[Ficlet] Unforgettable Smile


IMG_20160713_130410credit pic: @exo_moodboard

Twelveblossom | Lay (EXO) & Cassie Brown (OC) | Romantis & Fluff | Umum | Ficlet

“I remember that unforgettable smile.” ―Confession, Yesung & Chanyeol

-oOo-

Cassie Brown ialah gadis berusia sembilan belas tahun. Siapa pun yang mengenal Cassie dengan baik pasti tahu benar sifat mudah bosan si gadis bersurai cokelat tua itu. Makanya, ketika Cassie―yang akrab dipanggil Cissy bilang bahwa dirinya berkunjung lebih dari sepuluh kali ke A Piece of Cake, sebuah toko kue di daerah Madison Avenue, pasti membuat lawan bicaranya menaikkan alis.

“Jujur saja ya, Cissy,” ucap Lizzy, adik Cassie, saat sang kakak mengajaknya untuk kesekian kalinya membeli tartlet di A Piece of Cake. “Aku sangat kenyang, bosan, dan malas sewaktu mendengar dirimu menyebut A Piece of Cake. Kita berkali-kali makan kue di sana. Aku bahkan berbaik hati menulis essay, sambil menemanimu duduk berjam-jam. Sekarang, aku tidak tahan lagi jika harus bengong di bangku toko kue itu seperti idiot―pantatku sakit. Karena hari ini libur, aku ingin tidur sepanjang hari. Tolong Cissy, jangan ganggu aku dengan obsesimu terhadap A Piece of Cake.” Lizzy mengomel. Gadis itu membalik posisi tidurnya jadi membelakangi Cissy.

Cassie cemberut, adiknya memang tidak paham, hati kakaknya sedang mekar-mekarnya. Bunga cinta mulai muncul satu minggu lalu, saat Cissy dan Lizzy usai belanja di 57th Street. Mereka mampir ke toko kue yang baru saja melakukan grand opening. Oh tentu saja, Cissy tidak jatuh cinta pada tartlet―well menu di sana memang lezat. Namun, ada satu hal yang sangat menarik perhatian Cissy.

“Pramusaji itu namanya Lay Zhang,” gumam Lizzy, suaranya terbenam selimut yang menyelubungi tubuh delapan belas tahunnya.

“Dari mana kau tahu namanya, Elizabeth?” tanya Cissy penasaran, si gadis yang tengah mengenakan jeans dan kaus putih polos, menaruh curiga pada adiknya. “Jangan-jangan kau memata-matainya―“

“―Aku dipaksa berperan sebagai partner Amy dalam ujian akhir kursus memasaknya di Jump Start kemarin. Ternyata, pramusaji itu salah satu anggota juga, bagian pembuatan hidangan penutup,” potong Lizzy, sebelum kakaknya berspekulasi yang tidak-tidak.

Cissy bernapas lega, bagaimana pun ia tidak ingin terlibat cinta segitiga di mana adik kesayangannya terlibat. Lagi pula, Lizzy sudah punya kekasih, jadi kekhawatiran Cissy hanya isapan jempol.

“Aku ingin ikut kursus memasak.” Cissy mengoarkan argumen yang mendapat respons negatif dari Lizzy.

“Jangan sinting, kau sama sekali tidak berbakat mengolah kudapan.” Elizabeth Brown membolakan matanya yang sipit.

Cassie berkacak pinggang, ia membalas tatapan adiknya. Kedua saudara blasteran Korea dan Amerika itu saling melotot. “Memasak perkara mudah,” ujar Cissy percaya diri, padahal setiap dirinya pergi ke dapur kekacauan akan melanda rumah mereka. Bahkan Cassie pernah meledakkan dapur!

“Terserah saja, deh. Asal kau tahu, Lay hanya ikut kursus selama liburan musim panas. Sebentar lagi liburan selesai, jadi percuma saja ikut kursus.” Lizzy berucap sembari mengedikkan bahu tak acuh. Ia mengeluarkan bunyi serupa dengkuran, bermaksud mengusir sang kakak―yang Lizzy yakin sedang merencanakan hal gila untuk mendekati Lay Zhang.

“Benar juga, minggu depan aku mulai masuk kuliah,” keluh Cissy, sembari melangkah lemas keluar dari kamar Lizzy yang berantakan.

Cassie Brown merajut langkah menuju Oliver’s Studio, setelah menyelesaikan kelas terakhirnya. Cissy enggan mengenyahkan raut mengantuk yang terpatri jelas. Ia sudah sangat lelah, terbiasa libur panjang yang hanya Cissy habiskan untuk tidur, makan, pergi ke A Piece of Cake, dan melamun. Andai saja, menari bukanlah hal yang sangat dirinya idamkan dan sudah lama Cassie ingin bergabung sebagai anggota klub itu semenjak masuk universitas, maka si gadis akan lebih memilih pulang.

