(Oneshoot) Ton Amour Once Again


img-20170202-wa0000

Poster by Amy Park

.

Chunniest Present

.

Ton Amour Once Again

.

Starring by Kim Myungsoo X Park Jiyeon

.

Sad-Romance

.

Beberapa orang selalu berpikir jika sudah menikah maka hidupnya akan menjadi lebih bahagia. Sayang sekali kondisi seperti tidak terjadi pada semua pernikahan. Ada masalah kecil hingga masalah besar yang membuat kehidupan pernikahan seseorang diwarnai kegelapan. Dan hal itulah yang dialami gadis bernama lengkap Park Jiyeon.

PLAKK….

Pipi Jiyeon berdenyut merasakan tamparan itu. Namun rasa sakit di pipinya tidaklah sebesar rasa sakit di hatinya. Ini bukan pertama kalinya Jiyeon menerima tamparan dan pukulan dari suaminya itu. Dengan mata yang berair, gadis itu menatap Seungri sang suami yang sedari tadi meminta uang darinya.

“Berikan uang itu Jiyeon-ah.” Teriak Seungri dengan langkah terhuyung.

“Aku tidak akan memberikannya Oppa. Kau pasti akan menggunakannya untuk membeli soju. Lagipula uang itu untuk keperluan Jihoon.” Jelas Jiyeon

Namun penjelasan itu malah membuat Seungri semakin marah. Dia berjalan gontai ke dapur. Sebilah pisau sudah ada di tangannya dan hal itu membuat Jiyeon semakin takut. Gadis itu melangkah mundur seiring Seungri mendekati gadis itu.

“Serahkan uang itu padaku Jiyeon-ah. Jangan membuat aku menyakitimu Jiyeon-ah.” Seungri mendongkan pisau itu pada Jiyeon.

“Oppa sadarlah. Uang itu akan digunakan untuk membeli susu dan keperluan Jihoon. Jika kau… Aahhh…” Jiyeon meringis saat merasakan perihnya sayatan di punggung tangannya.

Darah segar berwarna merah menetes ke lantai. Jiyeon melihat tetesan darah itu dengan tatapan nanar. Meskipun Seungri sering memukulnya saat mabuk tapi dia tak pernah melukai Jiyeon hingga berdarah. Tapi kali ini lelaki yang sudah bersamanya selama 3 tahun itu tega menggoreskan pisau itu di tangannya.

“Cepat berikan Jiyeon-ah. Atau aku akan mencari Jihoon.” Ancam Seungri.

Inilah yang ditakutkan Jiyeon jika putra kecilnya yang berumur 6 bulan itu tinggal dengan ayahnya yang sewaktu-waktu bisa membunuhnya. Karena itulah, gadis itu menyembunyikan Jihoon bersama ibunya di tempat yang tak akan bisa Seungri temukan.

Akhirnya dengan tangannya yang tak terluka, Jiyeon mengambil kaleng kecil di dalam rak piring. Gadis itu membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkannya pada Seungri

“Seharusnya kau memberinya lebih cepat sehingga aku tidak perlu menyiksamu.”

Jiyeon tak bergeming saat Seungri berjalan melewatinya dan bersiul tampak senang. Hati Jiyeon sangat lelah menghadapi tekanan-tekanan yang diakibatkan oleh suaminya. Hal ini terjadi semenjak lelaki itu dipecat dari pekerjaannya di salah satu perusahaan swasta satu tahun yang lalu. Semenjak itu Seungri sering minum-minum hingga mabuk lalu melampiaskan emosinya pada Jiyeon.

Sang ibu yang mengetahui putrinya menderita selalu meminta Jiyeon untuk meninggalkan Seungri. Namun tidak semudah itu bagi Jiyeon untuk meninggalkan lelaki yang selama ini selalu menemaninya. Bahkan setelah penyiksaan yang dilakukan Seungri, paginya setelah lelaki itu sadar dia memohon-mohon agar Jiyeon memaafkan perbuatannya itu.

Tatapan Jiyeon yang kosong tertuju pada punggung tangan yang sudah berlumuran darah. Gadis itu selalu bertanya apa yang salah dengan dirinya? Selama Jiyeon hidup, gadis itu selalu bersikap baik pada orang lain dan sering membantu. Tapi gadis itu hanya bisa merasakan kesedihan yang setiap hari melingkupinya. Hanya satu kebahagiaan dalam hidup Jiyeon, yaitu putra kecilnya Lee Jihoon. Mengingat nama itu, Jiyeon memutuskan untuk pergi menemui putra kesayangannya.

*     *     *     *

Rambut hitam legam, mata terpejam, bibir mungil yang menggemaskan merupakan perpaduan dari wajah Jihoon yang sedang terlelap. Bibir Jiyeon langsung menyunggingkan senyuman melupakan kesedihan yang dirasakannya beberapa saat yang lalu. Harum khas bayi menusuk hidung Jiyeon dan gadis itu sangat menyukainya.

Tangan Jiyeon yang sudah diperban oleh sang ibu terulur mengelus rambut-rambut pendek nan halus milik putranya. Air mata kembali terancam keluar jika harus membayangkan bagaimana masa depan putranya jika mengetahui sifat ayahnya yang selalu menyakiti ibunya. Gadis itu mencondongkan tubuhnya dan memberikan kecupan di pipi tembam Jihoon.

“Eomma pasti akan selalu menjaga dan menyayangi Jihoon.” Ucap Jiyeon seraya menatap putranya dengan perasaan sayang.

“Eomma melarangmu untuk kembali pada namja terkutuk itu.” Ucap Yeonhee, ibu Jiyeon saat melihat putrinya sudah duduk di lantai seraya menikmati teh di meja.

“Tapi Seungri Oppa adalah suamiku eomma. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.” Jiyeon merasa berat harus meninggalkan suaminya. Dia takut Seungri akan semakin deperesi jika tahu Jiyeon meninggalkannya.

“Untuk apa kau mempertahankan suami brengsek seperti dia? Sekarang dia mulai menyerangmu dengan pisau lalu besok apa lagi? Apa aku harus melihatmu mati karena dibunuh olehnya?” Nada suara nyonya Park terdengar bergetar karena menahan tangis.

Jiyeon berdiri dan menghampiri ibunya. Gadis itu memeluk sang ibu yang mulai menangis. Tanpa diinginkan Jiyeon juga ikut menangis. Dia memutuskan lebih baik sementara dia tinggal di sini dulu. Untuk kelanjutannya dia akan memikirkannya besok-besok.

*     *     *     *

Sinar matahari pagi merambat memasuki kamar yang sangat berantakan. Botol-botol soju berserakan di lantai beserta snack-snack yang berceceran. Selimut tebal ikut melengkapi kekacauan itu. Di atas ranjang tampak Seungri yang hanya mengenakan celana pendek terlelap.

Hangatnya sinar matahari menyengat wajah tampan lelaki itu. Matanya bergerak dan mulai terbuka. Namun segera dia memicingkan matanya saat merasakan sinar matahari menusuk matanya. Dia mengucek matanya lalu terbangun.

Kepalanya langsung terasa pusing akibat soju yang banyak sekali diminumnya. Tangannya menyentuh sisi kepalanya yang terasa sakit. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya kemarin.

Serahkan uang itu padaku Jiyeon-ah. Jangan membuat aku menyakitimu Jiyeon-ah.

Seungri ingat ancaman yang dilayangkan pada Jiyeon. Segera dia berdiri dan keluar dari kamarnya.

“Jiyeon-ah….. Jiyeon-ah….”

Seungri mencari keberadaan istrinya di kamar mandi dan juga di dapur. Biasanya wanita itu akan berada di dapur untuk memasakkan sarapan sebelum berangkat bekerja. Namun Seungri tak menemukannya.

Langkahnya terhenti saat melihat bercak darah di lantai. Seungri baru ingat jika dirinya sudah menyakiti tangan Jiyeon dengan pisau. Lelaki itu berlutut menyentuh darah itu dengan jari telunjuknya. Jarinya yang diselimuti kulit putih tampak kontras dengan warna merah darah telunjuknya.

“Aku sudah menyakiti Jiyeon. Aku benar-benar namja yang jahat.”

Seungri memukul-mukul kepalanya dengan keras. “Bodoh. Kau sangat bodoh Seungri. Bagaimana bisa kau menyakitinya lagi?”

Bahu Seungri berguncang menangis menyesali perbuatan. Namun sayang semua sudah terlambat. Jiyeon tak lagi ada untuknya memberikan senyuman dan kata-kata ‘Tidak apa-apa Oppa ’. Istrinya sudah pergi meninggalkan lelaki jahat seperti dirinya.

*     *     *     *

Tangan Jiyeon dengan cepat mengelap cangkir-cangkir yang sudah di cuci. Dia tidak memperdulikan tangannya yang masih sakit. Gadis itu tak pernah menjadikan luka kecil sebagai alasan untuk dirinya agar tidak bekerja.

Kegiatannya terhenti saat merasakan tatapan dari seseorang. Dan benar saja saat ini dia melihat Jaehwan, sang bos tengah menatap tangannya yang diperban.

“Ada apa Oppa?” Tanya Jiyeon kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Ada dengan tanganmu? Apakah Seungri hyung yang melakukannya?”

“Tidak. Ini karena kecerobohanku sendiri saat memasak tadi.” Bohong Jiyeon.

Jaehwan tampak tidak yakin dengan jawaban Jiyeon namun detik berikutnya Jiyeon memberikan senyuman lebarnya untuk meyakinkan lelaki itu.

“Oppa, apakah kau memiliki info lowongan kerja part time?” Tanya Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

“Untuk apa kau mencari pekerjaan lain? Bukankah kau sudah melakukan 3 pekerjaan dalam sehari?”

“Aku membutuhkan uang untuk Jihoon, Oppa.”

“Kalau begitu aku bisa memberikannya padamu.” Jaehwan meraih saku di belakang celana untuk mengambil dompetnya.

Jiyeon segera menggeleng. “Jangan Oppa. Aku bahkan belum bisa mengembalikan pinjamanku bulan lalu. Aku mohon Oppa carikan aku info lowongan pekerjaan part time.”

Jaehwan menatap Jiyeon iba. Ingin sekali lelaki itu membantunya tapi Jiyeon selalu menolak bantuannya dengan alasan tak ingin merepotkannya. Akhirnya lelaki itu menghela nafas. “Sebenarnya aku memiliki infonya.”

Wajah Jiyeon terlihat senang lalu gadis itu meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri bosnya itu. “Katakanlah padaku Oppa.”

“Tapi pekerjaan ini sedikit berat, apa kau yakin?”

Jiyeon mengangguk mantap. “Aku sangat yakin aku bisa melakukannya.”

Jaehwan mengambil selembar kertas di meja lalu pena di saku kemejanya. Lelaki itu menuliskan beberapa kata di kertas lalu menyerahkannya pada Jiyeon.

“Selesai bekerja datanglah ke tempat ini dan carilah yeoja bernama Kang Seulgi katakan aku yang menyuruhmu datang. Dia pasti akan tahu tujuanmu kesana.”

Jiyeon mengambil kertas itu lalu memeluk Jaehwan. “Terimakasih Oppa. Kau selalu membantuku. Nanti jika aku mendapatkan gaji dari pekerjaan ini aku pasti akan mentraktirmu.”

“Tidak perlu Jiyeon-ah. Aku hanya ingin membantumu saja.”

Jiyeon melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa. Kau harus mau.”

“Baiklah.” Jaehwan mengangguk mendengar Jiyeon memaksanya.

*     *     *     *

Pintu belakang sebuah gedung rumah sakit terbuka lalu Jiyeon berjalan melewatinya. Dia meregangkan badannya yang pegal-pegal. Baru saja gadis itu menyelesaikan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan di rumah sakit itu.

Tangan gadis itu mengambil kertas dari sakunya. Sekarang dia akan mengunjungi tempat yang Jaehwan tuliskan di kertas itu.

“Jiyeon-ah.”

Panggilan itu menghentikan langkah Jiyeon. Dia melihat Seungri berdiri tak jauh darinya. Gadis itu tahu tujuan lelaki itu datang menemuinya. Dia pasti menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf.

Seungri menghampiri Jiyeon dan tatapannya langsung tertuju pada perban Jiyeon yang warnanya sudah kusam. Lelaki itu meraih tangan jiyeon yang terluka.

