[Oneshot] BATTLE IN THE CASTLE


PicsArt_12-18-02.40.25

a story by feyrefly

[EXO’s] Kris, Chanyeol, Baekhyun, Kai, Tao, Chen, and Xiumin.
PG-15 (For violence and cursing)Oneshot (Warning! Longfict)Action, Thriller, Crime, Friendship, Angst.

.

Sampai jumpa lagi, Komandan Wu!

.

.

Derap langkah yang terdengar samar membuat Kris menghela napas kasar. Tungkai panjangnya segera membuat pergerakan, menyusuri lorong-lorong gelap nan senyap sendirian. Tangan kanannya menggenggam AK-47, senapan berdaya bunuh tinggi yang membantunya menyelesaikan misi ini.

Ruangan di sisi kanan lorong menjadi persembunyian Kris saat didengarnya langkah itu semakin mendekat. Kamar petak yang tak begitu luas itu berisi sebuah almari kayu besar dengan seperangkat meja kursi yang memudahkan Kris menyembunyikan tubuh jangkungnya. Detak aorta lelaki itu membabi buta, paru-parunya nyaris tak mengembuskan karbondioksida. Saat langkah itu terhenti tepat di depan tempat persembunyiannya, Kris menahan napas.

Wanna play hide and seek with me, Kris?” Kekeh tawa sarkas terdengar setelahnya, membuat Kris memindai waspada atas kemungkinan sang lawan dapat mengendus keberadaannya. “Ayo keluar saja! Laki-laki tidak pernah bersembunyi, Bung!” Teriak sosok itu selagi mengacungkan samurainya dengan tangan kiri.

Sunyi benar-benar menjadi saksi saat kaki-kaki pria itu mulai mengukir jarak, meninggalkan Kris yang masih mendekap AK-47-nya. Ia kehabisan amunisi di saat yang sangat tidak tepat. Membatasi pergerakan dan membuatnya mendiskon harga dirinya besar-besaran. Mana ada, sih, seorang Komandan Kepolisian yang bersembunyi di bawah meja saat melalukan penyergapan?

Shit!” Umpatnya, mencoba mengeluarkan kepalanya dan melongok ke atas meja. Chanyeol sudah tidak berada di sana. Artinya, Kris bebas keluar dan menghubungi kawan-kawannya demi mendapat bulir-bulir amunisi. Segera saja Kris memacu langkah, penyergapan yang berlangsung hampir sepuluh jam membuatnya penat. Kastil Elshaw yang luasnya tiga kali lebih besar dari stadion sepak bola benar-benar menghabiskan banyak energi dalam tubuhnya. Sialan benar mafia narkoba seperti Park Chanyeol yang memanfaatkan kastil tua itu sebagai markas utama.

Lebih sial lagi karena Kris yang dibebani misi penyergapan ini.

“Tao, aku butuh peluru!” Kris berujar pada seseorang melalui microphone kecil yang terpasang di sudut dagunya. “Huang Zitao, kau mendengarku?!” Tak kunjung mendapat sahutan, Kris memperbesar volume suaranya. Entah fortuna sedang ingin mempermainkannya atau memang nasibnya sedang naas, Kris mendapat sahutan yang tak pernah ia harapkan.

“Aku mendengarmu, Kris!”

Damn! Itu suara Park Chanyeol dengan gemerisik samurai yang ditebaskan ke dinding. Kontan, Kris merinding. Tanpa diperintah, kaki-kaki cakapnya segera merajut langkah dan menemukan tempat persembunyian baru. Ia tidak mungkin kembali ke ruang yang sama karena Chanyeol datang dari arah sana.

“Kris ge!” Mendengar namanya dipanggil dengan lafal yang terdengar familiar, Kris menoleh sigap. Maniknya menjumpai Tao yang meringkuk di sekitar perapian kastil renta itu.

“Tao, apa yang kau lakukan di sana?!” Bergerak mendekat, Kris menyadari tubuh pria itu bergetar hebat.

Astaga! Jangan bilang..

“Aku takut, Ge! Chanyeol membawa samurai!”

..benar, tebakan Kris teramat benar. Salah apa ia sampai mendapat anak buah yang begitu payah?

