[Oneshot] Rise Of God-War


riseofgod-war

RISE OF GOD-WAR

 

an absurd fanfic by narinputri

with cast : [SEVENTEEN] Joshua and [Rev. From DVL] Hashimoto Kanna also sub cast : other SEVENTEEN members in genre : AU, fantasy, slight!action rating : PG-15 and length : oneshot

 

Failed Japanese fantasy and a bit mythology. If you don’t understand, just click link in the words, it will give you the explanations.

 

Amazing poster by Kryzelnut

 

 

“…kuharap kau segera mengerti bahwa Amaterasu-omikami membutuhkan bantuan kita…

 

▲▲▲

 

Menginjakkan kaki di Jepang bersama teman-temannya, adalah kali pertama bagi Jisoo. Kedatangan mereka sekedar melepas penat setelah disibukan beberapa kegiatan nan padat sebagai idol group.

Yeah, kita sudah berada di Jepang. Aku ingin makan sushi~” ucap Seokmin merangkul pundak Jisoo.

“Kau bisa meminta manager untuk membelikanmu sushi sebanyak yang kau mau,” jawab Jisoo terkekeh.

Jisoo merasakan seseorang tengah memperhatikannya. Menolehlah ia mencari orang tersebut. Netra mereka saling bersirobok, tatkala Jisoo melihat figur gadis berparas bak dewi dengan surai hitam dari kejauhan. Seolah gadis itu sedang mengucapkan sesuatu padanya.

“Kembalilah ke Takama-ga-hara. Amaterasu dalam bahaya.”

“Kak Jisoo!” panggilan Seokmin membuat pemuda Amerika-Korea itu menoleh padanya.

“Kau kenapa, Kak? Kenapa bengong seperti itu?” tanya Seokmin.

Jisoo menggeleng kepala seraya kembali melihat ke arah gadis tadi. Namun, sosok tersebut hilang dari tempat itu.

“Hei! Kak Jisoo! Kak Seokmin! Cepat! Manager sudah menunggu di mobil!” seru Chan kepada mereka berdua.

Mereka meninggalkan bandara menuju hotel. Jisoo memegangi tengkuk, merasakan bulu romanya meremang sedaritadi. Namun dihiraukannya dan beranggapan hanya perasaan sesaat saja.

 

▲▲▲

 

“Soonyoung, apa kau tahu tentang Amaterasu?” Jisoo tak mengerti kenapa tahu-tahu ia menanyakan hal tersebut kepada Soonyoung suatu malam di kamar hotel.

Soonyoung mengerutkan dahi, tak mengerti. Ada apa dengan hyung-nya?

“Amaterasu. Entah kenapa aku tiba-tiba saja aku ingin tahu hal tersebut,” jawab Joshua menggaruk kepala.

Soonyoung mencoba berpikir.

“Coba kau buka mesin pencari untuk mencari tahu apa atau siapa itu Amaterasu.”

“Benar juga katamu!” Jisoo menyalakan smartphone-nya, mencari tahu apa itu kata yang dimaksud melalui mesin pencari.

Tiba-tiba saja lampu di kamar berkedip dengan sendirinya. Mereka berdua merasakan getaran cukup kuat.

“Ka-Kak Jisoo! Apa yang terjadi?” tanya Soonyoung panik.

“Cepat kita keluar dari sini! Mungkin ini gempa!”

Mereka berdua berlari keluar dari kamar hotel disusul oleh penghuni lain. Getaran tersebut berhenti dengan sendiri, kala mereka semua berada di luar hotel. Masyrakat Jepang terbiasa dengan gempa tersebut, tak nampak panik sama sekali. Dan mereka terlihat tertib menyelamatkan diri masing-masing menuju tempat aman.

Jisoo melihat sebuah cahaya berwarna biru terang melesat begitu cepat di atas langit. Mendadak, seseorang memegang tangannya sembari menarik menjauh dari kerumunan.

Jisoo terkejut, melihat siapa yang berani menarik tangannya.

“Hei! Tunggu! Siapa kau?” seru Jisoo pada sosok itu.

Setelah dirasa cukup jauh, mereka berhenti berlari dan Jisoo menarik tangannya. Sosok tersebut berbalik menatap Jisoo. Rupanya, ia gadis yang dilihatnya pagi tadi di bandara.

