[SONGFIC] Always


 

art-fingers-love-photography-Favim.com-647345

[SONGFIC] ALWAYS

#2

Story by Ravenclaw

Starring by

Min Yoongi (BTS) – Kim Naya (OC’s) ; Hong Jisoo (Seventeen) – Kim Mari (OC’s) ; Jung Taekwon (VIXX) – Kim Daena

Genre : Romance, Fluff, College Life | Length : Ficlet-mix | Rating : Teen

Disclaimer

Disarankan untuk mendengar lagu ONE OK ROCK – Wherever You Are

Wherever you are, I always make you smile

PLAY


#1

“Halo, Nay? Tumben kau menelepon…”

“Yoon, aku ke apartemenmu ya?”

Yoongi menaikkan alisnya, bingung. “Baiklah, oke. Aku tunggu.”

KLIK!

Terdengar suara lemah dari teman kampusnya, tadi. Telinga Yoongi tadi tidak salah, kan kalau mendengar Naya tadi meneleponnya dan akan menemuinya di apartemennya? Tapi, ada apa dengan Naya? Suara gadis itu benar-benar lemah.

TOK!

TOK!

TOK!

Yoongi beranjak dari kursi empuknya dan tatapan monitor laptopnya, “sebentar!”

TOK!

TOK!

TOK!

“Bisakah kau bersa…”

Seseorang tengah menatapnya dengan mata sembap di depan pintu apartemen bernomor 276.

“Nay… kau kenapa, Nay?”

“Bisakah aku masuk ke apartemenmu dulu?” Yoongi hanya mengangguk, mempersilahkan teman sejurusannya itu masuk ke rumah pribadinya.

So, kenapa kau datang ke tempatku dan dengan, emm…”

“Aku kabur,” ujar Naya menatap lurus ke depan, Yoongi yang mendengar sedikit terkejut, “dari rumahmu?” gadis itu mengangguk, terlihat pucat wajahnya akibat terkena rintikan hujan sore ini.

Segera Yoongi pergi ke dapur, menyiapkan dua cangkir kopi hitam dan sebuah mie instan cup. “Makan dulu, Nay,” Yoongi meletakkannya di meja ruang tengah apartemennya. Dengan lemas Naya mengambil mie instan tersebut dan memakannya dengan sedikit lahap, Yoongi tersenyum, “masih lapar?” dan gadis itu menggeleng.

“Kenapa kau kabur?” tanya Yoongi kemudian.

“Ibuku berbohong.”

Yoongi menautkan alisnya, “ibuku berbohong kalau dia benci laki-laki itu.”

“tapi kemarin dia pulang diantar oleh laki-laki itu dan ibuku tidak menjawab jujur saat aku tanya siapa yang mengantarnya pulang.”

Yoongi tahu kalau Naya membenci makhluk berjenis kelamin laki-laki tapi kenapa gadisi itu berlari kearahnya saat gadis itu ada masalah dengan seorang laki-laki yang berpengaruh dalam hidupnya, tapi ia tidak peduli. Itu pertanda kalau Naya memandangnya sebagai laki-laki yang baik.

“Kau boleh tidur di sini sampai kapanpun, dapur ada disana, kamar mandi sebelahnya. Kalau ada apa-apa bilang aku, aku akan…”

Tanpa Yoongi sadari gadis itu sudah tertidur di sampingnya dengan posisi yang menurutnya tidak enak. Dengan sigap ia mengambil sebuah selimut di almari dekat ruang tengah tersebut dan menyelimuti gadis itu, membenarkan posisi tidurnya dengan kepala yang bersandar di pundaknya yang lebar.

Laki-laki itu hanya bisa menghembuskan napasnya kemudian mengelus lembut pemilik rambut hitam panjang itu.

“Jangan khawatir, dimanapun kau berada aku akan membuatmu tersenyum.”

Yoongi cukup tahu diri, bahwa siapa dirinya di hadapan gadisnya itu.

 

 

 

#2

“Josh! Air!” teriak Mari, dengan sigap Joshua melempar sebuah botol mineral kearah gadis itu dan dengan sigap juga saudara kembar Kim Taehyung itu menangkap botol itu.