“Masih sepi,” kata Cissy, kakinya berayun memasuki Oliver’s Studio―tempat berlatih klub tari kampusnya. Letak Oliver’s Studio tak seberapa jauh, hanya lima menit jalan kaki dari fakultas.

Cassie berhenti tepat di depan pintu yang menghubungkan lobi dan tempat latihan. Platform itu seperti studio balet―tempat Cissy dulu les―hanya saja lebih luas, kira-kira cukup untuk menampung lebih dari seratus orang. Seluruh dinding pada ruang latihan dilapisi cermin, terdapat beberapa pintu yang menjadi jalan menuju loker dan ruang ganti.

“Hai, apa kau anggota baru?” suara merdu yang tidak asing ditelinga Cissy mengalun tepat dari balik tubuhnya.

“Astaga!” pekik Cissy kaget setengah mati, ketika membalikkan badan dan menemukan sosok jangkung yang berdiri sembari tersenyum simpul ke arahnya. Cissy langsung mengenali siapa pemuda itu melalui lekuk bibirnya yang menawan dan suara si pemuda yang telah ia hafal betul sebagai penerima pesanan Cissy, ketika berkunjung ke A Piece of Cake. Pemuda yang selama dua pekan ini menjadi bahan gosip antara dirinya dan Lizzy, tengah berada tepat di hadapannya―Cissy pun salah tingkah.

“Aku bukan hantu. Kau terlihat sangat kaget,” kelakar si pemuda yang terbalut celana jeans hitam dan kemeja biru tua. Lay mengangsurkan tangan di depan Cissy. “Apa kau anggota baru? Jika iya, perkenalkan aku Lay Zhang, ketua klub. Kalau kau bukan anggota baru, maka ….” Lay menggantungkan kalimatnya. Pupil sang pemuda bersurai hitam itu mengawasi Cissy, berusaha ramah, dan berharap si gadis melahap candaan yang ia umpankan.

Cassie yang diberikan pandangan seperti itu, justru berkeringat dingin. Si gadis tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan bercakap-cakap dengan Lay sedekat ini. Apalagi mereka berada di klub tari yang sama! Kebetulan yang manis.

“Maka?” tanya Cissy, ia berdeham, ekspresinya tak acuh. Dia berusaha bersikap sekeren mungkin di depan Lay.

“Maka aku akan sangat malu,” jawab Lay sambil tertawa, ia menggoyangkan tangganya yang terulur agar Cassie berniat untuk menjabat.

Dentangan tawa Lay membuat ketegangan Cassie perlahan mencair. Cissy segera membalas uluran tangan Lay. “Cassie Brown,” ucapnya ramah, tak lupa mengimbuhkan senyum sopan, tanpa bermaksud untuk menggoda pemuda itu.

“Cissy, lebih baik kita masuk. Kita memblokir jalan,” ucap Lay, lalu melangkah di sebelah Cassie. “Wajahmu senang sekali menampilkan ekspresi terkejut,” sambung Lay, saat mereka menuju bangku di ujung ruangan dekat lemari kaset yang berjejer rapi.

Ternyata, anggota klub tari yang datang baru Lay dan Cassie. Otomatis membuat si gadis tak bisa kabur dan harus bisa mengendalikan rona merah di pipinya akibat jantungnya yang terus berdebar kencang. Cassie berharap rungu Lay tidak mendengar gemuruh dalam dada si gadis.

“Well, kau baru saja memanggilku Cissy.” Cassie menghela napas, kemudian melanjutkan ucapannya, “Hanya orang terdekatku saja yang memanggilku Cissy―“

“―Maaf aku tidak bermaksud―

“―Oh tak apa-apa, aku hanya tidak mengira kau punya ide untuk memanggilku Cissy,” jelas Cassie, dirinya merasa kikuk. Gadis itu mengawasi Lay yang menggaruk tengkuk. Dia tahu bahwa Lay bukanlah tipe pemuda yang bakal kehilangan bahan obrolan, Cissy menunggunya untuk membuka suara lagi.

“Aku pernah mendengar seseorang memanggilmu Cissy sewaktu di A Piece of Cake. Mungkin, kau lupa. Yeah, aku melihatmu di sana, sering sekali membeli tartlet dan cappucino. Jadi, membuatku ingat―“

“Apa kau juga sering berkunjung ke sana?” tanya Cassie pura-pura tidak tahu. Gadis itu sedang memainkan peran sebagai gadis cuek yang enggan peduli sekitar. Cissy berkelit bahwa selama sepuluh hari ini menjadi penguntit diam-diam pramusaji A Piece of Cake.

“Pekerja paruh waktu selama liburan,” jawab Lay, saat mereka duduk berdampingan di kursi kayu.

