[Oneshot] Happen Ending


 

Happen Ending

Presented by Honeybutter26

Yixing x Wendy

PG-17

Sad Romance

Oneshot

Am I really in love? Or am I dating to break up?”

 

***

Yixing pikir dia telah menemukan rumah. Tempat dimana ia bisa mengistirahatkan diri kala lelah mendekap. Ia pikir, akhirnya ia menemukan arti kata pulang. Bergelung di bawah hangat selimut dan dekapan lembut sang terkasih.

 

Yixing pernah menaruh ekspektasi yang tinggi pada hubungan ini. Tapi akhirnya ia jatuh, yang sialnya kali ini ia jatuh terlalu keras hingga rasa sakitnya tak tertahankan. Semua rangkaian tulang dalam tubuhnya seakan remuk redam.

Ia mengetukkan sloki dalam genggamannya dua kali, meminta bartender menuangkan lagi Whiskey ke dalam gelas. Pada akhirnya Yixing selalu berakhir seperti ini. Malam-malamnya diisi dengan alkohol dan gaung musik elektro. Tarian gila di bawah sana bukan favorit Yixing. Dia lebih suka duduk di depan counter dan melihat Chanyeol meracik minuman untuknya hingga dia teler.

 

“Kau putus lagi, kawan?” Chanyeol lontarkan tanya yang dibalas Yixing dengan sebuah gumaman tanpa berniat mengalihkan pandang pada si penanya.

 

“Kupikir kalian akan ‘jadi’. Ternyata berakhir juga.”

 

“Kupikir juga begitu. Tiga bulan, kupikir kami akan menjadi sesuatu tapi ternyata kami bukan apa-apa.”

 

***

 

Ponselnya berdering satu kali. Ada pesan masuk. Melirik sebentar untuk melihat notifikasi kemudian mengembuskan napasnya terlalu kasar. Lampu merah dan jalanan yang lenggang membuat pikirannya memutar kembali kenangan yang telah terlewat.

 

Ia ingat mereka pernah saling bergandeng tangan. Tertawa lepas seakan sesuatu yang seperti sekarang tak pernah terjadi. Seakan mereka akan hidup bahagia bersama untuk selamanya.

 

Ponselnya berdering sekali lagi dan kali ini Yixing benar-benar muak. “Ada apa?” Itu sebuah tanya, tapi nadanya seru penuh penekanan.

 

“Pulang, Xing.”

 

“Apa pedulimu?”

 

“Pulang. Jangan minum terlalu banyak dan menyetirlah dengan pelan.”

 

Satu embusan kasar keluar dari saluran pernapasannya. Keadaan ini membuat dewa batin  dan bawah sadar Yixing kembali berperang hebat.

 

“Berhenti melakukan hal yang tidak perlu, Wendy. Bukankah ini maumu untuk berakhir?” Yixing tahu dia terlalu kasar pada Wendy. Tapi sungguh ini bukan maunya. Ada bara yang selalu siap memercik emosi pada dirinya tiap kali gaung suara Wendy menggetarkan gendang telinga. Yang mana bara itu adalah bentuk kekecewaan sekaligus penyesalan bagi Yixing karena melepas Wendy dari genggaman.

 

Wendy.

 

Wanita itu mantan kekasih Yixing sejak lima bulan yang lalu. Harusnya selama kurun waktu itu Yixing telah sanggup untuk melupakan dan membakar semua kenangan dengan api dari neraka. Akan tetapi eksistensi Wendy masih terlalu erat untuk dikaitkan padanya. Ditingkahi dengan beberapa perhatian yang terkadang masih Wendy berikan pada Yixing.

 

Sejujurnya ia muak. Andai Wendy tahu betapa sulit dan sengsaranya Yixing untuk bernapas ketika wanita itu mengucap kata putus. Hari itu Yixing merasakan seperti jiwanya dicabik-cabik hingga koyak.

 

“Wen, bisakah kau hanya berjalan pada jalanmu dan tidak perlu lagi menoleh padaku? Aku membencinya, lebih besar dari kebencianku padamu.”