Gadis itu tersenyum ramah pada Jisoo, menjabat tangan pemuda itu. Tentu saja hal itu membuatnya bingung.

“Namaku Hashimoto Kanna, kau bisa memanggilku Kanna,” jawab gadis itu.

“Apakah kau melihat sinar biru tadi?”

Jisoo mengangguk. Kanna kembali memberikan senyum pada pemuda itu.

“Itu adalah sinyal dari Takama-ga-hara yang ditujukan kepada para kamisama atau para keturunan dan reinkarnasi kami-sama yang ada di bumi. Hanya mereka, yang bisa melihat sinyal tersebut,” jelas Kanna.

Jisoo tak mengerti maksud ucapan Kanna.

“Kau adalah reinkarnasi dari Hachiman, sang dewa perang. Dan aku adalah Bishamon. Aku akan membantumu melindungi Takama-ga-hara.”

Ia menggaruk kepala, tak mengerti apa yang dikatakan Kanna. Kami-sama? Takama-ga-hara? Hachiman? Mungkin ia harus mencari nama-nama yang disebutkan gadis itu di mesin pencari.

“Tu-tunggu dulu, apa maksudmu aku adalah reinkarnasi Hachiman? Aku ini Joshua, Hong Jisoo! Seorang idol korea. Jadi mana mungkin aku reinkarnasi dari dewa perang,” elak Jisoo.

Kanna menepuk pundak Jisoo pelan.

“Semua orang keturunan atau reinkarnasi dari para kami-sama pasti berkata seperti itu untuk mengelak. Sebenarnya, itu adalah takdir yang harus mereka jalani sebagai seorang kami-sama. Seberapa besar kalian menghindar, kalian takkan bisa lepas oleh takdir.”

Jisoo tertawa sinis.

“Omong kosong macam apa ini! Kau pasti hanya seorang sasaeng yang ingin menguntit dan berbicara omong kosong jika aku adalah seorang kami-sama atau apalah!”

Kanna hanya tersenyum, seolah terbiasa mendengar perkataan seperti itu dari orang-orang.

“Jisoo-san, kuharap kau segera mengerti bahwa Amaterasu-omikami membutuhkan bantuan kita, karena Takama-ga-hara dalam bahaya. Pasukan dari Yomi no kuni menyerang Takama-ga-hara untuk merebut kekuasaan Amaterasu-omikami. Izanamiomikami masih menyimpan dendam terhadap Izanagiomikami, dan dia memutuskan untuk menyerang Takama-ga-hara,” jelas Kanna.

“Itu masalahmu! Bukan masalahku! Lagipula apa urusanku dengan Takama atau apalah itu! Yang jelas sekali lagi aku bukanlah dewa perang! Jangan ganggu aku untuk hal-hal yang tak penting ini!” sentak Jisoo meninggalkan gadis itu.

“Kembalilah Hachiman-sama! Kami membutuhkanmu!” seru gadis itu.

Masa bodoh! Dia tak peduli. Lagipula dirinya hanya manusia biasa tak tahu apa-apa, dan juga seorang idol yang tengah berlibur bersama teman-temannya.

“Jisoo! Kau kemana saja? Kami mencarimu!” ucap Seungcheol begitu melihat pemuda itu kembali ke hotel.

“Aku hanya berjalan-jalan melihat sekeliling,” dusta Jisoo.

“Jika kau mau jalan-jalan, kau harus izin dulu dengan manager! Kau mau dikuntit oleh sasaeng?” sahut Mingyu.

Jisoo tersenyum. Ia senang jika mereka peduli kepadanya.

“Hei, anak-anak! Cepatlah tidur!” seru manager kepada mereka.

Mereka pun memasuki hotel dan kamar masing-masing bersiap untuk tidur, begitupula dengan Jisoo. Tanpa disadari, sesosok makhluk misterius memandang pemuda itu dari balik jendela hotel.

 

▲▲▲

 

Ketigabelas pemuda rupawan itu tengah bersantai di sebuah restoran kecil di tepi pantai. Sementara yang lain tengah bermain di pantai, Jeonghan dan Jisoo menikmati es krim sembari memandangi lautan.

“Kau tak ikut bermain bersama mereka?” tanya Jeonghan tanpa melirik ke arah Jisoo.

“Aku di sini saja, lagipula cuaca juga panas.”