“Maafkan aku sudah melukaimu. Kumohon pulanglah Jiyeon-ah. Aku berjanji akan berubah. Aku tidak akan menyentuh soju lagi. Aku mohon Jiyeon-ah.”

Dengan kasar Jiyeon menepis tangan Seungri meskipun tangannya terasa sakit karena berbenturan dengan tangan Seungri.

“Sampai kapan Oppa akan berjanji seperti itu terus? Aku sudah banyak mendengar janji itu dari Oppa. Tapi tak satupun yang bisa Oppa tepati.” Jiyeon menguatkan hatinya  untuk tidak bersikap lunak pada suaminya. Jika tidak, Sungri pasti akan melakukannya kembali.

“Aku pasti akan menepatinya kali ini Jiyeon-ah. Aku berjanji.”

Jiyeon membuang mukanya saat melihat tatapan memohon suaminya. “Maafkan aku Oppa. Aku belum bisa percaya padamu.” Jiyeon berjalan melewati Seungri yang berdiri terpaku.

Jika saja Seungri tidak melukai tangan Jiyeon mungkin gadis itu masih bisa memaafkannya. Tapi lelaki itu sudah keluar dari batasnya dan Jiyeon harus berpikir jika mau memaafkannya.

*     *     *     *

Langkah kaki Jiyeon membawa gadis itu memasuki sebuah gudang tua. Gadis itu melihat alamat yang tertulis di kertas untuk memastikan jika alamat yang ditujunya tepat. Dan alamat di gudang itu cocok dengan alamat yang dituliskan jaehwan. Tapi melihat gudang dengan dinding yang sudah lapuk membuat Jiyeon tidak yakin itu adalah tempat yang tepat.

Beberapa orang berjalan masuk membawa lampu, pakaian dan berbagai benda lainnya. Akhirnya Jiyeon mengetahui jika itu bukanlah geduang tua yang tak terpakai melainkan studio photo.

Kaki Jiyeon melangkah membawa gadis itu masuk ke dalam gudang itu. Meskipun dari luar gudang itu tampak tua dan tak terurus namun di dalamnya disulap menjadi studio photo biasanya.

Jiyeon menghampiri seorang gadis yang tengah menata alat-alat make upnya. “Selamat sore, apakah kau tahu dimana aku bisa bertemu dengan Kang Seulgi?”

“Dia ada di meja sana.” Gadis dengan potongan rambut sebahu itu menunjuk pada seorang gadis yang tengah mengobrol dengan seorang lelaki.

“Terimakasih.”Jiyeon tersenyum pada penata rias itu lalu segera menghampiri Seulgi.

“Selamat sore Seulgi-ssi aku Park Jiyeon. Jaehwan Oppa menyuruhku datang menemuimu.” Sapa Jiyeon pada gadis dengan rambut yang dikucir kebelakang dan mengenakan setelan kerja garis-garis hitam putih.

“Ahh… Jadi kau yang namanya Jiyeon. Jaehwan Oppa sudah menghubungiku tadi. Kudengar dari dia kau adalah yeoja pekerja keras.”

“Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghadapi hidup yang keras ini.”

Seulgi tersenyum mendengar jawaban Jiyeon. “Kau benar. Jadi apa kau siap bekerja hari ini?”

“Aku selalu siap. Jadi apa pekerjaanku?”

“Kau hanya perlu membawakan apapun yang orang-orang disini butuhkan. Sebenarnya kami sudah memiliki orang untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi saat ini dia sedang sakit. Jadi jika kau mau kau bisa menggantikannya untuk sementara.”

“Aku mau.” Ujar Jiyeon penuh semangat.

“Woohyun-ah, kemarilah.” Seulgi memanggil seorang lelaki yang sedang memasang lensa kamera.

Lelaki murah senyum itu berjalan menghampiri Seulgi dan juga Jiyeon.

“Woohyun-ah, dia Jiyeon. Dia akan menggantikan tugas Dongwoo sementara waktu.”

Woohyun tampak terkejut melihat pengganti Dongwoo adalah seorang gadis. “Apa kau yakin dia bisa melakukannya Seulgi-ah?”

“Kita coba saja dulu. Jiyeon-ah, dia adalah fotografer di sini. Dan tugas utamamu akan menjadi asisten dia. Tapi hati-hati dia itu si perayu ulung.” Seulgi memberi peringatan dengan senyum gelinya.

“YA!! Kau mengganggalkan rayuanku bahkan sebelum dimulai?” Omel Woohyun namun Seulgi hanya tertawa.

Jiyeon tak mampu menahan senyunnya melihat keakraban mereka. Dan sekarang Jiyeon harus mempersuapkan diri karena sepertinya tugasnya kali ini sangatlah berat daripada tugas menjadi pelayan, tukang antar makanan dan pegawai kebersihan dibrumah sakit. Tapi demi putranya, Jiyeon rela harus mengerahkan segenap kekuatannya.

*     *     *     *

Jiyeon meletakkan kardus coklat yang mungkin memiliki berat 7 kg. Entah apa isi kotak tertutup itu tapi mengangkatnya sungguh sangat melelahkan. Sebenarnya Jiyeon belum sampai tujuan mengantar kotak itu, tapi dia memutuskan untuk mengistirahatkan otot-otot tangannya.

“Pose yang bagus Myungsoo-ah, tahan. Bagus.” Suara Woohyun menarik perhatian Jiyeon.

Pemotretan sepertinya baru dimulai dan Jiyeon memutuskan untuk mengintip bagaimana pemotretan seorang model berlangsung. Namun baru beberapa langkah mengintip gadis itu lalu terdiam.

Matanya menangkap sosok laki -laki tampan tengah berpose di depan kamera. Meskipun hanya mengenakan kaos tanpa lengan lelaki bernama Myungsoo itu terlihat pas dengan pose yang diperagakannya. Bahkan tak ada satu pun pose yang terlihat jelek. Karena itulah Woohyun selalu menjepretkan kameranya tanpa henti.

Terlihat otot-otot di lengan laki-laki itu membuat Myungsoo semakin sexy. Wajahnya yang tampan dihiasi hidung yang tidak terlalu mancung dan matanya yang tidak terlalu besar namun membuat Jiyeon tak ingin mengalihkan pandangannya dari Myungsoo.

“Apakah dia malaikat?” Gumam Jiyeon masih terpesona melihat Myungsoo yang terus berpose.

“Bukan. Dia itu manusia.”

Jiyeon menoleh mendengar suara itu. Dia adalah gadis penata rias yang diajaknya bicara tadi. Sulli tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Aku Choi Sulli. Kau pasti Jiyeon, orang yang menggantikan tugas Dongwoo?”

“Bagaimana kau tahu?” Heran jiyeon.

“Di sini berita lebih cepat tersebar seperti angin berhembus kencang.”

Jiyeon mengangguk-angguk sambil ber-o ria. “Tadi kau bilang namja itu bukan malaikat, tapi mana mungkin adalah manusia sesempurna itu?”

“Sayang sekali tapi dia memang ada. Namanya Kim Myungsoo. Dia adalah model terbaik yang pernah aku lihat. Dan aku setuju jika dia lebih pantas jadi malaikat daripada manusia.”

“Mengapa begitu?” Jiyeon menatap Sulli mendengar penjelasan gadis itu.

“Berdasarkan pengalamanku yang sudah 5 tahun menjadi juru make up, biasanya model-model yang sudah terkenal akan berubah menjadi menyebalkan karena banyak maunya. Tapi Myungsoo berbeda, meskipun sudah terkenal dia tetap bersikap baik dan ramah. Karena itulah aku suetuju denganmu. Dia adalah malaikat yang diturunkan dari surga.” Sulli menggenggam kedua tangan Jiyeon.

Jiyeon melihat kembali ke arah Myungsoo yang tidak menyadari pembicaraan Jiyeon dan Sulli yang sedang membicarakan dirinya.

*     *     *     *

Jiyeon duduk di bawah tangga dengan nasi kotak di pangkuannya. Karena terlalu sibuk membereskan peralatan Woohyun, Jiyeon jadi tidak bisa makan bersama dengan staff yang lain.

Seraya memakan dengan pipi menggembung karena makanan, Jiyeon mengambil ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan dari Seungri dan juga beberapa pesan yang berisi permohonan maaf dari lelaki itu. Ingin sekali gadis itu membalasnya tapi melihat perban di tangannya seakan mengingatkan Jiyeon untuk melupakan suaminya sejenak.

Dia beralih ke pesan dari ibunya yang mengirimkan gambar Jihoon tengah tengkurap. Senyuman tampak di wajah bayi lucu itu seakan tahu bagaimana caranya berpose di depan kamera.

“Bayi yang lucu.”

Jiyeon terkejut dan hampir saja menjatuhkan ponselnya. Dia mendongak dan melihat Myungsoo yang sudah mengenakan mengganti pakiannya dengan celana jeans dan kaos putih tersenyum padanya. Lelaki itu mendekati Jiyeon dan duduk  disampingnya.

“Hallo Myungsoo-ssi, aku…”

“Kau Jiyeon kan? Kau yang bertugas menggantikan Dongwoo hyung.” Sesuai ucapan Sulli berita di sini memang cepat sekali tersebar.

Myungsoo melihat kotak makan di pangkuan Jiyeon.”Aku juga terlambat makan jadi bolehkan aku menemanimu makan?”

Jiyeon tersenyum lalu mengangguk. “Tentu saja boleh. Ini kan bukan tempat pribadiku.”

Akhirnya Myungsoo duduk disamping Jiyeon dan mulai memakan kotak makan miliknya. Tanpa disadari lelaki itu Jiyeon menatap wajah Myungsoo dengan teliti.

Bahkan dalam jarak sedekat ini namja itu tampan sekali. Itulah penilaian Jiyeon pada lelaki itu. Tangan gadis itu menyentuh tangan Myungsoo yang diselimuti kulit putih mulus.

“Apa kau benar manusia? Kau tidak salah berada di sini?” Tanya Jiyeon dengan wajah polosnya.

“Memang aku harus berada di mana?” Myungsoo tertawa kecil.

“Kau kan malaikat seharusnya kau berada di langit.” Jiyeon menunjuk ke arah atas.

Tawa Myungsoo langsung pecah mendengar ucapan Jiyeon. Tak disangka gadis itu sampingnya akan menganggap dirinya malaikat.

“Mengapa kau berpikir aku malaikat? Aku hanya manusia biasa.”

“Kau terlalu sempurna untuk menjadi manusia.”

“Sayangnya aku tidak sesempurna itu. Aku masih memiliki kekurangan.” wajah Myungsoo tak lagi tertawa

Jiyeon menatap Myungsoo bingung. “Apa kekuranganmu?”

Myungsoo memegang dagunya berpikir. “Mungkin kekuranganku adalah terlalu ambisius. Jika aku sudah menginginkan sesuatu maka aku harus memilikinya.”

“Apakah karir ini juga termasuk ambisiusmu?”

Kepala Myungsoo mengangguk. “3 tahun yang lalu aku melihat poster seorang model namja yang sangat bagus. Namja itu seolah menghidupkan gambar itu sehingga mengundang orang-orang untuk membelinya. Karena itulah aku ingin menjadi model seperti itu. Meskipun abeoji tidak setuju tapi aku tidak perduli dan tetap mengejar keinginanku.”

Terdengar tepukan tangan dari Jiyeon. “Kau hebat sekali Myungsoo-ssi. Aku bahkan tak memiliki ambisi setinggi itu.”

Myungsoo terkejut dengan reaksi Jiyeon. Selama ini kakak-kakaknya mengatakan jika ambisius tinggi yang dimilikinya sangat mengerikan tapi gadis di sampingnya ini justru kagum.

“Sebaiknya kita segera makan. Kalau tidak nanti keburu mulai bekerja lagi.” Ucap Myungsoo melanjutlan kembali makannya.

Jiyeon juga kembali makan dan lupa jika dirinya belum makan sejak siang tadi. Perutnya terasa lega saat mendapatkan asupan. Myungsoo masih mengamati Jiyeon yang tampak sangat lahap seakan gadis itu belum makan selama satu bulan. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Myungsoo. Dengan rambut yang diikat kebelakang, lelaki itu bisa melihat lebam di pipi Jiyeon. Meskipun gadis itu sudah menutupinya dengan make up tapi bagi Myungsoo yang sudah lama berkecimpung dalam dunia model sehingga lelaki itu tahu bagaimana menutupi luka dengan make up. Ditambah tangan Jiyeon yang diperban membuat banyak sekali pertanyaan di pikiran lelaki itu.

