[Oneshot] Wedding Dress


image

Title : Wedding Dress

Genre : Romance, Sad, Angst

Author : HyeKim / Kim Hyerim

Rating : PG-15

Lenght : Oneshoot

Backsound : Taeyang – Wedding Dress

Summary : “Karena kau harus jadi wanitaku. Tolong lihat aku, aku sudah menunggu selama ini.”

Cast :

-Kim Hyerim (OC)

-Xi Luhan

– Oh Sehun

niga geuwa datugo
ttaeron geu ttaeme ulgo
himdeureo hal ttaemyeon nan huimangeul neukkigo
amudo moreuge mam a-a-apeugo

— Aku berpendapat
— Kau akan menangis
— Saat kau berjuang, aku hanya akan menjadi lebih kuat
— Aku sakit hati di balik bayang-bayang

.

.

.

Seorang pria bermata rusa itu menyipitkan matanya, melihat arlojinya yang menunjukan pukul 12.30. Harusnya dia sudah datang,  batinnya. Disaat pria itu masih setia menunggu di depan coffe shop, tiba-tiba dua tangan dengan gerakan cepat menutup kedua mata rusa pria tersebut dari belakang, membuat pria bernama Luhan itu tesentak kaget.

Yak! Kim Hyerim! Utgida ahniya! (tidak lucu),” Pekik Luhan pada orang yang menutup matanya, yang ia panggil Hyerim.

Gadis bermarga Kim itu hanya tersenyum menampilkan barisan gigi putihnya yang rapi. Kemudian menurunkan tangannya dari kedua mata Luhan, lalu memeluk leher pria tersebut, membuatnya menoleh kebelakang menatap Hyerim.

Oppa, maaf membuatmu menunggu lama.” Ucap Hyerim dengan senyum lebarnya.

Hyerim menaruh dagunya di bahu Luhan, membuat jarak keduanya sangat dekat. Hembusan napas Hyerim pun dapat dirasakan Luhan, sensasi gila yang selalu membuat Luhan kembali jatuh cinta kepada sosok Hyerim.

Luhan mengukir seulas senyum, “Tak apa, walau oppa harus menunggu setengah jam, untung oppa tidak keburu di goda cewek lain,”

Hyerim hanya mendengus geli mendengarnya, “Mworago? (apa katamu) mana ada yang mau menggoda lelaki cantik seperti oppa, yang ada oppa di goda oleh lelaki lagi, ahah.”

‘”Yak!” Luhan berseru, membuat Hyerim tertawa geli.

Dwasseo (sudahlah), ayo kita pergi untuk fitting baju pengantin,”

Luhan mengangguk, lalu megandeng tangan Hyerim menuju mobilnya. Kemudian keduanya pergi menuju butik baju pengantin di daerah Myeongdong.

***

Hyerim tesenyum cerah saat Mrs.Kim, sang designer melihatkan gaun pengantin yang akan ia kenakan 3 hari kedepan, sudah selesai, benar-benar cantik dan Hyerim sangat menyukainya.

“Mrs.Kim terimakasih, aku menyukainya,”

“Terimakasih kembali Nona Kim, lebih baik anda mencobanya dulu sekarang, dan calon suamimu juga mencoba tuxedonya.” Ucap Mrs.Kim sambil melirik Luhan yang melebarkan matanya kaget karena ucapannya. Sementara Hyerim hanya tertawa mendengarnya.

Arraseo, oppa cobalah tuxedonya.” Ucap Hyerim. Luhan mengangguk dan diantar Mrs.Kim untuk mengambil tuxedonya dan mencobanya.

Luhan sudah mengenakan tuxedo berwarna putih dan kemeja berwarna sama, lalu dipadukan dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Luhan sedang menunggu Hyerim keluar dari fitting room, ia memasukan kedua tangannya ke saku celananya dan menundukan kepala melihati sepatunya, karena efek bosan menunggu.

“Tuan, lihatlah, calon istrimu sudah mengenakan gaun pengantinnya,”

Suara Mrs.Kim terdengar, membuat Luhan mengangkat kepalanya. Ia mendapati Hyerim berdiri dihadapannya, menggunakan gaun putih panjang tanpa lengan, gaun sederhana yang bagian bawahnya dihiasi bunga-bunga berwarna putih dan dilapisi kain lacey yang berkilauan. Tak lupa dengan mahkota yang bertengger diatas kepala Hyerim sebagai bridal veil, dengan kain lacey berkilauan yang menutupi bagian belakang kepalanya.

Oppa, eottae?” Tanya Hyerim dengan senyum lebarnya.

Luhan hanya menatap gadis itu tanpa mengedipkan matanya sedari tadi. Demi apapun, gadis dihadapannya sekarang benar-benar cantik. Dan Luhan menyadari, ia benar-benar sudah jatuh terlalu dalam pada perasaannya kepada Hyerim.

