[VIGNETTE] Finally


FINALLY

#sewinduproject2

Starring with

Jung Taekwon (VIXX) – Kim Daena (OC’s)

Support cast

All member of VIXX and Kim Mirae

Fluff, Romance, Friendship | Vignette? | Teen

Sekedar memahami lirik lagu tulus

Luhan

Sudah se(tiga)windu kau didekatnya,

 

“Leo, kau harus ikut aku,” dengan sangat tidak sopan Ravi menarik lengan pria yang sedang bermalas-malasan di kantin kantor entertaimentnya.

“Malas.”

Satu kata penuh makna lolos dari bibirnya.

Dan satu kata tersebut tidak akan pernah mempan kepada pria Kim tersebut. Maka, dengan ogah-ogahan Leo mengikuti langkah teman sepermain SMA-nya dulu menuju ruang latihan.

Matanya seketika membelalak setelah memasuki langkah pertamanya ke ruang tersebut.

“Apa-apaan ini?” ujarnya marah menatap seluruh orang disana termasuk Ravi.

Pria itu menoleh dengan wajah datarnya tanpa dosa dan mengatakan, “kenapa? Kau akan disidang tahu!” dengan entengnya.

Siapa yang tidak kaget kalau melihat sebuah meja dilapisi kain hijau ada di sebuah ruangan yang kau masuki dan dikelilingi oleh teman-teman akrabmu dan salah satunya mengatakan kau akan disidang? Ayolah, Leo pria paling introvert ini tidak pernah melakukan kesalahan kecuali pada Hakyeon dan Ken.

Suruh siapa mereka menjaili dirinya? Rasakan tendangan keras pada pantat mereka.

“Oh, hyung sudah datang!” sambut Hyuk sang pria termuda disana dan disahuti oleh yang lainnya.

Sekali lagi Leo menatap wajah Ravi dengan sangat tajam, melebihi silet.

“Sidang macam apa ini? Seharusnya sidang itu di kantor pengadilan yang harus dihadiri oleh PD-nim­, saksi, dan pengacara, bodoh!”

Hakyeon tersenyum, “oh, ini tidak seresmi itu kok, Taekwon.”

“Kalau tidak resmi, kenapa…”

“CEREWET! SURUH DIA DUDUK, RAV!”

Kalau saja ada pedang disekitarnya ia ingin menebas kepala setan yang dimiliki Ken.

Leo pun duduk di salah satu sisi meja tersebut sendirian dan lima orang lainnya duduk di hadapannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan sama sekali.

“Sebenarnya ini ada apa?”

Mereka semua diam, Ravi dan Hongbin tampak sedang menyiapkan sesuatu yang sepertinya sebuah buku dan bolpoin. “begini, kau harus menjawab semua pertanyaan dari kami dengan sejujur-jujurnya. Kalau tidak isi questioner yang sudah kubuat semalam tadi dengan sangat-sangat jujur.”

“Hah?”

“Kalau tidak jujur, kujamin kau tidak akan pernah bisa main sepakbola lagi,” sambung Ken yang kembali membuatnya naik pitam. “Ancaman macam apa itu!?”

Ravi langsung menaruh telunjuk di bibirnya dan memulai membaca isi dari buku yang dipegangnya.

“Sudah berapa lama kau dekat dengan sepupuku?”

Alisnya seketika naik beberapa senti, “apa maksudmu mempertanyaiku seperti itu?”

“Jawab saja!”

Leo mengembuskan napas dengan kasar, “sama seperti umurku.”

Hongbin langsung berbisik pada Hakyeon, “memangnya, Leo hyung umurnya sudah berapa tahun?”

“tiga windu.”

“Kenapa kau sangat akrab dengannya?”

Leo sedikit memiringkan kepalanya lalu sedikit tersenyum, “yeah, aku merasa klop dengannya.”