“Sip, thanks ya!” dan perempuan tomboy itu duduk di sampingnya sambil meregangkan ototnya. “Parah! Latihannya saat panas begini!” Joshua hanya tersenyum ketika mendengar umpatan Mari yang ditujukan kepada pelatih ekstra basket.

“Jam berapa sekarang?”

“Setengah empat, kenapa?”

“Kembali ke kelas, ijin ke Mr. Hyun dan Mr. Jun kalau kita ada tugas kelompok,” Joshua langsung mengacungkan jempolnya.

TING!

 

1 notification Kakao Talk

 

TaeTae

Kau bolos, ya?

 

Kim Mari

Tidak, aku sudah ijin dengan kedua pelatih itu kalau aku dan Joshua ada tugas kelompok.

 

TaeTae

Bohong! Kau sengaja ijin karena ingin menagih Joshua traktir ramen, kan?

 

Kim Mari

Ya! Aku memang sedang mengerjakan tugas kelompok dengan Joshua, kok.

 

TaeTae

Mana ada mengerjakan tugas kelompok di rumah makan Jepang dekat Sungai Han itu?

 

Kim Mari

EH? DARI MANA KAU TAHU KALAU AKU SEDANG JALAN DENGAN ANAK ITU DI SUNGAI HAN???!!!!

TaeTae

Oh, Taehyung masa tidak tahu tentang itu? Hahaha…

 

Kim Mari

Oke, oke, oke. Sekatang kau diam saja dan kalau sampai ada yang tahu tentang ini kau akan kuha…

 

TING!

 

1 notification Kakao Talk from TaeTae

 

TaeTae

Kuberi tahu pelatih atau ramen dan sebungkus cokelat?

 

“Apa!? Beraninya bocah itu!” umpat Mari yang saat ini sudah duduk rapi di salah satu meja restoran Jepang dekat pusat kota Seoul bersama siap lagi kalau bukan murid baru itu, Hong Jisoo atau yang sering dipanggil Joshua ini.

“Kenapa lagi?” tanya Joshua sambil sesekali tersenyum kearahnya dan menikmati ramen yang baru saja tiba beberapa menit yang lalu.

“Taehyung biasa, minta oleh-oleh,” ucapnya asal sambil mengetik sesuatu di handphone-nya tanpa mempedulikan ramennya yang masih mengeluarkan uapnya.

“Dimakan dulu, Ri-ya.”

Mari langsung mengacungkan jempol kanannya, “sebentar, sedikit lagi. Ini lagi bernegosiasi dengan bocah tengik itu, Josh!”

“Memangnya negosiasi apa?”

Mari langsung meletakkan handphone-nya dengan sedikit keras, menunjukkan kalau gadis itu sedang kesal. “Dia sudah tahu kalau kita sedang jalan-jalan dan kalau dia tidak dibelikan ramen dan cokelat mati sudah kita,” ujarnya kesal lalu mulai mengamati ramennya yang masih utuh dan langsung memakannya dengan lahap.

“Pelan-pelan, Mari,” Joshua dengan sigap mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan yang ada di bibir kecil Mari dengan hati-hati, “kalau makan itu jangan terburu-buru, jadinya kau tersedak,” gadis itu hanya mengangkat bahu lalu melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda, tanpa canggung sekalipun.

Setelah selesai makan, mereka pun keluar dari restoran tersebut, memutuskan jalan-jalan dulu sebelum pulang ke rumah. Tangan Joshua terlihat menggenggam sebuah plastik putih yang entah isinya apa Mari juga tidak tahu, “kau beli apa tadi restoran itu? Sushi?”

Joshua menggeleng, “ramen.”

“Untuk nanti malam?”

Joshua menggeleng lagi, “untuk Taehyung.”

“Hah? Taehyung? Memangnya dia minta ramen denganmu?” tanya Mari, bingung.

“Ya aku belikan dia ramen supaya dia tidak membocorkan rahasia kita,” jawab pria itu, Mari hanya bengong ketika melihat wajah Joshua, “kan aku tidak menyuruhnya untuk membelikan ramen denganmu, Josh. Kau ini bagaimana, sih?” ujar Mari gemas.

“Anggap saja aku juga menraktir Taehyung,” jawabnya lagi yang membuat Mari semakin gemas.

