[Freelance] Akhir Suatu Hikayat (Ficlet)


Akhir Suatu Hikayat

Akhir Suatu Hikayat

 

Songwriter : OtherwiseM | Artist : Boyfriend’s Twins, Jo Kwangmin and Jo Youngmin | | Genre : fantasy, brothership, angst, dark | Duration : ficlet (800+ words)| Rating : PG-15

 

Kemudian, takdir Tuhan dengan keji menghempaskanku pada realita yang bagaikan mimpi paling buruk di antara segala mimpi buruk yang pernah kualami.

.

.

.

Kak, ingat tidak kali pertama kau menemaniku berlatih? Saat itu bundar kuning di cakrawala seakan membakar rambut. Peluh sebesar biji jagung iringi pergerakan kita bersama jeritan tidak perlu—hanya seakadar untuk terlihat keren saja. Berkali-kali kau mengomeliku yang tak memberi cukup atensi terhadap penjelasanmu. Latihan ini tak membuahkan hasil sama sekali lantaran kita berakhir dengan adu gulat dan tawa lepas yang mengudara.

Kak, ingat tidak bagaimana kau membusungkan dada saat mengatakan padaku bahwa hamparan ilalang di dekat rumah adalah tempat latihanmu bersama sang ahli pedang istana, Kapten Steve? Saat itu binar kagum di kedua netraku tidak bisa ditutupi. Terlebih kala kedua lenganmu dengan lihai memainkan pedang. Kemudian aku berakhir tergelak sampai berguling-guling di rumput saat suraimu nyaris habis tertebas pedangmu sendiri.

Kak, ingat tidak saat aku dikerjai habis-habisan hingga luka lebam penuhi wajah hanya karena aku tidak bisa berlari mengelilingi kota dalam tantangan konyol yang kusetujui begitu saja? Hardik tegas dan sorot mengancammu saat aku hampir ditenggelamkan ke sungai adalah bagian favoritku. Anak-anak nakal yang lari kocar-kacir saat kau baru saja akan mendekat juga masuk kategori momen-terbaik-sepanjang-hidupku.

Meski kita identik, fisik kita tidaklah sama. Kau yang akan menjadi calon pemimpin pasukan cadangan istana di usia belia dan aku yang bahkan tidak bisa memegang pedang dengan benar, bagaikan langit dan bumi. Kendati perbedaan di antara kita terbentang sebegitu jauh, selagi genggaman tanganmu serta senyummu menemani setiap langkahku, aku akan baik-baik saja.

Ya, aku akan baik-baik saja.

Bahkan setelah Ayah dan Ibu gugur dalam peperangan. Selagi kau masih berdiri di sisiku, aku akan baik-baik saja.

Hingga kegelapan sekonyong-konyong mencengkeram kedua kakiku dan membawaku ke tengah-tengah lautan duka.

Itu adalah saat salju pertama turun dengan indah. Kau—sang pemimpin pasukan cadangan—diharuskan pergi memberi bantuan pada pasukan utama yang kewalahan mengatasi makhluk dari lembah api di garis depan. Saat itu kondisi negeri sedang kacau-balau akibat dekralasi perang dari sang pemimpin kegelapan. Mayat bergelimpangan di jalanan. Siapa saja yang bertemu dengan salah satu makhluk mengerikan itu akan dibantai tanpa belas-kasih. Aku—sang prajurit biasa—diharuskan menjalankan misi untuk menuntun rakyat ke tempat persembunyian di bawah tanah.

Aku tidak pernah menyangka pertemuan singkat yang terlalui tanpa bertukar sapa dan sibuk dengan misi masing-masing itu adalah yang terakhir kalinya bagi kita. Karena kau dan seratus prajurit bawahanmu lenyap sebelum pacu kuda kalian berhasil memijak medan perang.

Sekepal rindu meninju relungku sampai berkali-kali bulir sialan ini bocor melewati tanggulnya. Sekeras apapun aku berusaha melupakan, tetap saja akan berakhir dengan merasuknya ingatan tentang Ayah, tentang Ibu dan tentangmu.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa seorang diri di dunia ini. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa diikat kuat oleh kesedihan yang membuatku enggan bangkit kembali. Untuk pertama kalinya, segala hal tentangmu membuat dadaku teramat sesak hingga nyaris tewas.