“Kamu…sangat cantik,” Komentar Luhan. Hyerim yang mendengarnya tersenyum makin lebar, senyuman yang selalu berhasil membuat Luhan terpana dan lalu ikut tersenyum.

nijageun misomyeon tto damdamhaejigo

— Wajahku cerah selama aku melihat senyumanmu

***

Setelah fitting baju pengantin, Luhan dan Hyerim pergi menuju toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan.

Oppa, menurutmu yang ini atau yang ini?” Tanya Hyerim sambil menunjuk bergantian dua cicin couple dari meja kaca toko.

Luhan memperhatikan cincin yang ditunjuk Hyerim, dan berpikir sebentar. Kemudian menunjuk cincin emas putih dengan briliant berbentuk hati ditengahnya.

“Yang itu saja, lebih bagus,”

“Baiklah, agashi, yang ini ya,”

Lalu datanglah pelayan toko untuk mengemas cincin yang ingin mereka beli. Luhan hanya memperhatikan Hyerim dari samping, yang sedari tadi tesenyum riang.

“Apakah kamu senang akan menikah, Hye-ah?” Gumam Luhan dalam hati.

“Ini pesanannya, semoga calon pengantin baru seperti kalian diberikan kebahagiaan.” Ucap pelayan toko tesebut saat Hyerim membayar cincin pernikahannya, sambil memberikan plastik coklat berisi cincin tersebut.

Luhan hanya tersenyum simpul mendengar ucapan tentang ‘dirinya dan Hyerim adalah calon pengantin’. Sementara Hyerim hanya tertawa dan menerima plastik coklat tersebut, kemudian megandeng Luhan keluar toko dan menuju mobil.

Oppa,” Panggil Hyerim sebelum Luhan melajukan mobilnya.

“Hmm??” Luhan menoleh kepada Hyerim, detik itu juga, Hyerim mencium pipinya, membuat Luhan terdiam.

“Terimakasih sudah menemaniku, kupikir oppa akan lebih mementingkan perkerjaan oppa, padahal fitting baju pengantin dan memilih cincin kan sangat penting.”

Luhan hanya tesenyum dan mengangguk, kemudian mulai menjalankan mobilnya.

***

Omonim!

Nyonya Xi membalikan badannya saat mendengar suara seorang gadis memanggilnya. Senyum terukir di wajahnya, Hyerim lah yang tadi memanggilnya.

“Hyerim-ah,

Omonim, Luhan oppa ada?”

Keurom(tentu saja), masuklah, dia ada di lantai atas, di kamarnya.”

Setelah berpamitan pada Ibu Luhan, Hyerim pun masuk ke kediaman keluarga Xi dan langsung menuju lantai atas tepat ke kamar Luhan. Tanpa ragu lagi, Hyerim langsung membuka pintunya dan masuk ke kamar serba putih itu. Tampak Luhan sedang sibuk dengan laptopnya.

Oppaaa~~,” Hyerim memanggil Luhan dengan suara manjanya, dan mulai berjalan mendekati pria itu dan memeluk lehernya dari belakang.

“Hmm…” Luhan masih sibuk dengan laptopnya.

“Sibuk ya? Baiklah,” Ucap Hyerim merasa diabaikan dan berjalan menuju ranjang Luhan.

Luhan melihat Hyerim dari kaca dihadapannya, meja kerjanya memang langsung menghadap keluar jendela. Hyerim mulai membaringkan tubuhnya dan beberapa menit kemudian telah terlelap. Luhan tersenyum melihatnya, lalu berdiri dan berjalan ke ranjangnya. Ia menyelimuti tubuh Hyerim, kemudian memandang wajah gadis itu lama. Hatinya mulai berdesir kembali.

niga hoksina nae maeumeul alge doelkkabwa
— Aku khawatir mungkin kau melihat perasaanku

Tiba-tiba, Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Hyerim yang masih terlelap. Jarak keduanya semakin dekat.

arabeorimyeon uri meoreojige doelkkabwa
— Dan aku merasa takut jarak antara kita akan melebar

Luhan berhenti, memandangi wajah gadis yang ia cintai itu dari dekat. Matanya, hidungnya, bibirnya. Dimatanya, Hyerim begitu sempurnya. Kemudian, Luhan menahan napasnya.

nan sumeul jug yeo
— Aku menahan napas
tto ipsureul kkaemureo
— Lalu menggigit bibirku

Dapat dirasakan hembusan napas Hyerim diwajahnya. Luhan mengigit bibirnya dan kemudian mendekatkan lagi jaraknya kepada Hyerim. Sampai akhirnya, bibir keduanya bertemu. Luhan memejamkan matanya, sementara Hyerim masih tertidur. Setelah lima menit lamanya, Luhan melepaskan bibirnya, dan berjalan keluar kamar.

Hyerim perlahan membuka matanya dan memandangi pintu kamar Luhan dengan lekat. Tangan kanannya menyentuh bibirnya yang di cium oleh Luhan tadi. Tak bisa ia pungkiri, Luhan selalu membuat hatinya berdebar keras.

