(Chaptered) The Black Mission -Part 10 (FINAL)-


the black mission part 10

T H E  B L A C K  M I S S I O N

Presented by

HARUHI

Shim Changmin (TVXQ), Victoria Song (fx), Jung Yunho (TVXQ) || Featuring: Choi Siwon (SJ), Xiumin (EXO-M), Kim Myungsoo (Infinite), Kris Wu (EXO-M), Kai (EXO-K), Hankyung (SJ) | Genre: Action, Friendship, Family, Romance, Crime, AU, (a bit) Gore | NC (Violences) | Duration: Chaptered

 

Previous : Teaser | Part 1 Part 2 Part 3 | Part 4 Part 5 Part 6 Part 7 | Part 8 | Part 9

© 2015 Haruhi – All Right Reserved

 

*

.

.

Apakah hanya aku yang terlahir dengan segala pilihan hidup yang tak pernah sederhana?

.

.

oOo The Black Mission oOo

-Part 10 (Final)-

 

*

Shim Changmin menyandarkan punggung di balik dinding kokoh seukuran bentangan tangan. Pundaknya bergerak naik-turun, seirama dengan tarikan napasnya. Mencoba mencari sedikit ketenangan, matanya dipejamkan sejenak.

Ia berhasil lolos.

Namun bukan berarti Changmin merasa lega sekarang. Victoria masih di sana. Jiyeon masih menjaganya dan gadis itu dapat terbunuh kapan saja. Namun sialnya, situasi saat ini tidak cukup aman bagi Changmin untuk menjemput Vict. Pemuda itu harus menyiapkan rencana yang benar-benar matang. Karena sungguh, yang menjadi lawannya saat ini bukanlah sesuatu yang bisa dipandang remeh: Black Mission. Mereka yang tergabung dalam Black Mission terbiasa bekerja dengan taktik rumit yang sulit terbaca. Kemungkinannya nyaris pasti bila mereka sudah bisa menebak bahwa Changmin akan bergerak menyelinap untuk menjemput gadisnya.

Menyadari tak memiliki banyak waktu, Changmin lekas memindai ke sekeliling. Saat ini, ia menghadap bagian bangunan serupa balkon yang memerangkap lapangan tempatnya berdiri. Bagian balkon itu dibangun lebih rendah dari lapangan dan dihubungkan oleh undakan-undakan kecil di beberapa sisi. Sementara bagian dinding gedung dikelilingi jalan masuk yang berjajar setiap jarak sekitar satu meter. Tampaknya semua jalan itu akan terhubung ke satu ruangan yang sama. Tapi… bagaimana jika ada kejutan atau perangkap lain di dalam sana?

Terusik dengan pikiran itu, Changmin melesatkan tangannya menyentuh mikro earphone di telinga.

“Hyung kau mendengarku?” Ujarnya tergesa. Changmin memejamkan mata, napasnya tertahan sejenak, tangannya gemetar luar biasa. “Victoria masih dijaga oleh Jiyeon. Selanjutnya bagaimana?”

Yunho tak langsung menjawab. Changmin bahkan sempat mendengar rintihan pelan sebelum kemudian suara lirih Yunho terdengar,

“…Masuk… ke dalam gedung…. Berbahaya jika kau tetap di sana.”

Changmin memindai pandangan sejenak, lantas penglihatannya terpaku pada satu titik pintu masuk tak jauh di depannya.

Saat ini, ia tak memiliki banyak pilihan.

 

oOo The Black Mission oOo

 

Sambil sesekali menoleh ke belakang, Changmin berderap menyusuri koridor bagian dalam gedung. Hentak langkahnya menggema keras dalam lorong redup itu. Bukan sekali-dua kali ia berpapasan dengan agen-agen bersenjata dan harus terlibat pertarungan dengan mereka. Bagi Changmin -yang terbiasa menghadapi perkelahian fisik- memang bukan hal besar. Namun dalam kondisi tubuh penuh luka, menumbangkan mereka menjadi perkara yang tak sederhana. Ia benar-benar kehilangan banyak energi.

 

Sekian menit menyusuri bagian dalam gedung tua itu, Changmin hampir menyerah. Entah sudah berapa kali pemuda itu masuk dan keluar dari berbagai jalan bercabang. Sementara itu, tubuhnya sendiri seperti akan rubuh dalam hitungan detik. Dan ia tak tahu lagi dimana dirinya sekarang. Bangunan itu tak ubahnya labirin.

Baru saja menjejaki salah satu koridor, langkah Changmin melemah. Kali ini ia benar-benar kewalahan mengatur napas.

“Hyung! ….Hhh… Aku tidak menemukan jalan.” Dengan lemas Changmin kembali merapatkan mikro earphone-nya. Punggungnya merendah. Sementara tangannya yang lain bertumpu di dinding.

Keningnya lekas berkerut ketika yang tertangkap telinganya adalah suara Yunho yang terbatuk keras. Changmin sendiri bahkan tak sanggup mendengarnya –tak tega. Kentara sekali bahwa laki-laki itu sedang berusaha menahan rasa sakit. “… pintu… terhubung… ke saluran bawah tanah….” Yunho meringis lirih, lantas napasnya terdengar demikian sesak. Mendadak, pikiran Changmin dikepung oleh perasaan khawatir yang demikian pekat. Jika saja Changmin berada di sisi Yunho saat ini mungkin ia akan—

“… Gwenchana… Jangan pikirkan aku…” ucap Yunho  lirih, seolah mampu membaca pikiran Changmin.

Changmin terhenyak. Tenggorokannya tercekat. Yunho selalu berkata baik-baik saja demi tak menyulitkan orang lain. Namun dalam kondisi meregang nyawa seperti itu? Tuhan nampaknya terlalu bermurah hati dengan meletakkan teman sebaik Jung Yunho untuk lelaki sebrengsek dirinya, itu yang terlintas di benak Changmin saat ini. Changmin hanya berharap Tuhan tak kecewa dan masih bermurah hati padanya. Ia hanya inginkan kesempatan untuk bisa bertemu hyung-nya, memeluknya. Ia benar-benar rindukan kakaknya saat ini.

 

“Hyung… “

“Changmin-ah… tidak ada waktu. Susuri… lorong saluran… bawah tanah itu…. Jalan itu akan membawamu menyeberangi lapangan… Dengan cara itu, kau bisa menjemput Victoria….”

Belum sempurna mencerna instruksi Yunho, tiba-tiba, dua orang kawanan berseragam hitam muncul dari sebuah persimpangan di dekat Changmin. Segera setelah mereka menoleh dan mendapati Changmin, keduanya lekas menyerbu.

Seakan telah membaca gerakan musuh, Changmin berkelit dari pukulan mereka. Namun sial, gerakan mereka terlalu gesit hingga tak memberi kesempatan baginya untuk menyerang balik –apalagi mengambil pistol di balik mantelnya. Kala Changmin dalam posisi terpojok, sebuah suara lirih terngiang di kepalanya…

“… Gwenchana… Jangan pikirkan aku…”

Yunho membutuhkannya, sesegera mungkin.

Mengerahkan lebih banyak tenaga, Changmin menyerang balik hingga kedua lawannya berakhir tersungkur. Changmin beranjak mundur, melesatkan pistol dan membentuk sedikit jarak untuk menembak.

Ceklik! Ceklik!

Oh, bagus. Changmin bahkan tidak ingat untuk menyiapkan peluru.

Menyadari seorang dari mereka telah bangkit dan kembali menghambur, Changmin mendongak waspada.  Pukulan demi pukulan yang dihantamkan ke arahnya berhasil ia tangkis. Sementara itu, seorang lainnya yang masih meringkuk di lantai diam-diam mengeluarkan pistol. Setenang mungkin ia mengatur bidikan pistol ke arah Changmin.