*     *     *     *

“Ini bayaran untuk hari ini Jiyeon-ssi. Melihat hasil kerjamu, kau merupakan yeoja pekerja keras yang pernah aku lihat. Karena itu, kalau kau mau datanglah lagi besok.” Seulgi menyerahkan amplop pada Jiyeon.

Mata Jiyeon berbinar melihat hasil kerja kerasnya. “Terimakasih Seulgi-ssi. Besok aku pasti datang lagi. Aku permisi dulu.” Jiyeon mengambil amplop itu lalu berpamitan pada Seulgi.

Meskipun bayarannya tidak besar tapi paling tidak uang itu bisa digunakan untuk membeli susu Jihoon. Hal itu sudah membuat Jiyeon merasa senang.

“Apa kau akan pulang?” Suara Myungsoo menghentikan langkah Jiyeon.

“Iya. Jam kerjaku sudah selesai.”

“Kalau begitu bagaimana jika kita pulang bersama?”

Myungsoo menunjukkan mobil Ferrari erwarna hitam miliknya. Jiyeon tak percaya melihat mobil mewah yang biasanya dilihat di teluvisi rumahnya sekarang sudah berada di hadapannya langsung. Ajakan Myungsoo merupakan godaan besar bagi Jiyeon namun dia ingat statusnya yang masih memiliki suami.

“Tidak perlu Myungsoo-ssi. Aku bisa naik bus.” Tolak Jiyeon.

Bukanlah sifat Myungsoo jika harus mau menerima penolakan. Dia langsung menarik tangan Jiyeon menuju mobilnya. “Sayang sekali aku tidak menerima penolakan.”

Sampai di samping mobil, Myungsoo membuka pintu penumpang dan meminta Jiyeon untuk masuk. Gadis itu menatap mobil itu lalu beralih ke pemiliknya.

“Myungsoo-ssi tapi aku….” Jiyeon berusaha menolak keinginan Myungsoo kembali.

“Masuklah.” Kata itu tidak terdengar seperti permohonan melainkan perintah.

Akhirnya Jiyeon duduk di dalam mobil itu, sedangkan Myungsoo langsung menuju sisi lainnya. Mata Jiyeon melihat atau lebih tepatnya mengagumi mewahnya interior dalam mobil yang juga didominasi warna hitam.

Sepertinya Myungsoo suka warna hitam. Pikir Jiyeon dalam hati.

“Siapa nama bayi tadi?” Tanya Myungsoo menyadarkan Jiyeon dari kekagumannya.

“Namanya Park Jihoon.”  Entah mengapa Jiyeon tidak menggunakan marga Seungri saat menyebutkan nama putranya.

“Nama yang bagus. Aku suka sekali melihat makhluk menggemaskan itu. Aku memiliki 3 orang noona, dan mereka semua sudah menikah. Bahkan mereka seakan janjian untuk memiliki anak bersama. Alhasil aku langsung memiliki 3 keponakan sekaligus dalam waktu singkat.”

“Wah… Kau memiliki keluarga yang besar Myungsoo-ssi. Pasti akan sangat ramai jika semuanya berkumpul.”

“Lebih dari kata ramai. Bahkan mereka biasa melakukan arisan bersama eomma. Aku dan abeoji seakan terasingkan dengan keasikan mereka.”

Mendengar Myungsoo menyebut ‘abeoji’ membuat Jiyeon merasa sedih. Ayah Jiyeon sudah meninggal karena sakit saat Jiyeon masih berumur 3 tahun. Karena itu dia tahu betul bagaimana sedihnya merasakan keluarga yang tak lengkap. Dan Jiyeon takut Jihoon juga akan mengalami apa yang dirasakan.

“Jiyeon-ssi kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo melihat Jiyeon menunduk.

Jiyeon memberikan senyuman tipisnya lalu menggelengkan kepalanya. Namun detik berikutnya Jiyeon merasakan nyeri di pipinya akibat tamparan keras Seungri semalam. Jiyeon menyentuh pipinya dan berusaha meredam rasa sakitnya.

“Jika aku boleh tahu, mengapa banyak sekali luka di tubuhmu?” Tanya Myungsoo dengan nada berhati-hati karena tidak ingin membuat Jiyeon merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.

“Aku mengalami kecelakaan kerja kemarin. Tapi aku sudah tidak apa-apa.” Bohong Jiyeon.

“Kau yakin? Aku rasa lebam di pipimu itu lebih seperti tamparan. Dan tangan ini.” Myungsoo meraih tangan Jiyeon yang terluka. “Tidak seperti luka saat kau kerja. Tampak seperti seseorang yang sengaja melukaimu.”

Jiyeon menarik tangannya kembali dan membalikkan mukannya ke arah jendela. “Jika kau tidak percaya tidak apa-apa.”

“Maafkan aku jika aku terlalu memaksakan jawabanku.”

Tak ada lagi pembicaraan yang mengiri perjalanan mereka. Myungsoo masih melirik ke arah Jiyeon yang terdiam. Mungkin diam lebih baik daripada dia berbicara lagi dan membuat Jiyeon semakin tak nyaman.

*     *     *     *

Jiyeon tengkurap di atas tempat tidurnya seraya mengamati Jihoon yang terlelap. Sebenarnya Jiyeon benci karena tidak bisa melihat putranya saat terbangun. Setiap Jiyeon pulang bekerja, dia hanya mendapati putranya sudah tertidur dan setiap pagi Jiyeon hanya bisa menemui putranya sebentar sebelum akhirnya kembali bekerja.

Gadis itu tak bisa melihat bagaimana ajaib perkembangan putranya dari hari kehari. Namun dia tidak mau menyerah pada kehidupan keras yang dihadapinya. Jika dia menyerah bagaimana dengan putranya. Semakin lama putranya akan semakin besar dan dia butuh pendidikan yang tinggi agar tidak seperti ayah atau ibunya.

Tangan Jiyeon meraih ponsel di sakunya lalu membuka aplikasi kamera. Dia mengatur mode video lalu mengarahkannya ke atas.

“Jihoon-ah, ini eomma. Maafkan eomma tidak bisa setiap saat bermain dengan Jihoon. Tapi eomma sedang berusaha agar kelak bisa membahagiakan namja tampan ini. Jadi meskipun kita tidak bisa bertemu setiap saat, tapi jangan lupa jika aku Park Jiyeon adalah eomma Jihoon.”

Jiyeon menghentikan video itu saat merasakan air mata panas mengalir dari sudut matanya. Gadis itu segera menghapus air mata itu lalu memberikan kecupan penuh sayang pada Jihoon.

*     *     *     *

Di ruang tamu bernuansa putih tampak Myungsoo duduk di salah satu sofa. Di tangan lelaki itu memutar-mutarkan ponselnya. Satu tangannya menyangga kepala lelaki itu. Pikirannya masih tertuju pada gadis yang baru dikenalnya tadi sore.

Sebenarnya banyak sekali gadis yang dekat dengan Myungsoo, lebih tepatnya mendekatinya. Tapi Jiyeon berbeda sekali. Dia bahkan menganggap dirinya malaikat dan pemikiran itu membuat Myungsoo tak berhenti tersenyum.

“Myungie…. Myungie-ah, apa kau sudah gila tersenyum senyum sendiri?” Tanya kakak ketiga Myungsoo bernama Kim Joohyun.

Gadis berambut pendek itu melambaikan tangan didepan wajah Myungsoo namun sepertinya adik bungsunya tidak terpengaruh.

“Eonnie…. Eommma…. GAWAT!!!” Teriakan menggemparkan Joohyun tak kunjung menyadarkan Myungsoo.

Terdengar suara langkah beberapa orang berlari turun. Tiga orang wanita segera menghampiri Joohyun dengan wajah yang panik.

“Ada apa Joohyun-ah?” Tanya Kim Heesun, sang ibu.

Joohyun menunjuk ke arah Myungsoo yang asyik dengan dunianya sendiri. Tatapan ketiga wanita keluarga Kim itu langsung tertuju pada Myungsoo. Sebuah senyuman menghiasi wajah tampannya segera keempat wanita itu berjalan mundur. Meskipun senyuman itu terlihat manis namun bagi mereka yang mengetahui bagaimana watak Myungsoo senyuman itu adalah tanda bahaya.

“Eomma kau ingat bukan terakhir Myungsoo seperti ini 3 tahun yang lalu?” Tanya Yuri, putri kedua keluarga Kim.

Heesun mengangguk mengingat kejadian saat Myungsoo bertekad untuk menjadi model. “Sekarang dia akan berulah apa lagi?” Panik sang ibu.

“Tenang eomma aku akan berbicara dengannya.”

Semua tatapan tertuju pada Sooyeon, putri sulung keluarga Kim. Gadis dengan surai panjang berwarna coklat itu menghampiri Myungsoo dan duduk di samping adiknya.

“Myungie…..Myungie-ah….” Sooyeon mengguncangkan bahu Myungsoo.

Gerakan memutar ponsel Myungsoo terhenti dan dia menoleh pada kakak perempuannya itu.  “Ada apa noona?”

“Kau baik-baik saja?”

“Tentu saja aku baik. Aku sangat sehat, mengapa noona bertanya begitu?”

Sooyeob melihat sang ibu yang cemas diapit kedua adiknya. Dia menggenggam tangan Myungsoo. “Dengar Myungie-ah, kau adalah satu-satunya anak namja di rumah ini. Abeoji dan juga eomma sangat kecewa karena kau memilih menjadi model bukannya membantu abeoji di perusahaan. Kau tahu banyak orang yang membicarakanmu karena hal itu. Jadi kali ini jangan melakukan hal bodoh lagi Myungie-ah.”

Myungsoo menatap Sooyeon lama sebelum akhirnya memberikan senyumannya. “Noona tenang saja. Aku tidak akan selamanya menjadi model. Aku bahkan sedang berpikir ingin membantu abeoji di perusahaan.”

Keempat wanita itu terkejut mendengar  ucapan Myungsoo. Heesun menghampiri Myungsoo dan duduk disamping putranya itu.

“Eomma sangat senang kau akhirnya bisa memenuhi harapan abeoji dan eomma Myungsoo-ah.” Ucap sang ibu memeluk Myungsoo.

Meskipun sang ibu percaya ucapan Myungsoo namun tidak dengan ketiga kakaknya. Ada yang aneh dengan Myungsoo jika tiba-tiba lelaki itu berkata ingin bekerja di perusahaan.

“Memang apa yang membuatmu berubah pikiran Myungie-ah?” Tanya Yuri duduk di kursi lain diikuti oleh Joohyun.

Myungsoo menatap ketiga kakak dan ibunya secara bergantian. “Aku menyukai seorang yeoja dan aku akan menikahinya.”

Mulut Heesun, Sooyeon, Yuri, dan Joohyun terbuka tak percaya mendengar keinginan Myungsoo. Selama ini memang sang ibu mendorong Myungsoo untuk menikah namun Myungsoo srlalu menolak. Tapi kali ini putra bungsu kelarga Kim sendiri yang menginginkannya sendiri terasa aneh. Pasalnya selama ini semua keinginan Myungsoo bertolak belakang dengan keinginan keluarganya.

*     *     *     *

Tatapan Jiyeon tertuju pada tubuh yang terbaring diatas ranjang rumah sakit. 30 menit yang lalu dia fitelpon polisi yang sudah menemukan Seumgri bunuh diri dengan menggoreskan pisau di pergelangan tangannya. Beruntung polisi menemukannya lebih cepat sehingga Seungri bisa tertolong.

Jiyeon mendekati ranjang Seungri. Dia duduk di kursi dan menyentuh perban yang melilit tangan lelaki itu. Gadis itu sangat sedih mepihat suaminya dengan mudahnya menyerah pada kesulitan yang dihadapinya.

Terdengar lelaki itu mengerang lalu membuka matanya. Jiyeon melepaskan tangannya dan bersiap mengatakan sesuatu yang sudah dipikirkannya sejak tadi.

“Jiyeon-ah.” Seungri tampak senang melihat Jiyeon duduk menemaninya.

“Mengapa Oppa melakukannya? Apakah sependek itu pikiran Oppa?” Tanya Jiyeon dengan nada dingin.

“Aku merasa tidak ada gunanya hidup jika tidak ada kau dan juga Jihoon. Maafkan aku Jiyeon-ah.” Seungri menunduk menyesal.