Aku merindukanmu, kak. Sangat.

Kemudian, takdir Tuhan dengan keji menghempaskanku pada realita yang bagaikan mimpi paling buruk di antara segala mimpi buruk yang pernah kualami.

Di hadapanku, berdirilah sesosok lelaki yang mengenakan zirah perak dan jubah merah menjuntai sampai betis. Di genggamannya ada pedang yang diacungkan padaku. Iris hitamnya bersitatap dengan milikku yang berwarna biru. Bibirnya merapalkan satu kata yang terus diulang sampai telingaku bosan menangkap suaranya yang mendayu,

“Bunuh! Bunuh! Bunuh!”

Dan orang itu adalah kau, Kak.

Yang kehilangan senyum di wajahnya. Yang kehilangan kehangatan di balik kedua bola matanya. Yang kehilangan jati diri di depan adiknya. Kau benar-benar berbeda sampai tak dapat kukenali kalau saja aku tidak ingat bagaimana wujudku dalam cermin.

Tungkaimu terayun dalam tempo sedang. Berangsur mengikis jarak tiga depa di antara kita. Tanganku kelewat gemetar untuk sekedar mengacungkan pedang ke arahmu. Kemudian saat suara bariton itu menendang gendang telingaku keras-keras, saat senyap yang menemani kita berubah jadi dentingan dua pedang, saat sang ratu malam berduka melihat pertarungan sepasang saudara kembar dan biarkan arak-arak awan halangi sinarnya, sebuah keputusan berhasil kugenggam erat-erat.

Mungkin ini bukan keputusan terbaik yang pernah kubuat—

“Kakak! Kumohon hentikan!”

Mungkin saja ini akan jadi hal yang paling kusesali seumur hidup—

“Bunuh! Bunuh! Bunuh!”

Tapi aku tidak bisa kalau disuruh bergeming dan menyaksikan bagaimana kegelapan memanipulasi ragamu untuk melakukan hal yang lebih buruk. Walau aku tidak yakin sihir kegelapan akan seutuhnya musnah dari dunia, tapi aku mana bisa membiarkan kakakku satu-satunya ditenggelamkan kegelapan. Lagipula, realita memang lebih mengerikan dari sepasang bola mata merah yang mengawasi dari bawah ranjang, ‘kan?

“Kak, maafkan aku.”

Satu tetes dari pelupuk mata dan muntahan merah dari dua mulut adalah akhir dari ceritaku yang tragis.

Bedebam keras menggema disusul deru napas yang saling bersahutan. Lamat-lamat biarkan hening merayap. Di antara oksigen yang semakin sukar dihirup, irismu berubah biru seperti dulu. Di antara rasa nyeri dari pangkal kaki sampai ubun-ubun, senyum tipismu berhasil menyinggahi netraku seperti dulu. Di antara hembusan napas yang bersahutan, noda merah warnai parasmu yang seroma denganku.

Sialnya, sebelum aku sempat berkata, kegelapan sudah menarikku pergi dari bengisnya buana. Bersama denganmu yang masih saja memaksa utarakan isi hati dengan seuntai kalimat,

“Maafkan aku, Kwangmin.”

—Fin—

Butuh saran dan kritik maksimal :”

and last, would you like to review?

Advertisements

18 thoughts on “[Freelance] Akhir Suatu Hikayat (Ficlet)

  1. aihhhh.. speechless… ini keren banget…
    kasian mereka berduaaaa… kwangminnya yg kena sihir 😥 akhirnya mereka mati berdua. tragis bener. aku suka ceritanya yang ngambil tentang collosal kaya gini. aku jarang nemu soalnya. jadi keinget film apa ya? yang prajuritnya itu jin semua. ya iyalah yang manusia mana bisa ngelawan. /dulu aku penggemar collosal banget dan segala rupa tentang perang/ wkakakak..
    diksinya jg keren banget, ngena banget, sampe di ending aku pengen nangis. hiks
    keren banget lah pokonya…
    keep writing buat authornya 😀

    1. halo~ iya nih kena sihir heuheu :” sihir cinta *ditendang
      jauh*
      sejenis narnia kah? aku juga suka sama cerita yang
      perang gitu~ keren sekaligus gereget gitu~ jaman saat
      ponsel masih entah ada di mana waks xD
      makasih ya ^^ duh jangan nangis nanti aku dimarahin
      mama bikin nangis anak orang T.T

