[Chaptered] Trust (Chapter 4)


trust-for-nurreka

Title:
Trust (Chapter 4)

Author :
Nurreka (@insp_nurreka)

Main Cast:
– Oh Sehun
– Park Jihyun (OC/YOU)

Genre:
Romance, Marriage Life

Rated:
PG – 17
NC – 17

Amazing poster by : summerooms

Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3

 

Sorry for typo(s) and happy reading !!

 

 

Aku tahu, keputusan yang kupilih mungkin terlalu cepat untuk kita berdua. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memilih untuk memercayai keputusan yang telah kita buat.
Park Jihyun

***

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat memutuskan untuk menjalaninya bersamamu, melupakan logikaku yang memilih untuk menolak, namun memercayai hatiku yang begitu yakin dengan pilihan ini.
Oh Sehun

***

“Apakah ada peningkatan?”

Jihyun merasa bingung dengan pertanyaan Seulmi sementara gadis itu menatapnya tak sabar. Seulmi mendesah pelan saat menyadari bahwa sahabatnya itu tidak memahami pertanyaannya.

“Kau dan Sehun. Calon keponakan kami.”

“Tidak secepat itu, Seulmi – ya! Kau pikir membuat anak bisa dilakukan dalam satu hari?!”

Seulmi dan Myungsoo mengerjap mendengar Jihyun yang menjawab cepat. Mereka saling bersitatap sejenak saat menyadari rona kemerahan yang samar muncul dipipi gadis itu.

“Ahh, aku tahu. Kalian sedang membuatnya, bukan?”

Seulmi dan Myungsoo tergelak melihat Jihyun yang salah tingkah. Dalam hati, Jihyun merutuki ucapan Myungsoo yang menyudutkannya. Tanpa Seulmi dan Myungsoo sadari, ia mendesah pelan. Hubungannya dengan Sehun memang meningkat drastis sejak lelaki itu sakit 3 minggu yang lalu. Keluarganya dan kedua sahabatnya bahkan kerap kali melihat perlakuan Sehun yang begitu romantis. Hanya saja, segalanya tidak seperti yang dibayangkan. Tak ada sentuhan yang lebih selain pelukan dan kecupan didahinya. Skinship terjauh yang pernah mereka lakukan hanyalah ciuman dibibir saat acara pernikahan mereka. Seringkali, ia masih merasa canggung dengan sikap Sehun. Dan ia benar-benar bersyukur, selama ini Sehun tidak pernah menyinggung masalah hubungan badan yang tidak pernah mereka lakukan.

Ya! Kim Myungsoo! Kau membuat Jihyun salah tingkah lagi.”

Seulmi mengedipkan sebelah matanya menatap Myungsoo. Lelaki itu meneguk green teanya yang tersisa hingga habis dan setelahnya menyeringai menatap Jihyun.

“Biar saja. Anggap saja hal ini sebagai hukuman yang harus ia terima karena menambah masa cutinya.”

Jihyun mendelik menatap Myungsoo. Ia menggeleng pelan. Lelaki itu selalu saja melebih-lebihkan hal lain.

Ya! Saat itu Sehun sedang sakit. Semua itu diluar kendaliku.”

Aigoo! Jihyun bahkan membela Sehun. Myungsoo – ya, eottokhae?”

“Pesona Sehun sepertinya sudah menjeratnya. Tapi tidak apa-apa. Karena tak lama lagi kita akan memiliki keponakan.”

Jihyun memutar bola matanya mendengar percakapan kedua sahabatnya. Ia memilih untuk menghabiskan cokelat hangatnya dan menatap keramaian jalan saat jam makan siang. Makanan utama yang mereka pesan telah habis beberapa menit yang lalu. Ia melirik jam tangannya. Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum jam makan siang berakhir. Ia menatap Seulmi dan Myungsoo yang masih saja sibuk membahas masalah calon keponakan mereka.

Ya! Han Seulmi!”

Seulmi menoleh menatapnya dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi, merasa aneh melihat Jihyun yang menyeringai menatapnya.

“Kapan kau dan Kim Bum Oppa menyusulku?”

Dan pertanyaan itu membuat Seulmi tersentak. Ia memutar bola matanya, menghindari tatapan Myungsoo dan Jihyun yang terasa mengintimidasinya. Lelaki yang tadi bersekutu dengannya kini justru bekerja sama dengan Jihyun untuk menggodanya.

Seulmi mengambil cangkirnya dan menghabiskan lemon teaanya. Ia merasa wajahnya memanas dan tanpa bisa dicegahnya, rona kemerahan yang samar muncul di kedua pipinya. Jihyun dan Myungsoo yang melihat hal itu semakin gencar menggodanya.

“Lihatlah, Jihyun – ah! Pipi Seulmi memerah.”

Jihyun tergelak melihat Seulmi yang menatap Myungsoo tajam, sedangkan lelaki itu justru menjulurkan lidahnya. Ia dan Myungsoo sangat senang sekali menggoda Seulmi. Gadis itu jarang sekali bisa tersipu seperti saat ini. Baik ia ataupun Myungsoo tidak akan melewatkan hal itu.

“Bolehkah aku bergabung disini?”

Seulmi mendesah lega. Ia tersenyum menatap Choi Siwon yang menatap mereka penuh harap sambil membawa segelas americanonya. Tanpa meminta pendapat Jihyun atau Myungsoo, ia mengangguk semangat, membuat lelaki berlesung pipit itu tersenyum gembira.

Gomawo, Seulmi – ya.”

You’re welcome.”