Tangan Jiyeon terkepal disamping tubuhnya. Ingin sekali gadis itu berteriak untuk menyadarkan lelaki di hadapannya betapa bodohnya dia jika harus mengakhir hidupnya dengan bunuh diri. Namun Jiyeon berusaha meredam emosinya itu.

“Hanya karena hal itu Oppa mencoba bunuh diri? Mengapa Oppa tidak berbuat sesuatu yang bisa membuatku kembali pada Oppa? Bukan bertindak konyol seperti ini. Sudah kuputuskan lebih baik kita berpisah Oppa. Ini jalan yang terbaik untuk kita.”

Seungri terpaku mendengar ucapan Jiyeon. Bagaikan mimpi buruk yang di alami Seungri.

“Tapi Jiyeon-ah, berikan aku kesempatan. Aku akan berubah. Kumohon Jiyeon-ah jangan tinggalkan aku.” Seungri menarik tangan Jiyeon tanpa memperdulikan tangannya yang masih sakit.

“Aku sudah memberikannya berkali-kali Oppa. Namun Oppa menyia-nyiakannya begitu saja dan kembali mengulanginya. Biarkan aku dan Jihoon hidup dengan damai. Pikirkanlah bagaimana jika Jihoon tahu seperti apa Appanya.”

Seungri terdiam menatap istrinya. Lelaki itu merutuki dirinya karena tidak bisa menjadi ayah dan suami yang baik bagi keluarganya.

Apakah melepaskan Jiyeon adalah keputusan yang benar? Pikir Seungri dalam hatinya.

“Aku pergi dulu Oppa. Aku akan meminjam uang Jaehwan Oppa untuk melunasi biaya rumah sakit. Kuharap Oppa tidak bertindak seperti ini lagi.”

Jiyeon berdiri lalu berjalan meninggalkan kamar itu. Sedangkan Seungri hanya diam melihat kepergian sang istri. Dia sangat menyesal sudah membuat sang istri menderita dan ingin meninggalkan dirinya. Dia bertekad ingin berubah agar Jiyeon tidak akan meninggalkannya.

*     *     *     *

Jiyeon meregangkan tangannya dan juga kakinya yang terasa pegal. Jarak antara halte dan rumah sedikit jauh sehingga gadis itu harus rela kakinya pegal-pegal karena perjalanan itu. Belum lagi mengangkat barang-barang berat saat berada di studio membuat tubuh Jiyeon terasa remuk.

Belum lagi masalah suaminya yang masuk rumah sakit. Beruntung Jiyeon memiliki bos yang baik seperti Jaehwan. Lelaki itu berbaik hati meminjamkan uang untuk membayar biaya rumah sakit Seungri. Padahal gadis itu belum bisa mengembalikan hutangnya sebelumnya pada Jaehwan.

Namun mengingat akan bertemu dengan putra kecilnya, rasa capek dan kesal itu digantikan dengan rasa senang. Gadis itu selalu mengingatkan diri jika dia melakukan semua pekerjaan itu untuk Jihoon. Dan hal itu sanggup mengembalikan semangatnya.

Tangan Jiyeon membuka pintu rumahnya yang belum dikunci. Matanya langsung tertuju pada sepatu sneakers hitam yang berjajar rapi dengan sepatu ibunya. Jiyeon bertanya-tanya sepatu siapa itu. Dia langsung melepaskan sepatunya asal dan berlari memasuki rumah.

“Akhirnya kau pulang juga.”

Langkah Jiyeon berhenti dan terkejut melihat Myungsoo duduk di karpet seraya menggendong Jihoon yang bangun. Iris mata berwarna hitam itu memperhatikan Myungsoo dengan sangat hati-hati menempelkan kepala Jihoon di bahunya dan mendekap bayi mungil itu. Wajah Myungsoo tampak senang saat menempelkan pipinya di kepala Jihoon.

“Kau sepertinya sudah ahli menggendong bayi.” Jiyeon menghampiri Myungsoo dan duduk di dekatnya.

“Kau ingat aku pernah bilang jika aku memiliki 3 keponakan dan setiap aku pulang ke rumah aku pasti akan bermain bersama mereka dan menggendong mereka satu persatu.”

Myungsoo mengangkat Jihoon dan mengeluarkan suara aneh. Terdengar suara tawa Jihoon yang mengejutkan bagi Jiyeon.

Jika saja saat ini yang bermain dengan Jihoon adalah Seungri Oppa, pasti sangat membahagiakan. Pikir Jiyeon.

“Jiyeon-ah, bisakah kau membantu eomma sebentar di dapur?” Tanya nyonya Park yang muncul dari dapur.

“Aku akan segera kembali Myungsoo-ssi.” Jiyeon beranjak dari samping Myungsoo menuju dapur.

“Dia namja yang tampan dan juga baik Jiyeon-ah.” Ucap Nyonya Park dengan nada menggoda.

“Eomma aku tahu tujuan eomma mengatakan itu. Tapi ingat eomma aku masih menjadi istri dari Seungri Oppa.”

Nyonya Park menyerahkan nampan berisi dua cangkir teh hangat pada putrinya. “Tapi Myungsoo jauh lebih baik dari Seungri.”

“Hentikan eomma. Sebaiknya kita tak membicarakan ini sekarang.” Jiyeon mengambil nampan itu dan membawanya keluar dari dapur.

Saat hendak kembali menghampiri Myungsoo, lagi-lagi Jiyeon dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tampak Myungsoo berdiri dengan Jihoon yang bersandar di dadanya. Lelaki itu menimang-nimang Jihoon hingga mata bayi itu semakin lama semakin tertutup. Myungsoo juga bersenandung kecil untuk Jihoon.

Jiyeon meletkkan nampan itu di atas meja lalu menghampiri Myungsoo. “Kau bisa memberikan Jihoon padaku jika kau lelah.”

Namun Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku ingin seperti ini sementara waktu. Jihoon membuatku merasa nyaman.” Myungsoo kembali bersenandung untuk putra Jiyeon.

Tapi Myungsoo jauh lebih baik dari Seungri.

Jiyeon harus mengakui jika ucapan ibunya benar. Seungri bahkan tak bisa menggendong Jihoon senyaman Myungsoo saat menggendong putra kecilnya itu. Namun Jiyeon kagum pada sosok lelaki bermarga Kim itu. Meskipun baru hari ini Myungsoo bertemu Jihoon namun lelaki itu mencurahkan sayangnya pada bayinya seakan Jihoon adalah putranya sendiri. Jiyeon masih berpikir jika Myungsoo adalah malaikat.

*     *     *     *

Waktu terus berputar sehingga tanpa terasa sudah tiga minggu berlalu. Dan hampir tiga minggu ini juga Myungsoo terus mendekati Jiyeon. Tidak hanya di studio, namun Myungsoo juga sering mengunjungi rumah Jiyeon untuk bermain dan menina bobokan Jihoon.

Sebagai seorang gadis perasaan Jiyeon pasti sangat senang mendapatkan perhatian yang tak pernah di dapatkan dari suaminya. Namun karena status Jiyeon yang masih menjadi istri orang lain, hal itu merupakan kesalahan.

Meskipun Jiyeon sudah berencana untuk berpisah dengan Seungri namun hal itu tak dapat dijadikan alasan Jiyeon menerima kehadiran Myungsoo dalam kehidupannya.

Sulli pernah menceritakan jika keluarga Myungsoo adalah keluarga kalangan tinggi yang sangat dihormati. Karena itulah Jiyeon tidak ingin bermimpi bisa bersanding dengan pangeran Kim Myungsoo.

Ditambah lagi Jiyeon sering mendengar beberapa staff membicarakan dirinya dan Myungsoo. Kebanyakan dari mereka berpikir Jiyeon yang sudah menggoda Myungsoo dan memerangkap lelaki itu dalam kehidupannya yang rumit.

“Dia pasti ingin memanfaatkan kekayaan Myungsoo. Kudengar suaminya adalah seorang pemabuk.”

Jiyeon yang sedang membereskan peralatan Woohyun, mendengar seorang gadis berbicara di belakangnya.

“Kau benar. Aku juga dengar dia sudah memiliki anak. Apa dia tidak tahu malu? Bagaimana reaksi anaknya jika tahu eommanya adalah seorang penggoda? Kasihan Myungsoo, dia sudah memanfaatkan kebaikan Myungsoo.” Sahut gadis lainnya.

Itulah yang selalu Jiyeon dengar setelah Myungsoo selalu mendekatinya. Jiyeon berusaha bersabar dan menerima penghinaan itu dengan hati yang lapang. Dia menyimpan kotak kamera Woohyun di tempatnya lalu mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar untuk pulang. Dia melihat Myungsoo tengah bersandar di mobilnya dan langsung tersenyum saat melihat Jiyeon. Gadis itu membalas senyuman Myungsoo dan menghampirinya.

“Myungsoo-ssi, bisakah kita bicara?” Tanya Jiyeon setelah berada di hadapan lelaki itu.

“Tentu saja. Bagaimana jika kita pergi ke restoran?”

Jiyeon menahan tangan Myungsoo yang hendak pergi.

“Kita bicara di sini saja. Aku hanya butuh waktu sebentar.”

Mata Myungsoo menatap ke arah retina gadis itu untuk mencari tahu apa yang ingin dibicarakannya.

“Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan.” Tanya Myungsoo kembali bersandar pada mobilnya.

“Aku tidak tahu tujuanmu mendekatiku Myungsoo-ssi. Aku sangat berterimakasih karena kau selalu menolong dan memperhatikan aku. Dan juga Jihoon Tapi kumohon hentikan semua ini. Menjauhlah dariku. Aku tahu kehidupanku memang tampak mengenaskan tapi aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Jadi jangan mengasihaniku.”

Myungsoo tampak terkejut mendengar permintaan Jiyeon. Bagaimana bisa dia menjauhi gadis yang disukainya? Itu sangatlah mustahil bagi Myungsoo. Tangan Myungsoo meraih tangan Jiyeon dan menatap gadis itu menunjukkan bagaimana perasaannya.

“Aku menyukaimu. Itulah tujuanku mendekatiku.”

Wajah cantik Jiyeon menunjukkan ekspresi terkejut “Kau tidak boleh menyukaiku Myungsoo-ssi. Aku masih menjadi milik orang lain.”

“Aku tahu. Lee Seungri adalah suamimu bukan. Aku sudah menyelidiki apapun mengenai dirimu. Tapi aku tidak mau menyerah. Lepaskan namja itu dan ikutlah denganku.”

Bagi para penggemarnya, ucapan itu adalah impian yang mereka tunggu-tunggu. Namun tidak untuk Jiyeon yang berpikir realistis. “Kau tidak sungguh-sungguh mengatakan itu Myungsoo-ssi. Lagipula kita baru berkenalan aku yakin itu bukanlah rasa suka dari lubuk hatimu. Kau akan segera melupakan aku secepat kau menyukaiku.”

“Tidak. Aku benar-benar menyukaimu. Dan aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku inginkan.”

Jiyeon melihat keseriusan di mata Myungsoo. Gadis itu jadi ingat lelaki itu pernah mengatakan jika kekurangannya adalah dia terlalu berambisi untuk apa yang dia inginkan. Dan kali ini Jiyeon bisa melihatnya secara langsung.

Tangan Jiyeon mendorong tangan Myungsoo untuk melepaskan cengkramannya. Dia berjalan mundur dan melarang Myungsoo mendekatinya. “Kita dari dunia yang berbeda Myungsoo-ssi. Kau berpikir dengan aku menjadi milikmu semua akan baik-baik saja. Sayangnya itu tidak akan terjadi. Kau hanya memikirkan keinginanmu saja tanpa memikirkan apa yang terjadi dengan sekelilingmu.” Jiyeon berbalik berlari meninggalkan Myungsoo yang masih mematung.

*     *     *     *

Aku juga dengar dia sudah memiliki anak. Apa dia tidak tahu malu? Bagaimana reaksi anaknya jika tahu eommanya adalah seorang penggoda?

Ucapan itu masih melekat dipikiran Jiyeon yang saat ini tengah berjalan pulang. Dia menutup matanya membiarkan air matanya jatuh.

“Eomma bukanlah penggoda Jihoon-ah. Eomma bukanlah orang seperti itu.” Suara Jiyeon bergetar tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya.

“Mengapa semua kesulitan ini tertuju padaku? Tidak bisakah aku memiliki kehidupan tenang bersama eomma dan juga Jihoon?” Marah Jiyeon.