***

jebal geureul tteona naege ogil
— Aku berdoa semoga dia akan pergi dari sisinya

Luhan membuka matanya dan melepaskan tangkupan tangannya. Apa yang aku doakan tadi? Kenapa aku berdoa seperti itu? Kau tidak boleh seperti ini, Xi Luhan! Luhan berteriak-teriak dalam hati. Ia merasa jahat telah berdoa seperti itu untuk orang yang ia cintai.

Oppa!” Suara Hyerim terdengar memasuki gereja, tempat Luhan berada sekarang.

Luhan yang duduk di barisan paling depan menoleh. Hari ini gereja kosong, hanya ada mereka berdua. Hyerim berjalan mendekat kearah Luhan dan menghambur memeluknya.

Oppa, mwo hae(sedang apa?)” Tanya Hyerim mulai melepaskan pelukannya.

“Bodoh! Aku mengecek gereja untuk pernikahan nanti,” Luhan menyentil dahi Hyerim, membuat gadis itu cemberut.

Saat Luhan masih tertawa melihat wajah Hyerim dan mengacak-acak rambut gadis itu, dari ambang pintu gereja masuklah lelaki tinggi putih. Hyerim dan Luhan menoleh kearah lelaki itu, Hyerim langsung tersenyum lebar menyambut kehadirannya.

Hunnaaa!!

Hyerim beseru dan berlari kearah Sehun, kemudian memeluknya erat. Sehun membalas pelukannya. Senyum di wajah Luhan perlahan memudar. Hyerim merenggangkan pelukannya dan membisikan sesuatu tepat di telinga Sehun, membuat pria itu tersenyum geli.

“Aku juga merindukanmu, Rim-ah,” Ucap Sehun. Hyerim yang mendengarnya langsung bergelayut manja di tangan kanan Sehun. Sementara Luhan memandang keduanya sendu.

Baby jebal geuui soneul japjima
— Sayang, jangan pegang tangan itu

Hyerim dan Sehun menghentikan aksi romantisnya, ketika mengingat Luhan ada disana. Keduanya berjalan kearah Luhan, tangan Hyerim melingkar sempurna di tangan kanan Sehun.

Hyung, terima kasih telah megantikanku untuk fitting baju pengantin dan memilih cincin,” Ucap Sehun sambil tersenyum, Luhan balas tersenyum sambil mengangguk.

“Bagaimana perusahaan keluargamu di New York? Jangan sampai saat kau akan menikah, tiba-tiba ada panggilan perkerjaan lagi. Kalau fitting baju pengantin dan memilih cincin masih bisa kugantikan. Kalau menikah? Mana mungkin kan aku megantikanmu menikah dengan Hyerim?”-‘Walau sebenarnya aku mau’

Sehun tertawa mendengar colotehan Luhan, saudara sepupunya. “Ahah kau ini, hyung.  Tenang saja, cabang perusahaan di New York sudah bisa ditangani.”

Hyerim yang masih melingkarkan tangannya di tangan kanan Sehun, langsung melepaskannya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia sudah malas bila kedua pria dihadapannya sudah membicarakan bisnis, yang sama sekali tidak ia pahami. Hyerim mengeluarkan sebuah undangan berwarna cream, ia memandangi undangan tersebut sebentar, lalu tesenyum.

“Luhan oppa,” Panggil Hyerim, membuat Luhan yang sedang berbicara tentang bisnis dengan Sehun, menoleh. “Neo hante(untukmu).” Hyerim menyodorkan undangan cream itu pada Luhan, dan diterima oleh pria itu.

“Datanglah dengan seorang wanita, siapa tahu nantinya cocok, dan berpenampilan lah setampan mungkin,” Tambah Hyerim. Luhan hanya mengangguk sambil tesenyum penuh arti.

“Hyerim-ah, uri umma mengatakan merindukanmu. Ayo, kita kunjungi beliau,” Ucap Sehun, langsung megandeng Hyerim untuk pergi.

Keduanya berpamitan pada Luhan, kemudian pergi meninggalkan gereja. Meninggalkan Luhan yang memandang pintu gereja dengan tatapan kosong. Kemudian tatapannya beralih pada undangan cream di tangan kanannya.

‘Oh Sehun & Kim Hyerim Wedding Invitation’

Cuz you should be my Lady
oraen sigan gidaryeo on nal dorabwajwo
— Karena kau harus jadi wanitaku
— Tolong lihat aku, aku sudah menunggu selama ini.

***

“Namaku Kim Hyerim, siapa namamu?”

“Aku Xi Luhan, pindahan dari China.”

“Jadi kau baru pindah? Bahasa Koreamu bagus sekali. Oh ya, itu rumahku yang bercat warna cream,”

“Iya. Benarkah? Rumahku yang disebelahnya, cat berwarna putih,”

“Aigoo, jadi kita bertetangga dekat, ahahah. Umurmu berapa? Sekolah dimana?”

“Umurku 14 tahun, aku akan masuk ke Shinhwa JHS,”

“Shinhwa? Aku juga sekolah disana, umurku 13 tahun, lebih muda 1 tahun darimu. Salam kenal, Luhan-ssi,”

“Hyerim-ah!”

