[Chaptered] Rainbow Connection : Greetings [RED] / [Chapter 1]


COVER RC

Songwriter          : Ran

Tittle                     : Rainbow Connection: Greetings (RED)

Genre                    : Action, Crime, Suspense, Little comedy

Artists                  : Anna West (OC), Matsumoto Jun, Inspektur Murray.

Cameo                  : Park Jin Young, Nana (After School), Eric Nam.

Rating                   : NC

Duration               : Chaptered       

 

Aldrene, 00.24 AM.

Langit Aldrene diselimuti kegelapan. Beberapa orang mulai berlalu lalang pulang ke rumahnya masing masing karena tidak menginginkan hal buruk terjadi. Tapi, siapapun tentu saja harus selalu mempersiapkan diri. Bagaimanapun, Aldrene adalah negara yang diyakini menjadi sejarah tempat hidup dan matinya ribuan orang bawah tanah, sangat mengerikan.

Tidak berbeda dengan pria satu ini, pria dengan rahang tegas lengkap dengan jaket kupluknya. Ia mulai melangkahkan kakinya begitu cepat keluar dari sebuah gedung besar. Aura menyeramkan di sekelilingnya cukup membuatnya bergidik. Sebaiknya, dia harus sampai apartemen secepat mungkin, jika masih ingin bernafas esok pagi. Aku harus hati-hati, pikirnya.

Memang terdengar sangat menyeramkan, pengecualian untuk manusia lain yang mengamati pria tadi dengan tatapan seperti seekor hewan yang sedang bernafsu memburu mangsanya. Dia berjalan menunduk dengan santai, seolah angin malam adalah teman dekatnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi kepala sampai kakinya. Malam ini, dia akan beraksi dan ini akan menjadi salam perkenalannya bagi seseorang.

 

***

“WAAAAAAA!!!”

Manusia dengan jubah hitam melangkah mendekati si pria, sambil menampilkan gigi putihnya yang tersusun rapi.

“Siapa kau?”

“ARRGGHHH!!!”

*

 

“Chris! Ayo bangun! Hari ini kita harus menyerahkan hasil diskusi kita semalam. Ah, bukankah aku punya duplikat kuncinya.”

“Chris, kau di mana? Chris…? KYAAA!!”

***

 

“Selamat pagi para pemirsa. Pagi ini, kabar mengejutkan datang dari Negara Bagian Aldrene. Ditemukan pria berkebangsaan Amerika dalam keadaan tidak bernyawa di kamarnya. Dilihat dari kondisi korban, kematian dikonfirmasi dari leher korban yang nyaris putus akibat benda tajam. Polisi setempat menyatakan bahwa ini adalah pembunuhan sadis. Saat ini, mereka masih menyelidiki motif dari pembunuhan dan memeriksa orang-orang yang mungkin terlibat.”

             

“The game has begun.”

Senyum licik si pembunuh akan mengawali sebuah pertaruhan bagi seseorang.

 

 Aria, ALdra, 14 July.

“Anna!” panggil seorang pria berwajah Asia disebuah lorong gedung.

Sang pemilik nama menoleh dan menemukan seorang teman yang dikenalnya dari ujung lorong menatapnya sumringah.

Pria itu melangkahkan kaki demi menyamakan posisinya bersama sang wanita dan melanjutkan perjalanan. Lorong agak ramai, tampaknya gedung mulai sibuk dengan lalu lalang para pegawai yang diketahui merupakan markas besar Intelejen Negara ALdra.

“Kau sudah pulang? Syukurlah kau baik-baik saja! Bagaimanapun semua kasusmu itu memang selalu bertaruh nyawa kan?” sambutan hangat itu dibalas senyum hangat dari Anna.

“Bagaimana kabarmu Jun? Seharusnya kau selalu baik-baik saja.”

“Tentu saja aku akan selalu baik! Oh ya, kau pulang jauh-jauh dari Irlandia bukan hanya untuk menemuiku kan?”

“Menurutmu?” Anna sedikit sangsi dengan pertanyaan Jun barusan.

“Tentu saja, di Aria kau hanya kenal aku.”

Wanita berambut panjang itu hanya tertawa mendengarnya.

“Bukan karena aku ya? Hmm… kau liburan? seharusnya ke Aldrene, di sana gudang sejarah dan misteri cocok sekali dengan profesimu.”

Anna terus melangkahkan kakinya, sambil terus menyapa teman-teman yang berjalan berlawanan arah dengannya. Sudah dua tahun dia berkunjung ke tempat ini, jadi itu sangat cukup membuatnya merindukan tempat kerja aslinya.

“Bicara tentang Aldrene, apa kau sudah mendengar berita 2 hari yang lalu?” Jun kembali mengajak wanita itu berbicara.