DOORRR!!!

Dengan sigap, Changmin menghalau tembakan itu dengan tubuh musuh. Lelaki yang ia cengkeram bahunya itu mengerang dengan tubuh tersentak-sentak terkena tembakan. Sebelum peluru itu mengenai dirinya, Changmin mendorong tubuh lelaki itu hingga tersuruk tepat menimpa rekannya yang membidik pistol. Tersadar dengan kesempatan di depan mata, Changmin merebut pistol dari tangan lelaki yang baru ia tumbangkan dan lekas meninggalkan tempat itu. Setidaknya, ia sudah tidak perlu khawatir soal senjata sekarang.

Hyung, jebal… kau harus baik-baik saja….

 

oOo The Black Mission oOo

 

Tiga puluh lima.

DDUKK!

Changmin mengakhiri aksinya dengan membenturkan kepala musuhnya ke dinding. Yakin lawannya sudah tak bernyawa, Changmin membiarkan tubuh lelaki malang itu merosot ke lantai dan menyeret sebentuk cairan merah di dinding, bergabung bersama empat mayat pria lainnya. Jika perhitungan Changmin benar, lelaki tadi adalah agen Black Mission ke-tiga puluh lima yang ia tumbangkan.

Seraya mengatur napas, Changmin melempar pandang ke sekeliling. Pintu. Ia harus segera menemukan pintu yang dimaksud Yunho.

Sambil merintih pelan dan meremas lengan kirinya, Changmin menyeret langkah. Tak sampai lima meter ia beranjak, ayunan kakinya terhenti. Keningnya berkerut menatap koridor kosong di hadapannya.Ia memang tak melihat apapun di depannya. Namun dari sanalah, samar, suara derap langkah terdengar kian ramai.

Ketika suara itu kian menguat, Changmin tahu. Ia dalam bahaya.

Agak tertahan, Changmin mengambil langkah mundur, lantas berbalik ke arah sebaliknya. Kakinya diayun lebih cepat. Derap langkahnya menggema semakin kuat. Pada satu tikungan, ia berbelok. Namun kemudian langkahnya terhenti. Matanya membeliak. Deru napas dan debar jantungnya seakan memenuhi pendengarannya. Keringat yang semula menyemut di wajahnya kini mulai bercucuran.

Changmin memutar bahu dengan ragu. Ia tersadar telah melewati sesuatu yang janggal.

Lelaki itu kini berdiri mematung. Ia baru saja melalui satu dinding yang terlihat berbeda dari yang lain. Oh, sial. Sebenarnya ia tak punya waktu untuk memastikan apakah dinding itu hanya sebatas sekat atau bukan. Tetapi…

 

Changmin menoleh menatap dinding itu. Dengan debar jantung yang menyentak keras, ia menghampiri sebuah bagian tembok yang terpisah membentuk suatu pintu. Penasaran, Changmin mengusap asal sisi dinding itu. Tiba-tiba, lantai tempatnya berdiri bergetar. Kontan Changmin terkejut hingga menatap sekitar penuh waspada. Sekelilingnya bergetar kian hebat hingga menimbulkan suara bergemuruh. Tanpa diduga, dinding di hadapannya bergeser masuk seperti tertelan. Ketika getaran itu berhenti, Changmin terperangah pada pemandangan yang menyambut matanya: dinding itu menampakkan sebuah jalan masuk berupa lorong yang lain. Oh, Siwon memang selalu menyimpan kejutan.

“Hyung, aku menemukan pintunya.”

 

oOo The Black Mission oOo

 

SHIKKEURO!! –BERISIK!!” Jiyeon menggertak kasar. Diapitnya leher Victoria lebih kencang hingga membuat gadis itu memekik kesakitan.

“Kumohon…” Victoria menangis terisak. Namun Jiyeon bersikap seolah tak mendengar apapun. Gadis itu terlalu sibuk mewaspadai sekeliling. Menatap tajam setiap detail apapun yang bergerak di sekitarnya.

Tak sengaja melirik ke samping, Victoria menemukan pemandangan mengejutkan. Napasnya lekas tertahan ketika mendapati Changmin tengah bersembunyi di balik sebuah pilar di sampingnya dengan tangan membidik pistol ke arahnya. Ketika pandangan mereka bertemu, lelaki itu memberi kode dengan merapatkan jari telunjuk di bibir.

 

Dalam sekali sentakan cepat, Victoria memalingkan wajah ke depan. Keringat dingin meluncur turun di pelipisnya. Jantungnya berdebar semakin kencang. Gadis itu kini memejamkan mata kuat-kuat.  Ketika ia merasakan jari-jarinya gemetar, tiba-tiba…

DOOOORRRR!!!

 

oOo The Black Mission oOo

 

DOOOORRRR!!!

Kim Myungsoo dan beberapa agen lain yang berjaga di balkon atas lekas menoleh ke bawah. Mendapati Jiyeon terhempas ke tanah, namja itu tercengang hebat. Tangannya mencengkeram kencang susuran balkon hingga jemarinya memucat. Gerahamnya beradu kuat. Matanya segera membeliak nyalang dan memindai sekeliling. Ketika ia menemukan Victoria tengah menghambur ke sisi barat, dirinya tak bisa menahan luapan emosi. Terlebih saat mendapati seseorang yang menyambut gadis itu di sana.

“Brengsek!”

Dengan amarah tak terbendung, Myungsoo meluruskan lengan, membidik pistol ke arah Changmin dan menembaknya secepat dan sebanyak mungkin. Tak hanya dirinya, beberapa agen yang berhasil menemukan pemandangan itu juga lekas melesatkan tembakan.

 

Namun sial, mereka lolos.

Myungsoo menendang tepian balkon dengan kasar. Napasnya berderu cepat. Tangannya dengan cekatan memasukkan beberapa butir peluru ke dalam revolver. Pada peluru terakhirnya, tangan Myungsoo tertahan. Gerahamnya bergemeretak.

Shim Changmin hanya akan mati di tanganku…

Aku akan membunuhnya atas namaku sendiri.

Tidak lagi Black Mission…

 

oOo The Black Mission oOo

 

Setelah cukup jauh berlari, Changmin melepaskan tangan Victoria di sudut ruangan yang redup. Hembus napas mereka yang tersengal menggema memenuhi ruangan hampa itu.

“Kau baik-baik saja?” Changmin menangkupkan sebelah tangannya di pipi Victoria. Matanya memindai liar pada sekujur tubuh Victoria, memastikan gadis itu tak mengalami luka apapun.

Masih kewalahan mengendalikan napas, Victoria menatap pergelangan tangan Changmin yang berlumur sisa darah yang hampir mengering. Alih-alih menjawab, gadis itu melengoskan wajah, lantas tertunduk.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu.” ucapnya lirih.

Changmin melepas tangannya. Pandangannya bergerak turun dengan kaku.

“Maafkan aku–”

“Tubuhmu penuh luka.” Victoria berujar dengan suara parau. Pandangannya buram diserbu cairan bening. “Menurutmu…. apa aku baik-baik saja setelah melihatmu disakiti seperti itu di hadapanku?” Kali ini, Victoria menyerang Changmin dengan tatapan sendu yang entah mengapa terasa demikian menusuk.

Detik itu juga, Changmin terhenyak. Kenyataan bahwa Victoria begitu mencemaskannya membuat ia tak mampu berkata-kata. Tangannya lantas terangkat, hendak kembali menjangkau wajah jelita istrinya. Namun ketika potongan kenangan akan Zai Lian dan Xiumin melesat dalam benaknya, ia tersentak. Seakan tersadar oleh tamparan keras bernama kenyataan. Gerak tangannya terhenti. Ia merasa terlalu nista meski hanya untuk menyentuh gadis itu. Jika bukan karenanya, Victoria tak akan terseret ke dalam situasi ini. Tak akan berada di antara para pembunuh sadis yang bisa dengan mudah membunuhnya kapan saja. Dan tak akan pula kehilangan seorang Ayah dan saudara laki-lakinya.

