[4 Of 4] After Death : Retrouvailles


1455467472181

RETROUVAILLES

 

ficlet series by narinputri

cast : [Soloist] IU as God and [BOYFRIEND] Youngmin genre : AU, surreal, a bit supernatural duration : ficlet rating : general

beautiful poster by p i n k s u m m e r

 

 

Welcome home, I’m home. It’s alright because you are hereOkaeri [Ayaka]

 

==000==

 

Jieun membelai sang rusa pohon raksasa tersebut lembut, sembari bersenandung ringan di bawah langit yang menurunkan kelopak bunga sakura. Menanti datangnya jiwa baru, yang membutuhkan sedikit ‘pencerahan’ ataupun ‘nasihat’ agar mereka tenang di alam itu.

Irisnya tiba-tiba menangkap sosok pemuda bersurai hitam berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Jieun menekuk wajah lalu berseru kepada sosok itu.

“Pergi kau!”

Pemuda itu hanya tersenyum dan berjalan ke arah Jieun santai, sembari membawa sebuah bunga berkelopak pelangi di tangannya. Mimik Jieun semakin tidak menyenangkan saat sosok itu berada di depan kedua matanya.

“Hei, kau terlihat buruk dengan wajah seperti itu. Tersenyumlah,” ucap pemuda itu dengan senyum menawan.

Jieun tak mempedulikannya dan berubah menjadi seekor angsa berwarna merah jambu dengan empat sayap kemudian terbang. Akan tetapi, sosok itu berhasil menangkap dan mendekapnya.

“Apa begini, caramu menyambut seseorang yang ingin bertemu denganmu?”

Angsa itu beralih rupa menjadi ular putih berkepala kumbang untuk melepaskan diri dari dekapan pemuda itu, dan kembali berubah menjadi Jieun yang menatap sosok tersebut kesal.

“Mau apa kau kemari? Kau tak seharusnya di sini, Youngmin!” sinis Jieun.

Sosok bernama Youngmin menampakan lengkungan manis di wajahnya dan membuat Jieun semakin sebal melihatnya.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu, setelah sekian lama tak bertemu. Dan kali ini, aku benar-benar tak dapat hidup kembali,” jawab Youngmin.

Jieun mendengus kesal. Pemuda di hadapannya itu memang pernah ‘mengunjungi’nya 10 tahun yang lalu. Namun ternyata, Youngmin belum saatnya untuk di tempat itu. Ia kembali lagi ke dunia dan entah kenapa meninggalkan sesuatu di dalam diri Jieun. Dan Youngmin kembali kehadapannya sekarang.

“Harusnya kau menyambutku, mengatakan ‘welcome home’ dengan senyuman sama seperti kau menyambut jiwa-jiwa yang lain,” tambah Youngmin.

Masih dengan perasaan kesal, dewa itu membuat sebuah cekungan di udara dan merefleksikan seorang wanita bersama lelaki paruh baya yang menangis tersedu melihat sosok Youngmin terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit, dengan seulas senyum manis di bibirnya.

“Kenapa kau tersenyum? Apa kau senang karena kau mati?” tanya Jieun terdengar sarkas.

Youngmin masih memberikan senyuman seraya memandang Jieun. Langit itu kemudian muncul ratusan pelangi, serta bintang-bintang bertaburan bak berlian.

“Lebih tepatnya aku senang karena bisa bertemu denganmu kembali.”

Jieun merasakan sesuatu yang panas di wajahnya, tak tahu kenapa sembari menghela napas panjang.

“Oh, oke. Jadi kau merasa senang bertemu denganku? Lalu? Setelah itu? Kau mau mendengarkan ‘nasehat’ku dan kemudian meminta kesempatan lagi untuk memperbaiki?” cerocos dewa tersebut.

Youngmin tertawa kecil, kemudian menangkap kupu-kupu berwarna biru langit di depannya. Jieun memukul tangan Youngmin keras karena menangkap kupu-kupu itu dan Youngmin melepaskannya.

