[FREELANCE] Bestfriend


deeea14fe8443edc3c039ae6da0c90df

 

Bestfriend

by Nathaniel Jung

GOT7‘s Kunpimook Bhuwakul (Bambam) x OC‘s Anne

friendship, hurt

G

vignette

This is mine. Don’t be a plagiator. Be a good readers.

credit picture from google

“Tenangkan dulu dirimu, baru kau ceritakan masalahmu padaku.”

“Anne, kau di mana?”

Pemuda jangkung melangkah masuk ke sebuah apartemen yang hanya dihuni seorang gadis seusianya yang belum genap dua puluh dua tahun. Adalah Bambam selaku sahabat Si Gadis.

Bambam baru akan terlelap tidur sebelum Anne menelponnya malam-malam. Jika tidak sedang dalam keadaan genting seperti sekarang, mana mau Bambam keluar rumah. Mau menerima omelan manager mereka karena beralasan pergi keluar karena sesuatu yang gawat.

Tapi memang benar ini kalau keadaan sedang darurat.

Bambam yakin kalau ia tak salah dengar, Anne menghubunginya tengah malam dengan suaranya yang serak. Anne tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Terakhir adalah sepuluh tahun yang lalu, saat upacara pemakaman kedua orang tuanya.

Anne menangis.

Bambam bahkan belum pernah melihat sahabatnya ini menitikkan air matanya sebutirpun. Anne adalah sosok yang jauh dari kata gadia cengeng. Anne sosok penyemangat bagi Bambam. Malah Bambam lah yang sering merepotkan Anne dengan segala tingkah kekanakannya.

Jadi, tanpa berpikir panjang Bambam yakin beribu-ribu persen bahwa Anne sedang membutuhkan seseorang. Gadis itu tengah kacau. Berada di titik terendah dari batas tekanan yang ia terima setiap hari.

“Anne?!”

Bambam bergerak gelisah mencari keberadaan Anne. Bahkan apartemen ini sunyi. Bak tak berpenghuni.

Bambam berjalan menuju kamar Anne yang tepat berada di samping kanan ruang tengah. Perasaannya mendadak ikut resah. Ini pertama kalinya Anne seperti ini setelah sekian lama. Bambam belum pernah menghadapi seorang gadis yang dirundung kacau.

Seharusnya tadi ia mengajak Jackson untuk membantunya menenangkan Anne. Bambam juga tak pandai memberi solusi, bisa jadi malah ia membuat Anne semakin terpuruk ‘kan?

“Anne, kau di dalam?” bisik pelan Bambam.

Pemuda Thailand itu melihat jelas siluet tubuh seorang gadis yang tengah terduduk sendiri di balkon kamar. Surai gelap sepunggungnya tampak tak tertata rapi. Pakaian yang ia kenakan pun tak kalah kusut dengan rambutnya.

Bambam melangkah pelan menuju keberadaan Si Gadis. Menyingkarkan beberapa barang yang berserakan di lantai. Sedikit terkejut mendapati foto seorang pemuda yang ia kenal betul siapa itu.

Laki-laki itu lagi…

“Anne, apa lagi masalahnya?”

Bambam sudah duduk menyamankan diri di samping Anne. Benar dugaannya kalau gadis ini terlihat sangat kacau. Matanya bengkak dan memerah. Di wajahnya masih terlihat jelas air mata yang belum kering. Pandangannya kosong menerawang. Bibir yang biasa merekah manis, kini tak ubahnya terlihat kering pucat. Bambam tak salah lihat kalau di ujung bibir gadis ini terdapat bercak darah yang mengering.

“Jungkook…” lirih Anne. Matanya kembali berkaca-kaca. Dengan sigap Bambam meraih bahu Anne, memberikan pelukan hangatnya. Anne kembali terisak dalam heningnya malam.

“Tenangkan dulu dirimu, baru kau ceritakan masalahmu padaku.”

Tangan Bambam bergerak menepuk pelan beberapa kali punggung Anne. Sesekali mengusapnya saat gadis itu terdengar begitu menahan kesakitan.

Bambam merasakan pilu yang tengah Anne rasakan. Hatinya bergetar miris melihat sahabatnya yang sudah ia anggap seperti saudara ini menjerit tertahan.

Anne sudah cukup menderita sendirian. Bahkan ia hidup di dunia hanya sendiri. Ibunya berpesan kepada Bambam, untuk selalu menjaga Anne selayaknya keluarganya sendiri.

Ibu Bambam sangat menyayangi Anne seperti beliau menyayangi anak-anaknya yang lain. Ibunya juga yang membelikan apartemen ini untuk Anne. Sebab itulah, Bambam selalu ada untuk Anne. Namun gadis itu sendiri yang memang bebal, untuk sekedar bercerita tentang masalah yang ia hadapi.

Jika sudah sangat merasa tak mampu menahan beban sendiri, Anne hanya bisa menangis seperti sekarang. Itu merupakan pekerjaan rumah bagi Bambam, yakni harus bisa menguasai situasi dan mengontrol emosi di kala Anne membutuhkannya.