“Aku menontonnya di televisi,” jawab Anna singkat.

“Sudah kuduga, kau pasti dipanggil Inspektur tua itu.”

“Ya, kudengar kau ke lokasi untuk menyelidiki beberapa hal. Kau temukan sesuatu?”

 *

Sebuah mobil Porsche berwarna hitam melintasi jalan wilayah Aldrene tepatnya Kota Arda dengan kecepatan normal. Dalam waktu 2 jam dua pemuda itu sampai di kota ini. Pesawat memang hebat. Jun menegakkan tubuhnya di kursi penumpang lalu mengambil sebuah buku kecil di saku dadanya.

“Korban bernama Chris Shutler. Pria berkebangsaan Amerika, mahasiswa jurusan kedokteran di University of Aldrene. Korban ditemukan tewas 13 Juli di kamarnya dengan luka sobek di leher. Orang yang menemukan mayatnya adalah teman kuliah korban, Natalie.”

Dua orang itu telah sampai di halaman apartemen lokasi pembunuhan yang menggemparkan itu. “Paling ini ulah hantu!” komentar Jun asal.

Anna membuka seatbeltnya, diikuti Jun lalu keluar dari mobil. Sejak kejadian itu garis polisi mengelilingi gedung ini dan bisa dilihat sekarang masih ada beberapa mobil polisi di sini.

“Kau lihat, gedung ini kelihatan tua dan sangat angker! Mana mungkin manusia yang melakukan pembunuhan sesadis itu.”

“Hati-hati kalau bicara.” Baru saja Anna mengatakannya, Jun tergelincir karena jalan yang basah.

Pria itu jatuh di atas tumpukan sampah dan beberapa kardus yang berserakan.

“Apartemen macam apa ini?! Bahkan banyak sampah masih dibiarkan di sini.”

Baru saja Jun berhasil bangun ia ditabrak seseorang dari arah belakang. Tanpa mengatakan apapun orang itu berjalan menuju belakang apartemen. Jun memasang wajah masam, lalu bergegas pergi mengekori Anna yang sudah berjalan memasuki apartemen.

“Kau sudah sampai, baguslah. Selidikilah kamar itu.”  Inspektur Murray menyambut di lobby.

“Kau pasti akan setuju denganku setelah melihat kamar itu,” Jun berbisik kecil.

Seorang pria berjas hitam menghampiri mereka di lobby, tampaknya Anna mengenal wajah pria itu, Mr. Park Jin Young dari kepolisian wilayah Aldrene. Mereka pernah bertemu beberapa kali untuk menangani kasus yang sama meski dalam penanganan yang berbeda. Park untuk penjagaan keamanan dan Anna untuk penyelidikan.

Setelah cukup bertegur sapa, mereka berjalan menuju tempat kejadian. Meskipun apartemen itu sudah tua namun kebersihan di dalam tetap terjaga. Di sepanjang jalan mereka tidak menemukan sampah seperti yang berserakan diluar. Entah apa yang terjadi bagaimana bisa lingkungan di luar dan di dalam jauh berbeda.

Setelah sampai di lantai 4, kamar korban terlihat dijaga beberapa polisi. Inspektur Murray pun mengatakan kepada para polisi penjaga itu agar menyingkir.

“Masuklah, dan segera laporkan hasil penyelidikanmu.” Anna mengangguk.

Baru saja wanita itu ingin melangkah, ia merasa diperhatikan seseorang dari belakang.

“Ada apa?” tanya Jun mengikuti arah pandang Anna dibeberapa sudut.

Anna menggeleng lalu memasuki kamar, melangkahkan kakinya secara hati-hati. Matanya mulai menjelajahi satu persatu hal di dalam ruangan kejadian. Keadaan kamar tidak ada yang aneh, tidak berantakan seperti pada umumnya jika penghuninya adalah seorang pria. Mayat berada di rumah sakit sekarang, yang ada hanya replika yang dibuat dengan kapur putih di atas tempat tidur.

Anna memperhatikan dengan seksama kasur tempat di mana korban ditemukan. Lalu mengelilingi apartemen korban dengan wajah datar.

“Kau tahu siapa saja orang yang memasuki ruangan ini?” tanya Anna setelah beberapa saat dikelilingi keheningan.

“Yang pertama saksi yang bernama Nana, seorang polisi penjaga di sekitar sini, Mr. Park, Tim Forensik, Inspektur Murray, dan terakhir kita berdua.” Anna terdiam, sedikit aneh dengan penjelasan Jun.

“Oh, ya sebaiknya kau lihat ini, foto korban saat ditemukan. Foto ini diambil lewat kamera pocket milik Nana karena polisi yang berjaga di sini tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.”

