[Vignette] Life’s Death


Life's Death.jpg

by Noviara Park

Starring BTS’s Suga and Red Velvet’s Irene with mentioned Red Velvet’s Wendy

Rating Teen Genre Surrealism, Fantasy, Romance Length Vignette (2,5k+ w)

 .

Kehidupan ada karena ia sejatinya milik kematian yang selalu mengintai

Dan kehidupan tidak akan bisa lepas jika kematian telah datang untuk menjemputnya kembali

 .

***

 

Hanya putih yang dapat visinya tangkap sejauh ia memandang. Amukan badai menyapunya, namun tertahan oleh tungkai yang kokoh menjejak permukaan. Tubuh berbalut hitam kini ternodai benda kecil putih nan dingin.

Tidak ada sesuatu di sini—apa yang bisa kauharapkan di daratan bersalju utara ini?—kecuali badai. Kosong. Sunyi. Bentuk manifestasi dari hatinya sendiri yang sesak namun—anomalinya—tidak ada sesuatu yang memenuhi bilik hatinya. Setidaknya untuk saat ini.

Si lelaki mengusap kasar sisi wajahnya dengan punggung tangan. Membiarkan air mata turun sama saja dengan melukai harga dirinya, terlebih sebagai sang Kematian. Dirinya bukanlah manusia biasa—seorang pesakitan. Garis takdir miliknya sudah terlukis untuk merampas hak dan kebahagiaan.

Namun, haruskah cintanya juga ikut terampas?

Nyeri hebat itu kembali menghantamnya. Mencekik kerongkongannya dan nyaris memaksa lututnya mencium tanah. Jika ia tidak seharusnya bahagia, kenapa ia harus tercipta? Tidakkah ada secuil pun yang berhak ia kecap?

Bersamaan dengan berhentinya badai, teriakan yang sedari tadi ia pendam meledak.

***

Irene kembali berbalik. Dan hanya nihil yang berhasil ia tangkap.

Sejak beberapa menit yang lalu, ia merasa ada yang mengintainya dari balik pepohonan. Mungkin ada baiknya ia pulang sekarang.

Baru saja salah satu kakinya terayun, sudut maniknya menangkap kelebatan hitam di antara semak. Tak perlu pikir panjang, Irene melarikan langkah secepat mungkin. Ia merutuk siapa pun yang mengejarnya, tidak peduli itu makhluk aneh atau sejenisnya.

Irene mendesah lega tatkala mendapati rumahnya kini hanya berjarak beberapa puluh langkah; dan ia sudah lepas. Namun ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Saat jari-jari halus menahan lengannya, sang gadis memutar kepala dan termangu kala bertemu pandang dengan manik sayu milik sang Kematian.

“Inikah sambutan hangat yang kauberikan padaku?”

***

Irene masih sama. Yoongi bisa melihatnya dari caranya memperlakukan dirinya, bahkan potret lukisan gadis itu masih belum berpindah dari tempatnya; ia ingat terakhir melihat potret itu di dekat jendela setengah tahun yang lalu.

Mengukir senyum tipis—dan menyiratkan kegelisahan—Irene meletakkan dua buah cangkir ke meja. Teh chamomile yang masih mengepul sangat cocok dinikmati pada sore hari, plus sepiring kukis lezat. Gadis itu terus menjaga jarak, bahkan sedikit menggeser kursi yang ia duduki. Berpolah layaknya seorang Yoongi tidak lebih dari tamu yang baru pernah berkunjung ke pondoknya.

Mengesalkan, namun ada rasa humani yang pekat kala ujung gaunnya bergerak tertampar angin lembut. Irisnya enggan menghampiri sosok Yoongi, dan selagi bibirnya menyentuh panasnya teh, lelaki itu hampir lupa dengan tujuannya kemari.

Mulut Yoongi terbuka, namun sebelum Yoongi sempat melontarkan kalimat, Irene menyela, “Kali ini apa yang ingin kauambil?”