“Kau juga punya senjata, Tao-ya! Oh my God, dude, jangan membuatku ingin menendangmu kembali ke rahim ibumu!” Jari-jari Kris menarik Tao beranjak dari sekitar perapian. “Ayo bangun dan selesaikan tugas, Huang Zitao, dasar panda tak berguna!”

“Aku ikut denganmu, Ge! Pokoknya aku ikut.” Salah satu hal yang paling dibenci Kris dari pria berkewarganegaraan yang sama dengannya itu adalah kenyataan jika Huang Zitao selalu takut dengan apapun. Heran juga, bagaimana pria penakut sepertinya bisa bergabung dengan satuan kepolisian alih-alih membantu ibunya menjemur baju di rumah. Percayalah, Huang Zitao lebih ahli mengurus rumah tangga dibanding memegang senjata dan turut serta dalam penyergapan.

“Tao, kau masih punya peluru?”

“Masih. Punyaku masih utuh.”

Mendengarnya, tingkat kepercayaan Kris akan keberhasilan misi ini menurun drastis. Bisa-bisanya selonsong peluru yang berjumlah lebih dari lima ratus butir itu masih utuh. Benar-benar utuh saat Tao menyingkap rompi anti peluru dan memperlihatkan benda-benda berujung runcing itu.

“Apa yang kau lakukan sejak sepuluh jam yang lalu, Huang Zitao?! Apa kau hanya meringkuk di dekat perapian seperti kucing kedinginan, hah?!” Kris geram, ia berulangkali membuang pikirannya untuk mengirim Tao kembali ke China setelah ini. Satuan polisi masih membutuhkannya sebagai agen lapangan, beruntunglah ia memiliki kemampuan memindai keadaan dengan cepat dan membuat strategi yang selalu tepat.

Sayangnya hanya satu, ia penakut.

“Halo, Oh Sehun, eh, aku tidak salah mengeja namamu ‘kan?”

Kris mengenali suara Chanyeol yang memantul dinding Kastil Elshaw. Kastil tua terbengkalai itu menggemakan suara Chanyeol dengan jelas, memanggil Kris dan Tao untuk segera bergegas.

Mereka segera berlari ke arah serambi kanan kastil, perkiraan mereka atas sumber suara. Benar saja, Sehun tengah mengacungkan Revolver ke arah Chanyeol yang bersiap dengan samurainya. Temaram senja yang menyusup dari celah-celah ventilasi udara membuat samurai itu tampak berkilauan.

“Wah, wah, teman-temanmu datang.” Chanyeol melirik Kris yang berdiri di pintu serambi diikuti Tao. Manik pria itu berkilat waspada, AK-47 di tangannya mengarah ke lantai. Kris masih tak punya sebutir peluru pun untuk pelatuknya.

Sehun bergerak cepat, dilepaskannya satu tembakan yang sialnya dapat ditepis Chanyeol dengan tangkas. Mafia narkoba terbesar se-Asia itu bahkan sempat tertawa, melecehkan kemampuan Sehun yang memang anggota baru di kepolisian.

Namun Tao tak tinggal diam. Moncong AK-47 miliknya turut memuntahkan timah panas ke arah Chanyeol. Chanyeol segera berderap ke arah kanan, sempat menendang Sehun yang tak siap dengan kontak fisik yang di arahkan kepadanya. Sehun tersungkur, samurai Chanyeol menahan lehernya, dan amunisi dari senapan Tao berakhir memecahkan kaca kastil.

“Sebentar, bocah-bocah. Kalian bertindak terlalu gegabah.” Chanyeol semakin menekan pergerakan Sehun ke dinding lembab kastil itu. Revolver-nya terlepas dari genggaman dan tergeletak di dekat kakinya. Melihat anak buahnya terdesak, Kris hampir maju memukul Chanyeol dengan tangan kosong sebelum ia menyadari keberadaan lima belas orang berseragam serba hitam yang mengintai di belakang mereka.

Sudah diduga, penjahat besar seperti Chanyeol tak mungkin sendirian.

“Kai, Chen, Xiumin, cepat ke serambi kanan. Kami butuh bantuan!” Kris memanggil anggotanya melalui microphone kecil, sama halnya saat ia memanggil Tao tadi.

