[OneShot] Our Spring


a7f7f109c4150069445961482a2d6d1ac9a2d8e7_hq[1]

A story by narinputri

 

[Golden Child] TAG x OC

School life!AU, fluff, friendship

general // oneshot

 

“Tapi, kita masih bisa bertemu seratus tahun lagi, kan?”

Bila saja bukan karena terpaksa, ia tak akan mau mengikuti kedua orangtuanya yang seringkali berpindahtugas ke tempat lain. Hal tersebut membuatnya tak ingin terlalu dekat dengan tetangga, bahkan teman satu kelas sendiri. Karena mereka yang datang, pasti akan pergi juga pada akhirnya, bukan?

“Hinako!”

Gadis tersebut hanya menoleh malas kala Jooe memanggil namanya penuh semangat.

“Nanti siang mau ikut menonton pertandingan basket di gelanggang? Kak Jaehyun ikut bermain hari ini!” ucap Jooe merangkul pundak Hinako pelan.

Awalnya tak ada respon dari gadis tersebut, sekali lagi Hinako malas berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling yang tak lama lagi akan ditinggalkannya.

“Ajak saja yang lain, aku tidak suka keramaian,” jawab Hinako dengan bahasa lokal di negara itu sebisanya lantas pergi meninggalkan Jooe begitu saja.

Disusuri lorong kelas sembari memandang halaman sekolah, di mana pohon bunga cherry blossom mulai bermekaran. Musim semi, berharap sekali Hinako menikmatinya bersama kedua orangtua di bawah bunga cherry blossoms, sambil menyantap nasi kepal berisi buah plum kering dan telur dadar. Sayang tradisi tersebut telah ditinggalkan ketika sang ayah menjadi Duta Besar dan harus ikut berpindah.

Tak kuasa menahan rindu, diayunkan tungkai jenjangnya ke arah lapangan sekolah dengan cepat hingga berdirilah Hinako pada salah satu pohon cherry blossoms yang sebagian besar telah bermekaran. Dihirup wangi sang bunga serta hangat angin musim semi tahun ini. Perasaan bergelora menyusup ke hati, dengan siapa ia akan menikmati? Orangtuanya terlalu sibuk, teman sekelas pun hampir semua tak dikenalnya. Mungkin dengan anak laki-laki yang saat ini tengah menyodorkan semangkuk es krim mau menemani.

Tunggu… Seorang anak laki-laki?

Benar, seorang pemuda tersenyum manis berdiri di sampingnya, menyodorkan semangkuk es krim strawberry yang masih segar dan membuat Hinako hampir terkena serangan jantung ketika menoleh.

Ichigo aji no aisukurimu desu1.”

Sedikit terperangah kala pemuda tersebut bisa berbahasa Jepang dengan fasih.

Anata wa nihongo jouzu desu ne2! Sugoi3!” Untuk pertama kali Hinako begitu senang adanya seseorang yang bisa berbicara bahasanya secara fasih di tempat yang asing baginya.

Hai, arigatou gozaimasu4! Aku memang pernah ke Jepang dulu, tentu saja aku bisa,” balas sang pemuda masih menyodorkan es krim yang hampir meleleh pada Hinako.

Sebenarnya gadis itu masih asing dan sangsi pada pemuda di hadapannya. Apakah ia teman sekelasnya? Karena Hinako memang tak hapal siapa saja. Memilih untuk tak menerima es krim tersebut yang Hinako lakukan, meskipun memang sempat bersemangat di awal.

“Sebelum es krimnya mencair. Ayolah, kita nikmati musim semi ini sama-sama. Katanya kau butuh teman, kan? Kenalkan, namaku Youngta—“

Belum sempat ia selesai berkenalan, Hinako sudah melangkah pergi menjauh dari tempat tersebut. Sedikit berdigik ngeri bagaimana bisa tahu jika ia tidak ingin menikmati musim semi sendirian. Pikirannya kemana-mana, belum ada sebulan Hinako tinggal di tempat ini, sudah ada penguntit saja. Apa mungkin karena anak seorang Duta Besar, jadi banyak orang yang mengincarnya? Oh, Hinako mungkin terlalu banyak menonton film drama-action, yang jelas semoga saja tak bertemu dengan anak itu lagi besok.

