[CHAPTERED] Black and White | Bab I


black-and-white-duet-project.jpg

Title: Black and White // Artist: DO Kyung Soo, Lee Yorin (OC), Jung Yunho // Genre: Fantasy, Romance // Rate: PG17 // Lenght: short-story // Disclaimer: Meminjam nama artist sesuai keperluan, tanpa bermaksud menjatuhkan mereka. Cerita fiktif hasil duet bareng Aini. Tidak diperbolehkan menyalin atau memposting ulang tanpa izin.

oleh

Aininugu ; Khaqqiadrei

January, 2016

 

Amazing poster | namminra

girl.jpg 

“Semestinya tidak sulit mengatakan ‘aku menyukaimu’. Hanya saja, banyak kekeliruan yang membuatku khawatir.

thisisdo.png

“Hanya karena kau adalah gadis yang ‘tidak semestinya’, bukan berarti kau ‘tidak layak’ menjadi milikku.

hand.jpg

“Ayo kita berjuang.

Black and White—

 

Ribuan cahaya mungil tergambar dalam kanvas hitam atmosfer bumi. Menemani sunyi dan sepinya kawasan bumi pada tahun itu. Hanya beberapa yang—mungkin—tengah berjaga, mengintipi nyanyian jangkrik dari balik jendela.

WUSH!

Sekilat cahaya menggores warna putih. Merobek pekatnya hitam pada langit malam saat itu.

Cahaya barusan, menjatuhkan diri ke tanah. Menerbangkan dedaunan yang berguguran dari rantingnya. Semrawut.

Ribuan butir debu sewarna emas terlihat melayang mengelilingi tempat mendaratnya cahaya tadi. Berputar-putar indah seakan bersorak pada kawan yang baru saja tiba.

Sepersekian detik. Dari balik debu pixie—butiran emas tadi—sepasang sayap putih suci, terbuka sedikit demi sedikit. Kian melebar. Menutupi panorama cahaya matahari yang tengah beranjak terbit dari persembunyiannya.

Hembusan angin berulang kali meniupi helai demi helai rambut berombak hitam sepunggungnya. Membuat wajah mulus gadis itu tercegah untuk nampak. Lantas angin meniupi kembali, membawa rambutnya menari-nari, menyibak ke belakang. Wajahnya kembali mampu terlihat.

Gadis itu merapikan dress putih selututnya, membersihkannya dari sisa-sisa dedaunan yang menghinggapi. Lepas kemudian, gadis itu mengedarkan manik mata cokelatnya ke sekeliling. Menatap intens tempat yang baru saja ia pijaki.

Ia menyeret sepasang kakinya beberapa langkah dari tempatnya berdiri, seraya menggunakan tangan kanan-kirinya bergantian untuk menyingkirkan rerumputan panjang yang menghalangi jalannya. Beberapa detik kemudian, sepasang sayapnya kembali menutup, dan menghilang. Meninggalkan ribuan debu pixie, melayang-layang dalam udara.

Langkah gadis itu terhenti seketika. Melemparkan fokusnya pada sebatang anak panah yang baru saja menancap di hadapannya. Ia terlonjak kaget. Gadis tersebut mengumpulkan keberaniannya banyak-banyak. Mencoba mencari jawaban dari rasa keingin-tahuannya, darimana panah itu berasal.

Dari kejauhan, seorang pemuda tengah menarik kuat-kuat busur panah dalam genggamannya, seraya memicingkan mata sebelah—mengincar sesuatu.

PYUSH!

Sekali tarikan dari tangan pemuda itu, ia menerbangkan sebatang benda cukup panjang dengan desain runcing di bagian kepala. Anak panah itu memutar, lantas melesat cepat membelah udara.

DEP!

Sebab gadis itu keluar dari persembunyiannya tiba-tiba, ujung anak panah menancap keras pada lengan kirinya.

Ia meringis menahan sakit.

Kyung Soo—pemuda dengan anak panahnya— terbangun dalam rasa nyaman. Setelah sebuah teriakan panjang tertangkup dalam liang pendengaran.

Kyung Soo tersentak. Anak panahnya salah sasaran. Merasa bersalah, ia menghampiri korban akibat ulah cerobohnya itu. “Noona, Kau baik-baik saja?”

“Tidak papa. Aku baik,” sahut si gadis.

“Biar kubantu.”

Kyung Soo menuntun gadis di hadapannya menuju bilik kecil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Sesampainya di sana, gadis itu mendaratkan tubuhnya pada sofa sederhana yang menjadi pelengkap desain simpel rumah adat khas Korea itu.

Rumah itu tempat khusus yang biasa Kyung Soo gunakan untuk melepas penat dan lelah, setelah berlatih berjam-jam di hutan dengan perlengkapan memanahnya. Setidaknya, sedikit bisa menyesap teh hangat, mencegah udara dingin masuk ke rongga pori-pori.

“Biar kubalut lukamu,” ujar Kyung Soo setelah tiba dengan berbagai obat luka di tangannya. Ia meletakkan benda-benda itu pada meja kecil yang terletak menyisikan diri di samping mereka.

“Jangan bergerak, ini sedikit sakit.” Kyung Soo memegang erat-erat ujung anak panah, kemudian menarik kuat-kuat dari dalam lengan gadis itu.

