[FREELANCE] FRIENDSHI(T)P – (Vignette)


PhotoGrid_1457543933378

A Story By Yunietananda

FRIENDSHI(T)P

Choi Minho (Shinee), Min Ji Yeong (OC) || Nicole Han, Lee Eun Hi (OC) || Genre : Friendship, Romance, AU || Rating : PG-17 || Lenght : Vignette.

Minho Shinee mutlak milik dirinya sendiri, Keluarga, dan SM Ent. OC dan alur cerita murni hasil dari pemikiran Author. Ada pun kemiripan merupakan unsur ketidak sengajaan. Dilang mengCopy-Paste, Alih Bahasa, dan me-Repost tanpa ijin penulis.

Happy b’day buat eonni yang tengah bertambah usia. FF ini merupakan hadiah dari sahabat baikmu, Kak Thea. Karena FF ini aku tulis saat pemadaman listrik, jadi maafkan jika feelnya gak beraturan. /karena authornya benci banget pemadaman listrik/ (*Abaikan).

Hati-hati dengan banyaknya typo! Please, don’t be silent readers! Tinggalkan review, komentar, kritik serta saran. Karena opini kalian adalah oxigen bagi Author. 🙂

.

.

.

Krrrrriiiinggggg ~ Dering alarm yang berasal dari jam weaker diatas nakas samping ranjangku. Dengan kesadaran yang kurang dari 100% ku matikanlah benda berisik itu. Kini aku hampir tersadar sepenuhnya begitu melihat gambar lawas yang terbingkai apik tak jauh dari letak jam tadi.

“Bagaimana kabar kalian? Ini sudah hampir 10 Tahun kan?” Gumamku lirih sembari mengelus lembut wajah-wajah di foto tersebut. Hingga tak terasa aku pun terbawa oleh kenangan tepat dimana sebulan sebelum foto itu diambil.

.

.

.

Seoul, Spring 2006.

“Hya, apa kalian tahu? Aku kemarin melakukan pemotretan bersama Minho Oppa sebagai couple. Kyyaaa! Rasanya aku ingin menjerit saat tangan kekar Captain Basket itu menyentuh pundakku!” Oceh Nicole Han membuat nafsu makan siangku hilang mendadak.

“Aish, kau ini! Bukankah kalian sudah saling berjanji untuk tidak saling bertukar cerita tentang Minho Sunbae?” Celetuk Lee Eunhi seolah paham dengan ekspresiku.

“Ah, mianhae, aku kelepasan. Jeongmal mianhae Jiyeong-a!” Ujar Nicole kemudian menatapku.

“Uljimayo, nan gwaenchana.” Sahutku datar.

Dengan susah payah aku menahan rasa sakit yang menjalari ulu hatiku. Meski begitu, semarah apapun aku, tetap saja tidak lebih dari sehari. Apalagi terhadap Nicole dan Eunhi yang merupakan sahabat baikku sedari SMP.

.

Nicole Han, yeoja berparas cantik berdarah campuran Korea-USA yang merupakan Model sedari masa kanak-kanak dan memiliki kepribadian yang sangat anggun, adalah teman sebangkuku dari dulu hingga kini. Sifatnya yang murah senyum membuatnya gampang diterima oleh orang di sekitarnya.

Lee Eunhi, gadis berkacamata ini memiliki otak di atas rata-rata, membuatnya menjadi murid kesayangan hampir semua guru. Sikap calm-nya sering kali membuat kami, para sahabatnya merasa nyaman bertukar cerita dengannya. Tapi dibalik itu semua dia gadis yang cukup cerewet.

Jika dibandingkan dengan kedua sahabatku itu, akulah siswi paling biasa disini. Semua yang kumiliki bisa dibilang standart. Nilai, Wajah, status sosial semuanya biasa saja tidak ada yang istimewa.

