[FREELANCE] HOME – (Vignette)


PhotoGrid_1451117041909

Author : riseuki || Cast: BTS’s Jungkook & Jimin & Rap Monster ||

 Genre: Friendship | Family | Slight!Hurt || Duration : Vignette

“Entahlah, mungkin aku hanya sedih. Terlalu banyak hingga rasanya sakit”

.

.

.

Suara tawa dan suasana yang menyenangkan, sungguh pemandangan yang sangat tak ingin Jungkook lewatkan. Dan karena hal itu, karena banyaknya kebahagiaan yang kini menyambanginya, tanpa ia sendiri sadari, justru heninglah yang ia lakukan.

Bibirnya mengatup dan senyumnya sesaat memudar sedikit demi sedikit, matanya yang tadi bersinar dan ikut tertawa mulai redup dan sedikit demi sedikit menerawang. Dia memang tidak mau kehilangan dan melewatkan moment seperti ini, saat dia dan teman-temannya tertawa bersama –tapi justru karena itulah yang sebenarnya tidak dia miliki, moment itu.

Dan setiap kegiatan, setiap tawa, setiap apa yang dilihatnya sekarang, perlahan pun akan berakhir, ‘kan?

Hey, kau kenapa? Ada yang salah?”

Sebuah suara memecah keheningan yang terjadi dalam diri Jungkook, membuatnya memfokuskan dwimaniknya yang tadi menerawang ke satu sosok yang sangat dikenalnya, sahabatnya. “Ah tak apa Jimin-a, jadi sampai dimana pembicaraan kita tadi?”

Begitulah. Iya, bagaimana cara Jeon Jungkook mengalihkan perhatian orang lain dari apa yang dia pikirkan dan dari apa yang dia rasakan. Cukup balik bertanya, hingga si penanya lupa bahwa tadi dia bertanya. Seringkas itu, dan itu berhasil setidaknya selama hampir setiap saat.

.

.

Sudah berakhir.

Semua percakapan, candaan dan gelak tawa yang setidaknya masih menggema beberapa menit yang lalu kini akhirnya resmi berakhir. Satu per satu temannya berpamitan, pulang –kembali pada orang tua mereka.

“Ibuku sudah bertanya sejak satu jam yang lalu mengapa aku belum juga pulang”, Jimin memberitahu Jungkook dengan sedikit berteriak akibat masih riuhnya suasana di sekitar mereka. Pesta yang di adakan sekolah memang tak pernah sepi, terutama jika kalian bersekolah di sekolah khusus pria dan saat pesta kalian boleh mengundang gadis mana saja yang kalian inginkan –pun setelahnya kalian boleh pulang ke rumah masing-masing, bukannya kembali ke asrama yang membosankan.

Man, ini baru jam sembilan”, sambut Jungkook.

“Aku tahu, makanya kan—“, tak melanjutkan ucapannya, Jimin justru tertawa –yang menular pada Jungkook yang akhirnya ikut tertawa sebelum terhenti karena ocehan tambahan dari Jimin, “—tapi Ibu terlalu merindukanku, jadi sepertinya aku harus kembali sekarang. Bagaimana denganmu?”

Diam, hanya itu jawaban Jungkook. Frasa karena ibu terlalu merindukanku yang digunakan Jimin tadi agaknya mengusik hatinya. Jadi, dia hanya mengedikkan bahunya sekilas lalu melambaikan tangannya pada Jimin, mengatakan bahwa jika memang seperti itu keadaannya, dia memang seharusnya kembali.

.

.

Merebahkan punggungnya ke atas beton yang dingin di atap sekolah, Jungkook meletakkan kedua lengannya di belakang kepala dan bertumpu disana.

Dia tidak pulang ke rumah, karena dia akan kembali ke asrama. Toh, tak ada yang menantinya. Tak ada yang merindukannya.

“Kau melamun lagi, uhm?”

Sebuah suara yang tak asing itu tertangkap oleh indera pendengaran Jungkook. Berhasil meraih atensinya dan membuat kepalanya menoleh ke samping, tepat ke mata Namjoon –seniornya, yang entah sejak kapan dekat dengan Jungkook karena keduanya adalah sesama pengguna atap sekolah ketika malam tiba, untuk kegiatan yang kadang sama –menerawang dan diam, ataupun kegiatan-kegiatan yang berbeda. Setidaknya, mereka tak pernah absen berjumpa jika datang ke tempat ini.

“Tidak”, Jungkook menjawab, menyatakan bahwa ia sepenuhnya sadar, tidak melamun.

“Lalu?”

Hanya satu kata tanggapan, tapi Jungkook segera bangkit dan duduk memeluk lututnya seperti yang dilakukan Namjoon, “Entahlah, mungkin aku hanya sedih. Terlalu banyak hingga rasanya sakit”

Namjoon mendengar apa yang dikatakan Jungkook, tapi dia tidak bergeming. Sebuah senyum tipis yang kesannya agak sinis justru muncul di ujung bibirnya. Dan –tanpa menawari Jungkook, ia menyesap sekaleng bir yang sejak tadi memang ada di tangannya –entah bagaimana cara dia mendapatkan minuman itu, dan menggeleng sekilas, nyaris tak terlihat.

“Masalah rumah lagi, uhm?”

Jungkook menundukkan kepalanya dan memandangi sepatu pantofel yang tadi ia kenakan, “Mungkin aku hanya iri, hyung, saat teman-temanku bisa pulang ke rumah dan memeluk kedua orangtua mereka. Diberi pertanyaan tentang hari-hari mereka dan kegiatan mereka. Mendapat kecupan selamat malam dan esoknya kembali ke sekolah dengan disangoni banyak kasih sayang”

Namjoon kembali menenggak bir-nya.