“Ah, kalau begitu aku ke toilet dulu. Aku sudah tak tahan!” Jeonghan meninggalkan Jisoo berlari menuju toilet.

Kini tinggallah Jisoo berada di ruangan itu sendirian, membaca sebuah majalah yang ada di tempat itu.

Seorang wanita berambut panjang memasuki restoran. Jisoo tak menghiraukannya, mungkin ia adalah pelanggan restoran ini.

“Apakah kau… Hachiman-sama?”

Jisoo mengangkat kepala, memandang wanita yang tengah memunggunginya sembari mengerutkan dahi.

“Maaf, kau berkata apa? Aku tak mengerti,” jawab Jisoo.

Ada sesuatu yang tak beres dengan wanita itu dan entah suhu di ruangan itu menjadi dingin melebihi pendingin ruangan. Jisoo bangkit dari duduk, berjalan keluar dari ruangan itu. Tahu-tahu, tubuhnya tak mampu digerakan tak tahu mengapa.

“Apakah kau… Hachiman-sama?”

Wanita itu memutar kepala ke arah Jisoo, diikuti sebuah seringai lebar mengerikan.

Jisoo menelan saliva ketakutan, berusaha menggerakan fisiknya yang seakan membatu.

Paras wanita itu beralih buruk −busuk− lantas menyerang Jisoo. Pemuda itu berhasil bergerak menghindari serangan tersebut. Dicari benda yang sekiranya sanggup menyerang juga mempertahankan diri. Sebaliknya, makhluk tersebut berhasil menangkap Jisoo dan mencekiknya.

“Matilah kau… Hachiman-sama!”

Jisoo tak bisa bernafas. Alih-alih berusaha lepas dari makhluk tersebut, namun sia-sia saja.

Apakah aku akan mati dengan cara seperti ini? Begitulah yang dipikirknya.

Sontak terdengar suara ledakan dari arah pintu. Sebuah tombak menusuk menembus tubuh makhluk tersebut. Jisoo pun bebas, kemudian seseorang menopangnya. Tak lain adalah Kanna.

“Ka-kau?” guman Jisoo melihat Kanna.

Makhluk tersebut berteriak kesakitan seraya menghilang, menjadi cairan hitam pekat di lantai tersebut.

“Itu adalah shikome. Rupanya penyerangan sudah dimulai.” Ucap Kanna mengambil tombaknya kemudian menghilang dari genggaman.

“Jisoo! Apa yang terjadi?” seru Seungcheol bersama member lain dan sang manager memasuki restoran setelah mendengar suara ledakan tadi.

Jisoo bergeming, syok dengan apa yang dilihatnya barusan.

“Hei! Siapa kau! Apa yang kau lakukan kepada kak Jisoo?” tanya Jihoon kepada Kanna.

Kanna tersenyum tipis lalu pergi dari restoran diikuti pandangan aneh orang-orang yang ada di situ. Jeonghan mendekati Jisoo yang tengah mengatur napas mencoba untuk memenangkan diri, menanyakan keadaannya.

“Aku tak apa-apa, Jeonghan. Aku baik-baik saja.”

Dipandangnya cairan hitam pekat tersebut. Hal itu merupakan sesuatu yang mengerikan dalam hidupnya untuk pertama kali.

“Jangan sampai hal ini diketahui oleh para media! Aku akan memesan tiket pesawat untuk kembali ke Korea sekarang!” kata manager tegas.

Jisoo masih ketakutan. Jika gadis itu tak menyelamatkannya, mungkin saat ini ia hanya tinggal nama di negeri orang.

 

▲▲▲

 

Ketigabelas pemuda itu bersama sang manager meninggalkan Jepang malam ini. Insiden tadi berhasil ditutupi dan para media tak mengetahui apa yang terjadi.

Sepanjang perjalanan, Jisoo hanya terdiam, terngiang akan ucapan Kanna yang tak ia mengerti. Diacak surai legam miliknya frustrasi.

“Kau kenapa?” tanya Jeonghan khawatir melihat kondisi Jisoo layaknya orang stress.

Ia mengembus napas, memandang Jeonghan lelah tanpa berkata apa pun.

Jeonghan tersenyum maklum menepuk pundak Jisoo lembut.

“Kita akan kembali ke Korea. Tenang saja, Jisoo.”

Pemuda itu tersenyum. Sebentar lagi ia akan hidup tenang setelah meninggalkan tempat ini.

