[Vignette] Sang Putri Dan Kelinci Bulan


1469033111420

Sang Putri Dan Kelinci Bulan

 

an absurd fanfic by narinputri
cast : [Twice] Sana and [NCT] Yuta genre : fantasy, fluff, slight!sadrating : PG length : vignette

Based from Japanese legend “Kaguya” also my absurd imagination

.

.

.
“Aku akan mengikutimu sampai ke Bulan”

+0+

 

“Segeralah menikah, kau tak mungkin selamanya menjadi perawan tua.”

Berulangkali sang ibu mengucapkan hal yang sama, berulangkali pula Sana merasakan hatinya tertusuk. Haruskah Sana mengucapkan hal yang sama? Ia tidak menyukai lelaki manapun, walau seorang anak dari sang raja. Bahkan kedua orangtuanya harus menanggung malu, kala Sana menolak mentah-mentah lamaran sang pangeran di hadapan sang raja. Untung saja raja tak menghukum keluarga Sana karena gadis itu memiliki kecantikan luar biasa yang mampu meluluhkan hati seluruh lelaki, serta ia adalah anak seorang raja pula.

Dalam kesendirian dan kesedihannya tiap malam, memandang bulan yang dilakukan gadis beriris emas itu untuk mengobati hatinya. Akankah ada seorang lelaki yang mampu meluluhkan hati es miliknya. Sudah hampir empat puluh tahun lamanya ia tak merasakan cinta dan wajahnya tak kunjung menua selayaknya manusia biasa malah membuatnya semakin bertambah cantik. Hanya saja beberapa orang tak menyadari hal itu, mengingat Sana yang pernah meninggalkan rumah.

Sana bernyanyi di malam itu, dengan suara merdu yang penuh rasa sakit. Lantas bulir bening mengalir di pipi mulus bak pualam miliknya.

“Kenapa seorang Putri cantik sepertimu bernyanyi dengan nada menyakitkan di malam yang tenang ini?”

Suara seorang pemuda mengagetkan sekaligus menghentikan nyanyiannya. Pemuda mana yang berani memasuki halaman belakang istana tanpa diketahui oleh sang penjaga.

“Namaku Yuta, dan aku berasal dari Bulan,” kata pemuda itu tanpa ditanya oleh Sana.

“Aneh, tidak mungkin ada manusia yang tinggal di Bulan,” Sana tertawa sinis mendengar ucapan pemuda bersurai keperakan tersebut.

Yuta hanya tersenyum manis, lantas duduk di samping Sana yang tengah merendamkan kaki mungilnya di kolam ikan. Terlihat ikan-ikan koi tersebut mengerumuni kaki Sana. Yuta terkikik melihat hal tersebut.

“Aku sebenarnya bukan manusia. Aku adalah utusan dewa, yang ditugaskan untuk menemani manusia yang hatinya tengah sakit. Dan aku selalu mendengarmu menangis yang kau sembunyikan dalam sebuah nyanyian di malam hari, jadi aku di sini untuk menemanimu sampai rasa sakitmu hilang.”

Sedikit takjub dan tak percaya jika nyanyiannya terdengar sampai bulan, karena terkesan mengada-ada.

“Jadi, apa yang tengah kau rasakan, Putri Sana?”

Terkejut, karena pemuda yang baru saja mengenalkan dirinya mengetahui nama Sana tanpa ia harus memberitahu terlebih dahulu.

“Kau tahu Tuan Yuta, aku belum pernah merasakan jatuh cinta. Setampan apapun pria di dunia ini, tak ada yang bisa menarik perhatianku. Dan itu membuatku frustrasi. Bahkan aku juga merasa semakin lama semakin muda. Sepertinya ada yang salah dengan diriku.”

Yuta menyimak cerita gadis itu dan mengangguk-angguk. Seolah mengerti akan ucapannya. Lantas, ia mengusap puncak kepala Sana lembut dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya. Terasa sebuah letupan kecil di hati Sana melihat ekspresi Yuta dan perlakuan sederhananya.

“Putri Sana, cobalah kau membuka hatimu. Kau terlalu sering berada di dalam rumah dan menutup diri dengan orang-orang di sekitarmu. Mulai mencoba berbicara kepada Ayah dan Ilbumu, lalu saudaramu, kemudian tetanggamu dan akrabkan dirimu pada orang-orang. Suatu saat kau pasti akan merasakan perasaan yang disebut “cinta” jika kau mulai terbuka.”