Gadis tersebut menggigit bibir, menahan perih.

Pemuda itu mulai membalut luka tusukan pada lengan Yorin—nama gadis itu.

“Selesai,” ujar Kyung Soo, lepas menyelesaikan aktifitasnya.

Lee Yorin mengalihkan mata, menatapi balutan kasa putih melingkar pada lengan kirinya. Ia bernapas berat, bagaimana bisa seperti ini.

“E, Khamsahamnida …, ” gadis itu berniat mengucap nama lawan bicaranya. Namun, ia sama sekali belum mengetahui siapa dia.

“Kyung Soo. Do Kyung Soo.” Kyung Soo mendahului.

“Iya, Kyung Soo. Khamsahamnida, Kyung Soo-ssi.”

Yorin melemparkan pandangan menuju sudut per sudut bagian rumah yang tengah ia tumpangi saat ini. “Aku, di mana?”

“Ini tempat tinggal kami. Kau berada di bumi selatan,” sahut Kyung Soo, tanpa menoleh.

Dalam bangsa mereka—elfva—wilayah bumi dibagi kedalam dua bagian. Bagian selatan, dan bagian utara. Di bagian bumi selatan, di huni oleh para elfva berketurunan Blackblood. Bagian utara, di huni oleh elfva berketurunan Whiteblood.

Sebelum pada hari itu, hari di mana pertempuran terjadi, tepatnya beratus-ratus tahun lalu, bangsa ini masih sepenuhnya utuh. Tidak ada yang memisahkan mereka. Baik jenis darah, atau yang lainnya. Namun, pertempuran yang bermula pada rasa dendam tersebut, menyebabkan mereka saling membenci dan memisahkan diri.

“Aku telah sampai,”  ucap Yorin dalam benaknya.

“Jadi, siapa namamu, Noona?” Kyung Soo bertanya, meleburkan lamunan gadis di hadapannya.

“Lee Yorin,” sahut Yorin singkat.

*

Yorin menatap lekat pada senja yang hanya menyisakan semburatan cahaya merah nyaris menghilang, bersembunyi di balik tinggi dan rindangnya pepohonan hutan itu.

Beberapa hari lalu, Raja Lee—ayah gadis itu—memberikan amanat besar padanya. Ucapnya, ini adalah tanggung jawab yang menyangkut nyawa semua rakyat mereka. Yorin adalah gadis keturunan dari Raja Lee, pemimpin bangsa mereka—Bangsa Whiteblood.

Ayahnya berpesan, agar ini adalah pertarungan terakhirnya. Pertarungan dalam menegakkan ego dan kedudukan masing-masing. Membalaskan dendam keluarga mereka. Dendam yang tak pernah usai sejak beratus-ratus tahun silam.

Sayangnya, Yorin malah tersesat di hutan ini. Tak kunjung bertemu juga pada putra raja bangsa Blackblood.

Ia benar-benar akan menyelesaikannya. Gadis itu terkelubungi rasa dendam dan benci. Saat ia berumur tujuh tahun, Ibunya pergi meninggalkannya begitu saja. Bukan kepergian Ibu yang bermasalah padanya. Namun, kepada pembunuhnya.

Yorin menarik napas kuat-kuat, mengisi paru-parunya dengan oksigen baru di tempat ini. Ia menekuk kedua siku lengannya, lantas di selehkan pada kusen jendela. Wajahnya terdongak ke atas menatap hamparan merah senja. Sesekali ia memejam mata, merasakan sentuhan-sentuhan angin lembut, menyapu wajah putihnya.

Tak lama, Kyung Soo menghampirinya. Ikut menyisikan tubuh bersama Yorin.

“Cuaca cukup dingin. Kau ingin teh?” tawar Kyung Soo lembut.

“Tidak, Terima kasih,” sahut Yorin, tanpa menolehkan wajahnya. Ia tetap tak ingin bergeming dari aktifitas yang ia anggap menyenangkan ini.

Beberapa menit kemudian, Yorin membangkitkan tubuhnya. Ingin lebih puas menghirup udara di luar. Oksigen di tempat ini terbilang sejuk. Sebab sekitarnya di sekelilingi pohon rindang. Serta burung-burung yang bercicit merdu, seolah merangkai sebuah nada.

Yorin melangkahkan kakinya menuju pintu. Gadis itu keluar.

Ia menenangkan diri. Memejamkan sepasang kelopak matanya, merasakan gejolak angin yang kian keras menghantam dan menarik-narik rambut hitamnya, mengajak berlarian dalam udara.

Gadis itu membentangkan sayapnya lebar-lebar, diikuti ribuan debu pixie yang ikut melayang di udara, lepas sayapnya terbuka.

Yorin membawa tubuhnya melayang, tak lagi berpijak pada tanah. Sepasang sayapnya mengepak pelan, siap membawa kemanapun gadis itu ingin pergi.

Hembusan angin memunculkan decit dan riuh-riuhan dedaunan serta ranting-ranting mungilnya. Diimbangi dengan nyanyian burung. Yang sama sekali tak mengubah rasa sunyi kawasan itu.

