[FREELANCE] High School


PicsArt_1460140229024

Songwriter : @Yunietananda (IG, Twitter, Wattpad)

 

Title : High School

 

Artist(s) : Kim Taehyung (BTS), Kim Hyuna (OC).

 

Featuring : Others Member of BTS, beberapa OC.

 

Genre : School life, Romance, AU.

 

Rating : PG-17

 

Duration : Oneshoot

 

Summary : Masa SMA ku tidak begitu berkesan memang, tapi Tuhan memiliki scenario lain yang mengharuskanku kembali ke sebuah SMA. Dan hei! Aku rasa, aku jatuh cinta! Pada seorang siswaku. Oh? Eetteohke? Bahkan usia kami terpaut cukup jauh?!?!

 

Disclaimer : Para member BTS mutlak milik Keluarga, BigHit Ent, serta A.R.M.Y. Sedangkan Fiction Cast beserta alur cerita murni karangan Author. Adapun kesamaan tempat, nama, karakter adalah unsur ketidak sengajaan. Tidak ada maksud terselubung dalam FF ini, semuanya hanya untuk hiburan semata.

 

A/N : Tema yang mainstream, tapi sebisa mungkin aku membawakannya dengan cara yang berbeda. Kalian mungkin akan berfikir ‘Ah seperti pernah baca!’ karena banyaknya cerita semacam ini, tapi percayalah FF ini murni hasil karangan author. Komentar, Kritik serta saran Juseyo!^^ Gamsahabdina readers. 🙂

 

Story :

HIGH SCHOOL

Namaku Kim Hyuna, teman-teman sering memanggilku Kim Hyun . Lantaran aku dulu semasa sekolah sedikit tomboy. Kata orang masa SMA adalah masa terindah, tapi bagiku itu adalah masa tersuram. Orang bilang cinta saat SMA itu manis, buatku justru pahit dan menyakitkan.

 

SMA adalah masa dimana paras dan uang jadi dominan dalam bergaul. Banyak genk yang terbentuk saat itu. Bagaimana dengan nasibku? Walaupun aku anak orang kaya dan punya prestasi, bukan berarti aku populer dan banyak teman kala itu. Hobi olahraga membuat kulitku jadi kusam, penampilan berantakan dan tak menarik. So, aku hanya masuk ke kelompok Loser yang jadi bulan-bulanan anak populer. Bukan Hyuna namanya kalau cuma bisa diam saja, tapi karena perlawanan, aku semakin tersudut dan dikucilkan dari pergaulan.

 

Gimana dengan kisah cintaku? tentu saja aku pernah merasakan jatuh cinta meskipun tidakk pernah terbalas, bahkan sebelum aku mengungkapkan perasaan ini, setiap namja yang kusukai sudah illfeel duluan terhadapku.

 

Tapi itu kisah kelamku jaman masih berstatus murid. Now, everythings is change! Belajar dari pengalaman yang kelam, aku bermetamorfosa menjadi yeoja anggun, dan resmi menjadi seorang guru olaharaga baru di sebuah SMA Swasta Elite bertaraf Internasional.

 

.

.

.

 

“Selamat pagi anak-anak! Hari ini kita akan belajar teori di kelas. Jadi kalian tidak perlu berganti pakaian olahraga.” ujarku menghentikan langkah siswa-siswi yang hendak keluar kelas menuju ruang ganti.

 

“Kenapa Saem? Sedang datang bulan ya?” celetuk seorang siswa dan diikuti tawa dari teman-temannya.

 

“Kim Taehyung!” bentakku dan hanya mendapat ledekan serta tawa dari namja itu.

 

Hampir setahun aku mengajar disekolah ini, dan hanya ada 1 siswa yang suka membuatku marah. Kim Taehyung itu nama si biang onar disekolah ini. Murid kelas 2-02 ini sebenarnya anak yang memiliki IQ sangat mumpuni, banyak memiliki prestasi akademik dan olahraga, latar belakang keluarganyapun juga baik, hanya saja tingkah lakunya terkadang terlewat konyol bahkan cenderung jahil terhadap sesama murid bahkan ke gurunya. Harus extra sabar jika menghadapi murid seperti dia.

 

Namun terkadang aku seolah bercermin jika mengawasi tingkah laku anak itu. ‘Apa aku 4-5 tahun yang lalu seperti dia?’ tanyaku mencoba intropeksi diri.