“Dimana Joonmyun? Biasanya kalian selalu makan siang bersama.”

Siwon meletakkan gelasnya dan segera duduk disamping Jihyun. Ia kemudian mengedikkan bahunya sambil menatap gadis itu.

Yeah, seperti biasa. Dia selalu mengabaikanku jika sudah bersama Chorong.”

Jihyun mengangguk pelan mendengar jawaban dari rekannya yang bekerja sebagai arsitek itu. Pasangan kekasih yang sangat terkenal di kantor mereka itu memang sering menghabiskan waktu bersama jika jam makan siang tiba, meski terkadang Siwon yang terpaksa harus mengalah.

Diam-diam, Seulmi kembali mendesah lega. Ia benar-benar bersyukur dengan kehadiran Siwon. Hadirnya laki-laki itu mampu menyelamatkannya dari pertanyaan maut Jihyun yang belum dijawabnya.

“Kudengar dari Jihyun kau sedang sangat sibuk. Apa itu benar?”

Myungsoo mengangguk, membenarkan pertanyaan Siwon. Ia dengan semangat menceritakan kesibukannya sebagai seorang fotografer. Siwon dengan senyumnya yang mengembang mendengarkan ucapan lelaki itu sambil sesekali menyelanya. Kedua lelaki yang memiliki minat yang sama dalam dunia fotografi itu membuat mereka dapat terhubung dengan mudah.

Jihyun kembali mengecek jam tangannya. Tersisa 10 menit lagi sebelum jam makan siang berakhir. Ia mendesah pelan sambil mengambil telepon genggamnya dari dalam kantung blazer berwarna cream yang ia pakai, berharap ada sebuah pesan yang masuk. Ia harus kembali kecewa saat tak ada satu pun pesan atau telepon yang masuk. Ia tahu, Sehun sangat sibuk. Namun tadi pagi lelaki itu berjanji untuk makan siang bersama dengannya. Selama ini Sehun selalu menepati janjinya. Jika lelaki yang menjadi suaminya itu terpaksa membatalkan janjinya, lelaki itu pasti akan memberitahunya. Mungkin saat ini Sehun sangat sibuk hingga tidak sempat memberitahunya.

Seulmi menatap Jihyun yang menggeleng pelan sambil memasukkan telepon genggamnya kedalam saku blazernya. Tatapan mereka lalu bertemu diudara. Seulmi tahu, sahabatnya itu tengah menunggu suaminya yang tak kunjung datang. Gadis itu bercerita kepadanya dan Myungsoo tepat ketika mereka tiba di restoran yang sering mereka kunjungi. Ia hanya mampu menatap Jihyun lembut, yang dibalas gadis itu dengan senyum tipisnya, seolah menegaskan bahwa ia baik-baik saja.

Namun sayangnya, hingga jam makan siang berakhir, Sehun tak juga datang. Jihyun hanya bisa mendesah kecewa. Ia akhirnya berjalan bersisian dengan Siwon menuju kantornya. Selama perjalanan mereka, lelaki yang bekerja di kantor yang sama dengannya itu tidak banyak berbicara. Ia terkadang masih merasa canggung jika harus berhadapan dengan Jihyun. Diam-diam, melalui ekor matanya, ia melirik Jihyun yang mendadak terlihat menjadi sangat pendiam sejak beberapa menit yang lalu. Ia mendesah pelan menatap wanita yang pernah memberikan warna bagi hidupnya. Tak ingin berbohong, sampai saat ini ia masih menyukai gadis itu, meski gadis itu menolaknya dengan cara yang halus beberapa bulan yang lalu dan tidak pernah menjauhinya. Tetap saja, ia masih belum bisa menghilangkan perasaanya. Padahal dulu ia seringkali membayangkan betapa cocoknya mereka berdua. Ia yang seorang arsitek dan Jihyun yang seorang desainer interior. Mereka bisa merancang rumah tempat tinggal mereka bersama jika mereka menikah. Dan kali ini sepertinya ia harus benar-benar menyerah untuk memperjuangkan perasaanya. Karena gadis yang masih menguasai hatinya itu kini telah menikah dengan lelaki lain. Ia kemudian tersenyum. Ia yakin, suatu saat nanti, ia akan bertemu dengan seseorang yang akan mencintainya dengan sepenuh hati.

Diantara rasa kecewanya, Jihyun benar-benar heran dengan perasaanya. Ia tidak tahu apa yang membuatnya menjadi sangat kecewa ketika Sehun tak menepati janjinya. Dan ketika Siwon meninggalkannya seorang diri di dalam lift, sebuah pemikiran yang melintas dalam otaknya membuatnya mematung.

Apakah aku mulai menyukainya?

Kalimat itu terus saja membayanginya hingga beberapa jam kemudian.

 

***

 

“Sekarang ada apa lagi?”

Sehun mendelik menatap Yonghwa tajam sedangkan lelaki itu justru mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.

Hyung,bisakah kau tidak memperparah moodku?”

Seolah tidak mendengar ucapan Sehun yang bernada memerintah, ia justru berkeliling di dalam ruang kerja lelaki itu, mengabaikan tatapan tajam yang ditujukan kepadanya. Matanya kemudian menatap sebuah pigura yang dipajang Nyonya Oh, Ibu dari lelaki itu, diatas meja kerjanya. Pigura yang menampilkan foto Sehun dan istrinya saat acara pernikahan mereka.

“Kau sudah bertemu dengannya?”

