[Ficlet] Randa Tapak


800px-Dandelions_025

RANDA TAPAK

 

a fanfic by narinputri

cast : D.O. from EXO and OC genre : AU, fantasy, dystopya

length : ficlet [829 w] rating : PG

Credit image by wikipedia

 

 

“Kau tahu betapa aku merindukanmu. Walau eksistensimu kini hanya sebatas dongeng untukku,”

 

==000==

 

Perlahan, memori dalam otaknya bergulir. Memutar kembali kisah lalu, saat ia masih berusia lima belas tahun.

Sosok gadis manis bersurai kecokelatan tersenyum dengan indah padanya ketika itu. Seraya memberikan sebuah mahkota terbuat dari bunga randa tapak, yang tumbuh di padang rumput perbatasan negara.

“Tuan Do.”

Sosok pria yang dipanggil Yurin dengan nama Do, beserta embel-embel ‘tuan’ itu tak menoleh. Yurin mengembuskan napas pelan. Ia ingat, jika pria itu tak suka dipanggil nama ‘resmi’ oleh keluarganya sendiri, walaupun ia seorang pemimpin negara kini.

“Kak Kyungsoo.”

Kyungsoo –pria tersebut− menoleh, memberikan senyuman hangat pada Yurin.

“Hai, Yurin. Aku kira kau ada kelas hari ini,” ucap Kyungsoo mendekati adik semata wayangnya dan mengacak halus rambut legamnya.

Alih-alih menjawab, Yurin mengedarkan pandangan pada sebuah mahkota bunga yang tersimpan dalam tabung bening berpencahayaan sinar ultra-violet. Benda tersebut nampak masih segar, kendati telah lima belas tahun lamanya.

“Kau masih menyimpannya? Kupikir sudah kau buang di pembakaran,” celetuk Yurin.

Kyungsoo tersenyum masam. Hanya itu, yang mengingatkannya pada gadis bersurai kecokelatan dan padang rumput perbatasan yang telah lenyap ditelan bumi. Betapa ia amat merindukan sang gadis dan tempat itu.

“Kalau kau ingin ke tempat itu lagi, bawalah dua botol oksigen untuk berjaga-jaga. Karena kau tak pernah cukup membawa satu botol saja, Kak.”

Kyungsoo menerawang langit-langit ruangan dengan nanar. Dahsyatnya pembangunan negara menghabiskan seluruh hutan, lalu menggantikannya dengan ‘hutan beton’, serta pipa-pipa raksasa mengepulkan asap pekat menutupi udara juga langit. Matahari enggan menyinari hampir tiga belas tahun lamanya. Hanya sinar ultra-violet buatan Kyungsoo-lah menjadi ‘matahari’ untuk mereka. Walau tak sebenderang matahari sesungguhnya.

“Memangnya, dia masih ada di tempat itu? Lagipula, tempat itu telah hilang karena pembangunan,” Kyungsoo nampak mulai muak ketika membicarakan hal tersebut.

Yurin tersenyum dan mengajak kakaknya duduk di sofa maroon yang nyaman. Diambilnya sebuah tabung kaca bening berisikan oksigen dan setangkai bunga randa tapak dari dalam tas.

“Tebak, apa yang Do Yurin temukan.”

Iris Kyungsoo membulat, kala memandang benda yang dibawa Yurin. Mustahil bagi tumbuhan hidup di area yang sangat berpolusi, tanpa tanah gembur serta minim cahaya matahari. Apakah itu hanya replika buatan Yurin?

“Aku ingin sekali mengenalkan bunga ini kepada orang-orang. Kau tahu sendiri, kan, Kak. Bunga matahari saja mereka tak tahu,” kata Yurin getir menyawang tabung yang ia bawa.

Kyungsoo terdiam. Pembangunan sialan yang tercetus dari bibir sang ayah, membuat ia kehlangan segalanya. Termasuk si gadis pemberi mahkota bunga randa tapak dari padang rumput hijau.

Ia mulai gelisah. Masihkah gadis itu hidup? Apakah ia selamat? Bagaimana keadaannya sekarang?

Sungguh, andai saja Kyungsoo mampu menghentikan penggempuran lahan kala itu.