 

.

.

.

 

“Taehyung, kemarilah!” panggilku menyelah permainan basketnya dijam istirahat keesokan harinya.

 

“Ada apa Saem?” tanyanya dengan gaya tengil khas miliknya.

 

“Sebenernya kamu punya masalah apa dengan saya? kenapa kamu begitu berisik dikelas saya, huh?” Karena terlampau kesal pada perilakunya, akhirnya aku pun memutuskan untuk bertanya langsung pada siswa paling berpengaruh di Sekolah ini.

 

“Oh itu, karena Hyuna Seonsaengnim adalah rivalku.” jawab hagsaeng itu dengan santainya.

 

“Maksud kamu apa?”

 

“Hyuna Seonsaengnim itu terlalu banyak memiliki prestasi yang harus aku lampaui. Jadi dalam hal ini anda adalah rivalku disekolah ini.”

 

Jamkkanman! kamu ini sebenarnya bicara apa ?”

 

“Meraih gelar MPV 3x beruntun di Kejurnas basket tingkat SMP, berlanjut 3x pula MPV di tingkat SMA. Belum lagi prestasi dibidang akademik yang selalu jadi alumni terbaik disekolah. Bahkan lulus kuliah dengan 2 gelar sarjana secara bersamaan ditahun yang sama dengan nilai tinggi, sungguh itu semua mengganggu pikiranku. Itu belum termasuk prestasi dari bidang olahraga lainnya. Anda sangat mengintimidasi Saem.”

 

“Darimana kamu tahu semua informasi itu?”

 

“Bukan V -nama lain dari anak itu- namanya jika tidak bisa mencari tahu sesuatu. By the way Saem, aku lebih suka kulit anda saat SMA, terlihat eksotis. Hahahahaha.”

 

“Cukup Taehyung-ssi! Saya minta hentikan semua kekonyolan ini. Dan bersikap baiklah.”

 

“Anda mau aku bersikap baik?”

 

“Ya.”

 

“Ok aku akan bersikap baik. Tapi ada syarat yang harus Hyuna Seonsaengnim penuhi.”

 

“Apa itu?”

 

“Ayo bertanding basket man to man. Kalau aku menang Hyuna Seonsaengnim harus memenuhi permintaanku. Tapi sebaliknya, aku akan memenuhi permintaan anda untuk bersikap baik jika itu anda yang menang. Gimana?”

 

“Kapan?”

 

“Besok, Jam istirahat pertama.”

 

Call!” Menyetujui permainan anak ini adalah satu-satunya cara menghentikan ketidak nyamanan yang dibuatnya. Setidaknya begitulah pikiran tersingkatku saat itu.

 

.

.

.

 

‘Priiiitttt prrrriiiitttt.’

“Pemenangnya adalah V! 26-24 atas Hyuna Seonsaengnim.” Teriak seorang siswa yang berperan sebagai wasit disiang yang terik ini.

 

Saem masih ingat dengan perjanjian kita kemarin kan?” celetuk Taehyung yang mengahampiriku seusai pertandingan di bibir lapangan, yang sedang menyesali kekalahanku.

 

Dwae, Apa yang harus saya lakukan?” sungutku masih dengan nafas tak beraturan.

 

Saem harus jadi kekasihku.” Bisiknya.

 

MWO?!?!?!” teriakku shock.

 

“Ssssttttt pelan-pelan saja Saem, biar tidak ada orang yang dengar.” lanjut namja berumur 17 tahun itu tetap dengan gaya tengilnya.

 

Andwae!” Tolakku.

 

“Kenapa tidak bisa? Hmmm apa anda mau sepanjang 1,5 Tahun kedepan anda selalu mendapat gangguan dan ledekan dari saya juga teman-teman?” ancamnya.

 

“Sebaiknya begitu.” ujarku dengan marah dan hendak beranjak dari tempat dudukku tadi, namun langkahku tertahan oleh tangan yang terlihat kecil tapi sangat berotot.

 

Jebal Saem. Aku menyukai Hyuna Seongsaenim. Aku tidak bisa lagi menahan perasaan ini. Jadi, tolong terimalah perasaanku.” pintahnya kali ini dengan nada dan raut yang sangat serius.

