[Ficlet] Wait For Me


impecs9

 

Wait For Me

Songwriters :  Honeybutter26

Artist : iKON Hanbin x  Hanna [OC]

Genre : Romance, Fluff

Duration : Ficlet

Rating : PG -15

Soundtrack : iKON – Wait For Me

https://honeybutter26.wordpress.com/

 

“Wait, because I’ll go to you right now. Wherever you are, I’ll go.”

Musim silih berganti. Rintikan salju yang dingin berubah jadi pendar sinar mentari yang hangat. Bunga bermekaran sarat akan rasa bahagia. Mengubah seluruh dekap dingin yang mengukung menjadi sejuta warna yang sehangat cumbuan selimut beludru.

Langit begitu biru, tak ada satu titik riak awan yang sedia menodai. Alunan kicauan burung terdengar bak melodi jiwa yang indah. Aliran angin bergerak bergantian membawa wewangian musim semi.

Seulas senyum tersemat di bibir. Indah, dan hangat. Satu helaan napas melepaskan sejuta senyawa kebahgiaan yang tak lagi sanggup ia tahan sendirian. Dua kelopak mata yang perlahan terbuka membuat ia dapat melihat dunia seutuhnya.

“Aku pulang, Hanna. Aku pulang.”

***

Hanna memandang dunia di balik jendela kamarnya. Ada segelas coklat hangat ditangannya yang ia sesap sesekali. Diluar sedang ribut karena keluarganya yang berada di luar kota berkunjung ke rumah. Hanna mendengar Ibunya memanggil beberapa kali tapi ia masih bergeming. Enggan menggerakkan tubuh untuk beranjak ataupun menggerakkan bibir untuk sekedar menyuarakan penolakan.

Hanna hanya ingin berdiam diri di kamarnya seharian tanpa melakukan apapun. Bukan karena ia sedang malas. Hanya saja ia sedang enggan. Ada sesuatu yang kurang menyenangkan menghinggapi hati juga pikiran. Suatu hal yang membuat Hanna tak bisa berhenti menghela napasnya gusar.

“Ini musim semi ketiga. Bukankah harusnya kau pulang? Apa kau tidak takut jika aku lelah menunggumu, Kim Hanbin?”

Kelopak matanya turun dengan satu pandang yang sendu. Setiap detik yang berjalan membawa Hanna kembali ke memori menyenangkan yang pernah mereka lalui sebelum berpisah. Setiap waktu yang terlampaui bak tambang rindu yang mengikat dadanya erat hingga sesak. Akal pikirannya terkadang kalap kala rindu itu semakin membabi buta.

“Aku merindukanmu, Hanbin.”

Setitik air mata mengalir di pipi. Rindu itu kini tak dapat lagi terbendung. Adiksi yang seharusnya terpenuhi menjadi satu pesakitan yang membuat Hanna serasa ingin mati. Memoar indah bukan menjadi obat alih-alih selayak angin yang membuat kobaran rindu jadi makin besar membakar perasaan.

“Kim Hanbin, aku merindukanmu. Pulanglah. Pulang, Hanbin,” lirih Hanna.

“Aku pulang, Hanna.”

“Sial! Aku bahkan sampai mengalami delusi karena merindukan suaramu. Dasar bajingan gila.”

“Hanna, Jung Hanna.”

“Ya Tuhan. Kim Hanbin sialan, berhenti memanggil namaku seperti itu. Menjauh dari pikiranku, brengsek! Aku butuh bernapas,”  Hanna cengkeram kepalanya keras-keras dengan kesepuluh jari. Isakan tak bisa lagi dihindari. Hanna menyerah oleh rindu yang membelenggu sesak dadanya.

“Kalau begitu bernapaslah. Karena oksigenmu ada disini sekarang.”

Hanna terkejut bukan main. Dua lengan yang memeluknya dari belakang terasa begitu nyata nyamannya. Suara yang membisik di telinga terdengar begitu nyata untuk jadi penawar racun rindu yang ada.

“Hanbin.”

“Ya?”

“Hanbin.”

“Ya, sayangku?”

Lantas tangisan Hanna kembali luruh, diikuti oleh isakan yang semakin mengeras. Hanbin eratkan pelukannya pada sang terkasih. Menumpu dagu pada pundak sempit itu dan menusukkan hidung pada helaian rambut kekasihnya yang begitu ia rindukan aroma yang selalu membuat ia candu.

Hanna melepas pelukan Hanbin dan berbalik. Membawa telapak tangannya untuk menyentuh rahang kekasihnya. Ini nyata, Hanbin sungguhan ada di hadapannya sekarang. Bukan hanya sekedar ilusi atapun mimpi yang sering mendatangi tidurnya. Hanna bawa pandangan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki pada sosok Hanbin. Kekasihnya begitu tampan dengan seragam militer yang membalut apik di tubuhnya yang tegap.

Kerinduan yang mendekap hampir dua tahun lamanya kini menguap sudah oleh senyuman Hanbin yang sehangat mentari. Hanna tak dapat berkata apapun. Ia seakan bisu, hanya air mata yang terus turun membuktikan bahwa pertahanan rindunya telah runtuh.

“Hei, berhenti menangis. Aku tak ingin kau menyambut kepulanganku dengan air mata sialan ini, hm,” ujar Hanbin. Hanna memejamkan mata, menikmati gerakan tangan Hanbin yang mengelus lembut surainya.

“Aku terharu, Hanbin. Rasanya melegakan sekali melihatmu disini.”

“Kau merindukanku?”

“Sangat. Sampai rasanya aku hampir gila,” jawabnya mantap. Hanbin tidak bisa untuk tidak tersenyum. Ini adalah hal membahagiakan yang sayang untuk dilewatkan. Ia bawa Hanna dalam pelukannya yang hangat dan nyaman. Menyalurkan segala rindu dan cinta yang terpendam.

“Aku lebih merindukanmu. Setiap detik rasanya seperti maut saat aku jauh darimu. Terimakasih untuk tidak lelah menungguku,” ucap Hanbin dengan setulus hati. Diam-diam Hanna tersenyum di posisinya. Hanbin adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padanya. Pria ini adalah satu-satunya poros hidup yang tak akan bisa membuat ia berpaling pada yang lain.

“Bagaimana jika ternyata aku lelah menunggu?”

“Mudah saja. Aku akan membiarkanmu beristirahat sejenak lalu membuat hati dan pikiranmu bekerja lagi untukku lebih keras dari sebelumnya.”

“Dasar!”

FIN

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s