[FREELANCE] Her Type (Ficlet)


FontCandy

Her Type

.

by Aikeruda

Song Mino, Irene, ft. WINNER // romance, school // ficlet // teenager

.

“Apa tipe priamu?”

.

.

Song Mino menatap gerombolan pemuda yang ada di kelasnya itu lekat-lekat dari jarak cukup jauh−dua bangku tepatnya. Telinganya mencoba menangkap frekuensi suara milik orang-orang yang berada di dalamnya. Mino tak pernah tertarik dengan pembicaraan gerombolan itu sebelumnya. Namun, saat ini, detik ini, ia benar-benar penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka. Pasalnya, sumber informasi dari gerombolan saat ini adalah teman dekat gadis yang ditaksirnya. Dan, tentu saja, topik utamanya adalah gadis itu. Dan, menurutnya, dirinya harus paham tentang topik yang satu ini.

“Wah! Wah! Coba lihat apa yang Song Mino lakukan.”

Mino diam. Berpura-pura tak ada yang dilakukannya. Kecuali, diam dan menggerutu dalam hati. Pengganggu datang!

Pemilik suara itu menepuk pundak Mino kemudian duduk di bangku kosong di hadapannya. Vokalis band sekolah, Kang Seungyoon. Di belakangnya, seorang siswa tinggi dengan mata sipit duduk di samping Mino. Pemimpin klub dance, Lee Seunghoon. Mino menatap keduanya dengan wajah polos.

“Sedang mendengar percakapan mereka, ‘kan?”

“Tidak.”

“Kau tidak tertarik pada topik tentang gadis itu?”

“Tidak.”

“Kau suka gadis itu?”

Song Mino terdiam. Seungyoon dan Seunghoon melayangkan tatapan menggoda dengan kesimpulan bahwa dirinya menyukai gadis itu.

“Siapa gadis itu?”

Penanyanya adalah objeknya, Irene. Seungyoon dan Seunghoon terpingkal-pingkal melihat ekspresi kawannya yang mencoba menahan rona agar tidak muncul di wajahnya. Seungyoon lalu mengisyaratkan Seunghoon untuk berdiri dan pergi dari Mino dengan tangannya.

“Ah, kami ada janji dengan Jinwoo dan Taehyun,” ujar Seunghoon sambil berjalan menjauh dari Mino dengan diiringi Seungyoon di sampingnya, “sampai jumpa, Song Mino. Sampai jumpa, Irene!”

Mino merasakan sekujur tubuhnya membeku setelah dua orang tersebut pergi. Irene sedang menatapnya dengan penasaran, itu adalah masalah utamanya. Setelah beberapa detik melayangkan tatapan padanya, gadis itu memutuskan untuk di hadapannya.

Dipikirnya gadis itu akan sibuk dengan tumpukan buku-buku yang tadi dibawanya dari perpustakaan. Namun, dugaannya salah. Gadis itu kembali memandangnya dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.

“Siapa gadis itu, Mino?”

“Emm.. itu…”

“Sekelas dengan kita?”

Sial, gerutu Song Mino.

Untungnya, dunia masih ada di sisinya. Sebelum Mino sempat membuka mulut, gerombolan tadi mengalihkan pandangannya menuju objek pembicaraan dan berkumpul di sekitarnya. Bahkan, Song Mino, pemilik tempat duduk di belakang gadis itu, diusir. Mino tak banyak bicara. Untuk pertama kalinya, ia tak terganggu dengan gerombolan itu, malah, ia bersyukur karena mereka.

—-

Sungguh, Mino sebenarnya adalah teman dekat gadis itu. Dekat, karena perpustakaan itu. Sebenarnya, Mino masuk perpustakaan hanya untuk tidur. Tak seperti gadis itu. Bertemu dengannya mungkin sebuah kebetulan, namun bisa saja tidak.

“Membosankan,” ujar Mino sambil menyandarkan kepala pada tangan yang terlentang di atas meja baca perpustakaan.

