[Vignette] Ambang


Ambang

LDS, 2017

GOT7 Yugyeom x LOONA Haseul

Friendship-ish Romance, Fantasy, Drama, GrimReaper!AU // Vignette // Teen and Up

.

Bulu putih, bulu hitam, pesawat yang terbelah dua, dan raga-raga berdarah. Di antara semua itu, Haseul menjadi eksistensi paling terang dengan gravitasi tinggi, sehingga dalam diam pun, ia  mampu menggerakkan Yugyeom untuk mendekat. Sang dara bisa jadi merupakan cahaya yang dibendakan, atau kondensasi nebula, atau manusia biasa berjenis wanita yang cantiknya senantiasa salah tempat karena ia ditemukan di tempat-tempat sarat duka, seperti pemakaman atau rumah sakit. Kali terakhir Yugyeom menghabiskan waktu dengan Haseul adalah setelah ibunya dikuburkan—dan pikirannya digantungi gadis itu selama satu dekade lebih akibat sebuah terima kasih yang lupa disampaikan.

Tanpa mengacuhkan keretak tulang-tulangnya, Yugyeom merangkak menuju patahan sayap pesawat, di mana Haseul berdiri dengan hanya mengenakan selapis terusan putih bergaris-garis silang.

“Berhenti.”

Suara Haseul kokoh seperti gunung es, tak tergoyahkan suhu padang salju di bawah nol derajat. Angin meniup surai hitam sepinggang yang tampak begitu berkilau; Yugyeom sendiri penasaran bagaimana helai-helai itu akan terasa di celah-celah jemarinya, saat ini. Ia pernah membelai rambut Haseul dulu, menidurkan sang kawan sambil menunggu jemputan dari taman kanak-kanak, dan baru membangunkan Haseul untuk pamit ketika ayahnya datang.

(Namun, tabrakan beruntun di mana ayahnya tewas lebih mendominasi ruang kenangan si pemuda hari itu ketimbang kelembutan rambut Haseul.)

“Jo Haseul.” Segumpal darah diludahkan Yugyeom ke sisi demi memperjelas kalimatnya. “Kau Jo Haseul, kan?”

“Yugyeom-a, jangan bicara, jangan bergerak, tetap di situ dan kau akan hidup.”

‘Yugyeom-a’ kata Haseul, seolah-olah sedang menyapa teman karibnya—memang teman karibnya. Ada kelegaan menyisipi dera nyeri ketika Yugyeom mengetahui dirinya tidak sendirian menjaga jejak Haseul di hati.

“Ha—“

“Kubilang jangan mengatakan—”

“Tapi aku harus!” Patahan rusuk Yugyeom mungkin melesak ke salah satu organ saat ia meninggikan suara; nyerinya bukan main. “Ada banyak yang ingin kukatakan!”

Sekilas, Yugyeom mendapati rasa bersalah dalam obsidian dingin sahabatnya. Bibir Haseul yang terkatup menjadi isyarat bagi Yugyeom meneruskan, menumpahkan apa yang menyangkut di tenggorokan selama sekian tahun pada sang obyek rindu.

“Kau,” –Susah betul mengatur napas biar dadaku tidak nyeri, keluh Yugyeom— “ke mana saja selama ini?”

Alih-alih balasan berbelit yang sudah diantisipasi si penanya, Haseul menyampaikan satu kalimat  dengan makna lebih tersurat; bukan karena dia tahu Yugyeom ‘tidak punya banyak waktu’, kan?

“Aku menjemput mereka yang sekarat dan membawa mereka bersamaku ke hadapan Tuhan.”

Apa?

“Ingat pertama kali kita bertemu di taman bermain? Apa yang terjadi dua hari kemudian? Lalu nenekmu yang datang berkunjung saat kita main petak-umpet, belum lupa kan yang terjadi padanya keesokan harinya? Kita tertidur berdua di ayunan taman kanak-kanak, lantas ayahmu menjemput, dan berikutnya apa? Jeon Jungkook teman baikmu yang kita jenguk di rumah sakit, ibunya meneleponmu malam hari untuk mengabarkan apa? Terakhir, ibumu yang lemah tapi sangat menyayangimu itu. Aku menemanimu menungguinya satu Sabtu, kau tak akan lupa.”

Pikiran kanak-kanak Yugyeom dahulu tidak menjangkau sesuatu di balik serangkaian kematian yang Haseul sebutkan. Kakak Yugyeom yang tak bisa berjalan sejak lahir, tahu-tahu berhenti bernapas di atas kursi rodanya sore itu setelah diperkenalkan pada Haseul. Nenek Yugyeom terpeleset dan kepalanya terbentur lantai kamar mandi; ia meninggal sebelum sempat bermain lama dengan cucunya. Jungkook yang bilang Haseul cantik saat dibesuk, malam itu dijemput maut dan membuat Yugyeom menangis tak henti-henti. Ibu Yugyeom, ibunya yang sakit-sakitan itu juga pergi tanpa salam perpisahan pada sebuah Sabtu muram.