Victoria tertunduk. Bahunya berguncang perlahan. ” … Aku… takut sekali… “ Ucapnya lirih sebelum kemudian menundukkan wajah semakin dalam. “Kupikir aku benar-benar akan melihatmu terbunuh di sana.”

Changmin membuang napasnya, seakan semua bebannya ikut terhempas keluar. Mungkin memang dirinya pelaku yang membawa badai besar ke dalam kehidupan Victoria. Namun sekelam apapun masa lalunya, seburuk apapun identitasnya, senista apapun perbuatannya, saat ini… hanya ia yang bisa menyelamatkan Victoria.

 

Changmin meraih kedua tangan Victoria, menggenggamnya erat.

“Tetap bersamaku… Kita akan segera keluar dari sini.” Changmin menatap Victoria lurus-lurus. “Seperti janjiku, kau akan baik-baik saja…” Ucapnya tenang seraya mengulurkan sebelah tangannya, mengusap lembut air mata gadis itu. “Apapun yang terjadi.”

Satu butir air mata menetes jatuh dari sudut mata Victoria kala ia menganggukkan wajah. Kali ini, Changmin tak mampu menahan diri untuk tak mendaratkan kecupan di kening gadis itu.

 

oOo The Black Mission oOo

 

Suara langkah yang diayun tenang terdengar menggema memenuhi seluruh lorong bangunan. Di sebuah persimpangan yang mempertemukan tiga lorong, seorang lelaki dengan senapan raksasa dalam dekapannya tampak berjalan ke sana ke mari. Matanya mengawasi sekitar dengan penuh hati-hati. Tak memedulikan lirikan sinis rekannya yang sejak tadi terusik dengan suara langkahnya. Ya. Ia tidak sendiri. Di hadapannya ada sekitar empat orang lelaki lainnya, mereka tak lain adalah pasukan dan agen-agen Black Mission yang tengah berjaga di depan gate –pintu masuk utama markas- sebelah barat. Tiga orang di antara mereka berpenampilan rapi layaknya eksekutif muda, sementara dua lainnya berseragam mirip pasukan tentara.

“Sebenarnya tentu akan lebih mudah menemukan BM 101 jika saja bangunan ini disertai kamera pengintai.” ucap agen berperawakan tinggi-kurus yang tengah bersandar di dinding. Lelaki itu tampak menikmati kegiatannya mengusap mata samurai dengan jari.

Seorang pria berambut gimbal yang bersandar di sisi dinding lainnya tampak menyalakan pemantik. Ia terkekeh singkat dengan sebatang rokok terselip diantara bibirnya. “Choi siwon tak cukup pintar untuk menerka apa yang akan terjadi di bangunan ini.” ujarnya seraya menghembuskan kepulan asap putih. “Yah… kau kenal dia kan? Dia terlalu percaya diri bahwa Shim Changmin akan terbunuh dalam penyiksaan itu.”

Agen bersamurai mendecakkan lidah dengan tatapan yang kian memicing sengit pada agen yang sejak tadi tak bisa berdiri tenang.

“Hey! Can you just stop walking around?” hardiknya disusul suara mengilu dari benturan kepingan besi runcing ke lantai.

“Sssstt!” Situasi yang mendadak panas seketika senyap kala agen yang tak bisa diam itu akhirnya berdiri tenang, menyampaikan hasil pengamatannya.

“Aku mendengar suara seseorang.”

Keheningan lekas memerangkap. Semua memaksimalkan pendengaran mereka. Dan detik selanjutnya, mereka benar-benar mendengar suara ketukan langkah lengkap dengan desahan napas yang tersengal di ujung lorong sebelah kanan. Seperti dikomando, kelima agen itu bersegera menyiagakan segala senjata andalan mereka. Tak satu pun dari mereka yang lengah dari fokus untuk menyoroti bayangan seseorang di ujung lorong. Sayang, mereka tak cukup sigap untuk menyadari bahaya di dekat mereka. Sebuah benda berukuran mikro baru saja terlempar dan mendarat setelah menggelinding pelan di sekitar kaki kelima laki-laki itu. Ketika benda berwarna merah itu berkedip, barulah seorang agen yang berambut gimbal melihatnya dan berseru,

“..Oh tidak…”

 

DHUAAAARRRRR….!!!

 

oOo The Black Mission oOo

 

Shim Changmin terbatuk pelan saat kepulan asap hitam menyeruak di sekitarnya. Dengan masih terbatuk, lelaki itu bersegera bangkit dan keluar dari persembunyiannya di sudut tikungan lorong. Langkahnya diayun hati-hati lantaran asap hitam pekat nyaris memenuhi seluruh penglihatannya. Ia melangkah tenang menuju sebuah sudut lorong jauh di hadapannya. Samar ia mendengar suara wanita yang terbatuk dari arah sana. Itu Victoria. Tadi, ia memang meminta Victoria untuk mengalihkan perhatian agen yang berjaga agar ia bisa melemparkan mikro peledak yang sempat ia temukan atas instruksi Yunho.

Changmin mengibaskan tangannya, berusaha menyingkirkan asap yang menghalangi pandangan. Seiring langkahnya menjauh, asap di depannya pun perlahan kian menipis. Ketika akhirnya sudut-sudut lorong dan permukaan dinding terlihat jelas, Changmin telah sampai di sebuah pertemuan tiga lorong dan lekas mendapati Victoria tengah berdiri di balik siku dinding di sebelahnya. Mendapati sosok Changmin yang mengulurkan tangan, gadis itu pun mengerti bahwa rencana mereka berhasil.

Dengan Victoria yang telah menggenggam tangannya, Changmin memutar bahu untuk berbalik. Rupanya asap di hadapannya sudah nyaris menghilang sempurna. Ia bahkan dapat menemukan lima tubuh laki-laki yang tergeletak dengan kondisi tubuh terbakar mengenaskan. Tanpa sedikitpun memedulikan pemandangan itu, Changmin bergegas menghampiri sebuah panel kecil seukuran lima kali lima inchi yang menemepel di dinding, persis di sebelah gate. Panel yang berisi layar kecil dan dilengkapi barisan tombol, laser pemindai cincin dan pemindai wajah itu tak lain adalah fungsi keamanan pada gate.

Seperti yang biasa ia lakukan untuk membuka kunci pada markas, Changmin melakukan scanning. Normalnya, ia melakukan pemindaian pada cincin dan wajah. Namun kali ini ia melewatkan pemindaian pada cincin, karena yaah… ia sudah membuangnya. Alih-alih mendapati teks ‘welcome’ –seperti yang biasa muncul kala ia melalui gate, Changmin dikejutkan oleh lengkingan nada peringatan. Sebuah teks merah ‘Access denied’ tiba-tiba muncul, berkedip di layar dan sukses membuat jemari Changmin gemetar luar biasa. Oh, tentu saja identitasnya tidak diterima. Keanggotaaannya telah didaftarhitamkan dari Black Mission. Changmin panik. Jantungnya berdebar menghentak dada. Sementara kepalanya terasa berdenyut selagi otaknya bekerja cepat mencari jalan keluar.

Changmin panik. Jarinya lantas bergerak liar di atas tombol-tombol kecil. Otaknya bagai disesaki benang kusut memikirkan berbagai cara untuk mengakali sinyal peringatan. Namun di tengah kepanikan, tanpa sengaja, ia mendapati sesuatu yang lekas mendinginkan kepalanya: sebuah warna hijau yang berkedip di sudut bawah layar.

Changmin terhenyak, keningnya berkerut dalam.

