[Vignette] The Hate


FB_IMG_1455290237904

THE HATE

 

an absurd fanfic by narinputri

starring : [17] Joshua and [OC] Chae supporting cast : find by yourself genre : slight!comedy, school life, a bit fluff rating : PG-15 (for cursing and hars words) length : vignette

credit pic as tagged

 

 

“Sampai kapanpun aku akan tetap membencimu, Hong Jisoo!”

 

==000==

 

Ini bukan pertama kali bagi Yoon Chae, tidur di dalam kelas kala guru tengah mengajar. Mungkin guru lain terbiasa akan kelakuan Chae yang terkenal dengan kemalasannya. Namun, tidak untuk guru mata pelajaran bahasa Inggris ini.

“Yoon Chae,” satu panggilan halus yang tak akan pernah bisa membangunkan Chae dari tidur siangnya.

“Yoon Chae!”

Naik satu oktaf panggilan dari guru tersebut, namun gadis itu bergeming. Melesatlah sebuah penghapus kayu ke arah Chae tepat mengenai kepalanya, hingga gadis itu terbangun sembari mengaduh kesakitan.

“Sudah puas tidurnya, wahai putri tidur?” sarkas guru bahasa Inggris bernama Hong Jisoo yang kerap disapa Joshua itu dengan senyum manis, dan itu membuat Chae ingin muntah memandangnya.

“Cepat baca text halaman 102 dengan lantang, atau aku akan menyuruhmu memikul ember berisi air di depan kelas!” perintah Jisoo dengan ancaman. Karena ia tahu dengan ancaman, Chae pasti akan melakukan perintah. Begitulah tipikal orang pemalas.

Dan sial bagi Chae, dia bisa dikatakan hancur dalam pelajaran bahasa Inggris. Dalam hati ia mengumpat, kenapa harus ada pelajaran bahasa Inggris di dunia ini, dengan seorang guru yang membuatnya ingin memaki dan mengatainya jika bertemu.

Once upon a time, a very poor woodcutter lived in a tiny cottage in the forest with his two children, Hansel and Gretel—“

“Hei, Chae! Kau membaca buku atau berkumur-kumur?” ejekan Jihoon kepada Chae tak pelak membuat seisi ruang kelas tertawa mendengarnya, karena memang pengucapan Chae tak jelas juga lucu.

“Berisik, dasar kerdil! Makan bambu saja sana biar cepat tinggi tubuhmu!”

Jangan lupa jika lontaran yang keluar dari bibir ranum gadis bertubuh sedang itu menyakitkan atau terkadang membuat emosi. Berbicara seenaknya tanpa kendali itu yang sering Chae lakukan jika ia tersinggung atau tidak menyukai suatu hal.

“Ah, Yoon Chae. Mungkin kau harus berlatih dengan muridku di taman kanak-kanak, karena bahasa Inggrisnya lebih baik dari dirimu.”

Rupanya guru muda itu sengaja menyulut sumbu peperangan pada gadis temperamental itu, hingga terdengar gebrakan keras dari arah meja Chae. Lantas Chae melangkahkan kedua kakinya ke arah Jisoo di depan kelas dengan tatapan nyalang dan…

Melayang sebuah tinju tepat mengenai paras rupawan Jisoo. Seketika seisi kelas menjadi hening serta tegang melihat insiden tersebut.

“Sialan kau! Jangan mentang-mentang kau itu seumuran denganku dan seorang guru, kau bisa seenaknya mengataiku! Kemana otakmu saat kau berbicara, huh!”

.

.

.

.

“Ini sudah kali ketiganya kau mendapat peringatan, karena berlaku kasar pada seorang guru. Dan lagi-lagi, Pak Hong korban dari sikapmu!”

Hanya diam seraya menunduk malu yang dilakukan Chae, di depan wali kelasnya bersama Jisoo yang tengah mengompres pipi bengkaknya akibat pukulan gadis taekwondoin itu.

“Dan dengan sangat berat hati, aku akan memberikan skorsing kepadamu karena apa yang telah kau perbuat kepada Pak Hong.”