Irene, gadis itu masih saja sibuk dengan buku-bukunya di sudut meja sana. Song Mino sudah berada di perpustakaan ini satu jam yang lalu, dan gadis itu tiba lebih awal. Mino sudah berganti gaya ribuan kali, begitu pula gadis itu, berganti buku ribuan kali.

Mino menegakkan kepalanya, lalu berjalan ke arah Irene. Ia ingin mendengar hal yang tak dapat didengarnya di kelas karena para pengganggu itu. Ia duduk di hadapan Irene. Gadis itu menatapnya. Dan, pria itu membeku. Otaknya yang tadi menyuruhnya menghampiri gadis itu ternyata tidak bekerja dengan gemilang. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya.

“Kau tak bosan membaca?”

Awal percakapan yang aneh. Irene tersenyum beberapa detik kemudian menutup bukunya dan menggelengkan kepalanya. Mino membalas senyum gadis itu. Otaknya punya ide brilian. Ia menatap pensil di hadapannya.

“Mau main?” tanya Song Mino sambil mengambil pensil tadi.

“Boleh.”

Truth or Truth.”

“Bukankah seharusnya Truth or Dare?”

Dare itu tak baik bagi gadis kutu buku anggun sepertimu.”

Gadis itu tersenyum. Song Mino kemudian memberi tanda bahwa permainan akan dimulai. Irene mengangguk, memberi tanda setuju. Kemudian, pensil tersebut diputar. Dan putaran pertama, mengarah pada Irene.

“Apa tipe priamu?”

“Pintar.”

Semangat Mino terkikis oleh kata yang dikeluarkan oleh gadis itu. Pasalnya, ia mungkin tak cukup pintar untuk berada di kategori pintar milik Irene. Kemudian, diputarnya kembali pensil tersebut. Pensil tersebut berhenti di tempat yang sama.

“Lihatalah, bahkan pensil saja berharap ia akan disebut sebagai tipe pensilmu.”

“Berhentilah bercanda,” ujar Irene sambil tersenyum, “apa pertanyaannya?”

“Apa tipe priamu?”

“Manis.”

Sepertinya semangat itu telah pergi dari jiwa Mino. Ia benar-benar tak ingin memutar pensil tersebut. Namun, tampaknya gadis itu menunggunya. Untuk terakhir kali, ia memutarkan pensil tersebut. Dan, sayangnya, pensil tersebut masih berhenti di tempat yang sama.

“Untuk yang terakhir kali, siapa yang mendekati tipe priamu?”

Irene tersenyum, “kamu.”

Song Mino yang sebelumnya tak ingin mendengar kata-kata terakhir Irene, kemudian tersenyum malu-malu. Ia kemudian memutar pensil itu kembali. Diiringi dengan tatapan heran dari Irene. Apa lagi yang ia lakukan? Apa ia tak percaya dengan kata-kata gadis itu?

Sekali lagi pensil itu berhenti berputar di tempat yang sama.

“Baiklah ini pertanyaan terakhir.”

Irene diam.

“Kau harus menjawab ‘ya’.”

“Ya.”

“Apa kamu mau menjadi pacarku?”

“Ya.”

fin

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] Her Type (Ficlet)

  1. aigoooooo di part pertama yang di kelas kok ngerasa deja vu gitu sama kepolosannya Irene dan Mino pasti emang bingung gimana gitu mau jawab atau bersikap gimana, nice!
    Bagian di perpus ih Irene manis banget gitu dan ngakak sama reaksinya mino setelah pertanyaannya terjawab, tapi setelah pertanyaan ke tiga sama endingnya yang jawab ya itu pipi langsung semu-semu merah, lucuk, sukak aja lah wkwk
    good job! keep writing!
    o iya tadi nemu typo juga di “gadis itu memutuskan untuk di hadapannya.” untuk duduk kali ya? atau duduk aja. but overall nice!

  2. Aggagahajauwusgababajkahsva
    Apaan ini buset. Kenapa aku jadi yang malu sendiri sih padahal kan bukan aku yang maen ToT. Sial 😣
    Bisa diabetes kalo disodorin Mino Irene manis gini. Hadeuh.
    But, good job for the author! 🙌

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s