Sejak pertama kali kami berada di kelas yang sama di SMP, sejak saat itu pula kami berkomitmen untuk menjalin persahabatan. Suka duka, tawa tangis, sering kami alami. Terlebih sebuah pertengkaran, itu sangat sering melanda kami. Baik mengenai hal-hal sepele hingga sesuatu yang berat seperti masalah seorang namja bernama Choi Minho.

Aku, Min Jiyeong dan temanku, Nicole Han sama-sama menyukai Choi Minho, hanya saja posisi kami sangat berbeda. Nicole Han menyukai Minho Oppa dengan berbagai alasan seperti ketampanan, kepopuleran serta bakat yang dimiliki oleh namja itu. Kedekatan antara keduanya pun bermula dari terpilihnya mereka sebagai Duta SMP kami. Ya, baik Nicole ataupun Minho adalah ulzzang dengan segudang talenta yang dimiliki.

Berbeda dengan Nicole, aku menyukai Minho Oppa tanpa alasan yang jelas. Aku hanya merasa bahagia saat namja itu menyebut namaku, jantungku berdebar hebat kala mata kami saling bertukar pandang, bahkan air mataku akan bergerak turun hanya karena melihat namja itu terluka ataupun cidera saat bermain basket. Aku memgenal Minho Oppa sejak lama, karena kami bertetangga.

.

.

.

“Wae geurae?” Tanya Eunhi membuyarkan lamunanku disuatu siang, kala itu Park Seonsaengnim tidak mengajar, hanya memberikan tugas sebagai gantinya.

Mollayo.” Gumamku lirih namun kuyakini bahwa Eunhi masih bisa mendengarnya.

Wae? Nicole ttaemune?”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Apa kalian kira selama ini aku tidak mengamati?”

“Ah ya itu benar. Sebenarnya aku tidak mau mengatakan hal ini, tapi aku merasa belakangan ini sikap Nicole sudah keterlaluan.” Ungkapku dengan perasaan sedih.

“Keterlaluan? Soal apa? Minho Sunbae?”

Dwae.”

“Oh ayolah! Aku tidak ingin melihat kalian bertengkar lagi hanya karena seorang namja.”

“Biarkan saja Eunhi-a! Kenapa kamu menghentikannya?” Sungut sebuah suara yang kukira tak masuk kelas hari ini.

“Nicole?” Seruku dan Eunhi bersamaan.

“Jadi, kalian bergosip di belakangku? Baiklah! Aku akan mengakui satu hal pada kalian, ah bukan! Lebih tepatnya padamu Min Jiyeong.” Aku tercekat begitu mendengar nada bicara Nicole yang tak biasa.

“Aku sudah muak dengan sikapmu! Asal kamu tahu, aku tak akan mengalah terus-menerus kepadamu mengenai Minho Oppa. Tak peduli sedekat apa kalian berdua, aku yakin bisa menjadi kekasihnya.” Ungkap Nicole.

Geumanhae Nicole-a! Aku tidak ingin bertengkar denganmu, jadi hentikan omong kosong ini.” Pintaku.

Wae? Apa kamu masih belum percaya diri untuk jujur kepada Minho Oppa terhadap perasaanmu? Huh, menyedihkan sekali.”

“Aku bilang hentikan!”

“Kita sudah kelas 2 SMA, dan aku tidak mau menyandang status single selamanya. Oleh karena itu aku akan mulai mendekati Minho Oppa. Jika kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita bersaing saja untuk mendapatkan hatinya?” Ujar Nicole dengan ekspresi aneh.

‘Shit!’ Kutukku dalam diam, pikiranku kalut. Aku tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi dan menimpa anak itu sehingga membuatnya berubah drastis begini.

Neo!” Gertakku namun dihentikan oleh Eunhi.

“Sudah cukup! Untuk sementara kita bertukar tempat duduk!” Seru Eunhi kepada Nicole yang kemudian menempati kursi milik Eunhi.