Namun, angin berhenti seketika. Membuat gadis itu sedikit tersentak, seakan sebal sebab kenyamanannya terganggu. Ia kembali menurunkan tubuhnya, membuat sepasang kakinya berpijak kembali pada tanah—yang cukup basah tersebut. Ia berbalik, melangkahkan kakinya bergantian, perlahan-lahan. Sayapnya yang semula membentang lebar, kini mengatup, lantas menghilang dalam udara. Hanya meninggalkan bekas ribuan debu emas.

Belum gadis itu menginjakkan kaki pada lantai pintu, ia berhenti di tengah jalan. Kandas oleh suara batuk yang terkesan mencekat tenggorokan pemiliknya.

Ia lekas memasuki pintu, ke dalam. Bercakan darah didapati matanya sekarat di atas lantai. Jelas itu masih baru: darahnya belum mengering.

Yorin bergegas memutar knop pintu kamar Kyung Soo. Di tatapnya lamat-lamat pemuda yang tengah meringkuk seraya memegangi dada sebelah kirinya. Tangannya berlepotan darah segar. Di sudut bibir kanannya, juga mengalir setetes darah.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yorin. Gadis itu sedikit cemas pada pemuda yang baru ia temui tadi pagi itu. Gadis itu berjalan seraya sesekali menahan rasa sakit jua pada lengan sebelah kirinya.

“Aku tidak papa, Yorin-ssi.” Kyung Soo mengelap sebercak darah dalam bibirnya, menggunakan punggung tangannya.

“Tapi kau batuk hingga mengeluarkan darah,” sergah Yorin. “Biar kuambilkan teh.”
Kyung Soo mengepalkan erat tangannya. Mencoba menahan amarah yang terus tersengal dalam dadanya. Matanya berkilat merah.

Kilat tersebut merupakan tanda khusus yang Kyung Soo miliki. Yang tidak dapat ditemukan pada orang selain dirinya. Kilat itu akan keluar, seiring amarahnya.

“Kyung Soo-ssi.” Yorin tiba. “Ini tehnya, minumlah.” Yorin mengulurkan lengan, memberikan segelas teh pada Kyung Soo. “Minuman manis bisa membuatmu lebih baik.”

Ghamsahamnida, Yorin-ssi.”

*

Yorin dan Kyung Soo diam saja. Yang satu perlahan menyesap tehnya, dan satunya, hanya mengayun-ayunkan sepasang kakinya yang menggelantung secara bergantian.

“Kyung Soo-ssi, kau sudah lama tinggal di sini?” Yorin bertanya, tanpa menolehkan kepalanya.

“Tidak, Ini hanya tempat istirahat saja.” Kyung Soo menoleh, mencari-cari mata dari lawan bicaranya. “Rumahku agak jauh dari sini.”

“Kau ahli memanah?” Yorin nampak serius, berbalik menatap mata Kyung Soo—yang sedikit telah mereda dari warna merah yang tadi sempat ada.

“Tidak juga. Kalau aku ahli memanah, pastinya lenganmu baik-baik saja.” Kyung Soo memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Oh iya.” Yorin menggaruk tengkuknya, kikuk. “Dan pastinya aku tak akan ada di sini.”

“Itu kau tahu,” Kyung Soo terkekeh. “Jadi, dari asalmu, Yorin-ssi?”

Yorin tidak menyahut. Ia mengedipkan matanya berkali-kali.

“Dari…,” Yorin memalingkan wajahnya. Ia sempat terdiam cukup lama. Mengandai-andai jawaban apa yang harus ia lontarkan melalui mulutnya.

“Di seberang hutan sini.” Gadis itu terpaksa berbohong juga.

Bukan sebab apa gadis itu berkata lain dari aslinya. Pasalnya, gadis itu bukan berasal dari tempat ini—bagian bumi selatan, Bangsa Blackblood. Bahaya sekali jika ada yang tahu bahwasanya gadis itu adalah salah satu musuh di tempat ini. Yang benar-benar di benci oleh bangsa di mana Kyung Soo berasal.

Yorin berusaha setenang apapun, mengalahkan kecemasannya.

Gadis itu jarang berhasil menyembunyikan perasaannya. Ia akan gugup setengah mati dan tidak akan pernah bisa nyaman lepas kata-kata yang berlainan dari hatinya terlontarkan. Jika di perhatikan, pasti gadis itu tengah memilin-milin jarinya saat ini—saat berbohong—atau sekedar mengepalkan erat ke dua telapak tangannya yang berkeringat dingin.

“Yorin-ssi, kau pucat,” Kyung Soo mengamati wajah gadis di sisinya. “Kau tidak papa, ‘kan?”

Urat saraf reflek Yorin bekerja. Memimpin dirinya untuk sedikit menyeret tubuh bergeser menjauh.

“E, aku tidak apa-apa.” Yorin menjauhi tatapan Kyung Soo.

“Maaf membuatmu tidak nyaman.” Kyung Soo bangkit, melangkah ke arah pintu.

“Tidak, kok. Bukan begitu, Kyung Soo-ssi,” ujar Yorin, meluruskan prasangka Kyung Soo yang melenceng.

Kyung Soo melenggang pergi, entah ada gejolak apa dalam ruang dadanya saat ini.

*

Seminggu ini Yorin belum sempat pergi meninggalkan rumah mini di tengah hutan tersebut. Semakin lama ia di sana, semakin banyak pula kebohongan yang sudah Yorin ucapkan.

