[Vignette] Be I


Be I

 

Be I

 

Songwriters :  Honeybutter26

Artist : iKON Hanbin, iKON Member

Genre : Slice of Life, AU

Duration : Vignette

Rating : PG -15

Soundtrack : B.I  – Be I

https://honeybutter26.wordpress.com/

“Jatuh memang menaruhmu di bawah, tapi itu juga kesempatan terbaik untuk bersujud.”

 

***

 

Kim Hanbin lelah. Tulangnya remuk. Darahnya seakan telah beku. Satu-persatu sayatan luka di kulit berlomba membusuk dan bernanah. Dia kacau. Dunianya seakan runtuh. Perasaan bersalah dan penyesalan menjadi momok menyakitkan yang menyelimuti bunga tidurnya dengan kegelapan dan ketakutan.

Semua kerja keras mereka seakan tak berarti sama sekali. Setiap keringat yang terjatuh hanya menguap begitu saja. Air mata yang berlinang deras bak sekadar air hujan yang terlupakan. Mimpi hanya sebuah ilusi. Delusi yang menghantui mereka tiada akhir.

Hanbin melirik pada anggotanya. Tak ada satu pun rona kebahagiaan yang terpancar. Terang saja, tak mungkin ada kebahagiaan di saat mimpi mereka berada di tepi jurang. Bahkan Bobby yang hanya menangis saat menelpon Ibunya pun kini tak bisa berhenti membasahi pipinya dengan air mata. Hanbin merasa bersalah pada Bobby. Dia telah berjanji, dan dia mengingkarinya. Ia berdosa pada pria itu.

“Kimbab, maafkan aku. Sungguh. Aku … aku minta maaf atas semuanya. Maafkan aku.” Bobby menggeleng keras. Ia gagu, lidahnya kelu, yang bisa ia lakukan kini hanya membawa Hanbin pada pelukannya. Menangis bersama.

***

Ada yang bilang bahwa suatu akhir sejatinya bukan sebuah akhir yang sungguh. Itu adalah awal mula yang baru. Hanbin awalnya tak percaya. Kegagalan itu membawanya pada keterpurukan selama berbulan-bulan. Ia tak mau keluar dari persembunyiannya. Memilih bersembunyi seperti pecundang ketimbang menghadapi dunia yang kini terang-terangan menertawakannya. Hanbin benar-benar takut, yang ketakutan itu sesungguhnya didasari karena ia malu. Ia malu pada dunia, terlebih pada para anggota.

Saat melihat satu-persatu wajah mereka, Hanbin rasanya ingin menceburkan diri ke dalam kobaran api dan hangus jadi abu. Air muka kesedihan itu begitu menohok hatinya, menghimpit paru-parunya hingga ia sesak bernapas. Keterpurukan mereka seperti bayangan yang mengikuti langkahnya. Mengingatkan Hanbin pada memori kelam itu.

Tapi, Hanbin sadar, dirinya tak mungkin terpuruk terus seperti ini. Membiarkan dirinya jadi pecundang busuk yang bersembunyi hanya karena rasa malu. Setidaknya, harus ada yang diperbaiki di sini. Mereka gagal bukan berarti mereka kalah. Mungkin saja kerja keras mereka belum memenuhi syarat. Sehingga mereka perlu bekerja dan memeras keringat lebih keras lagi agar pengakuan atas bakat mereka terlontar dengan keras.

Debut.

Tiada yang lebih indah dan lebih sulit dari itu. Rasanya seperti nyata, tapi ketika sudah tampak dekat dia memudar perlahan lantas hilang bersama kabut. Tapi sekarang Hanbin sudah mengerti, diam tak akan menyelesaikan apapun. Jadi, dia mulai merangkul pundak anggotanya satu-persatu. Dia mungkin tak dapat lagi mengumbar janji pada mereka semua seperti dulu, tapi satu hal yang pasti …, “Ayo berjuang tanpa batas. Sampai debut datang pada kita, tak peduli bagaimana kerasnya dunia menertawakan kita. Mari terus bernyanyi dan menari bersama.”