Jun memberikan lembar foto korban yang memperlihatkan posisi korban di atas tempat tidur. Bagaimana bisa mayat dalam posisi aneh seperti itu?

“Apa kau tahu? Aku menanyakan hal ini kepada Saksi dan juga polisi itu, lalu kutemukan hal aneh! Inspektur Murray juga pasti sudah membagi informasi itu padamu.” Jun menatap Anna lurus.

“Ya ini aneh, dan menarik. Mengapa Saksi memaksa mengambil gambar korban dengan angle seperti itu.” Anna memperhatikan dua arah, foto yang dipegang Jun dan kasur berselimutkan seprai berwarna putih yang telah banyak bercak darah korban. Setelah mendapatkan sesuatu, ia melirik Jun.

“Jun, di mana Saksi itu tinggal?”

***

 

Satu jam kemudian Anna dan Jun sampai di depan rumah megah bernuansa Eropa. Setelah memberikan hasil penyelidikannya secara singkat, Inspektur Murray mempersilahkan kedua bawahannya itu untuk mengurusi saksi yang ternyata bermasalah itu.

“Selamat malam, Saya Anna West, Polisi dan dia adalah teman saya Matsumoto Jun. Boleh kami masuk?” Anna memperlihatkan lencananya. Sedangkan Jun, berdecak sebal karena Anna memperkenalkannya dengan nama itu.

Wajah Nana menegang, tangannya yang masih memegang handle pintu terlihat gemetar.

“Kenapa polisi ke rumahku? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya kemarin di depan Inspektur berambut cepak itu? ” Anna tersenyum mendengarnya.

“Inspektur Murray, Nona. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada anda secara langsung.”

“Kau tidak lihat? Sekarang sudah pukul 2 pagi!” sergah Nana berusaha membuat para polisi itu menyerah.

“Benar, sekarang sudah pukul 2 pagi. Saya sudah melihat jadwal kuliah anda, kami rasa tidak akan mengganggu tidur anda.”

Wanita itu melempar pandangannya, dia benar-benar terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. “Kecuali anda merasa tahu sesuatu yang belum anda beritahukan pada polisi.” Anna kembali menyudutkan wanita muda itu.

“Itu termasuk tindakan kriminal. Jadi, boleh kami masuk, Nona?” kata Jun menambahkan.

Anna dan Jun dipersilahkan duduk di salah satu sofa besar nan megah berwarna merah. Ternyata tidak hanya terlihat nuansa Eropa di luar tapi sampai ke seluruh ruangan dalam rumah, hal itu cukup mengganggu sedikit pikiran Jun. Kata-kata selanjutnya dari Anna membuat pria itu kembali fokus dengan tujuannya kerumah ini.

“Anda pelakunya!” Anna memandang wanita itu dengan wajah khasnya, datar.

Nana tercekat, hampir tak mampu melakukan pembelaan.  “A… apa maksud anda Nona West? Saya tidak mungkin—” melihat pergerakan Anna, Nana menghentikan kalimatnya.

Anna memberikan foto saat korban ditemukan diatas tempat tidurnya yaitu foto yang diambil oleh Nana sendiri dan sebuah foto yang diambil oleh para Tim Forensik sebelumnya.

“Lihatlah, lalu bandingkan kedua foto itu,” ucap polisi wanita itu tegas.

Nana mengambil fotonya dan memerhatikan dengan mata yang bergerak-gerak mencari suatu.

“Tidak ada yang aneh, ini sama seperti saat saya menemukan Chris saat itu! Apa maksud anda nona West, saya benar-benar tidak mengerti!” Nana masih berusaha mengelak, ia melemparkan foto itu ke atas meja.

“Anda mengubah lokasi pembunuhan! Pada kedua foto ini saya menemukan sebuah keanehan. Saat korban sudah diangkut Tim Forensik foto hanya memperlihatkan kasur korban yang penuh darah. Anda tidak lihat? Sesuatu yang seharusnya ada dikedua foto yang diambil oleh anda dan polisi penyidik justru menghilang entah kemana. Tentu saya sudah memastikannya disekeliling kamar itu.”

Jun mengambil kedua foto tersebut dan memerhatikannya dengan seksama. “Tapi Ann, menurutku tidak ada yang berbeda dari kedua foto ini.”

Mendengar pembelaan Jun, Nana semakin yakin dirinya tidak bersalah.

“Jangan mempermainkan saya nona West, saya tidak menemukan kertas itu!”

Nana terkejut dengan apa yang dikatakannya sendiri, sedangkan Anna tersenyum sangat puas. Siasatnya menyudutkan wanita itu sukses besar.

“Kertas?” kata Jun dengan wajah bingung.

“Wah, nona Nana dari mana anda tahu saya membicarakan soal kertas? Benar, kertas yang menempel dikasur tepat disamping kaki korban. Tidak ditemukan dimanapun.” Anna menekankan kalimat terakhirnya.