 

Seolah terhipnotis dengan ketampanan namja itu tanpa aku sadari jawabanku adalah “Baiklah, tapi pastikan tidak ada seorangpun yang tahu tentang hal ini.”

 

Gamsahabnida Saem, Love you so much.” Bisiknya dengan wajah berbinar kemudian menjauh sambil menari-nari tidak jelas.

 

Sepertinya aku benar-benar membuat kesalahan yang fatal. Kenapa aku seperti itu? hanya 1 jawabannya, karena seumur hidupku Taehyung adalah namja pertama yang menyatakan cinta kepadaku.

 

.

.

.

 

Taehyung’s message via chat room : Saem, nanti aku jemput jam 7.

Hyuna : Jemput? Mau kemana?

Taehyung : Berkencan.

Hyuna : Saya banyak tugas membuat soal untuk midtest.

Taehyung : Tenang saja. Nanti aku bantu mengerjakannya. Tapi bisakah kita menggunakan bahasa Informal saja saat berdua?

Hyuna : Kamu sendiri masih memanggil saya ‘Saem’.

Taehyung : Joh-a! mulai sekarang aku akan memanggilmu Hyuna, dan kamu panggil aku V.

Hyuna : Kim Hyun juga boleh.

Taehyung : Sirheo! Itu terkesan seperti namja.

Hyuna : Terserah. Sudah dulu ya, aku ada kelas.

Taehyung : Ok. See you.

Hyuna : 🙂

 

.

 

Ku akui V alias Taehyung termasuk orang yang punya komitmen tinggi. Setelah kami jadian, sikapnya berangsur membaik. Walaupun masih sering membuat gaduh kelas, setidaknya dia tidak lagi membully seseorang dengan ledekannya.

 

Satu lagi yang aku salut dari dia, malam ini dengan sangat gentle, dia datang ke rumah dan memperkenalkan diri sebagai pacarku serta menceritakan kebenaran yang terjadi antara kami berdua kepada orang tuaku. Awalnya Aboeji dan Eommani sedikit kurang setuju. Namun setelah beberapa menit kujelaskan, alhasil mereka memberi kami kelonggaran.

 

“Malam ini tidak jadi keluar ya?” Ujarnya tiba-tiba saat aku sudah siap untuk pergi. Jujur saja aku jadi sedikit kecewa.

 

Wae geurae?

 

“Ini pertama kalinya aku bertamu kerumahmu dan bertemu orang tuamu. Tidak sopan saja kalau kita keluar secara mendadak begini. Lagipula ini sedikit terlambat untuk dinner, kalaupun menonton film, pasti dapat tiket midnight. Makin kurang sopan lagi kalau kita pulang pagi. Kita ngobrol disini saja. Tidak masalahkan Hyuna?” aku tak menyangka pemikiran dewasa itu keluar dari mulut V yang sehari-harinya bersikap jahil, kekanak-kanakan dan rusuh.

 

“Oh Ok.” Akhirnya kamipun bertukar cerita dirumahku. Sesekali Aboeji atau Eommani juga ikut serta berbincang dengan kami. Well, dari perbincangan kami, aku menarik kesimpulan bahwa tingkah V yang rusuh itu hanya topeng dari kesendiriannya. Rasa sepi seorang anak tunggal dari keluarga konglomerat yang hari-harinya sering dihabiskan seorang diri dirumah harus dibayarkan dengan cara membuat onar dan jadi sumber kejahilan disekolah demi menarik perhatian orang lain terhadap dirinya.

 

Melihat cara bicaranya terhadap orang tuaku, sungguh tidak menunjukkan kalau dia masih murid SMA. Wajahnya yang serius ternyata sangat menawan. Aku juga baru sadar kalau V memiliki mata yang indah. Jantung ini berdetak sangat cepat kala mata kami saling bersua. ‘Oh Tuhan apa aku benar-benar jatuh cinta pada namja yang 5 Tahun lebih muda dariku ini?’ keluhku dalam hati.

 

.

.

.

 

Chat Room : Group SportClass

Ara : Girls, ayo nanti malam hangout! Sekalian menonton film Midnight. Aku juga mau kenalin seseorang ke kalian.

Yura : Pamer namjachingu baru lagi?

Jian : Aigoo! Aku absen kali ini. Aku ada latihan voli nanti malam.