Sana terdiam mendengar penuturan Yuta. Sedikit tersadar jika ia memang tak pernah keluar rumah dan lebih suka mengurung diri di kamar atau bermain di taman belakang istana. Belum sempat Sana melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba saja Yuta berdiri dari duduknya.

“Pagi hampir menjelang. Aku harus pergi, sebelum gerbang menuju bulan tertutup. Beristirahatlah, Putri Sana. Tak baik jika kau tidur pagi setiap hari.”

Berubahlah Yuta menjadi seekor kelinci putih setelah mengucapkan kalimat tersebut, lantas meninggalkan Sana menuju semak-semak. Gadis itu mengejar sang kelinci, namun ia tak menemukannya. Seolah kelinci itu hilang bagaikan embusan angin.

Sana menguap, rasa kantuk menyerangnya dan mungkin saja Yuta dan sang kelinci itu halusinasi semata karena rasa kantuknya, siapa tahu.
.
.
.
.
Putri cantik itu sudah berusaha membaur dengan lingkungannya. Tapi entah kenapa semua orang terlihat segan, atau mungkin takut berbicara padanya. Dan itu membuatnya tak mengerti seraya kembali merasakan kesedihan di malam hari. Hidupnya mungkin hanya diisi oleh rasa sedih tanpa pernah merasakan bahagia sama sekali.

“Masih merasa sedih?”

Sosok Yuta tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya sembari bermain air kolam dengan kakinya.

“Entahlah, Tuan Yuta. Aku sudah berusaha berbicara dengan mereka. Tapi mereka terlihat segan dan takut padaku. Apakah aku semengerikan itu di mata mereka? Terlihat menakutkankah wajahku ini?” ia kembali menangis terisak.

Yuta terdiam memandang Sana. Ia lalu menyandarkan kepala Sana dengan lembut di pundaknya dan mengusap rambut hitam mengilat miliknya. Gadis itu kembali merasakan letupan yang sama dengan sebelumnya di hati, hanya saja kali ini sedikit lebih cepat.

“Hei, kau itu sangat cantik, Putri. Bahkan dewi di Bulan kalah dengan kecantikanmu. Aku tak mengada-ada ataupun merayumu karena memang itu adanya. Mereka sungkan karena menghormatimu sebagai seorang Putri. Tetaplah ramah kepada sekelilingmu, kau pasti akan menemukan seseorang yang lantas akan membuka hatimu.”

Yuta lalu bangkit dan meninggalkan tepukan lembut di kepala Sana.

“Tidurlah, Putri cantik. Aku akan menemanimu lagi esok malam, hingga kau benar-benar merasa bahagia.”

Pemuda itu mengubah dirinya menjadi kelinci dan meninggalkan Sana yang masih mengejarnya ke dalam semak-semak dengan hasil nihil, karena kelinci tersebut lagi-lagi menghilang. Sana yakin, Yuta pasti akan kembali di malam esok untuk menemani malamnya lagi.
.
.
.
.
Benar ucapan Yuta, ia kembali lagi menemani Sana. Menceritakan hal-hal yang menyenangkan kepada gadis itu sembari memberikan semangat. Dan di saat itu pula, letupan di hati Sana kian membesar dan semakin cepat. Gadis itu menyukai cara berbicara Yuta yang ceria, namun tetap santai dan lembut. Kehadiran Yuta membuat nyaman di tiap malam sepinya. Seolah ia menemukan apa yang dicari, juga di saat itupula tubuhnya mulai terasa lemah sedikit demi sedikit kulitnya menjadi kering tanpa disadarinya.

“Apa kau sudah berinteraksi dengan orang-orang di sekitarmu?” tanya Yuta sambil memainkan ujung rambut Sana dan mengecipakkan kakinya di kolam ikan.

Sana mengangguk senang dan tersenyum dengan bahagia. Pemuda itu menyentuh wajah tua Sana lantas membelainya lembut. Nampaknya “kutukan” kepedihan hati sang putri sedikit demi sedikit luntur oleh perasaan yang membuatnya menjadi “manusiawi”.

“Kau nampak cantik luar biasa kini, Tuan Putri. Pastinya kau telah menemukan seseorang yang kau cintai.”

Perkataan Yuta lantas membuat jantungnya berhenti sepersekian detik. Apakah ia jatuh cinta? Pada siapakah lalu ia jatuh cinta? Karena hanya kepada orang-orang tua dan para gadis saja Sana berinteraksi di lingkungannya.

“Memangnya, aku jatuh cinta dengan siapa?” tanya Sana bingung.

Yuta tertawa geli mendengar pertanyaan Sana seraya menggenggam tangan berkerut milik gadis itu.