.

.

.

Katakan hari ini Hinako cukup malas untuk mengikuti pelajaran olahraga di lapangan. Perutnya tengah sakit karena bulan tengah datang menjenguknya.

“Hinako, kau sakit?” Seungri memandang Hinako khawatir sebab wajah gadis itu pucat sekali. Hinako sendiri sebal mengapa terlahir dengan kulit yang begitu putih dan akan membuatnya terlihat seperti vampir jika tengah sakit.

Seungri enggan meninggalkannya sendirian. Namun peluit tanda berkumpul membuat Hinako mau tak mau berjalan menahan rasa sakit bersama Seungri yang berjalan tak jauh di belakang.

“Kau yakin tak apa-apa? Sungguh, Hinako, kau ini sangat pucat seperti vampir,” Seungri kembali mengulang kata-kata yang membuat si gadis Jepang itu semakin sebal.

Alih-alih meninggalkan Seungri dengan langkah secepat kilat, perut Hinako semakin lama seperti terpelintir dan dirasakan sebuah bola keras tengah menghantam kepala menimbulkan jutaan bintang bertebaran di matanya, sebelum teriakan dari Seungri lenyap di pendengaran Hinako.

.

.

.

Aroma bunga cherry blossom kembali menguar di penciuman Hinako. Dilihat sebuah pohon besar dengan bunga berwarna merah jambu indah bermekaran menyelubungi sang pohon. Embusan angin menggoyangkan para dahan lantas membuat kelopaknya beguguran bagai hujan diikuti wangi yang khas. Begitu lembut menyentuh wajah Hinako hingga tersadar jika saat ini ia tengah terbaring di ranjang UKS.

Kepalanya masih terasa sakit lantaran baru saja terkena lemparan bola basket. Padahal orang-orang di lapangan melihat Hinako tiba-tiba pingsan begitu saja saat hendak berlari menuju pinggir lapangan. Hinako bangkit dan duduk memandang jendela UKS yang ternyata membawa mimpi indahnya tadi.

“Ah, kau sudah bangun?” Suara yang tak asing baginya menyapa rungu.

Pemuda itu lagi. Kali ini dia duduk di kursi samping ranjang UKS yang Hinako tak menyadari sejak kapan sosoknya ada di situ, sembari membaca sebuah buku kemudian memandang Hinako lega.

“Aku pikir kau tak akan bangun lagi. Tadi kau pingsan dan kepalamu membentur tanah agak keras. Takutnya kau kena gegar otak. Yang penting kau sadar, aku sudah senang!” Ia lalu berjalan menuju jendela UKS yang terbuka dan menghirup dalam-dalam udara segar musim semi yang menyenangkan.

Pantas saja bagian kepala belakang Hinako terasa sedikit nyeri dan ada benjolan kecil saat disentuh. Pemuda tersebut menahan tawa ketika melihat Hinako tengah meringis menahan sakit.

“Terima kasih sudah menolong ak—“

“Tidak usah terlalu formal seperti itu, anggap saja seperti dengan teman sendiri. Namaku Youngtaek.”

Hinako tak mengerti kenapa ia merasa seperti sudah mengenal lama dengan pemuda yang memiliki nama Youngtaek itu. Apakah karena sama-sama bisa berbahasa asing? Padahal baru sehari lalu bertemu dan Hinako menganggap Youngtaek adalah penguntit.

“Tenanglah, aku tak akan macam-macam denganmu. Aku hanya ingin menjadi temanmu selama di sini, boleh? Nanti aku akan selalu bersamamu,” tawar Youngtaek tersenyum diselipi tawa kecil mengelitik telinga.

Ada rasa muak dalam diri Hinako mendengar kata-kata Youngtaek. Berapa banyak orang mengakatan hal sama kala pertama bertemu, dan berakhir dengan omong kosong yang menguar di udara kemudian hilang bersama angin.

