu itu dia kabur saat kau datang. Mungkin dia sedang kesal padaku.”

“Di mana rumahnya?”

***

Mark baru saja menutup pagar depan rumah saat Seulgi berlari ke arahnya. Napasnya terengah, tepat ketika ia berhenti dan menyandarkan bahu ke dinding.

“Mark, kau melihat Seokjin?”

Seokjin? “Tidak.”

“Aku tadi ke rumahnya, tapi hanya ada kakeknya. Kakek bilang kalau Seokjin tidak pulang semalaman.” Wajah Seulgi sudah mengisyaratkan kekhawatiran. Begitu kentara. “Bisakah kau ikut mencari dia?”

Mark tertawa dalam hati. Membantu mencari rivalnya? Kendati ia tahu hal itu hanya sia-sia, pada akhirnya ia mengangguk pelan, mengiakan permintaan Seulgi, dan ikut berlari mencari orang bernama Kim Seokjin itu.

“Kau seperti Ate,” ujar Mark sebelum berbalik.

“Siapa?”

***

Lagaknya laksana Putri Tidur. Lelap, senyap, dengan kesadaran yang lesap. Wajahnya begitu jelas tertimpa lampu di atasnya.

Seulgi luruh kala ia menyadari siapa dia.

Kim Seokjin. Terkurung dalam tabung kaca berdiri berisikan air penuh hingga tubuhnya mengapung. Bola matanya terpejam, seolah hanya sedang tidur di dalam sana. Mukanya memias, tidak menghirup oksigen seperti lazimnya.

Rasa takut kehilangan kembali mendera Seulgi. Ia takut jika Seokjin akan meninggalkannya hidup sendirian di dunia sialan ini. Ketakutan itu menerjangnya, membuat ia menggigil dan tidak bisa bangkit.

Lelaki itu terlihat begitu tenang dalam tabung kaca. Hal yang membuat ia kehilangan hampir seluruh kepercayaannya pada Seokjin. Ia betul-betul naif karena berharap Seokjin akan selalu bersamanya. Seulgi merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa membuat lelaki itu kembali padanya.

Sebelah tangan Seulgi menggapai kaca. Aneh, permukaan yang seharusnya semulus sifatnya malah seakan berpuluh-puluh duri. Melukai. Pada akhirnya gagasan bahwa Seokjin telah di luar teritorial raihannya menghantamnya. Menyulut kantong air mata untuk mengeluarkan produknya keluar.

Namun tidak secepat itu.

Perlahan bibir Seokjin terangkat dan menciptakan senyum lemah. Maniknya mengerjap pelan, lantas mendekat pada Seulgi yang mencoba berdiri. Tangan mereka memang saling menyentuh dari balik kaca, namun hati mereka selalu bertaut tanpa memedulikan perintang apa pun di antara mereka. Bagaimanapun keduanya telah menyimpan rasa saling memiliki.

“Aku tidak akan pergi.” Itu yang Seulgi membaca gerakan bibir Seokjin yang berujar demikian.

***

Dingin. Dingin sekali.

Namun Seulgi tidak berniat melindungi tubuhnya sama sekali. Biarlah dingin yang diantarkan angin membekukannya, bahkan hatinya sekalipun. Dengan begitu, ia tidak perlu lagi merasa sakit, seperti yang sedang dirasakannya saat ini.

Kim Seokjin.

Seulgi ingat ia sedang mencari lelaki itu dibantu Mark. Sampai sekarang Mark belum terlihat batang hidungnya, apalagi Seokjin. Entah di mana sekarang lelaki itu, yang jelas ia belum menemukannya.

Kedua tungkainya masih bisa berdiri, namun ia yakin tidak akan lama lagi. Air matanya mungkin masih bisa turun selama kantong air matanya belum kering. Sebelum jiwanya lesap dengan udara, Seulgi masih sempat membisikkan nama Seokjin dalam setiap helaian napas.

Dulu hubungannya dengan Seokjin tidak sekompleks ini. Kang Seulgi menganggap seorang Kim Seokjin tidak lebih dari teman—baiklah, sahabat. Namun seiring kehilangan orang-orang terdekat, ia mulai bergantung pada Seokjin. Segalanya ia percayakan pada Seokjin…

… termasuk hatinya.

Seokjin begitu menarik. Surai pendek gelapnya mengundang untuk ditelusuri helai-helai halusnya. Bola mata yang teduh nan luas tidak pernah gagal menjerat Seulgi dalam pesonanya. Kedua lengannya melakukan banyak hal berarti untuknya; menghapus jejak tangisnya, mendekapnya, bahkan menangkapnya kala ia jatuh. Dan Seokjin tidak pernah keberatan melakukan hal itu.