Dan Haseul hadir di setiap tetes air mata Yugyeom, setia mendampinginya melalui setiap kesepian, rumah duka, serta peti mati. Tanpa disadari, Yugyeom jadi tergantung pada seseorang dengan niat awal yang melenceng jauh dari perkiraan.

Haseul selanjutnya menegaskan bagaimana pandangannya tentang ikatan mereka selama ini.

“Aku bukan sahabatmu. Aku hanya menjalankan tugas dan pergi jika urusanku selesai. Tidak semestinya kau mencariku seakan-akan aku bernilai bagimu karena kamu tidak akan pernah berharga untukku.”

Begitukah?

Yugyeom ingin kecewa, tetapi getaran halus pada bibir Haseul menyajikan kontradiksi dari pernyataan barusan. Katakanlah Haseul memang tak punya kepentingan selain bisnis jiwa ini, maka tentu sikap bersahabatnya akan terasa palsu, tidak bakal mampu membantu Yugyeom menanggung beratnya kehilangan. Faktanya berlawanan. Presensi Haseul mengokupasi sebagian besar masa kecil Yugyeom, sesendok gula untuk masing-masing tangis pahit, sebatang pilar untuk menyangga badan besar Yugyeom yang aslinya rentan.

Dalam perjalanannya menjadi dewasa, Yugyeom mengenali beragam bentuk tipuan. Serpih-serpih memorinya bersama Haseul tidak menyerupai satu pun di antara mereka.

“Baiklah, kau kelihatannya belum percaya. Seluruh penumpang pesawat ini, kecuali kau, akan aku ‘seberangkan’ sebentar lagi. Perhatikan.”

Mengulurkan tangan kanan ke depan dengan telapak membuka, Haseul menerbangkan bulu-bulu dua warna ke luar melalui bukaan-bukaan bangkai pesawat. Yang putih, yang hitam, semua melingkar di awang-awang mengelilingi gadis itu, sejenak memukau Yugyeom sebelum satu persatu lenyap dalam pecahan sinar.

Jika sebelumnya bulu-bulu tadi berada dekat masing-masing tubuh tak bernyawa di belakang Yugyeom …

“…itu semua adalah jiwa orang yang sudah meninggal?”

“Kau akan menjadi salah satunya jika tidak berhenti berbincang denganku,” ancam Haseul. “Diamlah kalau aku menyuruhmu diam, kepala batu.”

Bukan. Haseul tidak mengatakan itu karena jengkel, melainkan karena takut keadaan Yugyeom memburuk selagi berbicara dengannya. Lihatlah, lengan Yugyeom sudah goyang, tidak sanggup terus menegakkan tubuh dan menjaga wajah pemuda itu tetap menghadap Haseul. Lebih baik Yugyeom cepat ambruk saja, jadi energi yang dipakainya menyokong badan bisa digunakan untuk hal penting lain, bernapas misalnya.

Bulu terakhir menghilang dalam tempias cahaya putih.

“Kau sudah melihatku menjalankan tugas. Masih tetap menganggapku teman lamamu?”

Berada di batasnya, lengan Yugyeom akhirnya terkulai lemas dan pemiliknya jatuh. Seketika sisi wajahnya tergigit dingin salju; napasnya makin tak teratur.

“Ya,” Susah-payah Yugyeom memutar kepalanya untuk menentang mata Haseul, “kau masih sahabatku, Haseul-a, manusia maupun bukan.”

Segenggam kristal es halus di tangan Yugyeom berangsur leleh seiring usahanya bangkit, tak peduli berapa kali lagi ia harus kembali roboh. Ia berharap kesungguhannya akan mengusik satu titik peka di hati Haseul. Seteguh apa pun perempuan itu terlihat, jika ia masih Haseul yang Yugyeom kenal, cepat atau lambat ia pasti akan luluh.

“Tujuan dari semua perjalananku …” Yugyeom menghela napas kasar, “… hingga detik ini, adalah buat menemukanmu. Aku … tidak mau merusak pertemuan kita … dengan membuangmu seperti itu.”

Ya, inilah saat yang tepat. Masih banyak yang ingin Yugyeom utarakan, tetapi bintik-bintik gelap yang menghalangi cahaya mencapainya seolah memperingatkan kritisnya waktu.

“Haseul-a, terima kasih …”

… untuk bersamaku di setiap lara, setiap kehilangan, setiap tangis, dan menjagaku tetap bahagia di hari-hari tergelap. Kita memiliki masa lampau dan masa sekarang, sayangnya kita tak punya masa depan; sering aku penasaran bagaimana hari esok yang ada dirimu di dalamnya. Kenangan tentang dirimu yang tanpa senyum hari ini akan kuubah sendiri nanti, bila Tuhan masih memberiku kesempatan untuk mengenangmu ….

