[Vignette] The Heart Wants What It Wants


 

The Heart Wants What It Wants

 

Songwriters :  Honeybutter26

Artist : Kim Myungsoo (Infinite L) x Helena

Genre : Sad Romance

Duration : Vignette

Rating : PG -15

https://honeybutter26.wordpress.com/

“Myungsoo pikir dia sanggup, akan tetapi kakinya tetap berdarah tiap kali ia berusaha berjalan di atas pecahan hatinya.”

 

Myungsoo kira putus adalah hal yang paling mudah. Ia hanya cukup mengucapkannya dengan bibir dan mereka berakhir. Ia tak perlu kembali mengingat apa yang telah terlalui, entah itu tentang memoar atau kebiasaan yang pernah mereka lakukan bersama.  Tapi itu hanya sebuah sugesti, realita memukul kepala Myungsoo dengan keras hingga sugesti itu terlempar ke neraka dan hangus di dalamnya.

Jika ia tahu akan begini jadinya, ia akan merekatkan kembali pecahan rasa cinta itu dengan segala sifat keras hati dan keras kepala yang dianugrahkan kepadanya. Persetan dengan jemarinya yang mungkin tergores bahkan berdarah. Asal hatinya tetap baik-baik saja. Asal dia bisa hidup dengan sebaik-baiknya kehidupan.

 

Pikirnya putus tak memiliki efek domino yang begitu dahsyat. Pikirnya putus hanya akan membuat dia sedikit merasa hampa karena beberapa hal yang biasanya mereka lakukan bersama kini hanya ia lakukan sendiri. Pikirnya ia akan baik-baik saja dengan itu, sebelum mereka bersama dia juga melakukan hal-hal itu sendiri, jadi bukan hal yang buruk untuk kembali melakukan hal-hal itu sendiri.

 

Tapi siapa sangka kehampaan itu membuat Myungsoo merasa seperti di ambang kematian. Dia masih bernapas, namun rasanya sesak. Dia merasa lapar, tapi tak sedikit pun memiiki gairah untuk menyentuh makanan. Dia merasa lelah, tapi ketika matanya memejam hal yang terjadi berikutnya adalah terbangun dengan peluh sebesar biji jagung membasahi pelipis serta napas yang terengah.

 

Mimpi buruk.

 

Benar-benar mimpi yang sangat buruk ketika bayangan kabur tentang bagaimana mereka berakhir terus menghantui bunga tidurnya. Setiap memoar itu terputar begitu lambat dan berulang-ulang. Kalimat putus itu menembus gendang telinganya hingga nyaris membuatnya berdarah. Sebuah hal yang terlambat Myungsoo sadari bahwa ternyata itu membawa beribu penyesalan.

 

Ia tak pernah menyangka bahwa Helena membawa sebuah candu yang luar biasa. Sebuah tendensi yang membuat Myungsoo tak bisa lepas, candu yang membuatnya sakau jika tak ada. Kepergian Helena membawa pukulan besar yang tinggalkan perasaan sakit teramat sangat dan terus menerus.

 

Setiap kepingan kenangan yang terputar membuat Myungsoo merasa pening bukan kepalang. Di kala benak mengingat bagaimana air mata itu jatuh, Myungsoo merasakan batu meteor jatuh di atas kepalanya. Menghantam begitu keras, rasa panasnya membakar Myungsoo hingga jadi abu.

 

***

 

Myungsoo lelah, sungguh. Dia hanya ingin hidup tenang, menikmati masa mudanya tanpa beban dan hanya berisi segala macam kesenangan seakan esok kiamat tiba. Myungsoo bukan spesies manusia yang suka berada dalam situasi yang rumit dan acapkali membuat kepalanya pening. Dia masih punya toleransi tentang memiliki komitmen. Tapi bukan berarti Myungsoo menyerahkan seluruh hidupnya untuk diatur orang lain.

 

Bahkan jika itu Helena, kekasihnya yang tercinta.

 

Dulu.

 

Sebelum perasaan itu tergerus oleh hujan, erosi dan mengendap dalam hatinya. Bukan karena Myungsoo bosan, ia hanya lelah. Lelah akan sifat mereka berdua yang sama-sama keras dan tak mau mengalah. Myungsoo dengan jiwa mudanya dan Helena dengan segala rantai yang coba untuk mengikat Myungsoo agar tetap di sisi.