Tiba-tiba, sebuah petir menyambar tepat di depan mobil mereka hingga sang sopir membanting setir, mengakibatkan mobil tersebut menabrak pembatas jalan. Untung, mobil tersebut tak ringsek dan para penumpang baik-baik saja.

“Apa itu barusan?” tanya Chan.

“Aku tidak tahu. Itu terlihat seperti sebuah petir! Tapi, ini kan tidak hujan!” jawab Minghao.

Sebuah petir menyambar lagi, kali ini mengenai jendela samping mobil hingga seluruh kaca mobil tersebut pecah. Mereka yang berada di dalam mobil berteriak ketakutan.

“Jangan ada satupun yang keluar dari mobil!” perintah manager.

Jisoo merasa sebuah tarikan kuat menyuruhnya untuk keluar, dan ia pun segera keluar dari mobil.

“Hei! Jisoo! Kau mau kemana? Hei!” seru Jeonghan.

Saat ia berada di luar mobil. Sebuah petir menyambarnya, namun berhasil dihindari. Beberapa petir menyerang Jisoo, dan entah ia memiliki kekuatan untuk menghindar.

Muncullah delapan makhluk aneh dengan lingkaran berbentuk genderang menempel di punggung mereka. Mereka memukul genderang tersebut, menciptakan petir yang menyerang Jisoo satu persatu secara bergiliran.

“Apa-apaan ini!” serunya menghindari petir-petir tersebut.

Makhluk-makhluk tersebut menyerang membabi-buta, hingga sebuah petir menyambarnya. Ia tak mampu menghidar lagi karena kelelahan.

Kanna tiba-tiba datang melindungi Jisoo dengan tombaknya menangkis serangan makhluk tersebut.

“Kau tidak apa-apa, Jisoo-san?” tanya Kanna.

Yang ditanya hanya mengangguk kelelahan kemudian bersimpuh begitu saja ke tanah.

“Biar aku saja yang menyerang mereka. Mereka adalah Yakusa no Ikazuchi, delapan dewa petir yang terlahir dari tubuh busuk Izanami,” terang Kanna.

Kanna memutar tombaknya menyerang kedelapan makhluk tersebut satu persatu. Pakaiannya berubah menjadi baju zirah indah layaknya permata mengeluarkan cahaya keperakan, namun sangat kuat. Sementara Jisoo hanya melihat tak mampu berbuat apa-apa.

“Kau tak apa-apa?” tanya Jeonghan mendekati pemuda tersebut.

Jisoo melihat, bagaimana Kanna bertarung melawan makhluk-makhluk tersebut pula merasakan sebuah kekuatan besar memasuki tubuhnya.

“Aku harus membantu Kanna,” ucap Jisoo.

Jeonghan terbelalak.

“Apa kau gila? Kau bisa mati terbunuh! Kau tak memiliki kekuatan apa-apa untuk melawan makhluk aneh itu!”

Jeonghan menggelengkan kepala mendengar ucapan sahabatnya. Namun yang dilihat sekarang bukanlah imajinasi, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi.

Jisoo bangkit untuk bertarung bersama Kanna. Tak peduli dengan teriakkan Jeonghan memintanya kembali.

“Gunakan sisir itu.”

Sebuah suara berbisik di rungu Jisoo. Secara ajaib, sebuah sisir berwarna hitam berada di genggamannya. Dilemparkan sisir itu ke arah para Yakusa no Ikazuchi.

“Kanna! Menyingkir!”

Kanna mengangguk dan menyingkir, setelah Jisoo melempar sisir yang di pegangnya. Seketika, sisir tersebut berubah menjadi rumpun bambu lebat, menusuk tubuh para Yakusa no Ikazuchi. Mereka menghilang bersamaan dengan rumpun bambu yang menusuk mereka. Dan keadaan kembali tenang sedia kala.

“Jisoo!” seru para member keluar dari mobil, menopang Jisoo yang kelelahan.

Kanna mengubah baju zirahnya sekali lalu mendekati Jisoo. Tangan gadis itu mengeluarkan sebuah sinar biru menyentuh dahi Jisoo. Kanna mengembalikan stamina Jisoo yang terkuras juga menyembuhkannya.

Jisoo membuka mata, melihat sekeliling. Mereka merasa lega melihat keadaan pemuda itu baik-baik saja.

