[Vignette] Kemarin, Hari Ini, dan Esok


1-el-banco-en-el-acantilado

Kemarin, Hari Ini, dan Esok

A fanfic by narinputri
cast : Joshua from SEVENTEEN genre : a bit fantasy, life length : vignette rating : general

credit image by Google

“Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That’s why they call it present.”Master Oogway (Kungfu Panda)

♣♣♣♣

Katanya, ia bisa bertemu dengan orang dari masa lalu dan masa depan.


Omong kosong? Benar. Tapi pemuda bermarga Hong itu mampu melakukannya.

Di tempat itu, ada sebuah bangku panjang berwarna cokelat. Terletak di atas tebing penuh rerumputan hijau, berhiaskan bunga berwarna-warni bak pelangi, serta menghadap birunya laut lepas. Di sanalah pemuda itu berbagi kisah hidup dari mereka yang berbeda dimensi.
.
.
.
.
“Aku berasal dari tahun 2514,” ucap seorang pria paruh baya yang duduk di samping Joshua sembari meletakkan topinya.

Dilihat dari cara berpakaian, pria itu nampak seperti orang pada umumnya. Akan tetapi, ketika ia membuka topi, terlihat sebuah benda berbentuk chip berukuran sedang tertanam di tengkuk, bersama kabel-kabel kecil tertancap pada kepala gundulnya.

“Kau tahu, di tempat kami hidup. Kami tak mengenal apa itu tumbuhan. Yang ada hanyalah ‘hutan beton’. Sungai pun sebatas air ledeng bercampur merkuri terlindung oleh aluminium. Langit begitu kelam tanpa pelangi, bahkan sinar mentari hampir enggan bersinar di permukaan bumi. Ditambah udara berselimutkan partikel-partikel berbahaya. Hingga sekarang kami menjadi seperti ini, hidup bergantung dengan alat, bukan organ tubuh layaknya manusia pada umumnya.”

Joshua tersenyum simpul mendengar penuturan sang pria dari masa depan tersebut.

“Semua orang dari masa depan, hampir menceritakan hal yang sama kepadaku, Tuan. Aku paham jika esoknya bumi akan menjadi seperti itu. Tapi, bila memang masa depan bumi begitu, manusia hari ini harus mengubah pola pikir masing-masing,”

Netra pemuda itu menatap birunya langit yang sewarna dengan lautan. Seolah keduanya saling menyatu. Ia kembali membuka suara.

“Jika mereka masih bertahan dengan ego masing-masing, mementingkan hasrat ingin berkuasa dan menjatuhkan satu sama lain. Mungkin suatu saat, bumi akan hancur dengan cepat tanpa kita ketahui. Masa depan bagiku itu misteri, Tuan.”

Sang pria mengangguk paham kemudian mengendurkan sedikit sekrup pada tengkuknya. Gumpalan asap kelabu keluar dari kabel-kabel yang tertancap. Menandakan jika tubuh tersebut telah lelah dan segera diisi oleh energi baru sebelum lima belas jam yang akan datang, bila tak ingin ‘meledak’.

“Mungkin, kau harus mulai merubahnya, Nak. Demi kelangsungan hidup kami dan juga dirimu di masa depan. Bisa saja masa depan berubah di tanganmu,” ucap lelaki tersebut berusaha memberikan senyuman hangat di bibir kakunya.

Joshua ikut tersenyum menepuk pundak besi sang pria. Surai hitam lembutnya tertiup angin sepoi diikuti aroma segar laut menyeruak indra penciuman. Sayang, pria itu tak mampu merasakannya.

“Kemarilah lain kali, ceritakan padaku tentang kehidupanmu esok hari, bila kita bertemu lagi.”

Pria dari masa depan itu melangkah meninggalkan Joshua. Dari situlah, Joshua belajar, bagaimana mengubah hari ini menjadi sesuatu yang baik untuk masa depan. Walau pun masa depan masih tanda tanya juga misteri.
.
.
.
.
“Aku hidup di tahun 1948,” kata seorang wanita muda dengan hanbok berwarna merah muda pucat serta rambut hitam tergelung agak berantakan, menyawang lautan biru lepas dari bangku tersebut.

