[Ficlet] To Do


large
cr: weheartit

To Do

naya손’s plot | Seventeen’s Kim Mingyu & Yoo Jeonghan | Ficlet | Teen | AU, Hurt-Comfort, Friendship

“… jika kau ini aku, apa yang akan kau lakukan?”

***

Mungkin, kisah-kisah patah hati sudah basi untuk didengar. Mungkin, nyaris tak ada lagi apa itu patah hati. Mungkin, orang-orang pikir kesuksesan hubungan mudah diraih kini–tanpa penghalang berarti. Mungkin oleh karena itulah, racauku enggan dirungu.

Maka di sinilah aku.

Aku bukan peminum, jadi aku memilih menyeduh kopi banyak-banyak untuk menepis soju dan sake. Bahkan sebetulnya tanpa alkohol pun aku sudah cukup mabuk–aku tak tahu isi pikiranku sendiri, membiarkannya keluar begitu saja.

“Sisakan secangkir untukku.”

Aku tidak sendirian. Itu suara Jeonghan, teman satu rumahku. Ia lembur menggarap tugas kuliahnya dan beberapa deadline kerja paruh waktunya. Kadang aku iri dengan pria bersurai panjang ini, yang selalu punya kegiatan untuk mengisi relung hati dan pikirannya.

Jeonghan menyambar cangkir kopi terakhir di mejaku, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk. Sejenak ia merenggangkan otot lengan dan bahunya sebelum akhirnya menatapku. Prihatin.

“Masih Sooyoung?”

Ah, nama itu lagi. Reflek aku mengangguk. Park Sooyoung. Ah, aku kembali terbayang wajah manisnya.

“Kau harus ingat, dia tidak pernah menyembunyikan Wonwoo.”

Ah, nama itu lagi. Aku tersenyum bodoh, seakan-akan ekspresi itu satu-satunya yang pantas untukku. Jeon Wonwoo. Ah, Sooyoung tak pernah berhenti membicarakan mata dan bibirnya.

“Kau baik-baik saja?”

Jeonghan (seharusnya) tahu ia tidak perlu menanyakan kalimat yang kerap ia ulang dalam satu jam terakhir ini. Jeonghan tahu, aku tidak baik-baik saja. Dan sebagai tambahan, tidak akan pernah baik-baik saja.

Maka pria itu memilih untuk tidak menunggu jawabanku. Aku bisa melihat jemarinya menekan tombol papan ketik laptopnya untuk menyimpan sebuah dokumen. Bahkan Jeonghan rela meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk orang sepertiku.

“Aku sebetulnya tidak suka ikut campur urusan orang lain, kau tahu,” katanya. “Tapi sikapmu ini benar-benar mengusikku.”

Aku mengangkat wajah, menangkap sorot matanya yang tajam. Tapi jauh di dalam sana, ia menatapku kasihan. Oh, apakah aku begitu menyedihkan?

“Sooyoung tidak salah. Ia memang menyukai Wonwoo–sudah lama–dan kau adalah temannya–sejak lama.”

“Aku hanya temannya,” ralatku.

Jeonghan menggeleng tegas. “Dalam sebuah hubungan, apapun itu, tidak ada kata hanya. Sooyoung tidak menginginkanmu menjadi seperti ini.”

“Sooyoung tidak pernah menginginkan apapun dariku.”

Jeonghan berdecak sebal. Ia memang tipe orang yang selalu mencari jalan keluar dan selalu berpikir positif. Ia juga tak kenal kata menyerah. Maka sulitlah baginya untuk bicara padaku, seperti mengajarkan satu tambah satu pada seorang bayi.

Kami berdua membiarkan hening membelah selama beberapa saat. Aku masih mengharapkan lebih banyak kopi lagi, tapi Jeonghan tidak akan setuju.

“Kau …” aku membuka suara. “… jika kau ini aku, apa yang akan kau lakukan?”

“Yang pasti aku juga akan menyukai Sooyoung,” jawabnya langsung, cukup membuatku terkejut. “Kaget?”

Aku mengangguk. Apa selama ini Jeonghan juga menyukai gadis itu?

“Tapi aku bebas menyukai siapa saja, termasuk Sooyoung. Sooyoung juga punya kebebasan untuk menyukai Wonwoo,” lanjutnya. “Dalam sebuah hubungan, tidak ada yang salah. Yang ada yaitu yang mengalah.”

“Jadi … kau bilang aku harus mengalah?”

“Sooyoung sudah mengalah,” Jeonghan berhenti sejenak, kembali membiarkan sepi di antara kami. “Sooyoung mengalah pada egonya untuk tidak menyakitimu.”

Aku mulai tidak memahami arah percakapan ini.

“Sooyoung akan ke Paris,” kata Jeonghan. “Ia tahu, kau tidak suka berhubungan jarak jauh. Nah, nah, bahkan dengan statusmu kini sebagai temannya kau tampak tidak terima ‘kan ia akan pergi jauh?”

“Jadi maksudmu …”

Jeonghan mengangguk. “Sooyoung tau kau menyukainya, tapi gadis itu tidak bisa membalasnya sebab ada orang lain. Ia ingin tetap menjaga hubungan denganmu, dengan cara berteman. Padahal jika sanggup, ia ingin langsung saja pergi dari hidupmu agar kau tidak terlalu sakit hati.”

“Tapi kenapa …?”

Kali ini Jeonghan tak punya jawaban panjang. Ia hanya mengangkat bahu, sejenak kemudian kembali fokus pada laptopnya. Aku dibiarkannya terombang-ambing, mencoba menelan kata-katanya barusan.

“Orang bilang kau harus mencari orang lain agar patah hatimu sembuh,” celetuk Jeonghan. “Walau sebelumnya kau perlu menangis dan marah. Sooyoung bukan satu-satunya gadis di Bumi.”

-finish-

Janngan tanya aku nulis apa >/< setelah ‘menghilang’ (akhirnya) muncul lagi, tapi yah … disyukuri saja ya wks

Advertisements

One thought on “[Ficlet] To Do

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s