Setelah dirasa Anne sudah tenang dan tak terisak lagi, Bambam melepaskan pelukannya. Menatap iris cantik yang seakan kehilangan cahayanya.

“Bam?”

“Hm? Jangan kau paksakan jika kau tak kuat.”

Anne menggeleng pelan. “Justru aku tak kuat untuk menahannya sendiri aku ingin menceritakannya padamu.”

“Baiklah. Apa itu Tuan Putri?” ujar Bambam dengan tersenyum.

“Laki-laki itu memutuskanku setelah hampir lima tahun bersama. Aku tak masalah kalau dia memutuskanku dengan alasan kalau ia ingin mengejar cita-citanya sebagai seorang aktor. Aku paham  semenjak awal aku berjumpa dengannya, ia sudah terlihat memiliki ketertarikan besar terhadap bidang itu. Tapi—”

Anne menjeda kalimatnya. Ia terlihat menahan sakit di ulu hatinya saat ia menjeda. Bambam meraih tangan Anne dan mengusapnya pelan.

“—ternyata itu hanya sebuah alasan di balik alasan. Ia berselingkuh dengan perempuan lain. Perempuan yang sudah kuanggap sahabat sendiri. Mereka bermain di belakangku bahkan nyaris sama dengan waktuku bersama dengan laki-laki brengsek itu.”

“Aku terlihat bodoh bukan? Seharusnya dulu aku mendengar peringatanmu untuk tidak berdekatan dengan laki-laki itu. Aku menyesal sudah mengenalnya. Aku menyesal jatuh hati padanya. Waktuku empat tahun terasa sia-sia kugunakan bersamanya…”

“Bahkan mereka akan melangsungkan pertunangannya tiga bulan lagi. Bertepatan dengan hari jadi kami yang kelima. Dia bahkan pernah berjanji akan melamarku tepat pada tahun kelima hari jadi kami. Aku sungguh kecewa padanya. Terlebih pada diriku sendiri yang nyatanya begitu bodoh hanya karena seorang laki-laki.”

“Lantas apa yang harus kuperbuat sekarang? Mengemis cinta padanya? Ck, harga diriku tak serendah itu.”

Di akhir kalimatnya, Anne kembali menatap kosong langit gelap yang bahkan tak memberi bintang satu pun.

Berpikir sejenak membenarkan ucapan Anne. Bambam tahu jika Anne masih memiliki masalah lainnya, namun urung ia katakan. Anne hanya mengatakan satu masalah yang benar-benar menjadi puncak dari segala masalah yang ia hadapi.

“Anne, mungkin aku bukan pemberi solusi yang baik. Dan, maafkan aku kalau kau tak merasa lebih baik setelah kedatanganku kemari.”

“Tapi, dalam hatiku yang terdalam. Aku bisa merasakan kepedihan yang juga kau rasakan, Anne. Aku hanya ingin menyampaikan, jangan banyak berharap pada dia yang tak menghargaimu. Terkadang, perpisahan adalah kebahagiaan. Karena mungkin kau akan merasa lebih tersakiti jika tidak berpisah saat ini.”

Perlahan sorot kesedihan yang terpancar begitu gamblang dalam mata Anne pudar. Tergantikan dengan cahaya yang seharusnya berada di sana.

“Bambam.”

Anne sudah sepenuhnya menghadap Bambam. Wajah lesunya menunjukkan sebuah senyuman manis yang dirindukan bulan. Sepantasnya Anne menjadi sosok yang penuh dengan semangat dan keceriaan.

“Kau tahu, kau datang kemari saja sudah membuat perasaanku sedikit membaik. Untuk nasehatmu, aku merasa perlu berterimakasih padamu. Itupun kurasa tak cukup jika hanya dengan kata-kata.”

“Eih, jangan berterimakasih padaku. Asal kau tahu, kata-kata yang kuucapkan tadi itu sama persis dengan dialogku dalam adeganku di drama yang baru nanti. Jadi, tak perlu repot-repot memberiku tanda terimakasih. Melihatmu tersenyum seperti biasa, itu sudah lebih dari cukup.”

Anne tersenyum semakin merekah. Ia menarik Bambam dalam pelukannya. Menyalurkan rasa terimakasih melalui dekapan kedua tangan ringkihnya. Keduanya saling tersenyum.

“Bam, asal kau tahu. Kau sahabat terbaik yang kumiliki.” —Anne

 

 

 

 

 

FIN

 

Notes:

Halooo! Kali ini ambil pasangan sahabat (bukan frenzon) Bambam sama Anne, yeay!!

Gatau ini menurut kalian bagaimana. Soalnya aku buat ini gara-gara baca rumor Jungkook dating sama cewek inisial KSH, hehe… ditunggu review kalian, ppyong ~!

Advertisements

One thought on “[FREELANCE] Bestfriend

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s