Seperti biasa, Joshua mendengar setiap cerita mereka yang datang, menyampaikan sesuatu sekiranya bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka kelak. Meski diubah pun mustahil lantaran takdir, begitulah kata Joshua.

“Aku tahu, kau tak mungkin mengubah masa lalu. Tapi aku hanya ingin menceritakan sesuatu,” pelupuk wanita tersebut menggenang, likuid bening siap meleleh kapan saja.

“Merupakan suatu peristiwa yang begitu menyakiti hati kami sebagai penduduk pulau Jeju. Desa kami ‘bersih’ tak bersisa. Para penduduk tak berdosa kehilangan nyawa mereka. Pembantaian juga pemberontakan yang….”

Joshua terdiam memandang sang wanita yang menangis, tak kuasa menceritakan hal tersebut. Karena baginya, peristiwa tersebut merupakan hal paling mengerikan sepanjang sejarah. Melihat pakaiannya terdapat bercak darah kering pula lusuh, tebak Joshua, sosok tersebut berhasil melarikan diri hingga kemari.

“Nona, aku tahu betapa mengerikannya peristiwa tersebut walau hanya membacanya di internet. Banyak dari penduduk pulau tersebut bermigrasi ke Jepang dan menjadi imigran gelap. Tak mau kembali ke kampung halaman karena trauma akan kejadian tersebut,” Joshua mengambil oksigen dalam mengisi ruang paru-parunya.

“Tapi, Nona. Pada tahun 2003, Pemerintah telah meminta maaf secara resmi kepada seluruh penduduk Jeju atas insiden tersebut. Setelah enam puluh tahun lamanya penduduk Jeju menetap di Jepang, mereka kembali dan—“

“Walau begitu tetap saja tak mampu menyembuhkan luka hati kami! Kau pikir dengan meminta maaf akan menyelesaikan semuanya? Bila kata ‘maaf’ bisa mengembalikan suamiku, menghidupkan kembali anak lelaki dan perempuanku, aku akan memaafkannya!”

Suara wanita dari masa lalu tersebut menguar di udara, bersamaan angin laut berembus tenang menggoyangkan rerumputan dan bunga-bunga di tempat itu.

Terdiam yang dapat Joshua lakukan, mendengarkan deburan ombak tanpa ingin menyakiti hati wanita di sampingnya. Karena ia tahu, teramat dalam sakit yang dirasa. Untuk pulih dari rasa sakit itu memakan waktu lama, ataupun membekas tak mampu disembuhkan.

Teringat Joshua di masa kehilangan adik perempuan satu-satunya yang dicintai, karena kesalahannya. Ingin sekali Joshua mengutuk diri sendiri, kala mengingat perihal mengerikan yang menghantui hingga kini sebagai memori menakutkan abadi.

Akhirnya sang wanita meninggalkan Joshua sambil bersedu di tempat itu. Adakalanya termangu si Joshua, karena tak mampu menyampaikan pendapat terhadap mereka yang datang. Perlu diingat, Joshua manusia biasa pula. Tak selamanya sanggup menyelesaikan masalah orang lain.
.
.
.
.
Setidaknya di tempat itu, pada sebuah bangku di atas tebing yang berhiaskan rerumputan dan bermacam bunga, serta pemandangan laut lepas nan biru.

Joshua bisa belajar dari tiap orang yang ia temui selama dua puluh tahun hidupnya. Dari jaman di mana belum mengetahui teknologi hingga semua serba canggih. Bunga edelweiss bahkan tak satu pun tahu, saking majunya perkembangan.

Tapi, yang dibutuhkan sekarang adalah figur pendengar baik alias seorang teman di tempat itu. Sebab mereka yang datang hanya sekejap datang dan begitu saja pergi. Tanpa pernah mengerti, bahwa pemuda itu menginginkan sosok ‘teman’ di sisinya. Kendati Joshua tak pernah menyampaikan secara langsung.