Beberapa pertanyaan sudah dilewai pria Jung itu dengan aman tanpa suatu hambatan apapun. Semua jawabannya benar-benar tulus dari hatinya dan semua teman-temannya hanya diam mengangguk-angguk mendengar jawabannya sedangkan Ravi sibuk menulis jawabannya pada buku yang mirip seperti buku agenda.

Hampir tiga puluh menit mereka melakukan ‘sidang’ itu dengan lancar sampai akhirnya terdengar suara penutupan buku dengan sedikit keras dan tatapan Ravi yang semakin tajam dan rautnya yang semakin serius.

“Selama ini apa kau menyimpan rasa pada Kim Daena?”

DEG!

Pria itu menunduk lalu tersenyum lebar dengan muka sedikit merah.

“Bagaimana aku  tidak menyimpan rasa terhadap dia, Rav?”

Semuanya mengembuskan napas setelah menahannya sejak pertanyaan terakhir tersebut diluncurkan, memang mereka sudah tahu kalau Leo akan menjawab seperti itu tapi tidak menyangka kalau responnya seperti itu.

“Sejak kapan kau mulai ada rasa terhadap dia?”

Leo hanya menggeleng pelan dan menjawab tidak tahu dengan pelan.

“Rasa itu sudah muncul sendiri. Aku tidak tahu apa sebabnya tapi setiap melihat Daena rasanya sangat nyaman meskipun dari kejauhan.”

Hakyeon berdeham kecil lalu menurunkan nadanya dan berkata dengan sangat pelan, “apa kau tidak mau memperjelas hubungan ini, Won-ya?”

“Jelas saja aku mau, tapi statusku, statusnya, juga memangnya dia juga ada rasa padaku? Dia saja pernah punya kekasih waktu SMA, apa kau tidak ingat?”

Ravi hanya mengangguk-angguk, merasa benar dengan ucapan Leo.

“Tapi apa setidaknya hyung bicarakan dulu pada Daena noona?” tanya Hyuk yang diangguki yang lainnya.

“Setidaknya biar lega, hyung,” sambung Hongbin yang semakin memperkeruh suasana hati Leo.

Sekali lagi pria Jung tersebut mengembuskan napasnya, kali ini lebih pelan.

“Tapi kan, waktu itu Daena juga menerima Youjin karena dipaksa juga mereka berhubungan hanya sekitar tiga bulan itupun yang meminta putus Daena karena dia tidak suka sikap posesif Youjin,” ujar Ravi, berharap memberi pencerahan pada mantan teman SMA-nya itu.

“…”

Ravi tersenyum kecil, “tenang saja, soalnya hari ini aku ada ja…”

Terpaksa ucapan Ravi terpotong karena ponselnya berbunyi pertanda ada yang menelponnya.

“Nah ini dia orangnya…”

KLIK!

“Ada apa, Dae…”

“YA, BAKKA! KAU ADA DIMANA, HAH? AKU SUDAH MENUNGGUMU DI CAFÉ HAMPIR TIGA PULUH ME…”

“Hei! Hei! Tadi aku ada urusan mendadak!”

“Bodoh amat! Aku sudah menghabiskan dua gelas mocha! Sekarang aku mau pulang! Jadwalku padat sekali, tahu!”

“Jangan dulu! Kau tunggu disana! Aku sedang mengendarai mobil ini!”

“Peduli amat!”

Ya! Kalau kau pulang dulu, aku tidak akan menraktirmu lagi!”

“Kenapa kau mengancamku seperti itu?”

“Karena kau matre.”

“Kubunuh kau Kim…”

“Sudah ya! Ini sudah lampu hijau, nih!”

KLIK!

Ken seketika menaikkan alisnya saat melihat Ravi yang sudah tergesa-gesa mencari kunci mobil di kantong celananya, “sejak kapan kau ada di perempatan dekat kantor kita, Rav?”

“Sejak aku bertelepon dengan idiot tadi!”

Dasar idiot!