Beberapa hari lalu, justru gadis dengan rambut hitam itu, berkata kalau ia di usir dari rumahnya karena melanggar janji ayahnya.

“Jika kau ingin pulang, aku bisa mengantarmu. Karena kau tau sendiri, ‘kan? Kalau aku tidak setiap jam di tempat ini. Aku juga harus pulang,” ujar Kyung Soo, pelan. Beberapa hari lampau.

Yorin menolehkan kepalanya kembali, enggan menatap lawan bicaranya. Gadis itu ketakutan tidak dapat menjawab ucapan Kyung Soo.

Yorin menggigit bibir bawahnya sebelah kiri, “E… Aku…,” dengan ragu-ragu, takut jika alasannya tak masuk akal. “Aku di usir ayahku dari rumah.”

Gadis itu mengutuk dirinya sendiri. Omongannya terbentuk dan keluar begitu saja.

“Maaf, Yorin-ssi,” Kyung Soo merasa bersalah. Seakan ia telah membuat Yorin mengingat kembali kejadian yang pahit. “Kalau begitu, tinggal saja kau beberapa hari di sini. Sambil kucarikan tempat tinggal untukmu.”

Yorin mengangguk pelan, sambil menahan keringat dinginnya yang tak henti-henti bercucuran pada pelipisnya.

Lambat-lambat salju turun. Mempertambah dinginnya suasana pagi hari. Yorin tersentak, lantas membalikkan tubuhnya berjalan menuju pintu keluar.

Gadis itu membentangkan sepasang sayapnya lebar-lebar. Tak lupa, di ikuti juga oleh sekawanan benda mungil ke emasan di sekitarnya. Yang terbang mengudara, memecah.

Ini adalah ciri khusus bangsa Elfva. Melalui debu pixie-nya yang akan selalu muncul ketika hal-hal ajaib mereka lakukan.

Yorin menerbangkan tubuhnya, membiarkan sepasang kakinya tak lagi berpijak pada tanah. Sedetik kemudian, ia melesat, menghilang ke angkasa.

*

Tangan kanan Raja Lee bersiap mengepal, matanya tergores kilat cahaya kebiruan. Seperti halnya raja—maupun anak raja—Bangsa Blackblood, kilatan itu juga di miliki oleh saudaranya, pada tanah bumi bagian utara. Hanya saja, ke duanya memiliki warna yang tidak sama.

Yorin merunduk, tak berani menatap mata ayahnya. Raja Lee geram sudah.

“Yorin!” Raja Lee menatap tajam mata putrinya. Berkali-kali kilat kebiruan itu membias dalam mata cokelat beningnya. Amarahnya tersengal dalam dada, di tahan. “Kemana saja kau! Bahkan sampai sekarang pun kau belum menemukan putra raja bangsa tengik itu?!”

Yorin tak bisa menyahuti. Omongannya tertandas lebih dahulu dengan suara ayahnya. “Aku tak mau tau.” Raja Lee membuang napasnya berat. “Kabarkan berita pangeran itu secepatnya. Besok. MENGERTI?!”

Yorin mengangguk, lantas membuka kembali sayapnya, pergi.

*

Sebatang anak panah yang pemuda itu lepaskan, kembali melintasi jejeran pohon tinggi dan besar-besar. Panahnya melesat kencang. Namun sayangnya, kali ini incarannya meleset. Salah. Sudah berkali-kali.

Sejujurnya, pemuda itu tidak berniat sekali. Mukanya lusuh benar. Menahan amarahnya yang kian tertahan. Tak kunjung keluar juga.

Pemuda tersebut meringkukkan tubuhnya. Sesuatu yang ada dalam dadanya meledak sudah, butiran air perlahan mengalir keluar dari dalam sudut matanya. Manik matanya berubah menjadi merah mengganas. Tubuhnya lunglai. Seakan nyawa yang ada dalam raganya kian jatuh menuju tulang punggung, kemudian pada telapak kaki.

Tangannya mengepal, geram. Pemuda itu menjerit sejadi-jadinya. “AAAAAAAAAAA!!!”

Ia merundukkan kepala, membiarkan tangisnya berebutan terjun membentur tanah. “Aku benci penyakit ini! Gara-gara kau,” pemuda tersebut berbicara pada sesuatu yang terkekang dalam tubuhnya. “Aku tidak berguna!!!”

Sementara itu, dari balik pohon besar yang berjarak tak jauh dari pria itu, Yorin melongokkan kepalanya melalui celah dedaunan. Secelah saja. Ia katupkan sayapnya, tanpa menghilangkannya. Ia tatap pemuda yang tak jauh dari tempatnya berpijak sekarang. “Apa yang terjadi pada Kyung Soo?”

 baw.jpg

 Malam ini bulan bersinar penuh. Langit malam yang terhampar melampaui jangkauan mata, tampak bersih tanpa awan yang berarak menghalangi. Tidak seperti biasa. Para bintang bersinar lebih cemerlang malam ini.

Ruangan persegi itu awalnya suram, gelap tanpa cahaya. Sampai ketika seorang gadis membuka satu-dua jendela di sisi ruangan. Memaksa tampias sinar keemasan sang bulan untuk berkunjung sekadar menerangi ruangan tersebut.