Yonghwa segera menoleh menatap Sehun ketika ia mendengar lelaki itu mendesah keras dan memalingkan wajahnya menatap jalanan kota Seoul melalui jendela kaca transparan yang berada di dekatnya. Ia merasa bingung dengan sikap Sehun. Bukankah tadi pagi lelaki itu begitu tidak sabar menunggu jam makan siang tiba? Mengapa sekarang ia justru terlihat sangat kesal?

“Kalian sedang bertengkar?”

Yonghwa bertanya hati-hati. Ia merasa bingung saat melihat Sehun yang mendesah pelan dan menggeleng. Jika mereka tidak bertengkar, hal apa lagi yang bisa membuat Sehun yang dikenalnya sebagai lelaki yang begitu tenang menjadi seperti ini?

“Kami tidak bertengkar. Hanya saja, aku tidak suka melihatnya sangat dekat dengan Siwon.”

“Maksudmu, fotografer itu?”

“Itu Kim Myungsoo.”

“Lalu Siwon?!”

“Rekan kerjanya. Arsitek yang pernah menyukainya. Atau mungkin masih menyukainya.”

Yonghwa mengerjap mendengar penuturan Sehun. Terutama kalimat terakhir yang diucapkannya dengan nada sinis. Ia kemudian tersenyum lebar saat menyadari suatu hal.

“Kau cemburu?”

“A – apa?”

Yonghwa mengangguk. Ia menyeringai menatap Sehun yang mematung menatapnya.

“Bagaimana mungkin?!”

“Mungkin saja. Kalian sudah menikah. Tidak ada yang salah jika kalian saling mencintai. Bukankah memang seharusnya seperti itu?”

Yonghwa masih menatap Sehun yang terdiam. Ia kemudian berjalan mendekati lelaki itu. Matanya menerawang menatap jalanan kota Seoul yang terlihat padat.

“Kau mencintainya.”

Sehun mematung. Otaknya bekerja dengan cepat memutar kata-kata itu. Disusul dengan kenyataan bahwa beberapa minggu terakhir ini ia bersikap sangat romantis. Ia sangat suka menggoda Jihyun. Ia merasa bahagia jika melihat kedua pipi gadis itu merona karena ulahnya. Dan kenyataan bahwa ia sangat tidak menyukai Siwon yang dekat dengan istrinya membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Mengalirkan darahnya dengan sangat deras ke sekujur tubuhnya. Membuatnya merasa tubuhnya tengah dialiri perasaan hangat yang membuatnya merasa nyaman.

“Selamat, Sehun. Kau telah berhasil melupakan masa lalumu.”

Sehun menoleh ketika Yonghwa menepuk pundaknya pelan dan tersenyum tulus menatapnya.

“Mulailah semuanya dari awal. Kau harus membuka lembaran baru bersamanya. Jangan terpaku dengan masa lalumu.”

Gomawo, Hyung.”

Yonghwa mengangguk. Ia tersenyum menatap lelaki yang telah dianggapnya sebagai adiknya itu. 15 tahun hidup bersama membuat mereka bisa mengerti perangai satu sama lain.

“Kau tahu darimana jika Jihyun dekat dengan Siwon?”

“Aku melihatnya saat aku ingin menemuinya tadi.”

“Jangan clubbing lagi, Sehun. Jangan memarahi Jihyun jika kalian bertemu. Kau harus mendengar penjelasannya.”

Sehun kembali mendesah pelan, membuat Yonghwa menatap bingung lelaki itu.

“Aku tidak pernah clubbing lagi sejak menikah. Aku tidak tahu mengapa.”

“Pesona Jihyun sepertinya sudah menjeratmu. Kau harus menyiapkan dirimu karena aku yakin masih ada pesona yang lain yang akan semakin menjeratmu.”

Sehun tertawa pelan. Dalam hati, ia merasa ucapan Yonghwa ada benarnya. Jihyun dan pesonanya. Kim Bum, Seulmi, dan Myungsoo juga pernah mengatakannya. Jihyun adalah gadis sederhana yang mampu memikat siapa saja dengan kesederhanaannya. Sebersit perasaan kesal kembali hinggap dihatinya saat mengingat kenyataan bahwa Siwon juga termasuk orang yang pernah terjerat dengan pesona istrinya. Namun ia memutuskan untuk mengabaikannya. Mendadak, rasanya ia menjadi sangat merindukan Jihyun.

 

***

 

Sehun mendesah pelan melihat Jihyun yang tertidur dengan nyenyak. Nafas teratur gadis itu menegaskan bahwa sekarang malam tengah larut. Dalam hati, ia merutuki masalah yang datang tepat ketika ia hendak pulang. Masalah yang terpaksa membuatnya harus bertahan lebih lama di kantor dan menunda jam pulangnya. Ia mengangkat tangannya dan menyingkirkan rambut-rambut panjang istrinya yang menutupi sebagian pipinya. Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya ketika melihat Jihyun yang menggeliat pelan dan mengerjapkan matanya.

“Apa aku mengganggumu?”

Jihyun menggeleng pelan. Ia mengenggam jemari Sehun yang mengusap pipinya dengan lembut.

“Apa Oppa sudah makan?”

Sehun mengangguk. Ia lalu mendekap Jihyun, membuat gadis itu tersentak untuk sesaat dan membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Namun sedetik setelahnya, ia segera mengatur nafasnya, berusaha untuk menormalkan detak jantungnya.

“Apa kau tidak ingin bertanya mengapa aku tidak datang saat jam makan siang?”