“Hyung….” Seraya merekatkan earphone, Changmin berpaling pada pintu baja berukuran besar yang berada tak jauh di dekatnya –gate barat, jalan keluarnya. “Kau… bilang, seharusnya sekarang Siwon sudah mengunci… semua gate untuk menahanku.” Meski berusaha, agaknya Changmin gagal menyembunyikan kegusarannya. Suaranya bergetar.

“Tetapi hyung…” Changmin terdiam sejenak. Lantas menghembuskan napas yang tanpa sadar tertahan. “…. Mengapa hanya satu gate yang tidak dikunci? Gate di depanku?”

Yunho bergeming.

“Hyung… Mungkinkah seseorang baru saja membukanya untukku?”

Setelah mendapati hening sebagai jawaban Yunho, Changmin pun menobatkan pertanyaannya barusan sebagai pertanyaan paling bodoh yang pernah ia lontarkan sepanjang hidupnya.

 

oOo The Black Mission oOo

 

Meski tak bisa dipercaya, namun hal itu benar-benar terjadi. Gate sama sekali tidak dikunci. Maka, Changmin hanya menarik tuas yang berperan layaknya kenop pada pintu biasa.

Ketika berkas cahaya perlahan mulai terlihat, Changmin menarik tangan Victoria. Membawa gadis itu berlari melalui sebuah pintu raksasa yang bergerak terangkat dengan gerakan lambat. Keduanya lekas menghentikan langkah ketika kaki mereka berpijak pada tanah berdebu yang cukup lapang. Dikelilingi oleh dinding beton setinggi lima meter -lengkap dengan kawat besi mengelilingi sudut atasnya-, lahan dan bangunan ini terlihat seperti penjara yang sempurna. Atau neraka? Entah dari mana Siwon membeli bangunan ini.

Seraya mengatur napas, Changmin menatap sekeliling. Tak ada seorang pun hadir di sana. Hanya terdapat mobil sedan hitam berjumlah puluhan yang diparkir tak beraturan. Juga tumpukan peti-peti kayu yang Changmin duga berisi ‘barang terlarang’ yang diperjualbelikan Siwon.

Baru teringat akan sesuatu, Changmin tersentak. Tergesa-gesa ia merogoh saku mantelnya. Ketika tangannya tak berhasil menjangkau benda yang ia cari, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Gawat!

Setengah panik, Changmin kembali melakukan gerakan yang sama. Ia menghabiskan waktu selama hampir setengah menit hanya untuk memeriksa seluruh saku mantel dan celananya. Oh, sial. Ia tak punya banyak waktu sekarang. Benda itu harus segera ia temukan sebelum ada agen yang melihatnya!

Terlalu fokus mencari, Changmin tak sadar Victoria sudah menarik-narik ujung mantelnya dengan tangan gemetar. Gadis itu berusaha memberi tahu Changmin bahwa mereka tengah terjebak dalam bahaya.

Ceklik!

Changmin bungkam. Ia merasakan sesuatu merapat di belakang kepalanya.

“Mencari sesuatu?”

Changmin mendengus sinis ketika otaknya berhasil mengolah suara berat itu. Namja itu berbalik pelan, mendapati seraut wajah pria dengan seringai khas yang sangat ia benci. Kim Myungsoo.

“Kalau kau tak ingin gadismu berakhir sama seperti Jiyeon, lemparkan senjatamu.” Myungsoo berujar dingin.

Changmin bungkam. Gigi-giginya bergemeletuk. Melalui sudut matanya, ia melirik Victoria, mendapati gadis itu tengah menuduk ketakutan. Myungsoo sialan!

Myungsoo mendengus senang ketika melihat Changmin menuruti permintaannya untuk melempar senjata. Lelaki yang masih menodongkan pistol itu menyingkirkan poni rambutnya dengan satu gerakan wajah, kemudian menekan sesuatu di telinga.

“Bisa mendengar suaraku?”

DEG!

Changmin terbelalak. Suara Myungsoo terdengar bersamaan melalui mikro earphone miliknya. Selama beberapa detik Changmin bergeming dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Setelah sejenak mengerutkan kening, lelaki itu tersentak. Pupil matanya melebar. Pikirannya diterangi oleh sebuah dugaan yang melintas.

Kim Myungsoo…

Ternyata lebih cerdik dari dugaannya.

“Aku menyadap komunikasimu dengan Jung Yunho.” Myungsoo terdiam cukup lama sebelum kemudian terkekeh pelan. Tangannya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana.

“Apa kau mencari ini?”

Seketika, debar jantung Changmin menyentak keras. Kedua matanya membeliak lebar kala mendapati remote pemicu bom –benda yang susah payah ia cari– kini berada di tangan Myungsoo.

Myungsoo tersenyum sinis sebelum kemudian berujar pelan,

“Kau ceroboh. Itu kelemahanmu.”

.

.

Flashback

Kim Myungsoo berjalan dengan langkah lebar menyusuri lorong gedung. Sorot matanya tajam menusuk. Gejolak amarah menguasai akal sehatnya. Saat ini, tak ada hal yang lebih ia inginkan dari membunuh Shim Changmin.

 Tanpa berniat sedikit pun melemahkan ayunan langkahnya, Myungsoo melesatkan sebatang rokok ke dalam mulut. Namja itu sempat menunduk singkat untuk merapatkan ujung rokok dengan pemantik. Ketika matanya kembali dipalingkan ke depan, tanpa sengaja kedua irisnya menangkap sesuatu yang mencengangkan.

Sesuatu yang kontan membuat langkahnya terhenti.

Mematung, batang rokok yang semula terselip diantara bibirnya dijauhkan dengan tangan gemetar. Matanya terbuka lebar menatap sesuatu yang tergeletak di lantai.

Sesuatu yang tak asing dalam ingatannya.

Sesuatu yang seharusnya hanya dimiliki oleh satu orang….

Sebuah pemicu bom dengan edisi istimewa.

Hanya ada satu hal yang menjangkit pikiran Myungsoo saat ini: Yunho masih hidup!

Hendak meyakinkan dugaannya, Myungsoo tergesa memasukkan sebuah alat kecil ke telinga. Benda itu tak lain adalah mikro earphone yang sempat ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Jung Yunho ketika mereka terlibat misi untuk menjebak Changmin di kediaman keluarga Song beberapa jam lalu.

Myungsoo memaksimalkan daya pendengarannya ketika benda itu mulai mengeluarkan suara serak, tanda bahwa sambungan mulai terhubung. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk membuat lelaki terbelalak.

Suara yang terdengar di telinganya kontan membuat Myungsoo mengatupkan geraham kuat-kuat.

“Changmin-ah… ambil jalan lurus, kau akan sampai di gate barat.”

.

.

“Aku yakin semua agen pun tahu, remote ini hanya dimiliki oleh Jung Yunho.” Myungsoo mendegus sinis. “Tak kusangka dia masih hidup. Dan yang lebih mengejutkanku, ternyata dia memilih jalan yang sama dengan temannya, berkhianat. Sialnya, aku sempat lengah hingga tak menyadari kehadiran musuh dalam selimut. Tapi, bagaimanapun, bajingan itu sudah membantuku mengetahui keberadaanmu. Ah, ingatkan aku untuk mengirim hadiah untuknya.” Myungsoo terkekeh penuh kemenangan. Lidahnya bergerak menjilati bibir dengan gaya tengil yang menjengkelkan. “Bagaimana? Aku ini keren sekali, bukan?” Dengan tangan yang masih membentangkan pistol, Myungsoo tergelak.

Myungsoo mengakhiri tawanya seraya melesakkan pemicu bom itu ke dalam saku jasnya. Dan pemandangan itu tak sedetik pun lepas dari sudut mata Shim Changmin.