“Hmmm?”

“Ayo antar aku ke bandara menjemput Sehun, sepupuku dari New York,”

“Oppa, kau ini sudah berumur 20 tahun, apa harus tetap kuantar huh?”

“Yak! Aku ingin mengenalkannya padamu, sepupu kebanggaanku.”

“Sehun-ah, kenalkan, ini Kim Hyerim, sahabat baikku selama di Korea. Hyerim-ah, kenalkan, ini Oh Sehun, sepupu kesayanganku,”

Hyerim memandang Sehun lama, seakan terpesona, lalu ia menampilkan senyum manisnya. “Hallo, aku Kim Hyerim, salam kenal,”

Sehun juga memandang gadis dihadapannya dengan lekat, kemudian tersenyum. “Aku Oh Sehun, salam kenal Hyerim-ssi,”

Keduanya berjabat tangan. Luhan cemburu saat melihat Hyerim menampilkan senyum manisnya kepada Sehun, yang biasanya ia lihatkan pada dirinya. Luhan merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada kisah cintanya.

“Sehun-ah, kamu sering sekali berpergian berdua dengan Hyerim, ya?”

“Iya, hyung. Kenapa? Hyung cemburu?”

“Sebenarnya..ya, aku menyukai Hyerim dari dulu,”

Sehun tampak membulatkan matanya kaget. Hyung kesayangannya juga menyukai gadis yang ia sukai. “Begitu? Kalau begitu aku akan menbantu hyung mendapatkan Hyerim,”

“Benarkah?” Luhan menatap Sehun dan Sehun hanya mengangguk.

“Oppaaa!! Sehun menjadikanku kekasihnya!” Luhan hampir tersedak saat sedang meminum kopi, mendengar seruan Hyerim.

“M..mwo?”

“Dia mengatakan bahwa ia mencintaiku, dan akupun mengatakan bahwa aku mencintainya juga. Lihat! Dia memberi mawar putih kesukaanku, dan sekarang kita sudah resmi berpacaran.”

Luhan hanya tesemyum miris melihat Hyerim menghirup wangi bunga mawar putih dengan senyum lebar. “Selamat.” Ucapnya, lalu pergi meninggalkan Hyerim.

“Maaf, hyung. Aku juga mencintainya,”

“Tapi kamu mengkhinatiku, Sehun-ah. Kamu bilang akan membantuku mendapatkan cinta Hyerim, tapi apa? Kamu memanfaatkan itu untuk mendekatinya diam-diam,”

“Maaf, hyung, aku tak bisa, saat aku menyadari Hyerim menyukaiku juga. Aku tak bisa, maaf,”

“Pergilah, Hyerim menunggumu untuk berkencan.”

“Maaf.”

***

Luhan membuka matanya perlahan dan menghembuskan napasnya, tak terasa apa yang ia ingat tadi sudah berlalu sangat lama. Kisah cintanya yang tak berakhir bahagia. Sekarang sudah 3 tahun lamanya Sehun dan Hyerim menjalin kasih, dan hari ini keduanya akan sah menjadi suami-istri. Dan Luhan, ia hanya akan memainkan instrument piano di pernikahan keduanya, membiarkan gadis yang ia cintai menikah dengan pria lain yang tak lain sepupunya sendiri.

Oppa,” Panggilan Hyerim tedengar mebunyarkan lamunan Luhan, membuatnya menoleh.

Hyerim datang sambil megandeng seorang gadis. “Lihat, siapa yang datang? Fansmu dulu, Seo Joohyun sunbae!”

Joohyun atau yang biasa disapa Seohyun, hanya tertawa mendengar ucapan Hyerim. Seohyun melepaskan gandengan tangan Hyerim, lalu menatap gadis itu dari samping.

Yak! Hyerim-ah! Itu masa lalu, aku sudah bertunangan sekarang. Aigoo, kamu ini cantik sekali, sangat cocok dengan Luhan,” Ucap Seohyun sambil terkekeh.

Luhan melebarkan matanya mendengar ucapan Seohyun. Hyerim sendiri hanya tertawa. “Hey! Aku akan menikah dengan sepupunya Luhan oppa, Oh Sehun. Bukan dengannya, ahahah.”

“Yah sayang sekali, kalian padahal sangat cocok,” Gurau Seohyun. Hyerim masih tertawa, saat tiba-tiba Ibu Sehun memanggilnya untuk besiap-siap, ia pun pamit pergi kepada Seohyun dan Luhan.

“Eoh Seohyun-ssi,” Panggil Luhan setelah Hyerim pergi, Seohyun pun menoleh padanya. “Dimana Jung Yonghwa-ssi, tunanganmu?”

“Dia sibuk mengurus cabang perusahaannya di Ilsan, jadi aku datang sendiri,” Jawab Seohyun, lalu menatap Luhan lekat. “Kupikir, kaulah yang akan menikah dengan Hyerim.”