 

Lantas Yixing melempar ponselnya ke bagian belakang mobil. Persetan jika mungkin ponselnya rusak atau retak. Ada hal yang jauh lebih penting untuk ia patri atensinya lekat-lekat, yaitu hatinya yang kembali menjadi pecahan kaca yang berserakan.

 

Wendy selalu saja membuat semuanya jadi semakin dan semakin sulit tiap waktu. Ini adalah hal yang teramat Yixing benci. Kepedulian dan perhatian yang masih Wendy berikan acap kali membuatnya terbunuh dan hatinya terbakar oleh api.

 

Jika saja Wendy bersikap sewajarnya, Yixing akan dengan mudah membenci wanita itu. Mengubur kata cinta yang pernah mereka perjuangkan mati-matian jauh di dalam relung hatinya, membungkusnya dengan kotak baja, menggemboknya dengan sandi yang amat sulit yang tak mungkin dapat ia ingat sehingga Yixing tak perlu lagi untuk membukanya kembali. Ia akan tersenyum dengan lebar,hidup dengan baik, makan dengan baik, meski itu hanya sekedar kepura-puraan demi memenuhi perannya sebagai salah satu aktor dalam drama yang disuguhkan dunia. Karena Yixing tak akan pernah sudi untuk meletakkan harga dirinya di atas tanah dan mengemis untuk dihibur oleh Wendy. Tidak. Tidak lagi.

 

***

 

Adalah sebuah kebohongan besar ketika Yixing mengatakan bahwa ia tak butuh cinta. Cinta sejati, sehidup semati atau apalah nama sialan yang lainnya. Yixing pikir itu seperti UFO, sebuah mitos yang berkembang di masyarakat dengan peradaban yang terlampau kuno. Yixing tak tahu apa itu hati dan bunga.

 

Romansa.

 

Yixing selalu berpikir bahwa itu sejenis makanan babi. Ia bukan anak dari hasil romansa. Ayah ibunya menikah karena uang, itu berarti Yixing adalah robot yang berhasil mereka hasilkan untuk meraih tujuan yang sama di masa depan. Itulah mengapa baginya wanita hanya seperti karya seni, bayar dengan mahal maka ia jadi milikmu.

 

Hingga ia bertemu dengan Wendy. Segala sesuatu yang sudah ia tata dengan baik dalam hidupnya dijungkirbalikkan dengan mudah oleh Wendy. Gadis itu berada di kutub yang berbeda dengannya. Ya, itulah alasan yang paling mutlak kenapa Wendy bisa menarik atensi Yixing terlampau jauh.

 

Yixing yang hedonis, Wendy yang sederhana. Yixing yang suka memaksa, Wendy yang keras kepala. Yixing yang tak percaya romansa, dan Wendy dengan buku roman klasik karya Austen dan Bronte dalam pelukannya menarik Yixing hingga larut dalam cerita, terbuai pada alur kisah cinta Elizabeth Benneth dan Mr. Fitzwilliam Darcy yang diberi gula dimana-mana.

 

Untuk pertama kali dalam hidupnya Yixing merasa seperti … hidup. Hidup yang normal seperti orang-orang. Pergi ke kedai kopi, membukakan pintu mobil, menarik kursi makan, membeli es krim, menonton film, kencan yang menyenangkan di taman bermain dan kesemuanya ia lakukan bersama Wendy.

 

Itu semua membuat Yixing bukan hanya berpikir bahwa ia telah menemukan sebuah cinta tapi juga cita. Akhirnya Yixing merasa benar-benar memiliki rumah, sebuah kenyamanan dan kehangatan bernama kasih sayang yang selama ini hanya ia anggap sebagai mitos belaka. Wendy membawanya pada hal-hal menyenangkan yang belum pernah terjadi pada hidupnya. Ada banyak pengalaman pertama yang menyenangkan yang mereka lewati bersama.

 

Pun dengan pengalaman pertamanya tentang patah hati.

 

Yixing tak ingat apa alasan mereka berdebat begitu hebat malam itu. Semua yang ia ingat hanya teriakan dan makian. Ia ingat Wendy menyebutnya sebagai bajingan. Ia ingat semua air mata Wendy, ia ingat kata perpisahan yang seperti sebilah pedang yang memotong tubuhnya jadi dua bagian.

