[Oneshot] Your Love


YourLove-byTyavi
In Progress

Your Love

by tyavi

VIXX Ken and OC Tory

AU!, Romance, Psychology, a little bit Gore and Thriller | Oneshot | PG-17 ( for Mature Content)

Soundtrack :

VIXX – Chained Up

VIXX – Voodoo doll

Summary :

Let me chained you up

Because you’re my doll

.

.

.

Siluetnya tertangkap kedua manikku lagi petang itu. Presensi sesosok makhluk yang tercipta selalu indah untuk dipandang—seorang gadis bertubuh ramping dengan gaun krem berpotongan panjang yang setia menyapu rumput yang dilewatinya. Surai cokelat yang digelung ke belakang, dipermanis dengan hiasan yang terbuat dari bunga-bunga yang dikeringkan. Kulitnya seputih salju, terlihat dari permukaan punggungnya yang tak tertutupi gaun satinnya. Harum musim gugur selalu mengiringi eksistensinya. Benar-benar sosok yang mampu menarik seluruh atensiku seminggu belakangan—saat aku melewati hutan.

Mengamatinya dari balik pohon Maple berusia ratusan tahun adalah hal yang biasa kulakukan, tapi tidak untuk hari ini. Kuriositasku sudah mencapai puncak, dan aku ingin membuktikannya sendiri dengan menghampirinya. Mengamati rupanya lekat-lekat dari dekat. Menyuguhinya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; siapakah gerangan dirinya? Darimana ia berasal? Aku ingin tahu segalanya tentang gadis itu. Gadis yang tanpa aku sadari telah menyusup ke dalam benakku, serta hatiku.

Sekon berikutnya tungkaiku melangkah pasti. Sosok itu tengah berjalan pelan sambil mengamati bunga-bunga peony, tampak tenang kendati posisiku tinggal beberapa langkah di belakangnya. Sepertinya dia benar-benar tidak menyadari eksistensiku. Dua sekon berikutnya tungkaiku berhenti tepat di belakangnya. Sejemang, tubuhku mematung. Aku merenggangkan bahuku yang mendadak kaku karena gugup. Iya, sialnya perasaan gugup ini menderaku saat tengkuk seputih salju dengan beberapa helai rambut cokelat yang terbebas dari sanggulnya berada tepat di hadapanku. Alih-alih memberanikan diri untuk menegurnya, tubuhku seketika membeku kala punggung putih itu perlahan mulai membalik.

Manikku membulat dan seketika aku bungkam. Aku sangat yakin kalau saat ini, menit ini, detik ini, matahari sudah mulai kembali ke peraduan. Lantas cahaya darimana yang menerpa wajahku saat ini? Paras seputih salju itu begitu menyilaukan. Iris kebiruan yang bersirobok dengan manikku seolah menatap langsung ke dalam jiwaku. Kalian bisa menganggapku pembual atau pendongeng yang handal tapi aku berani sumpah kalau aku tidak berbohong. Salahkan aku yang selama ini pengecut sehingga hanya dapat memandangi punggungnya saja.

“Ya?” sebuah suara yang keluar dari bibir tipis nan merah itu seolah mengembalikanku pada kenyataan.

“Siapa namamu?” dan tahu-tahu kalimat terdiri dua kata itu terlontar dari bibirku, menciptakan kerutan kecil pada dahi gadis itu. Ekspresi wajahnya berubah, dari terkejut menjadi heran—meski rona merah masih setia berpijar di kedua belah pipinya.

Sepersekian sekon berikutnya kepala gadis itu tertunduk, membuatku merutuk dalam hati karena tidak bisa memandangi parasnya lagi. “Maaf, Tuan. Tapi untuk apa anda menanyakannya?”

Pertanyaan yang sukses membuatku menelan saliva. Sial! Iya, tentu saja sial. Karena aku sendiri pun belum berpikir terlalu jauh untuk memberikan alasan kenapa aku menanyakan namanya. Seharusnya bibirku bisa lebih menahan kuriositasku.