Gadis itu berhenti melangkah lalu berlutut menyembunyikan tangisnya dalam tangannya. Masalah Seungri, masalah keuangan, dan sekarang masalah Myungsoo. Jiyeon merasa kehidupannya tak pernah jauh dari kata masalah.

Suara ponselnya menghentikan gadis itu untuk merenungi nasibnya yang sangat buruk. Dia meraih ponselnya dan melihat nama ‘Jaehwan’ di ponselnya. Jiyeon mengatur nafasnya dulu sebelum mengangkat telpon itu.

“Ada apa Oppa?” Sapa Jiyeon berusaha tenang.

“Jiyeon-ah, suamimu sedang mengamuk di caffeku.” Berita itu seakan seperti batu yang menohok tenggorokan Jiyeon.

Dia memijat pelipisnya karena harus menghadapi masalah baru lagi. “Aku akan segera ke sana Oppa. Mianhae karena Seungri Oppa berbuat ulah.”

“Aku memaafkannya karena kau Jiyeon-ah.”

Jiyeon menatap ponselnya yang sudah tidak terhubung lagi dengan Jaehwan. Gadis itu segera berdiri dan berlari untuk menyelesaikan masalah yang dibuat suaminya.

*     *     *     *

Mulut Jiyeon bungkam seribu bahasa, tak tahu harus berbuat apapun melihat caffe Jaehwan yang berantakan. Meja dan kursi terbalik, pecahan gelas berserakan di mana-mana. Jiyeon belum mengembalikan hutang menumpuk pada Jaehwan dan sekarang dia harus menanggung kerusakan ini.

Tatapan Jiyeon tertuju pada suaminya yang tertidur di meja yang tidak dirusaknya. Gadis itu menatap ke langit-langit ruangan itu agar air matanya tidak keluar.

Dengan perasaan sangat tidak enak gadis itu menghampiri Jaehwan yang duduk dengan tenang di salah satu kuris. Jiyeon membungkuk sedalam mungkin pada Jaehwan.

“Aku benar-benar minta maaf atas kekacauan ini Oppa. Aku akan mengganti rugi atas kerusakan barang-barang ini.” Mohon Jiyeon.

“Tidak perlu Jiyeon-ah. Aku masih memiliki beberapa cangkir yang kusimpan.”

Jiyeon menggeleng dalam posisi membungkuk. “Tidak. Aku akan berusaha menggantinya. Selama ini Oppa selalu baik padaku. Tapi aku hanya menyusahkanmu saja. Aku tidak bisa menerima kebaikanmu lagi Oppa. Aku akan membawa Seungri Oppa pulang.” Jiyeon berpamitan sebelum akhirnya menarik suaminya pergi dari tempat itu.

Jiyeon memegang satu tangan Seungri dan membantu lelaki itu berjalan. Gadis itu sangat kerepotan karena Seungri terlalu berat untuknya. Seletelah keluar dari Caffe Jaehwan, tiba-tiba Jiyeon merasa tubuh suaminya itu menjadi ringan. Saat gadis itu menoleh dia mendapati Myungsoo memegang lengan Seungri yang satunya. Wajah lelaki itu mengeras tampak jelas dia menahan amarahnya.

Apa dia marah karena ucapanku tadi? Pikir Jiyeon.

Myungsoo tak kunjung bicara dia hanya membantu Jiyeon menuju rumah Seungri. Gadis itu membuka pintu yang tidak dikunci lalu membawa Seungri masuk. Myungsoo langsung melepaskan tangannya membiarkan Srungri terjatuh di lantai.

“Apa yang kau lakukan? Dia bisa terluka.” Jiyeon menarik Seungri menuju kamarnya.

Menarik lelaki itu terasa seperti mengangkat pot dengan berat 2 kali lipatnya. Namun akhirnya gadis itu berhasil meletakkan tubuh Seungri di atas matras lalu menyelimutinya. Jiyeon berjalan keluar dan mendapati Myungsoo menatapnya tajam.

“Jadi namja pemabuk itu yang ingin kau pertahankan? Karena namja tak berguna itu kau menolakku? Apa kau begitu bodoh HUH?”

Jiyeon sedikit terkejut dengan bentakan Myungsoo. “Apa yang bisa kulakukan? Dia appanya Jihoon.”

“Apa dia yang menyakitimu?” Jiyeon terdiam tak mau menjawab pertanyaan Myungsoo. “Jawab aku Park Jiyeon.”

Jiyeon menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk. Dia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air matanya di hadapan Myungsoo. Dia tidak ingin lelaki itu merasa kasihan padanya. Myungsoo mendekati Jiyeon dan menariknya keluar dari rumah itu.

“Lepaskan aku Myungsoo-ssi. Kau mau membawaku ke mana?” Jiyeon berusaha melepaskan cengkraman lelaki itu namun percuma saja, jemari tangan Myungsoo begitu kuat melingkar di pergelangan tangannya.

Lelaki itu membuka pintu mobilnya dan mendorobg Jiyeon masuk ke dalam. “Jangan mencoba kabur, atau aku akan terpakasa mengikatmu.” Ancam Myungsoo.

Setelah menutup pintu disamping Jiyeon, lelaki itu dengan cepat duduk dibelakang kemudi dan langsung melajukan mobil itu.

*     *     *     *

Kedua tangan Jiyeon bertaut dan jemarinya saling menekan karena gugup. Lima pasang mata menatapnya penuh selidik membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Gadis itu tidak tahu mengapa Myungsoo mengajaknya menemui keluarganya.

Melihat pakaian yang dikenakan kelima anggota keluarga Kim itu sangat bagus begitupula pakaian ketiga bayi yang saat ini berada dalam gendongan ibu mereka. Bahkan pakaian itu lebih bagus daripada pakaian Jihoon. Sehingga membuat Jiyeon semakin minder.

“Aku akan menikah dengannya. Aku Kim Myungsoo akan menikah dengan Park Jiyeon.” Ucapan tegas dari Myungsoo membuat semua orang yang berada di ruang tamu sangat terkejut, begitu pula dengan Jiyeon.

“Myungie-ah, jangan bercanda.” Ucap Irene tak percaya.

“Aku tidak bercanda noona.”

“Myungie-ah, eomma senang kau ingin menikah tapi mengapa harus dengan yeoja ini?” Jiyeon bisa merasakan tatapan merendah Heesun ditujukan padanya.

Dari sinilah Jiyeon harus bersiap menerima kata-kata tidak mengenakan dari orang-orang kalangan atas. Jiyeon sadar betul dimana posisinya dalam kehidupan sosial ini.

“Noona sudah menyelidiki yeoja ini Myungie. Dia sudah memiliki suami dan juga anak. Kau jangan gila.” Kali ini giliran putri sulung keluarga Kim.

“Jiyeon akan meninggalkan namja brengsek itu. Dan jangan sebut dia dengan ‘yeoja ini’. Dia adalah Jiyeon. Tidak bisakah kalian memanggilnya secara layak?” Marah Myungsoo menyadari sindiran yang dilakukan ibu dan kedua kakaknya.

“Kami akan memanggilnya dengan layak jika dia dari kalangan yang sama dengan kita.” Seorang lelaki yang memiliki cetakan wajah Myungsoo namun dalam versi tua.

Tangan Myungsoo menggenggam erat karena amarah. Jiyeon menyentuhnya dan menggelengkan kepala agar Myungsoo tidak meneruskan kegilaan ini. Gadis itu membungkuk dalam-dalam pada kelima anggota keluarga Kim.

“Aku minta maaf atas kebodohan Myungsoo. Aku sadar jika aku tidak pantas untuk Myungsoo, jadi tolong anggap kejadian ini tidak pernah ada dan aku akan menghilang dari kehidupan Myungsoo.”

Tuan Kim, nyonya Kim dan ketiga putri mereka tampak tersenyum puas dengan ucapan Jiyeon. Gadis itu membungkuk sesaat sebelum akhirnya berjalan keluar dari istana itu. Myungsoo menatap tajam pada ayah, ibu dan ketiga kakaknya.

“Aku rasa kalianlah yang tidak pantas memanggil namanya.” Myungsoo berlari keluar mengejar Jiyeon tanpa mengindahkan panggilan keluarganya.

“Jiyeon-ah, mengapa kau merendahkan dirimu di hadapan mereka.” Myungsoo menahan tangan Jiyeon.

“Sampai kapan kau akan sadar Myungsoo-ssi, aku tidak akan pernah cocok di duniamu. Status sosialku memang berada di bawahmu jadi tidak heran keluargamu merendahkan aku. Tidak bisakah kau meninggalkanku. Aku lelah dengan semua hinaan yang kudengar karena dirimu. Para staf mengatakan jika aku adalah yeoja penggoda yang menginginkan kekayaanmu. Keluargamu yang merasa aku tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ini. Apa kau tidak lihat perbandingan diantara kita?” Jiyeon tak kuasa menahan tangisnya lagi.

Myungsoo melihat bahu Jieon berguncang akibat menangis. Dia memang tahu status sosial mereka berbeda tapi bagi Myungsoo hal itu sama sekali tidak pentinh. Lelaki i menarik Jiyeon dalam pelukannya. Dengan berbagai masalah yang dihadapinya hari ini, Jiyeon terlalu lelah mendorong lelaki itu. Akhirnya gadis itu hanya bisa menangis dalam pelukan Myungsoo. Menikmati waktu terakhirnya bersama lelaki itu.

*     *     *     *

Tangan Jiyeon mendorong kertas di meja kepada Jaehwan. Lelaki itu mengambil kertas itu dan membaca tulisan Jiyeon.

“Itu adalah alamatku Oppa. Kau bisa menemuiku jika aku tidak membayar hutangku.”

Wajah Jaehwan tampak sedih karena harus kehilangan karyawan terbaiknya dan juga teman baiknya. “Kau yakin akan pindah?”

“Sangat yakin Oppa. Aku sudah mengirimkan surat ceraiku pada Seungri Oppa. Dan aku ingin memulai hidup baru bersama eomma dan Jihoon.”

“Apa kau melakukannya karena namja keras kepala itu?”

Ini sudah dua minggu sejak kejadian di rumah Myungsoo. Meskipun Jiyeon sudah keluar dari pekerjaannya yang menempatkan dirinya dan Myungsoo bersamaan, namun lelaki itu tetap menemuinya setiap hari di tempat kerja maupun di rumah Jiyeon.

“Dia tidak akan mau mendengarkan penolakanku Oppa. Jadi aku pikir lebih baik aku menghilang saja dalam hidupnya.”

“Kau akan bercerai dengan Seungri hyung, mengapa kau tak menerima lamaran namja itu? Sepertinya dia sangat tulus menyukaimu.” Saran Jaehwan.

“Tidak bisa Oppa. Myungsoo seperti seorang malaikat yang berada di langit dan aku tidak bisa menggapainya. Dunia kami sangatlah berbeda dan juga keluarganya sangat tidak menyukaiku. Mereka ingin Myungsoo menikah dengan yeoja yang sederajat dengan mereka.”

Tangan Jaehwan menggenggam tangan gadis itu. “Jika kau butuh bantuanku, hubungi saja aku. Aku pasti akan datang.”

Bibir Jiyeon melengkung membentuk senyuman. “Oppa. Jangan beritahu Myungsoo kemana aku pergi. Dan jika Seungri Oppa berbuat ulah lagi kau bisa memukulnya.”

“Aku rasa itu sangat mudah untukku.” Jaehwan mengacungkan jempolnya dan mereka tertawa bersama.

*     *     *     *

Udara bersih di desa Gangjin sungguh menyegarkan. Dengan sepatu boot Jiyeon berjalan tergesa-gesa membawa satu keranjang buah strawberry menuju truck yang siap mengangkut hasil panen.

“Ahjushi, bisakah aku mengambil 5 buah strawberry ini untuk Jihoon?” Mohon Jiyeon.

“Tidak perlu Jiyeon-ah. Aku sudah menyiapkan satu kerjanjang kecil di sana untuk cucuku yang tampan itu.” Seorang pria menunjuk ke arah meja yang diatasnya terdapat keranjang kecil berisi buah strawberry kesukaan Jihoon.

“Gamsahamnida ahjushi. Jihoon pasti senang sekali.”

“Jangan lupa jika sedang libur ajak Jihoon kemari.”

Jiyeon mengacungkan jempolnya. “Sip!! Aku pulang dulu ahjushi. Sampai jumpa besok lagi.”