“Cahaya bulan akan membuatmu membaik, Kyungsoo-ssi, semoga,” bisik gadis itu pelan teredam angin. Manik matanya memaku tatap kepada sesosok pria yang terbaring lemah di lain sisi ruangan itu.

Pria itu belum terbangun. Sejak Yorin memapahnya saat ia tiba-tiba saja tumbang di depan matanya sore tadi. Nyatanya sampai saat ini ia belum tersadar juga. Ia tak sadarkan diri dengan kening berkerut seperti menahan sakit, bibir kebiruan dan bergetar, alis bertaut dan keringat dingin yang mengucur.

Yorin baru saja selesai membebat telapak tangan kanan Kyungsoo –yang sepertinya terluka karena terlalu giat mencengkeram busur panah—dengan kain yang terlebih dahulu ia lumuri ramuan penyembuh. Yorin menatapi Kyungsoo, lagi. Meneliti setiap detik perubahan wajah yang terlihat. “Kau tampak begitu menderita Kyungsoo-ssi. Sebenarnya kau ini kenapa?”

Hening. Hanya suara lenguhan kesakitan Kyungsoo yang kembali mengisi udara. Mengubah tenangnya malam ini menjadi malam yang memaksa mereka untuk berjuang satu sama lain.

Yorin yang berusaha untuk membuat Kyungsoo tetap hidup dan Kyungsoo yang berusaha agar nyawanya tetap dalam raganya.

*

Sudah dua malam purnama terlewat, namun kondisi Kyungsoo alih-alih membaik justru semakin parah. Kedua celah bibirnya yang semula biru berubah semakin pekat dan kini menghitam sehitam arang. Tubuhnya terlihat semakin rapuh seperti kayu yang habis dibakar si jago merah. Denyut kehidupan di ceruk lehernya semakin hari semakin sungkan untuk berdetak, begitu pula jantungnya. Kedua kelopak matanya enggan untuk terbuka. Dan entah untuk alasan apa, Yorin merasa rindu dengan sorot mata milik pria itu.

Yorin melakukan segalanya yang ia mampu lakukan. Setidaknya dengan lengan kiri yang masih terluka, Yorin pernah terbang ke hutan seberang mencari tumbuhan yang barangkali bisa menjadi sumber kehidupan bagi Kyungsoo, termasuk rela menjadi sasaran hewan buas ketika ia nekad memetik bunga krisan merah untuk dijadikan obat di balik Gunung Oedipus.

Yorin juga pernah mencoba menyeduh beberapa helai bulu sayapnya untuk kemudian ia angsurkan kepada Kyungsoo. Nihil. Bahkan sayap penyembuh keturunan Whiteblood tidak bereaksi apapun.

“Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu sembuh kembali?”

Selalu, wajah penuh peluh Kyungsoo memaparkan ekspresi yang tidak berbeda dari pagi ke pagi lagi. Seperti tersiksa, seperti ingin mati. Yorin tak pernah benar-benar memahaminya, namun yang pasti di dalam relung hatinya, ia berucap sumpah akan membuat pria itu bangkit kembali.

“Kyungsoo-ssi, aku berhutang budi padamu. Aku janji akan merawat dan menyembuhkanmu.”

*

Yorin baru saja akan memutar tumitnya –berbalik menuju kamar Kyungsoo diujung lorong—seraya membawa nampan berisi ramuan ketika tiba-tiba sebuah nada tak beraturan –seperti pintu yang digeser paksa, menyapa gendang telinganya.

Derap langkahnya seketika menjadi besar dan cepat. Ia ingin segera sampai dan melihat apa yang terjadi pada Kyungsoo.

Pintu kayu itu sudah terbuka ketika Yorin sampai di depannya. Ia tercenung, rasanya ia sudah menutupnya tadi sebelum pergi ke belakang. Menolak berasumsi, Gadis itu membawa langkahnya memasuki kamar Kyungsoo. “Kyungsoo-ssi?” panggilnya sambil mendaratkan nampan itu di sisi meja terdekat. Kasurnya kosong. “Kyungsoo-ssi?”, panggilnya ulang ketika tak ada satupun respon ia terima.

Tidak ada sahutan dan Yorin kini mulai khawatir.

“Kyungsoo-ssi?” Nada bicaranya mulai meninggi, dengan gerakan secepat yang ia bisa, ia mencoba untuk mencari di setiap sudut ruangan. Dibalik meja pendek tempat biasa Kyungsoo menulis, dibalik bilik pemisah ruangan, sampai ke bawah rak buku. Yorin tahu itu tidak mungkin, tapi akal sehatnya entah sudah pergi kemana di saat ia panik seperti ini.

Namun hasilnya tidak ada, ia menyerah, Kyungsoo tidak disini. Maka tanpa pikir panjang ia beralih ke tempat lain.

“Kyungsoo-ssi, kau dimana?” Yorin menelusuri tiap detail di setiap ruangan. Di sisi tembok tiap lorong, kamar mandi, dapur, dan berlanjut ke seluruh ruangan di rumah tradisional itu. Ia abaikan rasa sakit yang kini mulai menjalar dari lengan kirinya. Walaupun lukanya sudah mengering tapi masih terasa ngilu, sedikit. Tapi yang menjadi prioritas utama adalah eksistensi Kyungsoo yang saat ini tidak diketahui.