“Kau berhasil, Hachiman-sama,” ujar Kanna tersenyum.

Ia membalas senyuman Kanna. Setidaknya, berusaha membantu gadis itu menyerang makhluk tersebut telah ia lakukan.

“Lebih baik kita pergi dari sini sekarang. Sebelum hal yang buruk terjadi lagi,” perintah sang manager.

Mereka kembali masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Jisoo. Akan tetapi, gadis itu menahannya.

“Kau harus menyelesaikan tugas ini Jisoo-san. Kau tak bisa pergi begitu saja,” kata Kanna.

“Tapi, aku harus kembali. Tempatku bukan di sini,” jawab Jisoo lalu masuk ke dalam mobil.

Entah mengapa, mesin mobil tersebut tak menyala sama sekali kala dihidupkan. Berkali-kali sang sopir menyalakan mesin dan hasilnya nihil. Kap mobil kemudian mengeluarkan asap tebal.

“Kau tak bisa meninggalkan tempat ini, Jisoo-san. Para kami-sama tak mengizinkanmu meninggalkan tempat ini,” tutur Kanna.

Ia hanya terdiam. Berpikir jika tinggal di sini sertamerta melibatkan teman-temannya, maka ia adalah orang yang egois. Tak ingin teman-temannya terluka atau mendapat masalah karena dirinya.

“Baiklah, aku akan tinggal di sini hingga masalah terselesaikan,” kata Jisoo mantap.

“Itu tak bisa, Jisoo! Kau sendirian di negeri orang tanpa siapapun di sampingmu! Bagaimana bila terjadi sesuatu padamu?” protes managernya.

Jisoo tersenyum pada sang manager.

“Aku akan baik-baik saja, manager. Tidak usah khawatirkan aku. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan kalian karena masalahku. Aku pasti akan kembali pada kalian, percayalah.”

Mereka saling pandang satu sama lain. Rasa tak rela dan kasian terselip di hati mereka. Tak ingin meninggalkan Jisoo seorang diri di negeri orang yang asing bagi mereka.

“Apa kau yakin akan tinggal di sini, Kak?” tanya Hansol.

Jisoo mengangguk walau dalam hati sebenarnya tak mau berada di tempat ini. Keluarlah ia dari mobil tersebut pun berjalan mendekati Kanna. Teman-temannya masih memandang Jisoo dengan iba.

“Tenanglah, aku akan baik-baik saja!” jawabnya dengan senyuman khas.

Mesin mobil tetiba saja menyala kembali setelah Jisoo keluar lalu meninggalkan pemuda itu dengan rasa sakit di tempat tersebut.

“Jadi sekarang, kau mau apa?”

Kanna menyunggingkan senyum tipis mendengar pertanyaan Jisoo.

“Ikutlah denganku, ke Takama-ga-hara. Peperangan telah dimulai.”

Gadis itu menggenggam tangan Jisoo. Kemudian ia melihat cahaya terang diikuti dengan sesuatu yang menyedot tubunya dengan kuat seraya berputar. Hingga akhirnya, mereka berdua tiba di bawah sebuah gerbang berwarna merah besar khas kuil shinto dengan padang rumput hijau nan luas.

Pemuda tersebut terkejut menyawang dua belah pihak yang berbeda. Pasukan berbaju zirah ala samurai, menunggang makhluk berwujud kura bersisik berkepala singa bertanduk rusa, beserta figur-figur lelaki dan wanita rupawan berpakaian indah berada di sisinya. Sementara di sisi lain berupa monster-monster mengerikan seperti shikome dan Yakusa no Ikazuchi. Bulu roma Jisoo meremang.

“Jangan gentar Hachiman-sama. Kau lebih kuat daripada mereka, karena kau adalah pemimpin dari perang ini. Kemenangan kita ditandai dengan munculnya empat buah pelangi pada masing-masing arah empat mata angin di langit,” jawab Kanna.

Antara tak percaya juga takut, karena sejatinya ia tak pernah dan tak ingin merasakan apa itu perang. Tetapi mau tak mau, ia harus terlibat dalam masalah ini. Masalah yang tak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Hanya saja hal ini memang terjadi, walau terasa begitu fantasi.

“Kanna, aku mohon setelah semua ini berakhir. Jangan ganggu kehidupanku lagi.”