“Aku pergi dulu ya! doakan aku semoga selamat setelah bertemu dengan idiot itu!” dan Ravi langsung melesat pergi begitu saja meninggalkan lima manusia yang sudah mulai berisik, contohnya saja Hakyeon dan Ken.

“Taruhan! Leo hyung bakal jadi kekasih Daena noona apa tidak?”

Leo yang merasa namanya terpanggil langsung melayangkan tatapannya, “kenapa kalian taruhan, hah?”

Dan dengan polos Ken menjawab, “lumayan hyung kalau menang dapat ayam goreng paket tiga.”

 

 

“Satu abad ya kalau mau bertemu denganku?” sambut Daena dengan muka bersungut dan tanpa dosa juga Ravi langsung duduk di depan sepupunya itu dan memanggil waitres.

Setelah waitres  itu pergi dengan hormat Daena langsung melipat tangan di depan, “sebarapa penting sih sampai mengancamku seperti itu, Kim Wonshik?”

Ravi langsung meletakkan tangan kiri di atas meja bundar tersebut, “sangat penting, bahkan menyangkut hidupmu dan Leo.”

UHUK!

“Apa katamu? Menyangkut hidupku dengan Leo? Memangnya ada apa dengannya? Dia diculik oleh sasaeng fan? Apa gimana?”

Ravi tersenyum kecil, “ah, perhatian juga kau dengan dia.”

BRAK!

“Katakan yang sebenarnya, Wonshik!” ujar Daena sedikit tidak sabar yang juga tidak menutupi kalau gadis berambut sebahu itu khawatir pada sahabat karibnya.

Ravi mengangkat jari telunjuknya, memohon memberi wkatu untuk menikmati black coffee sebentar. “Kim Daena-ah.”

Gadis itu mengangkat alis, bingung saat mendengar nada serius dari sepupunya.

“Apa kau itu tidak peka, ya?”

Alis gadis itu semakin terangkat, “apa maksudmu?”

“Pertanyaanku kurang jelas, ya? Kau itu tidak peka, ya?”

Kali ini genggaman gadis itu menguat di balik meja bundar tersebut, “apa maksudmu mengataiku seperti itu, hah? Enak sekali kau kalau berbicara!”

PLAK!

Ravi menaruh tangan kananya sebagai penyangga kepalanya, harusnya ia tahu kalau sepupunya tidak tahu apa-apa soal ini.

“Baiklah, akan aku ceritakan kejadian beberapa hari yang lalu sebelum aku bertemu denganmu hari ini, jadi kau harus simak baik-baik sebelum kau memakiku,” ujar Ravi dengan telunjuk kirinya mengarah ke wajah Daena yang sudah sedikit kusut. “Iya, iya!”

Dan dimulailah kisah seminggu yang lalu saat Leo mencoba menelepon dirinya yang saat itu kebetulan juga istirahat di kantor desainnya bersama Leena dan Naya.

Sampai akhirnya dua puluh menit telah berlalu.

Gadis bersurai sebahu tersebut hanya diam sesekali memandang taman yang berada di seberang café. Menurutnya Ravi sedang berdongeng yang ia tidak ketahui apa isinya, malas amat mendengar ceritanya yang sama seperti rumus volum balok.

“Kau itu sebenarnya bercerita, mendongeng, atau mengomeliku? Sama seperti ayah dan almarhumah ibu saja!” protesnya, masa bodoh kalau Ravi bakal mencekiknya karena sudah berani memotong perkataan sepupunya tersebut.

Tetapi sayangnya Ravi juga masa bodoh dengan omelannya.

Sial!

Ravi langsung meneguk habis black coffee-nya setelah menyelesaikan sesi ‘mendongeng’-nya yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Daena.

“Jadi itu sebabnya mengapa aku bertanya seperti itu, nona Kim.”

“Hah?”

Bibir kecilnya mengeluarkan kalimat konyol itu. Oh, ayolah ia sangat bingung sekarang apalagi Ravi menanyai kepekaan hatinya yang jelas-jelas ia tidak tahu topik apa yang dibahas Ravi tadi.