Sambil sesekali mencengkeram lengan kirinya yang terasa berdenyut menyiksa, langkah Yorin terus terajut. Meninggalkan seluruh sidik jari-jari kakinya, menempel di seluruh lantai kayu itu.

Yorin menghentikan ekspedisi kecilnya ketika ia sampai di hadapan sebuah pintu kayu berpelitur sederhana. Kyungsoo pernah melarangnya masuk tempo hari, entah kenapa.

“Masuk, tidak ya?” ucapnya ragu. Namun beberapa sekon kemudian ia menggeleng. “Tidak, peduli setan dengan larangannya. Aku akan tetap masuk.”

Jejeran rak tinggi menjulang dengan ratusan buku yang berbaris rapi adalah hal pertama yang menyambut penglihatan Yorin ketika memasuki ruangan itu. Bisa disebut ini adalah perpustakaan pribadi milik Kyungsoo. “Kyungsoo-ssi?” Yorin memulainya lagi.

Ini ruangan terakhir yang bisa ia datangi. Ruangan lain sudah penuh dengan aroma peluhnya yang sedari tadi menetes tanpa henti. “Kyungsoo-ssi?” Ia mengulangi kegiatan yang sudah sepagian ini ia lakukan, namun alih-alih Kyungsoo justru sebuah peti kemas usang yang ia temukan. Teronggok sia-sia di sudut tergelap di ruangan itu. Seolah cahaya enggan membagi dirinya untuk menerangi benda itu.

Bukan karena Yorin yang terlalu lancang sehingga ia berani mendekati dan membuka peti tersebut, namun sebuah gulungan usang yang salah satu ujungnya terjuntai keluar peti dari celah kecil yang ada itulah yang membuat Yorin penasaran.

Pandora Syndrom

Tulisan bertinta emas yang terpatri jelas di gulungan itu berhasil tertangkap oleh fokus Yorin setelah ia berhasil membuka tali pengikatnya. Alis gadis itu menyatu di tengah, bingung. “Pandora Syndrom?” gumamnya. Tidak perlu berpikir dua kali untuknya menggrayangi barisan aksara yang tertempel disana.

Pandora Syndrom, penyakit mematikan tidak menular yang akan membunuh penderitanya dengan penderitaan yang panjang. Racun Zitanium adalah penyebab dari penyakit ini. Racun berbahaya yang berbentuk cair, tidak berbau ataupun berwarna. Efeknya timbul secara berkesinambungan, jantung yang terasa seperti berhenti, bibir yang menghitam, tubuh yang semakin rapuh, keringat dingin yang terus mengalir, dan batuk yang mengeluarkan darah. Satu-satunya penawar penyakit ini adalah kelopak bunga krisan biru emerald.

Yorin terdiam.

Informasi singkat itu bahkan mampu membuat kedua tangan Yorin bergetar, sudut matanya terasa panas dan akhirnya cairan itu meleleh menganak sungai. Tidak ada yang bisa membuatnya lebih terkejut dari ini, kenyataan bahwa penawar yang disebutkan tadi ternyata tersedia di dunianya sudah mampu membuat hatinya mencelos. Rasanya lega merangkap menyesal, mengapa ia baru tahu sekarang.

Disaat pikirannya masih terdistraksi oleh gulungan tua itu, tiba-tiba rungunya menangkap sebuah nada. Nada seorang pesakitan. Seperti suara orang yang sedang tercekik. Seluruh syarafnya mendadak mendapat stimulasi hingga akhirnya tungkai kakinya refleks bergerak mencari sumber suara, meninggalkan gulungan itu kembali teronggok terbuang di lantai.

Hingga akhirnya pemandangan yang Yorin dapati di balik bilik di ujung ruangan membuat darahnya terasa seperti berhenti mengalir, jantungnya terasa seperti mencelos jatuh ke dasar perut. Tubuh ringkih Kyungsoo terbaring setengah sadar dengan darah hitam menggenang membuncah di sekitaran tubuhnya.

“KYUNGSOO-SSI!!” Yorin histeris lantas berjongkok dan meletakkan kepala pria itu di pangkuannya. “Kyungsoo-ssi!! Gwaenchana?!” Salah satu tangannya yang bebas secara refleks menepuk pelan kedua pipi tirus pria itu, berharap ia masih tersadar. Sejatinya, menemukan tubuh Kyungsoo dengan keadaan seperti ini sama sekali jauh dari ekspektasinya. “A … aku .. baik … baik … saja, Yorin-ssi.”

Tarikan bibir yang sekilas diulas pria itu diakhir kalimat, berhasil membuat tangis Yorin sedikit mereda. Setidaknya nyawa pria itu masih bertahan di dalam raganya. “Aku akan membawamu kembali ke kamar. Kau masih mampu berjalan?” Pria itu mengangguk, lantas Yorin dengan perlahan menarik bangkit pria itu dan menjadikan dirinya sebagai tumpuan untuk membantu Kyungsoo memulai langkahnya.

Belum sempat mereka memulai langkah, tatapan Yorin kembali mengarah pada genangan darah di bawah kakinya. Hitam pekat seperti langit malam tanpa taburan bintang. “Apa kau semenderita itu, Kyungsoo-ssi?” Nuraninya yang berbicara dan tanpa sadar membangkitkan sebuah tekad yang muncul naik sampai ke ubun-ubun. Kali ini tekadnya tidak segoyah dandelion di padang rumput, tapi bahkan lebih kokoh dari pasak kayu di kapal para penjelajah samudera.