 

“Aku tak tahu kalau kau sebegini brengseknya, Zhang!” Yixing sedang menelpon personal asistennya untuk mengatur ulang jadwal esok hari ketika sekonyong-konyong Wendy datang dengan makian dan sebuah tamparan yang mendarat di pipi kanannya. Itu panas. Apakah Wendy menamparnya atau melempar bara?

 

“Apa maksudmu?” Nadanya ditekan, mengikuti apa yang wanitanya lakukan. Terang saja itu memercik emosinya, ia bahkan tak tahu hal sialan apa yang telah ia perbuat hingga membuat Wendy datang dengan bara di tangannya.

 

Lantas yang terjadi berikutnya adalah berlembar-lembar kertas foto terlempar tepat di wajah, dan Wendy masih tak berkata apa-apa. Ia mengeraskan bibirnya, berharap dapat menahan emosi yang mulai membakar kerongkongan. Ketajaman netranya dibalas dengan hal yang sama oleh Wendy. Well, Wendy adalah satu-satunya orang yang tak terpengaruh dengan sinar laser imajiner yang keluar dari dwimanik karamelnya.

 

Yixing melirik ke bawah, dan sekonyong-konyong darah di wajahnya menghilang. Pupilnya membesar, kepalanya pening karena baru saja dihantam sebuah ingatan yang terlupa.

 

“Sialan, itu dia! Itu adalah hasil dari alkohol yang terlalu berlebihan,”  bawah sadarnya memaki dan melemparkan vas bunga tepat ke kepalanya. Di lantai, berserakan potret Yixing yang memeluk seorang wanita dengan rambut brunette dan lipstik merah pelacur, dan poin pentingnya adalah mereka sama-sama telanjang di balik selimut sutra berwarna merah hati.

 

“Wendy, aku bisa jelaskan.”

 

Dobel sialan! Suaranya tergagap. Ini semakin memudahkannya untuk ditangkap. Sementara dewa batinnya menyeringai lebar, sedang mengasah pedang untuk menebas lehernya sendiri.

 

“Cukup! Ya, ini adalah kau, dan sampai kapan pun itu tak akan pernah berubah. Kau … seseorang yang menganggap wanita sebagai sebuah karya seni yang dibayar mahal untuk kemudian kau nikmati.”

 

Oh, Yixing benci ini. Yixing benci ketika mereka berdebat, tapi ia lebih benci ketika Wendy melibatkan air mata ke dalam perdebatan mereka. Itu membuat Yixing pecah berkeping, hancur dan susah untuk diperbaiki.

 

“Kumohon, jangan menangis. Aku akan sangat membenci diriku lebih dari sebelumnya jika aku menjadi alasan untuk air mata itu.”

 

Tapi Wendy tak pernah mau mendengarkannya. Si keras kepala yang cantik dan bermulut cerdas. Dia masih menangis, suaranya terisak dan Yixing merasakan peluru ditembakkan ke jantungnya satu persatu.

 

“Wendy, please.”

 

“No, don’t touch me. Don’t fucking dare to touch me!” Wendy mendesis, giginya saling mengatup dan bibirnya mengeras. Wanita itu telah dibakar oleh amarah. Mungkin sebentar lagi dia hangus jadi abu jika Yixing bersikeras untuk membawa Wendy pada pelukannya yang nyaman dan hangat.

 

Okay, i don’t. But, please stop, baby. Please,” suaranya merintih. Berharap bisa sedikit mengusir asap hitam yang selimuti mata hati wanitanya.

 

“Sayang, ini hanya salah paham. Aku bisa jelaskan semua yang ingin kau dengar.” Tapi Wendy menggeleng dengan keras.

 

“Sial, itu penolakan,” batinnya berkata.

 

“Sepertinya aku mencoba terlalu keras. Ya, aku kelelahan sekarang. Ini lebih sulit dari yang aku bayangkan.”

 

Oh, tidak.

 

Jangan.

 

Kumohon.