“Tahu apa soal ‘teman’? Tahu apa soal kebersamaan? Omong kosong!” sengitnya lantas turun dari ranjang UKS namun Youngtaek berhasil meraih tangannya sebelum sang gadis sempat keluar.

Hinako melepaskan tangan Youngtaek kasar dan meninggalkan pemuda itu sendirian. Masa bodoh dengan perutnya yang masih sakit. Ia sudah benar-benar jengah dengan kata ‘teman’. Terus dan terus saja Hinako menangkis perasaan tersebut, egonya terlalu besar untuk mengakui dan sukar diruntuhkan. Lebih baik kesepian daripada kehilangan berkali-kali, sudah terlalu lelah Hinako merasakan semuanya.

“Hei, Anak Ayam! Mau kemana?” Youngtaek memanggil Hinako dengan nama panggilan gadis itu saat masih kecil. Ia tak menggubris meski penasaran darimana pemuda itu tahu nama panggilannya. Youngtaek mengejar Hinako dan berhasil menghadang langkahnya sembari memberikan senyum lebar penuh keceriaan.

“Minggir kau! Dasar anak aneh!” ketus Hinako mendorong Youngtaek, namun pemuda itu tak bergeming.

“Wah, Anak Ayam kalau marah pipinya jadi merah.”

Sontak wajah Hinako benar-benar memerah mendengar candaan Youngtaek entah mengapa. Segera ditutupi wajah mulusnya lalu berlari meninggalkan Youngtaek yang tengah terkekeh. Sialnya dahinya tak sengaja membentur tembok lantaran berlari sembari menutup wajah. Bukannya membantu, pemuda bertubuh jangkung tersebut malah tertawa melihat aksi salah tingkah Hinako.

“Biar cepat sembuh, kita makan es krim saja. Kau kemarin menolak es krimku, sekarang kau harus makan!” kata Youngtaek dengan nada sedikit memaksa.

.

.

.

Hinako menarik napas dalam-dalam. Aroma segar musim semi serta rindang bunga cherry blossom yang kini tengah menaunginya bersama Youngtaek, membuat perasaan nyaman dan tenang. Es krim rasa strawberry langsung meleleh di mulut, meninggalkan rasa manis musim semi.

“Enak, tidak? Es krim itu memang paling populer di tempat ini,” ujar Youngtaek menikmati es krimnya sambil memandang langit.

Sesekali Hinako mencuri pandang pada Youngtaek. Penampilannya berbeda dengan anak-anak di kelasnya yang selalu menggunakan seragam beserta jas almamater. Seragamnya bisa dikatakan agak kebesaran—atau mungkin kemeja—serta celana hitam tanggung, dan menggunakan bandana di kepala. Nyentrik memang penampilannya, bila saja petugas kedisiplinan menemukan Youngtaek alamat dia akan mendapat hukuman. Ada rasa deja vu pada Hinako kala memandang Youngtaek.

“Kenapa lihat-lihat? Aku memang tampan, sih,” celetuk Youngtaek membuat Hinako hampir saja tersedak es krim.

“Aku, baru pertama kali melihatmu di sini. Kupikir kau anak baru dan tidak punya teman karena mungkin belum terbiasa dengan lingkungan baru,” Youngtaek memulai cerita sambil memandang cerahnya langit musim semi.

Hinako tak merespon, hanya menyantap es krim dan menikmati belaian lembut angin. Enggan menjawab pertanyaan yang sudah tahu jawabannya. Hinako memandang kosong lengangnya halaman sekolah. Maklum saja jam pelajaran tengah berlangsung sedangkan ia membolos bersama Youngtaek.

“Asal kau tahu, aku sudah cukup lama merasakan kesepian. Satu persatu mereka meninggalkanku, baik teman-teman maupun sanak saudara. Aku tak tahu sampai kapan harus bertahan dalam kesepian yang sangat menyiksa. Aku senang bisa bertemu denganmu, karena kita sama,” imbuh Youngtaek memandang Hinako lekat.