Kyungsoo yang terus-terusan terbatuk di sampingnya, mambuat hati Yorin terasa seperti berlubang. Namun senyuman dan kalimat; aku baik-baik saja, yang tetap setia pria itu lontarkan setidaknya mampu menambal lubang itu untuk sementara.

“Kyungsoo-ssi, aku akan berusaha mendapatkan penawar dari penyakitmu ini. Aku berjanji.”

*

Malam ini rembulan enggan menampakkan diri, tampias sinarnya bahkan tak setitik pun sampai mendarat di bumi. Sedangkan gumpalan awan hitam tampak bersemangat menunjukkan eksistensinya kepada para manusia, sehingga menjadikan malam ini tampak begitu sepi. Sunyi.

“Aku sudah berjanji akan berusaha membuatmu sembuh, Kyungsoo-ssi.” Gadis itu berdiri kaku seolah kakinya telah terpaku pada lantai berlapis kayu. Tepat di samping Kyungsoo. Mengabaikan semilir angin yang berhembus masuk dari jendela yang ia biarkan berderit terbuka. Rambutnya terbang tersapu angin, walau begitu tak menyembunyikan ekspresi sedih yang terpancar sejak beberapa jam yang lalu.

Bagian bawah dari jam pasir sudah penuh terisi, yang berarti sudah cukup lama sejak ia berdiri disini sejak tadi. Namun raganya terkesan enggan untuk permisi. “Aku sudah memikirkan ini matang-matang,” Yorin tersenyum. “Aku akan pergi untuk mencari penawar racun itu—

—aku akan segera kembali.”

Dengan selisih waktu sepersekon setelah kalimat terakhir yang ia ucapkan, seberkas cahaya mulai timbul dari dalam tubuh Yorin. Dari mulanya hanya sepercik tapi kini bahkan lebih terang dari kumpulan bintang. Indah sekaligus membutakan. Dan dalam sekejap sepasang sayap putih itu terbuka. Menimbulkan bunyi ‘zrash’ kecil disertai debu pixie yang mulai berterbangan.

Gadis itu menangkup sebelah telapak tangan Kyungsoo singkat (berharap pria itu akan baik-baik saja selama ia pergi) untuk kemudian mengepakkan sayapnya sekali. Debu pixie itu kembali berpendar. Dengan langkah perlahan ia merajut langkahnya menuju sisi jendela, menolehkan kepalanya singkat untuk menatap si pria dan kemudian dengan mantap mengepakkan sayapnya hingga tubuhnya mengambang dan pergi melalui jendela.

Bergerak cepat seolah ingin menyongsong dan mencari ujung dari gelapnya langit malam yang ada. Yorin telah pergi tanpa menyadari satu dari sekian ribu bulu sayapnya tertinggal di kamar Kyungsoo. Terbang melayang secara perlahan seolah mode ‘slow motion’ tengah meliputinya, berputar dan berayun beberapa kali hingga akhirnya jatuh dengan indah tepat di atas dahi sang pria pesakitan.

*

“Yorin, kenapa kau kembali ke sini? Apa tugas yang ayah berikan sudah berhasil kau laksanakan?”

Yang barusan bertanya adalah Yunho, Lee Yunho, kakak dari Yorin. Pangeran keturunan Whiteblood. Dengan perawakannya yang tegap dan tinggi menjulang, sepasang mata setajam elang, tidak heran ia dipandang sebagai pangeran yang sangat berwibawa. Sejak matahari terbangun dari peraduannya, Yorin sudah berhasil menapaki kakinya kembali di tempat kelahirannya ini.

“Belum, Oppa—,” Yorin tertunduk, terkadang ia takut jika tatapannya bersirobok dengan atensi milik kakaknya yang seolah mampu melubangi matanya. “—aku kembali untuk mengambil beberapa tangkai bunga krisan biru emerald,” jawab Yorin takut-takut. Tatapan intimidasi dari sang kakak berhasil membuatnya seolah mendadak ciut menjadi seukuran semut.

Bunga krisan biru emerald yang sedang dicarinya memang merupakan tanaman endemik di tempatnya tinggal. Bunga krisan biru emerald hanya tumbuh di kawasan istana dan terkenal berasal dari perkebunan istana milik ibunya, namun setelah arwah sang ibunda meninggalkan raganya terbujur kaku di bumi, taman itu menjadi ruangan prioritas milik kerajaan.

Lama tak ada respon, Yorin lebih memilih untuk memilin pelan jemarinya. Gugup.

“Untuk apa?

“Untuk … eung … untuk—“

“—Persediaan obat?”, potong Yunho telak. “Persediaan obat ‘kan? Untuk mengobati lenganmu itu? Kalau begitu silahkan saja. Tapi kau tahu sendiri Yorin, penjaga itu tidak akan membiarkan siapapun masuk walaupun kau seorang putri raja. Ini perintah ayah.”

Bahu Yorin mendadak turun, ia merasa lega karena tidak harus berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa bunga itu untuk menolong seseorang dari keturunan blackblood. Mungkin harapan hidupnya akan kandas saat itu juga. “Terimakasih, Oppa. Aku akan memikirkan caranya.”