Ara : @Yura : hehehehe begitulah @Jian : Kamu ini cari alasan terus! Sirik ya karena belum punya namjachingu? wkwkwkwkwk

Jian : Hya! Ajak bertengkar? Disini bukan aku saja yang single. Hyuna, Yunhee, Myunghee dan Gina juga masih sendiri. :p

Yunhee : Jian cari teman. hehehe

Gina : Aku sudah tidak single lagi sekarang. Nanti aku ajak juga uri Namjachin.

Ara : @Gina bagus!

Yura : Kim Hyun? Myunghee? Kalian datang juga kan?

Myunghee : Siap. Yunhee, kita berangkat bareng ya?

Yunhee : Ok. Kim Hyun kamu gimana? Bareng juga atau?

Jian : Pasti barenglah. Dia kan single.

Hyun : Aku usahakan datang. Tapi agak terlambat.

Jian : Tumben? Tidak bareng kita bertiga?

Hyun : Lihat saja nanti.

Ara : Harus datang Kim Hyun! Kalau kamu tidak bareng anak-anak, terus kamu sama siapa? Memangnya boleh pergi nonton dan nyetir mobil sendiri sama orang tuamu?

Hyun : Tentu saja tidak boleh. Sudahlah lihat nanti saja. Have a nice weekend guys.

 

Begitulah serunya chat dengan anak-anak segenk jaman kuliah. Karena kami mengambil jurusan yang sama dan sering dikelas yang sama, akhirnya  kami jadi dekat.

 

“Serius sekali Saem?” Tegur seseorang dari belakangku.

“V? Kebetulan kamu disini.” Seruku sumringah karena kami gak sengaja bertemu dilorong kelas.

Wae geurae?” tanyanya heran dan aku langsung mengetik sebuah pesan di ponselku untuk dibacanya. ~Nanti malam, teman-teman kuliahku mengajak nonton. Kamu bisa kan temani aku?~

“Yakin ingin kutemani?” tanyanya. Dan aku menganggukkan kepala dengan cepat sebagai jawaban, tanpa bertanya lagi maksud dari pertanyaan Taehyung. Lalu aku pun menangkap senyuman di wajahnya yang tampan.

 

.

.

.

 

Malam ini aku mengenakan pakaian casual yang biasanya kukenakan saat kuliah dulu. Aku hampir saja lupa akan usia ku yang sebenarnya masih 22 Tahun, lantaran sering memakai baju formal saat mengajar. Aku merasa senang malam ini bisa balik lagi jadi remaja, lantaran ada V yang menemaniku. Namja ini makin terlihat cool dengan mengenakan jaket jeans yang tak dikancing dan kaos hitam sebagai dalamannya dipadu padankan dengan celana jeans serta sepatu converse. Serasa back to teeneger.

 

Setibanya ditempat yang kami janjikan, sudah terlihat Ara, Yura, dan Gina bersama pasangan masing-masing. Ada pula 3 yeoja cantik yakni Yunhee, Jian, Myunghee yang sedang seru bergosip sendiri.

 

Sorry, aku terlambat.” Sapaku ketika sampai dimeja mereka.

 

Aigoo! Kim Hyun! Kamu membuatku negatif thinking saja. Tidak muncul di Grup. Chat juga tak dibalas. Bikin orang khawatir saja.” Omel Ara yang sering kami sebut dengan panggilan Momy karena kebawelannya.

 

Mianhae Mom. Biasa, orang tuaku suka ribet. Harus dinner dirumah dululah, inilah, itulah, belum lagi macetnya jalanan malam ini.” Jelasku super heboh.

“Kamu sendirian kesini?” Tanya Yunhee dengan raut penasaran.

Ani. Aku sama dia.” Celetukku sambil menunjuk ke arah V yang baru masuk ke restoran ini.

 

Nuguya?” Goda Yura saat V sudah berada disampingku.

 

Uri Namjachingu, Namanya Kim Taehyung atau V. V perkenalkan mereka ini sahabatku dikampus. Itu Ara, Gina, Jian, Myunghee, Yunhee dan ini Yura.”

Annyeonghaseyo, Salam kenal.” Sapa Taehyung terlihat sedikit kikuk tak seperti biasanya.

“Whoa! Sopan sekali. Santai saja Taehyung-ssi! Kamu masih kuliah atau sudah kerja?” Tanya Jian penasaran.