Hinako terdiam, rongga dadanya sesak seolah tembok besar tengah menghimpit memaksanya untuk keluar dari sana. Kedua mata serta wajahnya terasa panas, padahal matahari tidak terlalu menyengat siang itu.

“Aku… Aku tak ingin punya teman. Karena pada akhirnya tempat ini akan kutinggalkan. Jadi untuk apa punya teman? Untuk apa mengakrabkan diri. Percuma,” ujar Hinako.

Youngtaek menatap Hinako iba. Lantas didekapnya hangat sang gadis agar ia merasakan nyaman. Otak Hinako berontak, namun badannya menolak perintah dan membiarkan rasa itu mengalir begitu saja. Kehangatan itu sedikit demi sedikit mengisi kekosongan hati Hinako, dan ia tak bisa menolaknya.

“Jangan bohong.”

Dua patah kata dari Youngtaek seketika menjebol pertahanan yang dibangun Hinako selama enam tahun hidupnya. Ia menangis tetapi ditahan agar orang-orang tak bisa mendengar. Malahan Youngtaek mendekapnya rapat, kali ini hanya ia dan Hinako yang bisa mendengar suara tangis sang gadis yang telah lama dipendam.

“Anak Ayam, berhentilah menangis. Aku akan menemanimu melihat bunga cherry blossom besok. Kebetulan besok mereka mekar dengan sempurna. Kutunggu di halaman sekolah jam tujuh pagi ya!” Ajak Youngtaek tersenyum manis mengacak halus rambut Hinako.

Bisa dirasakan Hinako, aroma lembut cherry blossom dari tubuh Youngtaek dan hangat musim semi di dalam dekapannya. Perasaan yang Hinako rindukan sejak dulu. Masih sedikit bimbang dengan ajakan Youngtaek mengingat pertemuan pertamanya tak menyenangkan.

Tapi, Hinako tak pernah tahu apa yang terjadi besok jika tak mengiyakan ajakan Youngtaek pada siangnya musim semi hari ini.

.

.

.

Kali kedua Hinako berdiri di bawah rindangnya cherry blossoms yang tengah bermekaran dengan indah. Angin lembut membawa harum aroma bunga serta kelopak yang berguguran. Di hadapannya sosok Youngtaek yang tengah tersenyum lantas berlari kecil mendekatinya.

Tanpa banyak bicara, digandeng tangan Hinako dan mengajaknya duduk di bawah salah satu pohon tempat biasa mereka bercerita. Youngtaek terus memandangin Hinako dengan tatapan intens nan lembut, sesekali hampir tak berkedip. Gadis itu salah tingkah melihat sikap Youngtaek yang berbeda kini. Mereka berdua hanya terdiam, saling pandang ditemani embusan angin sejuk dan kicauan burung kecil bernyanyi.

Semua berubah menjadi putih ketika Hinako membuka mata dan ternyata hanya sebuah mimpi yang baginya begitu indah.

.

.

.

Hinako tak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Yang jelas, dirinya sudah berpakaian rapi dengan rok selutut berwarna peach serta kaos putih dilapisi cardigan putih tipis, seulas senyum manis menghiasi bibir. Ada degup sedikit kencang di dada yang tak pernah dirasa sebelumnya.

Dan, Hinako tak tahu, jika Youngtaek hilang begitu saja setelah menyiapkan nasi kepal berisi buah plum kering dan telur dadar, di bawah pohon cherry blossom. Menunggu kedatangan si gadis manis yang tengah dilanda asmara.

.

.

.

Dua bulan telah berlalu.

Gadis itu memandang luar jendela pesawat menembus gumpalan putih tipis di langit. Sebuah amplop kecil berwarna light pink digenggamnya erat. Tertulis “bukalah setelah kau tak di sini” dengan tinta yang sedikit memudar di akhir tulisan.