“Kris ge! Ambil peluruku dan cepat kejar Chanyeol!” Seakan tersadar, Kris mengalihkan atensinya pada bayangan Chanyeol yang terpantul pada koridor, mengarah ke aula yang berada di tengah-tengah kastil.
Tao melempar rompinya―dimana seluruh amunisi miliknya berada di sana–yang segera ditangkap Kris dengan tangkas. “Lalu kau bagaimana?”

“Aku punya wushu, Ge! Sudah, cepat lari!” Setelah mengucap itu, Tao berbalik. Menghadapi lima belas orang sendirian memang nyaris mustahil, tapi ia bertekad untuk mengerahkan seluruh tenaganya dalam penyergapan ini. Sehun segera bangkit, meraih Revolver di dekat kakinya dan membantu Tao.

Lima belas orang berseragam itu membawa samurai dan pistol kecil dalam ikatan pinggang mereka. Sehun kewalahan saat seseorang berhasil menjatuhkan Revolver-nya. Pria bersurai pirang itu terdesak kembali ke dinding namun berhasil diselamatkan Tao yang menendang perut orang berseragam hitam itu. Tao bergerak begitu luar biasa, tendangannya nyaris tak pernah meleset. Ia berhasil menumbangkan sepertiga dari lima belas orang itu dengan mematahkan lehernya. Berbeda sekali dengan saat ia meringkuk di depan perapian. Sehun juga berhasil membunuh tiga orang dengan tembakan tak tentu arah yang ia lakukan.

Sebelum mereka kembali terdesak, Chen dan Xiumin muncul dari arah berlawanan. Perhatian pasukan hitam-hitam―begitu Sehun menyebutnya–menjadi terpecah. Sebagian masih berusaha melawan Sehun dan Tao, sebagian lainnya menyerang Xiumin dan Chen yang memegang pistol SIG P250.

Chen, sang penembak jitu, berhasil menyingkirkan satu orang dengan tembakan di kepala. Darah mengucur deras dan membasahi lantai dengan warna merah pekat. Bau anyir yang menyeruak dihiraukan para polisi muda ini demi pengabdian mereka kepada negara.

Xiumin mengabaikan pistolnya, ia lebih memilih turun tangan langsung untuk menendang seseorang bertubuh kekar yang mengintainya. Pria itu berdecih, berusaha meraih Xiumin dan memiting lehernya. Nyaris saja berhasil namun Chen datang dan menendang tengkuknya hingga pria itu terjerembab.

Thanks, Chen.”

Chen mengangguk.

Hampir seluruh senjata kepolisian dianggurkan saat pertarungan itu dilakukan. Semuanya berkat Tao yang terlihat dapat melumpuhkan lawan dengan begitu mudah. Samurai-samurai itu bagai sebilah kayu saat Tao menangkisnya dan menjatuhkan benda itu ke tanah.

Sayangnya, tak semua polisi itu piawai dalam perkelahian fisik. Jongdae nyaris ambruk saat seorang berseragam hitam itu berhasil menggoreskan samurai di perutnya. Darah segar segera merembes dari balik kaos putih yang ia gunakan, membasahi rompi hitamnya. Chen berjalan mundur dua langkah, memegangi perutnya. Ia menabrak seseorang, beruntungnya itu adalah Kai yang baru saja selesai melakukan pertempuran di dapur kastil dengan tiga orang anak buah Chanyeol. Chen mengerang, kesakitan.

“Chen hyung!” Kai membopong tubuh Chen yang lemas, darah masih mengucur deras. Kai membawa Chen ke sebuah kamar pengap di kastil itu dan mendudukannya di sana. Segera ia merobek sehelai kain yang digunakan sebagai sprei dan membebat perut Chen dengan itu. Setidaknya aliran darah itu bisa tersumbat sementara, hingga mereka berhasil keluar dari kastil tua itu.

“Bertahan, hyung.”

“Aku tidak apa-apa.” Chen melongok ke arah lorong, sekumpulan pasukan hitam-hitam itu lagi-lagi datang. “Kau bantu mereka, segerombolan orang berseragam hitam baru saja lewat.”

“Tapi, hyung–”

“Bantu mereka, Kai!”