Luhan tesentak mendengarnya. “Kenapa berpikir demikian?”

“Kalian sangat cocok. Dulu semasa SMA, saat aku mengatakan menyukaimu, kamu secara terang-terangan menolakku, dan mengatakan menyukai Hyerim, yang notabenya adik kelas kita,”

Luhan hanya tersenyum tipis mendengarnya. “Hyerim tidak menyukaiku bahkan mencintaiku sebagai seorang lelaki, Seohyun-ah. Dia hanya menggapku sebagai Luhan oppanya.”

“Menurutmu begitu? Tapi menurutku, tidak! Hyerim juga menyukaimu, tapi dirinya sendiri bahkan tak menyadarinya,”

Luhan menatap Seohyun lekat dengan tatapan tak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Kamu ingat? Dulu saat kamu menolakku, aku tetap mengejarmu. Tapi, tiba-tiba aku berhenti mengejarmu. Kamu tahu kenapa? Saat tahu kamu menyukai Hyerim, aku berusaha melabraknya karena dia adik kelas. Ya ampun kekanak-kanakan sekali aku dulu,” Seohyun tertawa sejenak mengingat dirinya dulu semasa SMA.

“Aku mengatakan ‘apakah kau pacarnya Luhan?’, kamu tahu Hyerim menjawab apa? Dia menjawab ‘iya’ dengan lantang, kemudian dia mengatakan ‘Jangan dekati Luhan oppa, aku mencintainya, menyayanginya, menyukainya setulus hatiku. Bahkan perasaanmu pada Luhan oppa kalah Seohyun sunbae, aku benci melihatmu berdekatan dengannya!’

Luhan melebarkan matanya kaget menatap Seohyun. Ia baru tahu tetang hal ini. “Kamu bercandakan Seohyun-ah? Pasti iya! Kalau tidak, Hyerim pasti terpaksa mengatakannya karena aku tidak menyukaimu, agar kamu menjauh dariku.”

Seohyun menggeleng kuat, pertanda apa yang ia katakan benar dan perkataan Luhan salah. “Saat itu, aku menatap mata Hyerim. Semua orang tahu, sorot mata tidak bisa berbohong. Sorot mata Hyerim terlihat bersungguh-sungguh, tidak ada kebohongan dan keterpaksaan dari sana. Maka dari itu aku mundur teratur mengejarmu, karena menurutku percuma, kamu dan Hyerim saling mencintai.”

Luhan tertegun mendengar penjelasan Seohyun. Benarkah Hyerim mencintainya? Selama ini, Luhan selalu beranggapan begitu. Tapi nyatanya, gadis itu memilih lelaki lain.

“Aku sangat terkejut saat Hyerim mengirimkan undangan pernikahan padaku. Bukan karena ia akan mendahuluiku menikah. Tapi terkejut melihat nama mempelai prianya yang bukan namamu,”

“Sudahlah, Seohyun-ah. Hari ini Hyerim akan menikah dengan lelaki lain,”

“Lalu? Kamu akan membiarkannya? Kamu akan melepaskannya seperti ini? Kamu yakin tidak mau mengerjarnya dan meraihnya, Luhan-ah?”

“Percuma. Mencintainya seperti mencintai bintang, ia bersinar terang layaknya bintang dan terasa sangat dekat. Tapi saat ku ingin menggapainya, aku tidak bisa sama sekali, karena sang bintang memilih untuk tetap bersama bulan,”

Yak! Apa yang kamu katakan?! Belum terlambat, Luhan-ah. Hyerim belum sah menikah! Kamu bisa menggapainya! Karena kamulah bulannya!”

“Seohyun-ah, sudahlah..”

“Kamu ingin Hyerim menyesal nantinya karena baru menyadari bahwa ia mencintaimu?”

“Kalau begitu kenapa dia memilih Sehun?”

“Terkadang hati manusia tidak bisa ditebak. Kadang kita mencintai 2 orang sekaligus. Memang serakah, tapi hanya cinta yang tulus yang berpusat pada 1 orang. Dan cinta tulus dan yang sesungguhnya pada hati Hyerim adalah dirimu, Xi Luhan!”

“Seohyun-ah, aku hanya ingin dia bahagia dan tidak mengacaukan pernikahannya hari ini. Bahkan mempelai prianya adalah sepupuku yang sangat kusayangi . Ini pilihannya dan pilihanku juga, yang dulu terlalu pengecut untuk mengatakan perasaanku padanya.”

Kemudian, Luhan pergi meninggalkan Seohyun yang menatap punggungnya miris. Luhan benar-benar lelaki hebat, rela mengorbankan hatinya sakit untuk kebahagian orang yang ia sayangi.

***

Myeongdong Chatherdal, gereja katholik yang berada di daerah Myeongdong itu sudah dipenuhi para tamu yang menghadiri acara pemberkatan pernikahan Oh Sehun dan Kim Hyerim. Sementara acara resespi pernikahannya akan diadakan di ball room hotel Millennium Seoul Hilton, yang berposisi di tengah kota Seoul.