“Bodoh, kau itu peka tidak, sih?” tanya Ravi kali ini lebih keras dari yang sebelumnya.

“Apa maksudmu? Kenapa kau tanya tentang aku peka atau tidak? Juga kenapa tadi kau berbicara seperti rumus volume ba…”

“Kim Daena!” Ravi menyebut namanya dengan jelas membuatnya semakin terkejut.

“Apa sih, Ravi?” ujarnya kesal. Memang dikira telinganya tidak berfungsi sampai harus diteriaki seperti tadi.

“Kau itu peka tidak, sih? Kau tidak tahu, ya kalau Leo menyu…”

“Leo kenapa?”

“Sabar dong!”

Dan kali ini Daena harus diam, secara situasi yang ada dihadapinya sedikit serius.

“Dengarkan aku, oke, sekali saja,” dan gadis itu mengangguk kecil.

“Begini ya, dari semua kejadian yang kita alami, ah tepatnya kalian berdua aku hanya ikut menimbrung sejak SMA, sampai saat ini, semuanya, apa kau tidak tahu kalau Leo menyimpan rasa kepadamu?”

Dan terdengar hembusan napas dari Daena, gadis itu menundukkan kepalnya lalu merapikan rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya. “Jujur saja, aku tidak tahu harus jawab apa…”

Ravi memutar bola matanya malas, “Ah! Kan tinggal jawab tahu atau tidak tahu saja, kok!”

“Masalahnya tidak semudah itu, Kim Wonshik!” ujarnya sedikit membentak, entah kenapa ia merasa jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan lebih.

Daena langsung menaruh sebuah kotak berwarna biru muda di hadapan Ravi. Pria itu tertegun, menatap mata sepupunya, seolah meminta penjelasan dan sedangkan si empunya hanya memajukan dagu, menyuruhnya untuk membuka isinya.

Terlihat beberapa sticky notes berwarna dan beberapa foto polaroid menumpuk disana. Ravi mengambil salah satu sticky notes dan menatap kembali wajah Daena, “ini, maksudnya apa?”

“Itu isinya tentang permohonan atau hal yang ingin dicapai kami berdua.”

“Oh…”

Sembari mengecek isi dari beberapa sticky notes dan foto polaroid, dahi pria Kim itu semakin mengerut, “sejak kapan kalian membuat seperti ini? Ada banyak sekali.”

Yeah, sekitar dua windu yang lalu.”

TUK!

“Enam belas tahun yang lalu?”

Daena mengangguk.

“WOW…”

“Ish! Sudah kau baca saja isinya!”

Ravi kembali fokus pada sticky notes berwarna kuning yang berisi omelan Leo saat itu dan bersumpah ingin mengalahkan gadis itu untuk pertandingan sepakbola berikutnya dan sebuah foto polaroid yang menampakkan mereka tersenyum kecil dengan pemandangan gugurnya dedaunan di belakangnya, romantis sekali.

Jujur saja, Ravi sedikit iri dengan foto tersebut karena dirinya tidak bisa bertemu langsung dengan sang kekasih, Park Mirae. Gadis itu sedang menuntut ilmu di Paris sana.

Sampai akhirnya tersisa satu sticky notes berwarna biru muda yang masih tergeletak di dasar kotak tersebut.

 

Kencan ke pantai bersama gadis yang kusuka.

 

Ravi menatap wajah Daena sekali lagi sembari menunjukkan tulisan di sticky notes tersebut, “jadi, sebenarnya kau sudah tahu tentang ini?”

Daena menggeleng pelan, “sejujurnya, aku tidak tahu akan hal ini.”

“Tapi sebulan yang lalu aku sempat pulang ke Busan, aku kesana hanya ingin menilik keadaan ayah dan mengambil beberapa barangku yang ada di kamar. Sampai akhirnya aku membuka laci meja belajarku dan tak sengaja menemukan itu,” ujarnya dengan pelan, ia tidak tahu harus berbicara apa lagi.

