[FREELANCE] Behind


Behind

Behind

Songwriter : mitternacht (mitterncht.wordpress.com)

Artist :

Jung Soojung (fx)

Lee Taemin (SHINee)

Featuring :

Choi Minho (SHINee)

Choi Jinri

Genre : AU, Slice of Life, Romance, Family

Rate : G

Duration : Vignette

©2016

 

“Selalu ada sesuatu yang kau tidak ketahui. Tuhan punya rencanaNya.

 

Kala itu hujan mengguyur Kota Seoul. Manusia-manusia tak berpayung terjebak dalam tirai yang dibuat oleh sang langit. Sedang seorang wanita di ketinggian sana, sama terjebaknya. Dirinya terbelenggu oleh ratusan perasaan yang saling beradu tak terdefinisi. Ia membiarkan sang langit mengguyur tubuhnya, agar ia lupa rasanya bersalah akan keputusannya. Dirinya telah kalah telak oleh sang ego yang lantas menghantarnya pada puncak keputusasaan.

Biarlah.

Satu langkah lagi dan tak akan ada sesuatu di bawah sana.

Wanita itu melangkah ragu-ragu, sang pemain utama hendak mengakhiri naskah drama.

“Apa yang kau lakukan, Nona?”

Lamun naskah drama masih berlanjut. Sesosok pria berkulit putih dan bertampang seperti anak kecil datang menghampiri wanita itu. Di tangannya, ia membawa buku tebal. “Kau tidak bermaksud bunuh diri kan?”

Tak ada suara lain. Hanya suara hujan yang semakin memekak pendengaran.

“Kau tahu apa?” si wanita frustasi balik bertanya dengan suara lirih. “Kau tahu apa?!” kali ini ia meneriakkannya keras-keras tanpa menghadap ke laki-laki tersebut. “Kau mau mencegahku bunuh diri? Iya?”

“Ah, bukan begitu. Hanya saja-“ Ia menghentikan perkataannya dan melindungi kepalanya dengan buku tebal yang ia bawa. Hujan semakin deras.

Bahu wanita itu berguncang. Ia kalah telak dengan egonya, dan kini seorang laki-laki muncul memperlambat rencananya. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku! Hidup ini tak adil! Aku sudah terlalu lama memendam beban hidup seperti ini. Jadi enyahlah, dan biarkan aku-“

“Eum, Nona.. Hidup tidak adil hanya bagi orang-orang yang tak bersyukur.” Si laki-laki meralat dengan sopan. Ia berjalan mendekat agar suaranya terdengar.

“Kau tidak tahu apa-apa.” Wanita itu mengelak pernyataan klise si lelaki kulit putih. “Bersyukur? Jadi aku harus bersyukur ketika sahabatku sendiri juga menyukai orang yang sama denganku?” wanita itu mundur perlahan. “Bahkan sahabatku yang lain juga mengetahui ini dan menyembunyikannya dariku.”

“Nona, bisakah kau turun sekarang?”

Wanita itu tak mengindahkan si lelaki. Ia terus melanjutkan walau sebagian pakaiannya sudah basah. “Aku melihatnya. Ia menghubungi Minho Oppa, yang bahkan aku tak berani mengirimnya pesan. Apa? Kau kira apa yang bisa kuharapkan dengan hidup yang seperti ini?” Ia berbalik. Melihat keramaian jalan dari atas. “Bahkan ibuku juga nampak tak peduli dengan anaknya yang sedang patah hati. Huh. Rencana apa yang Tuhan hendak berikan kepadaku? Hidupku sudah hancur,”

“Nona..”

Namun terlambat. Wanita itu telah melangkah lebih dulu.

Brak! Duk!

 

Drama selesai.

***

Wanita itu kebasahan. Ia menggigil kedinginan, tapi beruntung. Tempatnya berpijak cukup hangat untuk mengusir rasa dingin yang menyelimuti. Ia berdiri di depan pintu. Namun orang-orang tak memperdulikan presensinya. Mereka saling berbincang diteman minuman hangat di depan mereka. Ia hendak keluar dari kedai itu, tapi berhenti ketika mendapati figur yang ia kenal.

Jinri.