Lantas semua terjadi seperti mimpi. Satu tahun bukan waktu yang lama, pun bukan waktu yang sebentar pula. Setelah keterpurukan yang panjang, mereka mendapati diri mereka semakin dewasa. Pun yang Hanbin rasakan, pujian yang terlontar membuatnya semakin giat untuk bekerja keras. Panggung itu suatu saat pasti dapat dipijaknya.

Hari itu, mereka dipanggil ke ruang latihan utama. Kegugupan melanda seperti badai yang mengobrak-abrik segalanya. Setiap detik yang berjalan seperti nyanyian kematian. Entahlah, mungkin hanya Hanbin yang merasa, tapi mereka semua terlihat sama. Itu tercetak jelas di wajah masing-masing. Tangannya basah oleh keringat dingin, dan Hanbin tak bisa berhenti membuang napasnya kasar.

Pintu terbuka, menampakkan satu kaki yang Hanbin hapal betul milik siapa. Terang saja, tiap kali melihat kaki itu menapak pada tempat yang sama dengannya, Hanbin rasanya ingin mati saja. Salivanya selalu jadi kerikil secara tiba-tiba dan itu menyakiti tenggorokan. Semua berdiri, saling mendorong seperti anak ayam saat Tuan Yang mendekat. Setelah berbasa-basi barang satu dua kata, tibalah saat mereka akan mendengar pengumuman dari sang bos.

“Jadi sekali lagi kita … akan memulai Survival Program hari ini.”

Hanbin jelas terkejut. Jantungnya seperti turun ke perut. Lagi? Apa tidak cukup sekali yang berbuah kegagalan dan membuatnya depresi seperti seorang sakit psikis? Ada apa dengan orang ini? Dewa batin Hanbin berteriak penuh protes. Ingin menyuarakannya secara lantang namun rasa takut itu masih mendominasi.

Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya Tuan Yang meninggalkan mereka di tempat latihan, bersama dengan dua pendatang baru. Ini membuat kepala Hanbin pening bukan main. Kehadiran mereka bak dua ekor heyna di kelompok serigala yang siap mengoyak keutuhan tim. Berat ia rasakan di punggung hingga tengkuknya. Hanbin tak tahu harus bagaimana, tak tahu harus berkata apa. Ini begitu mengejutkan. Walau setidaknya ada satu hal membahagiakan yang terjadi. Hari ini mereka mendapat hadiah spesial berupa sebuah nama yang akan membawa mereka pada panggung yang selalu hadir dalam setiap bunga tidur.

iKON.

Ya, Hanbin juga berharap mereka dapat menjadi seperti nama mereka, sebuah ikon.

***

Hari-hari selama survival benar-benar berat. Ini bahkan lebih berat dari sebelumnya. Hanbin tak mampu menghalau luka yang semakin mengoyak nurani saat melihat satu-persatu dari anggotanya dijatuhkan oleh anggota yang lain. Ini menyedihkan, Hanbin ingin melindungi mereka dengan segala kemampuan yang ia punya tapi ia bahkan tak bisa melakukan apapun. Tangisan yang semakin banyak tertumpah sama banyak dengan darah yang keluar dari jiwanya yang koyak. Meski ia tahu, tangisan ini akan dibalas dengan hal yang lebih besar, di dalam hati Hanbin sangat tak menginginkan mereka melewati jalan dengan pacahan kaca yang siap untk menusuk kaki mereka hingga berdarah.

Selain harus memperjuangkan timnya untuk bisa meraih debut bersama, Hanbin juga dihadapkan pada kompetisi lain yang sama kejamnya. Ia tak tahu bagaimana ia bisa begitu teledor untuk mengulangi kesalahan yang sama. Pikirannya kacau. Semua terbagi tapi tak ada satupun yang berhasil ia atasi.