Saat memasuki pintu gereja, terpajang disamping kiri dan kanan, foto pre-wedding Hyerim-Sehun yang berukuran 40×50 pada bingkai kayu berwarna coklat tua. Karpet merah yang menunjukkan altar telah ditaburi kelopak bunga mawar putih. Bunga mawar putih dengan handbouqet disampirkan disetiap ujung bangku gereja.

“Sudah siap?” Suara berat seorang lelaki tedengar, tepat disamping Hyerim.

Hyerim menarik napas dan menghembuskannya perlahan, lalu mengangguk. Perlahan tapi pasti, ia meraih tangan ayahnya.

Keduanya mulai berjalan menuju altar. Hyerim dapat melihat orang-orang tesenyum padanya. Alunan instrument piano lagu Angel yang dimainkan Luhan mulai terdengar memenuhi gereja dan setiap langkah Hyerim. Dibalik grand piano putihnya, Luhan mengintip Hyerim yang sebentar lagi sampai diatas altar. Senyum gadis itu tak pernah pudar. Luhan tetap memainkan pianonya, berharap musik yang ia mainkan tak pernah berhenti.

noraega ullimyeon ije neoneun
geuwa pyeongsaengeul hamkkehajyo
oneuri oji ankireul geureoke na maeil bam gidohaenneunde
— Setelah musik berakhir,
— Kau akan bersamanya selamanya
— Aku berdoa dan berdoa agar hari ini tak akan datang

“Oppa, Seohyun sunbae menyukaimu,”

“Iya, aku tahu. Memangnya kenapa?”

“Tidak. Pacaran saja dengannya,”

“Shireo! Eh tunggu, jangan-jangan kamu cemburu?”

“Ahni!”

“Wajahmu merah, ahahah.”

“Menelpon siapa? Pacar barumu?”

“Bukan, itu sepupuku Oh Sehun. Untuk apa aku berpacaran, sementara ada dirimu, Hye-ah,”

“Oh Sehun sepupu kebanggaanmu itu? Yak! Oppa apa-apaan sih?!”

“Iya, dia tinggal di New York, padahal dia asli orang Korea. Dulu oppa diajarkan bahasa Korea dengannya. Kamu kan pacar oppa,”

“Oh, yang oppa tunjukan fotonya saat masih kecil bersama oppa, bukan? Pacar apa sih?”

“Iya. Lihat wajahmu merah! Ahaha!”

“Sehun saat kecil sangat tampan. Ish! Terserah.”

“Yak! Lebih tampan diriku!”

“Oppa, sampaikan salam kepada sepupumu itu ya,”

“Kim Hyerim sangat cantik ya, hyung,”

“Kenapa oppa yang datang? Kan Sehun yang mengajakku?”

“Katanya dia ada urusan mendadak, Hye-ah. Kenapa? Kamu tidak suka makan malam bersama oppa?”-‘Padahal Sehun sedang berusaha menyatukan kita sekarang, Hye-ah’

“Oh begitu. Tidak kok, aku senang mengabiskan makan malam ini bersama oppa. Setelah ini kita jalan-jalan ke Hangang Park, oke?”

“Dia sangat cantik dan sempurna, hyung. Izinkan aku bersamanya dan menikahinya,”

“Berbahagialah bersamanya. Merelakannya bersamamu adalah jalan yang terbaik,”

Luhan membuka matanya, masih memainkan permainan pianonya. Sekarang dia dapat melihat Hyerim tengah meraih tangan Sehun untuk menaiki altar. Dengan dilapisi gaun pengantin yang indah, Hyerim tampak sangat cantik.

“Tolong fotokan kami,” Hyerim melingkarkan tangannya di tangan kanan Luhan. Keduanya dengan dilapisi gaun pengantin tersenyum lebar kearah kamera. Sementara pekerja butik itu memfotokan mereka berdua.

nega ibeun wedingdeureseu
— Gaun pengantin yang kau pernah pakai

Luhan teringat saat mereka berfoto berdua di butik tempo itu. Luhan berandai-andai, bahwa ia dan Hyerim lah yang menikah hari ini. Seperti foto yang berada di ponselnya. Mereka berdua tesenyum lebar menggunakan baju pengantin.

“Kamu benar-benar mencintai Oh Sehun?”

“Sangat! Aku mencintainya setulus hatiku.”

nae mameul mollajwotdeon
— Kau yang tak pernah mengerti perasaanku

“Oppaaa!! Sehun menjadikanku kekasihnya!” Ucapan Hyerim tadi masih terngiang dengan jelas diotak Luhan.

Luhan tesenyum miris sambil melihati cincin emas putih dengan briliant kecil disudut kanannya. Hari ini, Luhan berniat mengungkapkan perasaannya pada Hyerim. Namun pupus sudah karena didahului oleh Sehun.