Sumpah demi apapun, aku berhasil dibuat kesal oleh Nicole. Ingin rasanya aku melupakan setiap kata yang diucapkannya, tapi itu mustahil lantaran hatiku terlampau sakit. Sejak hari itu aku dan Nicole melakoni perang dingin. Aku semakin marah ketika Nicole benar-benar serius dengan perkataannya yang akan mendekati Minho Oppa, dan aku beberapa kali menyaksikan sendiri bahwa dia memang tengah menjalankan aksinya.

.

.

.

Hampir 2 pekan berlalu, antara aku dan Nicole belum juga berbaikan. Untuk pertama kalinya kami saling menjauh dalam kurun waktu yang lumayan lama. Dulu, kami hanya perlu waktu setengah hari saja untuk bisa saling memaafkan satu sama lain.

Jujur saja aku sedih. Aku merasa kehilangan sahabat terbaikku. Aku juga menyesal, karena masalah ini Eunhi yang menjadi korban. Ya, gadis itu sepertinya sudah kehabisan akal untuk membuat kami berdua kembali akur. Namun disisi lain aku kecewa terhadap Nicole yang mengingkari perjanjian kami untuk tidak saling menjatuhkan. Aku juga marah padanya lantaran mencuri start untuk mendekati Minho Oppa.

Saat aku memikirkan hubungan kami, ada nyeri yang menyeruak di relung hatiku, bahkan dadaku terasa sesak. Dan tanpa disadari, tetes air mata mengaliri pipiku perlahan.

Uri mariya, Jinyeong-a!” Tegur seorang namja yang berjalan kearahku, dengan cepat aku menyeka tangis ini. Aku tidak mau Minho Oppa menghujaniku dengan sejuta pertanyaan yang akan memperburuk mood-ku.

“Huh, Oppa!” Sahutku dengan memaksakan senyuman.

Namja itu hanya diam begitu sudah berdiri dihadapanku. Tatapan matanya cukup sulit untuk diartikan. Tak ada kata hingga beberapa detik yang lalu, hal itu membuatku frustasi. “Oppa! Neo gwenchana?” Tanyaku.

“Huh? Mianh, kamu tadi bilang apa?”

“Aku tidak bilang apa-apa. Sebenarnya ada apa denganmu Oppa? Kenapa terlihat bingung?”

“Ah, ani. Aku hanya lelah. Belakangan ini jadwal pemotretan sangat menguras tenaga.”

“Kalau begitu harusnya Oppa istirahat saja di rumah.”

“Itu tidak mungkin, Tim Basket akan kacau jika aku tinggalkan mengingat tournament sudah didepan mata.”

“Oh begitu rupanya.”

“Ah, Jinyeong-a kenapa kamu sendirian? Dimana Eunhi dan Nicole? Bukankah kalian selalu bersama-sama?”

“Eunhi mungkin berada di perpustakaan, kalau Nicole aku tidak tahu.”

Wae? Apa kalian bertengkar?”

Dwae.”

“Apa masalahnya? Apa itu sangat serius?”

Geunyang…” Aku terdiam sejenak mencoba memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan namja ini. Tidak mungkin aku mengungkapkan kenyataan bahwa dialah penyebab pertengkaranku dengan Nicole.

“Jangan dijawab jika itu terlalu menyakitkan.” Tutur Minho Oppa membuatku tersentak. “Aku harap kalian segera berbaikan.” -Hening- “Aku pergi dulu ya!” Pamitnya.

Jamkkanmam, Oppa!” Teriakku.

Mworagu?”

“Maaf, tidak jadi. Jal gayo, Oppa!”

Gomapta, Jiyeong-a!” Sambutnya sembari melambaikan tangannya. Kini aku hanya bisa melihatnya berbalik lalu punggung itu semakin menjauh dari tempatku berpijak. Lagi-lagi butiran bening menyelinap tanpa permisi dari sudut netraku yang terasa perih.

.

.

.

Keesokan harinya, aku berniat berbelanja keperluan bulananku sepulang sekolah. Biasanya aku selalu ditemani oleh Nicole juga Eunhi tapi kali ini berbeda, aku pergi ke pusat perbelanjaan seorang diri.