Bisa dikata, hati Joshua selalu kosong di tempat itu, walau banyak orang yang ditemui bercerita padanya tentang hidup mereka.

Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang belum dirasakan sebelumnya, hari ini.
.
.
.
.
“Hai, namaku Lyanne! Eum… panggil saja aku Ly, agar lebih singkat.”

Joshua tak pernah mempermasalahkan siapa saja yang bertemu dengannya itu menyebutkan nama atau tak. Karena suatu saat dirinya juga akan lupa. Catat, Joshua hanya bertemu dengan mereka satu kali dalam hidupnya.

Ly, gadis bersurai kecokelatan itu, memetik setangkai bunga dandelion lalu duduk di samping Joshua. Entahlah, getaran aneh menggelitik dada dirasa pemuda itu ketika Ly berada di sebelahnya.

“Ayahku yang meletakan bangku ini di sini. Beliau berharap, ketika beliau telah meninggalkan dunia ini, aku bisa bertemu dengannya di tempat ini. Menceritakan apa yang terjadi kemarin dan hari ini, juga membicarakan rencana untuk masa depan,” tutur Ly menyisipkan anak rambut yang tertiup angin sepoi di daun telinganya. Dan itu terlihat indah di netra Joshua.

“Oh, jadi begitu kisah tentang tempat ini. Aku tak akan pernah tahu jika kau tak menceritakannya non—“

“Jangan panggil aku ‘nona’! Panggil saja Ly, toh umur kita tak beda jauh.”

Joshua mengangguk mengerti. Mengakrabkan diri sejenak dengan gadis bernama Ly tersebut, mungkin adalah hal yang baik. Biarpun tentu mereka tak akan berjumpa lagi esok hari.

“Aku pernah melihat seorang anak lelaki, saat itu ia berumur dua belas tahun. Selalu duduk sendirian tanpa satu orang pun yang menemani. Ingin sekali kutemani sosok itu. Tapi banyak orang-orang datang padanya dengan pakaian aneh juga unik. Jadi aku mengurungkan niat untuk menemaninya,” Ly bercerita dengan nada layaknya gadis tengah memendam cinta pertama pada seorang lelaki.

“Aku memperhatikannya dari jauh tanpa maksud mengganggu. Tapi, aku menunggu kesempatan agar bisa berbicara dengannya. Cukup lama memang, namun aku percaya pada hal yang dinamakan takdir. Karena bila takdir berkehendak, semua pasti terjadi.”

Joshua mencerna perlahan-lahan ucapan Ly. Dirasakan sebuah deja vu saat gadis itu bercerita, tapi tak tahu kapan dan di mana…

“Aku tahu hal itu, Ly. Takdir adalah sesuatu yang tak bisa kita hindari. Takdir bisa berupa ‘hadiah’ ataupun ‘petaka’,” jelas Joshua memberikan senyuman manis sembari menyandarkan tubuhnya di bangku tersebut.

Perlahan, Ly mendekatkan wajahnya pada Joshua, mengunci retina bening pemuda itu dalam.

“Jadi, pertemuan kita ini, apakah merupakan ‘hadiah’?”

Serasa kejutan listrik menyetrum jantung Joshua diikuti oksigen yang lesap begitu saja dari tempat itu. Kulit wajahnya menghangat serta aliran darah mengalir bak jeram sungai. Sedangkan jantungnya bertalu seperti genderang perang. Tak mampu ia menjawabnya.

Angin semilir berembus, membawa aroma laut bersama deburan ombak terdengar menenangkan di rungu Joshua walau terbiasa. Semata-mata, hal tersebut terasa berbeda juga lebih indah ia rasa kini.

Gadis itu berdiri meninggalkan Joshua tengah termenung di tempat itu. Sebelumnya, ia mengacak lembut surai legam pemuda itu.