“Wae? Kau tidak suka jika benda ini jadi milikku?” Myungsoo menarik sebelah sudut bibirnya. Kontan Changmin memindahkan sorot tajamnya pada Myungsoo.

“Berikan benda itu padaku!”

Ceklik! Myungsoo mendorong ujung pistolnya kian rapat. Matanya mendelik nyalang. Tangannya bergetar kala ia berujar geram, “Kau pikir aku akan melakukannya? Kau tahu seberapa kuat keinginanku untuk meledakkan kepalamu? Ah tunggu. Sebelum kau mati, aku ingin kau menyaksikan kekasihmu mati di depan matamu sendiri.”

“Brengsek!”

 

DOOOOORRR!!

 

Tepat ketika Myungsoo menekan peluncur, Changmin menepis tangan lelaki itu hingga peluru meleset, dan senjata api miliknya terlempar jauh. Keduanya lantas terlibat baku hantam yang sengit. Tetes demi tetes darah berjatuhan menyentuh tanah. Namun baik Changmin maupun Myungsoo seakan dibutakan oleh amarah.

Kepulan debu layaknya asap lekas melayang di udara ketika tubuh Changmin menghantam tanah. Saat lelaki itu masih bersusah payah untuk bangkit, Myungsoo kembali menendangnya tanpa ampun hingga ia kembali tersungkur.

Dalam posisi terlungkup, Changmin merintih menatap cairan merah kental yang menetes dari mulutnya. Pemandangan tanah yang ternoda bercak merah terlihat kabur dalam pandangannya. Changmin mengerjap, mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk mengangkat tubuhnya. Belum sampai berdiri tegak, Myungsoo menarik rambut Changmin dengan sadis. Kemudian beranjak menarik kuat kerah baju lelaki yang sudah nyaris memejamkan mata itu.  Kali ini Myungsoo membiarkan wajah mereka saling berhadapan-hadapan.

Kim Myungsoo, dengan napas yang sama tersengal, dengan kedua geraham yang beradu kuat, berujar geram,

“Selamat… tinggal…”

 

DOOORRRR!!!

 

oOo The Black Mission oOo

 

DOOORRRR!!!

 

Tepat ketika suara letusan itu memekakkan telinga, Changmin memejamkan mata.

Alih-alih merasa sakit, Changmin justru merasa cengkeraman tangan Myungsoo pada kerahnya melemah. Ketika ia membuka mata, pemuda itu lekas mendapati Myungsoo terhuyung ke tanah, meninggalkan pemandangan sosok yang membidik pistol.

Victoria…

Gadis itu tengah mengarahkan senjata api itu dengan tangan gemetar. Rupanya gadis itu memungut pistol yang tadi Changmin lemparkan.

Changmin menghembuskan napas dalam satu helaan panjang. Matanya menyipit kala sudut bibirnya tertarik pelan –membalas senyuman haru istrinya. Lututnya lemas, bahkan ia bisa merasakan tubuhnya oleng sekilas.

Changmin menundukkan wajah, menatap bekas tembakan yang membentuk lubang mengenaskan pada punggung Kim Myungsoo.

Remote-nya!

Dengan napas yang masih belum stabil, Changmin berjongkok. Lantas memeriksa kasar setiap saku kemeja dan jas yang dikenakan Myungsoo, tanpa sedikitpun merasa jengah dengan darah segar yang mengalir dari luka di punggung Myungsoo.

Ketika akhirnya Changmin menemukan remote pemicu bom –benda yang ia cari, tiba-tiba, sebuah sedan hitam melaju kencang dari kejauhan menuju ke arah mereka. Changmin mengangkat wajahnya penuh waspada dan lekas mendapati seorang lelaki yang duduk di sebelah kursi kemudi tengah membidikkan pistolnya ke luar jendela, ke arah Victoria! Gawat. Tak peduli dengan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya, Changmin menghambur ke arah Victoria.

 

DOOOOORRR!!!!

 

Hanya satu suara tembakan.

Hanya satu, namun sialnya, Changmin tak lebih cepat dari lesatan peluru. Butiran timah panas itu terlebih dahulu menerjang bagian bahu Victoria. Ketika Changmin berhasil merengkuh gadis itu, dengan penuh emosi, direbutnya pistol yang masih berada dalam genggaman Victoria, dilancarkannya tembakan bertubi-tubi ke arah mobil.

Pecahnya kaca depan mobil mengiringi suara letusan tembak. Sejenak kemudian, gerakan mobil berangsur oleng, decitan panjang pun menyusul hingga kemudian laju mobil terhenti ketika menghantam tumpukan peti kayu di sudut dinding. Kepulan debu segera melayang tipis di udara selepas box-box kayu itu menggelinding di tanah. Changmin masih berdiri dengan pistol penuh siaga. Setelah memastikan tak ada perlawanan apapun dari dalam mobil, dengan debar jantung menyentak cepat, pemuda itu bersegera menyingkap helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Victoria.

“Vict…” lirih Changmin tercekat. Bola matanya mulai membasah. Lelaki itu bahkan tak sadar bahwa tangannya yang merengkuh pinggang Victoria mulai bergetar hebat. Mendapati gadis itu terkulai lemas, dengan luka tembak yang masih mengucurkan darah, Changmin benar-benar tak bisa memaafkan dirinya.

Didesak kepanikan, Changmin lekas memindai sekeliling, mencari sesuatu yang bisa membawanya segera keluar dari tempat itu. Lantas pandangannya berhenti pada sedan hitam yang tersuruk diantara peti-peti kayu.

“Bertahanlah, Vict…”

 

 

oOo The Black Mission oOo

 

Perlu usaha yang tak sedikit bagi Changmin untuk memindahkan Victoria ke kursi di sebelah kemudi. Belum lagi ia harus menyingkirkan dua mayat laki-laki yang sebelumnya menempati sepasang kursi di depan. Ia benar-benar tak punya banyak waktu saat ini.

Tergesa, Changmin menarik tuas porsneling. Diinjaknya pedal gas cukup dalam hingga mobil tersentak mundur dan menjatuhkan peti-peti kayu yang membebani kap depan.

 

DOOORRR!!! DOOOORRR!!!

 

Praaanng!!

 

“Sial!” Changmin berdecak. Selagi tangannya memutar kemudi, kedua manik Changmin melirik spion tengah. Sebuah tembakan telah menciptakan lubang pada kaca belakang dengan retakan yang cukup luas. Samar, Changmin pun menemukan dua sedan hitam lain sedang melaju dari kejauhan menuju ke arahnya. Maka tak pikir apapun lagi, lelaki itu bersiap menginjak pedal gas dalam-dalam.

Terseret oleh gesekan ban mobil yang dikendarai Changmin, butiran tanah dan debu segera menyembur ke udara, membentuk kepulan tipis. Di dalam area tanah lapang itu, Changmin harus mengendalikan mobilnya menghindari tumpukan peti kayu dan mobil-mobil yang diparkir tanpa aturan –melintang bebas dimana-mana.

Sementara itu di dalam mobil, Changmin diserbu kepanikan yang luar biasa. Ia benar-benar sulit berpikir jernih dalam situasi yang menyudutkannya. Satu, Victoria tertembak. Gadis itu memang masih bernapas dan dalam keadaan setengah sadar. Namun Changmin yakin istrinya membutuhkan penanganan cepat. Ia khawatir jika peluru itu sampai mengenai organ vital istrinya. Dua, Yunho kritis. Masih bisa menolong Changmin –setelah terkena tembakan– saja  pun rasanya sudah keajaiban. Tiga, ia harus segera menemukan remote pemicu bom, sekarang. Ya. detik ini. Sebelum orang-orang yang mengejarnya berhasil menembak telak kepalanya atau mungkin ban mobilnya sehingga ia tewas ketika mobil terguling. Empat, ia harus mengemudi dengan aman selagi menghindari tembakan dari belakang. Lima, ia harus menemukan jalan keluar dari tanah lapang ini menuju jalan raya –setidaknya lokasi yang cukup aman dari radius ledakan. Itu pun jika remote nya sudah ia temukan.

