[FREELANCE] Romance (Ficlet)


Romance

A Love Song Written by Angelina Park

Romance

Jeon Wonwoo (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Fluff | G | Ficlet

“I can’t do romance, my romantic was bad.”

0o0

Ia tak pernah berharap akan mendapati dirinya dalam negeri dongeng. Bertemu pangeran berkuda putih berwajah tampan―ah, itu sama sekali bukan gaya Cheonsa. Ia tak pernah berkhayal sejauh itu. Yang ia inginkan hanyalah belajar dengan benar di kampus dan mendapat nilai sempurna saat lulus. Sesederhana itu.

Maka dari itu kini Cheonsa lebih memilih untuk duduk di taman dan membaca buku ketimbang ikut dengan teman-temannya untuk mempersiapkan dekorasi pesta musim dingin. Fakultas Kesenian memang selalu tahu bagaimana caranya berpesta, kapanpun dan di manapun.

Sepi, hanya ada dedaunan yang berkelakar dengan angin yang cukup dingin. Lihatlah, bahkan Cheonsa harus mengeratkan sweater-nya―salahkan ia yang dengan cerobohnya melupakan mantel peach kesayangannya. Ke mana orang-orang? Tentu saja mereka lebih memilih untuk berada di dalam kampus, hanya Cheonsa yang memiliki pemikiran aneh seorang diri.

Masih membaca bukunya, Cheonsa merasakan kehadiran seseorang. Namun, namanya juga Cheonsa, ia seakan tenggelam dengan dunianya sendiri jika sudah ditemani sebuah buku dalam genggamannya. Detik jam terus berlalu, dan sepertinya orang di samping Cheonsa masih betah dalam duduknya.

“Bukankah tidak sopan mengabaikan seniormu?”

Cheonsa asing dengan suara ini―oke, bahkan ia asing dengan hampir semua suara milik teman satu jurusannya. Mengalah dengan keadaan, Cheonsa menoleh ke samping kirinya. Itu Jeon Wonwoo, senior semester lima yang berada di Jurusan Kedokteran. Cheonsa mengenalnya sebatas faktor kepopuleran pemuda itu, tak lebih.

Annyeonghaseyo, Sunbae.”

Hanya itu, Cheonsa memberi salam sekilas lalu kembali fokus dengan bukunya. Terkesan dingin memang, tapi ya seperti itulah tabiat Cheonsa. Jika tak terlalu penting, ia hanya akan diam tanpa suara. Lagipula Cheonsa tak merasa memiliki keperluan dengan seniornya satu itu.

Lain hal dengan Jeon Wonwoo, wajahnya menyiratkan sesuatu yang tak biasa. Apa ini? Bagaimana bisa ada junior―terlebih lagi seorang gadis―yang sifat dinginnya itu melebihi dirinya? Mungkinkah Wonwoo merasa kalah saing? Oh tidak, itu pemikiran yang terlalu kekanakan.

“Biasanya para gadis akan langsung berteriak memuja jika aku ada di dekat mereka.”

Hello? Apakah Cheonsa tak salah dengar? Setahunya, Wonwoo ini termasuk salah satu orang yang jarang bicara apalagi untuk meladeni para fans-nya. Wonwoo hanya menampakkan wajah datar dan para gadis akan semakin terpesona. Tapi yang tadi itu apa? Ia membanggakan dirinya sendiri?

“Mungkin karena mereka menyukaimu?” ujar Cheonsa asal, masih fokus dengan bukunya. Berpikir positif, mungkin saja seniornya ini hanya bosan hingga bicara melantur seperti itu padanya. Bagaimanapun juga, Cheonsa masih memiliki sopan santun jika diajak bicara oleh orang lain.

“Mungkin juga,” balas Wonwoo singkat.

Setelahnya kembali hening, tak ada lagi yang membuka suara. Dingin sayup-sayup membisikkan sesuatu pada Wonwoo, namun pemuda itu masih asyik menatap Cheonsa yang bahkan tak menghiraukannya.

“Memangnya kau tidak menyukaiku?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Sungguh, ini percakapan paling tidak bermutu yang pernah Wonwoo lakukan dengan seorang gadis. Biasanya ia akan selalu mendengar pernyataan cinta ataupun pujian bertubi-tubi. Namun kali ini apa? Dengan telak ia mendapati jawaban paling tak masuk akal di dunia ini; seorang gadis dingin yang tidak menyukainya, dan dengan jelas menjawabnya secepat kilat seolah tanpa memikirkannya.