 

“Berhenti, Helen! Kau bukan istriku,kenapa kau terus menerus mengatur segalanya tentang hidupku?” Akhir-akhir ini Myungsoo lebih sering berteriak ketimbang menyenandungkan kata cinta di telinga Helena. Pria itu jadi seperti kertas, lebur jika terkena air dan hangus jika terkena api.

 

Helena merasakan darahnya membeku, perasaan cinta yang dulu hangat itu kini berubah jadi sebongkah es yang enggan meleleh. Biasanya dia bisa menjadi kuah kari oleh kalimat yang terucap dari belah bibir Myungsoo. Namun sekarang dia merasakan kulitnya terkoyak dan darahnya menetes berserakan di lantai akibat dari kalimat Myungsoo yang lebih tajam dari belati.

 

“Kita akhiri saja semua ini, Helen. Ini sungguh tidak akan ada artinya lagi jika kita hanya berakhir untuk selalu menyakiti satu sama lain.”

 

“Aku yang lebih terluka, kenapa kau merasa jika aku menyakitimu jauh lebih dalam?”

 

Tentu saja Helena ingin membalas ucapan Myungsoo dengan kalimat itu. Namun lidahnya terlalu kelu. Pahit yang Myungsoo teteskan ke telinganya berangsur ke ujung lidahnya hingga ia mati rasa. Semua aksara itu tertinggal di tenggorokkan, bertumpuk hingga penuh dan Helena nyaris sesak karena kerongkongannya yang terhimpit.

 

Siapa bilang Helena tidak merasakan lelah yang sama? Dia juga lelah akan sikap Myungsoo yang seperti tak lagi menganggap keberadaannya sedikit pun. Beberapa kali Helena harus menyeka sendiri air mata yang luruh di pipi atau menata kepingan hatinya yang pecah karena Myungsoo lempar dengan keras. Pria itu berkata ia terlalu egois dan pemaksa kehendak, namun Helena hanya ingin membuat kehidupan Myungsoo yang tak teratur itu menjadi lebih baik.

 

Salahkah ia? Terlalu egoiskah dirinya? Atau ia terlalu kolot? Burung memang terbang bebas membelah cakrawala, tapi ia tak pernah lupa ke mana dia harus berpulang. Helena pikir dia sudah memberikan segala kebebasan itu pada Myungsoo. Dia tetap diam dan berusaha tersenyum saat Myungsoo berdekatan dengan gadis-gadis lainnya kendati hatinya telah jadi abu sebab terbakar oleh api cemburu. Dia tak pernah melarang Myungsoo untuk bertemu dengan teman-temannya, ia tetap bertopeng senyum kendati Myungsoo melakukan yang sebaliknya.

 

Jika boleh jujur, ada seribu alasan bagi Helena untuk meninggalkan Myungsoo. Kata berakhir tentu saja pernah melintas dalam benaknya bahkan mungkin sebelum Myungsoo menjadi sedingin dan setipis ini. Tapi dia hanya punya satu alasan mutlak mengapa ia lebih memilih menggores hatinya dengan belati dan menabur garam di atas lukanya.

 

Because Myungsoo is life.

 

Ya, Myungsoo adalah hidupnya. Seribu kali ia berpikir untuk pergi, seribu kali pula hatinya meraung memilih untuk mati daripada pergi. Terobsesikah ia? Ia sadar bahwa Myungsoo bukan hanya sekedar tendensi, Myungsoo adalah candu. Alasan yang membuat Helena tetap bertahan, dia takut sakau jika harus hidup tanpa Myungsoo.

 

Nama pria itu telah memenuhi setiap inti sel dalam tubuhnya. Myungsoo ada dalam pekat aroma kopi paginya. Myungsoo hadir dalam lelehan peluhnya di siang hari. Myungsoo tak pernah sekali pun absen dari doa-doanya yang tersemat di sudut malam. Lantas apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia dipaksa melepas eksistensi Myungsoo dari hidupnya?

 

Mungkin Helena akan mati. Mati yang berarti konotasi dan denotasi. Dia mungkin nekat menyayat nadinya atau mungkin tetap hidup dengan jiwa yang sekarat. Namun kali ini dewa batinnya kompak berteriak menyuruh Helena untuk mati. Mungkin sisi putihnya telah lelah dan memilih memihak pada si hitam, sejak tadi otaknya terus saja memberikan perintah agar lidah Helena mengucap kata berakhir.