“Awalnya yang kupikir tentang gadis itu Sona, tapi sepertinya mereka tidak pernah pergi-pergi selain ke salon dan mall. Kau tahu, kan, kalau Sona tidak suka terik matahari begitu, apa lagi di pantai,” sambungnya.

Ravi mengangguk-angguk kecil lalu bertanya, “kapan kalian pergi ke pantai? Lalu dengan siapa saja?”

Daena mendongak, kembali mengembuskan napas, “sehari setelah ujian nasional dan kami pergi hanya berdua saja.”

“Ah…”

“Jadi aku harus bagaimana, Rav? Jujur, aku sangat-sangat bingung dan…”

TING!

 

1 notification Line from Jung Leo

 

Jung Leo

Daena, besok bisa tidak ikut menonton film denganku?

 

 

Mati!

Apa yang harus kukatakan di depan Leo?

“Ravi!”

Daena langsung mengenggam lengan kiri Ravi dengan kuat, wajahnya memelas dan dipenuhi keringat dari pelipisnya, “Leo besok mengajakku ke bioskop, aku harus bagaimana, Ravi?”

Ravi hanya tersenyum.

“Utarakan sesuai kata hatimu.”

“Itu sih mudah untukmu! Makanya Mirae mudah jatuh ke pe…”

“Bilang saja kau iri kalau aku bisa mendapatkan Mi…”

BRAK!

“MASA IYA LEO MAU MENGAJAKKU KE BIOSKOP? DIA KAN IDOL, RAV! NANTI KALAU AKU DAN DIA MASUK BERITA GIMANA DONG?”

“ADA KALI BIOSKOP YANG SEPI, KAU SAJA YANG PARANOID!”

“IDIOT!”

“KAU JUGA IDIOT!”

Dan secara tidak sadar ruangan yang mereka sewa di café tersebut menjadi pusat perhatian orang yang berada di luar.

“Memangnya disini sedang ada idol, ya?”

“Entah, aku juga tidak tahu.”

 

 

Daena duduk dengan cantik di sofa ruang tamu flat milik Mirae. Entah ia harus berteriak senang karena sahabatnya sudah pulang kampung atau berteriak marah karena berkat Mirae ia sudah berubah dengan gaya penampilannya saat ini.

Rambutnya yang sejak lahir lurus-lurus saja tiba-tiba sudah sedikit curly dirambut bagian bawah dan wajahnya yang sedikit ternoda dengan make up natural ala Kim Mirae. Ah, jangan lupakan rok selutut hitam yang entah ia tidak tahu apa nama rok tersebut dan baju biru muda yang sangat bukan style-nya sama sekali.

Kata Ravi ia harus terlihat cantik untuk malam ini sedangkan kata Mirae ia harus sesekali feminim apalagi untuk acara kencannya yang menurutnya ini bukanlah acara kencan. Ia sudah pernah berkali-kali diajak Leo menonton film bersama.

Tapi sayangnya kedua pasangan tersebut tidak setuju dengan ucapannya, “ini tuh kencan, Kim Daena! K-E-N-C-A-N! Spesial! Jarang-jarang Leo mengajakmu kencan seperti ini, apalagi kalian sama-sama sibuk.”

Bodoh amat soal perdebatannya tadi yang penting ia harus menyiapkan jantung cadangan karena terdengar sebuah mobil berhenti tepat di depan halaman flat.

“Waha, welcome brother!” terdengar sambutan Ravi yang menggema, pertanda pangeran sudah datang.

Leo tersenyum kecil dan sedikit kaget saat Mirae juga ikut menyambutnya, “oh, Mirae sudah pulang?”

Mirae tersenyum, “iya, baru tadi pagi sampainya, Won-a.”

“Oh,” sampai akhirnya tatapannya berhenti pada Daena yang sedari tadi berdiri di tempat tanpa bergeser sedikit pun, “hai.”

“Oh, eh, hai!”