Lekas Kai bangkit meski sebenarnya ia tak tega membiarkan Chen meringis kesakitan sendirian. Tekadnya, setelah selesai menghabisi pasukan hitam-hitam itu, ia akan segera menemui Chen. “Aku akan segera kembali, hyung.”

Kai bergabung dengan pertempuran di serambi kanan. Dilihatnya Tao masih tangkas menghabisi lawan meski pipi kanannya memeroleh goresan panjang. Sehun tengah bermain-main dengan seorang pria bertubuh gempal yang mengejarnya―mereka hanya kejar-kejaran di koridor seperti bocah balita. Xiumin melawan lima orang dan terlihat kepayahan. Kai memutuskan membantu Xiumin.

Setelah hampir satu jam menghabisi total dua puluh lima orang, para polisi muda itu segera menyusul Kris yang mengejar Chanyeol. Minus Kai dan entah bagaimana Xiumin yang juga mengikutinya untuk kembali menemui Chen di tempat persembunyian.

Hyung,” Kai menepuk lengan kanan Chen yang memejamkan matanya. Perasaan buruk segera melingkupi pria itu saat denyut nadi Chen hampir tidak terasa.

“Aku akan membawanya keluar dari kastil ini, Kai. Dia kehilangan banyak darah.” Xiumin segera bertindak dengan membopong Chen keluar dari sana. “Kau bantu yang lain. Mereka berada di aula, dan..”

Kai menatap cemas ke arah Xiumin, pria itu terpaku di tempatnya, tak segera bergerak.

“..pastikan kalian keluar dari kastil ini dengan selamat.”

Setelahnya, Xiumin dan Chen menghilang di sudut ruangan dan Kai segera berlari ke aula, membantu kawan-kawannya.

**

Aula besar itu hanya berisi dua orang sebelum satuan kepolisian lainnya datang. Kris dengan pelatuknya masih siaga, sedangkan Chanyeol menggenggam samurainya dan tertawa-tawa.

Look at you now, Kris!” Chanyeol menunjuk Kris dengan samurainya. “Kau terlihat begitu buruk dengan seragam polisi dan lencana busuk itu! Mereka memanggilmu apa? Komandan?” Tawa Chanyeol membelah atmosfer aula. “Komandan mafia maksudnya?”

Shut up, Park Chanyeol, dan menyerahlah!” Kris maju selangkah, Chanyeol masih tak gentar.

“Menyerah? Bukannya kita berkawan, Komandan Wu?”

“Bangsat! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!” Kris melepas satu tembakan namun Chanyeol menghindarinya dengan mudah.

“Kenapa? Aku sering memanggilmu dengan panggilan itu saat kita masih bersama dulu.” Chanyeol memberi penekanan pada kata ‘bersama’ dan mengayun-ayunkan samurainya. Membuat Kris semakin waspada. “Kau mafia narkoba, Kris, bagaimana bisa kau berkhianat dan membunuh anak buahmu sendiri?”

Kris mengernyit, tak paham.

“KAU MEMBUNUH BAEKHYUN DAN SEKARANG AKU HARUS MEMBUNUHMU, BAJINGAN!”

Setelah itu satu sabetan samurai menggores luka panjang di lengan kiri Kris saat ia berusaha menepis. Kris meringis, darah mengucur perlahan dari tangannya.

Kris bagian dari mereka, dulunya. Saat ia masih remaja dan transaksi narkoba adalah kesehariannya. Mereka; Kris, Chanyeol, dan Baekhyun adalah mafia termuda pada saat itu.

“Baekhyun mengagumimu, Kris. Bocah itu tak pernah berhenti berkata ‘Aku ingin menjadi seperti Kris, dia hebat saat melawan polisi yang menghambat transaksi. Kris sangat keren, iya ‘kan, Yeol?’ Cih keren apanya!” Chanyeol membuang ludah, sorot matanya lebih tajam dari samurai yang ia bawa. “Kau membunuhnya, Kris. Saat penyergapan sialan yang kau lakukan di apartemen kami yang ada di Busan. Kau membunuhnya!”

Mereka memang pernah bermarkas di sebuah apartemen di daerah Busan, satu tahun ke belakang. Saat terendus adanya tranksaksi narkoba dalam jumlah besar, Kris dan pasukan segera diturunkan untuk melakukan penyergapan. Lima anak buah Chanyeol berhasil diringkus dan dugaan Kris yang membunuh Baekhyun santer terdengar.