*

Di sinilah Yorin sekarang. Bersembunyi dibalik tiang. Matanya nyalang waspada mengintipi sekitar. Memanfaatkan waktu istirahat para penjaga menjadi pilihannya untuk memasuki taman kerajaan. Sesudah dipastikan aman, dengan langkah berjingkat ia mulai melangkah.

Namun saat ia sudah setengah jalan dan tinggal melangkah masuk dan memetik bunganya, dari jauh samar-samar rungunya menangkap bebunyian, derap langkah kaki yang diburu waktu. Cepat. “Ada penyusup!” ucap mereka.

“Padahal istirahat mereka belum berakhir. Sial!” umpat Yorin kesal, dan saat ia berniat untuk berbalik nasib sial masih saja menghampirinya. Dengan tidak sengaja kaki kirinya menginjak sebuah ranting dan membuat para penjaga berteriak keras menggentarkan tekadnya, “SIAPA DISANA!?”

Beruntung posisi Yorin masih bisa tersamar oleh beberapa tumbuhan rimbun yang tumbuh melebihi tinggi badannya. Setidaknya ia masih bisa bernafas dengan cara yang benar.

Namun ketika pikirannya masih memproses semua yang terjadi, sebuah suara kembali tertangkap. Seperti sebuah senar yang ditarik dan menghasilkan gaya pegas. Yorin menyadari apa itu ketika dua detik kemudian lusinan anak panah menyerbu dengan membabi buta. Dan sialnya (lagi) salah satunya menancap dilengan kirinya, tepat diluka tempo hari. Yorin merintih, darahnya kini sudah mulai mengalir.

Dengan bermodal tekad untuk segera meloloskan diri, Yorin menarik paksa anak panah tersebut menyebabkan beberapa tetes darahnya membuncah keluar. “Aku harus segera pergi.”

Dirasa waktunya sudah tepat, Yorin dengan sigap kembali membuka sayapnya. Dan tanpa membuang waktu dengan sekali kepakan ia melesat secara vertikal. Meninggalkan para penjaga yang bahkan tidak menyadari eksistensinya sedari tadi.

“Maafkan aku, Kyungsoo-ssi. Aku gagal.”

Dan kemudian sosoknya hilang dengan ribuan debu pixie yang tertinggal.

*

Pria itu mengerjapkan matanya pelan. Kepalanya berdenyut sakit, pun tubuhnya terasa lemas seperti tanpa tulang. Sejatinya Kyungsoo –pria itu tidak akan terbangun jika saja ia tidak merasa ada sesuatu yang menempel di dahinya. “Apa ini?” dengan susah payah ia mencapai bulu itu, mengambilnya dan memperhatikannya. “Bulu?” Matanya menyipit, berusaha menemukan sesuatu yang menurutnya janggal.

“Kenapa bulu ini berwarna putih? Dengan … debu pixie emas menempel?” di dalam benaknya kini muncul sederet pertanyaan, terlepas dari rasa sakit yang mendominsai tubuhnya, pikirannya justru tertuju kepada sehelai bulu sayap itu. Keturunan Blackblood memiliki sayap berwarna keabuan atau bahkan hitam pekat dan juga debu pixie sewarna arang. Satu-satunya pemilik sayap putih seperti ini adalah …. “—keturunan Whiteblood? Tapi … siapa?” kedua alisnya menyatu ditengah, mengguratkan rasa penasaran yang amat sangat.

Tiba-tiba suara derap langkah berhasil menghancurkan konsetrasinya. Suara itu bersumber dari bagian depan rumahnya. “Lee Yorin ….” Ucapnya dengan penekanan di setiap katanya, tubuhnya seketika mengejang menahan emosi. Amarah yang sudah lama ia pendam di dasar hatinya kini kembali muncul dan memenuhi seluruh sel-sel dalam tubuhnya. Bulu sayap yang ia genggam kini tak seperti bentuk yang seharusnya. Benda itu sudah hancur tak berbentuk terdesak oleh buku-buku jari tangan milik Kyungsoo.

Kilatan merah itu kembali terlihat. Berpendar mengerikan dari manik mata kecoklatan Kyungsoo. Kedua matanya kini bertransformasi menjadi merah mengganas, mengindikasikan kemarahan serta kesakitan yang tengah dirasakannnya.

“Kyungsoo-ssi, aku sudah kembali.” Kyungsoo menoleh. Dan ketika gadis itu muncul di ujung ruangan Kyungsoo menyambutnya dengan kilatan merah yang menusuk. Cukup untuk membuat gadis itu berjengit dan berhenti di sisi pintu. Pria itu mengeratkan genggamannya untuk kemudian membuang serpihan bulu putih yang sudah lebur di sisi pembaringannya.

“Lee Yorin….” Desisnya.

“K-kau … kenapa … Kyungsoo …..”

TO BE CONTINUED~

Wkaka:”v ini tulisan lamaaaaa jadi bahasanya rada nganu >< walau ini lama, tapi belum kelar juga:” /lirikaini/ aku share di sini, karena njamur di file cuma post di fb doang’-‘ ah, ya, yang ada gambar header(?) black and white itu patokan tulisan aku dan aini^^ bagian atas aku dan bagian ke bawah aini–

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s