“Bukankah aku konyol?”, tanya Jungkook kemudian.

Namjoon menoleh ke kiri dan mendapati juniornya itu menggunakan telapak tangannya untuk menghapus jejak-jejak airmata yang baru saja meluncur turun. Dia merangkulkan tangannya yang bebas ke pundak Jungkook. “Kau ‘kan juga bisa pulang sebenarnya. Kenapa tidak kau lakukan jika memang perlakuan seperti itu yang ingin kau peroleh juga?”

Ya, kedua orang tua Jungkook masih ada. Mereka sehat. Mereka ada di rumah.

Tapi, kehangatan, percakapan, kecupan selamat malam dan kasih sayang itu lah yang tidak ada. Yang bukannya tidak Jungkook temukan, tapi memang jarang sekali dia rasakan. Begitu jarang hingga saat-saat apa yang dia sebutkan tadi diberikan inderanya jadi tidak peka, rasanya tetap tidak hangat. Rasanya tetap saja dingin.

“Tak akan ada bedanya, sama saja seperti saat di asrama. Kami ada di dunia yang entah ada atau tiada”

Tarikan nafas lah yang mengiringi jeda antara kalimat itu dan hening yang terjadi antara dua pria yang masih sama-sama duduk itu. Tarikan nafas yang berat.

Lalu sebuah tepukan mendarat di punggung Jungkook dari tangan Namjoon. “Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan”

Selama ini, Jungkook sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan perlakuan yang diperolehnya di rumah, asalkan dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya, itu sudah lebih dari cukup.

Selama ini dia selalu percaya bahwa dia adalah anak yang mandiri, dia bisa melakukan segala hal seorang diri. Saat teman-temannya di sekolah dasar masih saja diantar-jemput oleh eomma-appa mereka, Jungkook sudah pergi sekolah sendiri dengan sepeda baru hadiah kenaikan kelas. Saat teman-teman sekolah menengahnya ditekan oleh orangtua mereka mengenai kemana mereka harus melanjutkan study, Jungkook bebas memilih selama dia menyukainya. Saat teman-temannya dimarahi karena pulang terlambat, Jungkook diperbolehkan pulang larut asalkan dia baik-baik saja.

Menyenangkan bukan?

Hingga akhirnya Jungkook tahu perbedaan antara dibatasi dan diperhatikan. Juga antara Mandiri dan kesepian. Hingga akhirnya ia banyak berpikir ke belakang, tentang betapa tak ada yang peduli pada dirinya. Asalkan dia baik-baik saja, itu sudah cukup.

Jadi, Jungkook bahkan sudah terbiasa berpura-pura baik-baik saja. Hanya agar semuanya memang terlihat baik.

“Datanglah kesini jika kau merasa berat. Aku akan ikut meringankannya”

Eh?

“Atap ini harusnya jadi milikku seorang, hanya saja kau menginvasi dan aku harus berbagi. Jadi kau harus membagi beban berat hatimu itu juga denganku”

Eh?

Jungkook hanya bisa memandangi Namjoon dengan pupil yang membesar.

Namjoon yang menyadari tatapan Jungkook hanya kembali tersenyum dan menandaskan bir-nya dalam tegukan-tegukan besar lalu meremas kaleng itu dan membuangnya sembarangan ke depan.

“Bukankah itu gunanya teman, Kook-a?”

Keduanya lalu berbaring dan memejamkan mata masing-masing. Menyesatkan diri dalam jalan pemikiran masing-masing.

Memang, ‘kan? Teman harusnya menjadi tumpuan berikutnya ketika keluarga tidak lagi bisa dijadikan sandaran. Tidak peduli bagaimana pun kondisi teman itu, jika dia sudah bersedia membagi beban, memikul asa dan memberi ketenangan, bukankah sudah cukup?

Ya,sepertinya semua akan baik-baik saja.

Jungkook menertawakan dirinya sendiri dalam pemikirannya. Orang tua itu bagaimana sih sebenarnya harus bersikap? Tidak semua orangtua bersikap manis dan bisa merindukanmu seperti orang tua Jimin, ‘kan? Pasti ada juga mereka yang sama seperti orangtua Jungkook, dan anak-anak mereka lebih kuat menerima perlakuan dingin itu dibandingkan Jungkook.

Mungkin, ‘kan?

Sementara senyum di bibir Namjoon belum juga terhapus. Dia tahu dengan pasti bagaimana perasaan Jungkook, secara akurat, tanpa ragu.

Karena dia adalah korban yang sama, perlakuan dingin yang sama. Mandiri yang sama.

Tsk.

Mudah saja ‘kan bertemu dengan mereka yang memiliki perasaan yang sama denganmu? Asal kau mau memperhatikan, berbagi beban akan terasa nyaman dan perasaan sedih itu, rasa sakit itu, kelak akan pergi dengan sendirinya.

.

.

.

.

.

Drrt. Drrt. Drrt.

Ponsel Jungkook bergetar dan menampilkan sebuah pesan dari Jimin :

Katanya Ibu akan membunuhku jika minggu depan aku telat pulang seperti hari ini, dia sedang berubah menjadi monster sekarang. Kau harus menyelamatkan aku, Kook-a!!!!”

Dengan enggan Jungkook menyerahkan ponselnya pada Namjoon agar dia membacanya.

Dan keduanya serempak tertawa agak keras.

.

.

.

“Tak usah dipedulikan, dia akan baik-baik saja”

.

.

fin

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] HOME – (Vignette)

  1. Ya Allah kapan aing bisa buat fic normal (?) kayak gini :”””
    Ini bagoooeeessss kak hiks :”)
    Penggambarannya juga oke punya daaah~
    Keep writing kak ❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s