Seulas senyum terlukis di paras ayu Kanna diikuti dengan tepukan lembut di kepala Jisoo.

“Hidupmu akan kembali normal setelah ini. Tenang saja.”

Jisoo tak mengerti, kenapa tepukan itu terasa menenangkan diri juga hatinya. Seolah ia telah lama mengenal gadis tersebut.

Sebuah cahaya turun dari langit menuju padang rumput tersebut. Jisoo tak dapat melihat jelas sosok tersebut lantaran sinarnya begitu menyilaukan. Ia segera tunduk pada cahaya tersebut, karena secara refleks kakinya berlutut begitu saja.

“Bisakah kita mulai perang ini, Hachiman-sama?” suara lembut laksana dawai harpa menyapa rungu Jisoo.

“Laksanakan, Amaterasu-omikami!” jawabnya lantang diikuti kepercayaan diri luar biasa yang tak tahu darimana datangnya.

Secara magis, Jisoo menjelma figur pemimpin perang lengkap dengan baju zirah berkilau indah beserta beberapa senjata menakjubkan. Pun mendapatkan sebuah kekuatan tak terlihat di dalam tubuh.

Langit beralih warna menjadi kemerahan ketika suara genderang bertalu riuh, diikuti oleh angin berembus kencang bak badai. Raungan dari makhluk-makhluk Yomi no kuni terdengar menakutkan, seolah mereka berada di neraka dan suasana terasa mencekam penuh ketakutan. Akan tetapi, Jisoo tak gentar dengan semua itu. Melindungi Takama-ga-hara dan Amaterasu-omikami adalah tugasnya.

Seluruh pasukan dari kedua belah pihak mulai menyerang, setelah teriakan komando Jisoo dan para makhluk Yomi no kuni secara bersamaan.

Suara pedang saling beradu, rintihan kesakitan, genangan cairan hitam berceceran, serta kilatan-kilatan cahaya magis menghiasi medan pertempuran nan dahsyat. Langit semakin memerah beralih kehitaman karena betapa mengerikannya perang tersebut.

Jisoo memanah para makhluk mengerikan itu dibantu oleh Kanna dan kami-sama lainnya. Sejatinya para kami-sama adalah makhluk abadi, tak ada satupun dari mereka yang tewas dibandingkan pihak lawan. Pemuda itu mengeluarkan panah api terbuat dari magatama bersiap untuk membidik.

Akan tetapi…

Sosok mahkluk raksasa bernama oni, menusuk Jisoo dengan cakar tajam hingga menembus tubuhnya. Seketika cairan merah segar menyembur keluar membasahi rerumputan hijau. Ambruklah Jisoo bersimbah darah dengan napas terputus-putus di tempat itu.

“Hachiman-sama!” seru Kanna berlari mendekati Jisoo yang sekarat, kemudian membakar oni tersebut dengan api emas.

Kanna tersadar, Jisoo dewa yang bereinkarnasi menjadi manusia biasa. Bukan seperti dirinya yang berupa jiwa.

“Be-bertahanlah Jisoo-san!” Kanna mulai panik melihat Jisoo semakin melemah kondisinya.

“Aku tak apa-apa Kan— uhuk!” cipratan darah tercetak di permukaan kulit paras Kanna.

Dada Kanna bergemuruh sarat emosi. Dikeluarkan tombak bermata berlian dari tangannya. Menghunus, menebas serta menghancurkan makhluk-makhluk tersebut tak terkendali. Ia tak peduli dengan luka parah fisiknya −kendati pulih kembali− akibat serangan balasan.

“Kanna—hentikan…” Jisoo berjalan tertatih mendekati gadi itu walau ia sedang sekarat.

“Jangan kau gunakan emosimu… Aku tak apa-apa.”

Jisoo berkata dirinya tak apa-apa. Tapi lihat saja kondisi tubuhnya, berlumur darah dengan lubang menganga lebar di dada. Siapa yang tega melihatnya. Sementara sosok itu tetap tersenyum seolah tak merasakan apapun.

Hingga akhirnya, Jisoo tak sanggup menahan semua itu. Dan tubuhnya perlahan-lahan menjadi ribuan cahaya keemasan kecil, kemudian menghilang tanpa mempedulikan teriakan Kanna yang memintanya kembali.

.

.

.

.

“Hong Jisoo! Jangan tinggalkan aku!”

.

.

.