 

“Baby … we need to talk! Aku akan menjelaskan semuanya. Ini hanya salahpaham, sayang.”

 

Tiba-tiba Wendy tertawa dengan keras, tawa yang penuh luka tapi juga penghinaan. Yixing tidak bisa menerima, matanya menatap Wendy semakin tajam.

 

“Salahpaham? Salahpaham kau bilang? Kesalahpahaman sialan apa yang kau lakukan hingga membuat wanita itu hamil, Zhang Yixing?”

 

Di luar cuaca benar-benar terik. Di sini juga benar-benar panas karena perdebatan mereka seperti perapian yang bocor dan akibatkan kebakaran. Namun entah kenapa Yixing merasa kehangatan menjauh dari tubuhnya. Jantungnya berhenti memompa darah dan ia mual karena hatinya naik ke mulut.

 

“Apa maksudmu?”

 

Oh shit, dia tergagap.

 

“Bagaimana mungkin?”

 

Ya, bagaimana mungkin? Bagaima mungkin ulat spermanya bisa sampai di rahim seorang wanita? Yixing adalah orang yang selalu berhati-hati dalam berhubungan. Wendy adalah satu-satunya komitmen yang ia miliki dan tak akan ada lagi.

 

Lantas bagaimana bisa? Apakah si ulat itu memakai jurus kepakan sayap ayam atau gigitan buaya?

 

Sial.

 

“Wendy … itu … itu tidak mungkin. Aku selalu bermain aman selama ini.”

 

Oh, mulut dan logika sialan. Pengakuan yang tidak sengaja bahwa Yixing memang main belakang. Tapi semenjak bersama Wendy ia tidak pernah melakukan itu lagi. Karena semua yang Yixing ingin dan butuh hanya Wendy seorang. Tiada yang lain. Wendy itu candu yang paling nikmat, tiada yang bisa menandingi eksistensi wanita itu. Dan memikirkan bahwa mungkin Wendy meminta putus membuat Yixing serasa mengalami gagal jantung.

 

“Tidak. Bukan begitu. Aku tidak lagi melakukan hal-hal itu selama kita bersama. Percayalah padaku, sayang.” Yixing tak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan. Dewa batin dan bawah sadarnya kompak menggali kubur bersama.

 

Wendy kembali tertawa atas penjelasan Yixing. Semua bukti sudah jelas ada dan pria itu masih berusaha mati-matian untuk menyangkal. Wendy tahu jika seharusnya ia tak perlu menaruh kepercayaan setinggi langit pada pecinta wanita macam Yixing.

 

“Tidak, ya? Lalu bagaimana kau menjelaskan ini, huh? Umurnya dua minggu. Titik kecil itu umurnya dua minggu, Zhang. Kau benar-benar sialan!”

 

Tangannya gemetar saat matanya membaca setiap kata yang terrcetak di atas kertas. Oh, sialan ini dari Megan. Pelacur sialan. Ia pasti dijebak. Ya, pelacur itu punya dendam mati padanya karena Yixing mencampakkannya beberapa bulan yang lalu setelah hubungan mereka yang dikira wanita itu adalah sebuah romansa tetapi ternyata bagi Yixing hanya sekedar urusan ranjang belaka.

 

Yixing mencoba mengingat, ia menarik logika dan bawah sadarnya untuk bersama-sama membongkar brangkas memori di dalam otak. Malam itu adalah pesta kolega untuk sebuah proyek yang akhirnya bisa menyentuh mufakat untuk dikerjakan bersama. Ada banyak minuman, rokok, kacang-kacangan yang ditempatkan dalam mangkuk-mangkuk mewah dan wanita dengan pakaian tak senonoh serta lipstik merah membakar.

 

Yixing ingat ia sama sekali tak menaruh minat pada pesta itu. Satu gelas Bollinger tak akan sanggup membuatnya teler. Kecuali seseorang memang berniat membuatnya seperti itu. Sialan. Itu dia. Yixing hanya ingat bagian seseorang memapahnya di koridor lalu terbangun telanjang dengan Megan di dalam dekapan keesokan harinya.