Paras Irene tak mungkin tertolak siapa pun. Surainya sewarna karamel, panjang, pula berujung duri; tajam dan kaku. Selalu ada binar harapan yang tersembunyi di balik bola bening sewarna malam pekat. Tuturnya halus dan teduh. Tidak salah jika Yoongi melabuhkan hatinya pada Irene, sang Kehidupan—yang sayangnya hal ini juga merupakan kesalahan fatal.

Tidak seharusnya Kehidupan dimiliki oleh Kematian. Sekalipun dengan mencicipi perasaan milik manusia—tak terelakkan, menyenangkan, memabukkan—cinta adalah sesuatu yang terlarang bagi dua hal yang kontradiktif ini.

Kehidupan adalah sesuatu yang bebas—kendati pada akhirnya ia jatuh ke dalam rengkuhan Kematian.

“Tidakkah kau merasakan hal yang sama denganku, Irene?”

Tertegun, Irene tidak lantas menjawab pertanyaan Yoongi. Mulutnya ingin berkata tidak, namun ia enggan berdusta. Hatinya terlalu membuncah karena kedatangan Yoongi, bahkan Irene bisa memeluknya saat ini juga.

Sial, kenapa Yoongi masih menunggu jawabannya?

***

“Kenapa aku tidak bisa memilikimu?”

“Karena kau adalah Kematian.”

Yoongi terdiam, namun Irene tahu kalau pertanyaan atas jawabannya masih berputar dalam benak lelaki itu. Yoongi mengusak surai, lalu, “Memang kenapa kalau aku adalah Kematian?” Benar, kan, tebakannya?

“Tidak ada kehidupan jika aku milikmu. Lebih baik kau melupakanku, sementara aku tetap memegang tugasku sebagai pemegang kendali atas kehidupan.” Susah payah Irene mengucapkan hal yang bertentangan dengan hatinya. Tidak apa, yang terpenting Yoongi menyerah dan memilih meninggalkan Irene yang tenggelam dalam luka.

Tahu-tahu dua lengan kokoh melingkari Irene dari belakang. Hangat juga lembut, sekaligus menyakitkan. Segala sentuhan yang dikirimkan Yoongi menimbulkan sensasi pedih; mengingat tujuan dia tercipta adalah sebagai perenggut.

“Aku harus bagaimana?” Bisikan Yoongi seakan menegaskan bahwa ia sudah tidak memiliki alasan untuk mempertahankan eksistensi dirinya. “Aku harus menjemputmu, tapi kau malah mempertahankan makhluk yang bahkan tidak mensyukuri presensimu.”

Irene mencerna ulang kata-kata Yoongi. Lamat-lamat aroma rumput basah melintasi jendela yang terbuka. Orkestra biola dari pemutar musik mengalun di udara, menyatu dengan keheningan yang seolah tiada berujung. Jika permohonan miliknya yang ada di urutan kedua terwujud, maka pergerakan waktu akan lesap saat ini juga.

Agaknya Irene hampir lupa dengan sentuhan Yoongi, jadi ia lekas menepis lengan lelaki itu. Obsidian heterokromia milik Kematian begitu menarik. Dengan kelabu pucat di kanan dan biru malam yang pekat di kiri, Yoongi mendapat poin tambahan dari Irene. Helai-helai bercorak sewarna peppermint juga nyaris tak pernah luput dari lingkupan jubah kelam.

“Kau boleh mengambil sesuatu dari rumahku. Karena sebenarnya mereka bagian dariku, maka itu sama saja kau mengambil secercah diriku,” gadis itu berhenti sejemang, seolah ragu untuk meneruskannya, lalu, “Jadi, kau tetap menjalankan tugasmu, aku pun begitu.”

Irene tidak pernah merasa segelisah itu saat Yoongi perlahan mengangguk.

***

Sekeping aksara tertahan. Kala punggung Yoongi menyapa dalam jarak pandang, tungkai tak beralas Irene terhenti sedepa dari sang lelaki. Yoongi menjemputnya lagi untuk kesekian kalinya; dan Irene terus saja menolak uluran tangan dari Kematian.