Jihyun mengangkat kepalanya. Ia menatap Sehun yang tengah menunduk menatapnya. Apa lagi yang perlu ia tanyakan? Bukankah suaminya itu sangat sibuk? Ia bisa mengerti dengan hal itu. Hari ini saja lelaki itu harus kembali pulang larut. Namun akhirnya, ia memutuskan untuk mengangguk.

“Kenapa?”

“Sebenarnya, aku datang. Hanya saja saat itu kulihat kau sedang bersama dengan Siwon. Dan kau terlihat sangat senang.”

Jihyun mengerjap mendengar penuturan Sehun yang menurutnya terkesan sinis. Namun ia segera menepis pemikirannya.

“Kenapa Oppa tidak menemuiku?”

Sehun mengeratkan dekapannya. Ia tidak ingin rasa cemburunya justru mengalahkan logikannya. Ia harus mendengarkan penjelasan istrinya terlebih dahulu.

“Karena aku melihat kau sedang bersama Siwon. Sekarang, ceritakan padaku bagaimana hubungan kalian.”

Jihyun menjulurkan tangannya mengusap pipi Sehun sementara lelaki itu menatapnya lekat.

“Apa Oppa cemburu?”

“Ceritakan saja, Sayang.”

Jihyun berusaha untuk menahan tawanya ketika melihat bibir Sehun yang mengerucut mendengar pertanyaannya. Ia akhirnya mengangguk, melepaskan dekapan Sehun dipinggangnya dan menggenggam tangannya dengan lembut.

“Dia rekan kerjaku. Kami hanya berteman.”

“Apa kau sedang terlibat dalam proyek yang sama dengannya?”

Ne. Proyek dengan Russian Group akan selesai 2 bulan lagi. Tak hanya Siwon saja. Ada Joonmyun, Chorong, Yuri, Naeun, Bomi, Yoonjoo, Ilwoo, dan Minhwan. Kami sedang membangun apartemen yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan dan taman bermain.”

Sehun kembali mendekap Jihyun dan mengusap rambutnya dengan lembut. Mendengar penjelasan Jihyun sedikit banyak membuatnya lega. Istrinya sudah menegaskan bahwa mereka hanya berteman. Namun tetap saja, ia masih merasa cemburu dan menganggap bahwa Siwon bisa saja sewaktu-waktu dapat membuat istrinya berpaling darinya.

“Jangan terlalu dekat dengannya. Dia pernah menyukaimu. Atau mungkin masih menyukaimu.”

Jihyun mengerjap mendengar ucapan Sehun yang kembali terdengar sinis. Ia bisa merasakan dekapan lelaki itu ditubuhnya mengerat. Ia lalu menyentuh lengan yang berada dipinggangnya dengan lembut dan melepaskannya dengan perlahan. Matanya menatap mata Sehun yang lekat menatapnya.

“Kami hanya berteman, Oppa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Dia menyukaimu, Sayang.”

“Itu hanya masa lalu. Lagipula, aku tidak pernah menyukainya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman.”

“Bagaimana jika ia berniat untuk merebutmu?”

Oppa, ayolah. Jangan berlebihan.Oppa tidak pernah marah jika aku bertemu dengan Myungsoo setiap hari padahal ia juga pernah menyukaiku.”

“Itu hanya masa lalu, Sayang. Lagipula, sekarang Myungsoo tidak menyukaimu.”

Jihyun mendesah. Ia baru mengetahui jika ternyata Sehun sangat keras kepala. Sedari tadi ia menjelaskan kepada suaminya itu bahwa Siwon hanyalah teman sekaligus rekan kerjanya. Ia kemudian mengangkat tangannya dan mengusap pipi lelaki itu pelan.

Mianhae. Aku hanya takut kau akan meninggalkanku.”

Jihyun mengangguk dan tersenyum tipis mendengar penuturan Sehun. Ia lalu beralih menautkan jemari mereka.

“Tidak apa-apa. Oppa, aku mungkin masih belum mencintaimu. Tapi kumohon percayalah padaku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena kau adalah suamiku, orang yang kupilih untuk menjadi pendamping hidupku. Meski sampai saat ini aku belum mencintaimu, aku akan berusaha untuk mencintaimu.”

Jihyun merasa tubuhnya seperti disengat listrik berkekuatan rendah ketika Sehun mengecup bibirnya singkat. Ia mengerjap menatap suaminya yang tersenyum senang menatapnya. Perutnya terasa penuh. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terperangkap didalamnya dan memberikan sensasi geli sekaligus membuatnya merasa melayang dengan perlakuan romantis lelaki itu. Ia kemudian teringat bahwa ini adalah kali kedua ciuman mereka sejak acara pernikahan mereka.

Diam-diam, Sehun merasa tersentuh mendengar ucapan Jihyun. Ia kembali teringat dengan ucapan Myungsoo dan Seulmi bahwa Jihyun adalah wanita yang sangat setia. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir ranum yang begitu menggodanya. Dan melihat respon istrinya yang mengerjapkan kedua matanya membuatnya merasa sangat gemas. Ia semakin ingin menggodanya.

“Sayang, kau merona.”

Dan bisikan halus lelaki itu ditelinganya membuatnya merasa merinding saat gelenyar aneh itu kembali menghantam dirinya ketika nafas berat Sehun mengenai tengkuk lehernya. Jihyun terbelalak ketika lelaki itu kini justru mengecupi lehernya beberapa kali dan mengusap punggungnya dengan gerakan menggoda. Ia merasa bergetar. Suhu tubuhnya meningkat. Ia memejamkan matanya ketika sensasi aneh itu semakin memburunya. Ia bahkan merasa pasokan oksigen di dalam paru-parunya mendadak menjadi terkuras dan membuat dadanya terasa sesak. Ia benar-benar bersyukur saat Sehun menghentikan aksinya.