Kakiku terhenti tepat disebuah butik ternama. Aku teringat akan hasratku sebulan yang lalu terhadap salah satu dress disini. Dengan percaya diri aku pun memasuki butik itu dan langsung menuju tempat dress limited edition itu berada.

Tiba-tiba langkah ini berhenti dengan sendirinya saat mendapati dua sosok yang tengah berada di tempat tujuanku. Sakit, perih dan sejumlah rasa negatif lainnya menyerang hatiku secara bersamaan.

Bulir-bulir bening meluncur tanpa rasa malu ketika mendapati sepasang muda-mudi itu tertawa lepas, terlebih saat mata ini menangkap bahwa sang gadis mengambil satu-satunya dress incaranku yang tersisa. ‘Apa ini pertanda bahwa aku sudah kalah?’ Pikirku yang tanpa berpikir panjang, angkat kaki menjauh dari tempat itu.

.

.

.

Ottawa, Middle Spring 2016.

Saengil chukahabnida, chagi!” Bisik seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang.

“Apa Oppa yang men-setting alarm tepat pukul 00.01 AM?” Tanyaku yang sudah berbalik menghadap lawan bicaraku.

Dwae, apa itu membuatmu kesal, chagi?”

“Kenapa Oppa melakukannya? Oppa kan tahu kalau aku baru tidur selama 2 jam dan… ” –Chu– ucapanku terhenti oleh sebuah ciuman hangat dari namja ini.

“Karena kamu semakin cantik jika sedang marah.” Jawabnya yang kian mempererat pelukannya. “Hadiah apa yang kamu inginkan dariku tahun ini?” Lanjutnya.

“Aku ingin bertemu kedua sahabatku.” Celetukku asal.

Call! Persiapkanlah segala sesuatunya karena pesawat kita menuju Korea akan berangkat pukul 06.59 AM.”

Jeongmalyo? Aish, gomawo Oppa! Naneun saranghae!” Seruku yang hampir beranjak dari tempat tidur kami.

Jamkkamman! Mana hadiah untukku?” Cegahnya menuntut balasan atas apa yang dia berikan padaku. Sekilas namja itu melirik buah hati kami yang tengah tertidur pulas di tempat tidurnya sembari tersenyum nakal sebagai suatu kode.

“Aku akan memberikannya saat tiba di Seoul!” Ujarku yang ku pastikan berhasil membuat suamiku itu kesal. Dengan riang aku mengemasi beberapa pakaian kami bertiga kedalam koper masing-masing sembari sesekali melirik deretan pigura didalam lemari kaca yang berisi potretku bersama Nicole dan Eunhi selama ini.

.

.

.

My birthday, 2006.

Kedua indera pengelihatanku membulat seketika kala 3 sosok orang yang sangat ku kenal telah berdiri di samping ranjangku. Mereka membawa beberapa kotak terbungkus rapi beserta tart cake lengkap dengan lilin diatasnya.

Saengil chukhae, uri Jinyeong-a!” Teriak mereka kompak.

“Kalian?” Gumamku lirih dan kembali menitihkan air mata.

“Hya! Kenapa kamu menangis? Ini kan hari bahagiamu!” Sungut Nicole yang dengam cepat menghapus kristal bening dari wajahku. “Apa kamu masih marah padaku, Jinyeong-a?”

“A.. aniyo.” Jawabku berbohong bermaksud menyudahi perang dingin diantara kami berdua.

Keojinmal hajima! Aku tahu kalau kamu masih marah padaku. Maaf karena sudah berhasil mengerjaimu sebulan terakhir ini.” Ujar Nicole sembari memelukku.

“Mengerjaiku? Hya! Neo!” Sungutku beberapa menit setelahnya.

Mianh! Aku bosan jika harus merayakan ulang tahunmu dengan cara yang biasa. Oleh karena itu aku sudah merencakan jauh sebelum ini untuk membuatmu emosi.” Ungkap Nicole dengan mudahnya. “Kamu tahu Jinyeong-a? Terkadang kesabaranmu itu membuatku jengah. Sesekali aku ingin melihatmu marah, membentak ataupun menangis. Karena itu jauh lebih normal.” Imbuhnya.