“Apa karena saya mondar-mandir di sekitar Tuan? Apabila itu mengganggumu, maafkan saya, Tuan.”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Saya tertarik padamu.”

Sepertinya aku memang harus mengutuk bibirku yang tidak bisa berkompromi hari ini—

“Apakah maksud Tuan? Tuan bahkan tidak mengenal saya.”

—atau mungkin juga tidak. Memang sudah seharusnya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Justru itu…saya tertarik padamu, karena saya belum mengenalmu. Jadi, bolehkah saya berkenalan denganmu?”

Aku menjerit senang dalam hati kala wajahnya menengadah. Kelopaknya mengerjap beberapa kali, membuatku dapat melihat jelas bulu matanya yang lentik. Alih-alih menjawab, bibir tipisnya tertarik ke atas dan membentuk kurva. Sebuah senyum terulas di paras tirusnya, membuat hatiku berikrar kalau senyum itu adalah senyum terindah yang pernah kulihat. Belum puas membuatku semakin jatuh dalam pesonanya, sebuah tawa kecil mengalun dari bibir merahnya. Tak berlama-lama, dua sekon berikutnya tawa itu sudah berhenti dengan anggunnya.

“Tuan, kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, kita akan bertemu kembali. Waktu di mana saat itu datang, Tuan akan mengetahui segalanya.”

Sekonyong-konyong aroma musim gugur yang menguar dari tubuhnya menerpa indera penciumanku seirama dengan angin malam yang mulai berhembus. Tanpa sempat kucegah, tanpa benakku sadari sepenuhnya, sosoknya melebur di dalam rimbunnya dedaunan pohon-pohon Maple.

.

***

.

 

Pertengahan musim gugur saat netraku kembali disapa presensinya. Menjulurkan kepala dari balik pohon Maple berusia ratusan tahun, manikku dimanjakan paras cantik yang dihiasi senyuman semanis madu.

“Hai Tuan.”

Entah ekspresi berbinar atau jengkel yang tercetak di wajahku. Di satu sisi aku kesal, bagaimana bisa gadis ini tiba-tiba datang dan tersenyum semanis itu? Memasang wajah tanpa dosa kendati berhari-hari lamanya aku menunggu kedatangan sosoknya—seperti hari-hari sebelumnya—di bibir hutan. Tapi toh hatiku tidak pernah bisa berdusta, dilihat dari seberapa cepat tungkaiku merajut langkah menghampirinya.

“Jadi…” ujarnya membuka konversasi. Kini kami berdua tengah berjalan bersisian di tengah padang ilalang. Setidaknya ini lebih baik daripada melihat bunga-bunga peony yang rusak karena sapuan gaunnya. “Kau adalah seorang Pangeran?”

Aku mengutuk kecerobohanku yang lupa mengganti jubah kerajaanku dengan jubah hitam—yang biasa kugunakan kala pergi ke hutan untuk berburu.

“Siapa nama Pangeran?”

Sejurus pertanyaannya barusan, manikku menatapnya lekat-lekat.

“Kau berhutang padaku, Nona. Kau harus menjawab pertanyaanku lebih dulu. Bukankah kau bilang bahwa saat kita bertemu, aku akan mengetahui segalanya?”

Ini adalah kali kedua aku bertemu dengannya, namun entah kenapa aku merasa sudah amat mengenalnya. Seperti kala tawa kecil kembali terdengar dari bibirnya. Meletakkan sebelah tangan di depan perut datarnya, tangannya yang terbebas terangkat menyentuh dagunya, ia benar-benar tertawa seanggun biasanya.

“Segalanya akan kujelaskan hanya dengan tiga kalimat.”

Lantas tungkainya melangkah menjauhiku. Diraihnya salah satu ilalang kering untuk kemudian diacungkannya ke udara.

“Namaku Tory.”

Aku mengulum senyum. Meski terdengar unik, akhirnya aku dapat mengetahui namanya. Setidaknya aku tahu bagaimana harus memanggilnya.