Ravi langsung menoleh kearah Daena yang sepertinya sedikit gugup, “ya kali Daena kau berdiri di situ terus?”

“Aish! Cerewet!”

Segera ia berjalan mendekati Leo, tapi Mirae tersenyum jahil kepadanya dan berkata, “good luck, darl.

Daena langsung menunjukkan muka jijiknya dan mengatakan, “aku akan membunuhmu kalau kau seperti itu lagi.”

Leo yang mendengar ancaman itu hanya tertawa lalu pamit kepada sepasang kekasih itu.

Selama perjalanan mereka hanya diam, sibuk tenggelam dalam pikiran dan kegiatan mereka masing-masing. Leo yang fokus menyetir dan Daena yang sibuk menghilangkan degupan jantung dengan mendengarkan lagu dari earphone putihnya.

Sampai akhirnya Leo yang membuka mulutnya, “kau make up sendiri?”

Daena menoleh dengan mulut yang sedikit terbuka, “kau kenal aku kan, Leo?”

Seharusnya Leo sudah tahu apa jawabannya dan itu semua hanya sekedar menghilangkan sedikit kegugupannya.

Beberapa menit kemudian tibalah mobil mercedez benz tersebut pada sebuah parkir mall kecil di sudut kota Seoul. Terlihat sepi mall tersebut karena memang ukurannya yang kecil dan letaknya yang jauh dari pusat kota.

“Kau mau kita nonton film apa?” tanya Leo setelah mereka menghadapa pada sebuah layar monitor besar yang tersedia di bioskop tersebut. Terpampang beberapa poster film yang sedang ditayang hari ini. Dengan kagum Daena menatap layar monitor tersebut dan mengatakan, ‘terserah, kan kau yang mengajakku nonton film.”

Romance?”

“No! Aku sudah bosan dengan genre itu. Ganti! Ganti!”

Comedy?”

“Ganti!”

“Ya sudah, berarti tinggal film ho…”

“Iya, itu saja! Kebetulan aku juga penasaran dengan film Annabelle.”

Leo tersenyum menggeleng, lalu berjalan menuju kasir, “dua tiket Annabelle.”

“Lima menit lagi, kau mau beli makanan?” sembari memberi salah satu tiket kepada Daena mereka berjalan pada stand makanan yang sudah tersedia disana, “popcorn, ya?” dan sang pria hanya bisa mengangguk.

“Popcorn satu dan cola satu.”

Daena menoleh pelan ke Leo yang sedang mengeluarkan dompet dari sakunya, “kau tidak?”

Leo menggeleng.

Setelah menerima pesanannya, Daena menyuruh Leo memegangkan cola miliknya, “lihat atraksiku, ya!” ia melempar satu biji popcorn ke udara dan dengan cepat gadis itu berputar dan popcorn tersebut tepat masuk ke mulut kecil gadis itu.

“Gimana? Bagus, bukan?”

Leo hanya tertawa kecil, “sudah lah, ayo kita masuk ke studionya.” Dan dengan reflek Leo menggandeng tangan Daena.

Daena sedikit terkejut tapi segera mulai terbiasa karena ia sebenarnya ia juga sudah terbiasa dengan seperti ini.

Tak lama kemudian film tersebut diputar, gadis itu mulai fokus pada film dan makanan yang ada di tangannya. Namun, saat makanannya habis dan saat adegan sang boneka melayang dengan mata merah Daena sedikit terkejut bahkan sampai mencengkeram tangan Leo yang membuat si empunya terkejut dengan teriakannya.

Lampu mulai dihidupkan kembali kala film tersebut sudah habis tayangnya dengan sedikit hati-hati Daena berjalan yang juga dituntun oleh Leo, semua itu berkat high heels 5 senti milik Mirae yang membuatnya tetap menggenggam tangan Leo sampai akhirnya ia hendak menabrak pintu kaca yang tertutup sebelah.

“D-Daena…”

“Hah?”