.

“Kak Jisoo!” panggilan Seokmin membuat sosok bernama Jisoo itu menoleh.

“Kau kenapa, Kak? Kenapa bengong seperti itu?”

Jisoo termenung sejenak, seketika tersadar. Ia kini tengah berada di lobi kedatangan bandara bersama teman-temannya. Padahal baru saja dirinya sedang berperang bersama Kanna di medan tempur dan…

“Kak, kau yakin tak apa-apa?” tanya Seokmin memastikan kembali bahwa pemuda itu saat ini berada di alam sadarnya.

Jisoo tersenyum menepuk pundak Seokmin pelan, kemudian merangkul sang happy virus tersebut.

“Hei! Kak Jisoo! Kak Seokmin! Cepat! Manager sudah menunggu di mobil!”

Seruan Chan pun membuat mereka berdua segera mengayunkan tungkai masing-masing.

Jisoo yakin, jika semua yang dialami hanya imajinasinya di siang bolong. Tapi entah kenapa, semua begitu nyata. Rasa nyeri pada dada akibat tusukan oni serasa membekas. Serta kekuatan nan meluap-luap itu seolah tertinggal di tubuhnya.

“Lihat langitnya!” seru orang-orang yang berkerumun di depan bandara nampak heboh.

Penasaran, ketiga belas pemuda tersebut mendekati. Soonyoung bertanya menggunakan bahasa Jepang fasih kepada salah satu pria.

“Permisi, Tuan. Apa yang terjadi?”

Pria tersebut menunjuk langit dengan mata yang seperti hampir keluar dari tempatnya, “coba lihat langitnya! Ini benar-benar tak bisa dipercaya!”

Mereka memandang langit. Iris Jisoo membulat, tak percaya dengan pengelihatannya. Dan semua itu ternyata memang benar-benar terjadi. Sebuah senyum tersungging di bibir tipisnya dengan embusan napas kelegaan.

“Aku tak percaya, tapi… empat pelangi di langit benar-benar indah sekali,” celetuk Junhui.

Netra Jisoo menangkap sosok gadis yang dikenalnya dari kejauhan. Gadis tersebut tersenyum bangga padanya, kemudian berubah bentuk menjadi kelopak bunga sakura merah muda seraya terbang ke langit tertiup angin.

“Hidup, Amaterasu-omikami,” gumam Jisoo.

“Hah? Apa yang kau bicarakan, Jisoo?” tanya Seungcheol.

Pemuda tersebut tersenyum pada Seungcheol, lalu melangkah meninggalkan bandara bersama teman-teman lainnya. Ini akan menjadi liburan yang menyenangkan juga menenangkan untuknya.

.

.

.

.

Sosok makhluk bertubuh macan dengan ekor ular berbisa berkepala monyet, tengah mengawasi Jisoo dari balik semak tanpa ia sadari.

 

end

 

a/n : the weirdest fic that I’ve made before LOL. Too much watching animes also read mangas from kid till now. Gantung? Sengaja sih, biar asyik hehehe.

Absolutely, I made this fic after opened my very very old book. Jadi buku tulis itu isinya tentang Japanese fantasy gitulah, pas jaman SD bikin bareng sama temen bhahahaha. Trus karena ga tahu kelanjutannya gimana dan daripada dianggurin, akhirnya jadilah fic super aneh ini buahahaha. Fantasy? I don’t think so, cause isn’t fantasy enough. Pemikiran Narin cuma seempang buat bikin fic fantasi wekekeke.

TBVH I’m so fckng bad to combine genres. So I feel like… okay… I must try to combine right genres and make a better fic than before cause I’m… yeah… I’m not a good writer but a dumbass writer HAHAHAHAHAHA.

I’ll take a rest, for a while. Memperbaiki kesalahan-kesalahanku dalam menulis selama ini dan menjadi lebih baik lagi, serta mencoba bagaimana cara menyampaikan feel pada fic agar orang-orang yang baca bisa merasa greget huehehehe.

And this is my last fic. We’ll meet soon again~

Thanks your apreciation for my fic(s). I’ll be better soon ^^

I love you guys ♥♥

 

p.s. : pada dasarnya aku ga bisa bayangin Joshua jadi dewa perang, kecuali Mingyu ato Wonwoo wkwkwk.