“Kau akan pergi lagi tanpa diriku.”

Tak perlu diberitahu pun, Yoongi sudah mengerti. Ia menelengkan kepala, lantas meneyentuh pipi bersemu merah Irene. Refraksi binar itu menguar, seolah gadis itu tak ada bedanya dengan prisma kaca.

“Aku sudah menduganya.” Tahu jika Irene menahan perih, Yoongi lekas menurunkan lengannya. Barangkali ia memang tidak seharusnya menelusuri tiap inci wajah gadis itu dengan ujung jarinya.

Tertawa halus, Kehidupan menyelipkan sejumput helai karamel ke belakang telinga. “Apa yang akan kauambil hari ini?”

Tidak ada yang lebih Yoongi inginkan dari Irene sendiri. Ia tahu ia gagal membawa pergi gadis itu, jadi…

“Bagaimana kalau kupu-kupu? Kau bisa menangkapnya?”

Irene mengikuti arah yang ditunjuk ibu jari Yoongi. Tepat di balik tubuh lelaki itu, sesuatu serapuh kertas terbang dan lantas terekam dalam otaknya.

“Kudengar kupu-kupu melambangkan kehidupan, jadi nilainya lebih tinggi dari yang kuminta dulu-dulu.” Sebelah bibir Kematian berjungkit satu-dua mili kala melihat Irene nampak terganggu. Katakanlah ia licik atau apa, tapi itu sebanding dengan perjalanannya ke pondok Irene yang membuahkan hampa.

Tak butuh banyak usaha, sang artropoda hinggap di punggung tangan Irene. Sayap violet ringkihnya mengepak pelan, seakan tahu jika dia akan segera berpindah pemilik.

“Teruslah merindukanku…,” anak pupil Irene mengikuti pergerakan kupu-kupu yang beralih ke jemari putih Yoongi, tepat ketika sebuah tenaga menariknya ke belakang—atau mendorongnya?—beserta kakinya. Hingga terjerembab tepat di hadapan Yoongi.

Tersenyum hambar, Yoongi bergumam mengiakan kalimat Irene. Serta-merta menelan atensi dari sang gadis sedemikian rupa. Hitam melingkupi lambang kehidupan, lantas meninggalkan bekas di seluruh permukaan yang bersanding dengan pemilik barunya. “Tentu, seluruh waktuku dihabiskan dengan merindukanmu, Irene.”

Visi hitam putih membanjiri Irene bak kilas balik. Di bawah bulan temaram, di atas gelombang samudra, air mata menggenang. Seluruh tubuhnya terasa tercabik, menandaskan hingga hanya tersisa segumpal langut yang mencebik dan bergumul; minta dibebaskan. Kendati demikian, Irene tahu jika segenggam dirinya telah direnggut.

Itu artinya ada banyak manusia yang meregang nyawa jauh di sana.

Sayup-sayup, langkah kaki menjauh yang bersua dengan tanah mewarnai senja. Dan Irene hanya mampu meringkuk berbalutkan asa yang terkatung tak bersemai.

***

Hidup tidak selamanya semanis gula-gula. Mati juga tidak selalu berarti seburuk namanya.

Terkadang kematian tak ada bedanya dengan tidur panjang disertai bunga tidur. Namun, selalu ada lima dari sepuluh yang berargumen bahwa hal itu adalah hal yang mengerikan.

Dan Irene termasuk dalam tipikal orang yang memilih opini kedua. Hatinya berkerut tidak senang jika ada manusia yang tidak menghargai eksistensi dirinya. Manusia macam ini tidak mengerti semencekam apa dunia milik Yoongi.

Mereka tidak mengerti…

… tidak akan.

“Tapi mereka yang takut kematian adalah orang yang pengecut.”

Kalimat barusan menyentakkan Irene yang masih sibuk berkelana dalam pikiran. “Apa?”