Di depan sosok Jinri, duduk seorang pria. Mereka saling berbincang, dan Jinri selalu tersenyum manis di depan pria itu. Namun wanita itu tahu betul siapa pria itu. Tak perlu mendekat untuk mengetahui identitasnya. Pria itu Choi Minho.

Lelaki yang ia suka.

Juga lelaki yang disukai oleh Jinri.

Mereka duduk bersama. Tersenyum bersama.

Sedangkan sang tokoh utama hanya melihat. Ia berada di tempat yang sama. Lamun sang karib seolah tak menggubris. Cukuplah wanita itu mengetahui bahwa karibnya menaruh perasaan yang sama pada lelaki itu. Cukup.

Wanita itu mengusap cairan yang malu malu menetes dari matanya. Rasa dingin itu tergusur oleh perasaan sakit hati si wanita. Ia sudah membalikkan badan, sebelum akhirnya ia melihat lelaki berkulit putih berdiri tepat di belakangnya.

“Kau sudah mau pergi, Nona? Tapi dramanya belum dimulai.” Ujarnya sedikit sedih dan kekanak-kanakan.

Sang tokoh utama membalikkan badan. Mencoba melihat drama jenis apa yang disajikan sang kulit putih kepadanya.

“Kau yakin, Soojung tak mengetahui hal ini?”

“Tenang, Oppa. Soojung sangat cuek. Dia tidak tahu apa yang kita lakukan.”

Sang tokoh utama rasanya hendak menampar pengkhianat yang jelas-jelas mengakui kejahatannya. Ia menyumpah sang karib.

“Benarkah? Baguslah. Aku sungguh merasa bersalah padanya.”

“Tidak, Oppa. Tidak apa-apa. Percayakan padaku. Ini akan tetap menjadi rahasia,” Sang tokoh utama dalam drama menepuk pundak si lelaki, membuat tokoh utama yang sebenarnya geram bukan main. Lagi-lagi ia menyumpah si karib.

Merahasiakan? Yang benar saja. Aku melihatnya di depan mataku.

“Bagaimana persiapannya? Sudah beres?”

“Sudah. Aku sudah menyewa tempat yang Oppa suka.”

Persiapan? Persiapan apa? Kalian akan menikah? Dengan keadaanku yang seperti ini? Tuhan. Seharusnya Kau mengambil nyawaku sebelum aku melihat ini.

“Semoga Soojung menyukainya, ya.”

 

Apa? Aku?

Tunggu. Apa maksudnya ini?

 

“Tentu! Jangan meremehkanku sebagai sahabat Soojung, Oppa. Aku mengetahui apa saja yang Soojung suka.”

Tunggu.

Apa maksudnya ini?

Wanita itu melirik si lelaki kulit putih. Namun nihil.

***

Apa aku hidup?

Hei- di mana ini?

Gelap sekali.

Wanita itu terbangun di sebuah ruangan pengap nan gelap. Tak ada suara selain dari kipas angin tua yang telah berdebu. Sedang sang empu ruangan tengah duduk di pojok ruangan. Meletakkan kakinya angkuh di atas meja. Di depannya berdiri seorang wanita tua, dan wanita tua itu begitu familiar.

“Mau berhutang berapa lagi kau?!”

“Aku hanya mau mengambil gajiku untuk bulan ini.”

“Gaji?” garang, sebelah kakinya menghentak meja. Menggetar semua benda di atasnya. “Apa aku tak salah dengar?”

 

Sialan.

 

Jadi lelaki ini yang Ibu ceritakan sebagai bosnya?

“Kuberitahu ya. Kau sudah berhutang, dan kau tau kewajiban seorang yang berhutang sepertimu? Kau harus membayarnya-“

Ujung kalimat tercekat, ketika dering ponsel menyibak ketegangan. Wanita tua tadi merogoh sakunya. Dering berhenti. Namun sang penelepon cukup keras kepala. Ponsel berdering kembali.

“Ini ketika kau menelepon. Ingat?” si lelaki pucat berbisik pada tokoh utama, menjelaskan apa yang terjadi.  

Wanita tua itu buru-buru mengakhiri pembicaraan.

“Ibu sibuk, Soojung-Ah! Sudah nanti saja.” Wanita tua itu kembali memasukkan ponselnya.

