[FREELANCE] Left Behind


tumblr_o19felZxZ01u2go3io1_400

a Vignette by slmnabil

artist IKON’s Kim Hanbin x Oc’s Kyla genre Romance rating PG-15

.

Hanbin, ini Kyla. Ya, Kyla yang itu. Uhm…. aku tahu ini agak sulit, tapi bolehkah aku mampir ke tempatmu? Ada barangku yang tertinggal.

.

Mungkin tindakanku ini–yang akan terealisasikan dalam beberapa menit–akan menuai gelar orang paling tolol. Bahwa aku tahu ada masalah yang menungguiku di depan sana, dan dengan kesadaran penuh sepasang kakiku bergesekan dengan permukaan tanah untuk menemui permasalahan itu. Ini sinting, tapi anggaplah sinting adalah nama tengahku. Lagipula aku tidak bisa menyalahkan Hanbin dan fakta kalau kami berpisah di waktu yang oh-sangat-tidak-tepat.

“Bisa-bisanya kamu meninggalkan proyek kelompok kita di tempatnya!” bentak Cindy marah. Ya, ya, aku tahu reaksinya adalah yang ternormal. Tapi serius, deh, bagaimana aku tahu kalau malamnya aku akan putus dengan Hanbin? Tidak semua orang bisa jadi Alice Cullen.

“Lalu kamu mau aku melakukan apa? Menelpon mantan pacar yang kuputuskan semalam dan merengek minta kunci apartemennya?” balasku enggan.

Rasanya nyaris seperti menjejalkan kembali permen karet yang kubuang di detik sebelumnya. Ditambah gengsiku yang mencapai horizon, kurasa argumen ini tak akan menemui akhir. Ngeri membayangkan bertemu kembali dengan Hanbin setelah apa yang kukatakan padanya semalam.

“Urusi urusanmu sendiri, Hanbin, karena itulah yang akan aku lakukan. Selamat tinggal.”

Daripada reaksi Hanbin, aku lebih mengkhawatirkan apakah aku sanggup menanggung malu. Sumpah, deh.

“Ya, lakukan itu,” kata Cindy. Aku menaikkan sebelah alis. Apa dia bilang tadi? “Merengeklah dan minta kunci apartemennya.”

Sialan.

“Atau aku akan mengadukanmu pada Mrs. Moore,” ancamnya.

“Kau bercanda.”

“Kau tahu aku tidak.”

Cindy memang temanku, well meski terakhir kali kuperiksa tidak begitu. Tapi dia selalu serius dengan perkataannya, dan aku benar-benar ingin membunuhnya sekarang.

“Jadi?” ia memastikan.

Oke, aku kalah. Lagipula dapat nilai F di kelas Mrs. Moore adalah tindakan bodoh lain setelah bunuh dirinya Juliet.

Aku mengeluarkan ponsel, mengetikkan beberapa digit nomor lalu menunggu. Dia menjawab pada dering pertama. Selalu begitu.

“Hai, Sayang. Apa ada yang salah?”

Baritonnya ceria seperti biasa, namun menyelipkan nada khawatir di celah-celah kosongnya. Aku diam, panggilannya membuatku tidak nyaman.

“Hanbin, ini Kyla.”

Semua orang tahu itu, idiot! Salak Cindy lewat pandangan.

Dia mendesah sejemang. “Kyla yang memutuskanku semalam.” Hanbin sudah ingat.

“Ya, Kyla yang itu.” Jeda sejenak. “Uhm…. aku tahu ini agak sulit, tapi bolehkah aku mampir ke tempatmu? Ada barangku yang tertinggal.”

Cindy melotot di hadapanku. Oh, dia bereaksi berlebihan untuk ukuran seseorang yang memaksaku melakukan ini. Aku ragu Hanbin akan mengatakan ya, dan Cindy akan menyelipkannya di setiap humornya yang menyebalkan setidaknya selama seminggu. Soal penolakan-mantan-pacar.

“Ya, tentu. Kapan kau datang?”

Entah aku harus merasa berterimakasih atau tidak. “Uhm, sekarang? Kau di apartemen?”

“Kau tahu jawabannya,” katanya. “Kalau begitu sampai jumpa…. Kyla.” Lalu dia memutus sambungan.

“Puas?” tanyaku sinis.

Cindy tersenyum hingga menyentuh ujung-ujung matanya.

“Lebih dari puas. Sekarang pergilah untuk memperjuangkan nilai kita dan…. kisah romansamu kalau bisa.”

.

Pintunya terbuka saat aku sampai. Kelebatan soal kejadian semalam berdatangan, layaknya potongan-potongan puzzle yang berusaha membuat kesatuan utuh. Aku ke luar dari pintu ini, meninggalkan bunyi berdebum nyaring dan vibra yang cukup kuat. Sekarang? Aku melewatinya lagi untuk masuk, dengan sopan.

Hanbin tak terlihat di mana pun. Tidak di tempat tidurnya yang berantakan, meja belajarnya yang penuh lembaran-lembaran sketsa, tidak pula di dapur mini nya untuk menguarkan aroma lezat. Mungkin dia sedang mandi.

Ide pengecut cerdas tiba-tiba terpikirkan olehku. Kupendarkan mata melingkungi sisi-sisi ruangan, melangkah berjingkat agar tak menimbulkan bunyi mengusik. Dan kemudian aku menemukannya di bar dapur, portofolio kelompokku. Aku masih ingat dia merajuk karena kupaksa membantu, padahal ada sinema yang sangat ingin ditontonnya bersamaku.