Sehun beralih mengusap rambut hitam sebahu Jihyun sambil menatap istrinya yang tidak berani menatapnya dan masih mengatus nafasnya. Ia memejamkan matanya sesaat dan kemudian membukanya. Hampir saja ia tidak bisa menahan dirinya jika ia tidak mengingat bahwa mungkin saja Jihyun masih belum siap. Tak ada salahnya jika ia meminta haknya. Ia lelaki normal. Tak ada yang bisa melarangnya untuk meminta hal itu. Namun ia memilih untuk menghargai perasaan Jihyun. Ia kemudian mengecup dahi istrinya lama dan setelahnya menatapnya lembut.

“Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya. Aku akan menunggu sampai kau siap. Sekarang tidurlah karena besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

Jihyun membiarkan Sehun yang mendekap tubuhnya dengan erat. Perasaan bersalah kini menyusup dihatinya. Ia merasa begitu buruk karena masih belum bisa memenuhi hak lelaki itu. Ia lalu melepaskan dekapan Sehun, membuat lelaki itu kini menatapnya.

“Bolehkah aku bertanya satu hal?”

Sehun mengangguk. Ia menunggu Jihyun yang memejamkan matanya sesaat dan setelahnya menghembuskan nafasnya.

“Apakah Oppa mencintaiku?”

Aku mencintaimu.

Sehun memilih untuk kembali mendekap Jihyun. Ia membiarkan Jihyun dengan rasa penasarannya. Membiarkan hatinya menjawab pertanyaan itu sedangkan mulutnya mengatup rapat. Ia tidak menyangka jika Jihyun akan menanyakan hal itu secepat ini.

“Tidurlah, Sayang. Sekarang sudah larut.”

Namun Jihyun merasa tidak puas. Ia masih penasaran dengan jawaban lelaki itu. Ia kembali melepaskan dekapan lelaki itu dan menatapnya lekat.

“Jawab pertanyaanku, Oppa.”

Sehun tidak menyangka jika ternyata Jihyun juga keras kepala. Istrinya itu tidak akan berhenti jika ia tidak mendapatkan jawabannya. Ia menyeringai. Rasanya tak ada salahnya jika ia kembali menggodanya. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu dan mengecupnya sekali kemudian berbisik.

“Bagaimana jika kita membuat Sehun junior atau Jihyun junior terlebih dahulu? Setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu.”

Jihyun segera berbalik membelakangi Sehun untuk menyembunyikan wajahnya yang ia yakini pasti kembali merona. Ia bisa mendengar suaminya yang tertawa pelan melihat tingkahnya. Tak berapa lama, ia merasakan tangan lelaki itu kembali berada dipinggangnya dan mendekapnya. Setelah mengecup pundaknya, Sehun kembali berbisik.

“Tidurlah, Sayang. Jaljayo.”

Jaljayo, Oppa.”

Jihyun membiarkan Sehun mengeratkan dekapannya. Entahlah. Ia justru merasa nyaman dengan pelukan lelaki itu dan membuat tidurnya menjadi lebih nyenyak. Tak berapa lama, rasa kantuk mulai menyerangnya dan membuatnya terlelap.

 

***

 

Eomma mengira kalian tidak jadi datang.”

Jihyun membalas pelukan Nyonya Oh. Wanita paruh baya itu lalu beralih memeluk Sehun.

“Kami pergi ke makam orangtua Jihyun terlebih dahulu, Eomma.”

“Ayo masuk.”

Jihyun dan Sehun mengikuti langkah Nyonya Oh. Di ruang keluarga, mereka bertemu dengan Yonghwa dan istrinya Seohyun dengan perutnya yang membuncit.

“Bagaimana kabarmu?”

Jihyun menyambut sambutan Seohyun dengan senyuman. Ia menatap wanita yang menurutnya terlihat lebih gemuk dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.

“Aku baik-baik saja, Eonni. Bagaimana keadaan Eonni dan Oppa?”

“Seperti yang kau lihat, very well.”

How about the baby?”

Seohyun tersenyum senang. Satu tangannya mengusap perutnya dan menatap Yonghwa yang tengah berbicara dengan Sehun dan Nyonya Oh. Ia kemudian berbisik dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

“Dokter memprediksi ia akan lahir seminggu lagi. Kami benar-benar tidak sabar menunggu kehadiran Joonhee.”

“Joonhee? Is that her name?”

Seohyun mengangguk. Ia menoleh ketika merasakan seseorang tengah menyentuh pundaknya dengan lembut kemudian mengusap perutnya.

Ladies, makanan sudah siap. Sebaiknya kalian makan terlebih dahulu. Kalian selalu lupa waktu jika sudah mengobrol.”

Jihyun dan Seohyun tertawa pelan. Mereka kemudian berjalan menuju ke meja makan dengan Yonghwa yang menuntun Seohyun untuk berjalan dan menarik kursi untuknya. Jihyun tersenyum tipis melihatnya, benar-benar pasangan yang romantis. Ia segera duduk di samping Sehun sementara lelaki itu mengerucutkan bibirnya menatapnya.

“Sayang, kau selalu melupakanku jika kau bersama dengan Seohyun Nuna.”

YA! Kau cemburu Oh Sehun?! Astaga! Kau sudah kembali lagi sepertinya.”