Luhan memainkan permainan pianonya makin cepat. Mengingat seuntai masa lalu yang berputar-putar diotaknya membuat emosinya memuncak dan perasaannya campur aduk. Tuhan! Aku ingin dia pergi dan lenyap bila bisa, agar aku tidak sakit hati melihatnya dengan orang lain. Gumam Luhan dalam hati.

nega neomu miwoseo
gakkeumeun nega bulhaenghagil nan baraesseo
— Karena itu, akhirnya aku membencimu
— Lalu aku berharap musibah menimpamu

“Tuhan memberikan hati untuk saling menyayangi dan mencintai. Kedua jiwa yang dipertemukan untuk melewati suka dan duka bersama. Karena cinta hanya memiliki dua wajah, yaitu kebahagian dan kesedihan,” Suara pastor terdengar memulai pidatonya.

Luhan memandangi Sehun dan Hyerim yang saling berhadapan dan tersenyum. Masih dengan alunan pianonya yang makin lama makin kacau. Tapi hadirin seakan tak menyadarinya dan terfokus pada kedua manusia yang sebentar lagi terikat dengan janji pernikahan.

“Oh Sehun, bersediakah anda menjadi suami dari Kim Hyerim. Dalam keadaan suka maupun duka, mencintainya dan menjaganya sampai akhir menutup mata?”

“Ya, saya bersedia,”

“Dan Kim Hyerim, bersediakah anda menjadi istri dari Oh Sehun. Dalam keadaan suka maupun duka, mencintainya dan mendampinginya sampai akhir menutup mata?”

Sebelum menjawabnya, Hyerim melirik sekilas kearah Luhan. Luhan hanya tersenyum simpul dan mengarahkan pandangannya kearah lain. Hyerim menggigit bibir bawahnya dan menghembuskan napasnya.

“Ya, saya berse..-”

‘BAANGGG!!!’

Luhan mengebrak tuts-tuts piano dengan kencang. Napasnya memburu, dan Luhan sudah bediri dari duduknya. Semua pandangan terarah kearahnya dengan tatapan heran. Luhan menatap lekat Hyerim yang balas menatapnya bingung. Ucapan Seohyun beberapa menit yang lalu terlintas di kepalanya, ‘Belum terlambat, Luhan-ah. Hyerim belum sah menikah! Kamu bisa menggapainya! Karena kamulah bulannya!’

“AKU MENCINTAIMU KIM HYERIM!” Luhan berteriak. Membuat semua orang termasuk Hyerim terkejut. “Aku mencintaimu dari dulu! Tapi akulah jalan yang menemukanmu dan menyatukanmu dengan Sehun. Aku…seharusnya aku yang menikah denganmu hari ini.”

“LUHAN-AH!” Teriakan Seohyun terdengar. Gadis itu sudah bediri dari duduk manisnya. Tak menyangka Luhan akan berbuat demikian, walau tadi dirinya lah yang menyuruh Luhan secara tak langsung.

Oppa..” Panggil Hyerim, shock.

Hyung…” Ucap Sehun tak kalah shocknya.

“Maafkan aku, maaf,” Ucap Luhan. Ia tak tahan lagi, lalu berlari keluar gereja.

Ekhem,” Sang pastor bedehem mencoba mencairkan suasana, sementara Hyerim masih memandangi pintu gereja, tempat Luhan menghilang. “Baiklah kita lanjutkan acaranya. Jadi, bagaimana dengan suadara Kim Hyerim, bersediakah anda menjadi istri..-?”

Oppa! Luhan oppa!” Hyerim berseru, lalu berlari meninggalkan gereja dengan mengangkat gaunnya.

Hadirin yang datang langsung ribut simpang siur. Sementara Sehun memandang kepergian Hyerim dengan terluka, sampai sebuah tangan menepuk bahunya.

“Pada nyatanya mereka lah yang saling mencintai,” Ucap Seohyun yang menepuk bahu Sehun.

***

Luhan berjalan tak tentu arah, tak tahu akan kemana. Perasaannya mulai campur aduk, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum, entah kenapa ia merasa sesak. Bayangan Hyerim berkelebat dikepalanya, senyum dan tawanya, kenangan indah keduanya.

OPPAAA!!” Teriakan itu terdengar. Luhan pikir ia sedang berhalusinasi sampai mendengar suara Hyerim, karena pada nyatanya ia sendiri sekarang tanpa gadis itu yang mungkin sekarang sudah sah menjadi istri Sehun. Luhan memejamkan matanya, tapi air mata yang ditahannya tak kunjung jatuh.

imi nae nunmureun da ma ma mareugo
beoreutcheoreom honja neoege malhago
— Tapi sekarang, mataku kering
— Kucoba bicara denganmu tetapi aku sadar bahwa aku sendirian

“Oppa!” Hyerim beseru kembali saat berhasil menemukan Luhan. Ia kembali berlari tapi terjatuh karena tersandung high heelsnya.

Hyerim meringgis menahan sakit, lalu melepas high heelsnya dan membuangnya. Kemudian bangkit dan berlari kearah Luhan dengan susah payah mengangkat gaun panjangnya.

Oppa, Luhan oppaa!!! Aku mencintaimu!”