Terlihat jelas kalau V sedang kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hati ini tak kuasa melihat dia mati kutu seperti itu. Spontan saja aku menyeletuk “Dia masih SMA kelas 2. Dan V ini adalah muridku.”

 

What?!?!?!?!” Serempak ke 6 sahabatku ini terkejut mendengar pernyataanku barusan. Selama acara hangout itu aku merasa bahwa mereka punya 1001 pertanyaan tentang Taehyung kepadaku, tapi mereka berusaha menahan untuk menghargai Taehyung sebagai pacarku. Meskipun diawal terasa canggung, tapi akhirnya V, begitulah aku biasa menyapanya, bisa juga membaur dan memposisikan dirinya sebagaimana mestinya.

 

.

.

.

 

Chat room :

Ara : Anak-anak semalaman heboh karena kamu.

Hyun : Jincha? Memang mereka bergosip apa saja?

Ara : Banyaklah, kamu lihat saja di group.

Hyun : Ya sudahlah Mom. Aku terima apapun komentar mereka.

Ara : Tapi Kim Hyun, kamu serius V itu muridmu?

Hyun : Ye Mom. Aku mana pernah bohong.

Ara : Kamu tidak takut terkena skandal dan sebagainya kalau sampai ketahuan pihak sekolah Kim Hyun? Cari pekerjaan sekarang kan susah.

Hyun : Awalnya takut Mom. Tapi semakin kesini, aku semakin tenang. Justru aku belum siap saja kalau murid-muridku duluan yang tahu hal ini Mom.

Ara : Belum siap gimana? Kamu saja tidak takut terhadap pihak sekolah, kenapa justru takut dengan murid?

Hyun : V itu siswa terpopuler Mom disekolah. Fansnya cukup banyak. Aku malas saja jika sampai aku terkena bully mereka.

Ara : Kalau dari awal tahu seperti itu kenapa masih kamu lanjutkan?

Hyun : Because I’m falling in love with him.

Ara : Apa tanggapan orang tuamu soal ini?

Hyun : Kaget sudah pasti. Tapi mereka merestui kami.

Ara :  Syukurlah, Kalau restu sudah dikantong. Apapun didepan mata hajar saja!

Hyun : Dwae Mom. Gomapta, sudah menyempatkan waktu untuk mendengar curhatanku.

Ara :  Sama -sama.

 

.

.

.

 

Oppa! Kenapa difoto yang di upload oleh teman Hyuna Seongsaengnim Sabtu kemarin ada Oppa disana?” samar-samar terdengar seorang siswi bertanya dan menghampiri V dilapangan basket dengan hebohnya saat jam istirahat.

 

Jinchayeo?” Sahut teman setim V ikut bertanya.

 

Dwae Oppa. Yaerim sunbae jadi patah hati karena melihat foto di Instagram milik teman Hyuna seongsaemnim.” Imbuh salah seorang siswi lainnya.

 

Daebak! Yaerim, Min Ah, Seohyun kamu buat berharap, dan sekarang kamu berkencan dengan seorang guru?” sungut Jimin yang juga teman setim swkaligus sekelas dengan V. Sedangkan aku mencuri dengar saja pembicaraan tersebut dari Green Area yang letaknya bersebelahan dengan lapangan basket.

 

“Sssstttt kalian jangan berisik. Dengar! kemarin aku tidak sengaja  bertemu Hyuna Seonsaengnin dan kawan-kawan disana. Karena merasa tak enak hati menolak ajakan mereka, akhirnya aku ikut bergabung.” Sangkal V.

Keojinmal! Kalau kamu tidaak ada sesuatu dengan Hyuna Seonsaengnim, kenapa kamu tiba-tiba baik padanya?” bantah JHope senior V di tim basket.

“Itu cuma trik, Hyung. Sebentar lagi Ujian Semester, aku baik ke Hyuna seonsaengnim agar nilaiku bagus. Lagipula aku juga sedang mengincar posisi kapten basket ditim dari tangan Suga Hyung. Oleh karena itu aku manfaatkan Hyuna seonsaengnim, karena dia adalah salah satu pelatih yang menentukan nasib pemain!” Jelas V terlihat natural tanpa kebohongan.

 

Seketika itu hatiku hancur dan dibanjiri rasa kecewa, karena selama ini aku hanya dipermainkan oleh anak SMA. Tanpa sadar kaki ini mendekati segerombolan hagsaeng tersebut dengan linangan air mata.