Nana sudah hampir menangis. Wajah putihnya berubah menjadi merah, ia emosi juga takut. “Kertas itu berwarna putih sama seperti seprai kasur milik korban. Akan sangat sulit menemukannya jika anda tidak teliti seperti Jun. Lain halnya dengan orang yang kelepasan bicara karena orang itu menyembunyikan sesuatu yang bisa menyudutkannya sebagai pelaku.”

Wanita itu tampaknya sudah kehilangan kata-kata pembelaan dan memilih diam.

Anna menegakkan tubuhnya, “Jadi bisa anda berikan saya kertas yang jadi masalah itu, Saksi Nana?” tambah Anna lagi.

Nana menatap takut pada Anna, bibirnya gemetar. Merasa sudah di ujung jurang akhirnya wanita itu menyerah lalu mengambil sesuatu yang disembunyikannya di bawah vas bunga di atas meja. Kertas yang bermasalah itu disembunyikannya di sana lalu memberikannya pada Anna.

“Tapi, saya benar-benar bukan pelakunya sungguh! Saya hanya menemukan benda sial ini dan mengikuti perintah yang ada di sana.” Nana akhirnya menangis.

“Saya tahu itu.”

Jun berdecak, “Kau menjebaknya untuk mengaku kan Ann? Kau itu hobby menggertak orang ya.” Jun memasang wajah sebal.

Anna mengambil kertas putih yang dilapisi plastik itu, terdapat beberapa tulisan disana. Anna mulai membacanya. “Untuk orang yang menemukan manusia yang sudah mati ini. Dengarkan perintahku, kalau tidak kau akan berakhir seperti pria di hadapanmu sekarang. Dengarkanlah nyanyian selamat pagiku di kotak suara telepon milik pria ini.”

Anna melirik Nana, meminta penjelasan lebih dari kertas yang dipegangnya.

“Setelah membaca itu tiba-tiba saja, ada suara dari kotak suara telepon.” Nana berusaha menjelaskannya setelah dapat mengontrol tangisannya.

“Dia bilang, kau lihat temanmu itu? Aku tidak suka gayanya menyambut orang lain dengan pose begitu. Ubahlah, buat dia seperti model yang kelihatan frustasi karena mati dengan cara begini. Buatlah tangan kirinya memegang kepala, tangan kanannya masuk ke dalam saku jeans lalu kaki kanannya lurus di atas tempat tidur dan kaki kirinya menekuk menyentuh lantai. Dengan begitu dia akan mendapat bayaran yang cukup tinggi,” ceritanya dengan wajah ngeri.

Anna mendengarkan dengan seksama, ia teringat sesuatu. “Apa suara itu milik seorang, wanita?” tanyanya dibalas tatapan bingung oleh Jun.

Nana mangangguk berkali kali. Seolah memberikan pernyataan jelas.

“Lalu, kau benar-benar melakukan yang diperintahkan orang itu? Sulit dipercaya bahwa pelakunya wanita,” Jun menatap saksi itu dengan seksama.

“Memang, tapi bukan wanita biasa. Maaf nona Nana, boleh saya minta segelas air?”

Ia segera menuju dapur lalu kembali bersama segelas air dan meletakkannya di atas meja. “Jun, mari kita lihat ada misteri apa dibalik kertas ini,” kata Anna sambil bersiap menuangkan air itu di atas kertas yang dilapisi tadi.

“Hey, kau yakin dia…” Anna merobek bungkus plastik kertas bermasalah itu.

Anna tersenyum licik, “Tentu saja. Kalau dia membungkusnya dengan plastik selalu dengan maksud begini.” Anna menyiram air di gelas tadi perlahan-lahan.

“Dia bermaksud agar kita menyiramnya seperti ini, agar kita bisa menemukan salam perkenalannya,” sambungnya.

Benar yang dikatakan Anna, kertas putih itu menampakan tulisan lain disisi kosong satunya. Kertas yang bertuliskan salam perkenalan si pelaku pembunuhan ini dengan tinta merah. Jun dan Anna memperhatikan dengan seksama kertas basah itu, lalu mulai membacanya dalam hati.

“Hallo, apa kabar? Kau pasti bukan manusia biasa. Lihat, kau bahkan menemukan salam perkenalanku di kertas ini. Haruskah aku berdiri untuk menghormatimu?

Terima kasih sudah datang di pertunjukan pertamaku ini. Kau tidak berpikir ini akan berakhir dengan cepat kan?

Sebaiknya jangan, karena kupikir kita sama dan bisa berteman. Karena ini adalah pertunjukan yang pertama maka, di panggung selanjutnya kuundang kau untuk melihatnya secara pribadi, 4 hari lagi.