Wendy tertawa halus. Netranya berpindah dari kelinci perak ke Irene—yang menunggu lanjutan kata-katanya. “Semua manusia pasti kembali pada Kematian. Kau juga akan kembali padanya di urutan terakhir.”

Gadis bersurai karamel itu nampak tak setuju. Bibirnya terbuka, berniat beradu argumen dengan si manusia, namun tidak ada vokal yang mengalun keluar.

“Lihat? Kau bahkan menyetujuinya secara tidak langsung.”

“Aku tidak menyetujui asumsimu.” Sungguh, dikalahkan oleh gadis yang—menurutnya—naif ini bukanlah ide bagus. Terlebih dengan persepsi tentang hidup dan mati; gubahan Wendy sendiri. “Menurutmu, kenapa manusia lebih membenci Yoongi dibandingkan aku—Irene.”

“Sederhana. Kau adalah kebohongan yang indah, sementara aku tidak lebih dari kenyataan yang menyakitkan.”

Serentak kedua gadis itu mengangkat wajah dan menemukan sosok serba hitam melintasi ambang pagar. Surai sewarna peppermint menyembul keluar dari balutan jubah.

“Yoongi—” Napas Irene tercekat. Kemunculannya setelah hampir setahun lenyap dari pandangan Irene benar-benar mengejutkan. Ditambah lagi dengan dukungan implisit Yoongi terhadap argumen Wendy secara mendadak.

Ternyata bukan hanya sikapnya yang seenaknya sendiri yang menjengkelkan. Yoongi bisa datang di waktu yang tidak tepat, juga kerap kali tidak datang tatkala Irene menunggu kehadirannya.

Yoongi meniti langkah, diantarkan jiwa-jiwa pesakitan yang berlindung dalam sayap kupu-kupu hitam. Irene memicing awas pada bola mata lelaki itu yang tertahan pada sosok Wendy. Dia… mengincar Wendy?

Tak sampai tiga detik, Irene memosisikan diri melindungi si manusia. Wendy hanyalah pengarung lautan kehidupan yang tersesat, jadi Irene harus membantunya menemukan jalan pulang—

“Kupikir aku pernah mengatakannya padamu; aku benci jika ada orang yang menghalangi jalanku.”

—dan membiarkan dirinya terkena amukan Yoongi.

“Mungkin perlu kulakukan jika kau akan membawanya,” salah satu alis Irene berjungkit setingkat, seakan menumpahkan olokan lewat gestur.

“Membawa apa?”

“Kau tahu yang kumaksud.”

Yoongi mendengus setengah tertawa. “Ternyata benar kalau perempuan suka bermain kode. Tapi maaf, ya, aku tidak cukup peka untuk memahaminya. Jadi katakan dengan bahasa yang lebih sederhana.”

Di balik tubuh liliput Irene, Wendy menyiratkan pertanyaan besar melihat dua makhluk yang beradu argumen ini. Cinta dan benci? Cinta terlarang? Entahlah. Wendy setengah mati menahan tawanya kala Yoongi memasang raut kesal lantaran Irene menubruk dirinya.

Barangkali Irene sedikit lengah. Atau mungkin ia memang tak bisa dibandingkan dengan Yoongi. Tahu-tahu lelaki itu sudah berdiri tepat di hadapan Wendy dan menyunggingkan senyum.

“Hei, kau—”

Wendy tak sempat menyelesaikan ucapannya. Kelinci perak yang tadinya bergelung di sisi Wendy kini ada dalam pelukan Yoongi.

“Cepat berikan kepemilikannya padaku,” ucapnya pada Irene. “Dia sudah kesakitan seperti ini.”

Benar saja. Si kelinci meronta, kesakitan dengan segala sentuhan dari Yoongi. Irene hanya bisa mendelik garang, sebelum akhirnya mengikuti kemauan Kematian.

“Kukira kau akan menjemput Wendy.”

“Kau bilang apa?”

