[FREELANCE] Every Night


tumblr_o4m3pqlhoq1ukm9l2o3_540

a fic by amandzaty

Every Night

starring with Nakamoto Yuta ft. Pevita Pearce

AU! | Roman, Fluff, Hurt | PG-17 | 660 words

[disclaimer! I just own the plot]

.

There’s no line between Love and Lush―Ana, Fifty Shades of Grey

.

.

Malam itu, bagi Yuta seperti malam-malam biasanya. Tapi malam yang tiap kali dilewati pria itu bukan lah malam yang biasa dilewati orang-orang normal. Setiap hari, sebelum matahari tenggelam di ufuk barat ia akan pamit pada orang-orang di flat Mr.Larsan―bosnya― ke sebuah tempat yang cukup ‘bagus’ untuk dijadikan sebuah alasan yang ‘terlihat benar-benar nyata’ dan dapat di terima nalar. Jelas dia berbohong, karena nyatanya pria Jepang itu pergi ke flat mungil di pinggir jalanan distrik Bromley, khusus untuk menemui wanita yang ia labeli sebagai; ‘gadisku’.

Biasanya tanpa pikir panjang ia membuka pintu flat 21B itu asal tanpa tata krama, barang mengetuk pun tidak. Sudah kebiasaan mungkin? Bahkan tungkai panjangnya melangkah tiada ragu kedalam flat itu. Malahan ia dengan tenangnya membuka pintu sebuah kamar. Kamar gadis. Lagi-lagi tanpa permisi. Itu tidak sopan bukankah begitu? Siapa tahu pemiliknya sedang ganti baju atau apa? Tapi buat apa juga berhati-hati kalau masuk ke dalam kamar gadisnya. Kamar itu juga miliknya. Persetan jika gadis beriris abu-abu muda itu sedang tidak pakai bra atau apalah. Toh, sudah berkali-kali Yuta menjelajahi tubuh itu.

Gadis itu menengok, waktu instingnya merangsang bau harum parfum faforitnya, bahkan sebelum pemiliknya memutar knop dan menggeser daun pintu. Melambaikan tangan sembari berucap, “Good morning, my lady,” kendati mengetahui bahwa sekarang tidak bisa lagi disebut ‘morning’.

Gadis bermarga Pearce itu mem-pout-kan bibir pulmnya. Tangan-tanganya bergerak mencari bantal untuk didekap, “It’s not funny. Berhentilah membuatku merasa bahwa aku terkurung disini seharian.”

Seperti biasa. Yuta akan melepas jas yang dikenakanya lalu digantung bersama kemeja-kemeja putih gadis itu di belakang pintu. Kemudian ia akan melepas sepatunya dan juga kaus kaki tentunya. Lalu ia akan mendekapnya, menangkup kedua pipi merona gadis itu, “Pev, kamu mengurung dirimu sendiri untukku. Kamu itu gila.”

Yang dilakukan Pev hanya tersenyum, melingkarkan lenganya dileher Yuta lalu berdesis, “Salahkan saja ketampananmu itu, Tuan Nakamoto.”

Pev tersenyum, seiring makin dalamnya manik obsidian prianya menatap ke dalam netra Pev. Semakin mendekatkan diri satu sama lain, sampai tidak ada se-inchi-pun jarak diantara keduanya.

Sampai titik dimana terhapus sudah setiap jarak, kesenjangan dan perbedaan mereka saat Pev manautkan bibirnya pada milik Yuta. Tidak peduli lagi kalau akan susah membuat Mr. Pearce menyetujui Yuta sebagai menantunya, karena Yuta bisa dengan mudah melumat bibir Pev lembut, karena sudah sejak dulu diri Pev memang milik Yuta. Tidak Pev pedulikan, kalau kekasih dibalik tirai-nya itu adalah ras minoritas, tak masalah asalkan tiap helai rambut hitamnya bisa Pev belai. Pun ketika jemari Pev berpindah kepipi, mengelus lembut pipi Yuta yang sebening porselen. Sifat skeptis Yuta bahkan tak berlaku waktu giginya menggigit bibir bawah Pev, meminta gadis itu membuka mulut. Bertukar ludah.

Seperti kafein, ciuman itu mencandu Yuta. Membuat keduanya saling menekan, mendalami pada masing-masing. Membuat Pev terkikik geli disela-selanya.

Sekarang sudah tidak ada lagi acara memandangi leher Pev dari kejauhan. Dulu mungkin seperti itu, tapi sekarang bebas suda hidung Yuta menyimpan rangsangan baunya dalam-dalam. Sudah tidak apa-apa jika dia menggigit leher gadis itu gemas. Pev malah senang, ia malah akan tersenyum, makin mengeratkan rengkuhanya. Membuat Yuta seolah tidak takut untuk membuka resleting dress putih panjang yang selalu setia melindungi tubuh Pev yang hanya kepunyaan Yuta seorang.

There’s no line between Love and Lush, Yuta seperti sudah menuhankan prinsip yang juga sudah menulari Pev itu. Mereka berdua memang sudah sinting. Merajut sebuah kisah roman erotis dibelakang, tanpa berpikir untuk memberi tahu siapapun. Apapun yang terjadi pada mereka, selalu seperti itu tiap malamnya. Tanpa ada yang peduli akan bagaimana jadinya hubungan mereka. Merasa seakan dunia ini seperti sudah jadi hak mutlak bagi Pev dan Yuta. Tak ada sedikit pun rasa malu, pada apapun dan siapapun.

Jauh dalam lubuk hati Pev dan Yuta, mereka tau ini salah. Tapi cinta membutakan mereka. Cinta membuat  Pev dan Yuta jatuh lebih dalam, membuat keduanya terlena pada setiap malam yang mereka sendiri pun tidak tahu kapan akan berakhir. Jika boleh kubilang, mereka hanya berpikir untuk hidup hari ini. Mereka hanya ingin waktu berhenti, membiarkan mereka saling menyalurkan perasaan mereka. Tidak ada tujuan pasti. Pokoknya hari sudah berjalan baik seperti malam-malam biasanya, keduanya sudah cukup bahagia[end]

 

Advertisements

4 thoughts on “[FREELANCE] Every Night

  1. hi there!

    ini aku bacanya ke bawah bawah makin agak ambigu rated gitu *woy saday woy* hehhehe. mungkin terpengaruh sama quotes Ana. tapi, emang kadang orang yang dimabuk cinta macem Yuta dan Pev… bodo amat sama yg lain yang penting kita berdua :” dan kenapa mikirku jadi rated sih yarabb, maafkan….

    see ya~

  2. Maafkan hamba yang tertarik baca FF ini berkat quotes Ana yg aduhai -,-

    Mana aku mikir cowok yg di foto itu L… Dan sejujurnya agak waspada sama rated-nya wakakak. But nope, sampek akhir masih dengan mas Yuta dan mbak Pev yg kyak gimanaa gitu aku bayangin mereka berdua ><

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s