Kupikir itu tidak akan sulit untuk kau yang mirip denganku.

Note: Remember! The shadow is behind you! (Ingat! Bayanganmu berada dibelakangmu!).”

Jun menatap Anna. “Sial, ini pembunuhan berantai dan pembunuhan kedua akan segera dimulai!”

 ***

Mereka sudah kembali ke Markas Kepolisian Aldrene. Disana sudah menunggu Inspektur Murray dan Mr. Park yang tidak dapat menahan keterkejutannya sehingga sedikit mengganggu acara makan pagi mereka. Waktu memang terasa cepat berlalu, sekarang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Cukup menguras waktu untuk membuat Saksi Nana mengaku.

Anna menceritakan secara detail semua analisisnya dan memperlihatkan kertas misterius dari sang pelaku pada dua orang Inspektur berbadan besar itu.

“Jadi pembunuhan kedua masih 4 hari lagi kan? Apa kita masih bisa mencegahnya, Ann?” kata Mr. Park.

“Semoga saja begitu,” Anna membalasnya dengan nada tidak yakin.

Murray mengernyitkan dahinya.

“Apa maksudmu? Bukankah empat hari waktu yang cukup untuk menemukan rahasia dari kertas ini?”

“Ya, kalau saja kita tahu ada kertas ini dihari kematian korban, tentu saja 4 hari itu masih berlaku.” kali ini Jun ikut menjelaskan.

“Jadi, maksud kalian empat hari yang dikatakan pelaku itu, dimulai dari hari dimana korban dibunuh, tanggal 13 juli begitu? ” tanya Murray lagi.

Anna mengangguk,

“Empat hari setelah tanggal 13 juli, tanggal 17 juli dan itu adalah besok.” Ucap Mr. Park dingin.

“Benar, kita hanya punya waktu satu hari untuk memecahkan di mana tempat yang akan menjadi lokasi pembunuhan kedua dan sebisa mungkin melakukan pencegahan. Mr. Park dan Inspektur Murray, kita akan dapat hasil yang banyak kalau kita mencari arti kertas ini bersama,” sambung Anna.

“Baiklah, kami akan mulai bergerak” kata Mr. Park bersemangat.

“Ini kopian kertas itu. Hati-hati, mungkin saja pelaku berada di sekitar kalian.” Anna kembali mengingatkan.

Mr. Park langsung pergi mengkoordinir anak buahnya sedangkan Inspektur Murray masih menatap kedua anak buahnya dengan santai. “Kalian berhati-hatilah, firasatku tidak begitu baik.”

Setelah mengatakan peringatan itu, Murray pergi melakukan tugasnya sebagai seorang pemimpin Tim Penyelidik. Kini hanya tinggal mereka berdua, Jun lalu duduk di kursi yang diduduki Mr. Park tadi diikuti Anna. “Sudahlah Ann, sebaiknya kita makan dulu supaya kinerja kita lebih baik.”

“Holmes bilang, otak bekerja lebih baik saat perut kosong.” Jun berdecak kesal.

Anna masih terlihat berpikir. “Hey, kau itu sama sepertiku, manusia! Jadi berhentilah bersikap seperti dewa yang tidak butuh makan. Lagipula tidak sarapan pagi bisa mengurangi kinerja otak! Apa kau lupa aku seorang Dokter? Hey, Ann kau dengar aku tidak?” ocehan Jun dibalas tatapan mengerikan wanita di sampingnya.

“Kau ini berisik sekali!” balas Anna sebal.

“Setidaknya dengan makan bisa membuatmu lebih bertenaga dan menambah semangat. Berpikirlah yang positif!” Jun beranjak memesan makan.

Anna mengeluarkan kertas misterius itu dan mengamatinya sekali lagi “Kupikir kita sama dan bisa berteman. Apa maksudnya?”

Jun kembali dengan pesanan mereka. “Ini, makanlah.”

“Oh ya! Kuperingatkan sekali lagi, Jangan pernah menyebut nama itu lagi.”

Anna melirikkan matanya ke arah Jun yang menatapnya sarkatis. “Matsumoto Jun? Kenapa? Aku rasa, aku benar saat mengucapkannya.”

Jun kehilangan nafsu makannya, sedang Anna tertawa kecil.

“Dengar, semua lisensi dan penghargaanku memang tertulis nama menyebalkan itu. Tapi nama asliku adalah Jun Ramadhan. Semua orang di Rumah Sakit setuju untuk memanggilku dengan nama asliku, mengapa kau yang adalah sahabatku justru berkhianat?”

“Aku tidak berkhianat, kita sedang dalam tugas Jun. Sebaiknya tetap gunakan “Nama Dunia” kita masing-masing.”