Sebelah tangan Irene terkibas. Mengenyahkan gagasan-gagasan yang tidak juga pergi dari benaknya. “Lupakan. Kau menyebalkan, Yoon.”

***

“Kenapa kau selalu mengambil rasa Kesedihan?” Kukis berwarna gelap yang terselip di antara ibu jari dan jari tengah tertahan di udara. Niat Yoongi memindahkan makanan ke perutnya terhenti bersamaan dengan pertanyaan Irene.

“Aku memang tidak seharusnya merasa senang.”

“Mau mencoba yang ini?” Irene mengulurkan potongan lain yang bertabur choco chips. Rasa Kebahagiaan dengan Harapan di atasnya.

Menggeleng pelan, Yoongi mengempaskan punggung ke sandaran kursi. “Dengar, ya,” ia mencuri pandang sekilas ke sang gadis—memastikan bahwa gadis itu menaruh fokus pada dirinya—lantas melanjutkan, “setiap hari aku menghadapi jiwa-jiwa yang ingin kembali hidup. Memintaku melepaskan mereka, berteriak, frustasi, menangis, sedih—”

“Lalu kau tertular mereka?”

“—dan aku tidak punya waktu untuk merasakan senang.” Yoongi mendesah keras, kemudian menatap figur Irene yang menunggu lanjutan dari kalimat Yoongi yang menggantung. “Hanya ketika melihatmu, aku diizinkan merasakannya sementara.”

Satu hal yang membuat Irene selalu menolak Yoongi adalah presensi kupu-kupu; lambang atas tahtanya sendiri. Ia baru menyadari hal itu setelah merenungi apa yang menjadi perintang antara dirinya dan gadis itu. Sekarang ia bisa membujuk Irene ikut dengan mudahnya. Entah dengan membicarakannya baik-baik atau menyeretnya kasar sampai ke rumah—jika perlu.

Yang jelas pegangan gadis itu selama ini akan runtuh dalam sekejap.

“Kau tahu benar siapa kau dan aku di sini.”

Yoongi menipiskan bibir. Mau tak mau ia kembali dihadapkan dengan pernyataan sensitif ini. Baru saja ia bercerita, gadis itu seakan langsung menamparnya dengan keras. Irene sungguh minta diseret olehnya.

“Sudah sore. Sebaiknya kau pulang ke rumahmu sekarang.”

Seakan belum cukup, untaian kata bernada mengusir kini menabuh gendang telinga Yoongi. Tak seperti biasanya, ia sedang dalam mode malas menanggapi permainan Irene.

“Aku baru saja memutuskan.”

“Memutuskan apa?”

Usai menandaskan potongan kukis, Yoongi mencondongkan tubuh ke depan. Memberikan kesempatan untuk Irene mengamati raut wajahnya sampai puas.

“Aku akan menginap di sini.”

***

Benar jika manusia adalah pengarung lautan kehidupan. Ada kalanya berlayar penuh kedamaian, namun bisa juga terombang-ambing di atas gelombang dan tak tahu arah.

Sama seperti Wendy.

Irene yakin Wendy hanya butuh waktu untuk memikirkan hidupnya sendiri. Dengan kesadaran yang tercuri, gadis itu sampai di tempat ini dan mengharuskan dirinya mengantarnya pulang. Entah apa yang sebenarnya menimpa manusia yang satu ini.

“Jangan tersesat lagi, ya!” ucap Irene saat mereka berdua sampai di tepi hutan.

Wendy tersenyum hambar. Ia bersikukuh ingin tinggal di sini—tempat ini terlalu indah untuk ditinggalkan—sayangnya Irene tidak mengizinkan. Walau ia tidak tahu sebenarnya ini di mana, ia telanjur menyukai segalanya di sini.

“Seharusnya kau memperbolehkan aku tinggal di sini.”

“Tidak bisa. Kau harus kembali ke tempat asalmu.”

Mengentakkan langkah, gadis itu mendekat ke tepi hutan. Oh, Irene tahu kalau itu kesal yang dibuat-buat. Memastikan Wendy benar-benar telah keluar dari hutan, ia membalikkan tubuh. Namun ia batal berbuat demikian lantaran suara Wendy yang kelewat keras.