Dengan membawa keranjang kecil untuk Jihoon, Jiyeon berjalan keluar dari rumah kaca. Di luar gadis itu menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati udara segar. Tidak terasa sudah 3 tahun Jiyeon tinggal di sini. Ternyata kehidupan di sini jauh lebih baik daripada di kota. Setelah Jiyeon mengirimkan surat cerai pada Seungri, satu bulan kemudian akhirnya lelaki itu mau menandatanganinya. Meskipun sempat tidak yakin Seungri akan melepaskannya tapi sepertinya lelaki itu sadar Jiyeon akan lebih bahagia jika dia melepaskannya.

Ponsel Jiyeon berbunyi dan dia tersenyum saat mendapati nama yang dikenalnnya. “Hallo Oppa.” sapa Jiyeon dengan nada cerianya.

“Aku sudah sampai di stasiun Gangjin. Tapi aku bingung harus kemana. Bisakah kau menolongku?” Pinta Jaehwan.

“Baiklah. Tunggu aku 30 menit lagi.”

“Ya!! Itu terlalu lama.” Protes haehwan.

“Aku baru saja pulang kerja Oppa. Aku harus mengganti pakaianku dulu. Kau mau pingsan jika mencium bauku?”

“Aishh… Baiklah aku akan menunggumu daripada aku tersesat.”

Jiyeon tersenyum geli membayangkan wajah kesal mantan bosnya itu. Gadis itu bergegas pulang untuk membersihkan dirinya. Sampai dirumah gadis itu disambut pelukan dari putranya. Tatapan gadis itu teralihkan pada lelaki yang berdiri memberi salam padanya.

Lelaki itu memiliki rambut hitam yang membingkai wajah ovalnya. Senyumannya membentuk lesung di kedua pipinya. Tapi Jiyeon merasa tak pernah bertemu dengan lelaki itu.

“Anda siapa?” Tanya Jiyeon menggendong putranya.

“Dia adalah tetangga baru kita Jiyeon-ah.” Sahut sang ibu dari dapur.

“Ohh… Aku Park jiyeon.” Jiyeon mengulurkan tangannya.

“Aku Zhang Yixing.” Yixing membalas uluran tangan Jiyeon dengan senyuman manisnya.

“Zhang Yixing? Apakah kau orang China?” Jiyeon menelengkan kepalanya.

“Ya, aku orang China.”

Jiyeon ber-o ria mendengar jawaban Yixing. Lalu dia teringat janji menjemput Jaehwan. “Silahkan duduk kembali Yixing-ssi. Aku terburu-buru harus menjemput seorang teman di stasiun.”

“Bukankah dari sini ke stasiun sangat jauh?”

“Ya, tapi jika aku tidak menjemputnya dia bisa tersesat.”

“Bagaimana jika aku mengantarmu?” Tawar Yixing.

Jiyeon sempat ragu dengan tawaran Yixing namun karena ibunya ikut campur akhirnya mau tak mau Jiyeon menerima tawaran lelaki itu. Setelah membersihkan tubuhnya gadis itu sudah berada di mobil sedan milik Yixing dengan Jihoon diatas pangkuannya. Mobil ini tidak semewah mobil Myungsoo namun tetap nyaman untuk ditumpangi. Jiyeon segera menggelengkan kepalanya mendengar nama Myungsoo dalam pikirannya.

“Eomma kita mau menjemput siapa?” Tanya Jihoon memainkan rambut ibunya.

“Kita akan menjemput teman eomma. Dia adalah bos eomma saat eomma bekerja di Seoul.”

“Kau pernah bekerja di Seoul?” Yixing ikut dalam pembicaraan itu.

“Dulu kami tinggal di Seoul. Apakah kau juga pernah tinggal di sana?”

“Aku tidak suka kota besar. Terlalu bising. Lebih nyaman tinggal di desa. Karena itulah aku pindah kemari.” Ujar Yixing seraya menyetir.

“Kau benar. Aku juga lebih suka di sini. Suasananya sangat damai. Dan orang-orangnya sangat ramah. Udaranya pun sangat segar.” Jiyeon ingat bagaimana orang-orang di kota selalu menjunjung tinggi harta. Siapa yang kaya akan dihormati. Mungkin itu slogan yang cocok untuk kota besar. Namun di desa semua penduduk menganggap hal itu tidak berarti.

Tak lama kemudian mereka sampai di stasiun kecil …. Tak perlu susah payah mencari Jaehwan karena tinggal lelaki itu saja yang berada di stasiun. Jiyeon langsung memeluk Jaehwan merindukan lelaki itu.

“Kau tampak lebih ceria di sini.” Jaehwan menilai perubahan Jiyeon.

“Di sini sangat nyaman Oppa. Aku yakin nanti Oppa tidak akan mau pulang jika sudah merasakan tinggal di sini.”

“Lalu mau dikemanakan caffeku jika kutinggal eoh?”

Jiyeon tertawa diikuti Jaehwan. Yixing hanya melihat mereka dalam diam menunggu dirinya diajak mengobrol.

“Siapa namja itu? Apa dia kekasih barumu?” Bisik Jaehwan melihat Yixing menggendong Jihoon.

Jiyeon memukul pelan bahu Jaehwan. “Tentu saja bukan. Dia tetangga baru kami. Untung saja dia baik hati mau mengantarku kemari. Sebaiknya kita cepat pulang sebelum hari gelap.” Jiyeon menarik Jaehwan menuju mobil Yixing untuk kembali ke rumah.

*     *     *     *

Jaehwan mengeluarkan pakaian dari dalam kopernya lalu memindahkan ke dalam lemari. Jiyeon membantu lelaki itu membereskan peralatan mandi lelaki itu.

“Apa Seungri Oppa masih menemuimu, Oppa?” Tanya Jiyeon dari kamar mandi.

“Tidak. Tapi kudengar dia sudah bekerja lagi di Pabrik pembuat gula.”

Jiyeon kembali ke kamar dan hendak mengambil barang Jaehwan lagi. Namun tangannya terhenti saat melihat wajah Myungsoo terpajang di cover majalah. Ingatan masa lalu bersama Myungsoo kembali terkuak. Jiyeon tidak bisa berbohong jika selama ini dia selalu merindukan lelaki itu. Namun dia berusaha memendamnya dalam-dalam karena Myungsoo hanyalah mimpi indah baginya.

“Dia juga sering menemuiku. Dia ingin sekali bertemu denganmu.” Jaehwan sudah berdiri di samping Jiyeon.

Gadis itu menoleh dan tersenyum seolah dia baik-baik saja. “Tapi aku tidak ingin menemuinya Oppa. Gomawo untuk tidak memberitahukan keberadaanku.”

Jiyeon berbalik dan hendak keluar dari kamar itu. “Kau juga ingin menemuinya kan Jiyeon-ah? Kau sangat tidak pandai berbohong.”

Langkah kaki Jiyeon terhenti tepat diambang pintu lalu menoleh. “Aku memang ingin sekali menemuinya Oppa, tapi aku tidak bisa. Aku akan membantu eomma menyiapkan makan malam.”

Jaehwan menghela nafas melihat Jiyeon keluar dari pintu. Lelaki itu mengambil majalh yang dilihat Jiyeon tadi. ‘Kiprah Kim Myungsoo dalam dunia bisnis’ itu adalah judul artikel itu. Sepertinya setelah Jiyeon pergi Myungsoo tidak lagi menjadi model, dia mulai berkecimpung dalam bisnis seperti ayahnya.

*     *     *     *

Makan malam di rumah Jiyeon diramaikan oleh Jaehwan dan juga Yixing yang ikut menikmati masakan nyonya Park. Ibunya sangat antusias pada kedua tamunya sehingga tak kunjung berhenti bertanya. Jiyeon hanya mendengar pembicaraan itu dengan setengah hati. Gadis itu masih memikirkan Myungsoo. Dia yakin saat ini pasti Myungsoo sudah melupakannya dan menikah dengan gadis yang memiliki tingkat kehidupan sosial teratas.

Jiyeon melahap makanannya tanpa semangat. Dia melihat putra kecilnya memasukkan strawberry besar ke dalam mulut mungilnya.

“Sayang, strawberry itu tidak akan muat di mulut kecilmu. Kau harus menggigitnya kecil-kecil.”

Jihoon mengangguk lalu mengurangi kelebaran mulutnya dan menggigit strawberry itu kecil-kecil. Putra kecilnya itu sangat suka dengan buah berwarna merah itu. Jiyeon memberikan dua jempol pada putranya yang langsung tersenyum senang. Gadis itu hendak fokus pada makanannya sendiri namun dia melihat Yixing tersenyum melihat Jiyeon dan juga Jihoon. Gadis itu membalas senyuman lelaki itu dan hal itu disadari oleh Jaehwan.

Akhirnya Jiyeon kembali menyantap makanannya. Dari pembicaraan sang ibu dengan Yixing, Jiyeon mengetahui jika lelaki itu tinggal di sini hanya untuk menghibur otaknya yang tertekan karena pekerjaannya.

Setelah acara makan malam selesai, Yixing berpamitan untuk kembali ke rumahnya yang tepat berada di samping rumah Jiyeon. Sedangkan gadis bermarga Park itu tengah menidurkan putra kesayangannya.

“Sepertinya dia menyukaimu.” Ujar Jaehwan saat Jiyeon melewati ruang tamu.

“Siapa?” Joyeon menghampiri Jaehwan dan duduk disampingnya.

“Namja China itu.”

“Jangan berpikir aneh-aneh Oppa. Kami baru berkenalan hari ini.”

“Aku heran mengapa Seungri hyung, Myungsoo dan juga Yixing jatuh cinta padamu saat baru bertemu?” Heran Jaehwan.

“Mungkin karena aku memiliki pesona tersembunyi.” Ujar Jiyeon penuh percaya diri.

“Yang benar itu karena kau memiliki hati yang tulus. Dan mereka bisa membacanya sejak awal. Karena itulah mereka menyukaimu secara kilat.”

“Memang paket kilat Oppa? Aku harus tidur. Besok aku harus bekerja.” Jiyeon bangkit berdiri.

“Jika kau bekerja bagaimana denganku?”

“Kau bisa ikut aku bekerja Oppa, atau kau jalan-jalan sendiri. Mungkin saja kau bisa menemukan jodohmu di sini.” Jiyeon tertawa melihat wajah cemberut Jaehwan.

*     *     *     *

Padahal semalam Jaehwan yang diajak Jiyeon untuk membantunya bekerja. Tapi sekarang justru Yixing yang sedang asyik mengumpulkan buah jeruk. Lelaki itu bilang tidak memiliki kegiatan jadi ingin membantu Jiyeon.

“Jiyeon-ah, pacarmu tampan sekali.” Bisik bibi Jung yang merupakan pekerja di sini juga.

“Dia bukan pacarku ahjuma. Dia tetangga baru kami.”

“Mengapa kau tidak menggodanya saja. Bukankah Jihoon membutuhkan appa?” Jahil wanita itu.

“Tidak mau ahjuma. Jihoon sudah cukup bahagia denganku.”

“PARK JIYEON KELUARLAH!!!”

Tubuh Jiyeon membeku mendengar suara itu. Dengan menggunakan pengeras suara sehingga terdengar sangat jelas. Lalu terdengar suara berisik sekali dari arah lapangan. Tampak helikopter tengah mendarat di tengah lapangan. Angin dari baling-baling itu membuat rerumputan tertiup.

“Siapa dia Jiyeon-ssi?” Tanya Yixing.

“Dia Kim Myungsoo.”

Seorang lelaki mengenakan setelan berwarna hitam turun dari pesawat membawa pengeras suara. Jiyeon menatap tajam Jaehwan yang duduk tak jauh darinya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya seakan mengatakan bukan dia yang memberitahu keberadaan gadis itu.

Menemukam gadis yang dicarinya, Myungsoo langsung berlari dan memeluk gadis itu. Namun tak lama karena Jiyeon langsung mendorong lelaki itu.

“Untuk apa kau ke sini?” Tanya Jiyeon berusaha menjaga hatinya yang berteriak senang melihat Myungsoo.

Lelaki itu berbeda sekali dengan Myungsoo yang dikenalnya dulu. Sekarang lelaki itu tampak lebih maskulin dengan tatanan rambut rapi dan setelan kerjanya.

“Aku merindukanmu.” Senyum Myungsoo.

“Apa kau sengaja membawa helikopter itu untuk memperjelas status sosial kita?” Jiyeon menujuk ke arah helikopter yang semakin lama semakin lambat dan berhenti.