Sebuah pintu kaca hendak menyambutnya tapi itu segera terhentikan oleh panggilan Leo tadi, membuat beberapa orang menatapnya sedikit heran.

Dengan cepat Daena melepas genggamannya dengan Leo dan mulai berjalan di samping pria Jung itu.

“Mau makan?”

“Tadi kan sudah, Leo.”

“Makan malam maksudnya, Daena…”

Gadis itu tersenyum kikuk, “ah, oke, terserah. Aku ikut kau saja.”

Sampai akhirnya mereka duduk di salah satu rumah makan yang terletak di luar mall tersebut. Mereka duduk berhadap-hadapan membuat mereka sedikit kikuk dan akhirnya Daena memilih menatap kearah lain selain Leo dan tak lupa juga dengan musik yang mengalun pada earphone-nya.

“Dae-Daena… kau mau pesan apa?”

“Ah?” lagi-lagi ia melamun.

“Aku ayam goreng biasa saja.”

“Baiklah, ayam goreng dua,” dan setelah waitres itu pergi Leo memanggil gadis itu, “Daena.”

“Hm, ya?”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Daena mengangguk.

Jujur saja jantungnya sedikit berdegup lagi.

“Sikapmu tadi sedikit agak aneh,” ujar Leo dengan jujur membuat Daena sedikit memiringkan kepalanya, “hah? Maksudmu?”

Leo tertawa kecil, “tuh, kan.”

“Memangnya aneh gimana, sih?”

Pria itu menelan ludah dengan pelan dan berkata, “seperti melihat orang yang kau sukai.”

UHUK!

“Eh, Kim Daena!” Daena langsung mengambil tisu dari tas selempangnya dan membersihkan noda yang ada di sekitar bibirnya, “maaf, aku sedikit kaget.”

“Justru aku yang minta maaf membuatmu seperti ini,” ujarnya dengan sangat khawatir.

“Oke.”

Beberapa menit mereka berdiam diri sampai akhirnya mereka hendak mengeluarkan suara tapi tertahan sesaat karena pesanan mereka sudah datang. “Nanti saja habis makan, oke?” Daena mengangguk kecil karena matanya sudah fokus pada ayam goreng.

Lima belas menit setelah itu mereka mulai berdiam diri lagi.

“Kau mau bilang apa?”

Leo menggeleng pelan, “kau dulu saja, aku nanti.”

“Baiklah. Omong-omong, kau masih ingat tentang catatan kita dua windu yang lalu itu? Waktu dulu kita menulis tentang harapan-harapan kita yang ingin diwujudkan,” Daena terdiam menunggu respon Leo yang ternyata hanya menyimak saja.

“Ah, sepertinya kau lupa, Leo-ah, jadi ini tidak usah diba…”

“Aku masih ingat,” Daena terdiam mematung. Sejujurnya ia berharap kalau pria itu lupa akan kegiatan mereka dulu, tapi kenyataan di lapangan berbeda.

“Aku masih sangat ingat, Daena. Ini juga yang ingin kubahas padamu, kegiatan kita saat dulu.”

Daena merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ssebelumnya, namun ia berusaha untuk menetralkan.

“Tentang sumpahku yang ingin mengalahkanmu dalam pertandingan sepakbola, mengalahkanmu dalam ulangan kimia, sampai tentang aku yang ingin mengajak seseorang yang spesial untuk pergi ke pantai bersamaku, bukan?” gadis itu mengangguk pelan, sangat pelan.

“Sejujurnya aku bukanlah pria yang bisa dengan mudah mengungkapkan perasaaanku pada seorang wanita yang kusuka, aku hanya pria yang ingin membahagiakan seseorang itu dengan tindakanku meski aku dicap bodoh sekalipun.”

“Jika kau bertanya padaku sejak kapan aku mulai menyimpan rasa kepadamu, aku tidak akan pernah bisa menjawabnya. Saat dua windu yang lalu tulisan yang ingin kutorehkan hanya itu saja, tidak ada yang lain. Itu yang ada dipikiranku saat kita berumur delapan tahun.”