“Hei, apa semua kupu-kupu di sini memang indah seperti ini?”

Irene menatap kupu-kupu bersayap biru yang terbang di atas kepala Wendy dengan raut yang sulit dijelaskan.

***

Mengerjap heran, alunan lirih Irene membelah keheningan malam. “Yoon? Kau sedang apa?” Menyadari punggungnya mencium dinding, ia melirik kedua tangan Yoongi yang memagari tubuhnya.

Yang dilakukan Yoongi adalah menyeringai, tapi di mata Irene, lengkungan pelangi terbalik itu mematri luka tak berkesudahan. Tipikal lelaki yang enggan melepas sesuatu yang dianggap menjadi miliknya.

“Berhenti membuatku frustasi….” Jelas sekali suara Yoongi bergetar. Desah napas dalam kelam tanpa pelita menjadi melodi pengantar sang hari ke kulminasi bawahnya. “Kau tidak tahu sakit yang dianugerahkan padaku karena tidak berhasil membawamu.”

“Seburuk itukah?” Suara Irene memelan kala aklamasi terakhir menggantung di bibir.

“Buruk sekali. Sampai-sampai benda yang kauberikan padaku hanya bisa sedikit meringankan hukuman,” menarik bibir singkat sekali lagi, Yoongi meneruskan, “Aku bahkan harus mencari manusia ke dunianya.”

Sebegitu menderitakah Yoongi karena dirinya? Irene tak tahu jika keegoisannya—benarkah ia egois?—membuat lelaki itu sampai harus terdampar di dunia manusia.

“Ikutlah denganku.”

Manik kelabu pucat menawarkan kedamaian, sementara bola mata biru pekat mengirimkan sepaket keyakinan; yang lantas mengeksekusi keraguan Irene hingga terberai.

Tak ada yang bisa Irene lakukan selain mengiakan permintaan Yoongi.

***

Masih dengan pandangan kosong, tungkai telanjang Irene terhenti tepat di depan pagar yang membatasi rumah Yoongi dengan dunia luar.

Si lelaki berdiri di sana, beberapa kaki dari tempat Irene berhenti—jangan lupakan kupu-kupu hitam yang setia di sisi Yoongi.

Aneh. Tempat ini tidak semencekam bayangannya.

“Kau tetap akan berdiri di sana?”

Sang surya nyaris melintasi zenith kala Irene melangkah melewati pagar. Hitam menyelubungi, persis dengan apa yang terjadi pada lambang kehidupan setahun yang lalu. Debu-debu hitam melingkupi dari bawah, mengganti putih gaun Irene dengan warna yang serupa dengan debu, juga dengan helai-helai karamel sang gadis. Kendati demikian, senyumnya tetap merekah bak mahkota bunga.

Kepemilikan Kehidupan telah berpindah kepada Kematian.

Hal yang Yoongi tunggu tidak kunjung datang. Aneh, tidak ada jeritan pilu dari mulut Irene. Harusnya ada dera sakit dan isak tangis lantaran Kehidupan telah terenggut. Atau setidaknya keluhan seperti ‘Yoongi, aku pusing’ dan ‘seluruh tubuhku sakit, Yoon’.

“Hei, kau tidak apa-apa?”

“Seperti yang kaulihat, aku sehat sekali.” Irene menyelipkan sejumput tawa dalam kalimatnya.

Yoongi yang hampir membalikan tubuh mendadak menyipitkan mata kala ia menangkap sesuatu yang tak biasa.

Wendy, dengan gaun dan surai berwarna persis seperti Irene lima menit yang lalu, melintas sembari bersenandung ditemani kupu-kupu biru yang hinggap di bahu.

Fin.

.

.

a/n:
1. Maaf datang-datang bawa crackpair ini XD
2. Open end, jadi silakan menebak apa yang terjadi di end-nya

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s