Chae merasakan kedua matanya begitu panas serta mengganjal. Seperti sesuatu ingin keluar dari matanya. Saat itu pula ia ingin memaki pemuda yang berasal dari Amerika itu.

“Eum, Bu Son Seungwan. Apa itu tidak berlebihan? Lagipula, tak ada luka sama sekali di badan saya dan… Yoon Chae mungkin saja sedang dalam mood yang tak baik. Jadi mungkin ia melampiaskannya kepada saya.”

Suara lembut Jisoo memasuki rungu Chae seperti memberi ketenangan baginya entah mengapa. Padahal ia begitu membencinya.

“Pak Hong Jisoo, anda terlalu sering membela Yoon Chae. Janganlah terlalu baik kepadanya, sekali-kali ia harus diberi pembelajaran agar tak mengulanginya lagi!” ucap Seungwan dengan nada tinggi agar seisi ruang guru itu mendengar ucapannya.

“Tapi Bu, apa dengan memberikan skorsing itu sama dengan memberi pembelajaran? Jika Ibu memberikan skorsing, Yoon Chae akan tertinggal berbagai macam materi yang keluar dalam ujian yang akan datang. Dan bila hal itu terjadi, Yoon Chae tak akan mungkin paham dengan soal ujian yang keluar dan mengakibatkan nilainya menjadi anjlok hingga akhirnya gagal dalam ujian. Anda tak ingin hal itu terjadi pada Yoon Chae bukan?”

Seungwan terkatup mendengar perkataan panjang dari Jisoo, sementara Chae terdiam mengepalkan tangan erat. Ia merasa tenang mendengar ucapan pemuda itu, tapi di sisi lain Chae muak dengan kata-kata manis Jisoo yang selalu membuat dirinya terlihat lemah.

“Lagipula, ini juga salah saya karena berkata kasar kepada Cha—“

“CUKUP HONG JISOO! AKU MUAK MENDENGAR UCAPANMU! TAK PERLU MEMBELAKU! DASAR ULAR SIALAN!”

Chae keluar dan meninggalkan ruangan tersebut dengan cepat tanpa mempedulikan panggilan Jisoo. Persetan dengan Hong Jisoo! Lelaki menyebalkan yang pernah ia temui sepanjang hidupnya! Begitulah kira-kira umpatan Chae dalam hati untuk gurunya tersebut.

“Chae-oli!” Panggil Seokmin sembari merangkul pundak Chae begitu saja.

“Bisa tidak sih, kau tak memanggilku seperti itu? Aku bukan bebek!” sungut Chae meninju dada Seokmin.

“Karena kau cerewet seperti bebek, jadi aku memanggilmu seperti itu.”

Chae memukul pundak Seokmin dan pemuda itu menjitak kepala Chae. Tak mau kalah, gadis itu menendang kaki Seokmin, lalu Seokmin membalasnya dengan mencubit pipi gempil Chae. Pada akhirnya mereka berdua saling berkejaran di lorong kelas sampai taman sekolah layaknya bocah. Terkadang mereka berdua berhenti sejenak, melakukan perkelahian ala video game dengan gerakan slow motion, kemudian kembali berkejaran. Para murid terbiasa melihat tingkah duo yang terkenal dengan kekonyolan. Sebagian hanya melihat sekali lalu walau ada yang tertawa melihat tingkah mereka.

“Seokminieeeeee, aku akan datang dengan kekuatan bulan!” seru Chae menirukan pose ala Sailor Moon.

“Baiklah! Tunggu rasengan dariku, Chae-oli!” kata Seokmin tak kalah dengan gaya seperti Naruto.

Ketika mereka hendak ‘menyerang’, sebuah tangan menggenggam lengan Chae dan menghentikan langkah gadis itu. Tak lain adalah Hong Jisoo, sang pemilik tangan itu. Sekejap, mimik Chae berubah menjadi muak tatkala memandang sosok guru berparas rupawan itu, walau ada gemuruh dalam dada yang membuat wajahnya terasa panas.

“Mau apa lagi? Belum puas menginjak-injak diriku?” sembur Chae.