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sangat khawatir mendengar kau dekat dengan namja lain karena itu aku langsung berangkat dari gedung kantor untuk menemuimu.”

Lagi-lagi Jiyeon melayangkan tatapan tajamnya pada Jaehwan. Lelaki itu melambaikan tangannya untuk mengatakan bukan dia pelakunya.

“Darimana kau tahu tempat ini?”

“Sebenarnya aku sudah tahu lama keberadaanmu. Aku menyuruh detektif untuk melacakmu. Tapi aku yakin kau akan menolak jika aku menemuimu. Karena itulah selama tiga tahun ini aku berusaha menguasai perusahaan abeoji, dengan  begitu mereka tidak akan menolak semua keinginanku. Jadi maukah kau menikah denganku?”

Para bibi-bibi tampak kagum dengan lamaran luar biasa Myungsoo. Jarang sekali mereka melihat adegan yang hanya bisa mereka liat di drama-drama.

“Jawabanku tetap tidak. Pulanglah.” Jiyeon berbalik meninggalkan Myungsoo membuat lelaki itu dan juga para penonton kecewa.

“Mereka tidak akan berani menghinamu lagi Jiyeon-ah. Aku akan selalu melindungimu.” Myungsoo mengejar Jiyeon.

“Sudah kukatakan aku tidak cocok dengan duniamu Myungsoo-ssi. Aku hanyalah yeoja desa dan kau adalah pangeran dari negeri dongeng. Itu terlalu mustahil untukku.”

Myungsoo menghalangi langkah Jiyeon. “Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa menerima perasaanku Jiyeon-ah? Aku akan melakukannya. Katakanlah.”

Jiyeon menghela nafas melihat ambisi Myungsoo yang pantang menyerah. “Kau tak perlu melakukan apapun. Cukup tinggalkan aku saja.”

“Bagaimana jika aku tidak bisa?” Tangan Myungsoo terulur menyentuh pipi Jiyeon.

Jiyeon berusaha mengontrol jantungnya yang kini tak beraturan. Gadis itu menutup matanya menikmati sentuhan Myungsoo. Namun gadis itu disadarkan jika lelaki dihadapannya adalah Myungsoo, malaikat tampan yang tak bisa digapainya. Jiyeon menepis tangam Myungsoo.

“Pada dasarnya semua orang bisa melakukan apapun. Yang kau perlukan adalah berusaha Myungsoo-ssi. Berusaha lebih keras untuk melupakan aku. ” Jiyeon berjalan melewati Myungsoo tanpa menoleh ke belakang. Gadis itu tengah berusaha mengontrol hatinya. Meskipun ingin sekali berada dalam pelukan Myungsoo saat ini namun itu akan menjadi keputusan yang salah.

*     *     *     *

Dari kejauhan Myungsoo melihat Jiyeon tengah bermain dengan Jihoon dan juga lelaki yang dilihatnya di kebun tadi. Myungsoo tahu siapa lelaki itu, dia adalah Zhang Yixing yang bekerja di salah satu cabang perusahaan Kim.

Yixing mengendong Jihoon untuk mengambil bola yang tersangku di atas pohon. Mereka kembali bermain oper bola bersama Jiyeon. Mereka terlihat seperti keluarga yang memiliki satu anak. Jiyeon bahkan tertawa lepas saat bermain.

“Mengapa kau tidak bisa tersenyum seperti itu saat denganku?” Sedih Myungsoo.

“Itu karena kau berbeda dengan Jiyeon.”

Myungsoo menoleh dan melihat Jaehwan sudah berdiri di sampingnya. Lelaki bermarga Kim itu kembali mengamati Jiyeon dannjuga Yixing.

“Mengapa semua berkata seperti itu? Menurutku tidak ada perbedaan diantara aku dan Jiyeon.”

Jaehwan menghela nafas karena Myungsoo tak kunjung sadar dengan kehidupan Myungsoo yang sangat jauh berbeda dengan Jiyeon.

“Apa selama ini kau sangat mudah mendapatkan uang dan semua keinginanmu?”

“Tidak semudah itu. Aku selalu bekerja sendiri dan mendapatkan uangku sendiri.”

“Itu karena kau menyandang marga Kim. Meskipun kau bekerja sendiri sebagai model tapi apa kau tak pernah berpikir mengapa kau bisa dengan mudahnya menjadi model? Itu semua karena margamu yang sangat disanjung. Orang-orang akan mudah mengikuti semua keinginanmu karena marga itu. Berbeda dengan Jiyeon. Dia harus harus bekerja sangat keras untuk mendapatkan uang. Itulah yang membedakan kalian.”

“Tapi aku tak pernah memilih untuk terlahir dalam keluarga Kim. Jika bisa memilih, aku hanya ingin terlahir menjadi seseorang yang diinginkan Jiyeon.” Tangan Myungsoo menggenggam erat karena marah dengan kehidupannya sendiri. Dia memilih meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat yang biasa di bilang orang-orang dengan sebutan istana.

Sedangkan di taman Jiyeon dan Yixing duduk di bangku untuk beristirahat. Sedangkan Jihoon masih saja bermain seakan stamin anak itu tak pernah habis. Jiyeon tersenyum melihat putranya menggiring bola seraya tertawa senang.

“Mengapa kau menolaknya? Sepertinya namja itu sangat serius menyukaimu.” Yixing mengingat tatapan Myungsoo yang begitu senang saat melihat Jiyeon.

“Dunia kami berbeda.”

“Tapi kau menyukainya bukan?”

Jiyeon menoleh dan terkejut Yixing mengetahui perasaannya. “Apakah terlihat jelas?”

Yixing menganggukan kepalanya. “Kau tampak sulit untuk mengusir namja itu. Dari situlah aku tahu kau memiliki perasaan spesial itu. Sayang sekali aku terlambat masuk dalam kehidupanmu.”

“Apa maksudmu Yixing-ssi?”

“Aku memiliki perasaan yang sama dengan namja itu.” Yixing menatap Jiyeon dan menunjukkan matanya yang berbinar untuk Jiyeon.

Meskipun Jaehwan sudah pernah mengatakan jika Yixing menyukainya, namun Jiyeon masih tidak percaya ungkapan itu keluar dari mulut Yixing sendiri. Selama beberapa hari mengenal Yixing, Jiyeon tahu jika dia adalah laki-laki yang baik dan penuh pengertian. Dia bahkan selalu bermain dengan Jihoon dan membuat putranya tersihir oleh lelaki itu. Namun siapkah Jiyeon melepaskan perasaannya pada Myungsoo dan menyambut Yixing dalam kehidupannya?

Yixing meraih tangan Jiyeon dan menggenggamnya. “Kau tak perlu berpikir sekeras itu. Aku hanya mengungkapkan apa yang kurasakan. Dan aku mohon jangan menjauhiku setelah kau mengetahui perasaanku.”

Jiyeon memberikan senyumannya dan mengangguk menjawab permohonan Yixing.

*     *     *     *

Langit malam kala itu tidak terlalu indah karena para bintang menghilang. Jiyeon duduk di teras dengan masih mendongak menikmati angin malam yang menerpa tubuhnya. Gadis itu masih belum bisa melupakan pernyataan Yixing sore tadi.

Aku memiliki perasaan yang sama dengan namja itu.

Jiyeon langsung teringat Myungsoo yang datang siang tadi. Hati gadis itu seperti kembang api yang meledak-ledak saat melihat Myungsoo berjalan ke arahnya. Ingin sekali gadis itu bisa menggapai Myungsoo, namun kediaman Myungsoo yang bak istana mengingatkan Jiyeon akan siapa dirinya.

Aku benar-benar menyukaimu. Dan aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku inginkan.

Ingatan Jiyeon beralih ke tiga tahun yang lalu. Hari di mana Myungsoo mengungkapkan perasaannya pada Jiyeon. Hatinya sebenarnya sangat bahagia sekaligus sakit. Dia bisa memiliki perasaan Myungsoo tapi tak bisa memiliki lelaki itu seutuhnya.

Suara kayu berderit menolehkan kepala Jiyeon. Nyonya Park duduk disamping Jiyeon dan memberikan senyuman yang mirip dengannya.

“Eomma dengar siang tadi seorang chaebol datang untuk menemuimu. Eomma juga dengar jika namja itu melamarmu. Benarkah itu Jiyi-ah?”

“Memang benar tapi aku sudah mengusirnya.”

Tampak kekecewaan terpasang di wajah Nyonya Park. “Kukira Jihoon akan memiliki appa baru. Sebenarnya beberapa hari yang lalu saat aku menjemput Jihoon di sekolah dia tampak murung. Setelah kutanyakan ternyata beberapa orang temannya menceritakan kehebatan appa meteka namun Jihoon tak bisa melakukannya. Jihoon membutuhkan appa Jiyeon-ah, tapi jika kau belum siap eomma tak akan memaksamu Jiyi-ah.”

Nyonya Park menepuk bahu Jiyeon dan meremasnya lembut. Jiyeon merasakan ibunya berjalan masuk meninggalkan Jiyeon dalam pikiran yang semakin kalut. Dia memijat keningnya yang terlalu pusing. Lenyap sudah kehidupan tenang Jiyeon semenjak kehadiran dua lelaki dalam hidupnya.

“Aku sudah mengusirnya.”

Jiyeon terkejut mendengar suara Jaehwan. Langkah kaki Jaehwan mendekat dan duduk di tempat yang digunakan Nyonya Park tadi.

“Siapa yang kau usir Oppa?” Tangan Jiyeon mengurut dadanya yang masih berdetak kencang karena ulah Jaehwan.

“Chaebol itu.” Jaehwan mengangkat gelas berisi kopi dan meminumnya. “Sepertinya dia sudah pergi karena aku tidak melihatnya lagi sejak sore tadi.”

“Tadi sore?” Jiyeon bertanya dalam hatinya apakah Myungsoo melihatnya saat bersama dengan Yixing.

“Yap!! Dia melihatmu bersama Yixing.”

“Tapi Myungsoo bukanlah tipe namja yang cepat menyerah. Dia bahkan tidak menyerah saat aku masih menjadi milik Seungri Oppa. Jadi apa yang Oppa katakan padanya?” Curiga Jiyeon.

“Aku hanya menjelaskan perbedaan dirinya dengan dirimu. Sepertinya dia mengerti dan pergi.”

Bukankah seharusnya Jiyeon senang karena dia yang menginginkan Myungsoo pergi tadi. Tapi mengapa perasaan Jiyeon merasa sangat sedih mendengar Myungsoo akan menyerah padanya.

“Baguslah. Dengan begitu aku bisa menerima perasaan Yixing. Dia namja yang baik dan dia juga sayang pada Jihoon.” Mulut Jiyeon menguarkan kebohongan yang bertolak belakang dengan hatinya.

Dengan keras Jaehwan meletakkan gelasnya lalu menatap gadis yang sudah lama dikenalnya itu. Kedua tangannya menepuk bahu Jiyeon dan mengguncangkannya.

“Sampai kapan kau membohongi perasaanmu Jiyeon-ah? Aku sudah mengenalmu sangat lama. Aku tahu betul kau hanya menyukai Myungsoo.”

Jiyeon melepaskan tangan Jaehwan dari bahunya. “Apa yang bisa aku lakukan? Selamanya aku tidak pernah pantas bersanding dengan pangeran itu. Akan ada banyak hinaan yang tertuju padaku jika aku bersama Myungsoo.”

“Apa kau akan menyerah begitu saja dengan ucapan oran lain? Myungsoo bahkan tak pernah menyerah padamu meskipun 3 tahun kau meninggalkannya. Myungsoo berkata padaku jika bisa memilih, dia ingin menjadi seseorang yang kau inginkan. Dan sekarang kau membohongi perasaanmu hanya demi ucapan orang lain?”

DEGH…

Ucapan Jaehwan bagaikan kacamata yang memperjelas hatinya. Lelaki itu benar selama ini Myungsoo tak pernah menyerah padanya bahkan meskipun lelaki itu tahu Jiyeon masih memiliki Seungri. Tapi Jiyeon langsung menyerah saat mendengar penghinaan yang dilontarkan keluarga Kim dan orang lain.

Genggaman tangan Jaehwan menyadarkan gadis itu. Tatapan Jiyeon tertuju pada tangan Jaehwan yang ukurannya lenih besar dari tangannya lalu beralih pada wajah Jaehwan yang menampilkan senyuma lebar lelaki itu.