 

Tapi itu sekitar sepuluh hari yang lalu. Kalau begitu apa itu masih masuk dua minggu? Ya Tuhan, kepalanya pening.

 

“Kita akhiri saja ini, Zhang.”

 

Jantungnya berhenti berdetak. Itu adalah McMillan TAC 50, pelurunya menembak di tempat yang tepat untuk membuatnya mati dalam satu kedipan. Pandangannya buram, meski ia telah mencoba membuka lebar matanya.

 

“Wen … Wendy … tunggu kau tidak bisa. Aku tidak bisa. Tidak, aku tidak bisa menerima kata putus darimu. Tidak.” Yixing menggeleng keras. Pupil matanya menggelap seperti perasaannya.

 

“Tidak, Zhang. Aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku sudah menahannya sekuat yang aku bisa. Tapi aku muak. Aku muak dengan sikapmu yang tak pernah bisa kau ubah dan aku muak dengan semua campur tangan ibumu pada hubungan kita.”

 

“Ibuku?” Alisnya berkerut, sebuah pemikiran yang tak diinginkan berlomba menusuk kulit kepalanya dengan jarum. Ia mulai pening.

 

“Ya, ibumu. Katakan padanya berhenti mengganggu hidupku karena aku sudah bukan pelacurmu lagi.”

 

Itu dia titik apinya.

Wendy mengeluarkan semua isi tas besar yang ia bawa. Ada iPhone, Mac, beberapa buku, dan kunci mobil. Yixing tak menyukai ini, susah payah ia membujuk Wendy untuk menerima pemberiannya dan wanita itu mengembalikan semua itu padanya dengan seenak jidat. Namun ia masih tak sanggup bergerak, kepalanya penuh oleh banyak hal. Tapi yang paling mendominasi adalah Ibunya.

 

Apa maksud Wendy menyebut Ibunya ikut campur dengan hubungan mereka? Lantas Yixing tersadar dan dibawa kembali pada kenyataan ketika ketukan suara boots Wendy diatas lantai bergerak menjauh. Ia segera mengejar, namun Wendy menyuruhnya berhenti. Hal terakhir yang ia ingat dari perpisahan mereka ada ucapan selamat tinggal yang disertai air mata dari Wendy.

 

***

 

Yixing memandang bayangan yang memandangnya dengan pupil besar di dalam cermin. Tatapannya mengejek, ditingkahi dengan bibirnya yang membentuk satu garis. Ada garis hitam tebal di bawah matanya dan tulang pipinya terlihat begitu tajam.

 

Dia mengerikan.

 

Dan itu dirinya.

 

Sial.

 

Yixing tak tahu efek putus sebegini menyeramkan. Ini pertama kalinya ia patah hati. Biasanya dia yang mencampakkan dan kini ia yang dicampakkan. Rasanya menyedihkan. Kepalanya pening tiap kali mengingat apa yang telah terlewati.

 

Wendy sudah tahu kebenarannya. Tapi wanita itu masih bersikeras menolak permintaan Yixing untuk kembali. Ya, Wendy sudah tahu, bukan hanya dari mulutnya tapi dia melihat sendiri. Bahwa semua ini hanya akal-akalan ibunya agar mereka berpisah. Wanita itu bertemu dengan Megan di sebuah bar, sedang bersama seorang pria. Dia mabuk dan bermain-main dengan gairah. Jelas sekali tidak mencerminkan wanita hamil yang dicampakkan.

 

Namun, Wendy sudah memutuskan untuk menyerah dan Yixing benci itu. Ia berkata semua akan jadi percuma untuk mereka berdua meski Yixing berkali-kali meletakkan lututnya pada bumi. Memohon sedikit kesediaan Wendy untuk kembali.

 

“Asal kau tahu saja aku menjalin hubungan denganmu demi semua uang itu. Ya, Ibumu benar. Aku adalah pelacur kecil yang berniat mengambil hartamu.”

