[Ficlet] You Are My Home


img_20161011_0233231

You Are My Home

a fiction by narinputri

Winner’s Jinwoo x OC // fluff, AU!life, a bit romance // general // ficlet

cr pic by namtaehyundotcom

 

 

“There’s no place like home” – Wizard Of Oz

 

Mungkin dua belas tahun telah berlalu, setelah kepergianku dari tempat ini dan kembali lagi.

Bisa dibilang, aku terkena homesick syndrom. Meski telah memiliki rumah baru di tempat lain, tetapi entah mengapa rindu masih terasa ketika berada di sini. Tempat di mana sosok ini lahir, bermain, juga belajar tentang arti hidup.

Teringat kala kubermain bersama para sahabat waktu hujan sore hari, di jalan setapak yang tengah kususuri kini. Tak banyak berubah dari tempat ini. Rerimbunan pohon nan asri, udara segar mengisi rongga pernapasan, gemericik tenang air sungai serta persawahan yang mulai menguning berlatar perbukitan hijau. Awan putih membentuk serat-serat tipis pada birunya langit siang cerah itu.

Satu pertanyaanku, ketika tiba di depan sebuah rumah sederhana dengan pekarangan tak terlalu luas, berhiaskan tanaman bunga matahari di pinggirnya.

“Apa kabar, temanku?”

Hingga sosok nyata itu muncul di hadapanku. Gadis pemilik mata teduh dan senyum hangat yang menghantui mimpiku selama dua belas tahun.

“Selamat datang kembali, Jinwoo,” berjalanlah ia mendekatiku lantas memelukku penuh rasa nyaman yang kukenal.

“Aku pulang, Yeorin,” kusambut pelukkan itu sembari menghirup aroma tubuh gadis itu. Wangi bunga matahari di musim panas.

“Kukira kau lupa jalan kembali kemari,” tawanya tak berubah. Masih renyah pun menggelitik di telinga. Tak ayal suaranya membuat jantung ini berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

“Mana mungkin aku lupa jalan pulang ke ‘rumah’, Yeorin.”

Yeorin tersenyum mendengar ucapanku. Digenggamnya tangan ini lembut lalu mengajakku berjalan-jalan mengelilingi pedesaan. Sebagian penduduk masih mengenalku dan menyapa, yang lain cukup asing bagiku. Mungkin penduduk baru atau anak-anak yang beranjak remaja sekarang.

Semilir angin menyentuh wajah kami. Yeorin terlihat menarik kala angin menghempas pelan anak rambut cokelatnya kebelakang, diikuti aroma segar rerumputan yang tengah kami pijaki. Kurasakan sedikit nyeri saat detak jantung ini semakin cepat.

“Pasti kau masih ingat, Jinwoo. Waktu kita bermain bersama di tempat ini, kau memberi mahkota bunga dan berucap janji pernikahan,” Yeorin terkekeh lantas membuatku tersipu. Masih ingat saja dia soal itu.

“Astaga, Yeorin. Bahkan aku lupa jika pernah mengatakan hal itu.”

Mimik Yeorin berubah sedikit masam, kemudian tersenyum sembari mengacak halus rambutku.

“Itu ucapan bocah belaka, Kim Jinwoo. Tak usah dipikirkan.”

Embusan angin masih menemani, sesekali menerbangkan kelopak bunga cherry blossom yang bermekaran. Langit siang itu amat cerah namun tak terlalu menyengat. Aku merindukan suasana ini, bersama dengan figur manisnya di sampingku.

“Apa yang membuatmu kembali setelah dua belas tahun berlalu?” Yeorin menatapku penuh tanya.

“Entahlah, mungkin takdir? Ikatan bathin?” jawabku sekenanya.

Lagi-lagi ia tertawa dengan jawabanku, namun aku tak bosan mendengarnya. Suara dan tawa milik Yeorin selayak melodi di musim semi.

“Kau merindukan sebuah ‘rumah’, kan? Tempat di mana kau merasa nyaman, bahagia juga belajar banyak hal tanpa merasa dihakimi atau disudutkan. Kau merindukan tempat itu.”

Hanya terdiam yang kulakukan mendengar ucapan Yeorin. Mungkin ia benar.

“Tiada tempat yang nyaman selain rumah, Jinwoo. Kemanapun melangkah, sejauh apapun pergi. Kau pasti akan kembali ke tempat yang bernama ‘rumah’, Kim Jinwoo.”

Ucapannya menyadarkanku tentang apa yang selama ini aku cari, ketika mulai merasa lelah dengan hal-hal memuakan, dan sosok yang mampu menenangkanku juga mendampingiku. Kugenggam erat tangannya lantas berbisik di antara embusan angin hangat yang menerpa serta menyelipkan anak rambut Yeorin di telinganya.

“Maukah kau?”

Pipinya mendadak memerah seperti buah ceri yang manis. Aku tersenyum geli melihat ekspresinya.

“Mungkin, kita harus mempersiapkan semuanya. Seperti gedung, makanan dan—“

“Ayolah, aku lebih suka mengucapkan janji suci di tempat terbuka. Karena seluruh alam yang menjadi saksi janji kita,” kataku memutus ucapan Yeorin.

“Hei! Sejak kapan kau menjadi gombal seperti itu, Jinwoo? Apakah akibat pergaulan di kota?” ejeknya memukul pundakku.

“Aku hanya menyampaikan pendapat, Lee Yeorin. Kau tahu? Aku memang merindukan tempat yang membuatku nyaman serta tenang. Tempat di mana akan menjadi sandaranku seterusnya, hingga akhir hayat. Dan semua itu ada, ketika mata ini memandang teduh matamu pula senyum manis, juga peluk hangat yang kau beri ketika kukembali. Dirimu adalah ‘rumah’ yang kucari selama ini.”

Debaran jantungku makin menjadi diikutin luapan perasaan, tatkala Yeorin mengecup lembut pipiku. Hangat terasa di pipi dan aliran darahku akibat ulah Yeorin.

“Apakah yang kau ucap tadi janji suci?” canda Yeorin.

“Itu tadi ungkapan perasaanku padamu. Jika kau menginginkannya, akan kuucapkan sekarang.”

Kutarik napasku pelan namun dalam. Kicauan para burung gereja seolah menjadi lagu di mana aku mengikat janji abadi padanya.

“Maukah, kau menjadi tempatku bersandar hingga akhir hayat?”

 

-end-

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] You Are My Home

  1. Ini aku sempet ngira cewenya wis mati mba /digiles/ aw aw mau dong dilamar mas jinwoo juga kyaaa tolong biarkan daku menggantikan sosok cewe di sana kyaaa /digiles pt.2/

    Yokshiii always keyen ya ficnya kak💜

    1. Wkwkwk aku juga mau dilamar mas Jinwoo /dislepet/
      Hehe masih butuh diasah lagi mbaay~
      Makasih ya♡

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s