Jihyun tersentak ketika merasakan lengan Sehun yang berada dipinggangnya sementara semua orang yang berada di meja makan tergelak melihat tingkahnya.

“Biar saja. Dia istriku.”

“Aku tahu itu. Jadi, kapan kalian akan menyusul kami? You know what, rasanya sangat menyenangkan jika mengingat sebentar lagi kami akan menjadi orangtua.”

Jihyun merasa wajahnya memanas mendengar ucapan Yonghwa. Lelaki itu justru mengedipkan sebelah matanya menatapnya. Belum lagi Seohyun yang menatapnya penuh arti dan kedua orangtua Sehun yang mengangguk semangat. Ia benar-benar tidak siap menghadapinya.

Sehun bisa merasakan Jihyun yang mendadak menjadi gelisah, terlihat dari jari-jarinya yang saling bertautan. Ia kemudian melepaskan tangannya yang berada dipinggang gadis itu dan beralih menggenggam jemarinya. Hal kecil yang ia lakukan membuat istrinya menoleh menatapnya. Ia tersenyum, berusaha membuatnya tenang.

YA! Hyung! Kau membuatnya takut.”

Diam-diam, Nyonya Oh tersenyum melihat Sehun yang terlihat begitu memperhatikan Jihyun. beberapa kali ia bahkan menyuapi Jihyun yang membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Rasanya sudah sangat lama sekali mereka melihat tingkah asli Sehun seperti saat ini. Mendadak saja sifat lelaki itu berubah seratus delapan puluh derajat sejak 2 tahun yang lalu. Hanya karena satu orang, lelaki yang memiliki sifat ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja itu menjadi sosok yang begitu dingin dan seringkali mempermainkan hati para wanita yang menyukainya. Membuatnya dan suaminya kebingungan menghadapi sifatnya. Namun sekarang, dalam waktu yang sangat singkat, gadis yang selama satu bulan ini telah resmi menjadi istrinya itu bisa mengembalikan sifat asli putra mereka. Ia bahkan tanpa ragu menunjukkan betapa romantisnya ia meski hal itu justru membuat Jihyun seringkali menjadi salah tingkah.

Wanita paruh baya itu kemudian bertatapan dengan suaminya. Mereka tersenyum. Rasanya sangat bahagia bisa melihat putra mereka kembali ceria lagi. Nyonya Oh benar-benar bersyukur. Seandainya saja ia tidak mengalami kecelakaan itu, mungkin sampai saat ini ia tidak akan pernah bertemu dengan Jihyun dan Sehun masih menjadi lelaki yang dingin.

Dalam hati ia berharap semoga mereka bisa menjaga pernikahan mereka. Entahlah. Rasanya ia menjadi sangat khawatir. Tanpa diketahui siapapun, Nyonya Oh menggeleng pelan. Berusaha mengenyahkan pemikiran buruk yang melintas dihatinya. Ia hanya berharap semoga wanita yang telah membuat kenangan buruk bagi putranya tidak kembali lagi dalam kehidupan mereka.

 

***

 

“Dia cantik sekali.”

Sehun mengangguk, menyetujui ucapan Yonghwa. Ia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Yonghwa yang masih setia menatap bayi perempuan yang tengah Seohyun berikan ASI. Kedua orang yang telah resmi menjadi orang tua sejak beberapa menit yang lalu itu sepertinya tidak berniat mengalihkan perhatiannya dari sosok mungil yang kini menjadi pusat perhatian di ruangan itu barang sedikit pun. Yonghwa lalu mengecup puncak kepala Seohyun yang masih menitikkan airmata bahagia. Ia kemudian mengecup pipi tembam kemerahan putrinya yang justru membuat bayi mungil itu menangis kencang. Seohyun dengan sabar menangkannya sambil terus memberikannya ASI sembari bersenandung pelan.

Entahlah. Sehun merasa segalanya terjadi begitu saja. Tiba-tiba saja Seohyun mengaduh kesakitan saat mereka menyelesaikan makan siang mereka. Disusul dengan kepanikan yang menjalar dengan cepat ke seisi rumah untuk segera membawa Seohyun ke rumah sakit. hingga akhirnya di sinilah mereka sekarang. Tengah menatap takjub bayi mungil yang masih berwarna kemerahan yang masih berada dalam gendongan Seohyun dengan Yonghwa yang senantiasa berada di sampingnya.

“Aku tidak pernah melihat Yonghwa Hyung sebahagia ini.”

Jihyun menoleh menatap Sehun yang berada di sampingnya. Lelaki yang tengah mendekapnya itu kemudian menoleh menatapnya dan mengusap rambutnya pelan. Dalam hati, Jihyun menyetujui ucapan Sehun. Tak hanya Yonghwa, ia juga bisa melihat pancaran kebahagiaan dari wajah Seohyun serta Nyonya dan Tuan Oh.

Sehun kemudian beralih menggenggam jemari Jihyun membuat istrinya untuk sejenak beralih menatap jemari mereka yang saling bertautan sebelum akhirnya kembali menatap wajahnya. Membiarkan perasaan hangat yang diam-diam menyusup diantara keduanya.

 

***

 

Oppa, kita kemana?”

Jihyun kembali mendesah pelan saat Sehun menggeleng. Jawaban yang sama yang diberikannya sejak ia pertama kali bertanya lima menit yang lalu. Entahlah, ia tidak tahu berapa lama lagi mereka harus berjalan menyusuri kota Seoul yang terlihat menawan ketika malam tiba. Lelaki yang menjadi suaminya itu tidak mau memberitahu tujuan mereka. Terhitung sudah lebih dari sepuluh kali ia menanyakan hal yang sama. Namun Sehun selalu menggelengkan kepalanya, menolak untuk memberitahunya.