“Kemarin, aku hanya bisa memandangmu dari jauh. Hari ini, aku senang karena dapat berbicara padamu. Dan esok, aku adalah temanmu. Lebih tepatnya teman hidupmu.”

Sebuah kurva kecil nan indah tersungging di bibir Joshua tatkala merekam ucapan Ly di kedua indra pendengarannya.

Barangkali, gadis itu akan menemaninya dan menjadi pendengar setia akan ceritanya sampai kapan pun.

 

−einde−

 

a/n : eung… sebenernya cerita ini berdasarkan mimpi aku. Di mana aku berada di tempat kayak poster di atas (tapi lebih indah lagi tempatnya serius), trus ketemu sama almh. Mbah Kung/kakek. Di situ kita cerita bareng2, aku cerita gimana kehidupanku dan keluarga setelah beliau pergi (beliau meninggal pas aku SD pas ujian akhir).

Terus beliau ngasih nasehat segala rupa, suruh jagain keluarga dan semoga dapet jodoh yang baik (ya doain aja sama Hong Jisoo, Mbah).

Terima kasih untuk apresiasi kalian kepada ficku ♥

Mind to leave reviews and comments?

Advertisements

29 thoughts on “[Vignette] Kemarin, Hari Ini, dan Esok

  1. WAH JADI INI KAK WKWKWK ADUH /dateng2 ngerusuh

    Kukira ceritanya cuma nyeritain Jisoo yg bisa ketemu orang2 masa lalu sama masa depan doang. Ternyata ketemu Ly wkwk etapi kutak paham ini Jisoonya cuma hidup di tempat itu doang? Trus Ly bisa ke sana gimana caranya? Ada semacam pintukah/? /imajinasi cetek /zzz

    Tapi cerita kanarin mah keren as always yha h3h3. Idenya kusuka sekali lah anti-mainstream sangat. Nulis terus ya kak kutunggu cerita2mu♥♥♥

    1. WOI RUSUH WKWKWK

      Just guess it, habis ketemu orang dari masa lalu dan masa depan, terus ketemu dari masa apa lagi? ehehehe.

      Trus itu Jisoo yha sering ke tempat itu woi bukan hidup di tempat itu 😂😂
      Thanks for reading and commenting ya ❤

  2. SO MUCH LESSON IN ONE FIC. NICEEEEEU.
    Jisoo duduk mulu aja didatengin jodoh, ikutan ah cari tempat begitu siapa tau jodoh dateng juga *lah
    banyak kata baru yg sebenernya umum sih tp gatau kenapa dimasukin kesini jadinya ehem banget, sukak lah sama ff narin :’)

    1. Ehem kenapa kak…..?
      Ya aku juga mau mah duduk di situ terus, habis itu ketemu jodoh /jodohnya kakaJosh/ /disleding/
      Thanks kak for reading and comment ❤

  3. ku tak berdaya narinkuuuhhh …. ajarin aku napah … atau bagi2 dong ide2nya …. Hikseu
    ku sampai brosing2 coba ttg peristiwa jeju itu, ngeriii emang.
    tapi banyak jg pesan2 morilnya di ff ini. sukaaa deh hehehe…
    terakhirnya soswit sekaleehh, jadi josh dan ly balikan nih??? wkwkwk
    good job senphayyy…
    btw, I miss you alot Rin… lama tak celoteh2 ria di line hehe..
    aku sampe mimpiin kamu coba bhaaakkk /apakah ini jatuh cinta??/ 😛

    1. ANJER DIMIMPIIN YA ALLAH, SEGITU KANGENNYA KAH ANDA SAMA SAYA :”””)))))
      Ah tapi jangan2 mimpinya psycho lagi :”””((((((