      1. hah?? sihir cinta?? /rolleyes/ wkwkw
        kalo di fanfic ini lebih mirip ke the lord of the ring gitu /baru inget saya/
        iya aku jg suka banget perang2an gini, kaya narnia… duuhh aku penggemar berat skandar keynes /waksss/
        apalagi kalo yg sad ending collosalnya macem gladiator sama the last samurai. udah lah hamba tidak berdaya. wkwkwk

        bhaaakkk telaattt, udah nangis duluan ini heheh
        iya sama2 author-nim. tetap berkarya ya semangaatttt 😀

        1. waks XD hahahahaha iya sihir cinta XD sihir cinta buat si dia yang ga peka :” *apaan sih mel*
          terinspirasi dari narnia juga sih~ aku penggemar beratnya T.T berharap narnia 4 muncul heuheu :”
          ngomong-ngomong banyak terinspirasi juga sama uchiha sibling XD waks
          yap ^^ makasih banyak yaa~~ 😀

          1. bhaaakk malah jadi curhat XD
            owalaahhh… aku jugaaa penggemar narniaaaa, sayangnya di narnia 4 katanya gak bakalan ada pevensie siblings lagi ya 😥 untung eustace nya skrg udah gede, udah macho, gak kaya eustace di narnia 3 wkwkwk…
            uciha sibling juga tragis ceritanya. hehe
            iyaaa sama2 🙂

          2. bwahahahah xD gapapa deh biar gereget XD
            oh ya? :” aku kudet soal itu :” huwaaa~~~ padahal masih pingin liat si tamvan ed :”
            iya sumpah xD dia di narnia 3 keliatan bocah nakal banget xD lawak deh hahahha XD
            iya ih tragis banget uhuk :” demi desa :” mereka harus salah paham sampe gede :”

  2. AAAAAAAA baperrrr ih kalo nemu fiksi yang brothership terus ngefeel kaya gini ihhhh bawaannya pengen meluk authornya>< ngga tau kenapa yah lebih baper genre2 kaya gini drpd romance~_~
    apa yang mau dikritik? ini diksinya ajah udah bagussss. makpolllll keren!!!!

    pokonya ditunggu deh karya selanjutnyaaa<3

  3. aaaaakuuu pengin nangis. huhuhu selalu kebawa emang kalau ceritanya tuh anak kembar, ini apalagi duh, mana diksinya keren banget… :3
    suka suka suka.
    itu mereka mati bareng yaa?? tega nih authrnim… tanggung jawab! /apadah/

    anyway, keep writing ^^

    1. Halo ^^ iya anak kembar emang sesuatu :” jadi pingin punya anak kembar deh :” *kenapa jadi omongin anak?*
      Iya nih mati bareng :” mati demi kebaikan :” *dan aku pun digantung
      Makasih udah baca ya ^^

      1. aku juga penginn… :3 apalagi yang ky’ jo twins. haha /ngayal tingkat dewi/

        gpp lah mati bareng, itu lebih baik daripada cuma salah satu, bisa-bisa aku minta sequel. wkwkwk 😛

        sama-sama authornim ^^

        1. hihi x3 bayanginnya jadi gemes deh~ nanti bajunya samaan, terus saking kembarnya malah sampe gabisa bedain XD hahahaha
          karena bersama itu lebih baik /?/ waks XD

  4. halo~ iya nih kena sihir heuheu :” sihir cinta *ditendang jauh*
    sejenis narnia kah? aku juga suka sama cerita yang perang gitu~ keren sekaligus gereget gitu~ jaman saat ponsel masih entah ada di mana waks xD
    makasih ya ^^ duh jangan nangis nanti aku dimarahin mama bikin nangis anak orang T.T

  5. KWANGMIIIIIN YOUNGMIIINN YA TUHAAAAN FIC INI BIKIN BAPER DAN SEDIH SANGAAAT 😭
    NICEE BANGET PENGGAMBARANNYA AKU SUKA, PLOT DAN BACKGROUNDNYA JUGA SUKA 😭😭 FAVORIT LAH, udah ga ada revisi atau apa pun itulah :”””””)
    keep cast-ing si kembar ajahhh, ditunggu next story ya! Xx.

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s