Diam-diam Sehun memperhatikan Jihyun yang tak lagi sibuk menanyainya. Gadis itu hanya menatap sekeliling sambil sesekali tersenyum menatap anak kecil yang berlarian dengan riang, menghindari orang tuanya yang berteriak mengingatkan agar tidak menjauh. Sehun mengeratkan genggaman tangan mereka, setelahnya berbisik lembut.

“Kita sudah sampai, Sayang.”

Jihyun mengerjap menatap sungai Han yang ada di hadapannya, merasa bingung sekaligus takjub melihat keindahan sungai Han yang mampu membuatnya tersenyum.

“Sungai Han?! Kenapa Oppa membawaku kesini?”

Sehun melepaskan genggaman tangan mereka dan beralih memeluk pinggang ramping Jihyun dari belakang, membuat wanita itu untuk sesaat merasa pasokan oksigen dalam paru-parunya tiba-tiba saja habis tak bersisa. Dadanya terasa sesak. Dan lagi, sensasi ribuan kupu-kupu yang memenuhi perutnya yang membuatnya merasakan geli sekaligus nyaman diwaktu yang bersamaan.

“Kau benar-benar ingin tahu jawabannya?”

Jihyun kembali merasakan gelenyar aneh yang menjalari lehernya lalu menyebar ke seluruh tubuhnya saat nafas hangat Sehun mengenai tengkuk lehernya ketika Sehun menumpukan dagunya di bahu Jihyun dan berbisik lembut di telinganya.

Jihyun mengangguk, memutuskan untuk mengabaikan gelenyar aneh yang semakin membuatnya kesulitan untuk sekedar menarik nafas.

“Karena aku mencintaimu.”

Jihyun menegang. Ia memberanikan dirinya untuk menoleh menatap Sehun yang kini juga tengah menatapnya lekat. Entahlah. Rasanya ia tidak mampu untuk sekedar mengalihkan pandangannya. Disaat yang bersamaan, ia kembali merasakan perasaan hangat yang dipancarkan oleh Sehun.

Jihyun merasakan deru nafas Sehun yang mengenai pipinya. Dan tiba-tiba saja, ia merasakan material lembut milik Sehun mengecup bibirnya dengan lembut. Membuatnya merasa setengah dari fokusnya hilang begitu saja. Ia merasa kakinya tidak dapat menopang tubuhnya lebih lama lagi.

Sehun kemudian menjauhkan wajahnya. Ia menatap takjub wajah Jihyun yang kembali memunculkan rona kemerahan yang samar di kedua pipinya. Matanya mengerjap beberapa kali, membuat Sehun benar-benar gemas melihatnya.

Jihyun memalingkan wajahnya ketika mendengar Sehun yang tertawa pelan. Dalam hati ia merutuki dirinya yang mendadak tiba bisa mengatakan apapun.

“Ini tempat umum, Oppa.”

Sehun mengecup pipi Jihyun, dan setelahnya kembali tertawa pelan.

Wae? Tidak ada yang melarang, bukan?”

Jihyun hanya mampu mengerucutkan bibirnya. Sungguh, ia benar-benar malu. Apa yang Sehun katakan memang benar. Tak ada yang bisa melarang lelaki itu untuk memberikan kecupan padanya. Namun bagaimana jika ada orang lain yang melihat kejadian itu? Mengingat ada begitu banyak orang yang tengah menikmati indahnya pemandangan di sekitar sungai Han.

Sehun akhirnya mempererat pelukannya. Dalam hati, ia sangat berterima kasih kepada Ibunya yang telah mempertemukannya dengan Jihyun, wanita sederhana yang mempunyai banyak pesona yang dapat memikatnya dengan begitu mudah.

Sekelebat bayangan masa lalu muncul dalam pikirannya. Namun ia tak lagi merasakan sesak yang teramat sangat. Ia kini justru tersenyum ketika mengingatnya. Ia akhirnya bisa berdamai dengan masa lalu yang selama ini selalu menghantuinya.

 

***

 

Sehun mengehela nafasnya. Kali ini ia sangat tidak menyukai Jihyun yang membaca buku dengan tenang. Biasanya, melihat Jihyun yang tengah fokus membaca buku dan melihat pergerakan bola matanya yang memindai kata demi kata yang dibacanya, merupakan hal yang sangat disukainya. Entahlah. Kali ini ia merasa kesal ketika perhatian Jihyun terfokus sepenuhnya pada buku yang dibacanya. Sehun mendengus pelan ketika Jihyun tetap mempertahankan posisinya yang tengah menyender pada kepala ranjang dan membiarkan selimut yang menutupi pinggang hingga kakinya sambil membalik halaman buku.

“Sepertinya buku ini jauh lebih menarik daripada diriku.”

Jihyun menoleh menatap Sehun yang kini duduk di sampingnya dan mengambil paksa buku yang tengah dibacanya. Jihyun mengerjap. Ayolah. Ada apa dengan Sehun hari ini? Apakah saat ini lelaki itu tengah cemburu dengan sebuah buku?

“Buku itu memang menarik, Oppa.”

Sehun memutar kedua bola matanya mendengar ucapan Jihyun. Wanita yang menjadi istrinya itu bahkan terang-terangan mengakui bahwa buku yang dibacanya sangat menarik.