 

DOOORR!!! Praangg…

Kali ini, spion kiri yang menjadi korban. Oh, Changmin hampir gila.

 

Dengan sebelah tangan mengendalikan setir, Changmin menggigihkan usahanya merogoh satu per satu kantung mantel. Kepalanya seakan hampir pecah hanya karena ‘mencari sesuatu yang ada di dalam mantel’. Sederhana memang. Namun tidak pada kondisi terdesak seperti sekarang.

Ketemu!

Changmin tak bisa menahan diri untuk tak menarik sudut bibirnya ketika tangannya menyentuh permukaan benda yang ia cari. Dan ia tak bisa lebih bahagia lagi ketika mendapati sebuah pintu masuk utama tepat di hadapannya. Oh, ralat. Changmin merasa jauh lebih bahagia ketika mandapati bahan dasar pagarnya adalah kayu! Siapa sangka pagar bangunan kokoh ini hanya terbuat dari kayu? Ya. Itu artinya, ia bisa menerobos dengan bebas.

Tak menghiraukan suara tembakan dari mobil di belakang –yang omong-omong sudah bertambah menjadi empat unit– Changmin memasang kuda-kuda untuk pijakan pedal gas yang lebih dalam. Tatapannya menyorot tajam ke arah gerbang, berusaha fokus. Kedua tangannya yang basah oleh keringat mengeratkan pegangan pada badan kemudi. Ia menyempatkan diri untuk melirik Victoria yang terduduk lemas di sebelahnya sebelum kemudian memulai aksinya. Ini dia!

Dalam sekali sentuhan, Changmin menginjak pedal gas lebih dalam hingga tubuhnya terhempas keras ke sandaran kursi. Seakan melayang, mobil bergerak melesat, menipiskan jarak antara mobil dengan sebuah bidang kayu raksasa, nyaris dalam sekejap.

“Segera setelah kau menekan kombinasi angka pada remot ini, bom itu akan meledak.”

“Kombinasi angka?”

“Tanggal lahirmu… Dan tanggal lahirku…”

 

Jemari Changmin menekan satu per satu angka, sementara benaknya menghitung mundur…

 

Tiga…

 

Dua…

 

Satu…

 

Bersamaan dengan pecahnya pagar kayu yang sukses diterobos oleh mobil yang dikendarai Changmin, sebuah suara ledakan mahadahsyat terdengar menggelegar.

 

oOo The Black Mission oOo

 

Beruntung Changmin segera menemukan jalan raya utama tak lama setelah ia keluar dari ‘neraka’ milik Choi Siwon. Jalan itu tak banyak dilalui kendaraan. Bahkan ia hanya menemui sekitar satu-dua mobil sejak tiga puluh menit melaju. Yah… toh, ia tak peduli. Saat ini, yang Changmin tahu, dirinya hanya perlu terus mengendarai mobil secepat dan sestabil mungkin.

Melalui spion kanan, Changmin melirik kembali pemandangan kepulan asap yang membumbung tinggi tepat di atas sebuah bangunan. Bangunan yang telah berada jauh di belakang –bangunan yang hampir menjadi saksi kematiannya. Changmin bahkan masih belum bisa percaya bahwa dirinya benar-benar berhasil melarikan diri dari tempat itu. Jika saja tanpa bantuan…

“Hyung!” Teringat dengan Jung Yunho, Changmin melesatkan jarinya menyentuh earphone.

Saking tak sabar ingin memberi kejutan atas keberhasilannya, Changmin tak sadar telah berseru lantang.

“…Hyung… Kami sudah berhasil keluar… “

Changmin terdiam sejenak, berharap bisa mendengar reaksi bahagia hyung-nya.

“….”

“…Hyung? Kau di sana?” Changmin mencoba menggeser dan merapatkan earphone, memastikan apakah benda itu masih berfungsi.

“Hyung…?”

Mungkin sambungan-nya rusak karena pengaruh radiasi ledakan. Tetapi… Changmin mengingat kembali kapan terakhir ia berkomunikasi dengan Jung Yunho.

“Hyung…. Kau… bilang, seharusnya sekarang Siwon sudah mengunci… semua gate untuk menahanku. Tetapi hyung…” Changmin terdiam sejenak. Lantas menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan. “…. Mengapa hanya satu gate yang tidak dikunci? Gate di depanku?“

Changmin terkesiap. Ia baru tersadar…

Ketika itu, Yunho tak meresponnya.

 “Hyung… Mungkinkah seseorang baru saja membukanya untukku?”

Yunho juga tak memberi tanggapan. Saat itu, Changmin menyalahkan pertanyaannya yang terlampau ilogis.

Mungkinkah…

“Hyung!” Changmin membentak keras. Dugaan yang baru saja melintas di benaknya sontak membuat sekujur tubuhnya menegang. Darahnya seakan berhenti mengalir.

“Hyung… kumohon jawab! ”

Masih hening yang ia dapati di seberang.

“HYUNG!!!”

Tak sanggup mengemudi dengan fokus, Changmin membanting setir ke kiri –menepikan mobilnya. Napasnya terengah, tangannya mencengkeram badan kemudi dengan kuat. Meluapkan amarah, Changmin meninju badan setir seraya mengerang geram.

Matanya mulai terasa pedas, tenggorokannya kering tercekat. Mencoba meredam emosi, ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi -mengatur napas. Lelaki itu mengingat kembali betapa ia telah bersikap layaknya sampah, tak berguna. Bagaimana mungkin ia menamai dirinya sebagai sahabat sementara ia tak sadar bahwa sahabatnya menderita demi mempertahankan nyawanya. Changmin terhenyak, tenggelam dalam renungan.

Yunho. Setelah terlalu lama menahan luka tembak, sekarang suara lelaki itu tak lagi terdengar. Jika ia mengingat-ingat kembali, bukan sekali-dua kali Changmin mendengar Yunho berbicara dengan napas tercekat sesak. Itu terjadi hampir dalam setiap kesempatan. Kadangkala, Changmin pun mendengar Yunho terbatuk dengan suara yang begitu menyakitkan. Seakan untuk bernapas pun lelaki itu membutuhkan usaha yang tak sederhana. Segala kekalutan di batinnya mengundang hadirnya genangan air di pelupuk matanya. Ia pun tersadar akan satu hal…

Yang lebih terancam hidupnya adalah Jung Yunho, bukan dirinya.

Yang sebenarnya lebih membutuhkan pertolongan adalah Jung Yunho, bukan dirinya –seseorang yang masih mampu menghembuskan napas dengan baik. Entah bagaimana, dalam kondisi sekarat seperti itu, Yunho bersedia membantu Changmin. Menahan sakit, mempertaruhkan nyawanya sendiri. Sementara orang yang Yunho perjuangkan, tak lebih dari seorang sahabat yang pernah menghianatinya.

“Changmin-ah…  Jangan pernah merasa sendiri. Aku tetap akan menjagamu,.. meski dari jauh.”

 

“Kajja… Kita ulang semuanya dari awal.”

Rahang Changmin mengeras. Sekarang namja itu bahkan tidak mengerti bagaimana bisa ia meninggalkan sahabat sebaik Yunho. Oh, terkutuklah dirinya!