Sebenarnya bukan Kris yang membunuh Baekhyun saat pria itu tiba-tiba memeluknya. Seseorang menghunus belati ke jantung Baekhyun dari belakang dan tubuh Baekhyun merosot jatuh di pelukan Kris. Chanyeol yang saat itu baru saja datang berpikir jika belati yang masih menancap di punggung Baekhyun adalah perbuatan Kris. Seketika ia berang. Pria itu menyerang Kris dengan tangan kosong secara brutal. Kris yang masih tertegun dengan kematian Baekhyun hanya diam saja dan membiarkan Chanyeol kabur setelah melukai punggungnya dengan samurai yang ia bawa.

Kris tak pernah berniat membunuh. Saat itu Baekhyun memeluknya dan berkata jika ia merindukan Kris. Baekhyun rindu saat Kris masih menjadi bagian dari mereka, masih melakukan transaksi narkoba di masa remajanya. Saat sebelum ayah Kris meninggal dan meminta Kris menjadi anggota kepolisian.

Konflik batin hebat dialami Kris pada saat itu. Kematian sang ayah memukulnya telak, membuatnya mengambil keputusan untuk keluar dari jeratan lingkaran setan itu. Tidak mudah memang, tapi Kris berhasil melakukannya. Ia berhasil menggantikan ayahnya sebagai Komandan Kepolisian dan menebus dosa besar di masa lalunya.

Kris telah jauh berubah, sedangkan Chanyeol dan Baekhyun masih bertahan dalam kubangan maksiat itu.

“Bukan aku yang membunuhnya, Park Chanyeol! Kau harus tahu itu!” Teriakan Kris membuat Chanyeol murka. Pria itu maju selangkah demi selangkah hingga menyisakan jarak dua meter di hadapan Kris. “Lalu katakan siapa yang membunuh Baekhyun!”

Kris terdiam, tak mampu melontarkan jawaban. Dalam keheningan itu, Chanyeol mengayunkan samurainya dan..

DOR!

..sebutir peluru menggagalkan perbuatannya untuk menebas leher Kris. Timah panas itu tidak berhasil menembus kulitnya, namun berhasil memukulnya mundur.

Sehun berdiri di ambang pintu aula bersama Tao dan Kai.

“Apa salah satu dari mereka yang membunuhnya?!” Samurai Chanyeol teracung ke arah Sehun dan berdiri paling depan. Pria itu meneguk salivanya susah payah.

Melihat kawan-kawan Kris mempersempit pergerakannya, Chanyeol segera menyusun strategi. Diraihnya senapan M16 dan ditembakkan secara acak ke arah mereka bertiga.

“AKH!”

Sialnya, salah satu peluru menembus kaki bagian atas dari seorang Oh Sehun. Tubuh pria itu segera ambruk.

“Sehun-a!” Tao meraih tubuh Sehun dan membawanya ke sudut aula.

“Jangan hiraukan aku!” Sehun mendorong Tao agar kembali ke pertempuran. Sebelumnya, Tao sempat melempar perban ke arah Sehun, memintanya untuk membebat luka itu.

Thanks, Tao-ya.”

Tao tak menjawabnya dengan kata-kata, hanya menunjukkan ibu jarinya dan lekas bergabung dengan Kris dan Kai yang telah mengepung Chanyeol.

Kai dan Tao mengambil sisi kanan dan kiri Chanyeol sedangkan Kris menghadang dari arah depan. Chanyeol tak bisa berbuat banyak dengan dinding berlumut yang terbentang di belakangnya. Tapi kemampuan menyerang pria itu tidak dapat diremehkan, tendangan Tao dari sisi kanan dan pukulan tangan Kai dari sisi kiri berhasil ditepisnya dengan apik. Senjata Tao dan Kai bahkan terlempar hingga koridor kastil saat Chanyeol menyepak tangan mereka. Kai sempat tersungkur, namun segera bangkit. Tao terdesak ke sisi meja, tapi berhasil mendapat ruang dan kembali melawan.

