[SONGFIC] Relationshit


RAVI

[SONGFIC] Relationshit

Story fic by Ravenclaw

Starring with

Kim Wonshik (VIXX) – Park Mirae (OC’s)

Genre : Romance, Fluff | Length : Vignette | Rating : Teen

Disclaimer

Kau bisa menyumpal telingamu dengan suara berisik dari Ed Sheeran yang berjudul Photograph atau dengan lebih berisik lagi dari The Boyce Avenue dengan judul yang sama.

Ravi tersenyum ketika menatap fotonya bersama gadis itu.

PLAY

 

Sudah setahun terakhir ini Ravi terkurung dalam sebuah apartemen yang bisa menampung 6 manusia sekaligus. Setiap hari dirinya dilarang bepergian kemanapun selain ke kantor manajemennya hanya untuk latihan, latihan, dan latihan.

Bosan?

Ya, tentu saja.

Lelah?

Benar, ia merasakan itu.

Sakit?

Tidak, ia tidak merasakan itu pada fisik sempurnanya.

Yang ia rasakan justru rasa ngilu di hatinya.

Why?

Beberapa kali Ravi mendial sebuah nomor yang sangat hapal diluar kepalanya. Dan beberapa kali pula Ravi menghela napasnya.

Panggilan tidak terjawab, cobalah untuk beberapa saat lagi. Silakan Anda masuk ke kotak suara.

Leo sebagai saksi dari keputusasaan Ravi hanya bisa terdiam. Pasalnya Leo sudah mencoba untuk menghibur sahabat SMA-nya itu, tapi juga diacuh oleh yang bersangkutan. Biarlah dia tenang dulu, pikirnya.

“Wonshik, aku akan buat makan malam. Nanti kupanggil setelah makanannya jadi.”

“Hmm…” begitu balasnya, dan Leo tahu itu.

 

 

1 notification Kakao Talk from Mirae’s

 

Mirae’s

Halo, Wonshik! Aku minta maaf kalau aku tidak mengangkat teleponmu dan membalas pesanmu, jujur aku sangat sibuk mengerjakan tugas kuliahku. Kau tahu kan rasanya kuliah di luar negeri apalagi di Eropa, sangat susah. Aku sedikit susah beradapatasi di sana, tapi sekarang aku sudah sedikiit terbiasa hidup di Paris, Wonshik-ya. itu berkat kau, tahu, hehehe…

 

Ravi tersenyum ketika mendengar suara cempreng dan manis dari gadisnya, Park Mirae. Dengan cepat jarinya mengetik beberapa kata sederhana.

Rav’s

Ah, aku juga minta maaf. Kau sedang sibuk sekali ya? bagaimana di Paris? Apa kau bisa melihat Menara Eiffel kesukaanmu itu? Apa kau makan dengan baik disana? Tidur dengan cukup?

 

TING!

 

Mirae’s

Tidak apa kok, hehehe… sebenarnya aku tidak sibuk, kalau dosen sialan itu tidak menunjukku sebagai asistennya, menyebalkan tahu! Aku seperti pembantu olehnya, tapi aku juga dapat makan gratis darinya, hahaha!!! Benar Wonshik, Menara Eiffel itu benar-benar indah! Aku sampai dibuat kagum, benar-benar keren! Ah iya, sebenarnya jadwal tidurku sedikit berbeda, aku hanya tidur 3-4 jam saja. Aku tidak suka kalau tugasku menumpuk.

Rav’s

Tidak apa kau jadi asisten pribadi dosenmu, anggap saja itu sebagai pengalamanmu. Benarkah? Bisakah kau berfoto di depan Menara Eiffel? Aku sangat penasaran!

 

TING!

 

Ravi tersenyum menampakkan gigi putihnya kala foto bergambar seorang gadis berambut panjang hitam itu sedang berpose di depan icon negara design itu. Gadis itu merentangkan tangannya sambil tersenyum gembira, seolah-olah hendak memeluk seseorang dengan tubuhnya yang hangat.

 

Mirae’s

Apakah aku terlihat lucu?

 

Rav’s

Tidak, kau tidak lucu. Tapi kau cantik 🙂

 

Mirae’s

Wonshik! Kau sukanya menggodaku! Menyebalkan! ><

 

Ravi hanya tertawa, membayangkan kalau gadis itu sedang cemberut di depannya dengan kedua tangan di dadanya. Lucu sekali.

 

Rav’s

Mirae…

 

Mirae’s

Iya, Wonshik?

 

Rav’s

Makanlah yang teratur, istirahatlah yang cukup, jangan sampai sakit. Jangan selalu mengkhawatirkanku, aku selalu baik-baik saja disini.

 

 

“Wah, latihan kali ini cukup menguras tenaga, ya?” keluh Hyuk sambil mengelap peluhnya yang mengucur deras di pelipis pria yang baru menginjak masa dewasanya itu.

“Ya iyalah, kan kita juga mau debut, Hyuk,” timpal Ken.

“Capek, hyung,” tiba-tiba Hyuk sudah tidur di paha Hongbin.

BUK!