“Jangan menangis. Aku mohon, Kak,” suara lembut Yurin menyapa rungunya.

Tanpa sadar ia menangis. Luka hati selalu terbuka bila mengingatnya. Darah beserta tubuh-tubuh manusia bergelimpangan, menjadikan padang rumput itu ladang pembantaian massal. Masih terekam dalam ingatan, sang gadis bersembunyi di balik hutan. Namun tanpa rasa dosa, dibakarlah hutan itu hingga tak bersisa oleh antek-antek sang ayah.

“Kita hanya butuh keajaiban, Kak. Percayalah, tak ada yang tak mungkin,” Yurin tersenyum sembari memeluk hangat kakaknya.

Kyungsoo tersenyum dan melayangkan kecupan manis pada kening Yurin. Ia bangkit mengambil tabung berisi mahkota bunga itu bersama dua botol oksigen, selanjutnya pergi menggunakan mobil bertenaga listrik, menuju tempat di mana ia dan gadis itu bertemu lima belas tahun lalu.

Butuh waktu hampir empat jam perjalan, mengingat jalanan begitu padat akan mobil dan kendaraan lain, pula polusi udara yang mengganggu pengelihatan juga pernapasan. Hingga akhirnya Kyungsoo pun sampai.

Sebuah tanah tandus luas, dengan bangunan-bangunan setengah jadi berdiri angkuh. Pepohonan dan rerumputan tak nampak tumbuh sama sekali. Kedua benda tersebut bagai dongeng yang sering diceritakan orangtua kepada anaknya sebelum tidur. Langit berwarna kelabu menambah kesan suram.

Ia memasang masker oksigen di wajah sembari fokus mencari bunga randak tapak –lebih tepatnya sang gadis−. Mustahil memang, menemukan setangkai bunga ataupun sehelai rumput tumbuh di atas tanah yang telah terkontaminasi limbah beracun. Namun Kyungsoo yakin dapat menemukannya.

Hingga akhirnya, sebuah senyum bahagia terpatri di wajah pria berusia tiga puluh tahun tersebut.

Sosok yang dirindukan tengah berdiri, tak jauh dari tempatnya berpijak. Masih terlihat sama seperti lima belas tahun lalu, tak ada perubahan. Senyumnya tetap indah, dengan membawa sebuah mahkota bunga randa tapak di tangan.

Kyungsoo mendekatinya. Dibuka tabung berisi mahkota randa tapak yang dibawanya, mengambil seraya meletakan di atas kepala sang gadis. Takjub dengan apa yang dilihat, membuat Kyungsoo kembali melelehkan airmata.

“Kau tahu betapa aku merindukanmu. Walau eksistensimu kini hanya sebatas dongeng untukku,” ucap pria itu pilu.

Sosok di hadapannya tersenyum juga memasang mahkota bunga yang dibawa pada kepala Kyungsoo, diikuti jemarinya menghapus lembut airmata sang pria.

“Akan selalu ada keajaiban jika kau percaya, Do Kyungsoo.”

Ia menggenggam tangan Kyungsoo hangat, mengajaknya berjalan meninggalkan tempat itu. Sebuah padang randa tapak terhampar luas di netra Kyungsoo. Seperti sebuah mimpi, ia dapat menyaksikan kembali tempat yang amat dirindukan selama ini.

Kyungsoo membuka masker oksigen lalu menghirup udara di sekitar dalam-dalam. Sejuk lagi menyegarkan, udara yang dibutuhkan olehnya dan seluruh orang saat ini. Melangkah ia mengikuti sang gadis dengan perasaan bahagia. Tempat beserta gadis itu kini telah kembali.

Walau ia tak tahu, tempat yang telah dimasuki merupakan dimensi lain.

 

-end-

 

a/n : randa tapak as know as dandelion.

Terinspirasi dari salah satu film animasi yang lupa judulnya wkwk.

Fic ini sebenernya sih buat salah satu event yha. Tapi karena tidak lolos, akhirnya aku perbaiki sana-sini /walaupun tetep ancur wkwkwk/ dan aku publish aja di sini wkwkwk. Itung2 daripada nganggur di folder kan.

 

Mind to leave reviews and comments? ^^

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s