“Aku datang bersama adikku, namanya Elizabeth. Lizzy sangat suka tartlet buatan A Piece of Cake,” timpal Cissy, manik matanya yang biru menatap si lawan bicara. “Kami datang berkali―“

“Sepuluh kali setiap jam makan siang,” potong Lay.

“Kau punya ingatan yang bagus,” balas Cassie sambil menyugar surainya yang tergerai.

Lay enggan langsung menjawab, alisnya bertautan nampak berpikir. Beberapa sekon ia habiskan dalam diam, melalui ekor netranya yang tajam, Lay mengamati gadis cantik yang mengenakan terusan selutut bewarna biru muda itu. “Aku menghitung dengan seksama. Kau menganggap ini konyol, tapi jenis senyummu susah dilupakan.” Lay menghentikan ucapannya, seakan ia sadar bahwa dirinya kelepasan bicara. Dia kembali mencermati ekspresi Cissy lamat-lamat. Gadis itu hanya diam, membuat Lay kebingungan dalam menerka pikirannya.

“Tidak bisa dilupakan karena aku tersenyum dengan cara yang aneh,” gumam Cassie. Ia menunduk malu dan ingin menguburkan diri sekarang juga.

“Sama sekali tidak aneh. Kau terlihat sangat cantik, jika tersenyum. Ini terdengar seperti rayuan orang asing yang sinting―tapi aku bukan orang asing dan sinting, sudah sepuluh kali kita bertemu,” jelas pemuda itu. Dia berkali-kali menggaruk tengkuknya, gerakan yang bakal Lay lakukan ketika gugup.

“Terima kasih, aku sangat senang mendengarnya,” balas Cissy, ia tertawa renyah. “Aku rasa kau benar. Kau tidak asing dan sinting,” imbuh si gadis, berusaha melunakkan suasana.

Lay mengulum senyum. Ia merasa bahwa Cassie adalah gadis yang menyenangkan. Lay nyaman berada di dekat Cissy. Okay, walaupun baru kali ini mereka benar-benar mengobrol―sebelumnya hanya berupa hubungan antara pelanggan dan pramusaji. Lay cukup puas dengan perkembangan hubungan mereka.

“Aku tidak menyangka kita bisa berbincang sebanyak ini,” kata Lay.

Cassie menyetujuinya, “Kebetulan yang menyenangkan.”

“Kuharap aku tidak membosankan,” seloroh Lay, nadanya harap-harap cemas. Sorot mata pemuda itu menatapnya dengan jenaka.

Cassie menggelengkan kepala. Ia terkekeh sembari menjawab, “Jika aku bosan, pasti aku pergi dari sini.”

“Pemikiran yang bagus. Jadi, boleh tidak aku menemanimu mengobrol sampai kau berniat pergi?” tanya Lay.

“Tentu saja, Lay.”

Mereka terus melanjutkan obrolan hingga beberapa menit kemudian. Perbincangan menyenangkan Lay dan Cassie terhenti, saat mereka harus mengganti pakaian untuk berlatih.

Cassie hendak menuju lokernya, ketika Lay berucap, “Cissy, bisakah kau meluangkan waktu untuk pergi ke A Piece of Cake denganku akhir pekan ini?” tanya Lay yang lantas mendapatkan anggukan setuju dari Cassie.

Pikiran Cassie terus saja berkicau kegirangan, batinnya mengulang-ulang permintaan Lay beberapa kali, entah mengapa terdengar seperti ajakan berkencan.

Cassie pun tak bisa berhenti melengkungkan ujung bibir, membentuk sudut indah sebagai akibat perbincangannya dengan Lay yang baik hati.

-oOo-

a/n:

Cerita yang lainnya dapat dibaca di Track List.

A Piece of Cake adalah toko kue milik Sophie dalam cerita In A Blue Moon oleh Ilana Tan.

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet] Unforgettable Smile

  1. Aw. . Aw suka karyanya Ilana Tan juga yaaa???
    Yaa ampuuun iciiing bayangin kamu malu2 sama senyum dimple itu aku gaaaak kuaaat. . Manis banget tauu gak kek permen kapas . . . Hhhhhhmmmmm…..
    Sekuel dooong. . Seruu niih mau tau kelanjutan cerita hubungan mereka

  2. Hai Titis! 🙂
    Seperti biasa cerita Titis selalu manis dan ga ngebosenin 🙂
    Enak banget dibaca dan asyik ^^
    Aku bisa bayangin gimana wajah malu2 si babang (?) Yixing wkwkwk

    Keep writing Tis!! xD

  3. hi there!

    awwwww~~~~ so fluffyyyyy macem cake cake unyu nan maniiis awww~~

    jadi pada saling suka gitu kan? kan manis lucuk gitu. aduh~ mana Laynya malu malu gitu pas bilang. gemesh ih~
    fict ini cukup ringan dan bisa buat hati ikut berbunga bunga awwww

    see ya~

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s