Advertisements

9 thoughts on “[Oneshot] Rise Of God-War

  1. KA NARIIINN DEMI APAAA INI KECE WARBYAZAAHH!!

    Aku suka fantasi! ❤ Dan FF nya ka narin kayak semacem obat kangen buat aku *halah* Btw, ka narin hebat banget bisa kebayang makluk makhluk aneh yang astagaaa…. aku ngebayangin aja udh ngeri…. wkwkw
    Dan ini dari semacam mitologi gtu ya ka? Total banget risetnyaaa….! aku beneran kayak ikut berada di antara Jisoo dan Kanna… penuturan deskripsinya juga aku sukaaakk ❤ ❤

    Tapi aku penasaran gimana Jisoo menghindari petir waktu mereka dihadang pas lagi di mobil itu. XD apa dia melompat? berguling? lalu sempet kena kan ya? apa dia masih ganteng? /dibakar ka narin// ampun ka XD XD

    Mungkin karena ini diambil dari sudut pandang penulis kaliya, jadinya aku kurang paham isi hatinya jisoo kenapa dia sampe berubah pikiran jadi pengen melindugi… um… apa itu? amaterasu ya?

    Um… cuma ada beberapa typo ajasih, selebihnya aku enjooy berasa kayak nonton anime! serius! ini keren! ❤

    SEMANGAAT KA NARIIIN!

    1. Kepz jebol wkwkwk
      Makasih udah suka ^^
      Perlu diperbaiki lagi sih fantasynya wekekeke
      Makasih yaa ❤

  2. Rin…. namanya susah susah rin… tapi aku menikmati ceritanya wkwkwk. paling suka pas bagian ending.. pas ada monster yg lihatin si jisoo…

    btw aku kira jisoo bakalan menghilanh menjadi cahaya kecil2 trus nggak balik lagi. eh… ternyata ada efek kayak flashback gitu yah… bagus bagus… lain kali dibikin chapter aja riin

    1. Wekekeke sebenernya nama Korea lebih susah daripada nama Jepang *ditampol*
      Makasih ya Ul udah baca dan komeen ❤

  3. AAAAAA KAK NARIIIN… INI APAAA???? JOSHUA JADI APAA??? KENAPA KEREN SEKALIII??? :””
    well, jujur aku nggak terlalu tau tentang nama2/? Jepang yang kakak paparin di sini. Soalnya aku gak pernah (jarang2 maksudnya) nonton anime. Dan gak terlalu tertarik 😂😂 Makanya gak tau 😂 tapi aku enjoy aja bacanya, Kak. Suka soalnya 😂😄
    Aduhh tapi kak Narin, KENAPA HANSOL CUMA NGOMONG DIKIT? LAGI NGIRIT SUARA YA, HAN/? kkk
    Oke, keep writing kak! Maaf baru bisa komen sekarang ✌✌✌✌

  4. KYAAA ADA WUJI/dibuang/dilelepin ke laut/
    /gak/
    aku lagi dalam masa memanfaatkan wifi sebaik baiknya dengan melototin lepi sebisa mungkin/plak wkwk kuotaku abis bis bis kak dan keknya ini agak lama juga keisi lagi hiks :’
    dan balik ke cerita wkwk
    DEMI APA KAK AKU BACANYA PAS DI JALAN PULANG LOH AKU GREGETAN SENDIRI AAAKKK apalagi waktu insiden mereka pas mau balik ke korea, itu josh ditolongin kanna :’) dan pada akhrnya dia mau juga buat diajak ikut perang… alhamdulillah berarti pintu hati josh terketuk/nid/
    pas peraaaaaaaaaaaaang…… aaakkkk.. bener deh aku kira tadinya mau menang, tapi ternyata malah josh mati/? gak ding dia gak mati akhirnya… malah ngira itu mimpi. untug ada pelangi jadi dia yakin itu gak mimpi. aku paling seneng pas pelanginya pada muncul :’) rasanya josh berhasil gitu kak :’) kan jadi terharu :’) untug dia gak mati :’) nanti kalok dia mati ly sama siapa :’) gawat kalok ly balikan sama kyung,eh, malah ngelantur/buang nida/
    walau aku gak begitu ngerti sama istilah jepangnya, tapi semakin kesini semakin ngerti wkwk
    JOSS DEH POKOKNY KEYEN WKWK KANNAJOSH DEBUT HAHA
    ❤ ❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s