Kris hanya terdiam saat melihat anak buahnya menyerang mantan temannya itu habis-habisan. Sesuatu dalam dadanya berdenyut, tapi ia tak bisa berbuat banyak.

“Lakukan sesuatu, Ge! AKH!” Tubuh Tao terhempas akibat tendangan Chanyeol di dadanya. Sangat keras hingga pria itu terpental dan menabrak lemari kaca di belakangnya. Tao terkapar, darah mengucur dari kepalanya yang tertusuk pecahan kaca. Ia pingsan.

Chanyeol berpindah ke arah Kai, berniat melakukan hal yang serupa tapi berhasil ditepis dengan baik oleh Kai. Ia lumayan gesit menghindari samurai Chanyeol yang bermain-main di sekitar tubuhnya, mengancam nyawa yang menetap dalam raganya.

“Kris hyung, lakukan sesuatu!” Kai berujar seraya menepis Chanyeol yang semakin beringas. Pemuda berkulit tan itu harus rela mendapat sebuah goresan di wajahnya yang tampan akibat samurai keparat itu.

Kris masih tertegun, belum melakukan apapun.

“Kris tidak akan membantumu, Bodoh!” Chanyeol tertawa keras saat berhasil menyudutkan Kai pada dinding berlumut itu. Samurainya membentang di sekitar leher, sekali tebas saja kepala pria bermarga Kim itu akan terpisah dari tubuhnya.

Namun tidak setelah sebutir peluru terlepas dari moncong pelatuknya, menggores tangan Chanyeol. Chanyeol menoleh dan mendapati peluru itu tertancap di dinding. Rasa panas dan perih segera menjalari kedua tangannya. Terlebih saat ia tahu Kris yang melepas tembakan, ia semakin murka.

“Bangsat!” Chanyeol melempar tubuh Kai hingga menabrak meja kayu yang berada di aula itu lantas menghampiri Kris. Kai segera bangkit dan berusaha membantu Kris, tapi ujung samurai Chanyeol terlebih dahulu menusuk dadanya. Kai terhuyung, cairan amis mengubah warna kaos putihnya menjadi merah pekat.

“Brengsek kau, Park Chanyeol!” Kris segera mendekati Kai yang mengerang kesakitan dan berlutut di sisinya.

“Aku yang membunuhnya, hyung..aku yang membunuhnya!” Kai merintih, memegangi tangan Kris. Warna merah segera berpindah ke ruas jari Kris yang menggenggam tangan Kai. “Byun Baekhyun..aku yang menusuk belati itu..”

“Jadi itu kau? Bajingan!” Chanyeol berteriak keras dan menendang tubuh Kai hingga pria itu menabrak dinding.

Kris segera bangkit dan menghadiahkan satu pukulan yang membuat Chanyeol terpental ke belakang, sudut bibirnya berdarah.

“Kita impas, Park Chanyeol!” Lirih Kai, ucapannya terbata-bata. Nyaris tak ada warna putih yang tersisa dari kaos yang ia kenakan. Napasnya mulai tak beraturan, matanya terpejam perlahan-lahan.

Saat Kris mendeteksi denyut nadinya, pria itu telah meregang nyawa.

Tanpa banyak kata, Kris menghampiri Chanyeol dengan tangan kosong. Keduanya berduel dengan otot melawan otot, tidak ada senapan ataupun samurai. Tangan dengan tangan, kaki dengan kaki, tendangan dengan pukulan.

Karena sejatinya pertarungan mereka bukan untuk mafia dan polisi negara, melainkan antara teman dan penghianat. Chanyeol yang sampai sekarang dan selamanya akan menganggap Kris sebagai penghianat.

Chanyeol menampik tendangan kaki Kris yang di arahkan ke pinggangnya, menggantikan tendangan itu dengan sebuah pukulan yang membuat wajah Kris lebam. Mereka tak ada yang berniat menyerah saat Kris mulai membalas dengan tinjuan di wajah Chanyeol hingga pria itu terjerembab, menabrak tumpukan meja yang di susun di sudut aula.

Wajah keduanya nyaris tak bisa dikenali, terbalut luka dan tetesan darah. Kris merasakan goresan samurai di tangannya semakin perih, Chanyeol meringis ngilu akibat timah panas yang melukai tangannya.