Jun menghela napasnya panjang, akhirnya menyerah dengan penjelasan Anna yang memang tidak bisa ia lawan.

“Lalu, ada apa lagi dengan kertas itu?”

“Jun apa kau mengerti dengan kalimat ini, kupikir kita sama dan bisa berteman?

“Mungkin dia pikir, kau hebat karena bisa menemukan tulisan itu dan dia bisa berteman denganmu untuk melakukan pembunuhan yang selanjutnya. Buktinya dia mengundangmu di pembunuhan kedua.” Jun memakan roti selai coklat kesukaannya.

Keheningan terjadi. Jun sibuk dengan makan paginya sedang Anna berkutat dengan pikirannya.

“Kalau kau saja sama sepertiku manusia, bukankah berarti dia juga manusia? Huh, padahal analisisku mengatakan ini pekerjaan hantu,” komentar Jun asal.

“Oh ya, kau hutang penjelasan tentang dari mana kau tahu kalau pelakunya seorang wanita.”

“Kau yakin ingin tahu? Ini bisa membuatmu mimpi buruk, Jun.” Anna berusaha menakuti Jun dengan kalimatnya. Namun nampaknya tidak berhasil.

“Coba ceritakan.” Anna tersenyum mendengarnya.

“Semalam, saat melaporkan hasil penyelidikan pada Inspektur Murray, aku diberitahu bahwa pada malam itu, korban baru saja kembali dari acara diskusi kelompok kedokterannya. Saat itu korban berpapasan dengan salah satu tetangganya bernama Eric Nam.”

“Dan kau pun langsung meluncur.” Jun tersenyum sarkatis.

*

Di pekarangan apartemen, pada malam kematian korban, dua orang berjalan melangkah menuju arah yang sama. Namun seorang lebih dulu berada di depan dan seorang di belakang berusaha menyamakan langkahnya.

“Hey Chris! Baru pulang juga?” tanya Eric.

“…….” yang diajak bicara tidak menanggapi.

“Kau terlihat lelah sekali, kudengar kau sedang menyiapkan diskusi kelompokmu? Semoga sukses ya!” Eric memberi semangat.

“…….”

Chris dan Eric memasuki lift. Eric memperhatikan sesuatu yang dibawa Chris, sebuah kardus yang cukup besar dan terlihat berat.

“Hey, mau aku bantu bawa benda itu? Sepertinya berat sekali.” Ia berusaha menjangkau dengan kedua tangannya.

Saat Eric hampir saja menyentuh kardus tersebut, “Menyingkir!!” Orang itu mendorong Eric menggunakan tangan kirinya.

TING! Pintu lift terbuka, orang yang membawa kardus itu sudah sampai di lantai yang diinginkannya. Eric sungguh heran, ada yang aneh tapi dia memilih tidak menanyakannya.

Malam itu, Eric bersedia menceritakan pengalamannya pada Anna.

“Lalu apa kau yakin orang itu benar-benar Chris?” tanya Anna, setelah mendengar cerita Eric yang penuh keanehan.

“Tadinya kupikir begitu, Chris suka sekali memakai jaket dengan kupluk yang bisa menutupi wajahnya. Tapi Chris yang kutahu, ramah dan bersahabat. Malam itu, dia benar-benar aneh. Dia bahkan tidak membalas salamku.”

Eric menatap dalam mata biru Anna. Dia terlihat tidak yakin seperti ada yang mengganggu pikirannya. “Kau tidak terlihat yakin.” Anna memperhatikan bahasa tubuh Eric.

“Bukan. Hanya saja, saat aku tahu berita Chris yang ditemukan dalam keadaan meninggal, aku sungguh terkejut. Chris orang baik. Makanya kupikir tidak mungkin ada orang yang dendam padanya.”

Anna terdiam sebentar, “Baiklah, terima kasih atas informasinya. Kalau kau mengingat sesuatu hal yang penting sekalipun hal kecil, mungkin itu bisa jadi motif pembunuhan.” Anna berdiri bersiap pergi.

“Emm, nona West,” Anna menatap pria itu sekali lagi.

“Aku tidak tahu ini hal penting atau bukan. Ada dua hal yang menurutku aneh dengan Chris malam itu, selain yang sudah kuceritakan tadi tentunya,” sambung Eric.

Eric mengambil jaket yang dikenakannya malam itu.

“Entah ada hubungannya atau tidak, tapi seingatku aku tidak menabrak apapun. Lihatlah.”

Anna melihat jaket milik Eric yang dikenakannya malam itu. “Huruf E dengan tinta merah?”

“Kupikir, ini menempel saat orang itu menyuruhku untuk menyingkir. Saat aku orang itu keluar dari lift. Aku merasa sakit di bagian pangkal tanganku, aku baru sadar waktu itu dia meremas tanganku dengan sangat kuat,” tambah Eric mengingat-ingat.