 

“Jadi kau lelah? Kau lelah denganku? Kau lelah dengan hubungan kita?” Kalimat tanya yang terlontar itu tentu saja hanya menjadi sebuah tanya retoris. Semua gelagat dan emosi yang Myungsoo tunjukan tiap kali mereka bersama sudah menjadi jawaban yang cukup jelas.

 

“Lalu, bagaimana denganku? Apa kau pikir aku tidak lelah dengan semua egomu itu? Dengan semua emosi yang selalu kau tumpahkan padaku tak peduli apa aku melakukan kesalahan atau tidak. Aku juga lelah, Myungsoo. Jauh lebih lelah dan sakit dari yang kau bayangkan.”

 

Mata mereka saling bersirobok. Di balik cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya, Helena dapat menangkap setitik cahaya berbeda dari netra Myungsoo yang sebelumnya penuh oleh bara emosi.

 

Rasa penyesalan kah?

 

Atau bahkan Myungsoo merasa tak perlu merepotkan dirinya ntuk peduli atas rasa sakit yang mendera Helena.

 

Persetan!

 

Helena tak membutuhkan perasaan itu. Dia tak menginginkan lagi belas kasih dari Myngsoo. Ia tak mau ambil peduli atas apa yang kini tengah dirasakan Myungsoo. Karena jika ia harus pergi, setidaknya dia sudah mengeluarkan sebongkah beban yang menghimpit aliran darahnya selama ini.

 

“Apa kau tahu seberapa banyak rasa kecewa yang aku sembunyikan selama bersamamu? Apa hanya kau yang berpikir bahwa ini semakin melelahkan? Tahun-tahun yang kita lewati bersama, asal kau tahu saja itu tetap menjadi hal terindah dala hidupku meski aku harus menelan semua rasa kecewaku karenamu.

 

Baiklah, kita akhir saja. Seperti maumu. Terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku. Kau tetap menjadi yang terindah bahkan sampai saat ini. Maaf jika aku membuatmu merasa terluka dan terbebani.”

 

Helena benar-benar mencabut jiwanya sendiri. Air mata tak berhenti mengalir meski ia terus menerus menyugesti otak dan hatinya bahwa ia akan baik-baik saja. Lantas Helena pergi dengan langkah tertatih karena ia berjalan di atas pecahan hatinya yang berserakan di lantai. Telapak kakinya terasa sakit untuk setiap langkah yang ia ambil, tapi sayangnya itu adalah sebuah luka yang tak berdarah jadi Helena tak tahu bagaimana harus mengobatinya.

 

Sementara Myungsoo hanya terpaku di tempat. Sejak kalimat pertama yang diucap oleh Helena pendengarannya hanya berisi denging yang menyakitkan. Melihat bagaimana Helena meluapkan segala amarah hingga air mata membasahi hampir seluruh paras ayunya membuat ia seperti disiram dengan lelehan besi panas.

 

Perasaan sesak yang aneh sekonyong-konyong datang dan memeluknya dengan erat. Debum suara pintu selayak bom atom yang meledakkan hatinya hingga tinggalkan hampa. Myungsoo tak mengerti, berkali-kali hatinya bertanya pada otaknya, ‘Ada apa ini?’ tapi dia tak dapat menemukan satu pun jawaban. Ada perasaan sakit yang menghantam di ulu hati, nyerinya menjalar ke seluruh tubuh. Matanya memanas, dan air mata luruh tanpa malu.

 

Dia yang menginginkan semua ini, ia telah memutuskan semuanya dengan matang berdasar pada seribu alasan yang ia punya kenapa mereka harus putus. Namun alasan-alasan itu seakan menendang jiwa Myungsoo dari raganya.

 

***

 

Tiga tahun kini telah berlalu sejak hari itu. Setiap detik terasa seperti selamanya bagi Myungsoo. Pikiran dan hatinya masih selaras tertuju pada satu nama, Helena. Kebodohan Myungsoo membawa petaka yang jauh lebih besar. Helena pergi. Wanita itu pergi ke tempat di mana Myungsoo tak bisa lagi menemukannya. Bukan, Helena masih hidup. Wanita itu masih bernapas dan hidup dengan baik.