 

Hyuna Seonsaengnim!?!?!?!” seru mereka serempak.

 

“Apa semua perkataanmu itu benar Kim Taehyung?” Mulut ini spontan saja berkata sambil ku pandangi lekat-lekat mata indah itu berharap menemukan satu jawaban yang pasti dari hatinya, tapi nihil.

 

Joesonghabnida, saem. Itulah kenyataannya.” ucapan itu keluar dengan mulusnya dari mulut V. Seketika itu juga aku sadar bahwa ini semua nyata. Lantaran malu akupun berlari begitu saja meninggalkan sekolah. Ada secuil harapan V akan mengejarku dan mengatakan kalau semua itu hanya sandiwara untuk kebaikan kami berdua.

 

Namun hingga seminggu aku cuti mengajar tak ada satu katapun yang masuk ke handphoneku darinya.

 

.

.

.

 

Chat room : Group Sportclass

Jian : Mianhae, aku tidak bermaksud merusak hubungan kalian.

Hyun : Gwaencanayeo. Gomapta Jiian-a. Berkat kamu, aku jdi tahu isi hati V yang sebenarnya.

Gina : Dari awal aku sudah merasa ada yang aneg dengan anak itu. Ternyata memang bullshit.

Yunhee : Aku tidak sependapat. Justru aku merasa sebenarnya dia itu  serius terhadap Kim Hyun. Hanya saja dia gengsi saat ketahuan teman-teman sebayanya.

Ara : Aku sependapat dengan Yunhee.

Hyun : Tapi girls, dia itu terlalu mudah bilang maaf. Dia juga datar saat bilang ‘Inilah kenyataannya.’ Sakit rasanya diperlakukan seperti itu. Kalau saat itu dia bohong harusnya dia datang, telepon ataupun mengirimiku pesan untuk menjelaskan semuanya.

Yura : Apapun itu V pasti punya alasan sendiri. Salah ataupun benar tetap harus mencoba memaafkan, Kim Hyun. Yakinlah Tuhan pasti akan menunjukkan kebenarnnya suatu saat nanti.

All : Amiin..

Yunhee : Apa rencanamu selanjutnya Kim Hyun? Tidak mungkinkan cuti terus sampai sebulan?

Hyun : Molla. Orangtua menyuruhku melanjutkan S2 Manajemenku di Belanda agar bisa melupakan namja itu.

Myunghee :  Belanda? Apa tidak terlalu jauh? Kalau kita ingin bertemu bagaimana?

Hyun : Kalian yang datang saja kesana. Hahaha

Jian : Apapun itu, jika untuk kebaikanmu kami pasti dukung.

Hyun : Gomawo Chingudeul. I Love You.

 

.

.

.

 

Tekadku untuk pergi ke Belanda sudah bulat. Surat pengunduran diriku sudah aku layangkan via pos. Semenjak kejadian itu tak sekalipun aku ingin pergi ketempat bernama SMA lagi. Kepopuleran yang fiktif benar-benar membuat suram siswa yang menganut kepercayaan itu.

 

Hingga saatnya aku berangkat tiba-tiba pihak sekolah memaksaku untuk datang. Berdalih ingin mengucapkan perpisahan itulah pintah dari Kepala Sekolah. Dengan berat hati aku melangkah juga ke SMA tersebut. Terlalu singkat waktu yang kuhabiskan disekolah itu, namun terlalu perih luka yang ditinggalkannya.

 

Akhirnya seharian itu aku berpamitan kepada para siswa dari kelas ke kelas. Sengaja aku memilih kelas 2-02 sebagai kelas terakhir karena aku ingin sesingkat mungkin berada disana. Selain itu juga aku ingin menghindari bertemu dengan V. Setibanya diruang itu justru sosok V tak ku temukan disana. Bangkunya terlihat lama kosong. Saat aku beranjak pergi Jimin berlari menghampiriku.

 

Saem ini dari V. Tolong maafkan dia, Saem!” Ujarnya sambil menangis dan menyodorkan sepucuk surat yang sedikit lecek.

 

“Kenapa kamu menangis Jimin-ssi? Dimana V?” Tanyaku penasaran dengan siswa didepanku ini.