“Lalu apa yang satunya lagi? Kau menemukan huruf lain?” tanya Anna lagi.

“Bukan. Tapi, entah kenapa sesaat berada di dalam lift bersamanya, ada aura yang sangat mencekam. Aku juga sempat berpikir dia bukan Chris, atau bahkan laki-laki.” Erick mejelaskan sesuatu yang menarik, membuat wanita itu semakin penasaran.

“Bagaimana kau bisa berpikir bahwa dia bukan laki-laki?”

“Saat dia meremas tanganku, aku melihat kuku jarinya cukup panjang bila dibandingkan dengan pria. Bahkan kukunya punya warna yang unik, entah kapan, aku seperti pernah melihatnya tujuh warna yang berbeda. Meskipun ada beberapa warna yang agak kusam dan hampir tak terlihat.”

“Lalu apa kau melihat sesuatu yang mempertegas bahwa dia bukanlah Chris bahkan seorang pria?” tanya Anna memastikan.

Eric mengangguk yakin. “Walaupun seluruh tubuhnya tertutup kain tapi aku yakin dia… cara berjalannya seperti wanita!”

 *

Jun melipat kedua tangannya di depan dada. “Jadi pelakunya benar-benar wanita ya? Ini tidak seru. Berarti dia kurang pintar menyembunyikan dirinya.” Jun tertawa meremehkan.

Anna menggeleng tidak setuju, “Tidak Jun, dia merencanakan pembunuhan berantai dan  kasus ini merupakan salam perkenalannya, jadi kukira dia memang sengaja melakukan itu.”

“Benar juga. Oh ya, tadi kau bilang wanita itu membawa kardus yang cukup besar dan berat kan? Ann mungkin benar katamu, korban tidak dibunuh di apartemennya, tapi di tempat lain. Buktinya alat untuk membunuh korban tidak ditemukan dimanapun. Setelah membunuh korban, dia membuang alat itu, memasukkan korban ke dalam kardus, membawanya pulang ke apartemen korban lalu membuang kardus itu agar tidak diketahui polisi!”

Anna sedikit kagum mendengar analisa Jun yang hampir menyamai pikirannya.

“Lalu kau bilang pada jaket orang yang bernama Eric itu ada huruf E kan? Mungkinkah, di tempat lain ada huruf sambungannya?”

“Itu mungkin saja. Yang pasti, kita harus bergerak cepat.” Anna mengambil foto kematian korban saat ditemukan Nana.

“Foto ini pasti menunjukkan sesuatu.”

Melihat Anna sibuk memperhatikan foto kematian korban, Jun terusik oleh sesuatu yang menurutnya janggal.

“Ann, kau ingat yang dikatakan Saksi itu? Pelaku memintanya mengubah posisi kematian korban dengan berbagai pose yang aneh, kupikir dia mempunyai maksud tertentu.”

“Aku juga berpikir begitu. Coba kau praktekan, mungkin kita bisa dapat sesuatu.”

“Dia bilang, Aku tidak suka gayanya menyambut orang lain dengan pose begitu. Ubahlah, buat dia seperti model yang kelihatan frustasi karena mati dengan cara begini.” Jun bangkit dari kursinya lalu mempraktekannya langsung.

Anna memperhatikan Jun dengan seksama.

“Tangan kiri memegang kepala, tangan kanan masuk kedalam saku jeans lalu kaki kanannya lurus diatas tempat tidur dan kaki kirinya menekuk menyentuh lantai, seperti ini kan?  mungkin maksud dari kalimat ‘dengan begitu dia akan mendapat bayaran yang cukup tinggi’ adalah orang yang melakukan hal ini harus orang yang mempunyai tubuh tinggi jadi kita harus berdiri. Beruntunglah tubuhku tinggi, seperti ini kan Ann?” Jun berpose sesuai keinginan si pelaku.

Beruntung kantin sepi, dia bisa disangka orang gila jika tidak segera kembali keposisinya.

“Jun! Itu huruf ‘R’!! Diamlah, biar kuambil dulu gambarmu.” Anna mengambil smartphonenya dan memotret Jun.

Anna memperlihatkan hasil gambar Jun dan foto kematian korban. “Benar! tubuhku dan korban membentuk huruf R!” kata Jun kagum melihat fotonya sendiri.

“Huruf E dan R, sepertinya belum membentuk kata apapun. Hey, berarti masih ada huruf lain kan?” tambah Jun lagi.

“Jun, sebaiknya kita bergegas sebelum semuanya benar-benar terlambat.” Jun mengangguk paham.

Jun bangkit untuk membayar tagihan dan membelakangi Ann, karena kasirnya berada di ujung belakang meja mereka.

