[FREELANCE] The End


IN NEVERLAND

Songtitle : “the end” || Songwriter : riseuki || Artist : BTS’s Jimin & Suga & Taehyung | OC’s Park Minha || Genre : || Prompt : 1 || rating : PG 17

.

.

.

“Jimin-a, apa yang terjadi? Berhenti di sana!”, Taehyung hampir-hampir kehilangan nafasnya setelah berusaha mengejar Jimin yang tiba-tiba keluar dari ruang rapat saat gilirannya untuk presentasi sudah di depan mata. Sebuah panggilan telepon adalah penyebabnya. Taehyung tidak tahu siapa atau apa yang baru saja menyambangkan suara di telepon itu. Persetan! Baginya presentasi kali ini lebih penting, dia harus bisa membawa Jimin kembali.

Derap-derap langkah Jimin sungguh tak bisa dikendalikan, jika bisa ia bahkan berharap bahwa ia bisa terbang. Ia harus segera sampai di sana, jantungnya bahkan berdebar lebih kerap daripada pacuan langkahnya. Ah, air mata pun terjatuh sekencang kutukan yang keluar dari bibir Jimin, merutuk dirinya sendiri, “Bedebah sialan kau Park Jimin! Bodoh!”

Urgh!

Sebuah pukulan di tembok dalam lorong yang berbau disinfektan itu terdengar cukup nyaring, berulang-ulang kepalan tangan itu menghantam pucatnya dinding yang pasti sudah tidak merasa asing dengan kelakuan barusan, yang mulanya kencang sepenuh tenaga hingga akhirnya melemah dan melorot jatuh mendekati bagiannya yang dekat dengan lantai. Dinding itu tahu, ia meresap semua perasaan yang dicurahkan dari jotosan barusan, apalagi di tambah dengan tangis tertahan yang ditumpu lengan.

“Aku tidak seharusnya pergi, ‘kan, hyung?

Suara itu lemah, kecil tapi dalam –dengan imbuhan penyesalan, keluar dari bibir Jimin yang masih bergetar, dirangkai oleh otak yang neutronnya berputar dan disampaikan dari hati yang hitam bak awan pertanda hujan.

Dan, dia yang ditanyai hanya diam.

“Minha ternyata masih terlalu muda untuk bisa mengasuh dirinya sendiri, ‘kan? Dan aku bukan ada di sampingnya untuk memberi kasih sayang, tapi justru pergi dan hanya menyodorinya uang”, Jimin memberi alasan-alasan yang terdengar seperti pengakuan –lebih ke diri sendiri daripada ke hyung yang tidak menyahut sedari tadi, “dan dengan bodohnya aku pikir dia bisa bahagia”

Satu tangannya yang bebas dan satu tangannya yang kebas serempak menutup wajah, berniat menghalau sua yang bisa saja lepas dari tangis yang membanjir, walau agaknya tidak begitu berhasil.

“Minha selalu bilang kalau dia baik-baik saja tiap aku menelepon”, lanjut Jimin, “dia juga terdengar bahagia”

Hening sejenak, kini dua suara tangis yang berbeda hampir-hampir bersahutan.

“Dan kau tak pernah tahu bahwa itu semua hasil dari obat penenang terkutuk bernama morfin, begitu, ‘kan? Jimin-a?”

Jimin hanya mengangguk, tidak ada yang salah dari pertanyaan itu. Dia memang tidak tahu, ketidaktahuan yang patut diganjar sebuah pukulan –tidak, pukulan berulang-ulang.

Dua tahun lalu dia pergi meninggalkan Minha, adik kesayangan satu-satunya, keluarga satu-satunya, tujuan hidup satu-satunya. Jimin mengatakan bahwa ia dan Taehyung –sahabatnya, memiliki sebuah prospek usaha yang pasti akan berhasil dan menghadiahi mereka banyak kekayaan, jadi mereka –Jimin dan Taehyung, mulai menggarap prospek itu dengan serius, tak dinyana banyak hal yang harus dikerjakan dan membuat mereka sibuk bak pekerja kesetanan, keringat terus mengucur, tangan terus bekerja, mata terus membaca dan hati terus berharap pada tambang emas yang esok mungkin bisa mereka gali. Mereka begitu sibuk, terlalu sibuk untuk hidup –sebagaimana dulu seharusnya mereka hidup.