 

Tempat itu mungkin jauh lebih tak tergapai daripada sebuah kematian. Jika Helena mati, Myungsoo mungkin akan ikut, terjun dari ketinggian kemudian jatuh dengan kepala yang pecah bukanlah hal buruk jika itu untuk Helena.

 

Rumah.

 

Ya, Helena telah menemukan rumahnya yang sejati. Sebuah rumah yang bisa wanita itu datangi saat lelah selimuti malamnya, yang menjadi pelindungnya kala badai menghantam bumi. Setahun lalu, temannya mengabari bahwa Helena telah dipinang oleh seorang pria. Sebuah kenyataan yang menghantam kepala Myungsoo dengan keras hingga pening itu tak pernah hilang sampai saat ini.

 

Tak ada yang bisa dipersalahkan. Kebodohan dan gelap matanya sendirilah yang telah menjerumuskan Myungsoo pada kubangan lumpur penyesalan. Dunia seakan menertawainya dan neraka berpesta pora akan dirinya yang kini dipeluk erat nestapa. Bisikan setan telah berhasil menyentuh hatinya dan kini mereka tengah menikmati hasil dari itu. Seorang anak adam yang kehilangan jiwa karena sebuah keegoisan yang diteteskan lewat telinganya berhasil menutup mata hati serta akal sehat.

 

Adalah sebuah kebohongan saat Myungsoo berkata bahwa ia ikut bahagia saat melihat bagaimana bibir Helena membentuk sudut senyuman yang begitu candu. Apalah arti sebuah kebahagiaan jika itu bukan bersebab dari dirinya. Ada orang lain yang membuat Helena tersenyum dengan begitu cantik, sementara yang ia ingat hanyalah memoar tentang air mata Helena yang tak pernah sempat ia seka.

 

“Berapa banyak kata maaf yang harus aku ucapkan agar sesak ini lenyap dari dadaku, sayang? Ini menyiksa, sungguh. Rasanya aku ingin mati saja. Tapi bahkan mati pun rasanya tak pernah cukup untuk menebus semua kesalahan yang kulakukan padamu.”

 

Ada kebiasaan baru yang dimiliki Myungsoo sejak mereka berakhir. Memandangi potret Helena yang begitu cantik tanpa sekali pun merasakan bosan sembari lengkung bibirnya bergumam sejuta maaf. Dinding mungkin telah bosan terus mendengar sajak rindu yang keluar dari bibir Myungsoo. Lantai pun mungkin telah muak diberi hiburan berupa deraian air mata dari anak adam yang tak pernah berhenti mengekspreksikan sesal.

 

“Kenapa cinta begitu sialan? Kenapa cinta begitu dekat dengan iblis? Helen, maafkan atas semua khilaf yang aku lakukan padamu. Aku mencobanya, aku telah berkali mencobanya hingga lelah. Tapi melupakanmu ternyata bukanlah hal yang mudah. Bagaimana ini? Kakiku bahkan telah mati rasa untuk merasakan sakit dan perih karena menginjak pecahan hatiku sendiri. Maafkan aku. Maaf.”

 

Ya, Myungsoo telah berkali-kali mencoba. Tapi melupakan ternyata bukan perkara yang mudah. Tidak seperti apa yang ia pikirkan saat kata putus memenuhi kepalanya dulu. Hatinya tahu apa yang ia inginkan, tapi iblis menutup akal sehatnya dengan bisikan sesat akan kebebasan yang fana. Kini, seribu alasan yang pernah ia utarakan agar mereka dapat mengakhiri kisah kasih berbalik menjadi bomerang yang meleburnya hingga jadi abu. Penyesalan jadi satu-satunya hal yang memenuhi setiap tarikan napas.

 

FIN

2 thoughts on “[Vignette] The Heart Wants What It Wants

  1. Wow, been so long not read any ff then found this and its catch my attention aaaaanddddd thank god it’s good! Thanks to honey author who’ve made and share this.
    Kehilangan emang diakhir, kalo diawal namanya pendaftaran mas myungsoo *ngomong sama poster* 😂😂😂
    Nice!

    1. Tuhh maaas tuhh dengerin.. penyesalan itu selalu dateng terakhir.. mangkanya jangan suka maen hati maaaas.. itu tuh hati bukan boneka yang bisa ditinggalin kalo bosen sama diinjek injek kalo gemesh /nhalho baper/

      Maacih lhoo ini maacih syekali.. padahal ini tulisannya kek cakar ayam begini.. aku terharu 😢😢

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s