Tak lama berselang, tubuhnya telah berdiri di hadapanku. Sejenak ia—ralat, maksudku Tory kembali memamerkan senyum manisnya. Tak hanya tawanya yang anggun, gesturnya juga amat lembut kendati dapat membuatku membeku seketika. Saat ini misalnya, kala tangan mungilnya secara perlahan terangkat, kemudian mendarat di dadaku.

“Aku akan ada di sini.”

Ucapannya disudahi dengan bersiroboknya manik kami. Lagi-lagi sosokku terbingkai dalam iris kebiruannya. Iris yang tampak sejernih mata air serta dapat membius siapa pun. Termasuk membiusku untuk jatuh lebih jauh dalam pesonanya sebelum sebuah suara yang telah membuatku candu kembali terlantun.

“Dan aku tidak akan meninggalkanmu.”

Sontak saja sebuah tawa mengalun dari bibirku. Mungkin aku tidak sopan, tapi kalimat yang dilontarkannya barusan hampir-hampir membuatku tak percaya. Apa gadis yang setelah sebelumnya membuatku penasaran setengah mati kini berbicara manis padaku? Bahkan melantunkan sebuah janji untukku. Sungguh sulit dipercaya.

“Tuan tampak semakin tampan kalau tertawa.”

Aku menyudahi tawaku dan menghela napas pelan. Siapa gerangan gadis ini? Siapa Tory? Dirinya sungguh tidak terduga.

“Sekarang giliranmu, Tuan—eum…maksudku Pangeran.”

“Aku akan menjelaskannya dengan dua kalimat.”

Manikku berlabuh tepat pada maniknya yang menatapku lekat-lekat, seakan menunggu dua kalimat itu segera lolos dari bibirku.

“Namaku Ken.”

Kuamit tangan mungilnya yang masih bertengger di dadaku, menggenggamnya erat—

“Dan aku mencintaimu.”

—lantas mendaratkan sebuah kecupan di permukaan kulit pucatnya. Kurasakan kulit arinya yang begitu lembut di bibirku. Sebenarnya bidadari dari mana yang ada di hadapanku?

Melepaskan kecupanku di tangan mungilnya, kudekatkan wajahku dengannya. Baru saja bibirku akan menyatu dengan kedua belah bibir Tory saat jari telunjuknya menyentuh pelan bibirku.

“Sekarang bukan saatnya, Tuan.”

Dan seperti déjà vu, sosok Tory menghilang meninggalkan aroma musim gugur yang memabukkan.

.

***

.

 

Nihil, hasil yang kudapat selama tiga bulan menyusuri hutan demi secercah presensi gadis itu. Dia tidak pernah melewati rimbunan pohon Maple lagi. Tidak ada lagi rumput, ilalang dan bunga peony yang mati karena tersapu ujung gaun satinnya. Tidak ada lagi aroma musim gugur di pertengahan musim panas. Dia tidak pernah kembali.

.

***

.

 

Semua terjadi begitu cepat. Terbingkai sempurna di kedua manikku peristiwa berdarah yang baru saja menimpa keluargaku, kerajaanku, serta rakyatku. Darah di mana-mana, Ayahanda dan Ibu suri sudah tak bernyawa, serta prajurit-prajurit yang tergeletak tak berdaya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Lantas aku berlari sekuat tenaga menjauh dari kerajaan dan masuk ke dalam hutan, ditelan rimbunan daun pohon Maple yang telah sempurna memerah dan berguguran menyertai langkah kakiku.

Keringat bercucuran, menyamari likuid bening yang ikut luruh dari mataku. Semuanya musnah, semuanya habis tak bersisa, lantas hanya menyisakan luka di dalam hatiku yang kini sebatang kara. Aku jatuh. Aku rapuh.

“Ken…”

Bahkan masih kuingat suara yang membuatku candu itu.

“Ken…”

Suara yang kuharap dapat menjadi penawar lukaku.