Jimin jadi terlalu sibuk untuk mengobrol dengan adiknya, dia bahkan hanya menghubungi sekadar untuk menanyakan kabar, dan, yeah, jawaban seperti di atas yang dia dapat. Minha baik-baik saja. Minha terdengar bahagia.

Padahal tidak. Minha tertekan dengan banyak hal. Dan, yeah, dia terlalu muda untuk menghadapinya sendirian. Dia butuh sosok kakak, tapi Jimin tidak disana.

Dan sekarang, mereka di sini. Di tempat dengan bau obat-obatan pekat, tempat Jimin mulai menangisi dan meratapi pilihannya, juga tempat dokter sedang berusaha sebaik mungkin mengosongkan isi perut Minha. Ditambah, tempat sebuah tatapan penuh kebencian dan dendam yang terbentuk dari dwimanik milik Yoongi, ketika dokter keluar dan mengatakan gadisnya tidak selamat.

“Jimin-a, apa yang kau lakukan? Pergi dari sana!”, Taehyung hampir-hampir kehilangan suaranya saat melihat Jimin berdiri terpaku tanpa hasrat untuk menghindar, padahal di depan sana, tak lebih dari seratus meter jauhnya, Min Yoongi memegang sebuah belati dengan mata yang berapi-api.

“Kemarilah hyung, bunuh aku jika itu bisa membuatmu lega”, masih berdiri tanpa perlindungan, Jimin hanya bisa menahan air mata dengan pasrah menyaksikan Yoongi yang amarahnya tentu sudah pecah. Bajingan kecil seperti dirinya yang bahkan tidak becus menjaga seorang adik memang rasanya pantas untuk mati tertikam belati.

“Bangsat!”, dua langkah Yoongi melaju ketika sebuah peluru memburu dan menjatuhkannya telak ke belakang.

Dorr!

Mata Jimin membelalak, dia menghadap tepat ke presensi Taehyung yang dengan gemetar menurunkan kaliber .38nya yang berasap. Sedetik terpaku, Jimin segera berlari menyambangi Yoongi, darah segar membasahi hampir seluruh bagian depan sweater abu-abu yang dikenakan lelaki itu, di mulutnya darah mulai terbatuk, tapi Yoongi masih bisa bicara.

“Minha masih terlalu muda, dia juga begitu rapuh layaknya sayap kupu-kupu yang baru terbentuk—“, batuknya semakin berat dan suaranya semakin lemah, “—dan, selamat atas pilihanmu Jimin-a, kau berhasil mematahkan sayap-sayap itu”

Jimin hanya bisa menangis saat lengannya menumpu kepala kekasih adiknya itu, yang sudah dia anggap sebagai hyungnya sendiri. Yang di akhir hidupnya masih memikirkan Minha dan Jimin, bahkan menyampaikan sarkasm itu dalam kondisi hampir mati. Masih saja sok bijak, walau Jimin tahu tidak ada yang benar-benar salah dengan apa yang baru saja diperdengarkan oleh Yonngi. Sialan, Jimin tidak mau kehilangan lagi.

Sebuah lengan menarik Jimin berdiri, “tinggalkan dia, kita harus pergi sebelum polisi datang”, dan sebuah pukulan telak mematahkan hidung Taehyung setelah kalimat itu terucap. Air mata belum lagi enyah dari mata Jimin, dan kini hatinya membara, menghitam dan tersayat dalam.

“Bangsat kau Kim Taehyung! Selama ini  aku mempercayaimu dan lihat apa yang aku dapat! Persetan dengan masa muda gemilang, kau baru saja membuatku kehilangan dua orang paling berharga dalam hidupku!”

.

.

.

Cih!

“Kau tidak bisa menyalahkan aku, Jimin-a. It’s all your choice, ‘kay? And within that, you should ready to face the consequence”.

.

fin

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] The End

  1. hi there

    gilak! gilak!
    apa apaan taehyung selalu jadi nista ._. wkwkwkwk
    apa apaan sih dia~ bisa bisanya gitu 😦

    dan statement penutupnya cukup mengerikan euw~~

    see ya~

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s