“Hidup dengan indah, kemudian mati dengan damai. Sungguh menyenangkan sekali, Youngmin. Tak seperti kebanyakan jiwa-jiwa yang datang kemari dengan masalah-masalah yang belum terselesaikan,” ucap Jieun.

Youngmin memandang langit yang beralih menjadi ribuan aurora dan sembari memejamkan mata, menikmati angin berembus lembut juga semerbak aroma lavender yang menenangkan diiringi nyanyian merdu para peri.

“Aku pernah berkata padamu dulu, aku tak pernah memikirkan terlalu serius masalah-masalahku. Dan jika memang saatnya aku mati, aku sudah siap untuk kapanpun termasuk sekarang ini.”

Jieun menghela napas dan kembali melihat cekungan tersebut. Irisnya menangkap seorang perempuan duduk berhadapan dengan perapian yang menyala, tengah menangis tersedu. Jieun terdiam melihatnya, namun merasakan sesuatu yang sesak di dada.

“Mantan istrimu, sepertinya begitu kehilanganmu. Kau tahu, dia masih mencintai dan menyayangimu, hanya saja dia tidak mau mengakuinya karena kau—” Jieun menggantungkan kalimatnya, tak enak hati mengucapkan hal tersebut.

Down syndrom,” kata itu lolos begitu saja dari bibir dewa tersebut.

Lengkungan di bibir Youngmin belum menyurut sama sekali, dan memandang dewa yang ada di sampingnya dengan iris kecokelatan yang bening.

“Aku tidak mempedulikan hal itu, karena aku merasa hidupku layaknya orang normal pada umumnya. Menikah dengannya, walaupun dia membenciku setengah mati saat bertemu pertama kali, kulakukan karena aku mencintainya dan pantas merasakan cinta seperti orang normal lainnya. Apakah itu salah, dewa?”

Jieun terdiam menyibak rambut hitamnya yang tertiup angin, kemudian kembali memandang cekungan tersebut. Waktu terlewati sangat cepat di dalam cekungan itu, terlihat orang-orang terdekat Youngmin telah merelakan kepergian pemuda itu.

“Kau bisa lihat, mereka sudah terbiasa tanpaku. Jadi, aku bisa tenang bukan?” tanya Youngmin.

Dewa itu tak mendengarkan ucapan Youngmin dan masih melihat refleksi seorang perempuan yang tersenyum pada laki-laki lain, namun di hati dan pikiran perempuan itu tak bisa melupakan Youngmin dan masih sering menangis sendirian.

“Kau tak mau menemuinya? Sepuluh menit akan terasa menyenangkan jika kau bisa berbicara dengan mantan istrimu,” bisik Jieun walau terasa ada tembok yang menghimpitnya.

“Untuk apa? Toh aku jauh lebih baik di sini karena ada dirimu,” cengir Youngmin.

Dewa yang seharusnya biasa mendengarkan ucapan-ucapan dari jiwa-jiwa tenang kepada dirinya apapun itu. Entah kenapa menjadi sedikit tergetar hatinya, meski sangat-sangat ringan.

“Baiklah, jika itu yang kau pilih. Aku menyetujuinya. Kau akan tenang di tempat ini, dan menjadi seseorang pada umumnya, percayalah.”

Jieun menggenggam tangan Youngmin dan mengajaknya menuju sebuah padang bunga beraneka macam yang luas, dengan langit biru indah menurunkan jutaan kelopak bunga berwarna pelangi.

“Omong-omong, kenapa tanganmu gemetar dan dingin, dewa?” celetuk Youngmin.

“Sudah jangan berisik!” sentak Jieun.

Dan mereka berdua berjalan bersama dengan perasaan tenang, bahagia dan sedikit kacau.

 

-end-

 

a/n : finally end!! Huhuhu

 

Mind to leave reviews and comments? ^^

Advertisements

One thought on “[4 Of 4] After Death : Retrouvailles

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s