“Kemarin sudah memaksaku untuk jalan-jalan seperti ini, alasannya ‘aku tidak suka lihat mukamu kusut’ dan sekarang kau menraktir bocah sialan itu? Kau sehat kan, Josh?” Mari menempelkan tangannya di kening Joshua, siapa tahu kalau pria berwajah sedikit bule ini sedang ada gangguan jiwa atau sejenisnya.

“Aku sehat, Mari. Jangan begitu, deh,” dan Mari hanya mengangkat bahu.

“Kita sekarang kemana?”

“Toko cokelat.”

“Hei, kenapa kita kesana? Jangan bilang kalau kau ingin membelikan Taehyung?” dan Joshua hanya tertawa kecil ketika melihatnya merengut dan mengucapkan, “jangan terlalu memanjakan dia, Josh!”

“Aku tidak memanjakannya,” bela Joshua, matanya berkeliling mencari cokelat yang pas.

“Tapi kau seperti memanjakannya,” serang Mari yang mengekor laki-laki itu.

Joshua mengambil 2 batang cokelat yang sama ukurannya lalu berjalan menuju kasir.

“Joshua menyebalkan!” bentak Mari sesudah mereka berbelanja cokelat. Pria itu mencubit pipi gadis itu, ia selalu gemas ketika gadis kesayangannya itu marah atau sedang kesal kepadanya.

“Jangan marah gitu dong, Mari.”

“Suruh siapa kau menyebalkan?” sungut Mari membuang muka dari Joshua.

“Oke, kalau begitu ini ada cokelat untukmu dan Taehyung,” Joshua mengacungkan sebuah plastik berisi 2 batang cokelat berukuran sedang.

“Joshua benar-benar menyebalkan!” bentak Mari lagi, dia benar-benar tidak tahan kalau sudah disuguhi semangkuk ramen dan sebatang cokelat seperti sekarang ini.

Joshua tersenyum menang dan mengelus rambut halus Mari.

“Yang penting kau tidak suntuk lagi kan dengan tugas kantor dari ibumu?”

Setidaknya dia bahagia.

Hanya itu yang bisa dilakukan Joshua kepada gadisnya itu, saat ini

 

 

#3

Kedua manusia itu saat ini hanya terdiam di atas sebuah batu nisan yang berada di salah satu komplek pemakaman sudut kota Busan. Sudah 3 tahun yang lalu gadis itu kehilangan sosok peri dalam hidupnya yang berarti dirinya sudah duduk di bangku kuliah semester 2 jurusan desain komunikasi visual di salah satu kampus di ibu kota Korea Selatan.

Gadis itu mulai duduk di hadapan batu nisan itu, menyerahkan kamera slrnya kepada seorang laki-laki yang sama usianya dengan dirinya. Ia mulai membuka tas ranselnya dan menaruh sebuket bunga lili kesukaan seseorang yang berada di dalam tanah itu.

“Ibu, aku kembali dengan Leo,” ucap gadis itu, seolah-olah berbicara dengan pemilik batu nisan tersebut.

“Ibu, bagaimana kabarnya? Sehat bukan?”

“Daena harap ibu sehat selalu.”

“Disini Daena, ayah, Wonshik dan Leo juga sehat kok, bu. Jadi ibu tidak usah khawatir nanti disana.”

“Ibu, sebulan lagi aku akan menjalani trainee-ku di salah satu kantor pertelevisian di Seoul dan Leo juga bakal debut dengan teman-teman satu grupnya, Wonshik juga bakal satu grup dengan Leo.”

“Kau tahu, bu, nama panggilan Wonshik nanti di panggung? Nama panggungnya nanti Ravi, lucu bukan?” gadis itu tertawa sendiri yang entah laki-laki yang bernama Leo itu bisa membedakan antara tertawa dan tangisan.

“Bu, ayah saat ini bisa mengatur jadwal kantornya dengan mengurusku. Dia sudah bisa merawatku seperti kau merawatku, bu,” ujar gadis itu lemah.

“Bu, aku merindukanmu…”

Gadis itu mulai terisak, menunduk sedalam mungkin, “aku sudah membawakan bunga lili untukmu, kau suka bukan?” gadis itu mulai menghapus jejak air matanya yang semakin menderas.