“Sakit, hyung!” teriak Hyuk sembari mengelus pundaknya yang terkena hantaman Hongbin, laki-laki itu tertawa juga menyentuh dahi pria itu, “makanya jangan manja-manja denganku,” ujar Hongbin.

Hyung! Hongbin hyung jahat!” lapor Hyuk dengan telunjuk mengarah pada Hongbin, Hakyeon hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah kedua pria termuda di kelompoknya.

“Kalian itu, dari dulu sukanya bikin ribut,” ucap Hakyeon yang langsung dipelototi oleh kedua manusia itu.

”Hakyeon hyung jahat!!!”

“Aigoo…”

Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah kekanakan temannya itu, segera dirinya memposisikan dirinya duduk di salah satu sudut ruang latihan. Menemani Ravi yang sedari tadi tersenyum entah karena apa.

“Kau sedang melihat apa?” tanya Leo, penasaran.

Ravi tidak membalas, melanjutkan kegiatannya mengacuhkan sahabatnya yang juga sahabat dari sepupunya, Kim Daena.

Leo menaikkan kepalanya, menilik apa yang sedang digenggam oleh Ravi.

Dompet.

Ravi tersenyum ketika melihat isi dompetnya tersebut.

Ravi tersenyum ketika menatap fotonya bersama gadisnya itu.

 

 

“Halo, Mirae?”

“Maaf saya temannya Park Mirae.”

“Dimana Mirae?”

“Saat ini dia sedang berada di rumah sakit, ia terkena demam berdarah.”

“Apa? Kenapa bisa terjadi padanya?”

“Aku juga kurang tahu, dia baru mengabariku 2 hari yang lalu, jadi aku membawanya ke rumah sakit.”

“Ah, begitu, ya?”

“Iya.”

“Bisakah aku berbicara dengan Mirae?”

“Sebentar..”

“Terimakasih, Ellie. Ah, hai Wonshik. Bagaimana kabarmu?”

“Kenapa kau bisa sakit?”

“Ah itu, entahlah. Aku merasa badanku tidak enak dan lemas jadi aku minta teman satu kamarku untuk mengantarku ke rumah sakit, dan jadilah begini. Shik-ya, kau sudah makan belum?”

“Jangan pedulikan aku, sekarang pulihkan kesehatanmu dulu. Aku takut kau kenapa-kenapa dan…”

“Hahaha, aku hanya memastikan kau juga tidak sakit Wonshik. Kau ini terlalu paranoid.”

“Bagaimana tidak paranoid kalau kekasihku sedang sakit dan tidak ada yang mengurusnya disana?”

“Ah, benar ya kata Daena, kau itu benar-benar paranoid. Di sini ada yang mengurusku kok, ada teman sekamarku, pembimbingku juga teman-teman organisasiku di sini. Mereka semua perhatian kepadaku.”

“Tapi tetap saja aku khawatir, Park Mirae.”

“Kalau begitu supaya kau tidak khawatirkan aku, kau sudah makan belum? Sana makan dulu, suruh Taekwon masak yang enak dan nikmati makananmu, kan masakan Taekwon lumayan enak.”

“Bagaimana bisa aku menikmati masakannya Taekwon kalau kau saja sakit?”

“Harusnya aku tidak menyuruh Ellie untuk memberitahumu, ya?”

“Kau, menyebalkan!”

“Hahaha… Ah iya, Wonshik. Aku ingin mengucapkan sesuatu.”

“Huh… memangnya kau mau bilang apa?”

“Aku merindukanmu, Wonshik…”

“Aku menunggumu pulang, Mirae…”

 

 

“Ravi! Ravi! Kau sudah buka Instagram belum? Mirae cantik banget loh! Dan dia berfoto dengan salah satu mahasiswa di sana! Sumpah, laki-laki itu ganteng banget!”

Ravi langsung terlonjak kaget dengan pemberitahuan dari Ken, langsung saja laki-laki itu langsung membuka Instagramnya dan benar saja, gadisnya tengah tersenyum manis bersama salah satu mahasiswa bule.

Dan Ken sukses membuat Ravi cemburu setengah mati.

“Kenapa Mirae bisa berfoto dengan si bule ini? Jelaskan padaku, Ken!!!” dan Ken pun hanya bisa melongo kala tubuhnya diguncang-guncangkan oleh Ravi, bagaimana dia mau menjelaskan itu kalau dirinya dalam posisi seperti itu.

Ya! Aku juga tidak tahu, bodoh! Tanya saja pada bule itu kenapa dia bisa berfoto dengan Mirae-mu itu!”

“Ken sialan!”

“Ravi bodoh!”

Hakyeon yang tengah sibuk menyapu apartemen langsung melerai mereka berdua, “hei, hei, hei! Hentikan! Kalian berdua ini kenapa, sih?”

“Dia yang salah, hyung!” teriak mereka berdua saling menunjuk. Hakyeon hanya bisa mengelus dada.

“Oke, masalahnya apa dan kenapa kalian bisa ribut seperti ini sampai tidak membantuku membereskan dorm?