 

“V kecelakaan Saem, 3 minggu yang lalu. Saat dia dengar anda mengundurkan diri, dia memacu motornya ke arah rumah anda malam itu. Tapi dia kecelakaan ditengah perjalanannya. Dan surat itu saya salin dari sms yang tidak terkirim ke anda. Dari pihak keluarga meminta kami semua untuk merahasiakan hal ini dari Hyuna Seonsaengnim dengan alasan tidak ingin merusak masa depan anda.” Jelas teman sebangku V ini masih dengan terisak.

 

“Sekarang bagaimana keadaannya?”

 

“V masih koma dan dirawat diRumah Sakit dekat rumah anda Saem.”

 

Seperti dipukul alat berat kepala ini, serasa hampir kehilangan keseimbangan pula kaki ini. Namun untungnya ada Abeoji dan Eommani yang langsung menopangku dan membantuku menuju mobil.

 

.

 

Dear Miss Hyuna.

Aku adalah laki-laki bodah, jahat dan tak berperasaan lainnya yang kamu kenal. Kesalahanku tentu sangat menyakitimu untuk kesekian kalinya. Kalaupun benci itu muncul dihatimu, sangatlah bisa ku pahami. Mungkin rangkaian kata maaf juga belum bisa mengobati luka dihatimu. Hanya satu kenyataan yang perlu kamu tahu, bahwa perasaanku ini nyata terhadapmu. Hanya saja rasa malu serta gengsi telah membutakanku waktu itu. Kini aku hanya bisa hidup dalam penyeselan. Jujur saja aku tidak ingin kamu pergi tapi, jika itu adalah yang terbaik untukmu maka doaku bersamamu.   

Berbahagialah disana, hidup dengan baik dan lupakan aku secepat yang kamu bisa. Apapun yang terjadi jangan menoleh kearahku lagi. Karena aku tidak layak mendapat cinta yang begitu besar darimu. Dimanapun, kapanpun perasaan ini akan tetap untukmu. Maaf atas segala kebodohanku.

From Kim Taehyung.

 

Setelah membaca surat itu air mata ini tak henti-hentinya mengalir. Selama perjalanan hanya doa dan asa untuk kesadaran beserta kepulihan V yang kupanjatkan pada Tuhan.

 

.

.

.

 

8 bulan kemudian…

“Hari ini tidak pergi melatih, Saem?” Sambut seseorang yang menunggu diparkiran kampus di Sabtu sore yang cerah.

 

“Aku sudah meminta Myunghee untuk menggantikanku hari ini. Jadi kita bisa pergi berkencan.”

 

“Dasar curang!”

 

“Mau bagaimana lagi? Sebagai calon istri, aku kan harus ada untuk suaminya.”

 

“Baiklah. Tapi sebelum kencan kita ke Rumah Sakit dulu ya?”

 

“Apa kamu merasa kurang sehat?”

 

Ani, cuma ingin check up saja. Siapa tahu bulan depan sudah bisa ikut tournament.”

 

Eiii Taehyung-a, Jangan bilang kamu mau ikut seleksi untuk Kejurnas ya?”

 

“Iya, kenapa?”

 

“Kamu itu sudah kelas 3 SMA! Harusnya lebih fokus untuk Ujian Akhir dan tes masuk Perguruan Tinggi!”

 

Arayo! Tapi aku tetap ingin ikut Kejurnas agar bisa menyamai prestasimu.”

 

“Tapi bagaimana dengan cideramu paska kecelakaan itu? Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa V!”

 

Arasseo. Tuhan bersama kita, percayalah! Tidak perlu khawatir, selama kamu bersamaku, aku akan kuat.”

 

“Janji ya?”

 

“Janji.” ujar V dengan tatapan yang teduh lalu mencium keningku. “Aku juga berjanji, begitu lulus SMA kamu akan jadi pengantin wanitaku.” Imbuhnya.

 

Aku bersyukur bisa menghabiskan waktu bersamanya, memperbaiki waktu yang sempat terlewatkan. Walaupun aku sibuk dengan study S2 yang kuambil, tapi V selalu menyempatkan diri sebisa mungkin ada disisiku. Begitupun sebaliknya. Berawal dari ketidaksukaanku terhadap masa SMA yang aku alamai, justru kini calon suamiku masih siswa SMA.

___________________THE END ___________________

By. Yunietananda

 

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s