Luhan merasa benar-benar sedang berhalusinasi. Tak mungkin Hyerim mengatakan hal tersebut. Ia kembali berjalan lagi, sementara Hyerim masih bersusah payah berlari mengejarnya. Ia tahu, Hyerim tak mungkin mengejarnya dan mencintainya walau ia mengatakan perasaanya. Semuanya itu hanyalah mimpi yang tak berujung dalam benaknya. Luhan menghentikan langkahnya dan memejamkan matanya.

maeil bam geureoke buranhaetdeongeol bomyeon nan
ireoke doelkkeoran geon aranneunjido molla
nan nuneul gama
kkeuchi eomneun kkumeul kkwo
jebal geureul tteona naege ogil
— Setiap malam, aku akan melihat kembali dan berpikir
— Jika aku sudah tahu hasilnya
— Lalu aku memejamkan mata
— Aku bermimpi mimpi yang tak berujung
— Lalu aku berdoa semoga dia akan pergi dari sisinya.

‘TIIINNN!!!’
“OPPPAAA!!! OPPAAA!!! AWAS!! AKU MENCINTAIMU!!” Teriak Hyerim saat sebuah truk melintas kearah Luhan.

Detik itu juga, Luhan membalikan badan kebelakang. Ia bisa melihat Hyerimnya berteriak, mengatakan mencintainya dan berlari kearahnya. Dirinya tak berhalusinasi.

‘BAK!’

Semua terasa singkat, saat truk itu menabraknya dan membuatnya terpental keras ke sisi kanan jalan. Hyerim menangis histeris sambil menghampiri Luhan. Ia mengangkat tubuh Luhan kepahanya, membuat gaun putihnya  bergelumuran darah.

Oppa,” Ucap Hyerim disela isakannya sambil menepuk pipi Luhan. “Aku mencintaimu, jangan pergi, maaf aku baru menyadarinya. Kumohon bertahanlah. Seseorang panggilkan ambulan!!” Hyerim berteriak sambil memandang kesekitar, mencoba mencari bantuan.

“Aku.. juga..mencintaimu,” Ucap Luhan terbata, Hyerim memeluknya erat. “Berbahagialah..
Ber..sama..Sehun.” Hyerim menggeleng kuat masih dengan air mata yang mengalir.

“Tidak! Aku mencintaimu!”

“Terlambat, Rim-ah,”

Ahnii, kumohon panggilkan ambulan!”

Orang yang menyaksikan kejadian itu mulai sibuk menelpon ambulan. “Hyerim-ah, cium aku sebagai tanda perpisahanmu,”

“Jangan katakan itu!”

“Cium aku!”

Hyerim pun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Bibir keduanya bertemu. Tak peduli dengan keadaan Luhan dan juga dimana mereka sekarang. Keduanya saling melumat bibir mereka, dengan air mata Hyerim yang masih turun dan mengenai pipi Luhan. Tautan mereka terlepas, keduanya saling menatap.

“Dengan gaunmu kamu sangat cantik. Maaf telah membuat gaunmu kotor. Harusnya kamu sudah sah menjadi istri Sehun sekarang. Bersamanya lah, Hyerim. Aku memang cinta tulusmu, tapi kebahagian abadimu adalah Sehun.” Ucap Luhan, ia merasa tidak sanggup lagi bernapas dan perlahan menutup matanya.

“Andwae!” Hyerim menggeleng dan berteriak sambil menguncang tubuh Luhan.

“Ter…senyumlah, ja..ngan mena..gis,” Ucap Luhan pelan nyaris seperti berbisik, tapi masih bisa di dengar Hyerim.

Gadis itu tersenyum sesuai permintaan Luhan. Hyerimnya tersenyum padanya, sebelum dirinya menutup matanya untuk selamanya. Tangis Hyerim pecah kembali diiringi hujan yang turun, saat Luhan menghembuskan napas terakhirnya.

budi geuwa haengbokhae
neoreul ijeul su itge
nae chorahaetdeon moseupdeureun da ijeojwo
birok handonganeun
 no oh
na jugeul mankeum himi deulgetjiman no oh

neomu oraen siganeul chakgak soge hollo babocheoreom saratjyo
ajikdo nae geunyeoneun nal bogo sae hayake utgo inneunde

nega ibeun wedingdeureseu

— Dengan segala cara, berbahagialah dengannya
— Jadi aku bisa terus berjalan
— Tolong hapus aku dari hatimu
— Meskipun aku mencoba sebisa mungkin tapi, tidak oh ~

— Aku sudah hidup berbohong terlalu lama
— Namun, dia akan melihatku dan tersenyum.

— Gaun pengantin yang kau pernah pakai

-Finish-

Entahlah Hye seneng banget buat FF oneshoot yg sedih dan berakhir mati gini-_- terlebih kalo ff itu terinpirasi dari sebuah lagu kayak gone dan FF ini. Ya semoga banyak membuat air mata mengalir/eh. Don’t forget RCL^^

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s