“Entah, hanya tidak.”

Hebat, bahkan sejak tadi pun Cheonsa tak mengalihkan pandangannya dari buku. Wonwoo, untuk kali ini kau kalah telak oleh seorang gadis yang bahkan lebih tak acuh darimu.

“Ini.”

Kali ini Cheonsa menutup bukunya saat ia merasakan sesuatu di pangkuannya. Sebuah buket bunga mawar kuning, dengan secarik kertas surat berwarna putih. Ia mengambil kertas itu dan membacanya, mendapati satu kalimat yang menurutnya adalah hal terkonyol sepanjang ia kuliah di sini.

Will you be mine?

Cheonsa tertawa kecil melihatnya, membuat Wonwoo berasumsi bahwa gadis ini akan dengan senang hati menerimanya. “Sunbae, mengapa kau sangat percaya diri sekali memilih kata will ketimbang would? Memangnya aku pasti akan menerimamu?”

Skak, Wonwoo semakin yakin bahwa ia harus belajar lebih giat lagi untuk menyaingi kadar tak acuh dan tak berperasaan milik Cheonsa. Gadis dari planet mana sebenarnya Cheonsa ini?

“Memangnya kenapa kau tak mau menerimaku?” tanya Wonwoo akhirnya. Biarlah untuk kali ini saja Wonwoo menurunkan sedikit harga dirinya. Hanya untuk kali ini saja, catat itu.

Cheonsa menghela napas, kini fokus menatap Wonwoo. “Sunbae tak tahu apa-apa tentangku.”

“Aku tahu,” jawab Wonwoo pasti. “Kau mahasiswi Fakultas Seni yang ingin sekali menjadi guru musik atau koreografer dance. Kau suka es krim vanila dan mawar kuning juga anyelir putih. Kau lebih suka belajar sendiri ketimbang hang out dengan teman-temanmu. Jadwal kuliahmu―”

It’s not that,” potong Cheonsa. Gadis itu agak ngeri juga mendapati Wonwoo yang ternyata tahu cukup banyak tentang habit-nya. Tapi bukan itu yang Cheonsa maksud.

I can’t do romance, my romantic was bad.”

Satu hal lagi yang Wonwoo ketahui tentang Cheonsa adalah; bahwa gadis ini sangat apa adanya. Ia tak suka membuang-buang waktu hanya untuk hal yang menurutnya sia-sia. Terbukti dari jawaban sederhananya yang menjelaskan segala yang ingin ia ungkapkan. Cheonsa takut untuk jatuh cinta lagi, dan Wonwoo menangkap dengan jelas pesan tersembunyi itu.

Wajah Cheonsa masih tenang, bahkan terlampau tenang di mata Wonwoo. Pemuda itu akhirnya tersenyum, mungkin lebih kepada smirk kecil yang samar. Wonwoo tak pernah menyangka karma akan mendatanginya secepat ini. Banyak gadis yang menyukainya namun Wonwoo tak melirik mereka sedikitpun. Namun saat Wonwoo menyukai seorang gadis yang menurutnya different with others, ternyata sesulit ini untuk mendapatkannya.

Wonwoo mendekatkan wajahnya, tepat di hadapan Cheonsa yang masih terdiam. Satu ucapan pelannya menelusup ke pendengaran Cheonsa, membuat gadis itu merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.

But I can do romance, and my romantic is the best one.”

Setelahnya, satu ciuman manis itulah yang menjadi penutup perbincangan aneh mereka. Wonwoo yang terlalu mencintai Cheonsa dan Cheonsa yang tak tahu apa pun tentang semua ini. Bukankah Cheonsa tak pernah memimpikan kehadiran pangeran berkuda putih dalam hidupnya? Memang benar, yang ada hanya seorang Jeon Wonwoo dengan sebuket mawar kuning juga cinta yang tulus untuknya.

And you’ll never regret it, Park Cheonsa.”

FIN

 

 

First time ngirim ke sini, hope y’all like it. Prompt based on FSOG scene ketika Christ nanya ke Anna perihal romanticnya.

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s