Hingga hari itu ia seperti memilih untuk menyerah. Pergi dan lari terus memenuhi isi kepala. Semua terasa gelap dan tak berujung. Jujur saja, Hanbin lelah. Tubuhnya benar-benar remuk untuk ke sekian kali. Namun, di tiap langkah yang membawanya menjauh itu terputar memoar kebersamaan dengan para anggota dengan begitu jelas. Mereka berbagi segalanya bersama. Mereka berjuang di garis pesakitan ini bersama. Lalu, haruskan kini Hanbin benar-benar menyerah dan pergi? Kembali jadi pecundang untuk kedua kali?

Tidak.

Tentu saja tidak.

Hanbin sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan ia kerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk menang dari pertarungan ini. Kalau ia memilih untuk berakhir, harusnya dia tak pernah memilih untuk memulai. Jadi, Hanbin mulai mendudukkan dirinya. Mengeluarkan ponsel usangnya yang tak pernah mau ia ganti dengan keluaran terbaru yang lebih canggih. Mulai menulis lirik. Menuangkan segala penat di kepala dalam alunan kata berbaur nada. Berharap beban di pundak sedikit berkurang.

***

 

Hanbin pikir, debut benar-benar sudah ada dalam genggaman. Tapi realitas menjatuhkannya dari ketinggian. Debut masih sesulit dulu. Debut masih jadi mimpi buruk sekaligus indah di tiap bunga tidur. Yang ia pikir akan terjadi esok nyatanya terus mengulur hingga waktu yang masih belum tentu.

“Sial!” Hanbin melempar bolpoin yang ada di tangan. Kepalanya pening seakan ingin pecah. Hingga satu isakan terdengar lamat-lamat. Malam telah larut bahkan menjelang pagi. Tapi Hanbin masih berada disini, di ruang studio yang sepi. Meramu kata dan nada menjadi sebuah harmonisasi yang bernama lagu.

Keinginan untuk menyerah acap kali datang, namun memoar akan kerja kerasnya dan tim selama ini mengembalikan nurani Hanbin untuk tetap bertahan. Ini sudah lagu yang ke-limapuluh lima yang ia buat. Hanbin berharap kali ini karyanya akan diterima dengan baik oleh bos mereka. Sungguh Hanbin ingin sekali marah pada dunia yang seakan mempermainkannya selayak boneka.

“Aku harus bagaimana, Ibu, Hanbyul, Ayah?” Tetes demi tetes air mata jatuh seperti air hujan yang lelah terus bergantung pada awan mendung. Energinya sudah terkuras habis. Segala upaya terbaik telah ia kerahkan namun tak kunjung membuat hati si bos puas. Semua ujian ini terlalu berat dan melelahkan. Mimpi seharusnya tak sebigini sakit.

***

Setelah cukup tenang, Hanbin memutuskan untuk pulang ke dorm. Mungkin bertemu dengan saudara-saudaranya akan sedikit mengurangi sesak yang membelenggu dada. Memilih untuk berjalan kaki, Hanbin memikirkan kembali semua kekurangan yang ada pada dirinya dan tim untuk kemudian bisa diperbaiki. Namun, semakin keras Hanbin berpikir, semakin gelap pandangannya akan mimpi.

Sekali saja. Hanbin mohon. Permudahkan jalan mereka.

Hanbin menghela napas saat pintu dorm sudah ada di depan, ia harus terlihat baik-baik saja di hadapan para anggota. Pintu terbuka setelah ia memasukkan kode pengaman, membuka sepatunya asal kemudian menggantinya dengan sandal rumah agar Jinan dan Yunhyeong tak lagi marah-marah.

“Ah, Hanbin, kau pulang?” tanyanya. Itu Jinan, dengan piyama kulit sapinya sedang duduk di depan teve.

“Kau masih bangun?” Yang dibalas Jinan dengan gumaman singkat.