Ravi langsung menoleh kearah Hakyeon, masih menunjuk muka Ken, “dia dulu yang mulai! Dia memberi tahuku kalau Mirae berfoto dengan bule sialan itu, dan saat aku tanya alasannya kenapa gadisku bisa berfoto seperti itu justru dia bilang tidak tahu dan mengataiku bodoh, ya kan aku kesal, hyung!

“Dia memang bodoh, hyung! Masa dia tanya kepadaku kenapa Mirae-nya bisa berfoto cantik dengan bule itu, ya jelas dong aku tidak tahu apa-apa tentang itu! Ravi bodoh!” ujar Ken tidak mau kalah.

“Ken sialan!!!”

“Hei, hentikan! Leo, Hongbin, Hyuk, bantu aku!” dan ketiga pria yang sejak tadi sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing langsung menyeret kedua pria sok jagoan itu dari TKP.

“Awas kau, Ken!” teriak Ravi. Ken hanya melengos lalu melanjutkan bermain dengan ponselnya.

Leo langsung mendudukkan diri di sebelah Ravi di balkon apartemen mereka. “Apa sih masalahnya?”

Tanpa berucap Ravi langsung menyerahkan ponselnya. Leo hanya berucap “oh…” setelah layar itu menunjukan sebuah aplikasi sosial media yang sedang menampilkan sebuah foto seorang gadis tengah tersenyum manis bersama seorang pria bule yang ia tidak tahu siapa dia.

“Bisa saja kan dia hanya kakak tingkatnya Mirae,” ujar Leo.

“Tapi kenapa harus pria bule itu? Aku tidak suka, dan aku takut kalau…”

Leo langsung mengutak-atik ponsel Ravi dan langsung menunjukkan di depan pria itu.

 

Kim Mirae’s

Park Mirae

Seoul – Paris | Sociology – Design | 251093

Rav’s

 

“Juga kau tidak melihat kalung yang dia pakai difotonya itu? Dia masih mengenakan kalungmu,” ujar Leo sembari menyerahkan ponsel ke dalam pangkuannya.

“Kau bersyukur punya wanita seperti dia,” lanjut Leo yang membuat Ravi sedikit tersentak, lalu menunduk.

“Nanti aku telepon dia.”

 

 

“Gimana rasanya berfoto dengan mahasiswa bule itu? Senang ya?”

“Ih, Wonshik sukanya begitu…”

“Hahaha…”

“Kata Leo kau ribut dengan Ken hanya gara-gara fotoku, ya?”

“Tidak juga sih, ya begitulah.”

“Tuhkan, Wonshik sukanya cemburu begitu!”

“Hahaha, maafkan aku, Mirae. Jujur aku tidak suka kau berfoto manis seperti itu dengan pria bule itu, aku…”

“Wonshik cemburu! Yes!

Ya! Kenapa kau suka membuatku cemburu, Park Mirae!?”

“Soalnya kalau kau cemburu itu terlihat lucu, hehehe…”

“Park Mirae…”

“Maafkan aku, Wonshik. Jujur saja kau memang lucu kok kalau kau sedang cemburu.”

“Ah, lupakan saja tentang itu. Bagaimana dosenmu? Apa kau masih dianggap sebagai asisten dosennya?”

“Begitulah. Ah, menyebalkan tahu kalau jadi asistennya. Tugasnya benar-benar bikin remuk tulangku!”

“Jangan begitu, Mirae.”

“Habisnya. Oh iya, kemarin aku habis mendengarkan lagu, bagus sekali liriknya terus aku ambil beberapa liriknya. Mau kau dengarkan, tidak?”

“Memangnya apa liriknya?”

When I’m away, I will remember how you kissed me. Under the lamppost back on sixth street. Hearing you whisper through the phone. Wait for me to come home.”

Ravi tersenyum, manis sekali.

Itu tentang kita.

 

We made these memories for ourselves, where our eyes are never closing, our hearts are never broken, and time’s forever frozen, still.

 

END.

Jujur aja aku bener-bener suka lagu ini, nyentuh banget bener-bener nyentuh… banget apalagi pas liat videonya, beuh merinding ini tubuh :’v /erika lebay ‘-‘/ tapi ini beneran deh.

Oh iya, aku dapet inspirasi ini dari liriknya, bukan mvnya soalnya kan beda ceritanya sama mvnya Ed Sheeran :’v kalo dari mvnya aku dapet nangkep kalo itu nyeritain tentang Ed Sheeran dulu kecil sampe gede sekarang. Tapi kalo diliat dari sisi liriknya aku malah nangkep 2 makna.

1. Tentang ikatan batin antara ibu dan anak
2. tentang LDR

Dan eng ing eng! Aku ambil konsep yang kedua, padahal itu konsep ngarang sendiri dari liriknya gitu, sumpah dalem………………… banget, sedalem cintaku sama suga :v

Dan buat mas Ed Sheeran, saya Raven (nama samaran) /kek investigasi aja :’v/ minjem lagu dan liriknya buat bikin fanfict yang ga ada mutunya ini :’v

Mohon dikoment, aku bukanlah author yang pro, percayalah :’v

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s