“Pangeran Ken…”

Sosok indah itu menyembul di balik pohon Maple berusia ratusan tahun. Terdengar bunyi gemerisik dedaunan Maple kering yang tersapu gaun satinnya tatkala tungkainya merajut langkah ke arahku.

“Tory…”

Sepersekian sekon berikutnya tubuh ramping itu merengkuhku. Membalutku dengan aroma musim gugurnya yang memabukkan.

“Tenanglah, aku ada di sini.”

“Tory…” masih sempat kulantunkan namamu sebelum isakkan pilu mengalun dari bibirku.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Kau begitu baik.

“Namaku Tory. Aku akan ada di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Benar, aku memiliki Tory. Aku hanya membutuhkan Tory. Aku tidak sendirian, karena ada Tory yang akan selalu menemaniku. Tory tidak akan meninggalkanku.

.

***

.

 

Harum Lily, peony serta anggrek hutan yang menyapa indera penciumanku begitu aku membuka mata. Sebenarnya masih banyak lagi namun aku tidak dapat menjelaskannya. Disini terlalu sesak, terlalu pengap kendati aroma bunga menusuk hidungku. Sesak? Pengap? Tunggu. Apakah aku terkurung?

Ugh, aku merutuki kepalaku yang terasa pening. Bahkan aku tidak bisa melihat dengan jelas, di sini gelap. Hanya cahaya yang berasal dari lantai di bawah tubuhku lah yang memancarkan sinar.

“Ken.”

Suara itu lagi. Otakku berputar, mencoba membuka lemari-lemari memori yang baru saja terjadi. Sekarang aku ingat; perang, keluargaku meregang nyawa dan Tory datang.

“Tory!”

Siluet tubuh ramping itu semakin lama semakin mendekat. Kini irisku dapat menangkap jelas paras Tory di hadapanku.

“Pangeran Ken.”

Senyum indah itu terukir kembali, bagai mantra yang membuat keadaan hatiku membaik seketika. Aku hendak bangkit dan menghambur ke pelukannya saat sesuatu menghalangi aksesku. Ini seperti…kaca? Apakah aku terkurung di dalam kaca?

Netraku beredar, mendapati sekumpulan bunga beraneka jenis di belakangku. Lantas tiga dinding di sekelilingku terbuat dari kaca. Sebuah cahaya menyilaukan terpancar di lantai tempatku berpijak.

“Tory, kenapa aku ada di dalam sini?”

Tory melangkah pelan ke arahku. Bahkan kini dia mendaratkan kedua tangannya di permukaan kaca di hadapanku, seolah hendak meraihku.

“Kennie sayang, kau begitu indah. Salah kalau aku ingin menyimpanmu untuk diriku?”

Apa? Apa maksudnya menyimpanku?

Saat aku bergerak, aku merasakan sesuatu yang melilit leherku. Tanganku terangkat untuk menyentuhnya, dapat kurasakan sesuatu bertekstur kulit di sekeliling leherku dan perak di bagian jakun. Apa ini?

“Itu hadiah dariku, Sayang. Tanda cinta dariku.”

Tak sampai di situ, netraku menangkap pantulan sebuah rantai emas yang melingkari kedua pergelangan kakiku. Sontak manikku beralih pada Tory yang masih menatapku dibalik kaca. Tatapan Tory tak sama, irisnya tampak keruh.

“Tory?”

Alih-alih menjawab, tubuh Tory melangkah mundur dan menghilang ditelan kegelapan.

.

***

.

 

Aku tidak tahu waktu apa sekarang saat Tory mengeluarkanku dari dalam kotak. Untuk tidur di dalam kamar, katanya. Mengindikasikan kalau malam sudah datang. Tory menuntunku dengan kedua tangan kami yang bertautan. Kendati demikian, sebuah rantai emas masih melingkari pergelangan kakiku. Langkah kami terhenti di depan sebuah pintu yang terbuat dari kayu, lantas Tory menarik pegangan pintu dan menarikku masuk. Pemandangan sebuah ruangan bernuansa krem menyapa netraku begitu memasuki kamar. Ruangan ini lebih terang dibanding ruang tempatku terkurung dan koridor yang baru saja kami lewati. Sebuah ranjang berukuran besar terletak di tengah-tengah ruangan.