Dengan senang hati Seokjin menyatukan kepingan diri gadis itu yang tidak dapat dikenali lagi bentuknya.

Sekarang, yang perlu Seulgi lakukan hanyalah berjalan beberapa langkah, tenggelam dalam sana, lantas terlelap dalam tidurnya. Jika semua ini hanya mimpi, maka akan mudah baginya untuk kembali ke sedia kala.

Kini ia mengerti kenapa Seokjin marah ketika ia memilih langit.

Karena Seokjin adalah bumi yang ia tinggali setiap hari, dan langit adalah orang lain mungkin akan menjadi tempat Seulgi untuk berpaling.

Dingin. Dingin itu menyergap lagi. Kali ini mengalir ke kakinya. Menguncinya. Barangkali karena kedua telapaknya tak beralas sama sekali. Dan tepat ketika matanya terpejam—bersiap untuk tidur—sebuah turbulensi tak manusiawi mampir.

“Seulgi, sadarlah! Kau tahu apa yang kaulakukan?!”

Si Tolol Seokjin kembali. Dengan segenggam kobaran amarah yang berpadu dalam irisnya. Seulgi mencoba abai, namun tak ada yang bisa dilakukannya selain bergeming dan mendengar ceramah Seokjin.

“Ke mana saja kau? Aku mencarimu dan tiba-tiba—dan tanpa rasa bersalah—kau muncul di depanku.”

“Seul, kau sadar dengan apa yang kaulakukan?!” Seokjin membentak, membuat gadis itu tersentak, pun mundur beberapa langkah. “Apa kau mencoba bunuh diri? Dengan menenggelamkan dirimu ke danau seperti ini?” Nada bicaranya naik setiap satu kata terlontar.

“Jin…,” Seulgi berujar lemah, lantas menubrukkan diri pada lelaki itu. Ada yang mencabik-cabik hatinya, tapi apa? Ia terlalu lemah untuk memikirkan hal-hal seperti itu. “Bisakah kau selalu bersamaku?”

Seulgi lelah. Selama ini ia mencari ketenangan dan kedamaian. Sederhana—mungkin itu hal yang sepele. Dan ia menemukannya saat ini. Ada kedamaian juga ketenangan yang ditawarkan di balik iris sewarna marun Kim Seokjin.

Di luar dugaan, Seokjin menggeleng. Seketika setitik harapan kecil Seulgi musnah. Harapan yang selama ini menjadi tempat Seulgi menggantungkan seluruh hidupnya. Penolakan dari lelaki itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkannya. Kim Seokjin—

“Kau tahu, Jin, kau begitu indah.”

Tersenyum getir, lelaki itu memaksa bibirnya bergerak. “Aku sempurna karena aku hanyalah hasil dari imajinasimu, Kang Seulgi.”

—adalah delusi keindahan fana yang memerangkapnya.

Seulgi tahu Seokjin memundurkan langkah, menuju tengah danau. Ia berteriak kencang saat lelaki itu mulai lebur dengan udara, mulai dari tungkainya, tubuhnya, lengannya yang terulur, dan terus naik ke atas.

Hal yang terakhir ia lihat adalah senyum Seokjin. Ketika angin membawa pergi kilauan dari Seokjin pergi, Seulgi jatuh bersamaan dengan kakinya yang tidak mampu menopangnya lagi. Air matanya mengalir turun, membawa rasa sakit dan harapan yang menyiksa menyatu dengan danau yang semakin kelam di kala senja.

Saat penghujung semi datang, Kim Seokjin—ilusi yang direfleksikan otaknya—pergi meninggalkan Kang Seulgi.

***

“Kau seperti Ate.”

“Siapa?”

“Ate. Dewa khayalan dari mitologi Yunani.”

***

Dia sempurna, namun dia tidak lagi di sini
Ke tempat yang tak bisa kuraih, begitu tinggi
Dia memang sempurna, namun dia hanyalah delusi
Menunggu waktu yang tepat untuk pergi
Bersamaan dengan senja terakhir di musim semi

 .

 .

Fin.

.

.

a/n:
Maapkeun saya yang datang-datang nyampah bawa ff absurd seperti ini. Ini castnya asal comot deh, beneran. Terinspirasi dari salah satu komen di lapak orang dan aku lupa di mana XD

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s