“Dari Soojung? Oh. Sekarang dia sudah besar ya.” Si lelaki berdiri. “Bagaimana kalau kau berikan saja Soojung padaku? Huh?”

“Kau sudah beristri. Jangan bermimpi.” Jawab wanita tua.

“Aku serius. Kau berikan Soojung padaku, dan kuanggap semua hutangmu lunas.”

“Lebih baik aku bekerja dan tak makan daripada memberikan Soojung kepadamu.”

Kembali, Sang tokoh utama tak mengerti apa maksud kejadian di depan matanya. Ia menoleh pada lelaki putih yang sedari tadi menemani tokoh utama.

“Apa maksudnya semua ini?”

“Kau masih tak menyadarinya, Nona?” si lelaki bertanya sembari memainkan lembaran buku tua yang ia bawa daritadi. “Sahabatmu bukan mengkhianati bahkan menyukai lelaki yang juga kau suka. Ia telah membantumu. Kau tidak tahu apa yang mereka rencanakan?” Ia menahan wajahnya untuk terlihat serius.

Sang tokoh utama menggeleng.

“Ulang tahunmu. Itu sebabnya Ia tak pernah memberitahumu. Kenapa bersama lelaki bernama Minho itu, karena ia juga menyukaimu. Mereka merencakan ini baik-baik. Ibumu? Mengapa tak segera mengangkat panggilan darimu dan segera menutupnya? Karena tadi. Kau sudah melihatnya. Ibumu dalam kesulitan.”

“Dan kau tau kenapa ia mengambil gajinya? Untuk hadiah ulangtahunmu. Mereka menyayangimu.”

“Tuhan tidak adil? Pikirkan lagi. Kini lihat keputusanmu. Apakah kau pikir mengakhiri hidupmu adalah hal terbaik? Ketika ibumu bekerja keras demi dirimu. Sahabatmu? Apa yang kau lakukan?”

Sedetik kemudian sang tokoh utama menyadari satu hal. Ia telah mengakhiri naskah dramanya. Sedang adegan-adegan manis telah tertinggal sebelum sempat dipentaskan.

 

Wanita itu menitik air mata. Ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya. “Apakah ini sudah berakhir?”

 

Si lelaki putih itu tersenyum kecil. “Kau yang mengakhirinya.”

***

Sirine ambulance berdengung-dengung. Tak hanya ambulance, mobil pemadam kebakaran juga ikut hadir dalam keramaian tersebut. Orang-orang berkumpul pada satu titik. Sebuah kejadian tragis baru saja terjadi. Seorang wanita terjatuh, mungkin dikarenakan hujan. Siapa pula yang mau berdiri di atap ketika hujan? Mungkinkah ia bunuh diri?

Mayatnya tidak langsung jatuh mengenai tanah. Mayatnya jatuh di atas kanopi sebuah kedai. Pihak pemadam kebakaran segera naik ke kanopi dengan tangga.

“Hei! Wanita ini masih hidup!”

“Benarkah? Segera bawa turun.”

Hati-hati, dua petugas berhasil menurunkan wanita itu. Perlahan sang wanita membuka matanya. Tubuhnya merasakan sakit. Orang-orang berbaju putih menidurkannya di sebuah ranjang, lalu mendorongnya menuju ambulance.

“Nona, kau sudah sadar?”ujar salah seorang diantara mereka.

Wanita itu terdiam. Mencoba mengingat-ingat apa yang barusan terjadi. Yang terakhir ia ingat hanya ketika ia di atas sana. Ketika keputusannya untuk menjatuhkan diri dari rooftop tempatnya bekerja.

 

Oh. Ada lelaki itu.

 

“Apakah kau yakin tidak akan menyesalinya?

 

Laki-laki berkulit putih itu. Ya, lelaki itu menanyakan satu hal padanya tepat saat kedua kakinya tidak lagi menapak rooftop. Perlahan, ia menitikkan air mata, lalu tersenyum.

 

“Terimakasih, Tuhan.”

Fin.

 

Note : Mohon kritik, saran atau tanggapan apapun mengenai ff ini ^^

Jangan mudah putus asa, anggap saja akan ada malaikat unyu seperti Taemin ketika kesulitan :3

 

Advertisements

One thought on “[FREELANCE] Behind

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s