Tory menarikku ke hadapannya dan memelukku sekilas. Kini Tory tersenyum manis padaku dan menggigit bibir bawahnya. Belum sempat aku merespon, Tory mendorong tubuhku agar berbaring di atas ranjang. Lantas tubuh Tory beringsut ke atas ranjang dan memasangkan rantai pada kedua tanganku.

Apa?

“Tory, ini untuk apa?” Napasku tercekat ketika Tory berpindah ke atas tubuhku dan membelai pelan pipiku.

“Aku melakukan ini karena aku tidak mau kehilanganmu, Ken.” Tubuhnya begitu dekat hingga aromanya memenuhi diriku. Surai cokelatnya yang biasa tergelung, kini terurai dan menyapu permukaan wajahku.

“Kau mencintaiku ‘kan?”

“Tentu saja, dan aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu, Tory. Jadi kau tidak perlu—” Aku tidak menyelesaikan ucapanku tatkala jari telunjuk Tory menahan bibirku.

“Sssttt!” desisnya.

Hembusan napas Tory di wajahku membuatku harus menelan saliva banyak-banyak kendati sebagian dari diriku mulai terbuai dalam pesonanya.

“Aku hanya membutuhkan jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’. Kau mencintaiku ‘kan?” tanyanya lagi yang lebih tepat disebut dengan bisikan. Bulu kudukku berdiri, tak kuasa merasakan deru napasnya di tengkukku.“I-iya.”

“Aku juga.” Tory mendaratkan satu kecupan di tengkukku lantas terus naik dan mulai mencumbui bibirku.

.

***

.

Seharian aku terkurung di dalam kotak kaca yang dipenuhi bunga. Tanpa makan dan tanpa minum. Namun anehnya aku juga tidak merasa lapar. Seakan energi selalu mengalir di pembuluh nadiku setiap saat. Lalu saat malam datang, Tory akan mengeluarkanku dari dalam kotak kaca dan kami habiskan sisa malam bersama. Keesokkan harinya aku terbangun dalam keadaan terkurung di dalam kotak kaca dengan kedua kakiku dirantai. Semua terjadi secara repetitif selama—entahlah, mungkin sebulan.

Aku sadar bahwasanya aku sudah terperangkap dalam rantai Tory sejak pertama kali bertemu dengannya. Dan belakangan ini pula aku menyadari ada yang salah pada Tory, seperti dia memiliki sisi kelam yang sangat melekat pada dirinya. Aku jadi menyangsikan sosok Tory yang kutemui di hutan. Seakan Tory yang selalu menunjukkan senyum anggunnya adalah sosok yang berbeda dari Tory yang selalu menatapku seduktif di malam hari.

Dan akhirnya mala mini aku akan menemukan jawabannya. Ketika Tory sedang membersihkan diri sebelum kami tidur, aku bangkit dari kasur. Beruntung Tory belum merantai kaki dan tanganku di tepian ranjang. Dan entah aku harus bersyukur juga saat kujumpai sebuah cermin raksasa di kamar ini. Cermin yang membuatku terperangah saat mematut diri. Rasanya sudah lama sekali aku tidak memperhatikan penampilanku, tapi bukan hal itu yang mengejutkanku saat ini. Melainkan sebuah benda yang membelenggu leherku. Kuambil beberapa langkah mendekat untuk memastikan aku tidak salah lihat. Bahwa simbol yang terukir cantik di permukaan perak ini tidak lain adalah lambing kerajaan Autumn…

“Kau sedang apa, Kennie?”

…Kerajaan yang dua puluh tahun lalu dibantai habis-habisan oleh pasukan dari kerajaanku.