Leo menepuk pundaknya pelan, ikut duduk di sampingnya dan menundukkan kepalanya sedalam mungkin, seolah-olah memberi penghormatan terakhir. Leo menoleh kearahnya, mengangguk. Daena tahu itu. “Ibu, aku pulang dulu.”

Kedua manusia itu kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan batu nisan itu, berjalan keluar dari komplek pemakaman itu. Leo mempersiapkan mobil lalu mereka berdua pergi dari komplek pemakaman itu.

Hening dan suara pendingin yang menghiasi kedua pemuda pemudi itu, sampai akhirnya mobil sedan hitam itu belok masuk ke parkiran sebuah stadion besar di Seoul.

“Kenapa kita kesini?” tanya Daena bingung, matanya jelalatan memandangi stadion besar yang sedang dikelilingi oleh beberapa pemuda pemudi disana yang ingin menghilangkan penat atau sekedar latihan meregangkan otot dan menyedot lemak secara alami.

“Olahraga,” jawab Leo dengan wajah datar sambil mencari-cari tempat parkiran yang pas untuk mobilnya.

“Kita sedang tidak membawa baju olahraga lho, Leo,” ujar Daena sedikit bingung dan turun dari mobil sedan itu, menatap Leo.

“Aku juga tidak bawa kok,” jari kanannya memanggil Daena, untuk berjalan disisi laki-laki jangkung itu.

So, kita mau main apa?” tanya Daena setelah mensejajarkan langkahnya.

“Nanti kau tahu sendiri,” jawab Leo jahil membuat Daena sedikit kesal.

Setelah mereka masuk ke dalam stadion tersebut, Leo disuguhi sebuah bola hitam putih yang menggelinding kearahnya. “Kau mau main?” teriak seorang penjaja bola, Leo hanya mengangguk dan memberikannya ke Daena. “Sekarang kau tahu kan kalau kita akan bermain apa?”

Daena tersenyum senang melempar dan jatuh ke dalam pelukannya lagi, segera Daena menaruh kamera slrnya di salah satu kursi penonton. Menarik tangan Leo ke tengah lapangan dan memberikan senyuman seringai, “ayo kita tanding!”

Dan mulailah pertandingan sepakbola satu lawan satu, yang siapa lagi kalau bukan antara Daena dan Leo? Bola hitam putih itu mulai menggelinding mengikuti alur tendangan kedua pemuda pemudi itu, trlihat bahwa bermain tidak hanya mereka berdua, tetapi juga ada yang lain. Tapi seperti mereka lebih tertarik menjadi penonton pertandingan sepakbola dadakan itu.

“Ayo! Ayo! Ayo!” teriak para penonton, seketika stadion menjadi sedikit ramai oleh teriakan para penonton.

“Tendang kesana!”

“Lawan dia! Lawan dia!”

Dan hasilnya…

“Gadis itu dapat poin satu!” teriak seorang gadis teriak kegirangan.

“Ah, laki-laki itu payah!”

Daena yang berhasil mendapatkan poin pertama dengan menendang jarak 10 meter ke gawang Leo.

Yes! Aku menang!!!” teriak Daena kesenangan sambil berlari memutari stadion itu.dengan riang gembira.

“Leo kalah! Wek!!” Leo tertawa kecil ketika melihat gadis itu memamerkan lidahnya, mengejeknya yang kalah dalam pertandingan pertama mereka.

Mau menang atau kalah yang penting dia bahagia, kan?

Hanya ini yang bisa dilakukan Leo untuk membuat Daena tersenyum kembali seperti dulu, dirinya tahu soal siapa di hadapan gadisnya.

END

Makasih LIMUNY udah menyediakan sebuah kabel bernama LAN yang akhirnya dapet ide beginian pas lagi PKL begini ‘-‘

Maap kalo bikinnya dan hasilnya bener-bener aneh, jujur aja ini langsung keluar dari otakku dan aku tahu diri kalo aku bukanlah seorang author yang ‘w-o-w’ :’v sadar diri mah saya :’v

Dan udah sekian dulu yak, mohon dikoment dikasih kritik dan saran karna itu sangat membantu 🙂 😀

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s