“Huruf lain… tapi dimana?” Anna mengacak rambutnya frustasi.

“Jun cepatlah!!” Anna menoleh k earah Jun yang sedang berjalan ke kasir. Jaket yang dipakai Jun, kenapa ada bercak-bercak merah?

Anna mengingat-ingat, mereka belum ganti baju semenjak kedatangan mereka ke Arda kemarin.

‘Pikirlah, pikirlah, Merah… darah korban tentu berwarna merah, tidak bukan itu!’

‘Tulisan salam perkenalan si pelaku menggunakan tinta merah, itu dia!’

‘Huruf E yang terukir di lengan jaket Eric berwarana merah, ya!’

‘Lalu kenapa dibagian belakang jaket yang dipakai Jun juga ada bercak-bercak warna merah?’

‘Apa Jun menyentuh sesuatu? Atau pelaku yang sengaja melakukan sesuatu pada jaket Jun dan Jun tidak menyadarinya?’

‘Tidak… tidak… itu terlalu berbahaya! Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah merencanakannya secara sistematik dan sebaik mungkin!’

‘Benar. Kalau dia sama sepertiku, dia pasti menempelkan sesuatu benda berwarna merah atau apapun itu dan pada saat itu Jun juga tidak sadar.’

‘Tapi kenapa harus warna merah?! Dan kenapa sejak kemarin kami selalu diperlihatkan sesuatu hal yang berwarna merah?!’

 …

“Ann! Anna!!” panggil Jun.

Ann tersentak seolah baru saja terbangun dari pikirannya. Rupanya Jun sudah selesai membayar makanannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jun khawatir melihat wajah wanita itu yang tegang.

Alih-alih menjawab, Anna malah bertanya, “Jun kenapa di belakang jaketmu ada bercak merah?” Jun mengernyitkan dahinya.

Jun segera melepaskan jaket yang dipakainya dan melihat bagian belakang jaketnya.

“Oh ini, bukankah aku tergelincir dan jatuh diatas tumpukan sampah dan beberapa kardus? Ann, jangan- jangan…” Jun menatap Anna horor.

 

Anna dan Jun segera meluncur ke apartemen korban dengan mobil porsche hitamnya dengan kecepatan tidak normal. Tepatnya melihat kardus bermasalah itu, seharusnya siapapun bisa mengambil inti kasus ini dan berpikir sama.

Akhirnya, mereka telah sampai dalam waktu singkat tentu saja dengan kemampuan menyetir Anna yang terlatih sejak dulu.

Di sana sudah menunggu Inspektur Murray dan Mr. Park di depan tumpukkan sampah yang sudah di kelilingi garis polisi. “Ann, seperti pesan yang kau kirim tadi, di kardus itu ada bercak merah dan sebuah huruf,” kata Murray menggantung.

“Lalu huruf apa yang tertulis disana?” Jun angkat bicara.

“Apa huruf itu, huruf keempat alfabet?  Dengan kata lain huruf D?” tanya Anna dengan yakin.

Inspektur Murray mengkonfirmasi.

“Nona West, apa maksudnya semua ini?” uacp Mr. Park bergemuruh.

“Huruf yang sudah terkumpul adalah E, R, dan D.” Jun mengingat-ingat.

“Benar, kalau dihubungkan dengan benar akan membentuk kata RED! Warna merah!” Anna menekankan kata-kata terakhirnya.

“Dari semua hal yang terjadi dalam pembunuhan ini pelaku bermaksud mengawali salam perkenalannya dengan warna merah. Apa kalian ingat? tulisan salam perkenalan si pelaku menggunakan tinta merah, huruf E yang terukir di lengan jaket Eric berwarna merah, dan kardus ini juga menunjukkan huruf D dengan tinta merah! Artinya pelaku ingin menekankan bahwa kasus ini mengangkat tema merah!” sambung Anna panjang lebar.

“Berarti kasus pembunuhan ini berhubungan dengan warna?” tanya Mr. Park.

“Ya, dan ingatlah kasus ini baru permulaan dari pembunuhan berantai yang kita perkirakan…,”

Anna tersenyum ketir. “Masih ada warna lain sebagai simbol dari pembunuhan yang direncanakan si pelaku selanjutnya.”

“Ini benar-benar gila! orang itu benar-benar gila!!” Mr. Park tidak mampu menahan kekesalannya, ia menendang beberapa kerikil di tanah dengan kasar.

Anna menambahkan, “Sebaiknya, kita segera memecahkan pesan yang ditinggalkan pelaku.”

Ia segera mengeluarkan kertas itu, membentangkannya di depan kedua Inspektur yang masih terperangah. “Kertas yang penuh dengan kalimat aneh ini!”.

 

<to be continued…>

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s