Daena menunduk, meremas tangannya dengan gemas, “aku, aku minta maaf kalau membuatmu…”

“Tidak usah begitu, itu sudah resikonya sendiri, Daena.”

Daena mengembuskan napasnya pelan, tidak tahu apa yang harus dikatakannya selain menunduk.

“Selama tiga windu, hubungan kita seperti ini, yang penting kita sudah saling nyaman dan aku tidak apa,” Daena mendongak menatap wajah Leo yang tersenyum kecil kearahnya, seperti senyumannya yang dulu saat setiap pagi mereka berangkat ke sekoldah di Busan.

“Saat kau hendak melakukan bunuh diri di Sungai Han yang ada dipikiranku bagaimana hidupku selanjutnya bila kau pergi. Aku hanya takut kau pergi meninggalkanku dan tidak akan pernah kembali lagi.”

“Mau dengan kondisi apapun, asalkan kita dekat seperti ini, aku senang, Daena.”

Leo mengakhiri ucapannya dengan hembusan napas yang amat sangat lega.

Dan sang gadis sedikit membelalakkan matanya, tidak tahu harus merespon apa kala mendengar hembusan napas Leo.

“Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana.”

Leo kembali menegakkan tubuhnya menatap wajah tertunduk Daena.

“Tentang kita, masa kecil kita, sikapku padamu, sikapmu padaku, semuanya, aku hanya merasa nyaman denganmu. Meskipun kita pernah memeiliki seseorang yang spesial sebelumnya, tapi sepertinya Youjin tidak sama denganmu, bahkan sangat beda. Jarang aku menemui seseorang sepertimu yang bisa mengerti dan memaklumiku.”

Daena mendongak, memberanikan diri menatap wajah Leo, “semuanya yang pernah kita lalui bersama, yang kupikirkan adalah bagaimana caranya agar kita tetap seperti ini.”

“Tapi sepertinya akan sulit, mengingat statusmu sebagai idol juga aku yang sebagai desainer dan kru di stasiun televisi,” ujar Daena dengan senyuman kecil yang tanpa ia sadari Leo menggeleng pelan.

“Eh!”

Daena mengecek jam tangan putihnya di pergelangan tangannya, “sudah jam sepuluh nih, Leo. Ayo pulang! Besok aku ada jadwal review pakaian untuk dramanya Hakyeon!”

Lalu mereka berjalan menuju parkiran mall tadi. Selama perjalanan langsung tidak ada satupun yang memulai bicara, sampai akhirnya Daena merasakan tubuhnya menghangat kala sebuah jas tersampir pada kedua pundaknya.

“Jangan pikirkan status kita, asalkan kita seperti ini aku sudah nyaman dan bahagia.”

Daena menoleh kearah Leo, tersenyum lebar.

“Terimakasih, sudah mau mengertiku.”

 

END.

 

Pesan indah untukmu yang selalu setia dengannya

 

Sewindu ketiga kalinya sudah kau berada di dekatnya

Kau selalu tersenyum kala gadis itu keluar dari pintunya

Kau memasang senyum terbaikmu berharap agar cerah harinya

Di setiap harinya

Cukup bagimu mendengar celotehan dan senyuman khasnya ala dia

Selama itu pula gadis tersebut tidak tahu akan rasa yang kau simpan padanya

Tapi kau tak apa

Kau tersenyum kecil

Dan hati kecilmu selalu berkata

“tak apa seperti ini, asalkan rasa nyaman itu masih terselip diantara kami. Itu tak apa.”

 

sori banget kalo ngepost ‘sewindu project’-nya lama bikos ngejar materi efek pulang ojt + ngejar remidi sana sini :v juga ternyata request kok pada numpuk ‘-‘ oh iya minta maaf banget kalo basanya nganu :v

Advertisements

One thought on “[VIGNETTE] Finally

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s