“Ikutlah denganku sebentar,” kata Jisoo ramah menggandeng tangan Chae lembut, namun ditepis oleh gadis itu kasar.

“Tidak mau! Aku tidak sudi berbicara denganmu!”

Jisoo tersenyum memandang Chae dengan kedua iris beningnya. Lagi-lagi, Chae membenci tatapan dan senyuman milik Jisoo, meskipun ia ingin sekali memandangnya dari dekat. Ada sebuah desiran hebat kala Jisoo berada di dekatnya.

“Turuti saja perintah Pak Joshua, Chae. Mungkin ia akan memaafkanmu atas sikapmu tadi,” ucap Seokmin yang entah kenapa mendadak berpihak pada Jisoo.

Mengembuskan napas kasar merupakan tanda jika Chae menuruti permintaan seseorang dengan terpaksa. Masih dengan senyuman manis, Jisoo menggenggam halus tangan Chae dan mengajaknya ke suatu tempat. Para guru dan murid terbiasa dengan sikap sopan dan manis Jisoo kepada murid-murid dan para guru. Tak heran jika guru muda itu banyak disukai oleh para siswi dan guru wanita karena sikapnya.

Di belakang gedung olahraga, langkah mereka berhenti dan Chae melepaskan tangan Jisoo kasar.

“Kau mau berkata apa? Dengar ya! Aku tak suka dengan kehadiranmu di sini! Kau pikir pertemuan pertama saat itu hal yang menyenangkan? Kau pikir ditertawakan oleh orang lain itu lucu? Jangan karena kau mentang-mentang fasih dalam bahasa Inggris, kau bisa merendahkan diriku begitu saja! Dan aku tak butuh pembelaanmu kepadaku! Aku muak mendengar kata-kata manismu tapi kau seperti ular, dasar sialan! Kenapa kau tak mati saja dan masuk ke Neraka untuk bertemu penghuni lainnya yang seperti dirimu! Dasar penghancur hidup orang! Kau itu cocok berada di Neraka bersama para iblis!”

Sejemang, Jisoo terdiam melihat Chae yang menyerocos begitu saja kepadanya tanpa rem. Kemudian ia tersenyum tulus seraya menepuk kepala Chae pelan lalu mengacak surai legam gadis itu.

“Ternyata kau cerewet sekali ya. Pantas saja kau dipanggil bebek,” ucap Jisoo ramah dengan tawa kecil.

You reminds me with someone that I knew before.”

Wajah Chae sontak memerah diikuti degup jantung yang berpacu dengan kencang, serta kulit mukanya terasa begitu panas. Segera ia tangkis tangan Jisoo, lantas melayangkan tendangan pada kaki Jisoo bersamaan pukulan keras pada kepala guru muda itu.

“Dengar!” Chae menarik napas dalam-dalam dan mengucapkan kata-kata yang akan ia sesali kemudian.

“Sampai kapanpun aku akan tetap membencimu, Hong Jisoo!”

Melangkahlah Chae meninggalkan Jisoo yang mengaduh kesakitan di tempat itu. Sampai kapanpun, Chae membenci Jisoo dan akan tetap membencinya. Ia tak akan pernah menyukai segala sesuatu yang ada di diri Jisoo apapun itu. Tetap membenci pemuda itu, tanpa ia sadari bahwa Jisoo ingin merebut hatinya diam-diam.

 

-end-

 

a/n : like serious, apade wa bikin fanfic dan publish jam segini ya Allah wa ga bisa tidur. Takutnya besok yang online V App itu Jisoo ASDFGJKLHBNERTYOMERTWUXC. Eh ga ding, biasku bukan Jisoo, biasku Seokmin bye /YALUGAUSAHIKUT2ANCHAENYEDH/

ohya karena LyJosh udah end (?) aku bikin pair baru huahahaha. Introducing the abnormal girl Yoon Chae! /ditebas Chae/

terus ini mereka jadinya gimana? Ya gatau deh tunggu lanjutannya aja WAKAKAKAKA. Dan maaf tulisan tambah ancur karena serius aku lagi ga mood nulis dan ini dipaksain huhuhu ;___;

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s