[DRABBLE] Time


PicsArt_05-18-04.46.34.png

Time

Kim Jong In x OC

GENRE.Hurt RATE.G LENGHT.Drabble ((330cws))

Aku terbangun dari tidur saat seseorang memukul kepalaku dengan sebuah pulpen. Aku menatap punggungnya lama hingga ia berbalik. Segera kutegapkan punggung juga mengucek mataku, kemudian memperhatikan ia yang berjalan ke arahku.

“Belum pulang?”

Aku mengangguk. “Aku baru bangun.”

“Ah, iya. Aku tadi ‘kan yang membangunkanmu.”

Aku menunggu ia yang tampak sedang berpikir; sepertinya ada hal lain yang ingin ia katakan. Tapi tiba-tiba gadis itu berjalan ke meja di belakangku, mengambil tas, juga beberapa buku dari dalam laci.

“Mau pulang bareng?”

Aku diam sebentar. Napas kesalnya terdengar tanda tak sabar. Aku membuka mulutku. “Aku pulang nanti. Aku belum mengembalikan buku-buku perpustakaan.”

Gadis itu tampak kecewa saat ia menaruh buku dari tangannya ke meja, lalu mengencangkan ikat rambutnya yang kendur. “Apa mereka membayarmu? Kamu bodoh, Jong In. Kamu kan bisa bebas menyuruh anak lain untuk mengembalikan buku-buku sialan itu. Kamu ‘kan ketua kelas—“

“Ini tanggung jawab.”

“Dasar bodoh. Karena mereka tahu bakal begini, jadi mereka menaruh beban itu begitu saja di pundakmu!”

“Jangan merajuk, Rian.”

Rian tidak jadi membuka mulutnya saat aku bangkit dari kursi. “Pulang saja dulu. Nanti aku ke rumahmu.”

“Aku akan menunggumu. Di sini.”

“Tidak mau membantu?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Rian terus memandang sneakers hitamnya tanpa menjawab. Aku menghampirinya dan duduk di hadapannya. “Mau kumainkan sebuah lagu? Aku tidak yakin bagus sih, tapi setidaknya ini lebih baik daripada kumpulan not balok di tanganmu itu.”

Gadis bersurai legam itu tampak lebih semangat dari beberapa detik lalu. Ia memajukan kursinya, lalu melipat lengan di atas dada.

Kemudian aku mengambil gitar, lalu memangkunya. “Dengarkan baik-baik. Kalau perlu jangan bernapas.”

Ya, Kim Jong In! Aku bisa mati.”

“Aku janji akan memberimu bunga tiap hari.”

“Hanya itu? Dan membiarkanku mati begitu saja?”

“Yang punya keinginan mati ‘kan kamu. Bukan aku.”

Kumainkan beberapa intro nada sebisaku. Senyumnya belum luntur saat memandang jariku di atas senar. Tapi ketika ia menatapku, bibirnya menekuk. “Kamu tidak bisa. Pekerjaanmu hanya mengambil buku tugas, mengembalikan buku ke perpustakaan, memimpin rapat dan mengambil keputusan. Tidak ada gunanya.”

“Terserah.”

Rian berdiri, kemudian mengambil buku-bukunya kembali. “Aku akan pulang. Dah.”

Aku mengangkat wajahku sekadar memastikan kalau Rian benar-benar pergi dari bangunan ini. Aku tidak mau ia menungguku lagi hingga malam. Musim dingin sudah tiba, aku tidak ingin ia sakit. Paling tidak, memperhatikan gadis itu dari jauh lebih nyaman untukku daripada duduk berhadapan dengannya. Senyumnya tidak pernah berubah sejak pertemanan kita selama lima tahun. Tidak pernah berubah; selalu membuat jantungku “lebih” hidup.

end

Friendzone itu menyakitkan:”v btw aku bingung mau kasih judul apa/? Jadi sory kalau ngak cocok:”v
Advertisements

One thought on “[DRABBLE] Time

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s