Tatkala raganya tumbang, Yugyeom tidak menyesali ketidakutuhan ujarannya. Paling tidak, ia telah menyampaikan bagian yang terpenting. Sisanya biar ia simpan untuk Haseul terka, kalau-kalau gadis itu ingin tahu; tidak juga tidak masalah.

“… gyeom. Hei, Kim Yugyeom.”

Panggilan Haseul teredam oleh siksa nyeri yang mencegah Yugyeom melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri, termasuk berpikir. Sebuah erangan sekarat diloloskannya, entah mencapai Haseul atau tidak. Ajal sedang menarik-ulurnya. Ingin menyerahkah ia pada hidupnya, meski banyak asa yang belum berhasil direngkuh? Sebaliknya, adakah baginya alasan bertahan jika ia tahu Haseul tak akan menapaki masa depannya?

Sebelum memutuskan, jantung Yugyeom berdenyut untuk yang penghabisan, kemudian ia membeku. Kaku.

***

“Yugyeom-a.”

Langkah Haseul berat menghampiri sahabatnya yang seolah membatu. Ketika berlutut, si gadis menemukan sehelai bulu putih di tangan Yugyeom.

Tidak. Jangan.

“Yugyeom-a. Hei, Kim Yugyeom.”

Haseul sudah mengguncang-guncang bahu pemuda yang ia sebut namanya, tetapi ia tidak kunjung memperoleh respons. Ditepuk-tepuknya pelan pipi Yugyeom—tidak bekerja juga. Telapak Haseul berhenti beberapa lama di sisi wajah dingin itu, naik ke pelipis untuk mengusap darah di sana, lalu turun lagi, ke bibir bawah, terakhir ke dagu.

Yugyeom terlihat lelah dan sedih setelah nyawanya tercerabut; mengapa? Padahal jiwanya tidak berbercak, tanda tiada dosa yang memperberat lepasnya ruh.

“Kau sudah melihatku menjalankan tugas. Masih tetap menganggapku teman lamamu?”

Apa karena ini?

“Diamlah kalau aku menyuruhmu diam, kepala batu.”

Atau yang ini?

“Aku bukan sahabatmu.”

Atau ini, yang terburuk dari semuanya?

Tapi Haseul mengucapkan hal-hal menyakitkan supaya Yugyeom membencinya, sehingga memudahkannya menyaksikan Yugyeom menjemput ajal. Haseul tahu bahwa Yugyeom menjadi satu dari jiwa-jiwa yang mesti ia pulangkan, tetapi menjalankan tugas ini menjadi amat berat dengan pemahaman akan betapa ‘hidupnya’ Yugyeom. Ia penuh semangat dan impian, agak dungu tapi selalu optimis, serta mencengkeram erat satu kerinduan yang biasanya langsung dilepas orang dan membiarkan perasaan itu menuntunnya ke arah cinta.

Sosok Yugyeom yang seperti itu, yang Haseul sayangi, tidak pantas mati.

Ah.

Setelah dipikirkan, sepertinya Haseul—dengan pendapat yang ia kira benar—merupakan pihak yang keliru. Alih-alih mengupayakan agar Yugyeom berubah jadi seorang pembenci di ambang maut, mengapa Haseul tidak memberinya kematian yang mendamaikan? Sulit buat Haseul, mungkin, tetapi lebih baik untuk Yugyeom.

“Maaf.”

Haseul ragu-ragu memindahkan bulu putih dari telapak Yugyeom ke genggamannya.

“Maaf mengecewakanmu. Kau benar; aku masih sahabatmu. Milikmu.

Dengan hati-hati, Haseul merebahkan Yugyeom hingga wajah letih itu kini menghadap langit tanpa mentari. Ia lantas menarik napas panjang.

Dan, aku ingin hidup dalam kenanganmu sebentar lagi.

Haseul meniup lembut sejumlah udara ke dalam bibir Yugyeom seraya meletakkan bulu putih di tangan sang kawan.

Sampai jumpa dalam bunga tidurmu, Yugyeom.

***

Deru helikopter pencari membarengi degup tak lazim yang tahu-tahu mengetuk bagian dalam dada Yugyeom.

“… seul-a.

Telunjuk Yugyeom berkedut, jari tengahnya menyusul. Jantungnya berdegup lagi. Lagi. Lagi, dalam tempo yang teratur.

“Jangan pergi.”

Tidak ada jawaban sebab sang pemberi jawaban terbaring di sebelahnya, terlelap selamanya dengan senyum amat samar yang ia harap bisa diingat Yugyeom seterusnya.

TAMAT


mungkin ini yg disebut impresionisme. risetnya minim banget. dan mereka berdua saya pair karena mvnya hard carry dan let me in-nya haseul itu sama2 ada bangkai pesawatnya *iya geje sih.

 

One thought on “[Vignette] Ambang

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s