“Kau berhak mendapatkan cintamu Jiyeon-ah. Jangan dengarkan orang lain, dengarkan saja hatimu.”

Senyum Jiyeon lalu memeluk lelaki yang sudah dianggapnya kakak. “Gomawo Oppa sudah membuka jalan pikiran dan hatiku Maukah kau menemaniku menemuinya?”

“Aku akan selalu membantumu menemukan kebahagiaanmu Jiyeon-ah.” Jaehwan membalas pelukan gadis itu.

*     *     *     *

Empat pasang mata wanita tertuju pada Myungsoo yang duduk menatap ponselnya selama 5 jam. Tak ada ekspresi apapun di wajah lelaki itu membuat ibu dan ketiga kakaknya khawatir.

“Eomma apa yang terjadi dengan Myungie kita?” Tanya Sooyeon.

Hessun menghela nafas. “Kemarin Myungsoo kembali menemui yeoja itu. Dan dia lagi-lagi ditolak oleh yeoja itu.”

“Bukankah itu bagus eomma. Yeoja itu menepati ucapannya bukan?” Sahut Yuri.

“Tapi sepertinya Myungsoo benar-benar mencintai yeoja itu. Eomma tak pernah melihat Myungsoo sesedih itu.”

“Eomma aku rasa sikap kita dulu pada Jiyeon sangat keterlalun.” Joohyun berkata dengan sedikit taku jika ibu dan kakaknya marah.

“Kita bersikap benar Joohyun-ah. Yeoja itu berasal dari kalangan rendah. Dia tidak pantas menjadi bagian dari kita.” Sooyeon membela diri.

“Kita diciptakan sebagai manusia dan Jiyeon juga manusia. Jadi kita dan Jiyeon sama eonnie. Tidak seharusnya kita membedakan dia. Hanya karena di tidak memiliki harta melimpah.” Joohyun menatap ibu dan kedua kakaknya. Putri ketiga itu menyentuh tangan ibunya. “Eomma, eomma bilang belum pernah melihat Myungie sesedih itu. Dia bahkan tidak mau makan sejak kemarin. Aku sangat menyayangi Myungie eomma. Jadi kumohon ijinkan yeoja itu berada di sisi Myungie. Hanya Jiyeon yang bisa mengembalikan kebahagiaan Myungie.” Mohon Joohyun.

Heesun melihat Myungsoo menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Mata putranya itu menatap langit dan dari sudut mata lelaki itu ada kilauan air mata yang turun melewati pelipisnya. Sang ibu itu berdiri dan meninggalkan tempat itu. Joohyun merasa kecewa karena ibunya tidak mau mendengar ucapannya. Begitupula kedua kakaknya yang menatapnya tajam sebelum akhirnya mengikuti sang ibu pergi.

“Gomawo sudah membantuku noona.”

Tanpa disadari Joohyun, Myungsoo sudah berdiri di sampingnya. Wanita itu  berdiri dan memeluk adiknya itu. “Noona tahu Jiyeon adalah gadis baik. Noona merasa bersalah karena tidak membantunya saat eomma dan eonnie mengoloknya.”

“Tidak apa-apa noona. Jiyeon adalah gadis yang kuat dia pasti bisa mengatasinya. Noona bisakah kau membantuku?”

Jiyeon melepaskan pelukannya dan menatap adik kesayangannya itu. “Aku pasti akan membantumu Myungie.”

*     *     *     *

Langkah Jiyeon dan Jaehwan terhenti saat netra mereka menangkap sebuah bangunan besar bak istana dari negeri dongeng berdiri kokoh di hadapan mereka. Jaehwan meremas tangan Jiyeon lembut.

“Kau pasti bisa Jiyeon-ah.” Jaehwan memberi semamgat padanya.

Jiyeon menoleh dan mengangguk seakan keberaniannya kembali lagi. Mereka kembali melangkah dan dua orang pelayan membukakan pintu untuk mereka.

“Anda ingin menemui tuan dan nyonya Kim bukan? Silahkan mrreka ada di ruang tamu menunggu.” Jelas salah satu pelayan yang mengenakan maid berwarna putih biru.

Pelayan itu mengantar Jiyeon dan Jaehwan menyusuri rumah dengan arsitektur …. Dulu Jiyeon pernah masuk kemari namun tak pernah melihat keindahan rumah itu karena terlalu sibuk mengatur hatinya yang sesak.

“Abeoji tidak akan mengijinkan kau keluar dari keluarga Kim. Kau adalah putra kami satu-satunya. Dan kau adalah harapan abeoji untuk meneruskan perusahaan.” Ujar tuan Kim membuang kertas berisi surat yang menyatakan Myungsoo keluar dari anggota keluarga Kim. Berkat suami Joohyun yang bekerja di dinas sipil Myungsoo bisa mendapatkan surat itu. Namun dia harus mendapatkan tanda tangan ayahnya agar surat itu sah dalam hukum.

Jiyeon melihat kejadian itu berhenti melangkah. Gadis itu pun melihat Myungsoo berlutut di hadapan sang ayah.

“Aku mohon abeoji tanda tangani surat ini. Aku hanya ingin yeoja yang kucintai bisa menerimaku tanpa memiliki perbedaan status sosial.”

Nafas Jiyeon tercekat mendengar permohonan Myungsoo. Dia rela membuang marganya hanya untuk Jiyeon. Lelaki itu rela melakukan apapun agar bisa bersama Jiyeon. Dan sekarang Jiyeon merutuki kebodohannya yang tak mau memperjuamgkan perasaannya pada lelaki itu.

“Aku tidak membutuhkan tinggal di istana, pakaian bagus, makanan enak maupun perusahaan besar yang menunggu kupimpin abeoji. Aku hanya membutuhkan Jiyeon. Kumohon abeoji.” Myungsoo masih berlutut di hadapan ayahnya memohon.

Joohyun dan Yuri tampak terkejut dengan keputusan adik mereka namun Heesun tampak lebih terkejutmelihat putranya memohon untuk keluar dari data keluarga Kim. Putra yang selama ini amat disayang dan dimanja olehnya memohon agar bisa keluar dari rumah ini. Itu adalah hal paling menyakitkan bagi seorang ibu.

“Ijinkan aku bersama dengan Myungsoo.”

Semua oramg terkejut melihat Jiyeon sudah berada disamping Myumgsoo dan berlutut. Myungsoo yang melihat pujaan hatinya berada di sampingnya merasa tak percaya. Lelaki itu bahkan harus mencubit tangannya agar mengetahui apakah dia sedang bermimpi.

“Aku Park Jiyeon memang tidak terlahir dari keluarga dengan harta yang melimpah. Aku adalah gadis biasa yang sudah memiliki putra berumur 3 tahun. Tapi aku tak pernah melihat Myungsoo dari harta yang dimilikinya. Myungsoo yang aku kenal adalah namja baik hati, ramah dan sayang padaku juga jihoon.” Jiyeon menatap Myungsoo yang masih diam membeku. “Aku akan melakukan apapun yang anda minta asalkan ijinkan aku bersanding dengan Myungsoo.” Jiyeon membungkuk pada kepala keluarga Kim itu.

“YA!! Kau tidak….” Nyonya Kim menahan Joohyun yang hendak meluncurkan penghinaan.

Wanita berumur 50 tahunan itu berdiri dan berjalan mendekati Jiyeon dan Myungsoo. Heesun berlutut dan menyentuh bahu Jiyeon menbuat gadis itu mendongak. Jiyeon menguatkan hatinya untuk mendengar cemoohan. Namun gadis itu terkejut saat wanita itu memeluknya.

“Seorang eomma pasti sangat ingin putranya menikah dengan yeoja terbaik. Tapi terkadang eomma tidak pernah memikirkan apakah yeoja terbaik itu juga akan menjadi yeoja terbaik di mata putranya. Namun kemarin aku sadar yeoja terbaik adalah yeoja yang bisa membuat Myungsoo tersenyum bahagia. Dan Joohyun bilang hanya kau yang bisa membuat Myungsoo tersenyum. Tolong maafkan sikapku yang kasar dulu.” Heesun meneteskan air matanya.

Joohyun tersenyum senang melihat ibunya bisa merubah cara pandangnya begitupula Myungsoo yang mulai melengkungkan bibirnya. Bagi lelaki itu ini adalah hari paling membahagiakan untuknya. Penantiannya selama ini tidak sia-sia.

*     *     *     *

“Mengapa kau menyembunyikan perasaanmu?” Tanya Myungsoo berjalan keluar rumah keluarga Kim dengan menggandeng tangan gadis yang resmi menjadi kekasihnya.

“Mianhae. Aku terlalu takut dengan penghinaan orang-orang jika kita bersama.”

“Padahal aku sudah menyogok hyungku agar bisa melepaskan embel-embel Kim dari namaku. Tapi hal itu percuma saja karena abeoji dan eomma sudah mengijinkan kita bersama.”

Jiyeon menghentikan langkahnya dan menarik Mtungsoo menghadap ke arahnya. Jiyeon tak bisa berhenti tersenyum karena merasa sangat bahagia bisa berdekatan dengan Myungsoo kembali.

“Kau selalu rela melakukan apapun agar bisa diterima olehku. Mianhae aku terlalu bodoh untuk tidak memperjuangkan perasaan itu.”

Tangan Myungsoo merapikan rambut Jiyeon yang berantakan karena angin. Lelaki itu mendekatkan wajahnya dan menempelkan binirnya di kening Jiyeon, mata Jiyeon, pipi Jiyeon dan berakhir di bibir gafis itu. Kecupan-kecupan lembut Myungsoo di balas oleh Jiyeon. Bahkan saat ini tangan gadis itu sudah melingkar di leher lelaki itu.

Myungsoo melepaskan ciuman itu dan menatap wajah Jiyeon begitu dekat. “Aku sangat mencintaimu Park Jiyeon.”

“Aku juga sangat mencintaimu Kim Myungsoo.” Jiyeon memeluk lelaki itu erat seakan tak ingin lagi berpisah darinya.

“YA!! Apa kalian akan mengacuhkanku terus?”

Sepasang kekasih itu menoleh dan melihat wajah kesal Jaehwan. Ternyata sedari tadi lelaki itu hanya bisa melihat adegan romantis itu dalam diam.

“Mianhae Oppa. Bagaimana jika kita makan siang bersama. Aku akan mentraktirmu Oppa sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantuku.” Usul Jiyeon.

“Baiklah traktiran diterima tapi aku tidak akan membiarkan adegan mesum tadi terlihat di depan mataku lagi.” Jaehwan berjalan melewati Jiyeon dan Myungsoo membuat sepasang kekasih itu harus terdorong menjauh. Myungsoo menarik kembali Jiyeon karena tak ingin kekasihnya itu jauh-jauh darinya.

*     *     *     *

Yixing duduk di sofa dan menggenggam sepucuk surat yang diberikan nyonya Park. Di tengah amplop itu tertulis namanya. Dia membukanya dan mengeluarkan selembar kertas. Tulisan tangan Jiyeon yang rapi berbaris di atas kertas itu.

Untuk Zhang Yixing.

Meskipun kita baru beberapa hari berkenalan, aku sudah tahu kau adalah namja yang baik Yixing-ssi. Kau juga sayang terhadap putraku Jihoon. Dan aku sangat terkejut mendengar kau secepat itu menyukaiku. Aku sangat menghargai perasaanmu Yixing-ssi. Tapi mianhae aku tak bisa menerima perasaanmu itu.

Kau benar mengenai perasaanku pada Myungsoo. Meskipun aku sudah berusaha membuang perasaan itu, tapi Myungsoo yang sangat keras kepala itu sangat sulit untuk kulupakan. Karena itu kuputuskan untuk memperjuangkan perasaanku itu.

Mianhae jika aku sudah menyakiti hatimu Yixing-ssi. Kuharap kau menemukan seseorang yang juga memiliki perasaan yang sana denganmu.

 

Park Jiyeon

 

Yixing menghela nafas berat lalu nelemparkan surat itu ke atas meja. Dia menyandarkan kepalanya di punggung kursi dengan mata terpejam. Dia sudah gagal meraih hati Jiyeon meskipun sejak awal dia tahu Jiyeon sudah menyukai orang lain. Tapi pada akhirnya Jiyeon lebih memilih lelaki itu.

~~~THE END~~~

Maafkan aku jika terlalu panjang dan lama. Dan juga maaf jika banyak yang belum aku edit. Terlalu lama jika aku harus mengeditnya.

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s