 

Itu adalah apa yang Wendy katakan di kesempatan terakhir. Ia tahu betul Wendy tak seperti itu, tapi mengapa wanita itu berkata demikian? Yixing masih mencari alasan pasti, jika semua ini karena ibunya, Yixing bersedia menanggung segalanya demi melindungi cinta mereka. Karena cintanya masih membara, namun kini telah hangus jadi abu. Tapi bekas dari itu masih tinggal di dalam dirinya.

 

Ibarat alkohol, Wendy berikan kesenangan sementara sebelum menyiksa kepala Yixing dengan seribu pukulan di pagi hari. Hangover. Seperti semua perhatiannya selama ini. Itu membuat Yixing tak bisa berpikir dengan benar. Ia butuh Advill, tapi Wendy tak bersedia memberikan itu padanya.

 

Minggu lalu ia melihat Wendy bergandengan tangan dengan seorang pria. Mereka bercanda, bahkan memiliki interaksi dan kontak fisik yang sedikit intim. Seperti sepasang kekasih. Dan mereka memang sepasang kekasih.

 

Wendy sudah move on.

 

Sedang ia masih terjebak nostalgia.

 

Dia baru tahu jika cinta bisa tinggalkan sakit yang separah ini. Ia kacau, tak terurus, dan depresi. Otaknya menimbang hal yang sama setiap saat.

 

Benarkah ini cinta?

 

Apakah ia benar-benar jatuh cinta?

 

Atau dia berkencan untuk berpisah?

 

Begitu mudah bagi mereka untuk berakhir. Tidak. Bukan untuk Yixing, ini masih sama beratnya ketika pertama kali ia menyadari bahwa akhirnya ia terjerat cinta pada Wendy dan tak mau mengakui. Dan yang membuat Yixing membenci ini lebih dari apapun adalah bahwa akhirnya ia hanya bisa menerima. Semua usahanya telah ditolak, dan Yixing benci penolakan. Tapi Wendy memang selalu punya nyali sekeras batu meteor untuk bisa menentang Yixing.

 

Yixing sadar bahwa jika ada awal maka akan ada akhir. Namun, ia tak mau munafik jika dia tak pernah memimpikan sebuah akhir yang bahagia. Seperti sebuah cerita dongeng. Cinderella mungkin, atau Snow White. Bukan dongeng tragis layaknya Little Mermaid. Ia merasa seperti Ariel yang berakhir jadi buih di lautan sekarang. Atau sekalian saja jika ingin membuat ini jadi lebih tragis, biarkan mereka berakhir seperti Montague dan Capulet.

 

Terkadang, ia masih berpikir apakah ini hanya benar-benar meninggalkan bekas luka padanya ataukah Wendy hanya berpura-pura untuk terlihat baik? Dari sudut pandangnya, dialah satu-satunya yang menderita, namun dewa batinnya kadang bergumam bahwa itu adalah pemikiran yang salah.

 

Logikanya masih bersikeras jika tidak seharusnya perpisahan ini terjadi. Dewa batinnya ikut menambahi dengan mengikat Yixing pada rantai kemudian menyeretnya untuk berjalan menuju rumah Wendy, mengetuk pintunya lantas mengemis sekali lagi. Dan mungkin mereka bisa melibatkan air mata mahal untuk membeli kembali kasih sayang Wendy.

 

Tidak.

 

Ia memnag tak sanggup menipu dirinya lagi. Tapi ia merasa jauh lebih tak sanggup jika harus melakukan itu. Jika Wendy sudah move on, pun seharusnya ia juga bisa. Entah ini cinta, atau ia memang berkencan hanya untuk berpisah, maka biarkan saja itu jadi sebuah kenangan yang akan ia kubur dalam-dalam di hatinya.

 

Ya, begitulah seharusnya.

 

FIN

 

WATTPAD @honeybutter26

 

maafkan segala typo dan keanehannya, diharapkan segera minum air putih atau susu untuk mengurangi efek racunnya

One thought on “[Oneshot] Happen Ending

  1. Iya habis ini aku minum susu
    Drama bgt ya ini dan paragraf gamonnya Yixing diakhir panjang bgt lgsg kuskip
    Trs yg ada MacMillan 50 itu maksudnya apa, semacam perumpamaankah? Aku ngira Yixing ditembak beneran

    Keep writing!

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s