Aku masih bergeming, balas tatap manik cokelat Tory dari pantulan cermin. Ah, tidak. Mungkin seharusnya aku memanggilnya—

“Victoria?”

Aku tahu bukan reaksi ini yang kuharapkan. Karena alih-alih menunjukkan mimik seperti pecuri yang tertangkap basah, ia malah menyeringai kecil seraya menyahut, “Ya?”

Aku tidak habis pikir.

“Kau Victoria Rowel?” Putri bungsu kerajaan Autumn?, lanjutku dalam hati karena bibirku sudah terlanjur kelu.

“Iya, Kennedy Roshan.” Udara di sekelilingku raib saat Victoria menyebut nama lengkapku. Aku ingat betul belum pernah sekali pun kukatakan nama lengkapku, jadi ia tidak mungkin Tory—gadis jelita yang kutemui di tengah hutan, bahkan baru tahu aku seorang pangeran saat aku lupa mengganti jubah kerajaanku. Tory atau pun Victoria, ternyata ia adalah Putri dari Kerajaan yang menjadi musuh Kerajaanku, yang berarti:

“Jadi kau yang menyerang kerajaanku?”

Victoria tertawa. “Aku tidak menyerang. Apalagi balas dendam.” Aku lekas membalikkan badan saat kulihat tungkainya mendekat. “Aku hanya melakukan apa yang dilakukan Ayahmu dua puluh tahun yang lalu.” Seringai kecil itu kembali terpeta di wajah cantiknya. “Pada rakyatku…kerajaanku…dan juga keluargaku. Tentu bisa kau bayangkan bagaimana menyedihkannya hidupku dua pu—Kennie!”

Aku tidak boleh berada di sini lebih lama. Jelas-jelas Victoria memiliki maksud lain membawaku ke sini. Datang dan merengkuhku dalam pelukan saat aku terpuruk justru karena Kerajaannya, tentu ia berniat balas dendam.

 “Ken!”

Aku tidak tahu kalau tempat tinggal Victoria lebih pantas disebut labirin dibanding kastil. Di sini begitu banyak ruangan dengan pintu kayu-kayu tinggi.

“Ken, kubilang berhenti!”

Aku baru saja masuk ke suatu ruangan saat rasa nyeri merambat di leherku. “Arrgghhh!!” Aku kesulitan bernapas. Rasanya seperti ada sebilah benda tumpul yang menusuk batang tenggorokkanku. Tanganku terus menarik choker yang melingkari leherku karena ini … sangat menyiksa. Aku tersungkur menggelinjang di atas tanah dengar rasa sakit yang luar biasa.

Dan disanalah, di tangan Tory yang kini berdiri di hadapanku, terdapat sebuah boneka voodoo yang tengah diremasnya.

“Kennie, bukankah sudah kubilang? Jangan pernah meninggalkanku!”

.

***

.

Nyeri telah merambati sekujur tubuhku. Tak ada seinci pun dari kulitku yang tidak terbalur darah. Kepalaku terasa pening. Mataku sulit terbuka lantaran cairan merah pekat yang mengalir deras dari pelipis. Tubuhku berdiri tegap kendati bukan rangkaku lagi yang menopang. Puluhan atau munglin ratusan besi pengait tertancap di titik-titik tubuhku yang telah Tory tentukan. Kurasakan Tory mencubit kulit betisku dan selesai dengan pengait besi terakhir.

“Victoria…” Suaraku lemah. Sebagai representasi kalau aku tidak punya setetes pun darah lagi. Tapi Tory malah bangkit dan menyalak.

“TORY! PANGGIL AKU TORY!! VICTORIA SUDAH MATI!” Ia menarik kerah bajuku, membuatku menggigit bawah bibirku kuat-kuat lantaran rasa sakit yang sudah tak terkira.

Tidak. Bukan Victoria yang sudah mati, justru Tory yang kukenal yang sudah binasa.