      Balikan ga ya wkwkwk soalnya tadi Ly habis ngedate sama Kyung juga sih…..
      Jadi sekarang ga tau nih milih Josh apa Kyung :””((( kalo bisa dua2nya juga gapapa Ly mau kok :”””))))) /disepak Ly/

      thanks for reading and comment yaa ❤

      1. SERIUSAN RIN.. TADI HABIS MAGHRIB TIDUR KRN BADAN SAYA REMUK2 KECAPEAN, TERUS MIMPIIN KM, DAN MIMPI BURUK PULA HIKS… INI SUERR GAK BOONG

        KOK KYUNG????????????? :'((((((((
        UDAH SAMA JOSH AJAAAAA…..

        sama2 rin 😀

        1. BUANGQE makanya jangan tidur maghrib2 ntar disamperin sama Narin /GA GITU RIN/

          ETAPI SERIUSAN AKU TADI HABIS NGEDATE SAMA D.O. :)))))) D.O. KW SIH TAPI WUAKAKAKAKAKAKAKA :””””))))))))

          1. bhaaakkkk… sumpah mimpi serem banget rin… mimpi setan wkwkwkwk apa gara2 akunya gak baca doa??? 😥

            kyungsoo kw ituuuu??? yg di PP line mu??? tjieeehhh yg nonton berdua wkwkwkwkw

        2. WAKAKAKAKA sebenernya hadiah dari event kpop kemaren sih yha….
          Aku kan semacem menang IG challenge ato apalah gitu.
          Trus tadi sore aku di DM kan lewat IG, ditanyain siapa biasku di grup dance cover itu. Trus aku bilang kan si /disensor nanti di Line aku kasih tau wkwkwk/ yang jadi D.O.
          EH GATAUNYA TERNYATA HADIAHNYA NONTON BARENG DESS SAMA DIA YA ALLAH AKU SEPICELESS…….. MANA NONTONNYA FILM HORROR TAPI BOSENIN WAKAKAKAKA /serius filmnya bosenin/

          Trus diajakin makan mie jawa bareng pas hujan2 AAAAAKKKKKKKKK YA ALLAH FANFIC SEKALI YHA HIDUP NARIN HARI INI HAHAHAHA /dilindes/

          1. BHAAAAKKK HIDUP NARIN SERUPA FANFIC SKRG XD
            BTW, HADIANYA KOK UNIK BANGET YA? DIAJAK NONTON SAMA MEMBER DANCE COVER.
            TAPI SERIUSAN KOK GANTENG SIH YG JADI KYUNGSOONYA??? WKAKAKAKAK
            HAMDALAH NARIN AKHIRNYA DIPERTEMUKAN DENGAN KYUNGSOO DI DUNIA NYATA XD MAU AKU AMININ JADI JODOH GAK??? BRUAKAKAKAK

        3. GANTENGLAH!! TAPI SETAUN DI BAWAHKU MASA DESS :”””
          TAPI GAPAPA SIH JOSH DUA TAHUN DI BAWAHKU MALAH HEU

          JANGAN DONG!! JODOH NARIN KAN JOSH DESS /digolok/ KALO BISA HONG JOSHUA ASELI BUKAN KW HUAHAHAHAHAHA /digiles/

          1. YA GPP RIN… JODOH MAH SIAPA YG TAUUU??? WKWKWK 😛
            IYAAAAHHHH AAMIIN AAMIIN.. MUDAH2AN JOSH DEH JODOHMU.. MAU JOSHUA ASLI, MAU JOSHUA KW, MAU JOSHUA DIOBOK-OBOK, YANG PENTING AAMIIIN LAAAHHH XD

  4. KAK NARIN ASDFGHJKL MAAF AKU BARU SEMPET BACA T___T

    Ini baguss bangett aaa aku suka sekali dengan fantasy>< kalo ada kayak ginian aku mau rasanya ketemu sm luhan di masa dpn siapa tau dia jodohku wkwkwk

      1. AMINNN KAKK AMINN. amin juga ketemu mas dio wkwkwk. Akhir2 ini kusuka mimpi jd istrinya kang mas lulu. Mungkin pertanda jodoh ahahah😂😂😂

        Sama2 kak❤❤❤❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s