“Hanya kau yang tahu, Tuan Putri. Karena kau sudah bahagia, jadi aku akan kembali ke Bulan.”

Saat Yuta hendak merubah dirinya menjadi kelinci, tiba-tiba Sana mencengkeram lemah tangan Yuta.

“Aku akan mengikutimu sampai ke Bulan.”

Tak pelak ucapan Sana membuatnya terkejut, dada Yuta merasakan gemuruh yang hebat tatkala memandang kedua iris bening milik wanita tersebut.

“Aku akan ikut denganmu. Tak peduli aku menjadi tua dan mati walaupun kau itu abadi. Yang jelas aku ingin bersamamu sampai kapanpun, bahkan jika kau kembali ke Bulan. Aku ingin kau tak hanya menemani di tiap malamku, namun juga sebagai teman hidupku selamanya.”

Pemuda rupawan tersebut terdiam di tengah kacaunya perasaan hati. Perlahan ia lepaskan tangan Sana, kemudian berbisik lembut di telinga gadis itu. Meninggalkan aroma bunga sakura di indera penciuman Sana.

“Aku, tak akan pernah bisa bersatu denganmu.”

Yuta memandang Sana penuh kepedihan, tetapi ia masih tersenyum di depan wanita yang semakin tua itu. Yuta mengerti semua ucapan sang Putri juga perasaannya. Hanya saja ia tak tahu harus bagaimana menjawab seluruh perkataan Sana.

“Jika begitu…”

Dengan sigap, Sana mengambil tusuk rambut yang menghiasi rambutnya, lantas menusukkan benda tersebut berkali-kali ke perutnya. Cairan merah kini menggenangi lantai tempat mereka berpijak dan kedua netra Yuta melihat pemandangan yang teramat menyakitkan hatinya.

“Kata ibuku, jika seorang manusia mati. Maka rohnya akan abadi dan menjadi sosok dewa,” ucap Sana dengan napas terputus sembari menahan nyeri yang luar biasa.

Tubuh Sana lalu ambruk di pelukan Yuta. Tangan pemuda itu berlumuran cairan segar milik Sang Putri. Lalu Yuta menangis, meraung merasakan sakit di dadanya yang tak terbendung dan memeluk tubuh Sana yang telah kehilangan jiwanya.

Yuta tak berhenti menangis, terus menangis hingga habis airmatanya dan mengalirlah cairan hitam dari pelupuknya. Tubuhnya memeluk Sana, semakin meringkuk dan mengecil hingga akhirnya berubah menjadi seekor kelinci putih. Tetapi, kelinci itu makin mengecil hingga akhirnya berubah menjadi debu kering yang tertiup oleh dinginnya angin pagi. Begitupula dengan tubuh Sana yang mengering menjelma menjadi tulang lantas lenyap begitu sinar mentari menampakkan wujudnya.

Sementara Sang Dewa yang berada di Bulan, tengah asyik mengamati seorang gadis yang bermain-main bersama seekor kelinci putih dengan riangnya. Di malam kelam berhiaskan rembulan bersinar keperakan yang menerangi mereka.

 

-end-

 

A/N : yha aku tau ini tuh crackpair abis ya seriusan. Soalnya aku bingung mau pake cast siapa HUHUHUHU dan well aku belum bisa mengeksekusi cerita ini dengan baik huhuhuhu.

Kritik/saran gaes biar kedepannya lebih baik lagi 😽

Advertisements

8 thoughts on “[Vignette] Sang Putri Dan Kelinci Bulan

  1. aku aku aku jadi baper yeah itu ceritanya hampir mirip sama mbak sana wakakakak :v
    btw itu yuta kenapa ga berubah jadi pikachu aja? kan lumayan bisa dicari dimana-mana :v

  2. hi theeere!

    wah tumben tumbenan ada fanfict bentuk fantasy dongeng gini~
    aku tak melihat eksekusi cerita ini belum baik ._. karena udah jatuh cinta (?) dari awal penyampaian yang kerajaan ala ala dongeng kaya cerita anak kecil gitu ehhehhe ~

    hmm apa putri kecil itu reinkarnasinya mereka?
    endingnya baperin sih ._. tapi pasti anak kecil sama kelinci itu reinkarnya~ *so tau so tau* biar bisa bersama meski bukan di waktu sekarang gitu *eya, ngomong apa sih hahha*

    see ya~

    1. Hi!
      Aku iseng aja sih bikinnya hahaha karena cerita Putri Kaguya itu bagus banget huhuhu
      Makasih udah meninggalkan jejak ❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s