“Awalnya aku hanya akan menyimpanmu untuk diriku. Menjadikan dirimu yang begitu indah sebagai pajangan. Tapi ternyata otakmu tidak dapat berkompromi denganku, Ken. Jangan salahkan aku, kau sendirilah yang membuat dirimu jadi seperti ini.” Tory melangkah mundur. Setidaknya satu paartikel oksigen dapat kugapai.

“Maafkan aku Ken, tapi aku harus melakukannya. Aku mencintai dirimu, tapi tidak dengan otakmu.”

Aku tidak dapat berpikir apa yang akan Tory lakukan pada diriku sampai kurasakan sengatan yang tajam menjalar ke seluruh saraf tubuhku. Tory menekan sebuah kotak besi, mengalirkan listrik tegangan tinggi pada choker yang melingkar di leherku.

“AAARGGGGHHHHHHHHHHH!!!”

“Ayo kita nyanyikan mantranya.”

“Arrgghhhhh…”

“Dengarkan aku dan ulangi ini : ‘Tidak ada yang boleh menyakiti Tory, gadis yang paling kucintai’. Ulangi itu, Sayang.”

.

***

.

“Tory, jangan tinggalkan aku.”

“Tentu saja tidak, Kennie. Karena apapun alasannya, kau membutuhkanku, Sayang. Karena aku adalah energi bagimu.”

.

***

.

“Kennie sayang, bukankah aku selalu bilang untuk berhati-hati pada serpihan kaca?”

“Arrgghh…”

“Bagaimana Sayang? Apakah jauh lebih baik saat aku memasukkannya lebih dalam?”

.

***

.

 “Selamat pagi, Kennie sayang.”

“Tory…aku mencintaimu, Tory…”

“Aku juga, Kennie. Tapi itu dulu. Saat ini aku telah jatuh cinta pada seorang pemuda.”

“Apa?”

“Tapi sayang, dia menolak hatiku, Ken.”

“Apa?! Berani-beraninya! Siapa dia, Tory?!”

Tidak ada yang boleh menyakiti Tory, gadis yang paling kucintai.

“Kenapa tidak kau temui saja dia lalu rebut kembali cintaku, Ken.”

.

***

.

“Selamat datang, Kennie sayang.”

.

“Sekarang kembali ke tempatmu, biar kupasangkan rantaimu, Sayang.”

.

“Kenapa? Kau tidak mau?”

.

“Kennie sayang.”

.

.

.

“Kau mencintaiku ‘kan?”

.

.

.

fin

img1447172950267

Disclaimer : Terinspirasi dari MV Chained Up dan MV Voodoo Doll. Sedikit lirik Chained Up dan Voodoo Doll. Selebihnya adalah hasil pemikiran author.

.

Disclaimer : PG-17  for Mature Content and a little bit BDSM.

Tyavi’s little note : Ya Allah emaaaakk draft jaman jebot baru kelar T^T

Lagi dan lagi Inspirasinya instan banget karena tiba-tiba ngerasa kalo kedua lagu itu mv dan arti lagunya mirip. Menurut pendapatku Chained Up kaya prequelnya Voodoo Doll. Jadi kalo di Chained Up udah saking jatuh cintanya sama itu cewek, vixx sampe rela dirantai dan jadi budak lah istilahnya. Tapi kalo di Voodoo Doll mah udah cinta mati, udah kena pelet malah /plakk/. Niatnya sih mau masokis tapi kayaknya gagal hahaha /menertawakan kegagalan sendiri/. Oiya itu part-part terakhir kenapa ga ada narasinya karena otak Ken sudah rusak dan dikuasai Tory.

Mind to leave a comment ^^

 

 

 

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Your Love

  1. hi there!

    woah!
    ceritanya berbalik!

    awalnya aku kira Tory ini beneran peri. peri musim gugur. atau semacam hantu (?) ._. datengnya tiap musim gugur aja gitu.

    terus-terus ya ampun ternyata jahat pisan :”” kesian Ken-nya. apalagi pas bagian mau ending. kayak udah boneka doang gitu. huhuhu.
    bagus tapinya hehhe

    see ya~

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s