“Mandilah dulu, akan aku siapkan makanan untukmu.” Pria itu bangun dari tempatnya namun tidak bergerak. Mereka saling bertatapan dalam satu poros yang sama.

“Ada apa?” tanya Jinan.

“Tidak. Kau … seperti istriku saja,” celetuknya yang di akhiri sebuah tawa menggelegar.

“Bajingan tengik! Akan kutaruh racun dalam makananmu nanti!”

“Oh, Kim Jinan benar-benar seorang penghibur yang hebat!”

“Kim Hanbin sialan, awas saja kau!”

Hanbin lari tunggang langgang menuju kamarnya, menggoda Kim Jinan memang menyenangkan tapi menghadapai kemarahannya adalah hal kesekian yang ia hindari.

***

Esok datang begitu cepat. Hanbin merasakan berat di belakang kepalanya saat bangun. Walau sudah sering tidur saat fajar hampir menampakkan diri, namun efek ketika bangun terlalu cepat masihlah begitu menyebalkan layaknya morning sick pada wanita hamil.

“Kau bangun? Minumlah air putih setelah itu minum susumu. Kami menunggu di ruang makan. Ah, jangan lupa mandi atau Jinan akan murka lagi,” titah Bobby. Hanbin mengangguk antara ketidaksadaran dan rasa terpukul palu besar di belakang kepalanya yang belum hilang juga.

Usai mandi, Hanbin segera keluar kamar seperti yang diperintahkan Bobby. Saat baru selangkah keluar dari pintu, matanya menangkap sosok June, Chanwoo, dan Donghyuk berdiri di sana dengan mata terpejam serta tangan yang bertaut di depan dada.

Berdoa.

“Semoga kita cepat debut,” ungkap Chanwoo.

“Aku ingin memiliki konser untuk debut kita,” itu June.

“Lindungilah orang-orang yang kami sayangi dan menyayangi kami. Jadikan mimpi-mimpi kami nyata. Dan berikan kesehatan untuk kami semua, terutama Hanbin. Buatlah dia selalu sehat dan jauhkan dia dari kesedihan. Amen.”

“Amen.” Chanwoo dan June menyahut serentak. Sementara Hanbin masih mematung di sana dengan mata yang mulai memanas.

Tuhan, ya?

Rasanya ia seperti sudah asing denganNya.

Apa Hanbin sudah berlari terlalu jauh?

Apa Hanbin sudah terlalu banyak melupakan?

Tuhan.

Harusnya Hanbin ingat, saat ia terjatuh seperti sekarang, Tuhan selalu ada di sisinya untuk menemani langkahnya yang mulai lelah.

“Hanbin, kau baik?” nada June terdengar khawatir saat dilihatnya Hanbin yang mematung dengan air mata yang berderai.

“Apa kalian tahu?” ada jeda sejenak, tapi tiga anggota termuda itu hanya diam tak berniat untuk menjawab. “Tuhan tidak benar-benar sedang menjatuhkan kita sampai ke dasar yang gelap dan pengap. Dia hanya sedang menguji seberapa ingat kita padaNya.”

Hanbin menarik tiga adiknya dalam pelukan. Donghyuk jadi orang pertama yang menyusul isakan Hanbin diikuti Chanwoo. Sementara June masih tetap pada kenaifannya tentang anggota paling jantan yang pantang menangis namun diam-diam menahan lelehan bening yang membuat matanya terasa panas.

Hanbin merasa beban itu perlahan memudar. Dia masih punya Tuhan dia masih punya para anggota yang siap menopangnya ketika ia lelah. Lantas, tak seharusnya Hanbin melupakan mereka dan memilih sibuk sendiri dengan segala hal yang membuat dia semakin merasa asing. Kini, Hanbin sadar, saat kau jatuh, itu adalah saat yang terbaik bagimu untuk mengingat semuanya.

FIN

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s