Changmin tidak akan membiarkan dirinya kehilangan Yunho. Terlebih, jika bukan karena Yunho, ia tidak mungkin keluar dengan selamat dari tempat terkutuk itu. Changmin mengalihkan wajahnya pada Victoria. Gadis itu duduk dengan kepala terkulai ke samping. Wajahnya pucat pasi. Matanya terpejam, sementara bahunya bergerak pelan, seirama dengan tarikan napasnya. Warna merah dari luka tembak di bahu gadis itu sudah meluas dari yang terakhir Changmin lihat. Bohong jika pemandangan itu tak menyayat hati Changmin.

Yunho dan Victoria, keduanya benar-benar membutuhkan penanganan sesegera mungkin. Sekarang, Changmin harus memilih… Siapa yang harus ia selamatkan lebih dulu?

Changmin memajukan bahu pada Victoria. “Vict…” berbisik lirih, Changmin meraih tangan Victoria, dan terkejut mendapati rasa dingin pada permukaan kulit tangan gadis itu.

Changmin mengecup punggung tangan Victoria, menahan kecupannya cukup lama sebelum memandang istrinya dengan sepasang manik berkaca.

“Vict… Kau gadis kuat.” Changmin meraih wajah Victoria, mengelus rambut gadis itu. “Bertahanlah…  Sedikit lagi… Kau bisa, kan?” Changmin mengusap pelan puncak kepala Victoria. Sungguh, kalimat itu telah mengiris hatinya sendiri. Membungkam paksa satu sisi dirinya yang ingin melindungi Victoria lebih dari apapun. Demi Jung Yunho, Changmin menguatkan hatinya. Membangun sebuah pertahanan yang meyakini keteguhan Victoria untuk tetap bertahan.

Namun sayang, pertahanan Changmin tak cukup kuat hingga rubuh dalam sekejap tatkala menyaksikan gadisnya meneteskan air mata. Tak bisa dipungkiri, pemandangan itu mencabik-cabik nuraninya. Hatinya melunak. Dirinya kembali tercekik oleh kebimbangan.

 

Victoria membuka matanya perlahan. Kedua maniknya bergerak pelan ke arah Changmin. Gadis itu tersenyum tipis menatap suaminya, lantas menarik lemah tangan lelaki itu, memindahkannya ke bagian perutnya.

Changmin bergeming, tak mengerti. Dalam benaknya berkecamuk sebuah kemungkinan yang tak ia harapkan –setidaknya dalam situasi ini.

“… Empat minggu…”

Seperti ditikam oleh pedang runcing yang ia asah sendiri, getar lirih suara Victoria telak menampar kesadaran Changmin.

Changmin membeku. Manik hitam lelaki itu mengilat, mengurung sendu wajah wanita yang ia cinta. Bibir Changmin bergetar menahan isakan. Dadanya seperti disesaki bongkahan besar perasaan bersalah yang menghantamnya tanpa ampun. Sekujur tubuhnya lemas. Tak dapat dipungkiri, kenyataan yang baru diketahuinya ini membuatnya benar-benar ingin menembak kepalanya sendiri. Demi Tuhan… Victoria tengah mengandung calon bayinya! Di satu sisi, ia bahagia –sungguh. Namun mengetahuinya setelah semua bahaya dan petaka yang mereka lalui?

“Sapa dia… Aku ingin mendengarmu menyapanya…” Victoria mengusap lemah punggung tangan Changmin. Tak mampu menahan rasa haru, cairan yang memenuhi peupuk mata Victoria kembali meluncur turun. Kedua sudut bibirnya terangkat sedikit, sementara sepasang maniknya menyaksikan pemandangan yang paling ia tunggu: Ketika Changmin -Ayah dari janinnya- menyapa calon buah hati mereka. Tak sengaja menggerakkan bahunya yang terluka, Victoria merintih.

“Vict… ?“ Changmin menegang. Dirinya lekas diserbu kecemasan kala Victoria secara tiba-tiba memejamkan matanya kuat-kuat.

Victoria meringis lirih, mengigit bibir. Dipejamkannya mata lebih kuat kala rasa sakit itu kembali menerjang. Oh, sungguh. Ia tak tahu berapa lama ia mampu bertahan dari luka yang terasa seperti membunuh satu per satu saraf di tubuhnya dalam setiap detik.

Disergap kepanikan, Changmin tergesa meraih tongkat porsneling. Tangannya lantas bergerak secepat mungkin memutar kemudi. Kembali ia memacu kencang mobilnya. Kepalanya terasa pening hingga kemudinya sesekali lepas kendali. Fokus perhatiannya kini terbelah antara jalan raya dengan istrinya. Namun yang kini mendominasi pikirannya adalah, Victoria tengah mengandung. Calon bayinya!

Changmin mencengkeram rambutnya, frustasi. Ia mengerang keras, meluapkan kekesalan yang membuncah di dadanya. Dipukulnya badan kemudi hingga menciptakan bunyi bedebam yang cukup keras. Batinnya tak henti mengutuk hidupnya yang selalu mengharuskannya memilih. Pilihan yang krusial.

Di antara kelebat pemandangan yang berlalu cepat, lelaki itu menumpahkan amarahnya dalam lelehan demi lelehan air mata. Detik ini, ia kembali mengulang dosanya: meninggalkan sahabatnya.

Hyung…

 

Maaf…

 

Sungguh, maafkan aku….

 

 

 

oOo The Black Mission oOo

 

EPILOG

 

Two years later…

Sunday Carnaval Park.

Tulisan besar itu tercetak sempurna di atas gapura yang telah dihias layaknya festival di pusat kota Beijing. Hilir mudik pengunjung yang keluar-masuk  area tersebut didominasi oleh anak-anak. Sebagian besar datang bersama keluarga mereka. Ah, siapa yang tidak ingin meluangkan waktu di akhir pekan untuk menciptakan kenangan yang menyenangkan? Ya… Seperti halnya Changmin dan Victoria. Mereka memiliki kenangan khusus di tempat ini. Jika ditanya bagaimana mereka saling menyatakan perasaan, tempat inilah saksinya.

Bermaksud bersenang-senang, Changmin dan Victoria kembali menyambangi taman bermain itu. Kali ini, mereka tidak datang hanya berdua. Melainkan bertiga, bersama pelengkap keluarga mereka : seorang putera yang berusia satu setengah tahun, Joon. Dengan langkah pendek-pendek yang sedikit oleng, plus pipi chubby, Joon benar-benar terlihat menggemaskan. Bocah itu dituntun dengan tenang oleh Ibunya sampai kemudian sang Ayah tiba-tiba mengangkatnya tinggi-tinggi, membuatnya tertawa geli dan mendaratkannya dalam dekapan.

Changmin memperhatikan Joon sambil tersenyum tipis. Dengan kehadiran Joon, orang yang berarti dalam hidupnya bertambah satu. Andai bisa, Changmin ingin sekali mempertemukan Joon dengan Yunho. Sekadar hanya ingin tahu, bagaimana tanggapan Yunho tentang keponakannya dan sedikit motif untuk menyinggung lelaki yang tak pernah serius dengan perempuan itu. Sayang, angan-angan Changmin harus terkubur di bawah realita. Yunho tak tertolong. Tubuh lelaki itu ditemukan aparat kepolisian dalam keadaan kaku dengan posisi meringkuk di lantai. Changmin sendiri jatuh pingsan sesaat setelah mengantar Victoria ke rumah sakit. Beruntung, dirinya dan Victoria berhasil diselamatkan. Namun tewasnya Jung Yunho sempat membuat mental Changmin terguncang. Ia tak mau menyantap apapun, bahkan berbicara dengan siapapun. Butuh waktu dua bulan baginya untuk kembali pulih. Dan Victoria-lah yang berperan besar menguatkan lelaki itu. Setelah keadaannya pulih total, pihak kepolisian menemuinya, memintai keterangan. Tanpa melewatkan apapun, Changmin menjelaskan semuanya. Termasuk membeberkan seluk-beluk Black Mission. Terbantu untuk melenyapkan Black Mission –penjahat kelas kakap yang selalu lolos dari kejaran polisi–, Changmin diberi penghargaan berupa pembebasan hukuman. Ajaib memang, namun hal itu telah disepakati berbagai lembaga kepolisian di berbagai negara. Kini, baik Victoria dan Changmin sama-sama fokus membangun kembali Leeshin, jerih payah sekaligus peninggalan Song Zai Lian.