“Kau tidak romantis dalam beberapa poin, Kyla. Aku ragu apakah Komisi Perlindungan Hak Berkencan akan menerima keluhanku.”

O Tuhan, itu terjadi selang sehari dari hari ini. Aku tidak tahu dalam waktu singkat segalanya bisa dijungkir balik.

“Mengambil barangmu diam-diam lalu meninggalkan pesan ‘Tadi kau tidak ada jadi aku mencarinya sendiri. Terima kasih, Hanbin.’ Kyla sekali.”

Tepat seperti yang kupikirkan.

“Senang bertemu denganmu juga, Hanbin,” kataku berusaha meredakan kegugupan. Pamit sekarang juga bukan pilihan bodoh, ‘kan? “Kalau begitu–”

“Kau mau kopi?” potongnya cepat. Dia tidak ingin aku pergi. Bukannya kelewat percaya diri, tapi Hanbin memang sangat transparan. “Bagaimana dengan teh? Jus? Air?” cecarnya.

Aku diam saja sebagai bentuk penolakan.

“Kalau begitu bicaralah denganku, sebentar saja,” pintanya. Terselip nada memohon di antara gerahamnya.

Yah, saling lempar kalimat selama beberapa menit tak akan membuatku gila dan melompat ke pelukannya.

Aku duduk di kursi bar. Dia juga melakukan hal yang sama. Hanbin membiarkan keheningan mendominasi selama beberapa menit.

“Kalau kau mau berorasi cepatlah, keburu kiamat datang,” kataku mengusiknya.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

Ya ampun, dari sekian banyaknya jenis pertanyaan di dunia ini kenapa pula dia memilih yang itu? Meski agak bodoh kalau Hanbin bilang, “Tiket konser band indie di kota sudah terjual habis. Apakah kau tahu calo yang terpercaya?”

“Pertanyaan berikutnya,” kataku. Menghindar lebih baik.

“Tidak. Itu jelas tidak lebih baik.”

Nah, dia bisa baca pikiran. Mari anggap saja sebagai tanggung jawab moral.

“Karena kau selalu bersamaku.”

Dia mencermati jawabanku. “Ada yang salah dengan itu?”

“Tidak ke luar dengan teman-temanmu? Mengabaikan panggilan mereka? Ya, jelas salah sekali.”

Aku perlu pemadam kebakaran. Ada api di sekujur tubuhku kalau Hanbin memperhatikan. Dia membuatku kesal.

“Kau bahkan mengajakku untuk mengganti onderdil mobilmu. Bermain baseball, menonton balapan mobil walaupun aku tidak minat. Kau seharusnya melakukan itu dengan teman-temanmu dan bukannya aku!”

“Tapi aku ingin membagi kebiasaanku bersamamu,” dia membela diri.

“Dan mengabaikan teman-temanmu? Oh, Hanbin, coba ingat berapa kali kau ke luar dengan temanmu saat berpacaran denganku. Nyaris tak pernah. Karenanya aku juga kehilangan waktu bersama teman-temanku. Cindy memang tidak peka, tapi aku tahu kami jarang bersama-sama belakangan ini.”

Hanbin diam.

“Cukup membayar rasa penasaranmu?” tanyaku emosi.

“Pertanyaan berikutnya.”

“Kau menyebalkan.”

Dia tersenyum. “Aku selalu tahu itu.”

Aku melunak melihat ekspresinya. Hanbin tahu ia salah dan aku tidak cukup membencinya untuk membiarkan dia larut dalam itu.

“Boleh aku minta minum sekarang? Tenggorokanku sakit habis teriak-teriak.”

Ekspresinya lebih santai, bahunya menjadi rileks. Dia bangkit untuk mengambilkan segelas air dan menyodorkannya di hadapanku. Aku menegang sekejap, sepertinya Hanbin menyadarinya juga.

“Gelas punyamu.”

Benar, punyaku. Oh, berapa banyak barang-barang yang kubawa ke mari?

“Cukup untuk menyebut kalau kau pindah ke apartemenku.”

Dia melakukannya lagi. Membaca ekspresiku.

“Aku akan mengambil semuanya.”

Dia tersenyum lagi. “Aku tahu kau akan.”

Kami biarkan keheningan mendominasi beberapa saat sebelum dia bicara lagi.

“Daripada mengambil semuanya secara bersamaan….” dia menggantung perkataannya. “Bagaimana jika setiap hari kau ke mari untuk mengambil satu-satu? Sambil mengawasi perubahanku.”

Apa kau berusaha mengajakku berkencan lagi?

“Ya.”

.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “[FREELANCE] Left Behind

  1. oh tuhan, pas baca, eh nggak sengaja ke puter lagunya ikon my type, apa ini yang namanya suratan takdir?/enggak/

    nice fic, aku suka simple dan nggak ngejelimet wkwkwk ❤ salam kenal jugaa yaa:)

  2. Sukaaaa ❤ Dear, my boyfriend (Hanbin) :v kamu peka sekali ya sampai bisa baca pikiran orang :v
    Kayak pernah tau namanya (slmnabil) :/

  3. Maigawwwwtt manissss bangeettt, sukak, fix! Bahasanya pun enak banget dibaca!! Nice nice kak ^^

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s