“Jangan mengabaikanku.”

“Aku tidak melakukan hal itu.”

“Kau melakukannya, Sayang.”

Jihyun menggeleng pelan melihat tingkah kekanakkan Sehun yang tengah mengerucutkan bibirnya sambil kedua tangannya bersedakap di depan dadanya dan menatapnya tajam.

Okay, okay. Aku tidak akan mengabaikan Oppa lagi.”

Jihyun tersentak ketika merasakan dekapan hangat nan erat tengah melingkupi tubuhnya. Ia kemudian tersenyum, balas memeluk Sehun.

“Besok kita akan ke rumah Eomma lagi. Aku ingin melihat Joonhee.”

Sehun melepaskan pelukannya, berganti menggenggam jemari Jihyun. Jihyun mengangguk.

“Aku juga ingin memberikan hadiah untuk Seohyun Eonni dan Joonhee.”

Jihyun membiarkan Sehun yang kini beralih mengusap pipinya dengan lembut dan setelahnya kembali memeluknya, erat.

“Terima kasih karena telah menerimaku dalam kehidupanku. Aku mencintaimu.”

Jihyun kembali merasakan sensasi ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya, memberikan rasa geli namun menyenangkan yang menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya saat Sehun mengecupi lehernya beberapa kali dan menghisapnya. Ia merasa sensasi ribuan kupu-kupu itu kini memunculkan sensasi lain yang membuatnya lebih sulit untuk mengatur nafasnya, rasanya seperti tersengat listrik berkekuatan rendah.

Sehun segera menghentikan aksinya saat dirasanya Jihyun mencengkram erat kedua lengannya. Ia menatap lekat Jihyun yang tengah menunduk sambil berusaha mengatur nafasnya. Dalam hati, Sehun merutuki dirinya sendiri yang kembali tidak mampu menahan dirinya untuk tidak menyentuh Jihyun. Entahlah. Hasrat untuk memiliki seseorang yang memiliki kemiripan dengannya begitu menggebu ketika mengingat hadirnya Joonhee ke dunia tadi siang tak hanya memberikan kebahagiaan bagi Seohyun dan Yonghwa, tapi juga bagi semua orang, termasuk dirinya dan Jihyun. Ia dapat mengingat dengan jelas bagaimana Jihyun yang terlihat sangat bahagia saat Seohyun mengajarinya untuk menggendong Joonhee, meski raut cemas masih nampak di wajahnya.

“Maafkan aku.”

Jihyun mengangkat wajahnya, menatap lekat Sehun yang juga tengah menatapnya. Jemari lelaki itu mengusap pipinya dengan lembut. Jihyun menahan pergerakan jemari Sehun dan setelahnya menggeleng pelan, membuat lelaki itu menatapnya bingung.

“Tidak perlu meminta maaf, Oppa. A – aku sudah siap. Lakukan saja.”

Sehun menangkup kedua pipi Jihyun, menatap manik hitam Jihyun, berusaha menyelaminya.

“Kau yakin, Sayang?”

Jihyun mengangguk mantap. Kali ini ia akan melawan semua perasaan takut, cemas, dan ragu yang masih dirasakannya. Jihyun merasakan deru nafas Sehun yang mengenai daun telinganya saat lelaki itu berbisik dengan suaranya yang entah kenapa terdengar serak dan begitu berat.

“Aku akan melakukannya.”

Dan setelahnya, Jihyun merasakan fokusnya mendadak menghilang ketika Sehun mengecup bibirnya dan melumatnya di detik selanjutnya setelah sebelumnya Sehun meletakkan kedua tangannya di kedua bahunya, sedangkan kedua tangan kokohnya melingkupi pinggang rampingnya, menghapus jarak diantara mereka. Jihyun merasa kepalanya menjadi pening saat Sehun menggigit pelan bibir bawahnya dan segera melesakkan lidahnya. Ia memukul pelan dada Sehun dengan kepalan tangannya saat lelaki itu tak juga melepaskan pagutan mereka ketika merasakan pasokan oksigen di dalam paru-parunya terkuras habis.

Sehun segera menjauhkan wajahnya dan menatap Jihyun yang kini tengah memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya.

Sehun mengusap punggung Jihyun, jemarinya menelusup masuk ke dalam piyama yang Jihyun kenakan, menari-nari di sekitar perut dan pinggang Jihyun hingga akhirnya berhasil menyentuh salah satu titik sensitif wanitanya, membuat lenguhan pelan tanpa sadar lolos dari bibir ranumnya. Sehun kembali memeluk Jihyun dan berbisik pelan setelahnya.

Let’s enjoy our first night, Honey.”

Dan setelahnya, dengan cahaya bulan yang berpendar menembus celah gorden kamar, kedua insan itu larut dalam penyatuan yang begitu indah.

 

***

 

 

TBC

 

Hai, hai !!
Maaf banget yaa baru update sekarang. Lagi sibuk sama persiapan UN ^_^

Ditunggu comment dan likenya yaa 😀

Advertisements

2 thoughts on “[Chaptered] Trust (Chapter 4)

  1. First night yg tertunda akhirnya terlaksana (?)..
    Yeay…. Akhirnya udah saling mencintai… Meskipun jihyunnya belum ngomong ke sehunnya…
    Beneran deh.penasaran bgt sama kisah masalalunya sehunn.. Dia dicampakin kah? Kalo iya.. Hadeeeuh.. Yg nyanpakin itu ga nyesel apa ya? Kurang apa coba sehun itu?

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s