Tapi Kris tak lantas berbelas kasihan, disepaknya tubuh Chanyeol hingga babak belur. Chanyeol membalas, menyarangkan beberapa pukulan ke tubuh Kris hingga keduanya ambruk.

Napas mereka terengah, tubuh mereka mengucurkan banyak darah.

“Ini gila,” Chanyeol melirih, merasakan nyeri di setiap senti tubuhnya. “Kita saling melukai untuk alasan yang sangat konyol.”

Tak ada sahutan, aula kastil tua itu diserbu senyap.

“Aku iri padamu, Kris.” Chanyeol menghela napas, masih terlentang di atas lantai dengan memar di sisi bibirnya. “Kau berhasil menjadi seseorang yang lebih baik sedangkan aku..masih menjadi pecundang.”

Kris segera bangkit dari posisi duduknya, melangkah patah-patah ke arah Chanyeol. “Kalau begitu ayo bangkit, bodoh! Kau masih punya kesempatan untuk berubah!”

Kris mengulurkan tangan tapi Chanyeol tak segera menyambutnya.

“Kesempatan? Setelah tertangkap olehmu aku pasti dihukum mati! Kesempatan apa yang kau bicarakan, hah?!” Kelopak mata Chanyeol terpejam, pria itu tengah ‘menikmati’ rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya.

“Setidaknya masih ada waktu untuk berbuat baik setelah ini. Kau bisa menebus kesalahan di masa lalu dengan—”

“Bunuh aku, Kris.” Tandas Chanyeol cepat. “Bunuh aku karena setidaknya aku bisa bertemu Baekhyun.”

Hening menjeda mereka dalam erangan kesakitan yang dilontarkan Chanyeol. Kris memandang sekeliling, mendapati ruangan aula itu begitu hancur akibat pertempuran mereka. Sehun memojok di sudut, sepertinya pingsan akibat kakinya mengeluarkan banyak darah. Tao masih belum sadar setelah kepalanya tertusuk pecahan kaca, dan Kai, semoga Tuhan menghadiahkan surga atas kesetiaannya pada negara.

Kris memejamkan mata, merapikan memoar-memoar yang berkecamuk dalam benak. Selintas, tawa dan raut bahagia teman-temannya seakan terlukis pada dinding-dinding Kastil Elshaw. Kris rapuh saat itu, dibalik seragam kepolisian dan status komandan yang ia emban, ia tak lebih dari seorang pecundang.

Xiumin, Chen, Sehun, Tao, dan Kai adalah orang-orang baru dalam hidupnya. Chanyeol dan Baekhyun adalah orang-orang berjasa dalam masa lalunya.

Kris tak bisa memilih sekalipun ia diberi pilihan.

“Bunuh aku, Kris..” Chanyeol mulai terisak, fluida yang mengalir dari sudut matanya meluruhkan darah yang mengucur dari wajah.

Bunuh dia dan misi ini selesai, atau bawa dia ke depan pengadilan. Pada akhirnya nanti mungkin akan berujung sama, kematian. Tapi ini pilihan, Kris, kau tidak bisa terus-menerus bungkam.

Setelah bermenit-menit menimbang-nimbang, akhirnya Kris menjatuhkan pilihan dengan suara tembakan yang membelah keheningan.

**

Pemakaman anggota polisi berjasa, Kim Kai, diliputi duka dan air mata. Penyergapan markas mafia narkoba itu nyatanya membunuh satu nyawa. Membuat Kris dan teman-temannya merasa sedih dan bangga di saat yang sama. Kai meregang nyawa dalam sebuah misi besar dan bukti ketaatannya sebagai polisi negara.

Penyergapan itu berakhir dengan Chen yang kembali sehat setelah kehabisan darah. Sehun yang terpaksa berjalan pincang karena alat gerak bagian bawahnya menjadi sasaran peluru bersarang, Tao sempat koma selama tiga hari sebelum tersadar dan tidak jadi menyusul Kai ke surga.
Dari semua yang terparah, Kris mendapat puluhan sayatan pada tubuhnya meskipun tidak mendapat luka dalam yang cukup parah. Seluruh wajahnya lebam, memar, dan membengkak. Melihat itu, Tao bersyukur setelah tersadar dan mendapati wajahnya tetap tampan, tidak seperti Kris.