“Intinya, Nicole hanya bercanda selama ini. Dia hanya ingin memberikan kejutan untukmu.” Timpal Eunhi yang mencoba meluruskan perkataan dari Nicole.

“Huuaaa! Kalian kejam sekali!” Teriakku memecahkan keheningan. Lalu kedua sahabatku itu berhamburan kearahku dan memelukku mencoba menghentikan tangisan konyolku. Sejujurnya ini memang pertama kalinya aku meluapkan emosiku seperti ini, lantaran sebelumnya aku hanya memendam serta menyembunyikannya dibalik senyumam. Berusaha sabar, begitulah komitmenku.

“Hya! Oppa! Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin membantu kami menenangkan Jiyeong?” Bentak Nicole kepada namja yang hanya tersenyum melihat tingkah kami.

“Baiklah, ijinkan aku mencoba meredam tangisnya.” Ujar namja itu membuat Nicole dan Eunhi pergi dari kasurku. Lalu Minho Oppa duduk ditempat yang tadi ditempati oleh Nicole. Bukannya terdiam, aku semakin terisak kencang kala mengingat kejadian di butik beberapa hari sebelumnya.

Jari-jari yang terasa hangat dengan lembut mengangkat daguku agar sejajr dengan wajahnya lalu kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Hal itu berhasil membuatku terbelalak sekaligus tertegun.

Naneun joh-ae, Min Jiyeong.” Aku Minho Oppa.

Mwo?” Seruku spontan. “Bukankah Oppa menyukai Nicole?”

Mwo? Apa itu benar Oppa?” Sahut Nicole antusias. “Aku sangat bersyukur jika apa yang diucapkan Jinyeong adalah kenyataan.” Lanjut gadis itu kemudian tertawa lepas.

“Maaf Nic, tapi aku menyukai Jiyeong lebih dari yang kalian tahu.” Ungkap namja itu dengan tenang.

“Tapi aku melihat kalian berbelanja di butik bersama! Bahkan kalian tertawa lepas dan terlihat sangat akrab.” Sangkalku yang belum percaya dengan ucapan Minho Oppa.

“Apa kamu melihat kami membeli ini?” Tanya Nicole sembari membuka kotak berwarna biru langit yang berisi dress idamanku. “Ini hadiah untukmu bodoh!”

Mwo?”

“Maaf juga karena aku terlalu bersemangat untuk memancingmu agar mengungkapkan perasaan kepada Minho Oppa. Jeongmal mianhae.

“Hya! Nicole Han-ssi!” Sungutku kesal.

“Sepertinya kamu sudah salah paham.” Tutur Minho Oppa sambil mengusap puncak kepalaku.

Aigoo, kalian ini pasangan yang aneh! Jadi Sunbae, apa kalian resmi berpacaran mulai hari ini?” Cibir Eunhi dengan tatapan menyelidik kearah lelaki yang duduk di kelas satu tingkat diatas kami.

Ani.” Jawab namja tampan itu berhasil membuat jantungku terhenti sejenak. Aku percaya bahwa kedua temanku sama terkejutnya denganku saat ini.

“Hya! Bukankah Oppa bilang kalau Oppa menyukai Jiyoeng? Lagipula Oppa juga baru saja merebut ciuman pertama milik Jiyeong!” Cercah Nicole emosi.

“Dari awal aku tidak berencana untuk berkencan dengan Jiyeong.” -Hening sejenak, dan aku merasakan nyeri yang berlebih saat ini- “Kedua orang tua kami sedang berbicara serius di lantai bawah. Jika Jiyeong dan orang tuanya setuju, setelah lulus SMA aku akan bertunangan atau justru langsung menikahinya agar bisa membawanya ke Kanada bersamaku.”

MWO? Menikah???”

-FIN-

By. Yunietananda

09.03.2016

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s