 

“Dimana Ibu?” Changmin bertanya pada Joon dalam bahasa Korea sambil -untuk kesekian kali- merapikan topi beannie bergambar micky mouse yang nyaris menenggelamkan dahi Joon. Bocah bermata bulat -yang menurut hampir semua orang diwariskan telak dari Changmin- itu berjengit ke segala arah, menyelidiki setiap orang yang berada di sekitarnya.

“Eomma!” suara mungil Joon memecah lamunan Changmin, membuat lelaki itu sedikit beranjak memutar bahu dan mendapati Victoria tengah berjalan mendekat. Dengan senyum cerah terlukis di wajah, Victoria melambaikan sebelah tangan. Kemudian bergegas merapikan jump suit Joon setelah menyempatkan diri mencubit gemas sebelah pipi anak itu.

“Ikut dengan eomma?” Vict mengulurkan kedua tangannya. Alih-alih membalas, Joon malah berbalik memeluk Changmin sambil melenguh, tanda tak setuju. Kontan Changmin menyemburkan tawa. Sambil mengelus pundak Joon, ia berujar dengan gaya congkak, “Joon lebih suka dengan— Aargh!!” Changmin meringis setelah tak sempat menghindar dari cubitan Victoria di pinggangnya.

Tiba-tiba, Joon menunjuk ke satu arah sambil bergumam manja, meminta ayahnya membawanya ke sana.

“Balon?” tanya Victoria yang disambut anggukan manis Joon. Layaknya permintaan yang tak terbantah, kedua pasangan itu membawa putera mereka ke tempat yang diinginkannya.

“Ah! Aku ingat dengan kalian!” Paman penjual balon bahkan sudah menyapa riang sebelum Victoria dan Changmin sampai di stan kecilnya. Sepasang suami-istri itu saling melempar pandang heran. Keduanya sama-sama mencoba mengingat kapan mereka pernah bertemu dengan lelaki itu.

“Ha! Benar apa yang kubilang. Kalian ini keluarga bukan? Hahaha… kenapa perlu berbohong padaku waktu itu?” Perut buncit paman penjual balon lekas berguncang kala ia terbahak lepas. Kedua mata sipitnya menatap gembira calon pelanggannya. Lalu dengan cekatan ia menyiapkan satu tangkai balon berwarna merah untuk Joon.

Changmin tertunduk, menahan tawa yang akhirnya gagal. Sementara Victoria sudah meloloskan tawa kecil sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya.

“ Oh, ini pasti si bungsu. Di mana gadis cantik yang aktif itu?  Sudah besar pasti.” Lelaki tambun itu sejenak sibuk memandang ke sekitar. Tak mendapati sosok yang dicari, pandangannya kembali pada Changmin dan Victoria.

Changmin mengulum senyum. Yue. Yang dimaksud pria paruh baya itu pasti gadis kecil yang pernah hampir membeberkan identitas hitam Changmin pada Victoria dulu, kenang Changmin sembari mendengus geli.

“Nah, ini. Hadiah untuk anak pintar.” Pria itu menyodorkan setangkai balon di tangannya pada Joon.

“Terima kasih, paman.” Setelah menyerahkan pembayaran, Victoria menunduk sopan. “Kami permisi.”

Tak ada yang Changmin harapkan lebih dari kesederhaan yang membahagiakan seperti momen milik keluarganya saat ini. Dirinya, Victoria dan Joon dalam satu goresan memori. Tertawa… bercengkerama… dan menciptakan lebih banyak kenangan manis.

“Halo.” Changmin lekas menjawab panggilan di ponselnya. Nomor tak dikenal, Changmin berpikir mungkin salah satu kolega kerjanya.

“Aku ingin kau berjalan menjauh dari keluargamu. Kita tidak bisa berbicara di depan mereka.”

Apa-apaan ini? Changmin mengernyit, wujud dari tanda tanya dan rasa jengkel dalam hatinya.

“…Siapa kau?” sahut Changmin dingin.

“Lakukan saja. Nanti kau akan mengerti.”

Changmin melengos malas. Beep. Panggilan diputusnya sepihak. Ia berpaling pada Joon dan Victoria yang kini duduk di sebelahnya. Melihat puteranya menghabiskan satu cone es krim -dengan cara yang menggemaskan- tentu jauh lebih menyenangkan.

Drrttt… Drrrttt…

Ponsel Changmin kembali bergetar. Mendengus kesal, Changmin melesatkan ponselnya ke telinga.

“Apa yang kau inginkan?”

“Sssttt… tenanglah. Aku hanya ingin membincangkan hal penting yang tak kusarankan jika terdengar oleh keluargamu. Ayolah, aku hanya memintamu menjauh bukan? Apakah itu sebuah tindakan kriminal?”

Changmin memutar bola mata sambil menghela napas panjang. Ia memalingkan wajah pada Victoria yang tengah mengusapkan sapu tangan pada sekitar mulut Joon. Setelah sejenak mempertimbangkan, Changmin akhirnya beranjak bangkit. Gerakan itu kontan mengundang tatapan tanya Victoria. Gadis itu akhirnya mengangguk setelah Changmin memberi kode bahwa ia hendak menjauh untuk menerima telepon.

“Di mana kau?” desah Changmin seraya melangkah lebar. Bahunya bergerak gesit kala menyalip di antara hilir mudik pengunjung.

“Ide bagus. Akan lebih baik jika kita bertemu langsung. Pergilah ke gudang di bagian belakang.”

Ingin segera menyelesaikan urusannya dengan orang asing itu, Changmin menuruti permintaannya.

“Aku sudah berada di tempat yang kau inginkan.” Changmin menghentikan langkah ketika ia telah berhadapan dengan sudut lahan yang lengang dan dipenuhi besi-besi yang tampaknya adalah kerangka penyusun wahana permainan.

“Bagaimana rasanya merebut kehidupan orang lain? Apa kau bahagia?” kali ini, suara pria itu tidak terdengar melalui sambungan telepon. Melainkan berasal dari balik punggung Changmin.

Ceklik!

Belum sempat Changmin berbalik, sesuatu terasa mendarat rapat di belakang kepalanya. Oh, sial. Apalagi sekarang? Changmin membalikkan badannya, tangannya menurunkan ponsel perlahan.

Di hadapannya, seorang lelaki berkacamata hitam menyambut changmin. Senyumnya tersungging sinis. Pistolnya masih merapat di kepala Changmin.

“Masih ingat denganku?”

Changmin terbelalak setelah berhasil mengenali wajah itu. Napasnya tertahan. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

“…Kris Wu?”

 

DOOORRR!!

 

 

 

END

Um…. Sebelumnya aku mau minta maaf ._.

Dengan sangat tidak tahu malunya aku memposting FF yang jalan ceritanya udah nyaris dilupakan pembaca ._. Meski demikian, ini FF chaptered-ku yang terpanjang selama aku menulis. Dan tanpa semangat dari pembaca, ini ga bakal sampe ending. Dan maafkan juga, baru sekarang aku berhasil mengumpulkan keberanian untuk post part akhir FF ini di FJ (karena sesungguhnya FF ini udah ku-post di blog pribadi sejak lama sekali.) kenapa ga langsung ku post? Karena… aku ga pede ._. sesimpel itu.

Sungguh, maafkan aku (/.\)

Anyway, mind to review?

 

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s