Anak buah yang kurang ajar.

“Kalian pulang saja dulu, ada sesuatu yang harus kulakukan setelah ini.”

Begitu kiranya instruksi Kris saat para anak buahnya mengajak ia untuk segera meninggalkan area pemakaman. Xiumin mengangguk, lalu memapah Sehun. Chen berjalan mengekori mereka, dan Tao berjalan paling akhir. Sempat menepuk bahu kiri Kris sejenak sebelum turut meninggalkan pemakaman.

Huang Zitao tahu, Kris akan mengunjungi sahabat-sahabatnya yang dimakamkan pada tempat yang sama.

“Hai,” Kris berlutut pada dua buah nisan yang berdiri bersisian. Nama

Byun Baekhyun dan Park Chanyeol tercetak pada masing-masing pusara dengan setangkai Krisan yang baru saja diletakkan Kris untuk keduanya.
Penyergapan itu selain membunuh Kai, juga membuat Chanyeol menyusul Baekhyun. Tembakan itu bukan Kris yang melakukan, melainkan Chanyeol yang membunuh dirinya sendiri. AK-47 yang dipegang Kris berpindah tangan dan tembakan itu terjadi di luar perkiraan.

Setidaknya, sekarang Baekhyun tidak sendirian.

I’m sorry..” Bisik Kris perlahan. Desir angin pemakaman menumbuhkan perasaan bersalahnya. “Aku minta maaf..” Tubuh Kris bergetar, kaki-kakinya nyaris mati rasa. “Aku tidak tahu harus berbuat apa selain minta maaf karena telah menghianati kalian, maafkan aku..”

Sebelum bulir-bulir kesedihan itu berangsur turun, Kris memutuskan beranjak. Ia tidak ingin meneteskan air mata di depan nisan sahabat-sahabatnya. Namun sebelum tungkainya menciptakan langkah, sayup suara terjamah liang telinganya meskipun samar-samar.

“Kris..”

Kris menoleh. Obsidiannya membulat saat mendapati sosok setipis kabut membentuk figur dua manusia yang tak akan pernah ia temui lagi di dunia.

Chanyeol dan Baekhyun.

“Kami sudah memaafkanmu, Bung! Sebaiknya sekarang kau harus belajar memaafkan dirimu sendiri.” Chanyeol tersenyum ke arahnya, Baekhyun melambaikan sebelah tangan. Seulas senyum terpeta jelas dalam wajah mereka, tampak begitu bahagia. Sebelum desau angin mengaburkan presensi keduanya, Baekhyun sempat mengucapkan frasa dengan suara cerianya, yang membuat titik bening di sudut mata Kris luruh dan membuat pipinya basah.

.

.

.

“Sampai jumpa lagi, Komandan Wu! Kami akan menunggumu!”

fin.

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] BATTLE IN THE CASTLE

  1. THIS MADE MY DAY!!!!!!!!!!!!!!!
    Sial, action!exo dan friendship!exo itu jarang banget dibikinnya dan kamu bikinnya langsung penuh feel dgn plot yg ga karuan bagusnya. aku juga suka susunan adegan actionnya, kata2nya ga monoton tapi ga terlalu berbelit juga, terus habis itu suka kejutan2 yg disiapin di tengah dan mas chenku dibuat berdarah2, terima kasih! *thumbs up from psychotic fangirl yg suka liat anak exo berdarah
    sorry ya aku ga ngasih koreksi macem2, cuman detak aorta dan karbondioksida menurutmu ga terlalu medis ya kalo dipasang di fic action? bisa diganti yg lebih sederhana sih.
    tapi yg jelas aku sangat menikmati fic ini! ya meski panjang. seenggaknya kamu nggak maksa masukin semua cast ber12, yg perlu2 sajah :p
    keep writing!

  2. Kak Liii….seneng banget kedatengan senpay di ff abal-abal ini hehehe. Untuk aorta sama karbondioksida, aku sih nggak mikir sejauh itu kak. Apa yang ada di otak yaudah gaspol aja wkwk but thanks koreksinya, lain kali diperhatiin lagi :)) Thanks sudah mam[ir kemari ya kak :))

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s