Lamunannya buyar ketika seorang pramugari memberi informasi pesawat akan segera mendarat. Dibukanya amplop tersebut dan membacanya dengan perlahan :

 

“Untuk Hinako Shibata,

Aku yakin kau sekarang sudah ada di tempat yang berbeda saat membaca isi surat ini. Terdengar basa-basi sekali ya, karena memang aku tak pandai merangkai kalimat yang bagus.

Selama ini, aku sangat suka memperhatikanmu dari jauh, lebih tepatnya dari pohon cherry blossom di mana kutinggal. Entahlah, mengapa sorot matamu menunjukan rasa kesepian. Padahal sebenarnya kau itu cantik, bahkan bunga cherry blossom kalah cantik darimu…”

Tawanya tertahan kala membaca setengah dari isi surat tersebut. Ia membayangkan pemuda tersebut menulis surat ini sembari bernyanyi riang dan duduk di dahan pohon cherry blossom.

“…jujur, aku iri padamu. Bisa berkeliling kemana saja, mendapatkan teman baru yang berbeda. Banyak orang-orang yang mencintaimu. Tapi entah mengapa aku tertarik padamu dan ingin menjadi salah satu temanmu. Ketahuilah, semua yang datang pasti akan pergi, begitupula sebaliknya. Dan mereka yang pergi suatu saat juga akan kembali padamu. Itulah yang disebut ‘rumah’, Hinako…”

Hinako menahan napas beberapa detik membaca kalimat terakhir di surat tersebut. Airmata perlahan mengalir, menyesal mungkin terlalu acuh pada sekeliling dan hanya memikirkan untuk tak mengenal siapapun. Terlalu asyik menikmati rasa sakit yang dibuatnya sendiri.

“…maaf, aku tak bisa menemuimu secara langsung saat itu. Aturan langit telah kulanggarkan dan aku harus menjalani hukuman. Untungnya aku bisa menemuimu di dalam mimpi. Tenang saja, aku pasti akan kembali dan selalu menemanimu. Seratus tahun tidak lama kok.

Tapi, kita masih bisa bertemu seratus tahun lagi, kan?

Nanti kita sama-sama menikmati musim semi sambil makan nasi kepal kesukaanmu.”

 

Dilipat surat tersebut dan mendekapnya erat. Aroma musim semi masih terasa meski musim panas telah datang. Seperti ada sosok Youngtaek di sisinya menatap lembut sembari memberikan senyum manis. Belajar untuk mengikhlaskan mereka yang pergi memang berat. Setidaknya mengenal mereka yang datang adalah hal yang menyenangkan.

Hinako sendiri baru tahu, jika Jooe teman sebangkunya itu sangat pandai dalam menari. Seungri dengan wajah campuran Amerika-Korea yang begitu cantik. Yerim yang memang jarang terlihat di sekolahnya karena sangat sibuk dengan dunia entertaimen. Minhyuk yang sama-sama pandai menari seperti Jooe dan masih banyak lagi.

“Youngtaek-kun, mata ashita ne5,” akhir Hinako menginjakkan kembali kakinya ke tanah kelahiran.

 

-The End-

 

Serapan :

1: “es krim rasa strawberry”

2: “bahasa jepangmu bagus!”

3: “keren!”

4: “Ya, terima kasih!”

5: “sampai bertemu esok”

kun : panggilan untuk anak laki-laki

 

Sejujurnya aku merasa aneh banget ngetiknya wkwkwkwk dan aku kaget bisa nulis sepanjang ini wkwkwkwkwk. Ini tuh terinspirasi dari ceritaku jaman SD yha jaman SD mainnya cerita fantasy sama pacaran WKWKWKWKWKWK. Tapi sayang draft cerita aselinya kayaknya keselip dan YEEAAAYYY AKU LAGI KESENGSEM SAMA ANAK GOLCHA TERUTAMA YOUNGTAEK WKWKWK. Siapa Hong Joshua ga kenal /plak/ trus aku membayangkan pas Youngtaek nulis surat buat Hinako gitu pelan-pelan badannya ilang jadi kelopak bunga Ya Tuhan why so manga banget ceritanya wkwkwkwk

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s